Saturday, April 13, 2013

[Contoh Cerpen Singkat] Yang Terbuang

Ratna Juwita

             PLAKK !! Orang itu menamparku begitu aku memaksa agar dia memberikan aku sebagian kecil dari uang yang dimilikinya. Tubuhku limbung dan mendarat di atas tanah becek dengan telak. Seakan setiap tulang dalam tubuhku langsung rontok begitu saja. Hancur menerpa aspal. Tak puas, laki-laki yang mengendarai sepeda motor itu kembali membuatku seakan mau mati saat dia melayangkan kakinya ke tubuhku dengan kuat dan kasar.

            Aku menatapnya dengan nanar. Merasakan betapa sakitnya tulang rusukku ditendang olehnya. Dia mengumpat sesaat sebelum akhirnya dia menyalakan kembali mesin motornya dan melaju tanpa menghiraukan tatapan ngeri dari pengendara sepeda motor lain. Kebanyakan dari mereka menatapku kasihan, tapi sebagian lagi menatapku tak acuh atau bahkan setuju dengan perlakuan laki-laki jahat tadi padaku. Aku masih menggeletak diatas tanah becek itu dengan nafas terengah-engah. Sakit. Haus. Lapar. Aku mengerjapkan mata dengan lemas, berharap apa yang kurasakan segera hilang dari tubuhku.

           Aku menghembuskan nafas untuk kesekian kalinya dan segera berdiri dengan tubuh letih karena tiada tenaga. Sedangkan gelas aqua yang tergenggam di tanganku masih kosong tanpa uang sesenpun.  Bagaimana aku bisa membeli sesuap nasi hari ini apabila uang saja aku tak punya ? hanya gelas kosong ini yang selalu menemaniku menjalani hari demi hari dalam kehidupan yang penuh dengan kekejaman ini. Aku sekarang mulai menyesali  kenapa dulu aku pindah ke Ibukota ini dengan harapan akan mendapatkan pekerjaan dengan mudah dan layak ? dimana keadilan yang selalu di umbar para pemimpin negara ? tiada keadilan bagi orang miskin sepertiku. Tidak ada.

            “Ini.” Sebuah tangan kecil tiba-tiba terjulur ke arahku sedetik setelah aku berhasil duduk dengan susah payah di tepi jalan. Aku mendongak dan melihat seorang anak kecil dengan malu-malu memasukkan uang  10.000-an ke dalam gelas usangku. Dia tersenyum polos sambil memeluk kaki ibunya yang ikut tersenyum bangga. Kemudian, mereka berdua melanjutkan perjalanan entah kemana. Anak kecil manis itu sempat menoleh dan melambaikan tangan padaku dengan lucu. Aku tersenyum sedih.

            “Terima kasih ...,” ucapku tanpa suara. Menyedihkan memang terlihat tak berguna di depan seorang anak kecil yang belum mengetahui kejamnya hidup. Tapi aku bersyukur karena aku masih bisa makan hari ini. Ternyata, menjadi pengemis adalah hal yang menyusahkan dan hina.

Tiba-tiba perutku terasa sangat nyeri. Aku mendekap erat perutku sambil meringis kesakitan. Tak kusangka perutku akan menjadi seperih ini saat tak kuisi dengan apapun selama 5 hari ini. Tubuhku yang kurus kering ini jadi terasa hampa tak berisi saat aku meraba perutku yang kempes.

            Kepalaku mulai terasa pusing sekarang. Aku tidak tau apa yang sedang terjadi dengan tubuhku. Yang jelas seakan aku sudah tidak mampu duduk lagi. Setiap persendianku seakan hilang terhapus sakit di perutku yang melilit. Aku menggigit bibir saat tubuhku terjatuh ke tanah untuk kesekian kalinya. Kepalaku ikut terbentur aspal saat tubuhku terbanting keras. Aku rasakan, mataku berkunang-kunang dan tubuhku seperti melayang. Sedangkan sakit di perutku ini membuatku semakin tak berdaya. Aku menatap pandangan aneh beberapa pejalan kaki dengan mata yang meredup perlahan. Sesaat kemudian, semuanya menjadi gelap dan aku tak merasakan sakit lagi di sekujur tubuhku.
What do you think? :

1 comment:

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com