Read More

5 CM: Buku yang Menyelamatkanku

Ratna Juwita
Read More

Ary Nilandari - Penulis Wattpad yang Tidak Menye-Menye

Ratna Juwita
Read More

Know Your Limits

Ratna Juwita
Read More

PETRIKOR

Ratna Juwita
Read More

Into The Unknown

Ratna Juwita

Thursday, January 30, 2014

[Contoh Cerpen Fiksi Ilmiah] Ruang Dimensi Alpha

 Ratna Juwita

“Kau harus membawanya kembali! Ia akan mati jika di sini!” Erza berteriak kalang kabut. “Kacau! Kacau!” ia kembali melampiaskan kekesalannya. Mengotak-atik sistem dimensinya.

            Aku gugup. Bingung. Tak tau apa yang harus kuperbuat, sedangkan manusia bercawat dengan wajah setengah kera itu memandang berkeliling dengan mata merengek. Ia seakan segan pada seluruh monitor yang mengacu kepadanya.

***

            “Huuh..,” aku menghembuskan nafas tertahan. Kupegang erat tangan kasar dan besar si manusia purba tanpa mampu menatapnya. Besar badannya melebihi kami, tapi ia tidak ganas karena ia berada pada masa food producing. Seharusnya aku hanya meneliti diam-diam, tapi manusia purba ini menemukanku dan tanpa kusadari mengikutiku tanpa kuketahui. Insting ‘menghilangkan hawa keberadaan’ yang memang mengalir dalam darahnya membuat semuanya menjadi rumit.

            Tidak hanya akan mati jika ia tidak dikembalikan sebelum waktu berlalu 12 jam sesudahnya, tapi ini juga merupakan sebuah pelanggaran UU Penelitian abad 23. Para peneliti dilarang keras melakukan apapun pada masa lalu yang dapat mengubah masa depan, sehingga mengancam hilangnya 90 juta penduduk Tata Surya Galaksi Andromeda.

            “Ugh..ugh uh.. ugh uh.” Manusia purba itu kebingungan dengan lalu lalang di laboratorium kami. Ia berulangkali mencoba melepaskan diri dari jangkauanku.

            “Tidak! Kau tidak boleh kemanapun! Ini semua karena kau mengikutiku!” aku membentaknya, membuatnya beringsut ke bawah kursi hologram dengan wajah ketakutan. Aku meremas rambutku risau.

***

            Erza berlari dengan panik ke arahku. Menubruk dan mengguncangkanku, “Kejadian ini tercium! Polisi GA akan kemari dalam waktu 4 jam!” Erza menghentakkan tubuhku ke meja lab. Keringatku mengucur deras mendengarnya, kegalauan menyelimutiku segera. “Bawa dia kembali!” ia menuding ke arah manusia purba yang dikurung disudut ruangan. Aku meliriknya.

            “Aku tau harus bawa dia kembali! Kita juga masih mengusahakannya! Kau sendiri tau, mesin dimensi hanya bisa digunakan sekali dalam kurun waktu 1 tahun!” aku ikut mengimbangi Erza berteriak, membuat beberapa pekerja lab. melirikku sekilas. Mereka sibuk dengan rencana pengoperasian mesin dimensi lagi dalam waktu singkat. Walaupun sulit jika tidak merusak sistem mikronya.

            Erza menghempaskan tubuhnya pada meja kontrol lab. dengan kesal, ”Habis sudah! Kita akan dipenjara.. selamanya!” ia beringsut duduk dan memegangi kepalanya dengan lunglai. “Padahal..,” ia tercekat, “Jika penelitian ini berhasil aku akan bisa membayar mahal atas kematian papa karena penelitian ini!” sebutir air bening keluar dari mata lentiknya. Aku mengalihkan pandangan.

            Pikiranku berkecamuk. Sepertinya, semua kejadian ini adalah salahku. Aku berpikir keras mencari solusi, apa yang bisa kubayar atas kecerobohanku ini?

***

            Aku mengotak-atik komputer Luminaku dengan cepat. Polisi GA telah sampai di planet ini dan aku memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri.

            “Sistem Shift, oke!” salah seorang pekerja lab. nomer 23 melaporkan dari earphone. Aku mengangguk. Sementara Erza menunggu kedatangan polisi itu, aku akan menyelesaikan semuanya menggunakan Dimensi Alpha dengan resiko mega. Waktunya singkat, kemungkinan aku takkan bisa kembali ke masa ini. Meskipun begitu, hal ini takkan merubah masa lalu karena begitu aku sampai di sana, mungkin tubuhku akan lenyap dilahap masa.

            Aku tidak bisa jika harus membunuhnya. Setiap mahkluk berhak untuk hidup, apalagi jika itu seorang manusia sekalipun manusia purba. Aku yang membawanya, jadi aku yang harus mengembalikannya. Orang tuaku tak pernah mengajarkanku untuk melarikan diri sesulit apapun masalah yang kuhadapi, selalu ada solusi sekalipun harus menuai pengorbanan diri.

            Ku klik tombol ‘run’ pada layar monitor Lumina di depanku dan diikuti sistem ‘patch’ yang dijalankan serentak oleh 27 pekerja lab. Cara lama bukan? Tapi ‘cara lama’ inilah jalan keluar satu-satunya sekalipun itu berarti mengubah sistem mikro Dimensi Beta ke Dimensi Alpha agar bisa digunakan sekali lagi dengan resiko tinggi.

            Terlintas di benakku kala Erza untuk pertama kali menangis di depanku, dia yang kutahu adalah wanita paling tegar yang pernah kutemui, hanya yang tak kutahu ternyata dia selemah itu jika mengingat tentang papanya. Aku termenung. Jariku berhenti di atas tuts Key2D, melirik manusia purba yang tak mengerti apa-apa, ini dunia yang asing baginya.

            “Zi, kau yakin?” Anches bertanya dari balik meja pekerja lab. nomer 2. Aku tersenyum getir. Tidak ada waktu untuk memutar keputusan yang telah kutetapkan, tidak ada waktu untuk kembali memikirkannya berulang kali. Kutekan tuts ‘enter’ pada monitor Lumina pusat dan mesin Dimensi Alpha mulai bereaksi.

            Gelombang biru mirip Aurora memenuhi ruangan. Manusia purba itu melompat-lompat dan beringsut ke belakang, instingnya menyatakan tanda bahaya pada apa yang terjadi di sini. Aku berjalan mendekatinya, kupakai kaca mata hologram untuk menyingkap cahaya berkilau dari gelombang Dimensi Alpha. Kutekan tombol pada pagar Asteroid dari cincin Saturnus, salah satu planet dari Tata Surya Galaksi Bimasakti yang telah hancur dulu. Kini ternyata diketahui bahwa Asteroid lebih kuat dibandingkan baja dari Bumi.

            Pagar Asteroid terbuka lebar, memberikan ruang cukup untuk manusia purba itu lewat. Tiba-tiba alarm berbunyi. Nyaring. Membuat manusia purba itu semakin tak mau melewati pagar Asteroid ini. Aku memandang berkeliling dengan panik.

            “Ozi! Ada kerusakan!” bunyi alarm itu menggema di ruang lab. ini. Tak hanya aku, seluruh pekerja terlihat panik dan mencoba mengatasi ini. Mereka segera mengotak-atik sistem mikro Dimensi Alpha. Aku mencoba menarik manusia purba dengan gugup, sekuat tenaga agar dia menuruti perintahku. Ia melompat ketakutan, lepas dari genggamanku, meloncat ke atas monitor Luminaku. Menghancurkannya dengan kaki dan berat tubuhnya.

            “Hentikan! Kau bodoh!” teriakku marah, menariknya turun dari monitor Luminaku sebelum seluruh sistemnya benar-benar hancur. Cahaya gelombang Dimensi Alpha mendadak berubah warna menjadi merah, kekacauan itu membuat para pekerja semakin panik.

            “Gelombang berubah! Arah dimensinya tidak dapat dijamah! Berputar tak tentu arah!” Anches berteriak dari mejanya. Mata dan jarinya tak lepas dari barisan kode yang menuntut untuk berhenti dengan sinyal merah. Jarinya menari lincah di atas Key2D.

            BRAK!

            Aku menoleh kaget ke arah pintu lab. yang terbuka lebar. Seseorang berdiri dengan wajah pucat pasi menatap semua kekacauan ini. Erza.

            “Ada apa ini?” ia bertanya kalut memandang ke segala penjuru ruangan, tak ada seorangpun dari pekerja yang menjawab pertanyaannya, mereka berkutat pada layar monitor di depannya. Tak lama kemudian, pandangan Erza bertumpu padaku, ia menatapku dengan mata terbelalak dan mulut menganga. “Ozi! Apa yang mau kau lakukan?!” pandangannya beralih pada manusia purba yang kuraih dari atas monitor Luminaku. Ia mengerutkan kening, masih dengan mulut terbuka.

            “Aku tak bisa meng-handle lebih dari ini!” pekerja nomer 27 segera berteriak dengan peluh berjatuhan dari dahinya, tak ubahnya para pekerja lain. “Cepat!” imbuhnya.

            “Tapi ruang Dimensi Alpha tidak terprediksi arahnya! Angka masanya berputar sangat cepat!” pekerja nomer 5 menyahut dari bawah. Mereka saling mengontrol dan menginformasikan bagian mereka masing-masing.

            Aku berlari, menarik manusia purba itu mendekat ke arah gelombang Dimensi Alpha sebelum tertutup.

            “Tidak, Zi! Kau gila!” Erza berlari menahanku. “Kau bisa mati! Mesin ini sudah tak bisa digunakan lagi!”

            “Tidak apa! Aku tak peduli bahkan jika aku tak bisa kembali!”

            PLAK!

            Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Panas. Aku mengernyit kesakitan memandang Erza yang berurai air mata. Ia menatapku nanar, tersirat ketakutan yang sangat di matanya. Alarm kembali berbunyi. Aku mendongak meminta keterangan atas ini, gelombang Dimensi Alpha semakin mengecil.

            “Ada apa?” tanyaku pada para pekerja yang masih menghadap monitor Lumina masing-masing.

            “Hilang! Angka masanya lenyap! Sekarang kita tidak tau kemana dimensi ini mengarah!” pekerja nomer 6 mengotak atik tuas kontrol dimensi dari tempatnya.

            “Patch ke makro! Jalankan sistem DacapoEx!” intruksiku cepat. Erza menatapku seakan aku benar-benar orang gila.

            “Tapi..”

            “Sekarang!” potongku.

            “Patch run!” pekerja nomer 12 terlihat mengatakan dengan enggan, jarinya terlihat bergetar seakan ragu untuk menekannya.

            “Jalankan!” tegasku. Ia tersentak.

            “DacapoEx enter.” pekerja 8 melaporkan dengan suara lemah.

            “Angka masa terlihat, 993 tahun dimasukkan, 5 detik!”

            “Ozi!”

            “Erza..” aku mengimbangi kegalauannya, “Dengarkan aku! Aku.. aku mencintaimu, maksudku maaf merusak penelitian untuk papamu, aku tidak mau kau menangis lagi!” Erza terlihat kalut dengan pikirannya. Aku melangkah masuk bersama manusia purba yang hanya menurut sekalipun tangannya menegang, ke gelombang Dimensi Alpha.

            “Tidak!” Erza berteriak. Berlari mengikutiku masuk dan meraihku.

            “Kau gila! Kau bisa ikut lenyap! Kau tau sistem ini sudah tak berfungsi semestinya! Kau bisa hilang seakan kau tak pernah dilahirkan!” aku mencoba mengenyahkan tubuh Erza kembali ke ruang lab. tapi ia bersikukuh.

            Ia memelukku. “Meski di lain masa atau mati, aku ikut kemanapun kau pergi!” ia berkata dengan tegas, sedangkan pandanganku semakin lama semakin kabur dan aku merasa semuanya lenyap dari sana.
***                  


Ada di Buku Bahasa Indonesia kelas VII halaman 53, dengan banyak perubahan.

Link download bukunya:
 https://bsd.pendidikan.id/data/2013/kelas_7smp/siswa/Kelas_07_SMP_Bahasa_Indonesia_Siswa_2017.pdf




Read More

[Contoh Cerpen Fantasi] Setan Bermata Hazel

Ratna Juwita

Apa kalian percaya pada dewa atau peri? Aku hampir tidak percaya atau mungkin sama sekali tidak percaya dengan keberadaan mereka, jika saja ia tak muncul. Orang yang mengaku sebagai kakekku, tapi tak kutahu dari mana datangnya. Ia berdiri di depanku dengan tiba-tiba. Sempat kuanggap diriku gila, saat kutanya orang-orang di sekitarku, tak ada yang bisa melihatnya. Ku kira mereka bercanda, tapi ternyata orang itu memang bukan manusia. Belakangan kutahu ia setan atau sebangsanya.

***

            Aku masuk ke kelas dengan canggung. Berjalan mengendap-endap seperti maling, berharap mereka tidak memperhatikanku tapi sialnya dari awal mereka sudah melihatku. Mereka mengejar setiap langkahku dengan mata mereka sampai kuputuskan untuk duduk di bangku paling belakang dan paling pojok di ruang kelas (setan) ini. Aku menunduk sedalam-dalamnya, seakan tatapan mata mereka mampu menghujamku dengan ribuan cangkul.

            SSSHH ...

            “Haaaiiii!!” Aku terlonjak, hampir terjungkal jika saja aku tidak segera berdiri dari kursiku. Ada (entah aku bisa menyebutnya orang atau tidak) tepat di kolong mejaku, ia menjulurkan kepala dan tersenyum dengan sumringah tanpa ampas bersalah sama sekali. Aku menahan diri untuk tidak menendang kepalanya.

            Ia menatapku bingung, “Kaget, ya?” Senyumnya ingin kucongkel. Menurut lo?

            Ia menarik tubuhnya dari kolong mejaku dan berdiri tepat satu senti di depanku. Aku mengalihkan muka cepat agar wajah kami tak bersinggungan. Aku berdiri mentok dengan dinding di belakangku. “Wah, manusia emang beda, ya! Auramu tipis sekali.”

            Kau yang tipis! Kalau tidak, mungkin seluruh manusia di dunia bisa melihatmu mondar-mandir!

            “Bi-bisa kau mundur? Aku hampir tidak bisa bergerak!” pintaku sedikit memerintah. Ia menarik kepalanya dan melompat duduk di atas mejaku. Aku menghembuskan nafas lega. “Sekarang, menyingkir dari atas mejaku!” Ia menggeleng.

            “Tidak bisa,” ucapnya datar. Golok mana golok?. Aku menatapnya kesal. Apa setan tidak punya sopan santun, simpati, empati,etika, atau tata krama?

            “Minggir!” perintahku hampir membentak. Semua murid (setan) menatapku dengan kening berkerut. Sebagian dari mereka mencibir.

            “Sudah kubilang tidak bisa!” ulangnya bersikukuh. “Karena ini bangkuku!” imbuhnya. Aku tertegun.

***

            Datang-datang merebut bangku setan, duduk di samping setan, punya teman sekelas setan, diajar oleh setan pula. Hidup macam apa ini?

            “Haahh.” Aku menaruh kepalaku di atas meja dengan malas.

            “Ya, Orisa! Coba kerjakan ini!” Aku menegang. Duduk tegap di kursiku, lalu menoleh ke sekeliling ruangan. Aku?

            “Iya, kau!” Setan Kolong berbisik ke arahku seolah bisa membaca pikiranku.

            Aku menatap papan yang terbuat dari arang itu. Mencoba menelaah apa yang tertulis di sana, tapi aku sama sekali tidak mengerti. Apakah ini pelajaran setan? Aku tidak bisa membaca api yang timbul tenggelam di papan arang itu, tulisan setan? Aku benar-benar merasa gila sekarang.

            “Apa kau tak dengar?” Guru itu membaca kebimbanganku.

            “Bu-bukan begitu, saya tidak bisa membaca tulisan itu,” jawabku terus terang. Nyaliku langsung menciut melihat tatapan ganas dari guru itu. Mungkin sebenarnya aku terlihat seperti daging ayam setan di matanya. Hening. Tidak ada yang bereaksi.

            “Apa!” Suara guru itu menggelegar. Membuatku puyeng. Jantungku hampir berlarian karena kaget. “Yang benar saja!” ia menggebrak meja. Semua murid terlihat terlonjak, apalagi aku. Jika tidak kutahan, aku sudah lari dari tadi.

            “Ap-apa itu tulisan setan? Maksud saya, saya kan manus-”

            “Hei! Tutup mulutmu!” Guru itu memotong ucapanku. Aku mengigit bibir, hampir menangis dibuatnya. “Dasar anak manusia! Kenapa kau tak mewarisi setetespun darah ayahmu?!” Aku mengerutkan kening mendengarnya. “Ibumu itu memang tak tahu malu! Menikah dengan makhluk dari kalangan kami, sama tak tahu malunya denganmu!” Ia terlihat sangat marah.

Kenapa bawa-bawa ibuku? ingin kubungkam mulutnya tapi aku tak mampu.

“Seharusnya kau tinggal di bumi! Bersama manusia-manusia serakah dan tak tahu diri!”  jika kami serakah dan tak tahu diri lalu kalian apa?. Aku menelan ludah dengan susah payah. Berharap air mataku tak keluar. “Ayahmu itu bangsawan setan! Sedangkan ibumu apa? Mungkin aku bisa menyebutnya-”

BRAKK!

Aku tersentak ketika meja di sampingku melayang dan membentur dinding. Meja besar itu hancur menjadi debu. Tepat beberapa senti saja dari guru itu, membuatnya melotot karena kaget. Aku menoleh ke samping.

“Waduh, telingaku hampir soak mendengar semua perkataanmu.” Setan Kolong Meja itu mengorek telinganya. “Hanya tak bisa membaca tulisanmu saja kenapa bawa-bawa keluarga?” Ia mengedikkan bahu, lalu melirikku. Menggenggam tanganku dan entah bagaimana, menyeretku dari kelas ini.

***

Aku duduk di tepi tempat tidurnya. Tiga hari setelah kejadian itu.

 “Apa tak apa? Kau diskors gara-gara aku,” tanyaku canggung  ia melihatku sambil menyelipkan rambut pirangnya ke belakang telinga.

“Tak masalah, hanya sebulan.. anggap saja liburan!” jawabnya enteng. Apanya yang cuma sebulan?

“Oya, Setan Kolong!” panggilku. Ia mendelik ke arahku. “Sejak pertama, aku belum menanyakan namamu ...”

“Gia.” Jawabnya cepat. Aku mengangguk.

“Eeeh?” Aku terlonjak dan melompat dari tempat tidurnya. Berdiri. Memandangnya dari atas sampai bawah. “Kau ... cewek?” tanyaku tak percaya.

“Memangnya aku terlihat seperti cowok?”

Sangat!

“Ya, sih ... rambutku kupotong pendek, tapi ‘kan masih keliatan cewek!”

Suaramu bahkan mirip guru itu! Bentuk tubuhmu juga tidak menyiratkan sama sekali bahwa kau cewek! Aku menelan semua kata-kata yang ingin kuucapkan.

Aku memperhatikannya. Terkejut ketika melihat matanya. Mata dengan warna biru hazel yang indah, apa benar dia setan?

“Kenapa?” tanyanya menangkap pandanganku. Aku gugup.

“Eh, tidak! Hanya saja kau akan tampak lebih cantik jika rambut pirangmu itu kau biarkan panjang,” saranku. Ia mengangguk sambil memainkan kalungnya. Kalung berwarna sama dengan matanya. “Kalung apa itu?” Aku tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya padanya.

Ia melihat ke arah kalungnya. “Oh, ini?” Ia menunjukkannya lebih jelas padaku. “Kalung keluargaku, kalung ini bisa membuatku bertukar tempat dengan orang lain! Tapi, harus digunakan dengan baik karena hanya berfungsi sekali seumur hidup.” Aku manggut-manggut mendengar penjelasannya. “Hanya saja, menggunakannya akan berisiko.”

“Risiko apa?”


***

“Setan di sini wujudnya seperti manusia, ya?” Aku memandang ke sekeliling taman. Hampir tidak dapat dibedakan mana manusia dan mana setan. Gia menoleh dan mengangguk.

“Tapi, ini semua bukan wujud asli mereka,” jawab Gia santai. “Bahkan, sifat mereka pun sebenarnya bisa berubah sewaktu-waktu dan masing-masing dari kami memiliki kemampuan yang berbeda.” ia memakan es krim yang tadi dibelinya.

Aku memandang langit, “Jadi ini juga bukan wujud aslimu, ya? Meskipun begitu, aku suka matamu.. matamu menatap sama kepada semua orang, termasuk aku! Meskipun aku manusia.” Gia menatapku tak mengerti. “Aku ingin bangga pada diriku yang terlihat di matamu!” Aku tertawa, tertawa tanpa alasan.

BUMBB!

Gia memelukku ketika tubuh kami melayang dihantam angin yang sangat kencang entah dari mana datangnya. Aku terpaku. Tubuhku mendarat di tanah dengan rasa sakit yang sangat.

“Ukh!” Aku memegang punggungku. “A-apa itu?” Aku mencoba duduk. Gia sudah berada di depanku, melindungiku dengan tubuhnya.

“Serangan,” jawabnya tanpa menoleh. Matanya lekat pada kepulan asap yang semakin memudar. “Setan mana yang melakukan ini? Cih!” Ia menatap jijik pada kepulan asap yang telah benar-benar hilang. Aku terbelalak ketika kutemukan sosok yang kukenal baru-baru ini, berdiri di tengah kepulan asap. Kakek?

“Wah, wah! Reaksi yang bagus, Gia!” kata kakek sambil bertepuk tangan pelan. Wajahnya menyiratkan kelicikan yang tak kusuka. Bukan. Bukan wajah ini yang kulihat ketika di bumi. Dia terlihat menyeramkan sekarang. Aku beringsut ke belakang punggung Gia.

Gia tersenyum kecil. “Maksudmu, Kakek Tua?” tanya Gia dengan nada mengejek. “Apa maksudmu menimbulkan ledakan seperti tadi? Kau mau menyakiti cucumu sendiri?” aku tertegun mendengar ucapan Gia.

“Se-sebenarnya ada apa ini?” Aku meremas jaket Gia sambil memandang ke arah kakek. Taman ini langsung sepi seketika, setan-setan di sini semua menghilang. Begitu cepatnya sampai aku tak menyadarinya sama sekali. Kakek mengedikkan bahu.

“Aku hanya mau berterimakasih karena kau sudah membawa setan kecil itu kemari!” Kakek tersenyum sinis sambil menunjuk Gia. Raut wajah Gia terlihat menegang. Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kakek.

Sssshhh ...

Sedetik kemudian, dua orang sebangsa setan lainnya muncul, entah darimana. Mereka memandang kami dengan mata merahnya. Yang dua ini kurasa muncul tanpa pakai make up, asli jelek banget. Aku menahan tanganku untuk tidak tiba-tiba mencolok mata mereka.

“Memangnya kau pikir untuk apa aku membawamu kemari? Kau yang bahkan tak punya kekuatan setan setitikpun ini, takkan berguna selain untuk menangkap setan kecil ini.” Dengan tenangnya, kakek menyebut-nyebut Gia sebagai ‘setan kecil’.

 Aku berpikir. Aku mulai mengerti dengan apa yang dibicarakannya. Pantas saja tiba-tiba dia muncul dan mengaku kakekku, ternyata tujuan sebenarnya adalah supaya aku sekelas lalu berteman dengan Gia. Tapi, untuk apa? Aku menggertakkan gigiku.

“Apa urusanmu dengan Gia sebenarnya? Aku dimanfaatkan hanya untuk ini? Kurang ajar sekali kau!” Aku berdiri. Membentak kakek tua tak tahu malu itu. Sorot mata kakek mengisyaratkan bahwa ia akan membunuhku dengan segera. Setan semua sama saja. Aku berdiri di depan Gia, mengalinginya dengan tubuhku. “Kau tak boleh menyentuhnya!” Aku mengancam kakek.

“Fufufu.” Kakek hanya tertawa kecil mendengarnya. Bagian mana yang lucu? Apa aku ketinggalan bagiannya? Gia ikut berdiri sambil memegang lenganku.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Gia berbisik dan mencoba menurunkan tanganku. Aku menoleh padanya.

“Aku memang tidak tahu ada masalah apa denganmu dan kakek, tapi aku tak akan membiarkanmu diapa-apakan olehnya! Seenaknya saja memanfaatkanku untuk hal licik seperti ini!”

“Tapi kau bahkan tak punya kekuatan sepeserpun, yang ada kau nanti mati!” Gia berucap dengan cepat. Mencoba mengingatkan kembali posisiku. Aku menunduk.

Kenapa aku selalu merasa tidak berguna? Tidak di bumi, tidak di sini, sama saja. Lalu apa kegunaanku sebenarnya? Menyusahkan orang lain?

“Minggirlah cucuku yang manis!” kakek menyeringai, ”Aku sudah tidak sabar menghabisi setan kecil itu, kau yang tak punya kekuatan hanya akan menambah jumlah mayat saja!” jantungku berdetak kencang mendengarnya. Apa ini kata-kata yang pantas diucapkan seorang kakek kepada cucunya? Kakek macam apa dia ini? Emosiku berada di puncak seketika.

“Lalu,” Aku menggenggam tangan Gia. Ia menoleh dengan raut yang tak bisa kuterjemahkan. “Lalu apa gunanya aku jika melindungi temanku saja aku tidak bisa?”

‘Sudah kubilang tidak bisa! Karena ini bangkuku!’

“Ia pantas diperjuangkan karena kini aku punya teman yang juga memperjuangkanku!”

‘Waduh, telingaku hampir soak mendengar semua perkataanmu..’

“Aku ingin melindungi temanku! Karena akulah sebab segala masalahnya!” aku berteriak. Tangan Gia menegang. “Mulai ... mulai dari bangku, sampai dia diskors ... kini aku membawanya berada di tengah ini semua! Sebenarnya apa salahku? Kenapa selalu aku?” Aku maju ke arah kakek perlahan. Melepaskan genggamanku pada Gia.

‘Tak masalah, hanya sebulan.. anggap saja liburan!’

“Semua tentangnya berharga bagiku!” aku berteriak.

BBZZZTTT!!

Langkahku terhenti.

“Kyyaaaa!” Gia menjerit.

Kakek menurunkan tangannya. Aku menunduk perlahan. Mengangkat tanganku yang sudah tidak berasa. Aku terbelalak ketika darahku mengucur dengan derasnya dari perutku. Aku memandang kakek tidak percaya sambil berusaha menegakkan tubuhku agar tidak limbung. Tapi yang kurasakan hanya rasa sakit.

Bruk

Tubuhku limbung ke tanah. Darah perlahan muncrat dari mulutku.

“Ori!” Gia berlari ke arahku, tapi 2 orang setan itu menangkapnya. Menjauhkannya dariku. Gia menjerit. Mencoba melepaskan diri dari mereka. Aku menangis. Kenapa selalu aku?. Aku terbatuk. Perih menjalar ke seluruh tubuhku. Aku tak pernah merasakan seluruh tubuhku terasa seperih ini. Sesakit ini. Kenapa aku tak bisa menjaga temanku?

Gia menangis. Ia memegang kalungnya. Aku tak mendengar apa yang diucapkannya. Ia menjerit, meronta.. mataku perlahan menutup walaupun aku enggan. Aku tak mampu melihatnya lagi. Semua menjadi gelap. Maafkan aku.

***

            Aku terbangun. Meregangkan tubuhku dan melihat ke sekeliling. Taman? Aku mengucek mataku. Kenapa aku ada di sini? Aku mencoba membangun kembali batu bata memoriku yang telah runtuh. Aku tak mampu mengingat apapun. Kualihkan pandanganku pada langit. Yaampun! Aku meremas kepala. Bagaimana bisa aku tidur santai di sini? Aku harus pulang! Ibu akan mencariku! Bodohnya aku! Aku bangkit dari kursi taman dan berlari sambil melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan angka 4.

Bruk

“Aww!” Aku menahan keseimbangan tubuhku. Melihat siapa yang tadi kutabrak. “Ma-maaf!” Aku membantunya berdiri. Ia sempoyongan.

“Tidak apa, aku yang salah!” Ia merapikan bajunya, lalu berjalan melewatiku. Aku memperhatikan gadis berambut pirang panjang yang terus berjalan menjauh dariku itu. Aku tertegun. Ia memiliki sepasang mata hazel warna biru yang indah.

***

“Risiko apa?” tanyaku menggebu-gebu. Gia menyunggingkan senyum menggodaku. “Ah, ayolah.. aku ingin tahu!” rengekku padanya. Ia terkekeh.

“Baiklah, baiklah!” ia mengangkat tangannya menyabarkanku, “Resikonya, orang yang bertukar denganku akan kehilangan ingatannya, begitu juga denganku. Tapi, aku akan bereinkarnasi menjadi manusia.. merepotkan sekali, ya?” ia tertawa melihat wajahku yang memandangnya tak percaya.
Read More

[J-Talks] Curahan Hati Seorang Fans Atsuko Maeda

Image result for atsuko maeda akb48 sstt
(sumber gambar di sini)

Ratna Juwita

            Setiap orang pasti punya idola masing-masing, yaitu orang yang paling dikagumi dalam hidup ini atau bahkan berambisi untuk dapat menjadi seperti orang yang kita idolakan. Ya, tentu saja, idola juga dapat disamakan dengan passion, yaitu semangat/tujuan kita. Tidak harus menjadi sama sepertinya atau mengikuti jejaknya, tapi sebagai ukuran untuk dapat disejajarkan dengannya, sebagai penyemangat dalam menjalani hidup, ataupun agar dapat lebih unggul dari orang yang kita idolakan.

Image result for atsuko maeda akb48 time machine
(sumber gambar di sini)

            Idolaku? Mungkin Nabi Muhammad SAW, dalam hal agama. Yang lainnya? Aku memilih seorang wanita bernama Atsuko Maeda sebagai idolaku dalam dunia ‘nyata’. Maksudku, setidaknya penyemangat dalam mencapai passionku. Bertolak belakang , ya? Bagi yang belum tau, Atsuko Maeda atau akrab dipanggil Acchan ini adalah salah satu anggota dari AKB48. Pasti tau kan siapa itu AKB48? Yang punya istilahnya sister group yang sekarang sedang naik daun ‘JKT48’. Aku tidak akan menjelaskan siapa dan ada berapa AKB48, dan sebagainya. Aku akan fokus membahas mengenai Acchan  ‘Atsuko Maeda’.

            Kenapa bukan K-pop? Yah, aku juga pernah terserang demam K-pop.. yaitu Suju atau akrab dipanggil “Super Junior” tapi, aku merasa hanya menjadi “pengikut” teman-temanku yang lain, dan sama sekali tidak tertarik ketika salah satu temanku yang merupakan penggemar berat SUJU ini menceritakan hal-hal menarik tentang SUJU. Ya, aku punya banyak video SUJU dan para K-pop lain seperti SNSD, 2PM, dll. Serta, kerap kali melihat film Korea yang saat itu sedang gencar ditayangkan di salah satu televisi swasta. Tapi apa? Aku langsung MOVE ON begitu tau mengenai “AKB48”.

Image result for atsuko maeda akb48 collage photos
(sumber gambar di sini)


            Aku tidak tau, ada sesuatu dalam diri AKB48 yang membuatku dengan cepat MOVE ON dari K-pop dan membuatku merasa benar-benar menjadi seorang fans. Dari mulai pengalaman mereka yang sangat berat dan penuh dengan kerja keras, bukan dari hal instan. Mulai dari tidak ada yang menonton penampilan mereka sama sekali, hingga sekarang mereka punya jutaan fans hampir di seluruh dunia. Terutama, Acchan yang membuatku begitu mengaguminya.

            Aku menyukai Atsuko Maeda bukan sejak lama, bukan pula baru-baru ini, kurasa sudah satu tahun 3 bulan .. hehehe.. Aku menyukai dan mulai mengenalnya pada Bulan Oktober 2012, entah kenapa, aku coba-coba melihat seperti apa itu AKB48 karena aku mengenalnya nama itu sejak ada JKT48 di sini. Lagu pertama yang kudownload adalah “Give Me Five!” dan “Everyday Katyuusha”, setelah mendengarnya, aku jatuh cinta pada kedua lagu ini, kemudian mulai mencari video-video dari AKB48. Video Klip yang membuatku jatuh cinta pada Acchan beserta AKB48 ini adalah “Oogoe Diamond”. Saat itu, pertama kalinya aku merasakan ada yang bergelora dalam hatiku ketika mendengar lagu itu dan sangat tertarik dengan member bernama Acchan yang ku search di google itu.

Image result for give me five akb48
 "Give Me Five"
(sumber gambar di sini)

Image result for everyday kachuusa akb48
"Everyday Kachuusa"
(sumber gambar di sini)

            Tapi, kesenanganku tak berlangsung lama, setelah berita kepindahan Takajo Aki dan Haruka Nakagawa ke JKT48, aku baca di beberapa fanspage JKT48 mengenai “Achan”, sontak saja aku gembira karena kupikir orang yang selama ini kukagumi akan ditransfer ke JKT48. Namun, kemudian ada fans AKB48 yang lumayan lama mengenal AKB48, mengatakan bahwa “Achan” di sini adalah “Takajo Aki” bukan “Atsuko Maeda” dan bahwa Atsuko Maeda bahkan sudah lulus 2 bulan lalu, tepatnya Bulan Agustus 2012. Saat itu, aku merasa perasaanku telah hancur berkeping-keping. Bagaimana tidak? Orang yang bahkan baru saja kukagumi dan membuatku selalu tertegun dengan penampilannya ternyata telah “lulus”  dua bulan sebelum aku mengenalnya.

Image result for atsuko maeda graduation concert
Takahashi Minami & Acchan setelah mengumumkan kelulusan
(sumber gambar di sini)


Image result for atsuko maeda graduation concert
Saat Acchan mengumumkan kelulusannya
(sumber gambar di sini)

            Aku menangis, untuk pertama kali dan pada orang yang bahkan baru saja kukenal. Aku bahkan belum merasa menjadi fans yang sesungguhnya, atau setidaknya mendukungnya di atas panggung. Aku mencoba keluar dari kesedihanku sendiri, lalu mencoba mendownload video-video lain dimana ia masih bersama dengan AKB48, aku baru tahu ternyata dia adalah “Face” atau “Center” dari AKB48. YA, aku mencoba mendownload semua videonya sekalipun semuanya telah terlambat, sekalipun aku sudah tidak dapat mendukungnya lagi. Setiap kali aku membaca artikel tentangnya, aku menangis.

            Terdengar cengeng memang, tapi coba rasakan sendiri bagaimana rasanya memiliki seorang idola yang baru kalian temui, ternyata telah ‘lulus’ dari grupnya bahkan sebelum kalian mengenalnya. Yang membuatku menyukainya? Entahlah, aku juga tidak tau apa yang dilihat oleh Yasushi Akimoto (pendiri AKB48) ketika memutuskan menjadikan Acchan sebagai “Face” atau “Center” bagi AKB48. Acchan bukanlah gadis yang luar biasa ketika ia pertama kali bergabung dengan AKB48. Kala itu, ia masih berusia 14 tahun. Ia, berkat dukungan dari ibunya, akhirnya memutuskan untuk ikut audisi AKB48 untuk pertama kali.

Acchan saat pertama kali ikut audisi
(sumber gambar di sini)

            Selama audisi, ia tidak tersenyum sama sekali. Ketika ditanya oleh para juri kenapa ia selalu tampak murung selama audisi, ia kemudian tersenyum dan membuat juri ‘takjub’ dengan senyumannya. Hehehe.. terdengar berlebihan, tapi itulah kenyataannya. Itulah yang membuat juri kemudian meluluskannya dari ribuan peserta yang juga ikut dalam audisi itu. Setelah itu? Ia selalu berusaha untuk berdiri paling belakang dalam formasi AKB48 generasi 1 atau former AKB48. Sebisa mungkin dia menghindar dari pelatih dance dan menyanyi mereka agar tidak ditunjuk untuk ke depan.

Acchan saat bernyanyi di audisi
(sumber gambar di sini)

            Ia melewati masa-masa sulitnya sebagai ‘former’ AKB48 dengan anggota lainnya dimana mereka tidak diakui. Dia yang merupakan gadis pendiam dan Introvert yang selalu mencoba berdiri di belakang teman-teman lainnya malah dipilih sebagai “Face” AKB48 oleh Yasushi Akimoto agar orang-orang dengan mudah mengenali AKB48. Banyak anggota yang protes atas keputusan Yasushi Akimoto ini, tak terkecuali Acchan sendiri. Ia menangis berkali-kali dan mencoba merubah keputusan Yasushi  Akimoto namun, pada akhirnya ia tetap berdiri di depan.

            Aku tak tau apa yang dilihat oleh Yasushi Akimoto  saat itu sehingga memilih Acchan sebagai “Center”/”Face” AKB48. Kepribadian Acchan sama sekali tak menunjukkan bahwa ia menonjol dan terlihat luar biasa. Tidak, bahkan banyak anggota lain yang “lebih” dari dia. Pada salah satu akhir dari sebuah setlist, Acchan mengutarakan pikirannya, ia berkata “Aku tidak bernyanyi dan menari dengan baik, tapi aku tidak tahu kenapa aku masih berdiri di depan..” (Sambil menangis), para fans berusaha menyemangatinya, juga anggota lainnya yang sudah bisa menerima keputusan Yasushi Akimoto. Tapi karena itu pula, Acchan mempunyai banyak Anti Fans yaitu fans dari anggota AKB48 lainnya.

            Acchan memang tidak memiliki apa-apa, dia tidak percaya diri seperti Oshima Yuko atau ‘kawaii’ seperti Watanabe Mayu. Tapi, aku bisa merasakan ketulusannya sebagai anggota AKB48. Oshima Yuko memang sangat hebat, ia selalu bersemangat dan jelas ia suka sekali dengan tantangan dan selalu berusaha memenangkannya. Ia pandai berakting, ia juga pandai saat menjadi MC. Tapi, Acchan selalu bisa menenangkanku dengan senyumnya, aku selalu merasakan ketulusan di setiap penampilannya, bukan berarti anggota lain tidak tulus, namun Acchan memang sangat sederhana. Ia bahkan tak tau bagaimana caranya mengutarakan perasaannya sendiri.

        Acchan memiliki ‘Aura itu', dan mungkin itulah yang membuat Yasushi Akimoto memilihnya. Aku tidak tahu bagaimana perasaan anti fans kepada Acchan, mungkin mereka hanya melihat bahwa Acchan sama sekali tidak ‘memotivasi’, ketika Oshima Yuko dan Takahashi Minami menjadi MC, ia hanya diam, tersenyum atau berbicara dengan member lain. Tidak jarang pula ia bertanya pada Minegishi Minami (member yang dekat dengannya) mengenai apa yang harus dilakukannya dalam situasi itu. Bukannya tidak memotivasi, justru hanya melihatnya tersenyum aku merasa bersemangat. Satu yang tidak dilihat anti fans dari Acchan, bahwa ia selalu berjuang keras, ia selalu tulus, dan tidak menuntut.

Image result for atsuko maeda magazine akb48
(sumber gambar di sini)

            Ia tidak ambisius seperti Watanabe Mayu, bukan berarti ia tidak memiliki mimpi, Acchan ingin menjadi seorang aktris dan ia berusaha belajar akting dengan sangat keras. Sama seperti Yuko, ia juga menyabet beberapa penghargaan sebagai seorang aktris. Fansnya paling banyak dibandingkan member lainnya. Mayuyu (Watanabe Mayu) punya wajah yang ‘kawaii’, ia seperti anak kecil dan sangat ambisius. Tapi, ketika melihatnya sebagai pusat pengganti Acchan, aku merasa ia tidak memliki aura itu. Aura yang hanya dimiliki oleh Acchan.

            Acchan selalu terlihat tenang dan tidak banyak tingkah, tapi sesungguhnya dalam diri Acchan masih tersimpan jiwa kekanakan yang besar walaupun ia sudah dewasa. Ketika ia merasa senang, ia berteriak dan tertawa seperti anak kecil. Dan tahukan kau bagaimana perasaan anak kecil itu? Anak kecil itu selalu baik dan tulus, walaupun tidak suka, ia akan tetap melakukan apa yang diminta. Itu yang kulihat dari Acchan dibeberapa Variety Show atau acara-acara lainnya.

            Ketika Senbatsu Election ke 2, ia menduduki peringkat ke 2 digeser oleh Oshima Yuko dengan perolehan suara yang tipis. Itu semua karena dorongan anti fans yang mendukung Oshima Yuko dengan memberikan banyak suara untuknya. Hal ini membuat Acchan terpukul, ia berpikir mungkin itu memang yang seharusnya terjadi karena ia menganggap dirinya sendiri tidak berjuang dengan baik sebagai seorang “center”, tapi ia menjadi lebih bersemangat lagi untuk kembali menduduki peringkat pertama.  Pada, Senbatsu Election ke 3, ia meraih kembali posisi puncak dengan selisih perolehan suara sekitar 18.000 dibanding Oshima Yuko.

Image result for the third senbatsu acchan akb48 
Acchan dan Oshima Yuko berpelukan di panggung
(sumber gambar di sini)

Image result for the third senbatsu acchan akb48 Hate me ... but please ... don't hate AKB48) :"(
(sumber gambar di sini)

Acchan usai menerima tropi
(sumber gambar di sini)

            Ia menangis sejadi-jadinya, dan pada saat ia mengutarakan perasaannya sebagai anggota yang menduduki eringkat pertama, ia berkata “I know.. there is many anti here.. hates me, but please don’t hate AKB48” . Aku tertegun sekali lagi olehnya, bukan .. bukan dia yang salah kenapa ia menjadi seorang “center”, ia tidak pernah memintanya, Yasushi Akimoto-lah yang memberikan itu padanya. Aku masih tidak mengerti mengapa banyak Anti fans Acchan. Apa yang salah darinya? Setiap anggota memliki MIMPI MEREKA MASING-MASING!! BUKAN HANYA OSHI-MU yang memiliki mimpi!

          Bukan salah ACCHAN apabila ia terpilih sebagai “center” seharusnya para ANTI FANS tau BUKAN ACCHAN YANG MEMINTA UNTUK MENJADI “CENTER”. Tapi, ia memang memiliki “AURA” itu, mungkin ANTI FANS buta mengenai itu karena mereka terlanjur membenci Acchan tanpa alasan. Para member AKB48 saja tidak saling bermusuhan, kenapa fans selalu menjadi orang-orang yang bertindak repot? Merendahkan member lain yang tidak disukai, dan sangat gembira ketika member lain jatuh sedangkan member OSHI-nya baik/menang. SEE What?

            Bersikaplah dewasa, lihatlah sisi baik Acchan, akui saja kelebihannya dibandingkan member lain apa salahnya? Bahkan ketika ia kini sudah bukan member AKB48 lagi. Bahkan ketika kini ia berdiri sendiri. Ia memang pantas menjadi seorang “CENTER” hanya itu yang kupikirkan. Walaupun aku tahu, aku sangat terlambat mengatakannya, sangat terlambat menyadarinya. Terlalu terlambat mengaguminya. Ketika kini ia tidak lagi menjadi seorang “CENTER” 

tapi aku masih ingat betapa ia terlihat begitu bercahaya di konser terakhirnya sekaligus konser kelulusannya di TOKYO DOME. Aku akan tetap menyukainya meski terlambat, karena dialah “CENTER” yang membuatku berpaling dan membuat mataku bersinar tiap kali melihat penampilannya. ARIGATOU ACCHAN. MAJULAH DARI KELULUSANMU.

            
Read More

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com