Read More

5 CM: Buku yang Menyelamatkanku

Ratna Juwita
Read More

Ary Nilandari - Penulis Wattpad yang Tidak Menye-Menye

Ratna Juwita
Read More

Know Your Limits

Ratna Juwita
Read More

PETRIKOR

Ratna Juwita
Read More

Into The Unknown

Ratna Juwita

Saturday, April 18, 2015

[Cerpen Cinta] Adalah Wanita Pinggiran Baghdad

Ratna Juwita

Leila mendesah. Rantai di kakinya beralih suhu menjadi panas, hampir berhasil menjadi pedang yang mampu mengupas kulit di pergelangan kakinya. Ia duduk terpaksa. Menghalau tubuh sejenak dari terik sinar matahari Kota Baghdad yang terus mengganggu kerjanya. Diletakkannya wadah dari jalinan bambu ke atas jalan berdebu. Ia tepikan sedikit kakinya dalam bayang-bayang bangunan batu, tak acuh lagi pada panas yang menampar kulit wajahnya.

Ia menghirup udara, seakan itu adalah oksigen paling akhir yang dapat dihirupnya hari itu. Sesak terus berebut memenuhi rongga dadanya, memintanya berbaring agar peluh tak pula menghadang rongga hidungnya. Tapi ia Leila. Tak dibiarkannya lelah mengomando tubuhnya, ia berdiri, mencoba mengintip lecet dan luka bakar di kaki.

“Tidak apa.” Ia menguatkan diri, meski raut gamang membentengi wajahnya. Ia perhatikan sejenak lalu lalang di depannya, orang-orang berjubel, berebut dagangan, tawar menawar barang yang diingini.

Suara riuh khas pasar di kota ini telah tak nampak asing di telinga Leila. Tak juga membuatnya heroik ketika ia melihat seorang anak kecil yang dengan cekatan merampas beberapa kurma dari wadah penjual yang tengah sibuk melayani pembelinya. Ia juga akan melakukan hal yang sama jika takdir memutar balikkan ruhnya dengan anak kecil yang kini berlari minggir, menyembunyikan kurma curian di balik celana kumelnya.

Leila mengangkat kembali wadah bambunya yang berisi kurma ke atas kepala. Takut menghinggapi batinnya jika majikannya memergoki dirinya berhenti memanggul kurma. Ia berjalan berhati-hati, tak bergeming ketika nyeri terus menggigiti pergelangan kakinya.

“Apa yang sedang kau lakukan?!” Leila tersentak ketika sebuah teriakan dan suara lecutan cambuk kemudian menelanjangi pendengarannya. Ia menoleh ke arah orang-orang yang berkerumun beberapa meter di depannya. Ia segera menggigit bibir ketika mendengar tangisan yang membarengi kasak-kusuk penghuni pasar. Ia tahu pemilik tangisan itu dan lebih tahu lagi suara bentakan siapa itu.

“M-m-maafkan saya, Tuan! K-kaki saya terbakar,”

Leila memejamkan mata ketika terdengar sebuah lecutan dan rintihan kesakitan itu lagi. Tanpa sadar, air mata menggenang di pelupuk matanya. Iba, duka, dan nestapa beradu mulut dalam kepalanya, membuat ribut gejolak batinnya.

“Ampun, Tuan!” Wanita itu menjerit semakin menjadi-jadi. Ia meraung, meminta belas kasihan pada tuannya yang kejam luar biasa. Tuannya seakan tuli pada semua rintihan itu dan semakin meradang, menerjangkan cambuknya pada kulit budak perempuannya itu.

Tubuh Leila gemetar. Ia ingin lari mencabut pisau yang bergoyang-goyang di pinggul tuannya dan mencabik-cabik tubuhnya dengan itu untuk menyelamatkan temannya. Ia tidak kuat mendengar jeritan dan tangisan teman seperjuangannya sebagai budak. Tapi ia urung, ia hanya mampu berjalan dengan pelan dan kaki bergetar, mengontrol dirinya agar tak melakukan kebodohan yang bisa membunuhnya kapan saja. Pada batinnya yang lain, ia justru bersyukur bukan dia yang ada di posisi itu. Ah! Apakah hal hina yang tengah dipikirkannya?

“Tuan!” Leila mendongak cepat ketika seorang laki-laki melewatinya cepat, menyeruak kerumunan di sampingnya hingga jelas olehnya tubuh Mina yang terbaring tak berdaya. Nampak jelas luka cambuk yang mengulitinya, membuat Leila bergidik membayangkan sakitnya.

Kini semua mata tertumpu pada lelaki itu. Lelaki asing yang mereka anggap bodoh karena berusaha ikut campur dalam masalah ini. Mereka tak ingin membayangkan apa yang bisa Tuan Qassim yang terkenal bengis itu lakukan pada lelaki asing ini. Sementara pengawal-pengawal Tuan Qassim yang bertubuh besar bersiap menghajar lelaki itu ketika kemudian Tuan Qassim mengangkat tangannya. Menghentikan mereka.

Lelaki itu memandang budak wanita itu dengan nanar, seakan perih ikut mematuki kulitnya yang kecoklatan. “Apa yang telah Anda lakukan?” ia memandang lurus pada Tuan Qassim.

“Apa yang kau katakan?! Tidakkah kau lihat aku sedang menghukum budakku?!” Tuan Qassim menunjuk Mina yang tersentak karena takut dihujani cambuk lagi. Lelaki itu memandang Mina dan Tuan Qassim bergantian, amarah hampir menghijab logikanya.

“Kenapa Anda mencambuknya?” Leila mengerutkan kening mendengar pertanyaan konyol lelaki asing itu. Tuan Qassim terdiam sejenak, segera setelahnya tawa meledak darinya.

“Kau itu bodoh atau apa? Terserah padaku mau memperlakukannya seperti apa! Dia budakku! Bu-dak-ku!” Tuan Qassim menyebutkan kata ‘budak’ seperti sebuah hewan peliharaan. Tapi Leila tak dapat memungkirinya. Budak memang tak lebih dari manusia yang diatur dan dipekerjakan layaknya seekor hewan, diperjualbelikan sesuai kehendak majikan, bahkan kaki mereka diikat dengan rantai sepanjang waktu agar tak hilang dari pengawasan.

Bagian manakah dari kami yang berbeda dari hewan?, Leila tersenyum sinis menanggapi pertanyaannya sendiri.

Tiba-tiba Tuan Qassim menunjuknya. Jantungnya hampir berlarian saat 2 orang pengawal Tuan Qassim datang menyergapnya, menyeretnya ke hadapan Tuan Qassim, dan melempar Leila ke samping Mina. Tak menghiraukan kurma yang berceceran dari wadah bambunya. Lelaki itu berusaha menahan diri agar tak menghajar Tuan Qassim dan pengawalnya.

“Lihat!” Tuan Qassim menunjuk Leila dan Mina. Leila bangkit susah payah, mencoba menegakkan tulang punggungnya yang dihantamkan paksa ke tanah. Ia memeluk Mina yang masih menangis lirih di sampingnya. “Lihat! Mereka adalah budakku! Aku bebas menghukum mereka sesuai kehendakku! Jika mereka berbuat salah, aku bahkan bisa memasung mereka berhari-hari dimanapun aku mau!” Tuan Qassim meludah. Tepat di lengan Leila. Leila hanya diam, masih memeluk Mina dan tak berani mengusap ludah tuannya yang menggenang di lengannya. Ini semua sudah terlampau biasa baginya.

Lelaki asing itu menghela nafas berat, tak ia turuti amarahnya yang terus meracuni untuk mencabut pedangnya. Jika ada hal yang ingin dilakukannya, ia bukan ingin menumpahi jalanan dengan darah dan membaui pasar dengan bau anyirnya. Ia masih berpegang teguh pada logika meski nurani menjerit, tak kuasa melihat martabat manusia yang digadaikan karena uang dan kuasa.

Ia bergelut dalam pikirnya, enggan melirik pada Leila dan Mina yang tampak kotor karena debu yang melucuti tiap inci tubuhnya. Kulit yang seharusnya hanya digunakan memasak dan mengurus rumah tangga, kini legam dan merah karena hujatan panas dan cambuk yang merampas hak mereka untuk merdeka. Ia telah berkeliling dunia, melihat banyak penderitaan dan kemiskinan, tapi ini adalah tindakan yang paling tak dapat disepakati oleh batinnya.

Tuan Qassim mencibir lelaki itu, ia mengangkat cambuknya, membuat jantung Leila dan Mina berhenti berdetak barang sesaat karena takut yang kalut menguasai mereka. Mina menangis lebih keras di atas ketidakberdayaannya.

“Tunggu, Tuan!” Tuan Qassim menghentikan lecutan cambuknya. Menatap murka pada lelaki asing itu. “Aku akan membeli mereka.”

***

Leila dan Mina duduk canggung di atas tempat tidur lelaki itu. Leila terus memeluk Mina sepanjang perjalanan, memberi kekuatan agar Mina berhenti menangis. Ia tak menyangka lelaki itu akan membeli mereka, ia pikir lelaki itu berbeda atas semua tindakannya pada Tuan Qassim. Leila menggertakkan gigi, lelaki selalu sama. Menganggap mereka hanya sebagai dagangan yang bebas diperjualbelikan.

Leila menatap sengit pada lelaki itu ketika pintu kamar terbuka. Lelaki itu masuk dengan senyum samar di wajahnya, ia membawa sebuah kotak di tangannya.

“Siapa nama kalian?” lelaki itu berdiri tepat di depan Leila dan Mina.

“Leila.” Jawab Leila singkat.

“Mina,” Mina masih masih sesenggukan. Lelaki asing itu tersenyum.

“Leila dan Mina, ya? Aku...” ia tampak berpikir sejenak. “panggil saja aku Sin.” Lelaki bernama Sin itu mengeluarkan beberapa obat-obatan dari dalam kotak itu. “Ini... bisakah kau berikan pada Mina? Kalian bisa istirahat di sini setelah itu. Obati juga lukamu, Leila!” Sin menyerahkan obat-obatan itu pada Leila, berdiri, dan melangkah keluar.

“Tunggu, Tuan!” Leila mengutuk kelancangannya sendiri. Sin berbalik.

“Apa ada yang kalian butuhkan? Oh, ya! Makanan... akan kuambilkan makanan!” Sin berbalik lagi.

“Bukan itu, Tuan! Kami sudah biasa tidak makan.” Leila meremas botol obat di tangannya.

“Kalau begitu jangan dibiasakan. Itu bukanlah sebuah kebiasaan yang baik.” Sin berbalik menghadap Leila dan Mina lagi.

“Tuan,” Sin memperhatikan Leila. “s-setelah ini apa yang harus kami lakukan? Apakah mengangkut kurma atau membersihkan unta? Atau...” Leila meneguk lidahnya sendiri, ia tak ingin mengatakannya. Tapi cepat atau lambat, tuannya pasti akan memintanya. “atau melayani Tuan?” Mina memandang Leila ragu. Ia mencoba menalaah apa yang sedang dipikirkan oleh teman seperjuangannya itu.

Sin memang baik hati membayar mereka dengan harga yang sangat mahal, tidak sebanding dengan saat Tuan Qassim membeli mereka dulu. Tapi, pasti ada harga yang juga harus dibayar karena telah menyelamatkan mereka dari kekejaman Tuan Qassim.

Sin mencoba berpikir, lalu kemudian tertawa. “Melayaniku? Bagaimana kalian akan melayaniku sedangkan kalian bukanlah istriku?” Leila dan Mina tertegun.

“L-lalu untuk apa Anda membeli kami?” Mina kini angkat bicara. Sin segera menghentikan tawanya. Melihat raut wajah itu, nyali Leila dan Mina langsung menciut. “Maafkan kami.”

Sin terdiam. Ia duduk berselonjor dengan punggung bersandar pada dinding batu. “Tidak apa, memang aneh jika aku membeli kalian tanpa bermaksud apapun. Tapi, aku memang tidak bermaksud apa-apa, aku hanya tidak bisa melihat kalian diperlakukan seperti itu oleh majikan kalian.”

“Kami ini... budak.” Leila menatap Sin lurus. Terpatri segala lara yang pernah singgah dalam hidupnya. “Kami dilahirkan sebagai budak, oleh wanita yang juga disebut budak. Kami sudah tak memiliki apa yang orang lain sebut sebagai kehormatan, atau keperawanan? Semua itu direnggut dari kami atas nama budak.” Mina mencoba meremas tangan Leila yang gemetar.

Leila menunduk, mencoba menyembunyikan air matanya dari tuan barunya. Ia tidak tahu apa yang membuatnya mengatakan semua itu pada Sin. Sin jelas tak berbeda dari majikan-majikannya sebelum ini, tapi ada hasrat untuk menumpahkan apa yang selama ini ia pendam dalam diamnya, yang ia harus tanam dalam-dalam pada pasrahnya.

Sin turut menunduk. Ia menjelajahi tanah rumah sewa murahan itu dengan matanya. Ia tak berpikir untuk membeli rumah singgah sementara yang lebih bagus dari ini, tapi kini ia menyesal karena ternyata ia bertemu dengan 2 wanita malang itu. Setidaknya, ia ingin memberikan tempat yang nyaman untuk kedua wanita itu.

Sin menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Berusaha mengurangi sedikit kerisauan yang mengurung batinnya.

“Setelah ini kalian bebas.”

***

Leila memingit langit dengan gemintangnya pada sepasang netra. Entah bagaimana kebebasan serasa teramat asing baginya, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sudah seminggu lamanya ia dan Mina ditinggal pergi tuannya. Ia tidak tahu kemana ia harus mencari tuannya, sedangkan tak mungkin pula baginya menyerahkan diri kembali sebagai budak.

Tak ia hiraukan dingin angin yang mencoba merayunya menenggelamkan diri ke dalam balutan selimut. Tuannya tak hanya memberinya kebebasan, ia juga memberikannya tempat tinggal. Apa yang sebenarnya tengah dipikirkan oleh tuannya ia sama sekali tak dapat menjamahnya, bisa menerjemahkan niatnya pun tidak.

Dulu ia selalu mengidamkan sebuah kemerdekaan baginya dan juga para budak wanita lainnya, tapi kini ketika kemerdekaan itu diberikan secara cuma-cuma oleh seseorang yang ia sendiri tak tahu siapa, semua itu seakan hanya sebuah fatamorgana. Tak benar-benar ada oase yang bisa menyiram dahaga akan hal yang ia pun tak tahu apa. Fatamorgana yang ia ciptakan sendiri berbalik meminta tanggung jawab akan kebebasannya. Setelah bebas, apa yang harus dilakukan oleh seorang budak yang telah dibeli hidupnya sejak ia lahir?

Leila menyentuh bekas hitam di pergelangan kakinya, bekas yang timbul karena rantai yang saban hari terikat di sana. Entah mengapa ia jadi rindu pada kehidupannya yang dulu, setidaknya ia memiliki tujuan hidup, yaitu mengabdi pada seorang majikan, bukannya gamang dalam balutan nyawa yang sibuk mengembara, meminta kembali seorang tuan yang pergi meninggalkannya.

“Leila...” sebuah tangan menyentuh pundaknya. Leila menoleh dan mendapati Mina yang memandangnya tak mengerti. “Apa yang sedang kau pikirkan? Tuan Sin?” dua pertanyaan Mina itu berhasil menohok tepat di ulu hati Leila. Tuan Sin? Benarkah tanpa ia sadari ia telah memikirkan Tuan Sin?

Leila tersenyum canggung. “T-tentu saja tidak, untuk apa aku memikirkan Tuan Sin? Bukankah kita sudah bukan budak lagi?” Leila mengalihkan pandangan dari tatapan menyelidik Mina. Tingkahnya semakin membuat Mina curiga akan sesuatu yang mungkin telah terjadi pada hatinya. Sesuatu?

“Kau tak ingin mencarinya?” Mina meremas lembut pundak Leila yang sedikit menegang. Semakin jelas olehnya apa yang terjadi pada sahabatnya itu.

“A, aku...” Leila tersenyum, berusaha untuk menyangkal ucapan Mina ketika kemudian dilihatnya wajah Mina yang teduh. Sama sekali tak menghakiminya, tapi menuntut sebuah kejujuran darinya. Leila menggigit bibir. “Kita hanya budak.”

“Tidakkah kau ingat Tuan Sin sudah membebaskan kita?”

“Aku tetap merasa aku hanya budak.” Leila sengaja menekankan kata ‘hanya’ dalam ucapannya. Entah apakah itu untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia memang hanya seorang budak ataukah ingin mengingatkan Mina bahwa mereka pernah menjadi budak.

Mina terdiam sejenak. “Masih teringat jelas diingatanku bahwa kita adalah budak seminggu yang lalu. Bahkan sejak 19 tahun yang lalu. Tapi dengan kebaikannya, Tuan Sin membebaskan kita, memerdekakan kita yang bahkan bukan sesiapanya. Hanya orang yang kebetulan ditemui dalam perjalanannya.” Leila mendongak. Menatap Mina.

“Perjalanannya?” ia membeo. Mina mengangguk ragu.

“Aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi pagi dan aku mengikutinya. Aku melihatnya masuk ke dalam sebuah kapal yang berlabuh di dermaga. Kata orang sekitar, kapal itu baru sampai seminggu yang lalu... itu artinya Tuan Sin kemungkinan awak kapal yang akan berlayar lagi esok pagi.” Leila terduduk. Ia mencoba mencerna tiap kalimat yang lahir dari mulut Mina.

Leila tidak mengerti apa yang tengah bergejolak dalam hatinya, yang jelas di sana hanya terasa sebuah kehancuran. Apa yang terjadi dengannya? Ia pun tengah mencari jawaban atas pertanyaan itu. Wajah Tuan Sin berulang kali menggenangi memorinya, dosakah ia? Ia tidak ingin mengakui sesuatu yang belum pernah dirasakannya itu sebagai sebuah hal yang sering ia baca di buku dongeng.

Prinsipnya adalah menjadi seorang budak, ia tak boleh merasakan apapun selain mengabdi pada tuannya. Tapi mengapa prinsip itu diluluhlantahkan oleh seseorang yang baru saja datang? Ataukah ini semua hanya ilusi sebagai rasa terimakasih karena telah memapahnya dari kehinaan seorang budak? Ia tidak mengerti.

“Kau jatuh cinta, Leila.” Mina menekankan kata yang paling tak diakuinya. Ia menangis. Sebagian dari dirinya seakan terhapus oleh duka. Antara mengakui jati diri dan membuang kisah masa lalu. Masih pantaskah ia?

“Aku hanya budak.” Leila mengulangi kalimat itu sekali lagi, tapi yang ia temukan hanya kehancuran yang lain. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa sangat sakit ketika mengatakannya. Mina memeluknya.

“Pergilah, walau hanya berterimakasih dan mengucapkan selamat jalan padanya.”

***

Apabila cinta memberi isyarat padamu, ikutilah dia,
walau jalannya sukar dan curam.
Dan apabila sayapnya memelukmu, menyerahlah padanya
walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.
Dan kalau dia bicara padamu, percayalah padanya.
(Khalil Gibran)

Sin menatap lurus pada laut lepas yang membiru. Ombak-ombak berkejaran seakan siap mengantarnya berlayar kapan saja ia inginkan, meninggalkan Baghdad, dan segala hal di dalamnya. Meninggalkan Leila dan Mina. Ia harap Leila dan Mina tidak kembali menjadi budak setelah ia meninggalkannya, rasanya berat meninggalkan mereka yang tak punya sanak saudara, tapi akan semakin bodoh dirinya jika membawa mereka serta.

Ada duri yang entah bagaimana menelusup dalam hatinya. Duri apa lagi? ia merasa sesuatu tertinggal di Baghdad, tapi ia tak tahu apa. Ia putuskan berkeliling kapal dan turun untuk terakhir kali menginjak tanah kota itu. Setidaknya, ia tidak tahu apa yang bisa terjadi padanya selama pelayaran. Laut bisa saja menenggelamkannya bersama seluruh kenangannya, tapi laut juga bisa mengantarnya pada pulau dan samudera lain yang belum pernah dikunjunginya atau bahkan mempertemukannya kembali dengan monster-monster yang kerap bersembunyi di dalamnya? Sin tersenyum kecil.

“Tuan Sin!” Leila belari terengah-engah. Ia berhenti, menghirup udara yang bergantian memaksa masuk. Sin menatap Leila dengan sedikit terkejut, rasanya baru seminggu yang lalu ia meninggalkan Leila dan Mina, tapi Leila benar-benar terlihat berbeda tanpa rantai dan baju lusuhnya.

“Leila?” Sin mencoba meyakinkan penglihatannya. Leila tersenyum tipis. Sin diam, ada sesuatu yang berdesir dalam dadanya ketika ditatapnya mata Leila. Apa yang salah?

Leila mengatur nafasnya pelan-pelan, menyisakan kesunyian yang memayung canggung.  Hanya mata mereka yang saling beradu kata yang tak dikecap lewat lidah, memilin ketenangan yang menyeruak pasrah dalam dada. Seakan tatapan itu telah mewakili seluruh kalimat yang susah payah diuntai selama seminggu, menghamburkan deretan paragraf rasa yang tak dituang di atas kertas. Tatapan mereka adalah tinta, hatinya yang mengeja, dan hanya senyum yang menjawab semuanya.

“Tuan Sin! Kapal akan segera berangkat!” Seorang awak kapal menyeru dari atas kapal, membuyarkan tinta tatapan mereka. Leila salah tingkah.

“Aku harus berangkat.” Lidah Sin mendadak kelu melihat ekspresi sedih Leila. Sin terdiam, lalu didongakkannya wajah Leila yang menunduk layu. “Wanita adalah makhluk yang mulia, terlepas apakah ia budak, bekas budak, ataupun wanita biasa. Tak perlu risau pada masa lalu, bagaimanapun kau menyalahkan takdirmu itulah yang mesti kau lalui. Ingatlah bahwa kapal tak berlayar bersama ombak, ia melawannya.” Leila terpana pada kata-kata Sin. Sin tersenyum lebar, lalu bergegas menaiki kapal.

Satu lagi yang Leila ingat dari dongeng-dongeng yang kadang ia baca, bahwa cinta bukanlah sesederhana hasrat untuk memiliki. Cinta itu memberi bukan memiliki. Dan Sin, bukan untuk dimilikinya.

Sin melambai pada Leila. “Leila! Suatu saat, jika kau mendengar nama Sinbad, saat itulah aku menjadi orang yang telah menaklukkan samudera! Dan kau, kau wanita pertama yang ingin kudengar namamu sebagai bangsawan Baghdad! Selamatkanlah wanita-wanita sepertimu!” Leila menangis haru, melepas kapal yang berlayar ke tengah laut. Seketika itu Mina menggenggam tangannya, matanya menyiratkan ada hal yang terlupa olehnya.

“Tuan Sin! Tuan Sinbad!” Leila melambai, “Jazakallahu khair1!” Leila berteriak bersamaan dengan Mina. “Selamat jalan!”

Laut itu menjadi saksi biksu yang memisahkan 2 insan yang tak sanggup mengungkap apapun yang tersemat di hati mereka, tapi juga penghubung yang takkan pernah putus mengabarkan cinta lewat riak-riak ombaknya. Memahat kisah yang tak terekam oleh buku, hanya kisah yang dibangun dari memori yang masih tersisa di benak kedua insan yang hanya mampu berbicara lewat tatapan dan berkirim kabar lewat terpaan. Selama mereka sama-sama masih menghela udara di bumi yang sama.

Adalah wanita yang menitikkan air mata,
dan masih mempedulikan yang dicinta
Adalah wanita yang menjahit teguh seorang pria
pada titik kekuatan dengan kelembutannya

***
Read More

[Cerpen Komedi Romantis] Anonim Cinta Mustahil

Ratna Juwita

Aku berjingkrak ketika dia datang. Gadis itu, sudah lama aku tidak melihatnya sejak ia putus dengan—yang orang bilang—kekasihnya. Ia tampak sehat, meski gurat sedih masih nampak jelas di wajahnya.

“Ssstt! Diamlah!” Dia menatapku tajam. Ah, tanpa sadar aku bersuara dan mengganggunya. Sejenak, aku lupa bahwa ini adalah perpustakaan.

Aku diam. Memandangi tiap jengkal wajah manisnya yang selalu terbayang di benakku. Rambut hitamnya tergerai sebahu, kacamata duduk tenang di hidungnya, bibir berwarna merah muda yang tipis, ah, dia terlihat menawan. Ia menunduk. Menatap barisan kalimat dalam buku bersampul birunya, sesekali mengangguk.

Aku tersentak ketika kudengar langkah kaki seseorang mendekat. Sial, laki-laki itu! Lelaki lembek yang membuat gadisku menangis. Dulu. Entah kapan, aku tidak ingat. Lelaki itu berjalan perlahan ke sebuah rak, dan mengambil buku bersampul hijau. Ia membawa buku itu ke tempat duduk terjauh dari si Gadis. Si Gadis melirik sekilas, aku tak bisa menerjemahkan ekspresinya saat ini. Apakah ia senang? Ataukah sedih?

Mereka diam. Mematut buku masing-masing dengan pandangan hampa. Aku memahami raut wajah orang yang benar-benar membaca, tidak seperti raut mereka saat ini.

***

Si Gadis datang lagi. Masih di tempat yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Sudut belakang selalu menjadi tempat favorit untuk menenggelamkan diri pada buku-bukunya. Namun, kali ini terasa berbeda. Ia tidak fokus. Berulang kali ia menoleh, seperti mencari seseorang. Ah, kurasa aku tahu siapa yang sedang dicarinya.

Lalu, beginilah yang terjadi. Si Lelaki datang. Kali ini duduk sedikit lebih dekat dari gadis itu, dengan buku bersampul hijaunya. Bisa kurasakan kecanggungan merayap manja mengelilingi mereka. Aku benci suasana seperti ini. Aku tak dihiraukan, dianggap pun tidak.

Bukankah mereka hanya mantan sekarang? Hanya mantan, biar kuperjelas lagi. Aku kerap melihat si Lelaki membawa gadis ke perpustakaan ini. Gadis lain, tentu saja. Tidak ke sini untuk membaca buku, malah bermesraan. Membuatku muak. Membuat gadisku pun sesak dan akhirnya lama tak kembali. Meninggalkanku dan sejuta imaji serta rindu yang tumbuh subur akan sosoknya.

Si Gadis menyelipkan rambut, membetulkan letak kaca matanya. Si Lelaki duduk gelisah, membenarkan letak duduknya. Aku? Aku hanya mencoba mendekat pada gadisku, melangkah perlahan.

“Hei, pergilah! Jangan mendekat!” Seperti yang kuduga, aku malah diusir olehnya. Aku tidak tahu apa yang salah sampai ia selalu berlaku kasar padaku. Aku kesal. Aku cemburu pada lelaki itu yang tak pernah diusirnya seperti ini.

Aku menjauh dengan langkah gontai. Di saat aku menjauh, lelaki itu malah semakin mendekat pada si Gadis. Aku mengumpat dalam hati. Kutatap si Lelaki setajam yang kubisa, tapi tak dihiraukannya.

“Eh, Rik,” lelaki itu memanggil canggung. Si Gadis mendongak. “Rik, aku... minta maaf.” Ucapnya pelan, sarat ketakutan. Aku berharap saat itu si Gadis membentak dan mengusir lelaki itu sama seperti ia membentak dan mengusirku barusan. Namun, sepertinya harapku hanya untaian kesia-siaan. Aku tahu ia pura-pura kaget dengan kedatangan si Lelaki, tergambar jelas di wajahnya bahwa ini memang hal yang telah dinantikannya. Aku kesal.

Gadis itu melirikku sebentar, tersenyum tipis. “Lupakan itu, Rik!” Mereka berpandangan, sesaat kemudian tergelak.

Untuk sebentar saja, suasana kecanggungan di antara mereka menguap. Tergantikan tawa yang meluluhkan ketegangan yang sempat menyelubungi keberadaan mereka.

Si Lelaki berhenti tertawa, “Sudah lama kita tidak memanggil nama masing-masing dengan ejaan yang sama.” Si Gadis tersenyum, seakan lupa akan air mata yang dulu sempat ditumpahkannya karena lelaki itu. Ah, mengapa hati wanita cepat sekali berubah?

Seharusnya gadis itu tak begitu saja mengatakan “lupakan”, apa dia tidak merasa sakit hati pada lelaki seperti itu? Firasatku tidak enak. Aku tidak ingin berpikir bahwa gadis itu masih mencintainya.

Aku terkejut ketika beberapa detik setelah tawa itu, si Gadis meneteskan air mata. Aku tidak menyangka ia akan menangis di sini, di depanku lagi, dan di depan lelaki kurang ajar itu. Membuatku bingung. Membuat lelaki itu pun canggung. Si Gadis menelungkupkan kedua telapak tangannya di wajah, mencoba menyembunyikan tangisnya yang terlanjur pecah. Si Lelaki salah tingkah, berdiri dengan kalut. Ia menggaruk kepalanya dan tampak tengah memikirkan sesuatu dengan gugup.

“Aku-Aku-eh... perkenalkan, aku Erik dan kau?” Akhirnya sebuah suara berhasil keluar dari mulut lelaki itu. Si Gadis tampak sedikit tenang, tak lagi sesenggukan. Ragu, ia membuka telapak tangan dari wajah, menatap si Lelaki dengan mata sembab. Ia tersenyum canggung. Ih, aku jengkel tak pernah bisa membuatnya tersenyum seperti itu.

Lelaki bernama Erik itu mengulurkan tangan layaknya orang yang baru berkenalan. Si Gadis menatap tangan yang terulur itu, kemudian membalas jabat itu dengan senyum terkembang di wajahnya. “Na-namaku Rika. Senang bertemu denganmu,” Rika tertawa kecil, menimbulkan kelegaan di wajah Erik.

Hatiku hancur. Patah hati. Aku tahu yang sedang mereka lakukan. Itu adalah hal yang mereka lakukan dulu ketika pertama kali berkenalan di perpustakaan ini. Di depanku.

Rika mencoba menyeka air matanya yang tersisa, tapi Erik menghalanginya. Ia menggantikan tangan Rika, menyeka air mata dengan tangannya. Aku marah. Aku cemburu, tapi tak ada yang bisa kulakukan selain berlari pergi. Menghindari cinta yang tak kurestui, berbunga kembali.

***

“Kau tahu? Khalil Gibran mengatakan api cinta adalah api abadi. Sesekali mungkin ia padam, tapi selalu kembali menyala, cukup dengan satu percikan kecil untuk menyulutnya kembali.” Erik berkata sambil menarik buku bersampul merah muda dari rak paling belakang.

Aku melirik Rika yang terlihat antusias dengan ucapan Erik. Semburat merah nampak samar menghiasi kedua pipinya.

“Aku tahu aku salah,” Erik duduk di samping Rika. Menatap Rika dalam, sambil meletakkan buku yang baru saja diambilnya. “Aku-aku tahu aku telah berlaku jahat dengan meninggalkanmu untuk gadis lain,” ia menggigit bibir, “aku minta maaf.” Sesalnya.

Rika menunduk, mungkin mencoba menerka perasaannya sendiri. Lama mereka bergelut dalam hening. Aku berdebar, berharap semoga mimpi burukku tidak menjadi kenyataan.

Rika menghela nafas. Pelan, tapi tenang. Seakan melepaskan segala beban berat yang selama ini dibawanya.

“Dan kau tahu?” Rika menatap Erik. Nafasku memburu. Aku ingin agar hari ini tak pernah ada dalam hidupku. “waktu selalu berjalan tanpa kompromi, merenggut apapun, siapapun, tanpa pernah sekalipun meminta persetujuan. Namun, waktu juga adalah obat, obat bagi lukaku dan penyesalanmu,” Aku meneguk ludah mendengar ucapan Rika yang mengalun lembut, tapi hampir merenggut kesadaranku. “seberapapun aku mencoba melangkah jauh, aku selalu kembali pada sosokmu.” Rika tersipu, Erik tak kalah bersemu. Aku lesu.

Mereka terdiam lagi untuk beberapa saat. Tersenyum-senyum sendiri. Membuat hidupku seolah berhenti.

Erik membuka buku bersampul merah muda itu, ia membuka lembar demi lembar dengan cepat. “Engkau telah mengikatku ke dalam dirimu, mengajarkan mataku untuk melihat, telingaku untuk mendengar, bibirku untuk berbicara, dan hatiku untuk mencintaimu,”  Erik membaca kalimat dalam buku itu, lalu terlihat akan memeluk Rika.

Aku tidak rela! Aku menjatuhkan diri. Muak! Menghalangi mereka yang akan berpelukan. Kuhempaskan tubuh ke pangkuan Rika. Rika menjerit histeris. Ia mengibaskan tangannya padaku, membuatku terlempar ke lantai, menggelepar. Aku segera tersadar ketika Erik menginjak ekorku, cepat-cepat aku melarikan diri dan membiarkan ekorku terputus. Aku berlari tunggang-langgang, sayup-sayup kudengar Rika mengumpatku.

“Dasar cicak kurang ajar!”

***
Read More

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com