Tuesday, March 22, 2016

[Me Time] Apa yang Bisa Kulakukan untuk Indonesia?


Ratna Juwita

         Hari ini, di pelajaran PKN, aku ditampar dengan halus. Tidak oleh manusia, tapi oleh diskusi singkat antara mahasiswa dan dosen Arkeologi yang hari ini mendapat giliran mengajar di kelas PKN kelas B (kelasnya campur dari Sastra Jepang, Sastra Perancis, dan Arkeologi).

         Awalnya, seorang dosen wanita masuk seperti biasa, kemudian lanjut ke pengajaran. Beliau menyuruh kami membentuk kelompok untuk berdiskusi singkat mengenai pancasila. Tidak ada yang cukup menarik sampai saat itu, semuanya biasa saja, sampai akhirnya masuk ke pembahasan berikutnya yaitu tentang nasionalisme.

      Dosen itu kemudian mendekat ke tempat diskusi kami, beliau menanyakan, “Apa itu nasionalisme?”

         Saat itu entah keberanian darimana aku menjawab, “Nasionalisme itu cinta tanah air.”
Beliau kembali melanjutkan bertanya, “Bentuk nasionalisme yang bagaimana yang bisa dilakukan?”

         Detik setelahnya, aku sudah mengoceh mengenai membela tanah air sebagai warga Negara Indonesia. Mengenai bangsa ketika berada di bawah penjajahan, bahwa tidak mungkin kita sebagai warga negara yang baik yang mengaku mencintai tanah air ini untuk tidak membela negara, kita memiliki kewajiban untuk membela dan melindungi negara ini.

         Dosen itu tersenyum, kemudian bertanya lagi. “Itu zaman dulu, kalau sekarang? Pikirkan, ya!”

         Kami kembali ke diskusi. Apa yang bisa kita lakukan untuk Indonesia? Apakah benar kita masih memiliki nasionalisme itu?

         Beberapa saat kemudian, dosen tersebut memutarkan video, salah satunya adalah tentang Rio Harianto, pembalap F1 yang berulang kali membawa nama Indonesia di kancah balapan internasional dengan memenangkan pertandingan. Di situ bisa kulihat Rio berdiri sebagai nomor satu, ketika lagu Indonesia dikumandangkan, sebersit kenangan muncul.

         Aku melihat wajahnya saat itu, tersenyum simpul. Memandang penjuru sirkuit balapan seolah saat itu adalah miliknya. Tiba-tiba, gelora muncul dalam diri. Aku mengingat dengan jelas, saat wisuda kelulusan SMA, aku memiliki ekspresi yang sama dengannya ketika aku dinobatkan sebagai lulusan terbaik (ceilah). Aku yakin ekspresiku persis sepertinya, seakan menyiratkan mengenai: kebanggaan dan haru.

         Ada rasa bangga menjadi rakyat Indonesia ketika berdiri sebagai pemenang dunia. Dalam sudut pandangku juga ada rasa bangga ketika bisa kupersembahkan segala prestasi untuk ayah dan ibuku. Tapi saat ini yang ingin kusoroti bukan aku, melainkan Rio Harianto. Prestasi, perjuangan keras, dan masih menyandang nama Indonesia sebagai tanah airnya walaupun Indonesia tak memberi dukungan yang banyak untuknya.

         Dosen tersebut menambahkan bahwa di Indonesia saat ini pangsa pasar didominasi oleh perusahaan asing, seperti obat-obatan yang sekitar 80% adalah milik perusahaan asing, sebanyak 92% industri mesin didominasi perusahaan asing, dsb. Lalu, dimanakah peran warga Negara Indonesia sendiri? Hidup dalam negara sendiri yang dikuasai oleh orang asing.

         Kemudian, aku bertanya-tanya: Apa yang bisa kulakukan untuk Indonesia? Pertanyaan yang belum terjawab sampai saat ini.
What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com