Read More

5 CM: Buku yang Menyelamatkanku

Ratna Juwita
Read More

Ary Nilandari - Penulis Wattpad yang Tidak Menye-Menye

Ratna Juwita
Read More

Know Your Limits

Ratna Juwita
Read More

PETRIKOR

Ratna Juwita
Read More

Into The Unknown

Ratna Juwita

Thursday, December 28, 2017

[Traveling] Menembus Dinginnya Puncak Sikunir




Baru sempat menulis pengalaman perjalanan ke Puncak Sikunir atau Puncak Dieng? Yang jelas, sebelum naik ke atas ada tulisan Sikunir. Jadi, Puncak Sikunir? Tapi, rencananya ke Puncak Dieng :’) atau sama saja? Efek tidak pernah jalan-jalan mulai nampak jelas, nih.

Sebenarnya, ajakan datang begitu tiba-tiba. H-seminggu keberangkatan, temanku mengajak untuk pergi ke Puncak Sikunir tepat setelah UAS selesai dan sebelum pulang ke kampung halaman. Maklum, kami anak rantau di daerah Yogyakarta. Setelah memikirkan masak-masak mengenai uang jajan yang dilindas habis untuk patungan menyewa mobil dan membayar bensin, jadilah kuputuskan pergi bersama rekan-rekan sekelompok perantauan yang sudah dari masuk kuliah disatukan takdir ini. Set, dah!

Kapan lagi bisa jalan-jalan ke tempat yang agak jauh dengan mereka? Pikirku saat itu. Akhirnya berbekal izin tidak ikhlas dari orang tua yang sebenarnya mengkhawatirkan anak rantaunya ini, mantaplah anggukan kepala untuk ikut pergi menuju Puncak Sikunir.

Kami berangkat berdelapan menunggangi kuda besi Avanza hitam, enam teman perempuan yang sudah disatukan takdir tadi, dan dua lelaki, pacar salah dua temanku. Tugas menyetir mobil diambil alih oleh pacar F. F dan pacarnya kebagian di depan mobil layaknya pasangan suami istri yang membawa rombongan keluarganya jalan-jalan. Nah, si pacar temenku S duduk di bagian tengah mobil, dengan S dan L. Aku duduk paling belakang dengan R dan P. Wkwk, macam rupiah saja RP. Sebenarnya, pacar S adalah orang Jepang yang mualaf dan habis sunatan, jadi kondisinya tidak begitu fit. Kami merasa durhaka karena sudah mengajaknya, tapi kami yakin dia juga menikmati liburan ini. Sing penting yaqin sek.

Mulailah perjalanan kami menerobos hujan pukul lima sore. Satu per satu, kami dijemput oleh F dan pacarnya. Eh, btw baru kali itu kami ketemu pacarnya F, untung orangnya supel dan gampang akrab. Hehe. Perjalanan kami bisa dibilang sangat menyenangkan. Bernyanyi, joget, sampai malu dilihatin pengendara dari luar saat lampu merah karena kami sangat ribut. Sesekali, kami menggoda F dan pacarnya yang tampak serasi seperti ibuk bapak di bagian depan. Antara geli dan iri. Beberapa dari kami pun mengeluh seandainya punya/bawa pacar juga *eh. Si S dan pacarnya juga tidak kalah membuat panas dengan kata-kata romantis seperti “sayang” dan “rindu” yang menurut pengakuan pacarnya S tumben sekali dikatakan S padanya. Wkwk. Ketahuan, dah, setting-an kayak program televisi katakan katakan katakan atau Rumah Ayu *eh.

Perjalanan dari Yogyakarta ke Wonosobo sebenarnya kami tempuh hanya dalam waktu kurang lebih 5 jam. Namun, perjalanan ke Puncak Sikunir ternyata menambah beban waktu yang cukup banyak. Ditambah kesasar. Tapi karena barengan dan aku gak kebagian menyetir mobil mah asyik enjoy aja gitu. Haha. Jadi pengin bisa nyetir mobil juga #ganyambung.

Karena mengikuti arahan mbah google yang kadang memang menyesatkan, kami sempat masuk ke jalan yang sangat sempit. Karena hari masih sangat pagi, untungnya tidak ada kendaraan yang lewat. Akhirnya, setelah memeriksa kondisi jalan yang sepertinya hanya bisa dilewati dengan sepeda motor atau jalan kaki, kami putar arah dengan perasaan was-was karena takut nyemplung terus arum jeram dadakan ke salah satu sungai yang mengapit jalan sempit itu.

Setelah melalui berbagai wewangian durian yang menggoda, berhenti di beberapa rest area, sempat makan bakso di pinggir jalan, dan menghadapi medan berkelok-kelok yang membuat sebagian besar kami hampir tumbang, serta memuntahkan cairan dari lambung—sebenarnya aku banyak tidur dan tidak terlalu memperhatikan jalan, muehehe—tibalah kami di parkiran Puncak Sikunir pada pukul setengah dua pagi. Lebih lama dari yang kami rencanakan. Tapi yasudahlah, yang penting kami harus tidur karena lelah (padahal sedari berangkat aku cuma duduk anteng di belakang).

Kami harus bersiap secara fisik dan mental menghalau dingin dan air WC—yang macam terbuat dari es saking dinginnya—nanti pukul empat pagi. Kami berniat mengejar sunrise di Puncak Sikunir. Setelah tidur tidak cukup alias dua jam saja, kami dibangunkan F dan pacarnya untuk bersiap menuju puncak tertinggi. Uyeah.

Begitu selesai memasang perlengkapan perang: sarung tangan, topi rajut, dan jaket, kami keluar dari persinggahan dan mendapati beuhh ... bahwa di bawah Puncak Sikunir saja sudah terasa dinginnya yang membuat tanganku terus menggosok satu sama lain. Kami kelupaan membawa senter, tapi Pacar S sepertinya cukup pengertian dengan mempersiapkan satu buah senter, sisanya pakai handphone masing-masing. Aku dan L memimpin di depan dengan sinar handphone. Keadaan sangat gelap karena masih pukul setengah empat pagi, ditambah jalanan berkabut dan medan yang asing, membuat kami selalu waspada. Jalannya cukup luas untuk dilewati dua orang, tapi semakin ke atas semakin menyempit. Ribuan anak tangga kami daki satu per satu dengan napas ngos-ngosan. Sepagi itu sudah olah raga mendaki ke puncak memang hal yang tidak biasa.

Kami berhenti beberapa kali karena kelelahan dan mengkhawatirkan Pacar S yang habis sunatan. Kami mendaki sekitar kurang lebih 20 menit saat merasa sudah sampai di puncak, tapi ternyata bukan. Tempat itu ternyata adalah tempat untuk sholat dan beristirahat sejenak. Cukup luas, gubuk berdinding anyaman rotan itu cukup untuk menampung sholat sekitar 15 orang dengan kurang lebih lima kamar mandi di sisinya. Karena hari masih petang dan air tidak mengalir untuk berwudhu, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sakral itu. Kami bergandengan dan saling melindungi satu sama lain melewati medan yang melelahkan dan kadang licin karena hujan. Ceilah.

Begitu berjalan sekitar 10 sampai 15 menit kemudian, kami diantarkan pada gubuk kecil (seperti gubuk di tengah sawah yang tak berdinding) dan beberapa orang yang sudah berada di sana lebih dulu. Jangan tanya tentang suhu, dingin dan berkabut! Atau aku yang tidak tahan dingin? Hehe. Saat itu handphone-ku dalam keadaan mati, jadi tidak bisa mengecek suhu di sana. Aku terus merapatkan jaket dan sarung tangan. Kami pun menggelar sajadah dadakan dari mantel hujan dan melaksanakan sholat subuh sembari memunggungi sang fajar.



Itu adalah pengalaman yang mengesankan bagiku. Baru kali itu aku mendaki ke puncak sebuah gunung, pegunungan, ataupun bukit dan perbukitan. Melihat fajar dan semburat benang tipis dari ketinggian seperti itu benar-benar pengalaman yang baru. Aku bisa melihat jelas, antara kabut dan keremangan, siluet gunung yang berdiri kokoh di sekitar kami. Tak menyesal rasanya memutuskan ikut bersama mereka. Walaupun kelelahan dan kedinginan, semua itu terbayar dengan tawa kami ketika berpotret membelakangi Sang Mentari yang menjanjikan cahaya setiap hari. Pertama kali aku menyaksikan sunrise secara langsung di sebuah puncak.

Akan tetapi, ada satu insiden menggelikan yang tidak boleh terlewatkan dalam catatan perjalanan ini. Temanku, L, mendadak sakit perut dan membuat kami kelabakan. Kami menduga pelaku yang bertanggung jawab atas insiden ini adalah susu kotak yang diminumnya beberapa saat sebelumnya. Alhasil, ia berulangkali memasang tampang yang tidak bisa dijabarkan sambil berdoa agar sakit perutnya segera hilang. Namun, rupanya doanya tidak terkabul begitu saja. Sakit perutnya semakin menjadi-jadi dan memaksa ingin segera dikeluarkan.

Dalam keadaan gelap, kami tidak melihat toilet atau semacamnya. Baru setelah matahari mengacungkan cahaya dari timur, nampak sebuah tempat yang seharusnya toilet. Seharusnya. Beberapa kali L pergi ke sana berbekal tisu dan botol aqua, namun selalu kembali tanpa hasil. Ia berdalih tidak bisa mengeluarkannya, entah karena tempat yang tidak nyaman atau suasana yang begitu dingin. Aku juga tidak tahu. Aku hanya bersyukur saat itu tidak mengalami nasib yang sama dengannya. Hehe. Jahat mode on.

Karena tidak tega melihat mukanya yang tidak lagi bisa dikondisikan, aku memutuskan membujuknya untuk sekali lagi pergi ke tempat-yang-seperti-toilet itu. Aku yang kebagian mengantarnya kali itu. Yah, tempatnya tidak terawat dan hanya satu bilik dengan bagian pintu bolong di bagian atas yang tidak terkunci. L masuk dengan peralatan perangnya (baca: tisu, aqua, dan kresek). Lagi-lagi, aku bertugas memegangi bagian atas pintu yang bolong karena pintunya tidak bisa dikunci dari dalam. Saat itu, aku harap-harap cemas dan deg-deg-an. Apakah itu cinta? Bukan, lebih takut mendengar suara-suara aneh atau mencium hal-hal yang tidak kuinginkan. Hehe.

Kuputuskan bersenandung. Lagu SNSD yang baru-baru ini kugandrungi. FYI, biasku adalah Jessica Jung yang sudah keluar dari grup itu pada tahun 2014 lalu, dih jadi sedih lagi ☹. Oke, back to the main topic. Sambil menggumam, hal yang tak kuinginkan terjadi. J berteriak dari dalam diikuti suara kresek dan air, aku tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang terjadi. Setelah melewati semua itu selama beberapa waktu yang tak terhitung, L sukses mengusir rasa sakit di perut beserta isinya. Sebagai sahabat, aku juga merasa terharu. Dih, apadah. Wkwk.

Setelah melewati berbagai cobaan yang mendera, kami bisa kembali ke puncak Sikunir dengan senyum terkembang di wajah. Kakiku mati rasa saat itu. Entah sejak kapan, mungkin efek hanya memakai kaos kaki dan flat shoes berbahan karet. Pelajaran bagi siapapun yang ingin naik gunung, yang penting jangan pakai sandal jepit merk apapun. Mau merk skyhigh kek, swansea kek, smellow kek gausah. Mending pakai sepatu. Jangan sepatu hak tapi.



Ala-ala anak hits dan kekinian lainnya, kami pun asyik mengabadikan momen itu, berkali-kali kami memencet tombol kamera, pura-pura candid yang gagal, dan memasang tampang seberagam mungkin. Sepertinya, sebuah penelitian psikologi ada benarnya bahwa jiwa akan lebih merasa puas dan bahagia jika menggunakan uang untuk berpergian dan mencari pengalaman ketimbang menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang kita inginkan. Muehehe. Aku tidak tahu sumbernya, tapi coba cari di mbah google kalau ingin mengecek kebenarannya.

Untuk sejenak, sejenak saja aku melupakan masalah-masalah yang mendera. Di sana, di puncak yang tinggi itu aku menyaksikan keindahan semesta. Cahaya lampu rumah warga di sela pegunungan dan mentari yang mengintip malu sebelum benar-benar menampakkan kegagahan sinarnya. Pada detik itu, lagi, aku mengagumi ciptaan Tuhan dan membuatku terus bersyukur aku pernah menyaksikan dan menikmatinya bersama orang-orang yang kusayang. Aku berharap bisa menyaksikan pemandangan seperti itu lagi di lain tempat, bersama orang-orang yang kusayang lainnya. Aamiin.

Hidup itu indah. Lebih indah lagi jika kita bisa berbagi satu sama lain, bisa menikmatinya dengan rasa syukur sebanyak mungkin. Berterima kasih pada Tuhan karena telah mengizinkan kita lahir dan hidup di atas bumi ciptaan-Nya dan menikmati keindahan yang dihamparkan-Nya.

Malang, 27 Desember 2017

P.S. Aku tidak bisa memublikasikan foto-foto kami dengan alasan privasi. Hehe.

Read More

Saturday, December 09, 2017

[K-Talks] Kutukan Menyukai Grup Idol/Girlband: Jessica Jung ex-SNSD

Sumber gambar : pinterest

Ratna Juwita

Kembali lagi dalam sesi curhat. Sebelumnya, saya membahas anggota 48 dan 46 Family, yaitu Acchan atau Atsuko Maeda yang sudah lulus dari AKB48 sejak 2012 dan Hirate Yurina ang center Keyakizaka46. Sepertinya aku punya kutukan tertentu ketika menyukai seseorang dari sebuah Idol Grup atau Girl Band. Beruntungnya, kutukan itu tidak berlaku ketika aku mengenal Keyakizaka46 yaitu Hirate Yurina.

Aku sebenarnya mantan k-popers. Yang pernah baca posting-a sebelumnya tentang ‘Curahan Hati Seorang Fans Atsuko Maeda’ pasti tahu bagaimana perjalanannku hingga move on ke AKB48. Sayangnya, akhir-akhir ini aku goyah karena teman-teman di kampus banyak yang melirik girlband atau boyband Korea, aku jadi penasaran (lagi).

Aku kepincut oleh seorang aktris Korea: Park Bo Young yang baru saja menyelesaikan drama suksesnya dengan Park Hyung Sik: Strong Woman Do Bong Soon. Aku menyukai Park Bo Young karena akting-nya yang bagus dan wajahnya yang super imut! Mulailah aku searching di google segala hal tentangnya dan semua film dan drama yang pernah dibintangi olehnya. Baru-baru ini aku kembali keracunan seorang aktris Korea yang masih belia: Kim So Hyun.

Kalian heran? Aku juga heran mengapa yang kusuka semuanya cewek bukannya cowok? Ketika Park Bo Young bermain peran dengan Park Hyung Sik mengapa bukan Park Hyung Sik yang mengusikku, mengapa justru Park Bo Young? Aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku masih normal. Suer. Hehe.

Kim So Hyun memukauku lewat perannya dalam drama School 2015: Who Are You. Peran gandanya menjadi Eun Bi dan Eun Byul kuacungi jempol. Aku sampai terpana dan menjadikannya aktris favorit yang selalu kutunggu film dan drama barunya. Ditambah lagi, wajahnya yang onyoe.

Berkat keranjingan drama-drama itu, aku memutuskan untuk mengetahui lagu-lagu Korea terbaru juga supaya tidak kudet ketika berbicara dengan teman-teman. Aku juga tidak tahu mengapa mahasiswa jurusan Sastra Jepang justru sering bergosip tentang Korea? Wkwk. Sudahlah.

Pilihanku jatuh pada SNSD. Ini bukan pertama kalinya aku menyukai girlband yang sudah mendunia ini. Dulu, sewaktu aku SMP, sekitar lima tahun lalu—ehem—aku sudah menggilai girlband ini berkat lagu yang melambungkan nama mereka: Gee. Namun, dulu aku masih ‘normal’ dan lebih menggilai Super Junior yang berisikan pemuda-pemuda ganteng nan mempesona. Ketika melihat album-album, memutar lagi lagu-lagu nostalgia SNSD, aku terpana. Aku merasa kagum dan siap menjadi FANS YANG TERLAMBAT.
Lagi? Aku juga tidak tahu mengapa kutukan ‘TERLAMBAT’ ini selalu menimpaku.

Aku mencoba menghapal wajah dan nama membernya yang menurutku mirip-mirip ini. Huhu. Menurutku, mereka keren. Selain itu, suaranya bagus, nyanyi jarang lipsync, dance yang powerful dan memukauku. Segera saja aku bergerak mencari kira-kira mana yang akan menjadi pilihan untuk kujadikan ‘bias’. Karena aku tidak tahu-menahu mengenai anggota yang keluar dari grup, aku sedikit menaruh perhatian pada Seohyun karena selain suara yang bagus, ia juga lumayan cantik.

Sumber gambar : pinterest

Mulailah ku menelusuri seluk-beluk mereka di simbah kepercayaanku. Beberapa posting-an menyebutkan Jessica Jung. Aku langsung mengenalinya. Entah kenapa. Mungkin karena dulu wajahnya sudah tidak asing di mataku. Nah, Gotcha! Pikirku. Aku ingin menjadikannya ‘bias’ karena menurutku dia cantik banget! Terlihat dewasa dan kharismatik, ditambah lagi suaranya yang sangat khas dan bagus! Gerakan dance-nya juga bagus ... dan ekspresi yang ditunjukkan di setiap penampilannya membuatku terpaku. Duh, yakin kok aku masih normal. Bener, deh.

Segera saja ku-search mengenai Jessica Jung yang kemudian hatiku patah menjadi beberapa bagian ketika membaca bahwa ia sudah hengkang dari SNSD sejak tahun 2014. Ugh, kutukan ini!

Sumber gambar : pinterest

Kucari juga mengenai Seohyun, lagi-lagi aku mengumpat dalam hati karena ternayata ia pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan agensi yang menaunginya, SM Entertainment. Tidak lama sebelum ini, sekitar Oktober 2017! Argh!

Sejak kapan kutukan ‘TERLAMBAT’ ini menimpaku, ya? Akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah men-download lagu-lagu dan video-video mereka—dalam bahasa Jepang—karena aku tidak akan sanggup mendengar mereka bernyanyi kalau mereka menggunakan bahasa asing yang tidak ramah di telinga. Sekaligus, aku ingin belajar mendengarkan dan mempelajari kosakata bahasa Jepang baru untuk keperluan studiku.

Memang sudah nasibnya aku selalu menjadi fans yang terlambat. Meskipun begitu, aku menikmati lagu-lagu, terlebih video live konser mereka ketika mereka masih bersembilan dengan Jessica Jung masih di antara mereka. Aku senang. Lagunya bagus. Dan mataku tak pernah lepas sepertinya mencari sosok Jessica Jung yang sudah menarik perhatianku. Bahkan, sebelum aku menyadari bahwa video-video yang akhir-akhir ini kutonton, tidak menampilkan sosoknya.

Mungkin, aku akan mulai men-download juga video dan lagu solo Jessica Jung, walaupun aku merasa akan lebih senang melihatnya berada di antara member SNSD lainnya di atas panggung yang sama.

Tapi, aku tidak terlalu mempermasalahkannya juga. Aku suka SNSD karena lagunya bagus dan menyukai Jessica adalah hal yang berbeda. Aku akan mendukung keduanya di bidang manapun mereka. Semoga, karir mereka semakin berkembang ke depannya. Untuk Jessica, aku datang~

Sumber gambar : pinterest

Yogyakarta, 5 Desember 2017

Read More

Monday, December 04, 2017

[Me Time] Cerpen yang Booming dan Tuduhan Plagiat: Cerpen Ruang Dimensi Alpha karya Ratna Juwita

Baru saja, aku mendapatkan sebuah komentar mengejutkan di salah satu postingan cerita pendek di blog-ku ini. Sebuah komentar yang intinya mengatakan, “Wah, cerpen ini ada di buku SMP kelas 7, bahkan sampai sekarang masih ada bukunya. Sebenarnya yang menjiplak buku tersebut atau blog ini?”. Sontak saja aku terkaget-kaget membacanya. Apa? Aku dituduh plagiat?

 Kulihat, komentar tersebut di-post oleh akun bernama “unknown” pada September 2017 (Aku jarang membuka blog jadi ya begini kurang update. Hehe). Apa-apaan komentarnya? Aku sebenarnya merasa agak kesal karena dituduh plagiat secara tidak langsung, tapi juga penasaran, masa cerpenku, yang abal-abal ini, yang aku sendiri ketika membacanya ulang merasa malu, yang kutulis sewaktu aku masih SMP (FYI, ketika menulis ini, aku sudah kuliah semester 5) ini, ada di buku Bahasa Indonesia anak SMP? Yang benar saja.

Segera saja kutelusuri di simbah kepercayaanku dan benar saja baru kuketikkan kata kunci “Cerpen Ruang” langsung saja ada pilihan teratas “Ruang Dimensi Alpha”. What? Semakin terkaget-kagetlah aku. Oke, ku kliklah pilihan itu. Segera, di layar handphone-ku, berderet ulasan dan diskusi mengenai cerpen itu. Di situ pun dengan jelas tertulis “karya Ratna Juwita”. Wuih, bangga juga. Hehe.

Tapi, ketika kucari-cari, sepertinya ada perubahan pada nama tokoh, yang kubuat keren, jadi ke-Indonesia-an banget namanya. Bukan berarti ku bermaksud bilang bahwa nama Indonesia itu jelek. Bukan. Tapi karena latar waktunya adalah masa depan, jauh setelah bumi hancur diterjang meteor, maka nama-nama yang ada saat ini tentu sudah tidak relevan, kan? Itu logikaku saat masih SMP ketika menulis cerpen itu.

Perbedaannya lagi ada pada ending cerita. Karena cerita ini kutulis saat aku masih SMP dan sering kali membaca cerita menye-menye yang cinta-cintaan, maka alurnya pun ending-nya romantis gitu. Tapi karena ini buku untuk anak SMP, yang seharusnya tidak berisi cinta-cintaan dan menye-menye, penerbit sepertinya sengaja menyunting cerpen tersebut. Mohon digarisbawahi, penerbit sama sekali tidak mengontakku secara personal untuk pencatutan dan penyuntingan itu. Terheran.

Aku tidak mempermasalahkan penyuntingan itu, aku mempermasalahkan ketiadaan permintaan izin dari penerbit yang bersangkutan—aku masih tidak tahu penerbit mana yang mencatutnya—kepadaku secara langsung. Aku menebak-nebak, apakah komentar “izin copy” yang ada di kolom komentar postingan cerpen ini adalah dari pihak penerbit tersebut? Aku tidak tahu.

Seharusnya, aku mendapatkan royalti untuk pencatutan cerpen itu. Tapi bukan masalah itu yang sedang kubicarakan saat ini, melainkan etika sebuah penerbit mengambil karya orang dari internet tanpa berkomunikasi secara langsung untuk meminta izin pada pihak yang berangkutan. Bahkan, aku tidak tahu jika cerpen itu dimasukkan di sebuah buku untuk bahan ajar anak SMP. Seharusnya, aku perlu tahu hal itu. Seharusnya.

Aku tidak tahu etika penerbitan, sih walaupun sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia penulisan. Aku pernah menjadi editor penerbitan indie, mengikuti ratusan lomba menulis dan memenangkan beberapa diantaranya, dan sebagainya. Namun, tak dapat dipungkiri aku ‘sedikit’ merasa bangga karyaku bisa ‘nangkring’ di buku ajar anak SMP. Aku menyetujui penyuntingan itu karena target pembacanya adalah anak remaja SMP, akan lebih bagus memang apabila ending ceritanya tidak mengandung unsur romansa.

Bagi yang penasaran dengan hasil suntingannya, bisa coba mencari tahu di mbah masing-masing. Hehe. Kalau penasaran dengan karya aslinya, bisa pencet pilihan cerpen di blog-ku ini dan cari judul cerpen “Ruang Dimensi Alpha”.

Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak plagiat. Cerpen itu bahkan sudah kuposting sejak tahun 2014 dan baru dimasukkan ke dalam buku pada tahun 2016 oleh sebuah penerbit yang tidak kutahu rupanya. Lain kali, mungkin aku akan merasa lebih senang dan merasa dihargai apabila karyaku diminati dan dicatut dengan sepengetahuan dan izinku.  



Yogyakarta, 3 Desember 2017
Read More

Monday, May 01, 2017

[Prosa Pendek] Hujan

Ratna Juwita

Hujan pun pernah sesekali ragu: menimang-nimang kesiapannya sendiri untuk terhempas kesekian kali di atas bumi. Meninggalkan awan dengan perasaan yang selamanya diputuskan mati.

Agaknya, awan tak pernah bertanya lebih dulu, acuh pada nafsu hujan untuk bertahan. Hujan jatuh dengan suara debam yang hening, sering tak terdengar, tapi telah cukup menyakitkan. Dan kehilangan awan ternyata lebih menyakitkan.

Pada akhirnya, ia hanya teresap, teralir, teruap, dan bertemu tempat singgah yang baru; awan yang lain. Jatuh cinta, lalu tersakiti lagi tanpa mampu seutuhnya bersama awan yang dimau. Yang diingini.

Kadang rindu begitu menyiksa, ketika aliran juga resapan menjadi begitu lama. Kadang teresap itu menghilangkannya, hingga di suatu tempat, ia muncul lagi; mengalir dan memuara. Mengikuti kelok tanah di bumi yang tak pernah baik mengombang-ambingkannya.

Ia pernah menjadi sangat kotor, mengalir bersama benda benda padat yang tak jarang amis, busuk, dan menjengahkan.

Namun, ia juga pernah menjadi sangat bersih, diteguk, melewati lorong-lorong yang tak panjang, mengendap beberapa saat, lalu terbuang dengan bau yang pesing.

Bukan alam namanya jika tak bermain-main dengannya. Pernah. Ia begitu dalam mencintai untuk kemudian dikhianati. Berulang kali hingga ia sadar, hidupnya tak diciptakan untuk memilih.

Yogyakarta, 1 Mei 2017


Read More

Thursday, January 26, 2017

[Resensi] Alur Cerita Manis dalam “P.S. I LIKE YOU” Karya Kesie West


Ratna Juwita

Judul                      : P.S. I Like You
Penulis                  : Kasie West
Penerbit                 : Spring
Waktu Terbit        : November 2016
Halaman               : 367


         Apa yang akan kita lakukan jika ada orang dengan hobi yang sama, diam-diam mengirim surat di tengah pelajaran yang sangat membosankan? Apa yang kita rasakan ketika tahu ternyata orang itu memiliki ketertarikan terhadap lagu dan penyanyi yang sama? Bagaimana rasanya memiliki sahabat pena misterius yang sangat mengasyikkan?

         Semua itu dijabarkan dengan lugas oleh Kasie West dalam bukunya ini “P.S. I Like You”. Buku yang didominasi warna cream yang dipadukan dengan warna merah muda—warna yang seringkali dilambangkan sebagai warna cinta—ini memiliki judul dan tampilan cover yang menarik. Dari segi visualisasi cover, buku ini dapat dengan mudah menarik minat baca, terutama anak remaja dalam masa pubertas. Ditambah lagi, judul yang sangat mendukung penggambaran keseluruhan isi cerita dalam novel, semakin memberikan kesan “menggemaskan”.

         Cerita berawal dari Lily, seorang gadis SMA yang menuliskan lirik lagu favoritnya di atas meja saat pelajaran Kimia—pelajaran yang paling tidak ia sukai. Hari berikutnya, ia menemukan seseorang telah melanjutkan lirik itu dan bahkan menulis pean untuknya.

         Dari sini, jantung pembaca sudah diajak kebat-kebit gemas dengan cara tokoh berkomunikasi. Surat bukanlah sebuah pilihan utama di zaman seperti ini karena telah digantikan dengan teknologi telepon genggam yang lebih modern. Tentunya, cara komunikasi ini memberikan kesan tersendiri pada cerita yang disuguhkan. Terlebih lagi, kebanyakan remaja zaman sekarang—yang lahir di abad 20—tidak pernah melakukan cara komunikasi semacam ini.

         Lebih lanjut, cerita mengalir dengan tokoh utama Lily dan sahabat pena misteriusnya yang mulai saling berbagi rahasia dan mulai terbuka satu sama lain. Bahkan, Lily merasa mulai menyukai sahabat pena misteriusnya itu. Walaupun awalnya dia tidak berniat mengetahui sosok di balik surat misterius itu karena tidak percaya diri—ia menganggap dirinya bukanlah sosok wanita yang menarik, akhirnya rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Ia pun mulai mencari tahu sosok di balik sahabat pena misterius itu.

         Alur ceritanya tertata, khas novel remaja. Meskipun novel terjemahan, bahasa yang digunakan dalam novel ini pun ringan dan mudah dipahami. Tidak melulu mengenai kehidupan tokoh dengan sahabat pena misteriusnya, tokoh pun “diuji” melalui konflik dengan teman, musuh bebuyutan, hingga masalah keluarga. Pembaca digiring untuk menikmati satu-satu rangkaian cerita yang sebenarnya saling bersinambungan, hingga tidak lega rasanya jika belum menuntaskan cerita dalam novel. 

         Konflik-konfilik dalam cerita seperti mewakili beragam konflik yang sering dialami oleh kebanyakan remaja saat ini. Bukan hanya masalah percintaan, tapi juga masalah keluarga dengan jumlah anggota keluarga yang banyak disertai macam-macam kerumitan di dalamnya. Hubungan antar tokoh pun terjalin hangat dengan sendirinya seiring berjalannya cerita. Satu persatu, karakter-karakter tokoh mulai nampak kuat, sehingga mudah diingat.

         Pembaca juga disuguhkan dengan dialog-dialog tokoh yang sering membuat tersenyum, bahkan tertawa. Dialog-dialognya tidak monoton seperti novel terjemahan pada umumnya, “P.S. I Like You” benar-benar disiapkan untuk pembaca remaja dengan bahasa dan alur yang sama sekali tidak membingungkan. 

         Penggambaran cerita yang dituliskan oleh Kasie West juga detail. Seolah-olah pembaca berada di depan sebuah layar monitor bergerak. Imajinasi pembaca dipaksa untuk bergerak mengikuti setiap adegan yang terjadi dalam novel. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa gaya penulisannya kuat. Mungkin tidak sedetail beberapa novel sastra, tapi sangat cukup memberikan imajinasi kuat kepada pembaca.

         Walaupun alur cerita mudah ditebak, penulis benar-benar berhasil membuat pembaca tersipu dengan adegan-adegan dalam cerita. Namun, karena novel ini merupakan novel terjemahan, ada pula beberapa adegan yang merupakan tradisi budaya barat dan tidak pantas ditiru oleh remaja Indonesia. Sebagus apapun buku yang dibaca, kekurangan itu akan selalu ada. Para pembaca, khususnya remaja, hendaknya bisa menyikapi dengan bijak dan menyeleksi yang pantas dan tidak pantas dilakukan sesuai dengan etika yang berlaku dalam masyarakat Indonesia.
Read More

Sunday, January 22, 2017

[Cerpen Fantasi] Sama-Sama ("VAMPIR" bagian 2)

Ratna Juwita


Karena kau pun menjelma variabel sukar yang terlalu rapuh saat mataku tertuju padamu
“Terima kasih.”

         Langkahku terhenti ketika suara itu mampir ke telinga begitu seseorang menyentuh pundakku. Ketika berbalik, kutemukan seorang wanita paruh baya sedang mengucurkan air mata. Aku tertegun. Di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang ini, mengapa ia menangis?

         Untuk beberapa detik berikutnya, aku hanya memandang lekat keriput yang menghias sebagian wajahnya yang tampak familiar. Lidahku mendadak kelu, otakku seperti sedang berusaha menggali memori yang tak dapat ditemukan di folder manapun. Siapa dia?

***

         Berhari-hari, aku begitu terganggu dengan pertemuan bersama seorang wanita paruh baya saat itu. Sejenak, aku bisa melupakannya ketika beraktifitas di sekolah seperti biasa bersama manusia-manusia yang kuharap takkan pernah mengetahui identitasku. Aku senang berada di antara mereka, tapi di sisi lain aku selalu takut jika mereka mengetahui jati diriku yang sebenarnya. Mereka pasti akan ketakutan, menjauhiku, bahkan mungkin juga menangkapku.

         Aku tidak pernah tahu bagaimana bisa dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan yang berbeda. Yang kutahu hanya kenyataan bahwa aku hidup dan perasaan kosong yang menjadi sahabat paling setia bagiku. Namun, setelah perasaan kosong dan pikiran yang tak pernah berhenti bertanya “mengapa”, pintu pertanyaan itu seakan sedikit terbuka ketika aku melihat wanita itu.

         Aku merasa pernah bertemu dengannya, aku merasa hangat walau hanya sesaat. Meskipun hatiku masih dipenuhi oleh keraguan, untuk pertama kalinya selama tujuh belas tahun ini, aku merasa menemukan sesuatu, sesuatu yang hangat pada matanya.

         Akhirnya, aku hanya berjalan tanpa tujuan yang jelas dan berakhir di jalan ini. Jalan yang mempertemukanku pertama kali dengannya. Sekalipun kecil, ada harapan agar aku bisa bertemu dengannya. Sekali lagi.

         “Rhean?”

         Aku tersentak mendengar suara dan panggilan itu, seolah tertuju padaku. Aku menoleh dan mendapati wanita paruh baya itu sedang berdiri memandangiku dengan senyum yang tak pernah tanggal dari bibirnya.

         Ia memakai baju berwarna pink dengan rok selutut berwarna senada dan bermotif bunga-bunga, khas orang tua. Aku mengalihkan pandangan darinya buru-buru, berusaha melarikan bola mata kemanapun asal tidak pada manik matanya. Mungkin dia memanggil orang lain, aku mulai gugup. Ia memanggil orang bernama “Rhean”, sedikit mirip dengan namaku. Aku menunduk, mencoba menyembunyikan kegelisahanku.

         “Apa namamu Rhean?”

         Aku mengangkat wajah agar bisa memastikan bahwa pertanyaan itu memang tertuju padaku. Aku menggeleng.

         “N-namaku Rhein,” jawabku sedikit gagu. Ia mengembuskan napas berat, tapi masih dengan senyuman yang sama. Terpancar kelegaan dari matanya. “Kenapa?” Tanpa sadar, kata tanya itu meluncur begitu saja dari mulutku. Cepat, kukatupkan bibir.

         Wanita itu menyandarkan punggung pada dinding toko bercat abu-abu sama seperti yang kulakukan, tepat di sampingku. Ia tak segera menjawab, melainkan menatapku terlebih dahulu dengan lebih dalam, membuatku salah tingkah.

         “Aku ... pernah punya teman, dulu,” terangnya. “Namanya Rhean. Ia berulang kali menyelamatkan hidupku dan aku merasa berhutang budi padanya, tapi suatu hari kami berpisah. Ia mirip sepertimu.”

         Aku mengerutkan kening. “Itu berapa tahun yang lalu? Bukankah seharusnya dia juga seumuran denganmu? Sedangkan aku masih SMA.”

         “Ya, seharusnya begitu, tapi dia berbeda.” Ia memalingkan wajahnya dariku, menatap kerumunan orang yang berlalu-lalang di depan kami. Aku mulai memikirkan awal mula percakapan kami yang aneh ini.

         “Berbeda bagaimana?” Aku tak bisa berhenti bertanya. Banyak hal yang ingin kuketahui darinya. Wanita tua itu tak langsung menjawab. Kami dicekam keheningan yang tidak mengenakkan untuk beberapa saat.

         Ia menoleh padaku. “Dia ... sepertimu.”

         DEG!

         Aku tercengang, hingga tanpa sadar kakiku mundur beberapa langkah menjauh darinya. Wanita itu sama terkejutnya denganku, mungkin tak menduga reaksiku. Mendadak, jantungku berdebar. Ia memang tak mengatakan dengan jelas, tapi entah kenapa aku merasa dia tahu identitasku yang sebenarnya.

         Tanpa pikir panjang, aku berlari menjauh darinya. Aku mengabaikan teriakan wanita itu yang memintaku untuk kembali sambil meminta maaf.

***
       
         “Apa yang sedang kau lakukan?” Tiba-tiba, aku mendengar suaraku sendiri keluar begitu saja merupa bisikan ketika kulihat seorang gadis SMA tidur di sebuah gang buntu. Selanjutnya, tanganku bergerak melepas resleting jaket yang kupakai sedari tadi dan menyelimutkannya pada gadis itu.

         Wajah itu. Aku menatap lekat wajah polos yang seolah menyimpun ribuan derita yang tak pernah berhenti menyudutkannya. Aku seperti mengenal wajah itu, tapi dimana? Apakah dia menungguku? Aku bertanya dalam pikiranku sendiri, pertanyaan yang tak terjawab.

         Gadis itu kemudian tampak terbangun, buru-buru aku menyelinap ke sudut gang, tepat di belakang tong sampah. Aku berdebar, di satu sisi aku ingin menemuinya, ingin berbicara banyak hal padanya, tapi di sisi lain aku khawatir. Khawatir jika ia ketakutan saat mataku berubah merah dan taringku muncul. Aku tak ingin menakutinya.

         Eh, rasa apa ini? Mengapa ia bisa tahu bahwa aku vampir?

Gadis itu berdiri, kusembunyikan diri di belakang tong sampah lebih merapat ke dinding. Sesuatu menetes dari mulutku, cairan berwarna merah; darah. Aku mengusap sudut bibirku, apakah aku baru saja berburu?

         “Rhean ....”

         Kriing Kriingg

         “Rhein, cepatlah bangun! Ini sudah jam delapan!”
Aku langsung terduduk di atas tempat tidur. Tersengal. Lagi-lagi mimpi itu. Aku memegang kepalaku yang terasa berat. Cepat-cepat kumatikan alarm yang semakin membuat kepalaku serasa ditindih galon air.

         “Ya, Mom!” Kubuang selimutku dan bergegas turun dari tempat tidur. Aku masuk ke kamar mandi dan tertegun ketika kutatap cermin di hadapanku. Walaupun sekilas, aku seperti melihat bayangan gadis itu memantul pada cermin itu. Kukerjapkan mata. Mungkin aku sedang sangat kelelahan.

***

         Aku menyusuri jalanan Abbey Road hingga sampai di depan stasiun St John’s Wood, tempatku biasa menaiki kereta untuk bisa sampai di sekolah. Tetapi, langkahku terhenti lagi ketika kulihat wanita tua itu dengan baju dan rok yang sama seperti kemarin, sedang tertidur di samping Beatles Coffee Shop, tepat di sebelah pintu masuk stasiun. Aku gamang, takut. Bagaimana bisa dia berada di sana? Apakah ia sengaja mengikutiku sampai ke tempat ini kemarin? Kalau iya, dia benar-benar gila.

         Akhirnya, aku hanya terpaku di seberang jalan tanpa berani maju selangkah pun dari tempatku berdiri. Seolah-olah, derap langkah kakiku akan bisa membangunkannya. Wanita itu tidur dengan posisi kepala berada di antara kedua lututnya yang disatukan oleh kedua lengannya yang terlihat rapuh.

         Aku ingin pergi dari tempat itu segera, tapi aku tak menemukan cara lain untuk menghindar selain ke arah pintu masuk stasiun itu atau aku akan kena hukuman karena terlambat masuk sekolah. Oh, tidak. Aku tidak ingin membersihkan kamar mandi karena di sana adalah tempat paling menjijikkan seantero sekolah. Aku mengumpat dalam hati. Pilihan mana yang harus kuambil?

         “Apa yang sedang kau lakukan?” Lagi, aku mengumpat keras di dalam hati ketika tahu-tahu aku sudh berdiri di hadapannya.

         Siapa sebenarnya yang sedang mengkomando otakku? Aku merasa tidak sedang berada di dalam ragaku sendiri. Dan pertanyaan itu, mengapa aku menanyakannya? Wanita itu bergeming, sedikit demi sedikit ia mulai menegakkan kepalanya. Rambut putihnya sedikit dimainkan oleh sepoi angin yang berembus pelan. Ia mendongak, menemukanku berdiri mematung di hadapannya. Kuharap, ia takkan berteriak dan menghujaniku dengan pelukan seperti dalam drama romantis yang sering kutonton di televisi. Ayolah, dia hanya seorang wanita tua dan aku remaja lelaki yang waras.

         Tanpa kuduga, ia tersenyum. “Apakah kau tidak punya kalimat tanya yang lain? Sudah tiga puluh tahun, tapi kau sama sekali tidak berubah,” ucapnya menyindir. Anehnya, aku sama sekali tak tersinggung dengan kata-katanya itu.

         Aku tak menanggapi ucapannya, tepatnya bingung harus menjawab bagaimana. Wanita tua itu kemudian mengambil sebuah tas dari bahan kertas di samping kirinya. Ia berdiri, sambil memegang tas itu dengan kedua tangannya, seolah benda di dalamnya sangat berharga dan tak ingin dilepaskan.

         “Ini, kukembalikan padamu.” Ia menyerahkan tas itu. Aku ragu-ragu menerimanya. Aku tak
merasa pernahmeminjamkan apapun kepadanya, bahkan kami hanya pernah bertemu dua kali sebelum ini. Sepertinya ia menangkap keraguan di mataku, ia segera mengeluarkan isi di dalam tas kertas itu. “Ini jaketmu. Aku tak sempat mengembalikannya waktu itu, maafkan aku dan ... terima kasih.”

         Aku menerima benda hitam yang disebut jaket itu darinya dengan perasaan bercampur aduk. Jaketku? Jaket itu tampak sangat tua, tapi masih terlihat baik. Mungkin ia begitu menjaganya dengan hati-hati, tapi aku tak pernah merasa pernah memiliki jaket seperti ini atau meminjamkannya padanya.

         “Mungkin, ini jaket temanmu waktu itu. Maafkan aku, kau salah orang.” Kuserahkan kembali jaket itu padanya.

         Ia menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuterjemahkan artinya. Aku sempat melihatnya berkaca-kaca, sebelum akhirnya kuputuskan untuk pergi begitu ingat bahwa aku akan terlambat ke sekolah jika tidak segera berangkat dengan kereta berikutnya.

        “Maaf, tapi aku benar-benar bukan orang yang kau cari,” kataku sambil berlalu.

         “Rhean ....” Kakiku memaksa berhenti mendadak. Kesal. Aku ingin mengatakan padanya bahwa namaku Rhein, bukan Rhean. “Terima kasih.”

         Aku berbalik untuk meluapkan kekesalanku padanya, tapi ia sudah berlari. Suara klakson mobil yang nyaring begitu memekakkan telinga. Sebelum sempat menyadari hal yang terjadi, wanita itu sudah menggelepar di tanah sambil memeluk seorang anak kecil.     Aku tercekat. Tenggorokanku mengering ketika kulihat darah berhamburan dari kepala dan tubuhnya. Anak kecil dalam dekapannya, menangis. Meringsekkan beberapa bagian hatiku yang seakan pecah.

          Aku berlari, membabi buta. Warna baju dan roknya mendadak dipenuhi warna merah, merah darah yang menyesakkan. Aku memandangnya tanpa berkedip, ia tampak tersengal dan terbatuk beberapa kali. Bau seperti besi dengan segera memenuhi indra penciumanku. Mataku panas. Segera kututupi mukaku dengan telapak tangan dan berlutut di sampingnya. Aku merasa ada yang bergerak memanjang di sudut bibir. Taringku.

          Jantungku berdebar dan sesak dalam waktu yang bersamaan. Aku takut. Takut orang lain melihatku dalam keadaan seperti ini, kemudian memburuku. Takut jika wanita tua aneh ini mati begitu saja di sini. Aku ingin menolong, membopongnya ke rumah sakit secepat yang kubisa, tapi aku takut. Orang-orang pasti akan langsung menyerbuku begitu tahu identitasku yang sebenarnya.

         Apa yang harus kulakukan? Suara orang-oarng yang berlarian dan berkerumun segera
memenuhi indra pendengaran. Membuatku gugup, kalut.

         “Panggilkan ambulans!” teriak seseorang yang kemudian dikonfirmasi dengan bunyi tombol handphone.

         “Anakku! Kau tak apa?” Suara seorang ibu-ibu menyeruak. Tangisan anak itu semakin membuatku gelisah, memporak-porandakan logikaku. Aku sama sekali tak berani melepas telapak tanganku dari wajah,

         “Hei, Nak! Apa dia ibumu? Hei!” Seseorang mengguncangkan bahuku. Jantungku kebat-kebit, aliran darahku serasa bergerak sangat cepat. Aku tersengal karena panik. Apa yang harus kulakukan?

         Tiba-tiba, sebuah benda melayang ke kepala. Menutup cahaya yang usil masuk lewat celah jariku. Gelap. Samar-samar, kucium bau wangi yang sempat kucium dari wanita tua itu sebelumnya. Benda apa ini? Aku mencoba mengintip lewat celah jari, benda seperti kain berwarna hitam tengah bertengger, menutupi kepalaku.

         Tanpa pikir panjang, aku segera berlari sambil tetap menutupi wajahku dengan benda itu dan segera menerobos kerumunan. Berlari kemanapun kaki bisa membawaku pergi.

***

         Aku sampai di sebuah gang buntu. Tersengal, kulepas benda yang sedari tadi menutupi wajahku. Seketika tu aku dibuat tertegun ketika mengetahui bahwa itu adalah jaket hitam yang kukembalikan pada wanita tua itu tadi. Rupanya, wanita tua itu yang mungkin meletakkan itu untuk menutupi wajahku. Kenapa? Karena ia tahu mataku akan berubah menjadi merah dan taringku akan muncul saat mencium bau darah?

         Kutatap lekat jaket yang telah tertempel bercak darah, darah wanita itu. Aku mencium bau darah yang sangat familiar di hidung. Kemudian, aku menyusuri tempatku berada, meredam mata dan taring yang kuharap segera menjadi normal kembali. Gang buntu ini, mengapa terasa tak asing lagi? Aku mengacak rambutku karena tak mengerti dengan kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini. Mengenai wanita tua itu, mengapa segalanya menjadi begitu rumit saat berhadapan dengannya?

         Apa? Apa yang terlupakan olehku? Aku tidak tahu. Kutatap jaket itu lekat. Aku terhenyak saat menyadari jaket itu mirip dengan jaket yang ada dalam mimpiku akhir-akhir ini. Jaket yang dipegang oleh gadis dalam mimpiku. Gadis yang ...

         Rhean ...

         Lagi, aku hanya mampu terhenyak saat memori tiba-tiba berebut masuk. Seketika, aku tak bisa menahan diri dari kegelisahan untuk segera bertemu wanita itu.

***

          “Apa yang sedang kau lakukan?”

          “Aku yang seharusnya bertanya itu padamu.” Aku memandang wanita tua yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu.

         Aku menoleh ke arah pintu kamar. Mengangguk dan tersenyum, memberi isyarat pada suami dan keluarganya yang menunggu dalam keadaan cemas. Tak mudah bagiku untuk meyakinkan mereka agar bisa bertemu dengan Fiola. Anak remaja sepertiku, apa yang bisa membuat mereka yakin? Aku akhirnya bisa bertemu dengan Fiola, dua hari selepas koma atas permintaannya sendiri pada keluarganya.

         Setelah bangun, hanya kata tanya itu yang diucapkannya? Ia bercanda. Aku mengusap air mata yang mengalir perlahan dari kedua bola mataku.

         “Kau sudah ingat?” Fiola kembali bertanya dengan suara lemah.

         Aku menatap ke langit-langit kamar rumah sakit, berharap air mata kembali masuk ke dalam mata. “Ya.”

         Fiola terdengar tertawa pelan. “Mengapa kau menangis?”

         Aku melotot ke arahnya, tapi malah membuat tawanya semakin panjang. “Setelah ingat, bagaimana bisa kulihat teman lamaku terbaring lemah di atas rumah sakit tanpa tahu kapan ia akan terbangun?”

         Fiola berhenti tertawa. Keriput di samping matanya terlihat merenggang sejenak.

        “Aku ingin berbicara banyak hal padamu.”

        “Aku juga,” sahutku cepat. Ia melirikku. “Yang pertama, mengapa kau tiba-tiba berlari, manabrakkan diri—“

         “Kalau tidak, anak itu akan tertabrak—“

         “Sejak kapan kau jadi seorang pahlawan begini?”

         Hening. Fiola tidak langsung menjawab, ia mengembuskan napas tertahan.

         “Sejak seseorang menyelamatkan dan mengubah hidupku. Bagiku setelah itu ... tidak ada yang lebih penting dari berterima kasih padanya. Dan membalas kebaikannya dengan menolong orang lain, sama seperti ia menolongku.” Fiola menatapku. Aku berusaha menyelami matanya yang seolah menjelma samudera yang dalam. Mata coklat tehnya berbinar.

         “Fiola—“

         “Aku bercanda.” Ia tertawa pelan. “Kakiku bergerak begitu saja tanpa kusadari,” lanjutnya.

         “Kau ....” Aku menepuk dahinya pelan. Ia mengerang sesaat, kemudian tertawa lagi. Bersamaku. Entah bagaimana, ada perasaan hangat yang menyelimuti hatiku saat ini, tertawa bersamanya. Satu-satunya orang yang kuingat selama rewind-ku. Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa mengingatnya begitu saja.

       . “Bagaimana kau bisa mengingatku lagi?” Fiola bertanya setelah tawanya berhenti.

         “Aku tidak tahu,” jawabku. “Tapi mungkin karena kata-kata terakhirku saat di gang buntu waktu itu ... meski hanya satu, aku ingin mengingat orang yang penting bagiku.”
Fiola menatapku dengan pandangan yang lagi-lagi tak mampu kuterjemahkan.

          “Penting?” tanyanya kemudian.

         Aku menarik napas dalam. “Ya, baru pertama kali itu aku melihat orang yang mau menungguku di sebuah gang yang gelap hanya untuk bertemu denganku. Dan aku juga baru pertama kali mendapat bantuan bodoh dari wanita tua sekarat yang melemparkan jaketnya ke kepalaku.” Aku tertawa ketika melihat dahinya yang berkerut.

         Detik berikutnya, kami berada dalam suasana yang canggung, tapi tidak menyesakkan. Kami seolah sedang berbicara dan bersenda gurau dalam diam. Menikmati kebersamaan kami setelah tiga puluh tahun dalam keheningan yang menengkan. Perasaan hampa yang menjadi sahabatku selama ini, diam-diam pergi. Meninggalkan senyum tersungging di bibirku.

         Untuk pertama kali, aku memiliki seorang teman yang sangat menghargai keberadaanku. Mencoba melindungiku, meski dalam keadaan apapun.

         “Mengapa kau menolongku waktu itu?” tanyaku padanya ketika teringat bahwa ia bisa saja mengabaikanku yang sama sekali lupa tentangnya saat kecelakaan itu.

         "Apakah menolong seseorang butuh alasan?” Fiola tersenyum jail kepadaku. “Aku tak ingin peduli apakah kau manusia atau vampir, bagaimanapun dirimu kau tetap kuanggap temanku.”

         Aku tertegun. Seseorang mengatakan itu padaku, walaupun ia mengetahui identitasku yang sebenarnya. Mungkin, alasan mengapa aku mengingatnya kembali adalah ini. Karena kami sama-sama menganggap penting satu sama lain. Ia menunggu tanpa keraguan selama tiga puluh tahun, bahwa aku akan kembali. Mungkin, keyakinan itu yang membuahkan sebuah keajaiban. Untukku dan untuknya.

         “Rhein,”

         “Ya?”

         Fiola tersenyum hingga keriput di wajahnya menggurat.

         “Terima kasih. Aku tak ingin menyesali apapun lagi. Terima kasih.”

         Aku menatapnya. Ya, mungkin keajaiban ini yang selalu kutunggu selama ini. Keajaiban bahwa akan ada satu orang. Satu saja yang benar-benar menghargaiku, siapapun diriku. Yang benar-benar menerimaku apa adanya.

          “Ya.” Aku tersenyum. Aku juga tak ingin menyesali apapun. Dengan jelas, kukatakan padanya, “Sama-sama.”

***
Read More

[J-Talks] Tentang Hirate Yurina Keyakizaka46 dan ... Berita Arogan?

Image result for hirate yurina
Hirate Yurina
(sumber gambar di sini)
       
         Hai, aku muncul lagi dengan posting-an dengan topik yang masih sama. Niatnya aku mau bahas Keyakizaka46, nih, yang merasa hidupnya “terancam” boleh banget langsung tutup postingan ini—eh, jangan deng, canda :p. Mau bahas apa lagi? Masih sama koq, si center Keyakizaka46 hingga saat ini; Hirate Yurina atau akrab dipanggil Tecchi.

         Baru beberapa hari sejak ulang tahunku tanggal 15 Januari—yak, ucapin selamat dong :p #ngarep—kemarin, aku mendapatkan kado spesial, yaitu “dipertemukan” dengan si center Hirate Yurina yang aku suka banget sampai sekarang. Masih terhitung beberapa hari sih, palingan abis ini bosan—eh jangan plis jangan, aku ingin bertahan, karena hal paling sulit bukanlah memilih, tapi bertahan pada pilihan #eakbaper. Aku sudah kehilangan Acchan dan kehilangan kesempatan mendukungnya bersinar di panggung, aku gak mau kehilangan Tecchi :’’—nangis kejer.

         Tecchi mengalihkan duniaku dengan penampilannya bersama Keyakizaka46. Sebelumnya, karena sebenarnya aku gak rela pulang cepat dari kampung halaman, aku jadi suka nangis kalau malam karena cuma sendirian di kamar. Di rumah, ada Bapak Ibu yang bisa kuajak bercanda dan mengobrol tentang masalahku, ada “orang” yang menyambutku ketika pulang ke rumah, tapi di sini aku selalu menemukan benda mati di sekelilingku (baca: kos). Apalagi teman-teman kos lainnya belum pada balik, berhari-hari sendiri yang terasa sangat menyesakkan di dalam kamar kos.

         Namun, semua itu berubah ketika—negara api menyerang #ditabok—aku mengenal Tecchi. Aku jadi lupa pada kesedihanku. Jujur, dia memberiku keberanian untuk menghadapi tantangan yang pasti akan kutemui di masa depan. Dia berusia 15 tahun (pas curhatan ini ditulis), tapi dia sudah memiliki pilihan untuk kehidupannya selanjutnya, bahkan sebelumnya, ia tidak berniat menjadi seorang idol dan ingin melanjutkan SMA di luar negeri. Pemikiran apik dari anak sekecil itu, aku mah apa :’.

         Di satu sisi aku senang banget ketemu Tecchi, di sisi lain aku juga gelisah. Gelisah karena memikirkan seandainya dia tidak lagi berdiri di depan sebagai seorang center. Setelah aku menelusuri beberapa artikel Nogizaka46, terjadi rotasi center berkali-kali dan aku sadar hal itu juga bisa terjadi pada Tecchi, sebesar apapun “overwhelming presence”-nya. Aku gelisah bahkan hanya memikirkannya, aku terlalu menyukainya dan tak ingin kehilangannya dari bidikan kamera—secara aku cuma bisa liat dia dari layar laptop dan belum bisa lihat langsung live show-nya di Jepang--, pikiran ini sangat mengganggu, dan perlahan mulai mengikisku sendiri.

         Tentu aku tak bisa egois dengan menginginkan Tecchi menjadi center selamanya—emangnya aku siapa, manajemen juga bukan. Member lain juga banyak yang memiliki kemampuan hebat, seperti Imaizumi Yui yang punya suara bagus dan bisa bermain beberapa alat musik. Mungkin, suatu saat dia juga akan menjadi center. Selain itu ada juga si Oujosama, Sugai Yuuka, yang anggun dan pintar berbicara di depan publik. Tidak menutup kemungkinan mereka semua kelak akan menjadi center seperti yang terjadi di Nogizaka46, Ikoma Rina, yang hanya menjadi center sampai single kelima saja.

         Beberapa artikel di internet juga menyesakkanku dengan berita mengenai speech Tecchi yang dianggap “arogan” saat pers Kouhaku Uta Gassen. Kurang lebih, dia mengatakan, “Tolong jangan hanya berfokus padaku, tapi perhatikan juga member Ketakizaka46 yang lain.” Aku tidak mengerti dimana “arogan”-nya atau kesalahan ada pada translate? Terlepas apakah aku fans-nya atau bukan, menurutku kata-kata itu tidak mengandung kesombongan.

         Sama seperti Acchan yang dibanjiri anti-fans padahal menjadi center bukanlah kemauannya, melainkan kemauan manajemen. Aku semakin tidak mengerti dengan pemikiran anti-fans Jepang atau juga anti-fans di seluruh dunia yang juga berpikiran sama. Aku tidak mengerti dimana letak kesalahan member yang dijadikan “center”, sekalipun mereka tak memiliki kemampuan, itu bukan keinginan mereka, tapi mereka dipilih. Jadi apakah salah mereka jika mereka dipilih menjadi center?

         Kembali ke speech Tecchi yang dihujat tadi, bahkan banyak yang menyamakannya dengan Tengu karena berpendapat dia arogan. Hey, kalian anak kecil apa? Kalimat itu murni karena dia selalu disorot oleh media, sedangkan member lain tidak, dan ia merasa bersalah! Coba kalau kalian berada di posisinya, aku yakin kalian akan mengatakan hal itu, kecuali kalau kalian tidak punya perasaan dan egois. Ya, ini memang murni pendapatku, tapi jika pun aku ada di posisinya aku akan mengatakan hal yang sama dan tidak dengan niat menyombongkan diri. Untuk apa sombong begitu, jelas-jelas anti-fansnya sensitif, dikit-dikit benci, mau cari mati? Menurut pendapatku, jelas sih kesalahan ada pada anti-fansnya yang terbakar oleh kemarahan membabi buta.

         Selama beberapa hari belakangan, aku mencoba menguatkan diri dengan komen orang-orang yang menjatuhkan Tecchi dan berusaha menahan diri untuk tidak balik hujat karena rata-rata mereka benci untuk hal yang tidak beralasan atau salah tafsir seperti yang kusinggung di atas. Dan lagi, banyak yang menyamakan dia dengan Jurina, mentang-mentang jadi center pas masih muda dan sama-sama dari Perfektur Aichi, tidak lantas menjadikan mereka “sama”. Berhenti deh nyama-nyamain orang, plis! Setiap orang dilahirkan berbeda dan Tecchi atau Hirate Yurina sama sekali gak mirip Matsui Jurina. Zenzen!

         Ekspresi dan tawa, serta tingkah “nakal”-nya Hirate gak sama kek Jurina. Stop, nyama-nyamain orang kalau gak mau jomblo terus karena kebanyakan banding-bandingin cewek—kok bawa-bawa ini muehehe. Namun, curhatan ini sungguh murni karena kesal dengan antifans yang tidak dewasa di luar sana yang memandang sesuatu dari satu arah saja.

        Untuk menjadi fans 48/46 Family, aku rasa pemikiran “dari satu sudut pandang saja” sama sekali tidak cocok mengingat 48/46 Family selalu dipenuhi kejutan. Tidak jarang skandal muncul di antara banyaknya member ataupun akan ada banyak member yang “tidak dianggap mumpuni” justru menjadi member paling berpengaruh dalam tim (hingga membuat fans lainnya kesal :v). Kalau masih berpikiran sempit, mending mundur dulu dari dunia peridolan sampai benar-benar berpandangan terbuka daripada nantinya malah benci berkepanjangan pada member yang “gak salah apa-apa”. Oke? Bisa diterima? Tidak? Terima aja atuh. Peace, yak! :P

    Well, bagaimanapun nantinya, aku sudah memutuskan akan bertahan. Aku tidak mau mempedulikan komentar miring tentang Hiratecchi nantinya yang pasti akan banyak tersebar. Dan dimana pun nantinya Hirate berada, di posisi manapun dia, aku akan terus mendukungnya karena dia telah memberiku keberanian untuk memilih dan bertahan pada pilihanku. Aku tidak mau mundur. (eak)

Image result for hirate yurina
(sumber gambar di sini)

Semangat, Hirate Yurina!

Read More

Saturday, January 21, 2017

[J-Talks] Sugai Yuuka & Moriya Akane Sebagai Kapten & Wakil Kapten KEYAKIZAKA46

(sumber gambar di sini)
 
Ratna Juwita

         Keyakizaka46 adalah sebuah grup idola yang merupakan “adik” dari Nogizaka46. Berbeda dengan Nogizaka46 yang diperkenalkan sebagai “rival resmi” dari AKB48, Keyakizaka46 diperkenalkan sebagai grup lanjutan dari “Sakamichi Series”. Keyakizaka46 resmi dibentuk pada tanggal 21 Agustus 2015, empat tahun setelah Nogizaka46 yang dibentuk pada tanggal yang sama tahun 2011.

        Keyakizaka46 memulai debutnya dengan single fenomenal “Silent Majority” yang terjual lebih dari 250.000 keping di minggu pertama penjualan. Perolehan angka yang fantastis itu sekaligus menempatkan mereka sebagai grup wanita dengan penjualan CD terbanyak dalam kurun waktu satu minggu setelah perilisan. Berbeda dengan grup idola pada umumnya yang memiliki kesan “kawaii” atau “lucu”, Keyakizaka46 justru menampilkan kesan yang “keren”. Terbukti dengan single pertamanya “Silent Majority” yang alih-alih menggunakan gaun bak putri, mereka justru memakai kostum seperti militer.

          Center mereka yang banyak disorot adalah Hirate Yurina. Dengan ekspresi yang tegas, pandangan mata yang tajam, dan aura yang “layak menjadi center”, membuat single pertama mereka menjadi sorotan publik. Hingga saat ini, mereka telah “meretaskan” tiga single, yaitu “Silent Majority”, “Sekai ni wa Ai shika nai”, dan “Futari Saison”. Ketiga single tersebut mengalami peningkatan yang drastis. Hal ini membuktikan bahwa kualitas mereka sebagai grup idola tidak bisa diremehkan.

         Mengawali karir dengan begitu cemerlang, Keyakizaka46 yang masih “hijau” itu akhirnya baru saja menetapkan kapten dan wakil kaptennya. Hal ini diumumkan hari ini, 21 Januari 2017, saat menyelenggarakan event Handshake di Jepang, terpampang di layar monitor, nama Sugai Yuuka yang diangkat sebagai kapten tim, sedangkan Moriya Akane sebagai wakil kapten tim.

         Memang bukanlah suatu yang mengherankan jika mereka diangkat menjadi kapten dan wakil kapten, mengingat mereka berdua memang aktif sebagai member dan memiliki kemampuan public speaking yang mumpuni, terutama Sugai Yuuka. Terlihat dari seringnya ia menyemarakkan suasana setelah bernyanyi dalam konser-konser mereka. Ia juga sering memandu jalannya pembicaraan setelah penampilan mereka dan pidato yang biasanya disampaikan olehnya pun menyentuh hati.

         Sugai Yuuka dan Moriya Akane juga sering menjadi kapten tim di acara variety show Keyakizaka46 yang berjudul “Keyakitte, kakenai?”.  Jadi, wajar apabila merekalah yang terpilih menjadi kapten dan wakil kapten. Selamat atas diangkatnya Sugai Yuuka sebagai Kapten Keyakizaka46 dan Moriya Akane sebagai Wakil Kapten Keyakizaka46. Semoga nantinya Keyakizaka46 dapat berkembang dengan lebih baik dan menjadi grup idola yang patut untuk diperhitungkan.
Read More

Monday, January 16, 2017

[J-Talks] Meletakkan Harapan Baru pada Keyakizaka46

(sumber gambar di sini)

Ratna Juwita

          Halo, lama tidak berjumpa dan tidak post di blog, apalagi mengenai hal yang akan kubahas saat ini; dunia peridolan. Ohisashiburi (sudah lama tidak bertemu) kuucapkan pada pembaca tulisan ini, khususnya yang pernah baca curhatanku sebelumnya mengenai Atsuko Maeda (Acchan) ex-member AKB48 pada post sebelumnya yang berjudul “Curahan Hati Seorang Fans Atsuko Maeda”. Ya, sang Ace AKB48 itu.

          Aku lupa sudah berapa lama absen dari dunia peridolan. Alasannya sangat sederhana: karena Acchan tidak ada di sana. Aku kehilangan motivasi untuk terus mengikuti lagu-lagunya yang menurutku sudah tidak terlalu bagus (tanpa Acchan). Mungkin sudah hampir dua tahun atau lebih sejak aku memutuskan benar-benar keluar dari dunia peridolan.

          Aku masuk Sastra Jepang juga karena mereka (AKB48). Ketika Acchan lulus, aku masih berusaha melihat perkembangan AKB48 walaupun sudah tidak segencar dulu. Koleksi poster dan majalahku tentang mereka berhenti dan hal ini semakin diperparah dengan lulusnya member “former” satu per satu. Akhirnya, entah kapan, aku memutuskan untuk tidak lagi memberikan “perhatian” pada AKB48 dan segala gonjang-ganjing posisi “center”-nya yang telah ditinggalkan Acchan.

          Teman sekelas di jurusan, menyarankanku untuk kembali “ngidol”. Ia menyarankan Nogizaka46. Awalnya aku menolak, tapi kemudian kupikir, aku butuh motivasi karena setelah menjalani dunia perkuliahan di jurusan ini, aku kehilangan motivasi untuk mempelajari Bahasa Jepang. Mungkin aku perlu menemukan motivasi baru, pikirku saat itu. Akhirnya aku memberikan “syarat” dengan menyarankan lagu yang kemungkinan akan membuat hatiku “tergerak” untuk menyukai mereka.

          Dia memberikan beberapa saran, tapi aku belum juga beranjak untuk mencari tahu musiknya. Tak berapa lama setelah itu, aku sedang menonton televisi di rumah (saat liburan kuliah karena di kos tidak ada televisi :v kasihan ya) ketika salah satu televisi lokal daerahku menyiarkan video klip beberapa gadis yang aku tebak adalah bagian dari 46 atau 48. Aku coba melihat sebentar dan ... ternyata enak didengar. Aku coba menangkap kosakata dalam lagu itu dan mendengar “Futari Sezon”. Kemudian, aku teringat pada list saran dari temanku itu dan langsung memintanya mengirimkanku lagu “Futari Saison” dari Keyakizaka46 (“Musim Berdua”, “Saison” merupakan Bahas perancis untuk “Season” dalam Bahasa Inggris) itu lewat voice note.

Image result for Futari Saison keyakizaka46 
Futari Saison
(sumber gambar di sini)

          Aku memang “sedikit” menaruh perhatian pada sosok yang berada di tengah saat itu (karena aku memang menyukai “center” dan masih berusaha mengais sosok “Acchan”), tapi aku belum terlalu memedulikannya. Semakin hari, aku mendengarkan Futari Saison yang kuputar berulang-ulang. Dari situ, aku mulai mencari lagu lainnya seperti “Silent Majority”, “Sekai ni wa Ai Shika Nai”, “Kataru nara Mirai wo”, dan “Otona wa Shinjite kurenai”.

Image result for silent majority keyakizaka46"Silent Majority"
(sumber gambar di sini)


Image result for sekai ni wa ai shika nai keyakizaka46"Sekai ni wa Ai shika nai"
(sumber gambar di sini)


          Aku kecanduan, seperti saat aku baru pertama kali mendengar “Give Me Five!”-nya AKB48 yang menuntunku pada lagu-lagu AKB48 lainnya. Sama persis. Ketika melihat video klip Silent Majority, sekali lagi aku berusaha bersikap netral pada “center” yang sebenarnya sudah menarik perhatianku sejak awal. Aku mencoba mengamati satu-satu member, mungkin aku akan tertaik dengan salah satu di antara mereka yang bukan “center”. Dan aku jatuh cinta pada Keyakizaka46. Lagu-lagunya cocok di telingaku, setelah sekian lama kenapa mereka?

           Berlanjut ke video klip “Sekai ni wa Ai Shika nai”, sembari men-download lagu kakaknya, Nogizaka46, grup yang disukai temanku itu, aku semakin penasaran dengan “center”-nya. Ketika aku mendengarkan beberapa lagu Nogizaka46 dan Keyakizaka46 secara random dan tidak tahu lagu milik siapa yang terputar di antara mereka berdua. Aku berulang kali secara tidak sengaja, melirik ke layar ketika lagu Keyakizaka46 yang terputar dan menurutku enak. Dan ketika tidak terlalu tertarik dengan lagu yang terputar pun aku melihat grup mana yang menyanyikannya, ternyata Nogizaka46.

       Bukannya menjelek-jelekkan Nogizaka46 (ampuni aku yaa para penggemar), mungkin aku hanya salah memilih lagu. Namun, akhirnya aku memutuskan menyukai Keyakizaka46 dan mulai mencari tahu siapa “center”-nya yang menyita perhatianku. Namanya Hirate Yurina. Lalu, artikel-artikel di internet yang tersebar mengenai “Overwhelming Presence”-nya Hirate, aku semakin menyukainya. Ia juga disebut-sebut “memiliki aura melebihi Acchan”. Aku tidak ingin memberikan pendapat mengenai ini karena jelas-jelas mereka adalah dua orang yang berbeda.

 Hirate Yurina dalam single "Silent Majority"
(sumber gambar di sini)

         Meskipun begitu, aku akui ketika mereka seumuran, Acchan tidak memiliki ekspresi seperti Hirate dan kelihaian Hirate dalam dance juga menjadi poin plus di mataku. Mereka memiliki sisi “charming” yang sama, yaitu pada matanya. Aku ingin melihat (kalau bisa), Acchan dan Hirate berada di panggung yang sama. Tetap saja mereka berbeda. Acchan dengan kemampuan acting yang belum dimiliki Hirate dan Hirate dengan kemampuan dance yang tidak dimiliki Acchan. Mungkin fair? Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, kan?

           Tapi, untuk pertama kali aku ingin meletakkan kembali harapan dan motivasiku pada Hirate Yurina yang telah berhasil menjadi ujung dalam pencarianku pada sosok “center” dengan “aura itu” (weseh aku ngomong apa :v). Kali ini aku tidak terlambat menyadari, tidak seperti aku telat mengenal Acchan dan AKB48 (bahkan setelah Acchan lulus aku baru menyukainya :’’), Keyakizaka46 baru terbentu 22 Agustus 2015 dan baru mengeluarkan single pertamanya “Silent Majority” pada 1 April 2016 (yang telah melampaui pencapaian debut Nogizaka46 dan HKT46 dalam penjualan single minggu pertama).

             Keyakizaka46 dalam lagu-lagunya juga menyajikan gerakan dance yang menurutku keren. Koreografi yang sebelumnya tidak pernah kutemukan di 48. Itu juga salah satu alas an aku menyukai mereka, terlebih lagi wajah-wajah yang masih unyu-unyu dan “segar”, walaupun bberapa member sudah menyentuh umur 20 tahun (hehe). Aku menyukai mereka, itu saja. Suka tidak butuh alas an yang jelas, kan? (ea, padahal barusan jabarin alasannya #ditabok) :D

            Mereka masih muda! Itu yang terpikirkan olehku setelahnya dan semoga aku bisa mendukung mereka “dari awal” seperti yang pernah kusesali sebelumnya karena tak berhasil menjadi salah satu penggemar AKB48 dan Acchan dari awal. Aku senang bisa mengenal Keyakizaka46, sosok idol yang selama ini kucari, kini kutemu pada Hirate Yurina. Tidak seambisius dan semuda Matsui Jurina ketika pertama kali menjadi center di SKE48, namun memiliki kemampuan vokal dan dance yang mumpuni, serta pemalu ketika berada di luar panggung dan memiliki “sisi berbeda” ketika beraksi di atas panggung.


(sumber gambar di sini)

           Ah, kutemu kau, Harapan Baru.
Read More

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com