Read More

5 CM: Buku yang Menyelamatkanku

Ratna Juwita
Read More

Ary Nilandari - Penulis Wattpad yang Tidak Menye-Menye

Ratna Juwita
Read More

Know Your Limits

Ratna Juwita
Read More

PETRIKOR

Ratna Juwita
Read More

Into The Unknown

Ratna Juwita

Thursday, December 28, 2017

[Traveling] Menembus Dinginnya Puncak Sikunir




Baru sempat menulis pengalaman perjalanan ke Puncak Sikunir atau Puncak Dieng? Yang jelas, sebelum naik ke atas ada tulisan Sikunir. Jadi, Puncak Sikunir? Tapi, rencananya ke Puncak Dieng :’) atau sama saja? Efek tidak pernah jalan-jalan mulai nampak jelas, nih.

Sebenarnya, ajakan datang begitu tiba-tiba. H-seminggu keberangkatan, temanku mengajak untuk pergi ke Puncak Sikunir tepat setelah UAS selesai dan sebelum pulang ke kampung halaman. Maklum, kami anak rantau di daerah Yogyakarta. Setelah memikirkan masak-masak mengenai uang jajan yang dilindas habis untuk patungan menyewa mobil dan membayar bensin, jadilah kuputuskan pergi bersama rekan-rekan sekelompok perantauan yang sudah dari masuk kuliah disatukan takdir ini. Set, dah!

Kapan lagi bisa jalan-jalan ke tempat yang agak jauh dengan mereka? Pikirku saat itu. Akhirnya berbekal izin tidak ikhlas dari orang tua yang sebenarnya mengkhawatirkan anak rantaunya ini, mantaplah anggukan kepala untuk ikut pergi menuju Puncak Sikunir.

Kami berangkat berdelapan menunggangi kuda besi Avanza hitam, enam teman perempuan yang sudah disatukan takdir tadi, dan dua lelaki, pacar salah dua temanku. Tugas menyetir mobil diambil alih oleh pacar F. F dan pacarnya kebagian di depan mobil layaknya pasangan suami istri yang membawa rombongan keluarganya jalan-jalan. Nah, si pacar temenku S duduk di bagian tengah mobil, dengan S dan L. Aku duduk paling belakang dengan R dan P. Wkwk, macam rupiah saja RP. Sebenarnya, pacar S adalah orang Jepang yang mualaf dan habis sunatan, jadi kondisinya tidak begitu fit. Kami merasa durhaka karena sudah mengajaknya, tapi kami yakin dia juga menikmati liburan ini. Sing penting yaqin sek.

Mulailah perjalanan kami menerobos hujan pukul lima sore. Satu per satu, kami dijemput oleh F dan pacarnya. Eh, btw baru kali itu kami ketemu pacarnya F, untung orangnya supel dan gampang akrab. Hehe. Perjalanan kami bisa dibilang sangat menyenangkan. Bernyanyi, joget, sampai malu dilihatin pengendara dari luar saat lampu merah karena kami sangat ribut. Sesekali, kami menggoda F dan pacarnya yang tampak serasi seperti ibuk bapak di bagian depan. Antara geli dan iri. Beberapa dari kami pun mengeluh seandainya punya/bawa pacar juga *eh. Si S dan pacarnya juga tidak kalah membuat panas dengan kata-kata romantis seperti “sayang” dan “rindu” yang menurut pengakuan pacarnya S tumben sekali dikatakan S padanya. Wkwk. Ketahuan, dah, setting-an kayak program televisi katakan katakan katakan atau Rumah Ayu *eh.

Perjalanan dari Yogyakarta ke Wonosobo sebenarnya kami tempuh hanya dalam waktu kurang lebih 5 jam. Namun, perjalanan ke Puncak Sikunir ternyata menambah beban waktu yang cukup banyak. Ditambah kesasar. Tapi karena barengan dan aku gak kebagian menyetir mobil mah asyik enjoy aja gitu. Haha. Jadi pengin bisa nyetir mobil juga #ganyambung.

Karena mengikuti arahan mbah google yang kadang memang menyesatkan, kami sempat masuk ke jalan yang sangat sempit. Karena hari masih sangat pagi, untungnya tidak ada kendaraan yang lewat. Akhirnya, setelah memeriksa kondisi jalan yang sepertinya hanya bisa dilewati dengan sepeda motor atau jalan kaki, kami putar arah dengan perasaan was-was karena takut nyemplung terus arum jeram dadakan ke salah satu sungai yang mengapit jalan sempit itu.

Setelah melalui berbagai wewangian durian yang menggoda, berhenti di beberapa rest area, sempat makan bakso di pinggir jalan, dan menghadapi medan berkelok-kelok yang membuat sebagian besar kami hampir tumbang, serta memuntahkan cairan dari lambung—sebenarnya aku banyak tidur dan tidak terlalu memperhatikan jalan, muehehe—tibalah kami di parkiran Puncak Sikunir pada pukul setengah dua pagi. Lebih lama dari yang kami rencanakan. Tapi yasudahlah, yang penting kami harus tidur karena lelah (padahal sedari berangkat aku cuma duduk anteng di belakang).

Kami harus bersiap secara fisik dan mental menghalau dingin dan air WC—yang macam terbuat dari es saking dinginnya—nanti pukul empat pagi. Kami berniat mengejar sunrise di Puncak Sikunir. Setelah tidur tidak cukup alias dua jam saja, kami dibangunkan F dan pacarnya untuk bersiap menuju puncak tertinggi. Uyeah.

Begitu selesai memasang perlengkapan perang: sarung tangan, topi rajut, dan jaket, kami keluar dari persinggahan dan mendapati beuhh ... bahwa di bawah Puncak Sikunir saja sudah terasa dinginnya yang membuat tanganku terus menggosok satu sama lain. Kami kelupaan membawa senter, tapi Pacar S sepertinya cukup pengertian dengan mempersiapkan satu buah senter, sisanya pakai handphone masing-masing. Aku dan L memimpin di depan dengan sinar handphone. Keadaan sangat gelap karena masih pukul setengah empat pagi, ditambah jalanan berkabut dan medan yang asing, membuat kami selalu waspada. Jalannya cukup luas untuk dilewati dua orang, tapi semakin ke atas semakin menyempit. Ribuan anak tangga kami daki satu per satu dengan napas ngos-ngosan. Sepagi itu sudah olah raga mendaki ke puncak memang hal yang tidak biasa.

Kami berhenti beberapa kali karena kelelahan dan mengkhawatirkan Pacar S yang habis sunatan. Kami mendaki sekitar kurang lebih 20 menit saat merasa sudah sampai di puncak, tapi ternyata bukan. Tempat itu ternyata adalah tempat untuk sholat dan beristirahat sejenak. Cukup luas, gubuk berdinding anyaman rotan itu cukup untuk menampung sholat sekitar 15 orang dengan kurang lebih lima kamar mandi di sisinya. Karena hari masih petang dan air tidak mengalir untuk berwudhu, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sakral itu. Kami bergandengan dan saling melindungi satu sama lain melewati medan yang melelahkan dan kadang licin karena hujan. Ceilah.

Begitu berjalan sekitar 10 sampai 15 menit kemudian, kami diantarkan pada gubuk kecil (seperti gubuk di tengah sawah yang tak berdinding) dan beberapa orang yang sudah berada di sana lebih dulu. Jangan tanya tentang suhu, dingin dan berkabut! Atau aku yang tidak tahan dingin? Hehe. Saat itu handphone-ku dalam keadaan mati, jadi tidak bisa mengecek suhu di sana. Aku terus merapatkan jaket dan sarung tangan. Kami pun menggelar sajadah dadakan dari mantel hujan dan melaksanakan sholat subuh sembari memunggungi sang fajar.



Itu adalah pengalaman yang mengesankan bagiku. Baru kali itu aku mendaki ke puncak sebuah gunung, pegunungan, ataupun bukit dan perbukitan. Melihat fajar dan semburat benang tipis dari ketinggian seperti itu benar-benar pengalaman yang baru. Aku bisa melihat jelas, antara kabut dan keremangan, siluet gunung yang berdiri kokoh di sekitar kami. Tak menyesal rasanya memutuskan ikut bersama mereka. Walaupun kelelahan dan kedinginan, semua itu terbayar dengan tawa kami ketika berpotret membelakangi Sang Mentari yang menjanjikan cahaya setiap hari. Pertama kali aku menyaksikan sunrise secara langsung di sebuah puncak.

Akan tetapi, ada satu insiden menggelikan yang tidak boleh terlewatkan dalam catatan perjalanan ini. Temanku, L, mendadak sakit perut dan membuat kami kelabakan. Kami menduga pelaku yang bertanggung jawab atas insiden ini adalah susu kotak yang diminumnya beberapa saat sebelumnya. Alhasil, ia berulangkali memasang tampang yang tidak bisa dijabarkan sambil berdoa agar sakit perutnya segera hilang. Namun, rupanya doanya tidak terkabul begitu saja. Sakit perutnya semakin menjadi-jadi dan memaksa ingin segera dikeluarkan.

Dalam keadaan gelap, kami tidak melihat toilet atau semacamnya. Baru setelah matahari mengacungkan cahaya dari timur, nampak sebuah tempat yang seharusnya toilet. Seharusnya. Beberapa kali L pergi ke sana berbekal tisu dan botol aqua, namun selalu kembali tanpa hasil. Ia berdalih tidak bisa mengeluarkannya, entah karena tempat yang tidak nyaman atau suasana yang begitu dingin. Aku juga tidak tahu. Aku hanya bersyukur saat itu tidak mengalami nasib yang sama dengannya. Hehe. Jahat mode on.

Karena tidak tega melihat mukanya yang tidak lagi bisa dikondisikan, aku memutuskan membujuknya untuk sekali lagi pergi ke tempat-yang-seperti-toilet itu. Aku yang kebagian mengantarnya kali itu. Yah, tempatnya tidak terawat dan hanya satu bilik dengan bagian pintu bolong di bagian atas yang tidak terkunci. L masuk dengan peralatan perangnya (baca: tisu, aqua, dan kresek). Lagi-lagi, aku bertugas memegangi bagian atas pintu yang bolong karena pintunya tidak bisa dikunci dari dalam. Saat itu, aku harap-harap cemas dan deg-deg-an. Apakah itu cinta? Bukan, lebih takut mendengar suara-suara aneh atau mencium hal-hal yang tidak kuinginkan. Hehe.

Kuputuskan bersenandung. Lagu SNSD yang baru-baru ini kugandrungi. FYI, biasku adalah Jessica Jung yang sudah keluar dari grup itu pada tahun 2014 lalu, dih jadi sedih lagi ☹. Oke, back to the main topic. Sambil menggumam, hal yang tak kuinginkan terjadi. J berteriak dari dalam diikuti suara kresek dan air, aku tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang terjadi. Setelah melewati semua itu selama beberapa waktu yang tak terhitung, L sukses mengusir rasa sakit di perut beserta isinya. Sebagai sahabat, aku juga merasa terharu. Dih, apadah. Wkwk.

Setelah melewati berbagai cobaan yang mendera, kami bisa kembali ke puncak Sikunir dengan senyum terkembang di wajah. Kakiku mati rasa saat itu. Entah sejak kapan, mungkin efek hanya memakai kaos kaki dan flat shoes berbahan karet. Pelajaran bagi siapapun yang ingin naik gunung, yang penting jangan pakai sandal jepit merk apapun. Mau merk skyhigh kek, swansea kek, smellow kek gausah. Mending pakai sepatu. Jangan sepatu hak tapi.



Ala-ala anak hits dan kekinian lainnya, kami pun asyik mengabadikan momen itu, berkali-kali kami memencet tombol kamera, pura-pura candid yang gagal, dan memasang tampang seberagam mungkin. Sepertinya, sebuah penelitian psikologi ada benarnya bahwa jiwa akan lebih merasa puas dan bahagia jika menggunakan uang untuk berpergian dan mencari pengalaman ketimbang menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang kita inginkan. Muehehe. Aku tidak tahu sumbernya, tapi coba cari di mbah google kalau ingin mengecek kebenarannya.

Untuk sejenak, sejenak saja aku melupakan masalah-masalah yang mendera. Di sana, di puncak yang tinggi itu aku menyaksikan keindahan semesta. Cahaya lampu rumah warga di sela pegunungan dan mentari yang mengintip malu sebelum benar-benar menampakkan kegagahan sinarnya. Pada detik itu, lagi, aku mengagumi ciptaan Tuhan dan membuatku terus bersyukur aku pernah menyaksikan dan menikmatinya bersama orang-orang yang kusayang. Aku berharap bisa menyaksikan pemandangan seperti itu lagi di lain tempat, bersama orang-orang yang kusayang lainnya. Aamiin.

Hidup itu indah. Lebih indah lagi jika kita bisa berbagi satu sama lain, bisa menikmatinya dengan rasa syukur sebanyak mungkin. Berterima kasih pada Tuhan karena telah mengizinkan kita lahir dan hidup di atas bumi ciptaan-Nya dan menikmati keindahan yang dihamparkan-Nya.

Malang, 27 Desember 2017

P.S. Aku tidak bisa memublikasikan foto-foto kami dengan alasan privasi. Hehe.

Read More

Saturday, December 09, 2017

[K-Talks] Kutukan Menyukai Grup Idol/Girlband: Jessica Jung ex-SNSD

Sumber gambar : pinterest

Ratna Juwita

Kembali lagi dalam sesi curhat. Sebelumnya, saya membahas anggota 48 dan 46 Family, yaitu Acchan atau Atsuko Maeda yang sudah lulus dari AKB48 sejak 2012 dan Hirate Yurina ang center Keyakizaka46. Sepertinya aku punya kutukan tertentu ketika menyukai seseorang dari sebuah Idol Grup atau Girl Band. Beruntungnya, kutukan itu tidak berlaku ketika aku mengenal Keyakizaka46 yaitu Hirate Yurina.

Aku sebenarnya mantan k-popers. Yang pernah baca posting-a sebelumnya tentang ‘Curahan Hati Seorang Fans Atsuko Maeda’ pasti tahu bagaimana perjalanannku hingga move on ke AKB48. Sayangnya, akhir-akhir ini aku goyah karena teman-teman di kampus banyak yang melirik girlband atau boyband Korea, aku jadi penasaran (lagi).

Aku kepincut oleh seorang aktris Korea: Park Bo Young yang baru saja menyelesaikan drama suksesnya dengan Park Hyung Sik: Strong Woman Do Bong Soon. Aku menyukai Park Bo Young karena akting-nya yang bagus dan wajahnya yang super imut! Mulailah aku searching di google segala hal tentangnya dan semua film dan drama yang pernah dibintangi olehnya. Baru-baru ini aku kembali keracunan seorang aktris Korea yang masih belia: Kim So Hyun.

Kalian heran? Aku juga heran mengapa yang kusuka semuanya cewek bukannya cowok? Ketika Park Bo Young bermain peran dengan Park Hyung Sik mengapa bukan Park Hyung Sik yang mengusikku, mengapa justru Park Bo Young? Aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku masih normal. Suer. Hehe.

Kim So Hyun memukauku lewat perannya dalam drama School 2015: Who Are You. Peran gandanya menjadi Eun Bi dan Eun Byul kuacungi jempol. Aku sampai terpana dan menjadikannya aktris favorit yang selalu kutunggu film dan drama barunya. Ditambah lagi, wajahnya yang onyoe.

Berkat keranjingan drama-drama itu, aku memutuskan untuk mengetahui lagu-lagu Korea terbaru juga supaya tidak kudet ketika berbicara dengan teman-teman. Aku juga tidak tahu mengapa mahasiswa jurusan Sastra Jepang justru sering bergosip tentang Korea? Wkwk. Sudahlah.

Pilihanku jatuh pada SNSD. Ini bukan pertama kalinya aku menyukai girlband yang sudah mendunia ini. Dulu, sewaktu aku SMP, sekitar lima tahun lalu—ehem—aku sudah menggilai girlband ini berkat lagu yang melambungkan nama mereka: Gee. Namun, dulu aku masih ‘normal’ dan lebih menggilai Super Junior yang berisikan pemuda-pemuda ganteng nan mempesona. Ketika melihat album-album, memutar lagi lagu-lagu nostalgia SNSD, aku terpana. Aku merasa kagum dan siap menjadi FANS YANG TERLAMBAT.
Lagi? Aku juga tidak tahu mengapa kutukan ‘TERLAMBAT’ ini selalu menimpaku.

Aku mencoba menghapal wajah dan nama membernya yang menurutku mirip-mirip ini. Huhu. Menurutku, mereka keren. Selain itu, suaranya bagus, nyanyi jarang lipsync, dance yang powerful dan memukauku. Segera saja aku bergerak mencari kira-kira mana yang akan menjadi pilihan untuk kujadikan ‘bias’. Karena aku tidak tahu-menahu mengenai anggota yang keluar dari grup, aku sedikit menaruh perhatian pada Seohyun karena selain suara yang bagus, ia juga lumayan cantik.

Sumber gambar : pinterest

Mulailah ku menelusuri seluk-beluk mereka di simbah kepercayaanku. Beberapa posting-an menyebutkan Jessica Jung. Aku langsung mengenalinya. Entah kenapa. Mungkin karena dulu wajahnya sudah tidak asing di mataku. Nah, Gotcha! Pikirku. Aku ingin menjadikannya ‘bias’ karena menurutku dia cantik banget! Terlihat dewasa dan kharismatik, ditambah lagi suaranya yang sangat khas dan bagus! Gerakan dance-nya juga bagus ... dan ekspresi yang ditunjukkan di setiap penampilannya membuatku terpaku. Duh, yakin kok aku masih normal. Bener, deh.

Segera saja ku-search mengenai Jessica Jung yang kemudian hatiku patah menjadi beberapa bagian ketika membaca bahwa ia sudah hengkang dari SNSD sejak tahun 2014. Ugh, kutukan ini!

Sumber gambar : pinterest

Kucari juga mengenai Seohyun, lagi-lagi aku mengumpat dalam hati karena ternayata ia pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan agensi yang menaunginya, SM Entertainment. Tidak lama sebelum ini, sekitar Oktober 2017! Argh!

Sejak kapan kutukan ‘TERLAMBAT’ ini menimpaku, ya? Akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah men-download lagu-lagu dan video-video mereka—dalam bahasa Jepang—karena aku tidak akan sanggup mendengar mereka bernyanyi kalau mereka menggunakan bahasa asing yang tidak ramah di telinga. Sekaligus, aku ingin belajar mendengarkan dan mempelajari kosakata bahasa Jepang baru untuk keperluan studiku.

Memang sudah nasibnya aku selalu menjadi fans yang terlambat. Meskipun begitu, aku menikmati lagu-lagu, terlebih video live konser mereka ketika mereka masih bersembilan dengan Jessica Jung masih di antara mereka. Aku senang. Lagunya bagus. Dan mataku tak pernah lepas sepertinya mencari sosok Jessica Jung yang sudah menarik perhatianku. Bahkan, sebelum aku menyadari bahwa video-video yang akhir-akhir ini kutonton, tidak menampilkan sosoknya.

Mungkin, aku akan mulai men-download juga video dan lagu solo Jessica Jung, walaupun aku merasa akan lebih senang melihatnya berada di antara member SNSD lainnya di atas panggung yang sama.

Tapi, aku tidak terlalu mempermasalahkannya juga. Aku suka SNSD karena lagunya bagus dan menyukai Jessica adalah hal yang berbeda. Aku akan mendukung keduanya di bidang manapun mereka. Semoga, karir mereka semakin berkembang ke depannya. Untuk Jessica, aku datang~

Sumber gambar : pinterest

Yogyakarta, 5 Desember 2017

Read More

Monday, December 04, 2017

[Me Time] Cerpen yang Booming dan Tuduhan Plagiat: Cerpen Ruang Dimensi Alpha karya Ratna Juwita

Baru saja, aku mendapatkan sebuah komentar mengejutkan di salah satu postingan cerita pendek di blog-ku ini. Sebuah komentar yang intinya mengatakan, “Wah, cerpen ini ada di buku SMP kelas 7, bahkan sampai sekarang masih ada bukunya. Sebenarnya yang menjiplak buku tersebut atau blog ini?”. Sontak saja aku terkaget-kaget membacanya. Apa? Aku dituduh plagiat?

 Kulihat, komentar tersebut di-post oleh akun bernama “unknown” pada September 2017 (Aku jarang membuka blog jadi ya begini kurang update. Hehe). Apa-apaan komentarnya? Aku sebenarnya merasa agak kesal karena dituduh plagiat secara tidak langsung, tapi juga penasaran, masa cerpenku, yang abal-abal ini, yang aku sendiri ketika membacanya ulang merasa malu, yang kutulis sewaktu aku masih SMP (FYI, ketika menulis ini, aku sudah kuliah semester 5) ini, ada di buku Bahasa Indonesia anak SMP? Yang benar saja.

Segera saja kutelusuri di simbah kepercayaanku dan benar saja baru kuketikkan kata kunci “Cerpen Ruang” langsung saja ada pilihan teratas “Ruang Dimensi Alpha”. What? Semakin terkaget-kagetlah aku. Oke, ku kliklah pilihan itu. Segera, di layar handphone-ku, berderet ulasan dan diskusi mengenai cerpen itu. Di situ pun dengan jelas tertulis “karya Ratna Juwita”. Wuih, bangga juga. Hehe.

Tapi, ketika kucari-cari, sepertinya ada perubahan pada nama tokoh, yang kubuat keren, jadi ke-Indonesia-an banget namanya. Bukan berarti ku bermaksud bilang bahwa nama Indonesia itu jelek. Bukan. Tapi karena latar waktunya adalah masa depan, jauh setelah bumi hancur diterjang meteor, maka nama-nama yang ada saat ini tentu sudah tidak relevan, kan? Itu logikaku saat masih SMP ketika menulis cerpen itu.

Perbedaannya lagi ada pada ending cerita. Karena cerita ini kutulis saat aku masih SMP dan sering kali membaca cerita menye-menye yang cinta-cintaan, maka alurnya pun ending-nya romantis gitu. Tapi karena ini buku untuk anak SMP, yang seharusnya tidak berisi cinta-cintaan dan menye-menye, penerbit sepertinya sengaja menyunting cerpen tersebut. Mohon digarisbawahi, penerbit sama sekali tidak mengontakku secara personal untuk pencatutan dan penyuntingan itu. Terheran.

Aku tidak mempermasalahkan penyuntingan itu, aku mempermasalahkan ketiadaan permintaan izin dari penerbit yang bersangkutan—aku masih tidak tahu penerbit mana yang mencatutnya—kepadaku secara langsung. Aku menebak-nebak, apakah komentar “izin copy” yang ada di kolom komentar postingan cerpen ini adalah dari pihak penerbit tersebut? Aku tidak tahu.

Seharusnya, aku mendapatkan royalti untuk pencatutan cerpen itu. Tapi bukan masalah itu yang sedang kubicarakan saat ini, melainkan etika sebuah penerbit mengambil karya orang dari internet tanpa berkomunikasi secara langsung untuk meminta izin pada pihak yang berangkutan. Bahkan, aku tidak tahu jika cerpen itu dimasukkan di sebuah buku untuk bahan ajar anak SMP. Seharusnya, aku perlu tahu hal itu. Seharusnya.

Aku tidak tahu etika penerbitan, sih walaupun sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia penulisan. Aku pernah menjadi editor penerbitan indie, mengikuti ratusan lomba menulis dan memenangkan beberapa diantaranya, dan sebagainya. Namun, tak dapat dipungkiri aku ‘sedikit’ merasa bangga karyaku bisa ‘nangkring’ di buku ajar anak SMP. Aku menyetujui penyuntingan itu karena target pembacanya adalah anak remaja SMP, akan lebih bagus memang apabila ending ceritanya tidak mengandung unsur romansa.

Bagi yang penasaran dengan hasil suntingannya, bisa coba mencari tahu di mbah masing-masing. Hehe. Kalau penasaran dengan karya aslinya, bisa pencet pilihan cerpen di blog-ku ini dan cari judul cerpen “Ruang Dimensi Alpha”.

Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak plagiat. Cerpen itu bahkan sudah kuposting sejak tahun 2014 dan baru dimasukkan ke dalam buku pada tahun 2016 oleh sebuah penerbit yang tidak kutahu rupanya. Lain kali, mungkin aku akan merasa lebih senang dan merasa dihargai apabila karyaku diminati dan dicatut dengan sepengetahuan dan izinku.  



Yogyakarta, 3 Desember 2017
Read More

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com