Read More

5 CM: Buku yang Menyelamatkanku

Ratna Juwita
Read More

Ary Nilandari - Penulis Wattpad yang Tidak Menye-Menye

Ratna Juwita
Read More

Know Your Limits

Ratna Juwita
Read More

PETRIKOR

Ratna Juwita
Read More

Into The Unknown

Ratna Juwita

Thursday, December 13, 2018

[Cerita Pendek Romantis] Angkasa di Telaga Sarangan

Ratna Juwita

Biar kugeluti naskah-naskah rindu
Rindu yang buntu

“Rindu yang buntu?”

Bahu Canisa terangkat, kaget. Cepat-cepat ditutupnya buku catatan kecil yang selalu dibawa kemanapun ia menjejakkan langkah. Canisa melirik Adit sekilas. Adit tergelak, ia tahu Canisa paling tidak suka jika buku catatannya dibaca oleh siapapun, apalagi dirinya yang baru mengenal Canisa tiga bulan belakangan.

Adit mengulurkan satu botol minuman dingin pada Canisa yang sedang duduk menikmati Telaga Sarangan. Sengaja ia menyerahkannya dalam posisi berdiri, iseng agar Canisa mendongak ke atas—ke arahnya—meskipun ia sendiri tahu Canisa takkan pernah mendongak. Canisa berdiri setelah sebelumnya mengembuskan napas kesal atas keisengan Adit.

“Sampai kapan kau akan terus berbuat iseng padaku?” Canisa merebut botol minuman dari tangan Adit, kemudian duduk kembali.

Adit tersenyum kecut, tak menjawab. Ia baru mengenal gadis berkuncir kuda itu lima bulan belakangan. Saat itu, Adit tengah memetik buah mangga dari pohon di depan halaman rumahnya, Mangga jatuh tepat di kepala Canisa yang kebetulan sedang lewat. Tanpa diduga, Canisa menjerit histeris dan langsung limbung, melindungi kepalanya. Adit yang khawatir, langsung bergegas turun untuk melihat keadaan Canisa sambil terus menggulirkan kata maaf.

Sejak itu ia terus berusaha menemui Canisa yang merupakan tetangga barunya untuk meminta maaf. Sedikit banyak, ia penasaran pada Canisa yang menjerit histeris hanya karena kejatuhan Mangga. Setelah sebulan ia bersikukuh, Canisa akhirnya menceritakan pada Adit—tetangga yang dianggapnya menjengkelkan itu—bahwa ia mengidap fobia aneh yang disebut Anablephobia; ketakutan untuk melihat ke atas karena merasa langit akan runtuh.

Adit meletakkan pantatnya di samping Canisa. “Jadi, rindu apa yang buntu itu?” Canisa melirik Adit dari sudut mata sembari terus menenggak air.

Canisa mengatupkan botol minum dengan tutupnya. Ia tahu Adit takkan pernah berhenti dari rasa penasaran seperti ketika menanyakan alasannya berteriak histeris kejatuhan Mangga.

“Rindu pada orang tuaku. Buntu karena mereka telah tiada dan rinduku akan selalu menemui jalan buntu.” Canisa melemparkan kembali pandangan kembali ke telaga dengan kepala yang terus menunduk, seolah telaga itu hanya ada air tanpa langit.
***

“Ayah meninggal ketika aku berusia tujuh tahun.” Tepat ketika Adit membuka mulut, Canisa sudah menyahut lagi. “Kejadian WTC kau ingat? Sebelas September dua ribu satu,” Canisa menyembunyikan genangan air mata yang mulai bercucuran. Kejadian mengerikan itu takkan pernah bisa hilang dari ingatnya. Bergelayut memanja sesak dan bergumul menyiangi bahagia.

Adit bungkam, namun matanya kelabakan mencari tisu atau sejenisnya. Nihil. Bersama para wisatawan lain, mereka bergulat dengan dingin di balik mantel hangat yang dikenakan. Adit meneguk ludah susah payah, akhirnya ia memetik selembar daun dan menyerahkannya dengan lugu pada Canisa. Canisa tersenyum tipis; menolak alternatif konyol Adit.

Ia sengaja mengajak Canisa pergi ke Telaga Sarangan untuk memberikannya waktu menyelami masa lalu gadis bermata coklat itu. Adit berharap, ia bisa membantu Canisa mengobati fobianya yang terasa tak masuk akal itu, tapi ia sendiri bingung bagaimana.

Canisa menoleh dengan mata sembab yang masih menyisakan raut manis. “Ibuku meninggal lima bulan lalu—ya tepat saat aku pindah ke samping rumahmu dan kau jatuhi dengan Mangga. Penyakit jantung telah merenggutnya dari hidupku.” Canisa merapatkan jaket. “Aku tidak tahu sejak kapan fobia ini menghinggapi alam bawah sadar, tapi setiap kali mengingat tentang Ayah, aku takut. Aku berada tepat di samping Ayah ketika gedung itu runtuh, perabotan jatuh, bahkan beton di atas kepala kami yang saat itu berada di lantai satu gedung WTC, berhamburan layaknya hujan. Ayah bersusah payah menyelamatkan aku dan Ibu di tengah kepanikan dan teriakan itu. Masih terasa olehku pelukan Ayah yang hangat sebelum akhirnya reruntuhan itu menimbun Ayah yang lebih mengutamakan keselamatan kami—aku dan ibu,”

Telinga Adit terasa panas. Panas mendengar tangis Canisa dan cerita tragis itu. Ia bisa mengerti sekarang asal ketakutan itu. Bukan tak beralasan, fobia Canisa benar-benar berasal dari pengalaman hidup paling mengerikan yang pernah ia tahu. Adit takkan pernah bisa membayangkan berada di posisi Canisa. Mendengar dentuman pesawat yang menabrak gedung, merenggut jutaan nyawa, serta segala histeria mengiba. Meminta hidupnya diselamatkan.
***

Menjelang malam, Adit menuntun Canisa ke tepi telaga. Di sekeliling mereka, banyak wisatawan yang menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan, seperti nyala lilin kecil di kejauhan. Lilin kecil yang entah bagaimana terasa hangat. Adit membuka penutup mata Canisa.

“Aku ingin menunjukkan padamu keindahan langit malam.” Adit berjongkok, menuruti arah mata Canisa yang tak pernah mau terangkat.

“Adit, aku tahu kau ingin membantuku, tapi—“

“Tidak.” Adit menjaring mata teh Canisa yang berkilau karena pantulan sinar bulan di atas telaga. “Jangan melihat ke atas. Lihatlah telaga ini seperti biasa.”

Meski sedikit, Adit bis melihat mata Canisa bergerak, meski bukan ke atas, mata itu memandang telaga yang tebentang. Canisa terperangah melihat pantulan bulan dan bintang di atas telaga. Matanya berbinar meski hanya pantulan dari langit yang berombak. Mata Canisa mengembun. Ia tak pernah berpikir bahwa langit bisa dilihat tanpa harus memandang ke atas.

“Pertama kali aku mendengar namamu, kau mengingatkanku pada bintang yang miliaran kali lebih besar dari matahari, bintang VY Canis Majoris.” Canisa tak melepaskan pandangan dari telaga.

“Oya, kau pernah mengatakan padaku kau sangat suka angkasa, kan?” Canisa mengalihkan pandangan pada Adit yang disambut anggukan sebagai jawaban.

“Aku sangat menyukainya, langit begitu indah terutama di malam hari. Dan aku ingin berbagi keindahan itu denganmu.” Canisa mengerutkan kening, memandang Adit. “Apa kau pernah melihat tiang langit?” Adit mencoba mengalihkan pembicaraan. Canisa tidak menyadari wajah Adit yang bersemu ketika ia memandangnya.

 “Maksudmu? Mana mungkin langit memiliki tiang?”

“Menurutmu, bagaimana Tuhan menciptakan langit tanpa tiang? Menurutmu apakah langit digantung? Mengapa ia tidak runtuh?” Canisa terdiam. Mulai mengerti arah pembicaraan Adit. Canisa memutuskan untuk tak menjawab. Mereka dicekam keheningan beberapa saat. Canisa menunduk, menggosokkan kedua telapak tangannya. “Aku takkan mengatakan kau meremehkan Tuhan dengan merasa takut bahwa langit akan runtuh. Dia ada di sana sejak dahulu kala, sejak dinosaurus atau Homo Sapiens, tapi ia tak pernah menunjukkan bahwa ia akan retak atau runtuh—”

“Adit, ini tak sesederhana itu—“

“Jika bukan aku, biarlah alam yang memaksamu mendongak suatu hari. Kau akan begitu menikmati dan merindukan langit. Di atas langit tak ada bangunan yang akan runtuh, Canisa. Percayalah pada Tuhan bahwa Ia tak menciptakan langit untuk ditakuti.” Mata mereka bertautan. Canisa tak habis pikir, Adit selalu bisa membuatnya bungkam.

Canisa tak pernah tahu. Jauh sebelum mereka datang ke telaga, sejak Adit menjatuhkan mangga ke kepalanya, Adit jatuh cinta padanya. Dorongan paling kuat untuknya ingin membantu Canisa menikmati langit dan menghilangkan fobianya.

Dan Adit tak pernah tahu, ada sesuatu yang bergejolak dalam hati Canisa sejak saat itu. Canisa juga tak menyadarinya, yang ia mengerti adalah ia dibuat kagum oleh kata-kata dan sikap Adit padanya. Tak pernah lebih. Mungkin, suatu saat ia akan benar-benar kehilangan ketakutannya untuk melihat ke atas. Walaupun semua itu masih mungkin, ia percaya, Adit atau alam sendiri yang akan menuntun matanya ke angkasa. Suatu saat. Ia tidak tahu kapan, ia akan merindu pada telaga yang penuh gemintang itu. Pasti.
***
Yogyakarta, 1 Juni 2016

Yak, dulu aku memang suka banget menulis cerita romance karena memang itu adalah genre favoritku dulu. Biasalah, ABG labil gitu. Ya, walaupun menye-menye, bagaimanapun juga ini adalah hasil karyaku. Aku yakin cerpen ini juga masuk ke kumpulan cerpen dari hasil lomba, namun sekali lagi aku tidak ingat penerbit apa. Buku catatanku tentang itu hilang atau di rumah. Sekarang, aku sedang kos. Jadi, aku hanya post cerita lama sekalian mengisi kekosongan dalam hatiku eh maksudnya blog baruku ini.


Bagi yang mau melihat-lihat blog lamaku bisa banget kunjungi akihabaranime.blogspot.com. Blog yang kubuat ketika masih labil-labilnya masalah jejepangan hehe.
Read More

[Cerita Pendek Romantis] Bias Cahaya Phoenix

Ratna Juwita

Srak!

Aku tertegun. Baru saja aku melihat sesuatu melintas dengan cepat dari pantulan kaca. Sinar matahari berhasil membiaskan pandangan, tak mengizinkanku menelaahnya baik-baik.

Kucoba mengais sisa-sisa pergerakannya, tapi nihil. Burung? Aku menyangsikannya. Benda itu jauh lebih besar dari seekor burung. Aku mencoba menyerah terhadap segala dugaan, tapi netra tak bisa lepas dari posisi lenyapnya. Ketika tersadar, kutemukan diri mematung di depan sebuah ruangan di ujung lorong, ruangan terakhir untuk menemukan ‘burung’ itu.

“Murid pindahan?”

Aku tersentak mendapati suara yang terdengar halus dan bergetar. Tak butuh waktu lama untukku menemukan seorang wanita paruh baya dengan uban hampir menyelubungi seluruh kepalanya. Mulutku terbuka, tapi tak mampu bicara. Akhirnya, hanya anggukan kepala yang mewakili jawabanku.
***

Esoknya, aku tak bisa menahan diri untuk tidak pergi ke ruangan ini lagi. Ruangan dengan tulisan ‘Perpustakaan’ di atas kayu lapuk, menggantung di pintunya.

Aku tidak menemukan wanita paruh baya yang kemarin menyapaku. Kakiku melangkah masuk, menjejali mata dengan rak-rak kayu yang terlihat tua dengan buku-buku yang berjejer rapi. Sebuah pemandangan yang sedikit aneh mengingat betapa tuanya perpustakaan ini, namun hanya sedikit debu yang menghuni.

Ruangan ini sepi. Seakan hanya ada aku di sini. Mataku menangkap sebuah judul buku yang menarik, ‘Phoenix’. Aku terkejut ketika sebuah tangan lain juga mencoba meraih buku itu. Aku menoleh, beradu pandang dengannya. Seorang laki-laki yang cukup jangkung dengan mata hitam legam, mengingatkanku pada mata boneka panda di kamar. Aku menahan napas ketika tatapan tajamnya membuat jantungku berdebar. Kukira hanya ada aku di sini.

“Kau mau membaca buku ini?” Ia mengambil buku berjudul ‘Phoenix’ itu dan menyerahkannya padaku. Aku menerimanya dengan gagu. “Baguslah, kalau begitu aku akan membaca ini dulu.” Ia mengatakannya sambil mengambil buku ‘Sejarah Perpustakaan’.

“Lagi-lagi buku itu? Sudah berapa kali kau membacanya, Arka?”

Aku dibuat tersentak untuk kesekian kali, wanita paruh baya yang kemarin, kini telah berada di sampingku. Wanita itu kemudian mengalihkan pandangan dari cowok yang dipanggilnya Arka, padaku. Ia tersenyum, membuatku gugup.

“Aku ingin menjadi pustakawan, jadi aku harus sering membacanya, Bu,” Arka mengedikkan bahu, “ Zenodotus dari Ephesus sudah merebut gelar pustakawan pertama di dunia, dariku, jadi aku harus bisa lebih hebat darinya.” Arka tersenyum kali ini. Aku hanya memandangi keduanya, mereka berbicara seperti dua orang teman lama.

Wanita itu terkekeh, tak mempedulikan ucapan Arka. “Nah, jadi siapa namamu, Nak?”

 “Saya?” Aku memastikan diri. “Nama saya Irine.”

“Wah, namamu sama dengan tokoh wanita dalam serial Sherlock Holmes, wanita yang mampu mengimbangi kecerdasan Sherlock Holmes, Irine Adler.” Arka terlihat antusias. Jelas sekali ia memiliki pengetahuan yang luas, membuatku diam-diam mengaguminya.
***

Aku jadi lebih sering bertemu dengan Arka. Dimanapun, ia seolah selalu tertangkap dalam mataku. Meski dalam kerumunan, aku selalu bisa menemukannya. Ia selalu menyapa ketika berpapasan denganku, menjadikannya teman pertamaku di sekolah ini. Aku bukan murid pindahan baru, sudah sekitar lima bulan aku di sini, tapi aku tak merasa benar-benar memiliki seorang teman. Apakah semua karena kemampuan bersosialisasiku yang buruk?

“Kau menyukainya?” Pertanyaan itu tiba-tiba menusuk gendang telinga, membuatku kalang kabut dalam diam. Aku memandang wanita paruh baya penjaga perpustakaan sekolah, yang baru-baru ini kuketahui bernama Bu Rhea. Aku gelagapan tanpa alasan, mengayuh otak sesegera mungkin untuk menjabarkan kata. Pertanyaan itu berhasil membuatku merasa kacau.

“Bu-bukan begi—“

“Perpustakaan memang mengagumkan, kau bisa menemukan banyak ilmu di sini,” Bu Rhea melanjutkan, membuatku merasa konyol karena salah menangkap maksud pertanyaannya. “Seolah kau sedang mengelilingi dunia hanya dengan duduk, merengkuh cakrawala hanya dengan melihat, dan mengetuk empati hanya dengan membaca.” Bu Rhea menerawang, membuatku dapat melihat jelas kerutan di bawah mata, tanda betapa waktu telah menuakannya.

Aku masih terdiam, menunggu Bu Rhea melanjutkan kata-katanya. Mendengarkan selalu membuatku lebih nyaman dibandingkan berbicara. Aku memang tak pandai bicara. Pun, pepatah selalu mengatakan bahwa lidah adalah benda paling tajam di dunia, membuatku ngeri. Berapa banyak orang yang telah tersakiti oleh kata-kataku? Lalu pertanyaan itu membuatku bungkam.

“Seperti pengetahuan mengenai burung ini,” Bu Rhea tiba-tiba menunjuk buku yang kupinjam, ‘Phoenix’.  “Phoenix dipercaya hidup di daratan Persia, hidup dengan membakar dirinya, kemudian dari abunya muncul Phoenix muda, seperti reinkarnasi, seakan Phoenix adalah burung yang abadi, dan memang begitulah mitosnya.”

 Kata-kata Bu Rhea mengingatkanku pada sesuatu yang kuanggap ‘burung’ beberapa waktu lalu. Aku masih belum mendapatkan titik terang dalam hal itu. Ataukah itu hanya ilusi?

“Kurasa, ini satu-satunya buku yang belum dibacanya.”

Aku mengerutkan kening mendengar perkataan Bu Rhea. “Maksud Ibu?”

“Arka. Coba kau periksa semua kertas peminjaman di balik setiap buku di perpustakaan ini. Di sana akan selalu ada namanya, kecuali di buku ini.”

Aku melongo. Bu Rhea tidak terlihat kaget dengan reaksiku. Arka telah membaca hampir semua buku di perpustakaan ini? Segigih itukah ia ingin menjadi seorang pustakawan? Apakah menjadi seorang pustakawan berarti harus membaca seluruh buku yang ada? Dia gila.

“Dia selalu bisa mengejutkanku.” Aku tersenyum, begitu juga Bu Rhea. “Dia teman pertamaku di sini, maksudku selama lebih dari lima bulan di sini, aku sulit bersosialisasi, ataukah aku yang membatasi diri?” Aku tergelak sendiri.

“Kalau begitu mari kita bersahabat. Jika Arka adalah teman pertamamu, jadikan aku sahabat pertamamu.” Bu Rhea mengulurkan jari kelingkingnya. Aku menatap jari kelingking itu dengan ragu. Dalam benakku, terjuntai banyak pertanyaan yang tak dapat kusebutkan. “Apakah anak muda sekarang hanya bersahabat dengan anak seusianya? Umurku memang telah beranjak 53 tahun, tapi jiwaku belum setua itu. Arka sudah menjadi sahabatku, mengapa kamu tidak?”

Ah, Arka lagi. Ia selalu selangkah di depanku. Aku mengulurkan tangan, mengaitkan kelingkingku dan kelingking Bu Rhea. “Tapi, saya rasa ini persahabatan yang singkat. Dua hari lagi, saya akan pindah.”
***

Dua hari, waktu yang begitu singkat. Tak cukup untuk membuatku menemukan Arka. Aku tak lagi berpapasan atau menangkap sosoknya dalam kerumunan. Ia seakan hilang begitu saja. Ah, apakah aku harus pergi tanpa bisa melihat sosoknya untuk terakhir kali? Sampai saat terakhir aku mengais bayangnya, tak kutemu. Aku menyerah. Kugenggam erat buku ‘Phoenix’, lalu melangkah menuju perpustakaan untuk mengembalikannya. Selamat tinggal, Arka.
***

Aku duduk di dalam mobil dengan perasaan yang tak dapat diterjemahkan. Bahkan, ketika mobil mulai melaju, hatiku masih terasa berat meninggalkan sekolah ini. Mungkin aku hanya berteman dengan Arka dan bersahabat dengan Bu Rhea, tapi mereka mengajarkanku banyak hal. Belum jauh, tapi aku sudah merindui perpustakaan tua itu. Tempatku pertama kali bertemu dengan Arka dan Bu Rhea, memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru dari mereka. Pun, sampai akhir aku tak pernah tahu ‘burung’ yang kulihat saat itu.

Ah, mungkin di sekolahku yang baru, tempat pertama yang akan kukunjungi adalah perpustakaan. Mungkin di sana tidak ada Arka dan Bu Rhea, tapi dari sana aku bisa menjelajah dunia tanpa bergeming. Arka, akankah suatu saat ia benar-benar akan menjadi seorang pustakawan? Aku harap, ia takkan pernah menyerah pada mimpi dan segala kegilaannya, aku pun merinduinnya.

Tanpa sadar, air mataku menetes. Sungguh, untuk pertama kali aku merasa sangat berat meninggalkan sekolah. Meski sudah berulangkali aku berpindah sekolah, tapi kali ini terasa paling menyesakkan. Aku meremas rok abu-abuku, menahan rasa yang membuncah dalam dada. Memang benar, takkan pernah ada orang yang terbiasa dengan kehilangan.

Srak!

Aku terperangah, seakan sesuatu  terbang membelah udara. Sayap, tangannya serupa sayap yang mengepak membelakangi matahari, nampak seperti Phoenix yang bercahaya. Persis seperti saat kulihat dari kaca waktu itu, sesuatu yang seolah terbang.

Ayah mengerem mobil dengan sigap, membuatku hampir terjungkal. ‘Burung’ itu mendarat di depan mobil, bergulingan. Buru-buru aku menghambur keluar.

“Arka?” Aku memandangnya tak percaya. Ia tersenyum sambil mengusap kepala, meski luka jelas menempel di sekujur tubuh. Kulihat papan skateboard tergeletak di sampingnya. “Apa yang kau lakukan? Kau melompat dengan papan skateboard dari atas? Kau sudah gila?”

“Ya, aku sudah gila.” Ia berdiri, sedikit kepayahan. “Dan pengecut, malah menghilang dari pandanganmu setelah tahu kau akan segera pindah. Aku juga bodoh, menuruti egoku untuk tak bertemu denganmu, tapi aku tak bisa.” Ia mengangkat secarik kertas yang terlihat lusuh. Jantungku berdegup kencang. Itu surat yang kuselipkan di buku ‘Phoenix’, sebelum kukembalikan.

“Ah, itu...” Kulirik ayah yang masih diam di balik kemudi, memberi ruang untuk kami.

“Kita tidak tahu apakah suatu saat, kita bisa bertemu lagi atau tidak, tapi...” Ia memungut papan skateboard-nya, ”selama kita tak menyerah pada keyakinan bahwa suatu hari kita akan betemu, kita pasti bertemu. Aku pun percaya pada hal yang kuyakini bahwa aku tidak akan pernah melepaskan hal yang berharga bagiku; menjadi pustakawan dan kamu, Irine.” Ia mengatakannya dengan mata yang tulus, membuat air mataku mengalir.

“Jadilah pustakawan hebat dan biarkan takdir menuntun kita. Aku takkan pernah menyerah pada hal yang kuyakini.” Aku mengulang kata-kata yang kutulis dalam surat itu. Ia mengangguk puas.

 Sebelum pergi, aku menatapnya untuk terakhir kali. Aku menemukanmu, Burung Phoenix. ***

Wah, ini adalah salah satu cerpen favoritku sebenarnya. Tidak ada yang istimewa sih selain ada unsur mitosnya. Mengenai Burung Phoenix. Aku selalu suka hal-hal berbau mitos, sejarah yang kemudian dijadikan certa fiktif. Jadi, greget gitu entah mengapa.
Ini juga cerpen lomba kok, kalau tidak salah juga dibukukan, tapi aku tidak punya catatanya aku lupa mencatatnya di mana. Aku hanya ingin posting saja sih, semoga para pembaca menyukainya!

Read More

[Cerita Pendek Drama] Doa Terakhir Seekor Capung

Ratna Juwita

“Delapan bulan,” kata Rina suatu hari di depan rumah. Ia mengelus perutnya yang sudah membuncit. Aku tersenyum, bersyukur sampai saat ini dia baik-baik saja.

Dalam setiap getaran, aku berdzikir pada-Nya untuk Rina. Tak menggubris panjang waktu yang kulalui untuk mendoakannya. Aku merasa berhutang budi pada wanita manis berkerudung itu, hutang seumur hidup. Hutang yang bagaimanapun juga harus kutangkup dengan umur yang tak panjang. Berdoa dalam setiap getar, meninggalkan lelap, merinci tasbih pada-Nya, dan menyelipkan nama Rina. Tak pernah luput.

Detik kemudian, terdengar lantunan Surat Al Kahfi dari mulut Rina. Begitu halus dan merdu, menambah imanku dan semoga juga imannya, pun iman bayi dalam kandungan itu. Tubuhku bergetar memaknai ayat-ayat yang dibacakannya, berharap pahala juga mengalir untukku yang mematri dengar.

Aku ingat sejak seminggu lalu ketika pertama kali bertemu dengan Rina, setiap hari pula terdengar ayat-ayat itu menada syahdu, menampik sepi sore dan malamku. Meski juga kuhitung umur tersisa, usaha terakhir menanam asa pada si jabang bayi.

Subhanallah,” tasbihku saban waktu. “Lahirlah dengan selamat, tumbuhlah dengan sehat, jaga ayah ibumu dan berbaktilah. Jangan lupakan Allah, penciptamu. Jangan sampai turun dari-Nya laknat untukmu, berdzikirlah di setiap detak jantung, dan jangan kau coba mengkhianati-Nya. Aku berdoa untukmu, jabang bayi, dan untuk ibumu, Rina.” Selalu doa itu yang kulirihkan di sela tasbih. Doa yang menemani penantian akan lahirnya si bayi.

Lama rasanya menanti bayi itu lahir. Sukmaku sarat khawatir, menduga-duga; sampaikah umurku nanti? Atau malaikat maut terburu mencabut nyawaku? Menanti dalam doa, menguatkan hati bahwa segala sesuatu adalah takdir-Nya. Saat ini wajibku adalah berusaha, berdoa, dan berserah diri sambil terus mengumamkan harap untuk bisa melihat bayi Rina kelak.

“Rina, sudah Isya’, ayo masuk sholat jamaah!” Seorang lelaki keluar dari dalam rumah. Belakangan kuketahui bahwa ia adalah suami Rina.

Lelaki yang wajahnya terlihat ramah itu memapah Rina berdiri dari kursi, menuntunnya dengan sabar sebab kaki Rina yang membengkak. Sungging senyum tampak dari wajah Rina hingga ia menghilang dari lecutan netra. Sayup-sayup, terdengar tawa renyah dari dalam rumah, ia terlihat bahagia dan aku lega. Selama ia tetap tersenyum, semua itu cukup bagiku.
***

Siang ini, aku kembali lagi. Bersembunyi dan diam-diam mengamati. Rina terlihat cantik dengan balutan kerudung hijau dan gamis panjang berawarna senada. Ia sibuk menyiram tanaman di halaman rumah.

Sholatum bishalalilmubiin,” Rina menyenandungkan shalawat dengan nada yang indah, mengiringi tiap jengkal langkahnya.

Aku memang tak mengenal bagaimana sosok Rina sebelum ini karena aku baru mengenalnya dua minggu belakangan. Tapi aku sering mendengar seorang ustadz mengatakan bahwa orang yang baik memiliki masa lalu dan orang yang buruk masih memiliki masa depan.

Aku setuju, tidak ada hal yang mutlak di dunia ini kecuali Allah. Dia yang paling mutlak di alam semesta. Dia Tuhanku, Tuhan Rina, dan seluruh makhluk di seluruh semesta. Keyakinanku ini dikarenakan selalu terdengar lantunan tasbih dimanapun aku berada. Satu detik pun tak pernah nihil dari lantunan memuji-Nya, menyembah-Nya, pun tiap getar sayapku selalu tertantun tasbih untuk-Nya. Tak pernah alpa.

Aku terperanjat ketika menyadari ada katak yang melompat mendekati Rina. Beberapa detik kemudian baru kusadari itu adalah katak yang tempo hari coba diusir Rina dari halaman rumah. Katak itu terus mendekat dari belakang tanpa sepengetahuan Rina. Tubuhku membeku ketika kaki Rina tanpa sengaja menginjak katak itu, membuatnya kehilangan keseimbangan, dan terjungkal.

Innalillahi!” seruku.

Perut Rina membentur bibir kolam. “Aaakkhh!” suara teriakannya berhasil meluluhlantahkan perasaanku seketika. Aku mendekat dengan cepat, tapi gagu. Tak mampu melakukan apapun untuk menolongnya.

Detik-detik berikutnya, orang-orang berdatangan, berbondong membawa Rina ke rumah sakit terdekat dengan sebuah becak milik tetangga. Wajah Rina jelas memagut sakit, mencumbu pedih, tersirat dari keringat yang mengucur deras dari dahi. Tak kutahu sebesar apa rasa sakitnya, yang bisa kulakukan hanya berdoa.

Semua berlalu begitu cepat bahkan sebelum aku sempat menyadari keadaan. Aku menangis dalam diam, komat-kamit mulutku bertasbih, berdzikir pada-Nya untuk keselamatan Rina.

Subhanallahi wa bihamdihiYaa Allah tolong selatkan Rina, tolong selamatkan bayinya, hanya kepada-Mu hamba menyembah, hanya kepada-Mu hamba memohon pertolongan, aamiin,” doaku tak berhenti barang sesaat.

Bayi yang kunanti, bayi yang akan menjadi penerus bangsa dan penerus agama Allah. Aku berharap keselamatannya juga ibunya. Yaa Rabb, kasihilah mereka.
***

Di dua minggu berikutnya, aku berkutat pada penantian yang menyesakkan. Umurku terus berkurang tiap detik, tapi resah tak juga menolak hinggap. Satu bulan tujuh hari sudah aku hidup di pangkuan bumi, meminjam kebaikan-Nya untuk bisa hidup di kefanaan ini. Umur yang tergolong lama untuk seekor Capung sepertiku. Aku tak tahu kapan malaikat maut datang, tanpa permisi dan tanpa pemberitahuan dini.

Akhirnya, kuputuskan terbang ke rumah sakit untuk kesekian kali. Berharap kali ini aku benar-benar bisa bertemu dengan Rina. Kususuri tiap jendela di rumah sakit, kutajamkan 30.000 lensa individu pada mataku untuk mencari keberadaannya. Bagaimana keadaan bayinya? Selamatkah mereka? Mengapa tak ada kabar sama sekali dari mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menumbuh subur dalam benak. Menebar jala was-was tak berkesudahan.

Nihil. Tak kutemu Rina. Masih, kulantunkan segala doa yang terlintas. Pada tiap detik, sayapku bergetar tiga puluh kali dan sebanyak itu pula aku bertasbih. Tak hanya aku, segala hal yang ada di dunia bertasbih pada-Nya. Harapanku di antara tasbih yang tak terhingga itu, Allah mendengar tasbih dan doaku. Doa untuk Rina, sang penyelamat yang membuatku bisa hidup hingga saat ini.

Kutampung lagi ingatan ketika aku masih menjadi nimfa di dalam air. Butuh waktu dua tahun untukku akhirnya bisa keluar dari kepompong, merangkak keluar dengan sayap yang basah. Tertatih, hingga akhirnya aku bisa menyentuh daratan. Tak terhitung banyaknya predator yang berusaha memangsa. Aku bergidik mengingat usahaku sembunyi dari ikan, menghindar dari laba-laba, merangkak pelan, dan bersembunyi di balik dedaunan di permukaan tanah.

Sayapku yang saat itu masih baru dan basah, mengigil. Belum mampu membuatku terbang sebagaimana mestinya seekor Capung. Di sela usaha adaptasi itulah katak yang juga membuat Rina mengalami kejadian ini, menemukanku. Wajah seramnya masih bisa kuingat jelas hingga membuatku kalut. Sangat takut. Instingku berkata ia hewan yang sangat berbahaya.

Aku terseok, menghindari katak berwarna kecoklatan itu, tapi tubuh ringkihku tak berhasil membuat jarak yang berarti. Aku menyerah saat itu, menyerah walaupun baru kali itu aku benar-benar merasakan keindahan dunia yang diciptakan Tuhanku. Aku putus asa, namun pertolongan-Nya datang lewat Rina. Rina mengusir katak itu tepat sebelum predator itu memangsaku. Saat itu aku menangis dalam diam, meski sayapku belum mampu bergetar, aku sudah bertasbih pada-Nya. Bersyukur karena telah menyelamatkan nyawaku yang hanya akan bertahan beberapa minggu saja, sebab umurku tak selama manusia.

Sejak itulah aku berdoa untuk Rina, terlebih setelah tahu ia mengandung bayi yang pasti akan meneruskan dakwah agama, kalam Ilahi. Sejak itu pula tak pernah lupa kuselipkan doa di antara tasbih. Bersama tumbuhan, batu, dan hewan lainnya di muka bumi, kami berbondong-bondong menyebut Asma-Nya.

Ingatan ini menamparku. Aku tidak boleh lagi menyerah, tidak akan pernah lagi berputus asa atas rahmat-Nya. Aku menggetarkan sayap kembali, kali ini masuk dari pintu dan memeriksa tiap inchi rumah sakit. Bau yang menyengat langsung tercium begitu aku masuk, membuatku pening seketika. Meski begitu, aku tetap bersikukuh mencari Rina.

Berjam-jam lamanya aku mencari. Membuat sayapku lelah. Dimana Rina? Aku berdoa kali ini agar aku menemukannya. Tidak maslaah jika waktuku habis untuk mencari, setidaknya aku berusaha daripada tak pernah mencoba. Bayi itu, bagaimana keadaannya? Jika boleh, ingin kutitipkan segala pengharapan tasbih ini padanya agar kelak ia tumbuh sholeh atau sholehah, pengharapan yang kubeikan sebagai kado untuk kelahirannya. Hari ulang tahunnya.

Oooeeee!” Tangisan seorang bayi menghentakkan tubuhku.

Aku tidak tahu insting mana yang memaksaku terbang membabi buta, mencari sumber tangisan itu.Suara tangisan itu semakin tersengar jelas, hampir napasku habis karena ketidaksabaran untuk segera menemukannya.

“Selamat ya, Bu! Anaknya laki-laki,”

Kutatap punggung dokter yang menyerahkan seorang bayi pada wanita berjilbab yang kurindu. Wanita itu menangis haru menggendong si bayi, ditemani sang suami di sisinya. Mereka tertawa meski air mata terus membanjir di pipi. Air mata yang juga mengalir di hatiku. Aku menangis dalam sepi. Memuji-Nya tak henti. Lemas sudah sayapku karena kupaksa terbang mencari, mungkin juga karena umurku telah habis.

Penantianku tak sia-sia. Aku berhasil melihat bayinya lahir. Bayi Rina. Bayinya terlihat tampan. Aku menarik napas perlahan, mencoba menetalkan napas yang tersengal, bersiap merapalkan doa-doa untuk si bayi. Bagi Capung sepertiku, tidak akan pernah ada tahun depan. Ulang tahun adalah waktu kelahiran.

“Jadilah anak yang sholeh, yang bisa membanggakan orang tuamu, jadilah hamba yang taat, yang tak memancing murka Tuhanmu, jadilah manusia yang berhati lembut dan ringan tangan seperti ibumu yang telah meloloskanku dari maut. Aku berdoa untukmu dan untuk ibumu,  Rina, serta seluruh keluarga dan keturunanmu. Tasbihku didengar oleh-Nya, aku bisa melihatmu lahir sebelum maut menjemputku, karena itu mintalah apapun pada-Nya. Ia takkan pernah mengecewakanmu. Aamiin.” Kututup doa-doaku sebagai kado atas ‘ulang tahun’-nya, sebelum akhirnya tubuhku limbung, tasbihku berhenti.
***



Biar tidak melulu romance, aku selipin cerpen berbau religi ya! Cerpen ini dimuat di buku kumpulan cerpen hasil lomba yang diselenggarakan oleh Penerbit Hanami tahun 2016 lalu. Kali ini aku ingat hehe. Waduh, judul bukunya apaan yak? Ah, iya! Cerita Lilin Kepada Hanami.
Lomba ini diselenggarakan untuk memperingati hari ulang tahun Penerbit Hanami dan saat itu aku menjadi PJ dari lomba ini.

Read More

[Cerita Pendek Romance Fantasi] Reinkarnasi

Ratna Juwita

Reinkarnasi? Bisakah sebuah cerita dongeng seperti reinkarnasi dipercaya? Bahwa setiap orang akan dilahirkan kembali dalam wujud yang berbeda setelah kematiannya? Bisakah?

“Radit,… jika, hanya jika… kau dihidupkan kembali, kau ingin menjadi seperti apa?” Erza menatapku dengan mata berbinar, seulas senyum berebut memenuhi bibirnya. Deg. Senyum yang biasanya selalu berhasil memorak-porandakan perasaanku itu, mendadak membuat kalut.

“Maksudmu?” Kulemparkan kembali sebuah tanya. Ia tergelak, entah karena ekspresiku yang mungkin terlihat bodoh atau justru memakiku dalam tawa.

Ia masih tertawa hingga beberapa saat kemudian, terdiam. “Kalau aku, aku… mungkin memilih untuk dilahirkan tidak sempurna.”

“Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, kau tidak pernah bersyukur dengan keadaanmu sekarang? Kau yang kini seorang mahasiswi teknik sipil dengan masa depan cerah, orang tua kaya, dan tubuh yang sempurna, apa yang ingin coba kau buktikan? Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi orang cacat sepertiku yang hanya bisa berjalan menggunakan kursi roda…” Tanpa sadar, aku malah seperti menceramahinya panjang lebar. Kubekap mulut lewat rahang yang mengatup cepat. Kukira, ia akan merasa kesal, tapi lagi-lagi yang kutemukan berikutnya adalah sebuah senyuman.

Aku tidak mengerti apa itu reinkarnasi dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Selama aku belum merasakannya, aku tidak akan pernah mempercayainya. Erza masih menatapku, lalu meredupkan pandangan. Aku tersentak ketika tiba-tiba ia, lenyap dari kedipan netra.
***

“Erza!” Kutemukan diri duduk di atas ranjang tempat tidur. Satu detik, dua detik, hingga beberapa menit berlalu aku masih tak mampu menerjemahkan yang telah terjadi. Sesaat yang lalu, aku bersama dengan… Erza?

Hanya mimpi? Aku berkutat dalam pikiranku sendiri. Mimpi? Semuanya terasa begitu nyata, hingga rasa kehilangannya pun masih membuatku larut dalam duka.

“Tunggu,… Erza?” kubertanya pada diri sendiri. “Siapa itu Erza? Radit? Dan sejak kapan namaku berubah menjadi Radit?” Kukucek kedua mata, menarik napas, dan mengembuskannya perlahan. Hanya mimpi. Mimpi bisa merubah nama, tempat, bahkan mungkin jenis kelamin. Ya, hanya mimpi, meski terasa nyata, mimpi memang bisa terasa sangat nyata. Aku terus mencoba meyakinkan diriku sendiri, meski kegalauan kemudian menyelimuti.
***

Hari ini adalah jadwalku untuk pergi ke Museum Batik Yogyakarta demi tugas makalah yang diberikan dosen mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Budaya. Baru saja kuintip dari jendela, seorang wanita berumur sekitar tiga puluhan, keluar dengan senyum terpatri di wajah.

“Museum Batik?” Aku mencoba memastikan karena bangunannya sudah terlihat tua, bahkan aku kesulitan mencari letak museum ini. Wanita itu mengangguk, mengantarku ke meja yang cukup panjang.

“Untuk tugas?” Aku mengangguk pasrah, wanita itu terlihat mencatat sesuatu di buku, lalu mengajakku berkeliling museum. “Oh ya, saya Ririn, salah satu pemandu di sini,” Ia memperkenalkan diri singkat, kemudian mulai menjelaskan batik mulai dari alat-alat, cara membuatnya, dan entah apa lagi karena aku justru terfokus menelanjangi motif-motif batik yang berderet di sepanjang ruangan.

   Aku tahu wanita itu mencoba memberikan informasi yang mungkin kuperlukan untuk pengerjaan tugas, namun perasaanku seperti tersedot masuk ke dalam setiap motif batik. Aku begitu menikmatinya, hingga sebuah motif begitu menarik perhatian. Motifnya sederhana, tidak ada yang spesial darinya. Hanya bulatan-bulatan lonjong seperti beton[1] yang bersilangan, lalu dua tanda silang kecil yang mengisi ruang kosong pada motif itu. Sederhana. Tapi, mengapa motif ini mampu menarik paksa memori mengenai mimpi semalam?

“Kau tertarik pada motif itu?” Sebuah suara yang sedikit serak, membawaku berpijak kembali. Aku menoleh dan kutemukan seorang wanita paruh baya, mendorong sebuah kursi roda. Jantungku tiba-tiba berdegup. Bu Ririn yang juga melihat kedatangan wanita itu langsung membungkukkan sedikit badannya. Wanita itu hanya mengangkat tangan, memberi tanda agar Bu Ririn meninggalkan kami.

Aku merasa tak asing dengan wanita ini, tapi siapa? “Anda…”

“Motif ini disebut motif Kawung Beton. Sesuai dengan bentuknya yang menyerupai biji buah nangka, ya?” Wanita itu tergelak kecil. Tawa yang juga terasa familiar. “Motif ini merupakan satu dari tujuh motif larangan. Apakah kau tahu apa itu motif larangan?” Aku hanya menggeleng dungu. “Motif larangan itu motif yang hanya dipakai oleh keluarga kerajaan di zaman dahulu, lain tidak. Rakyat biasa seperti kita tidak boleh menggunakan motif ini. Hebat, bukan? Ini adalah motif kesukaanku.”

Sebuah perasaan berhasil mengusik hingga dengan lancangnya, pertanyaan itu terlepas dari tenggorokan. “Nama Anda?”

Wanita itu tertawa kecil. Lagi. Benar-benar membuatku semakin penasaran. “Benar juga, aku belum memperkenalkan diri, namaku Erza,” DEG. Degup jantungku kembali mengambil alih napas yang memburu. Erza? Oh tidak, mengapa nama itu? Apakah ini semua hanya halusinasi?

“Er-za?” Kueja namanya pelan, memastikan pendengaran.

“Hei, aku mungkin 30 tahun lebih tua darimu, panggillah dengan lebih sopan. Dasar anak muda zaman sekarang.” Ia tergelak. Sepertinya ia tak pernah bisa lepas dari tawa. Bukannya merasa tersinggung, aku malah memerhatikan kakinya yang hanya sampai lutut. Diam-diam, aku merasa iba. “dan namamu, Nak?” Pertanyaan itu berhasil mencabut pandanganku dari kakinya.

“S-saya… Tidar,” Aku menjawab gugup. Wanita itu langsung terdiam, seketika senyum raib dari wajahnya. Setelah beberapa saat, ia kembali tersenyum, entah untuk jeda berapa lama, setelah itu ia memutar kursi rodanya. Pergi dari hadapanku.
***

Bermalam-malam, wajah nenek itu menggelayuti memori. Entah karena nama, atau gelak tawanya. Aku tidak ingin, sangat tidak ingin mengatakan bahwa ini cinta. Apakah aku sudah gila? Dia seorang nenek-nenek berusia sekitar lima puluh tahun? Cacat? Bagaimana bisa aku menyebutnya cinta?

Tapi sungguh, aku tak menyentuh makanan berhari-hari hingga rasanya tak ada tenaga dalam tubuhku. Aku serasa ingin mati. Tidak juga ingin ke kampus, tidak ada waktu yang tidak kuhabiskan untuk membayangkan kembali wajah dan memutar rekaman tawanya yang tersimpan dalam otak. Aku mengucek rambut dengan frustasi. Bagaimana? Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Tuhan, tidak mungkin aku mencintai seorang nenek-nenek yang cacat, bukan? Perasaan apa ini yang terus bersemayam dalam lubuk? Tiba-tiba aku teringat kembali pada mimpi itu. Mungkinkah? Aku membanting tubuh ke atas tempat tidur, mengambil segelas air dari meja, meneguknya cepat. Aku tidak bisa hanya diam, berjibaku dengan perasaan aneh ini.
***

“Mungkinkah?” Aku menatap lekat mata wanita tua yang bernama Erza itu. Ia Nampak tertegun di atas kursi roda. Tanpa terbendung lagi, kuceritakan semuanya, tentang mimpi dan mungkin perasaan bodohku padanya. Aku tidak kuat dan lebih memilih ditertawakannya daripada menanggung perasaan yang tak wajar ini.

Itu yang kuharapkan. Nyatanya, tidak ada seulas pun senyum terbit dari bibirnya. Ia terdiam, hanya memandang balik dengan arti yang tak mampu kuterjemahkan. Aku bisa merasakan gejolak dalam kepala ketika keheningan menciptakan kecanggungan yang baru untukku. Aku merasa sangat dungu.

“Mungkin.” Bu Erza (begitukah seharusnya aku memanggil?), menundukkan pandangan. “Ternyata memang, reinkarnasi itu ada…” Aku sama sekali tak mengerti apa yang dikatakannya hingga ia menceritakan mengenai pacarnya yang tiga puluh tahun lalu meninggal ketika hendak menyebrang jalan, lalu sebuah truk menabrak mereka. Sedangkan, ia sendiri kehilangan kedua kakinya akibat kecelakaan itu.

Sampai sekarang, ia tak pernah menikah dengan siapapun sambil berharap suatu saat dapat bertemu kembali dengan lelaki yang selalu dicintainya hingga saat ini, walaupun bukan lelaki itu seutuhnya. Ia juga menceritakan bagaimana ia dan Radit, pacarnya dulu, selalu pergi ke Museum Batik ini dan sama-sama menggemari motif Kawung Beton yang sebelumnya mengusik rasa keingintahuanku ketika pertama kali datang ke sini.

“Akhirnya, walaupun bukan lagi Radit, ia bereinkarnasi menjadi kamu, Tidar…” Bu Erza tersenyum untuk pertama kali hari ini, “dan lihatlah, kau berdiri di atas kedua kakimu, sekarang aku mengerti hal yang kau rasakan tiga puluh tahun lalu ketika kau duduk di kursi roda yang sama denganku seperti saat ini. Mungkin, ini karma, tapi aku tak pernah menyesalinya…” Bu Erza menitikkan air mata, “asalkan aku bisa melihatmu seperti ini, berdiri di atas kedua kakimu sendiri, meski kini kau menjadi orang lain.”

Tanpa sadar, air mataku ikut menitik mendengar semua ceritanya. Aku menghela napas berat. Kupandangi Bu Erza dari ujung rambut yang memutih hingga kakinya yang sudah tak utuh.

“Maukah kau menikah denganku?” Bu Erza terlihat kaget, ia menatapku sangsi. “Aku tidak main-main, ketika melihatmu pertama kali dan dadaku berdegup, itu bukan khayalan. Ketika takdir menuntunku kemari dan bertemu denganmu, itu bukan mustahil. Saya mempercayai Tuhan dan takdir. Meski sekarang kau tak memiliki kaki, atau bahkan jika kau hanya mampu berkedip, aku tetap ingin menikahimu. Tidak peduli apakah umur kita terpaut tiga puluh atau seratus, tolong kali ini terima aku sebagai Tidar.” Bu Erza membekap mulutnya, namun aku tahu masih tersimpan cinta di matanya, untuk aku, Tidar. “Terima kasih telah menungguku selama tiga puluh tahun, mari menghabiskan waktu bersama untuk puluhan tahun berikutnya.” ***


      Wadaw, kalau tidak salah ini cerpen kutulis di tahun 2015-an. Hmm, ini sebenarnya adalah salah satu cerpen "aib"-ku. Mengapa demikian? Lihat saja isinya hehe. Aku pernah menyuruh teman laki-lakiku membaca cerpen ini dan alhasil, sebagian dari mereka mengaku jijik karena membayangkan si tokoh utama menikah dengan seorang nenek-nenek! Wkwk.
Yah, namanya juga imajinasi, kadang liar begitu~



[1] Biji buah nangka

Read More

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com