Thursday, December 13, 2018

[Cerita Pendek Romance Fantasi] Reinkarnasi

Ratna Juwita

Reinkarnasi? Bisakah sebuah cerita dongeng seperti reinkarnasi dipercaya? Bahwa setiap orang akan dilahirkan kembali dalam wujud yang berbeda setelah kematiannya? Bisakah?

“Radit,… jika, hanya jika… kau dihidupkan kembali, kau ingin menjadi seperti apa?” Erza menatapku dengan mata berbinar, seulas senyum berebut memenuhi bibirnya. Deg. Senyum yang biasanya selalu berhasil memorak-porandakan perasaanku itu, mendadak membuat kalut.

“Maksudmu?” Kulemparkan kembali sebuah tanya. Ia tergelak, entah karena ekspresiku yang mungkin terlihat bodoh atau justru memakiku dalam tawa.

Ia masih tertawa hingga beberapa saat kemudian, terdiam. “Kalau aku, aku… mungkin memilih untuk dilahirkan tidak sempurna.”

“Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, kau tidak pernah bersyukur dengan keadaanmu sekarang? Kau yang kini seorang mahasiswi teknik sipil dengan masa depan cerah, orang tua kaya, dan tubuh yang sempurna, apa yang ingin coba kau buktikan? Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi orang cacat sepertiku yang hanya bisa berjalan menggunakan kursi roda…” Tanpa sadar, aku malah seperti menceramahinya panjang lebar. Kubekap mulut lewat rahang yang mengatup cepat. Kukira, ia akan merasa kesal, tapi lagi-lagi yang kutemukan berikutnya adalah sebuah senyuman.

Aku tidak mengerti apa itu reinkarnasi dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Selama aku belum merasakannya, aku tidak akan pernah mempercayainya. Erza masih menatapku, lalu meredupkan pandangan. Aku tersentak ketika tiba-tiba ia, lenyap dari kedipan netra.
***

“Erza!” Kutemukan diri duduk di atas ranjang tempat tidur. Satu detik, dua detik, hingga beberapa menit berlalu aku masih tak mampu menerjemahkan yang telah terjadi. Sesaat yang lalu, aku bersama dengan… Erza?

Hanya mimpi? Aku berkutat dalam pikiranku sendiri. Mimpi? Semuanya terasa begitu nyata, hingga rasa kehilangannya pun masih membuatku larut dalam duka.

“Tunggu,… Erza?” kubertanya pada diri sendiri. “Siapa itu Erza? Radit? Dan sejak kapan namaku berubah menjadi Radit?” Kukucek kedua mata, menarik napas, dan mengembuskannya perlahan. Hanya mimpi. Mimpi bisa merubah nama, tempat, bahkan mungkin jenis kelamin. Ya, hanya mimpi, meski terasa nyata, mimpi memang bisa terasa sangat nyata. Aku terus mencoba meyakinkan diriku sendiri, meski kegalauan kemudian menyelimuti.
***

Hari ini adalah jadwalku untuk pergi ke Museum Batik Yogyakarta demi tugas makalah yang diberikan dosen mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Budaya. Baru saja kuintip dari jendela, seorang wanita berumur sekitar tiga puluhan, keluar dengan senyum terpatri di wajah.

“Museum Batik?” Aku mencoba memastikan karena bangunannya sudah terlihat tua, bahkan aku kesulitan mencari letak museum ini. Wanita itu mengangguk, mengantarku ke meja yang cukup panjang.

“Untuk tugas?” Aku mengangguk pasrah, wanita itu terlihat mencatat sesuatu di buku, lalu mengajakku berkeliling museum. “Oh ya, saya Ririn, salah satu pemandu di sini,” Ia memperkenalkan diri singkat, kemudian mulai menjelaskan batik mulai dari alat-alat, cara membuatnya, dan entah apa lagi karena aku justru terfokus menelanjangi motif-motif batik yang berderet di sepanjang ruangan.

   Aku tahu wanita itu mencoba memberikan informasi yang mungkin kuperlukan untuk pengerjaan tugas, namun perasaanku seperti tersedot masuk ke dalam setiap motif batik. Aku begitu menikmatinya, hingga sebuah motif begitu menarik perhatian. Motifnya sederhana, tidak ada yang spesial darinya. Hanya bulatan-bulatan lonjong seperti beton[1] yang bersilangan, lalu dua tanda silang kecil yang mengisi ruang kosong pada motif itu. Sederhana. Tapi, mengapa motif ini mampu menarik paksa memori mengenai mimpi semalam?

“Kau tertarik pada motif itu?” Sebuah suara yang sedikit serak, membawaku berpijak kembali. Aku menoleh dan kutemukan seorang wanita paruh baya, mendorong sebuah kursi roda. Jantungku tiba-tiba berdegup. Bu Ririn yang juga melihat kedatangan wanita itu langsung membungkukkan sedikit badannya. Wanita itu hanya mengangkat tangan, memberi tanda agar Bu Ririn meninggalkan kami.

Aku merasa tak asing dengan wanita ini, tapi siapa? “Anda…”

“Motif ini disebut motif Kawung Beton. Sesuai dengan bentuknya yang menyerupai biji buah nangka, ya?” Wanita itu tergelak kecil. Tawa yang juga terasa familiar. “Motif ini merupakan satu dari tujuh motif larangan. Apakah kau tahu apa itu motif larangan?” Aku hanya menggeleng dungu. “Motif larangan itu motif yang hanya dipakai oleh keluarga kerajaan di zaman dahulu, lain tidak. Rakyat biasa seperti kita tidak boleh menggunakan motif ini. Hebat, bukan? Ini adalah motif kesukaanku.”

Sebuah perasaan berhasil mengusik hingga dengan lancangnya, pertanyaan itu terlepas dari tenggorokan. “Nama Anda?”

Wanita itu tertawa kecil. Lagi. Benar-benar membuatku semakin penasaran. “Benar juga, aku belum memperkenalkan diri, namaku Erza,” DEG. Degup jantungku kembali mengambil alih napas yang memburu. Erza? Oh tidak, mengapa nama itu? Apakah ini semua hanya halusinasi?

“Er-za?” Kueja namanya pelan, memastikan pendengaran.

“Hei, aku mungkin 30 tahun lebih tua darimu, panggillah dengan lebih sopan. Dasar anak muda zaman sekarang.” Ia tergelak. Sepertinya ia tak pernah bisa lepas dari tawa. Bukannya merasa tersinggung, aku malah memerhatikan kakinya yang hanya sampai lutut. Diam-diam, aku merasa iba. “dan namamu, Nak?” Pertanyaan itu berhasil mencabut pandanganku dari kakinya.

“S-saya… Tidar,” Aku menjawab gugup. Wanita itu langsung terdiam, seketika senyum raib dari wajahnya. Setelah beberapa saat, ia kembali tersenyum, entah untuk jeda berapa lama, setelah itu ia memutar kursi rodanya. Pergi dari hadapanku.
***

Bermalam-malam, wajah nenek itu menggelayuti memori. Entah karena nama, atau gelak tawanya. Aku tidak ingin, sangat tidak ingin mengatakan bahwa ini cinta. Apakah aku sudah gila? Dia seorang nenek-nenek berusia sekitar lima puluh tahun? Cacat? Bagaimana bisa aku menyebutnya cinta?

Tapi sungguh, aku tak menyentuh makanan berhari-hari hingga rasanya tak ada tenaga dalam tubuhku. Aku serasa ingin mati. Tidak juga ingin ke kampus, tidak ada waktu yang tidak kuhabiskan untuk membayangkan kembali wajah dan memutar rekaman tawanya yang tersimpan dalam otak. Aku mengucek rambut dengan frustasi. Bagaimana? Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Tuhan, tidak mungkin aku mencintai seorang nenek-nenek yang cacat, bukan? Perasaan apa ini yang terus bersemayam dalam lubuk? Tiba-tiba aku teringat kembali pada mimpi itu. Mungkinkah? Aku membanting tubuh ke atas tempat tidur, mengambil segelas air dari meja, meneguknya cepat. Aku tidak bisa hanya diam, berjibaku dengan perasaan aneh ini.
***

“Mungkinkah?” Aku menatap lekat mata wanita tua yang bernama Erza itu. Ia Nampak tertegun di atas kursi roda. Tanpa terbendung lagi, kuceritakan semuanya, tentang mimpi dan mungkin perasaan bodohku padanya. Aku tidak kuat dan lebih memilih ditertawakannya daripada menanggung perasaan yang tak wajar ini.

Itu yang kuharapkan. Nyatanya, tidak ada seulas pun senyum terbit dari bibirnya. Ia terdiam, hanya memandang balik dengan arti yang tak mampu kuterjemahkan. Aku bisa merasakan gejolak dalam kepala ketika keheningan menciptakan kecanggungan yang baru untukku. Aku merasa sangat dungu.

“Mungkin.” Bu Erza (begitukah seharusnya aku memanggil?), menundukkan pandangan. “Ternyata memang, reinkarnasi itu ada…” Aku sama sekali tak mengerti apa yang dikatakannya hingga ia menceritakan mengenai pacarnya yang tiga puluh tahun lalu meninggal ketika hendak menyebrang jalan, lalu sebuah truk menabrak mereka. Sedangkan, ia sendiri kehilangan kedua kakinya akibat kecelakaan itu.

Sampai sekarang, ia tak pernah menikah dengan siapapun sambil berharap suatu saat dapat bertemu kembali dengan lelaki yang selalu dicintainya hingga saat ini, walaupun bukan lelaki itu seutuhnya. Ia juga menceritakan bagaimana ia dan Radit, pacarnya dulu, selalu pergi ke Museum Batik ini dan sama-sama menggemari motif Kawung Beton yang sebelumnya mengusik rasa keingintahuanku ketika pertama kali datang ke sini.

“Akhirnya, walaupun bukan lagi Radit, ia bereinkarnasi menjadi kamu, Tidar…” Bu Erza tersenyum untuk pertama kali hari ini, “dan lihatlah, kau berdiri di atas kedua kakimu, sekarang aku mengerti hal yang kau rasakan tiga puluh tahun lalu ketika kau duduk di kursi roda yang sama denganku seperti saat ini. Mungkin, ini karma, tapi aku tak pernah menyesalinya…” Bu Erza menitikkan air mata, “asalkan aku bisa melihatmu seperti ini, berdiri di atas kedua kakimu sendiri, meski kini kau menjadi orang lain.”

Tanpa sadar, air mataku ikut menitik mendengar semua ceritanya. Aku menghela napas berat. Kupandangi Bu Erza dari ujung rambut yang memutih hingga kakinya yang sudah tak utuh.

“Maukah kau menikah denganku?” Bu Erza terlihat kaget, ia menatapku sangsi. “Aku tidak main-main, ketika melihatmu pertama kali dan dadaku berdegup, itu bukan khayalan. Ketika takdir menuntunku kemari dan bertemu denganmu, itu bukan mustahil. Saya mempercayai Tuhan dan takdir. Meski sekarang kau tak memiliki kaki, atau bahkan jika kau hanya mampu berkedip, aku tetap ingin menikahimu. Tidak peduli apakah umur kita terpaut tiga puluh atau seratus, tolong kali ini terima aku sebagai Tidar.” Bu Erza membekap mulutnya, namun aku tahu masih tersimpan cinta di matanya, untuk aku, Tidar. “Terima kasih telah menungguku selama tiga puluh tahun, mari menghabiskan waktu bersama untuk puluhan tahun berikutnya.” ***


      Wadaw, kalau tidak salah ini cerpen kutulis di tahun 2015-an. Hmm, ini sebenarnya adalah salah satu cerpen "aib"-ku. Mengapa demikian? Lihat saja isinya hehe. Aku pernah menyuruh teman laki-lakiku membaca cerpen ini dan alhasil, sebagian dari mereka mengaku jijik karena membayangkan si tokoh utama menikah dengan seorang nenek-nenek! Wkwk.
Yah, namanya juga imajinasi, kadang liar begitu~



[1] Biji buah nangka

What do you think? :

3 comments:

  1. Bagus, suka diksinya. Soal menikah dgn nenek2, di kehidupan nyata emang ada kan, viral lagi. Wkwk

    ReplyDelete

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com