Thursday, December 13, 2018

[Cerita Pendek Romantis] Angkasa di Telaga Sarangan

Ratna Juwita

Biar kugeluti naskah-naskah rindu
Rindu yang buntu

“Rindu yang buntu?”

Bahu Canisa terangkat, kaget. Cepat-cepat ditutupnya buku catatan kecil yang selalu dibawa kemanapun ia menjejakkan langkah. Canisa melirik Adit sekilas. Adit tergelak, ia tahu Canisa paling tidak suka jika buku catatannya dibaca oleh siapapun, apalagi dirinya yang baru mengenal Canisa tiga bulan belakangan.

Adit mengulurkan satu botol minuman dingin pada Canisa yang sedang duduk menikmati Telaga Sarangan. Sengaja ia menyerahkannya dalam posisi berdiri, iseng agar Canisa mendongak ke atas—ke arahnya—meskipun ia sendiri tahu Canisa takkan pernah mendongak. Canisa berdiri setelah sebelumnya mengembuskan napas kesal atas keisengan Adit.

“Sampai kapan kau akan terus berbuat iseng padaku?” Canisa merebut botol minuman dari tangan Adit, kemudian duduk kembali.

Adit tersenyum kecut, tak menjawab. Ia baru mengenal gadis berkuncir kuda itu lima bulan belakangan. Saat itu, Adit tengah memetik buah mangga dari pohon di depan halaman rumahnya, Mangga jatuh tepat di kepala Canisa yang kebetulan sedang lewat. Tanpa diduga, Canisa menjerit histeris dan langsung limbung, melindungi kepalanya. Adit yang khawatir, langsung bergegas turun untuk melihat keadaan Canisa sambil terus menggulirkan kata maaf.

Sejak itu ia terus berusaha menemui Canisa yang merupakan tetangga barunya untuk meminta maaf. Sedikit banyak, ia penasaran pada Canisa yang menjerit histeris hanya karena kejatuhan Mangga. Setelah sebulan ia bersikukuh, Canisa akhirnya menceritakan pada Adit—tetangga yang dianggapnya menjengkelkan itu—bahwa ia mengidap fobia aneh yang disebut Anablephobia; ketakutan untuk melihat ke atas karena merasa langit akan runtuh.

Adit meletakkan pantatnya di samping Canisa. “Jadi, rindu apa yang buntu itu?” Canisa melirik Adit dari sudut mata sembari terus menenggak air.

Canisa mengatupkan botol minum dengan tutupnya. Ia tahu Adit takkan pernah berhenti dari rasa penasaran seperti ketika menanyakan alasannya berteriak histeris kejatuhan Mangga.

“Rindu pada orang tuaku. Buntu karena mereka telah tiada dan rinduku akan selalu menemui jalan buntu.” Canisa melemparkan kembali pandangan kembali ke telaga dengan kepala yang terus menunduk, seolah telaga itu hanya ada air tanpa langit.
***

“Ayah meninggal ketika aku berusia tujuh tahun.” Tepat ketika Adit membuka mulut, Canisa sudah menyahut lagi. “Kejadian WTC kau ingat? Sebelas September dua ribu satu,” Canisa menyembunyikan genangan air mata yang mulai bercucuran. Kejadian mengerikan itu takkan pernah bisa hilang dari ingatnya. Bergelayut memanja sesak dan bergumul menyiangi bahagia.

Adit bungkam, namun matanya kelabakan mencari tisu atau sejenisnya. Nihil. Bersama para wisatawan lain, mereka bergulat dengan dingin di balik mantel hangat yang dikenakan. Adit meneguk ludah susah payah, akhirnya ia memetik selembar daun dan menyerahkannya dengan lugu pada Canisa. Canisa tersenyum tipis; menolak alternatif konyol Adit.

Ia sengaja mengajak Canisa pergi ke Telaga Sarangan untuk memberikannya waktu menyelami masa lalu gadis bermata coklat itu. Adit berharap, ia bisa membantu Canisa mengobati fobianya yang terasa tak masuk akal itu, tapi ia sendiri bingung bagaimana.

Canisa menoleh dengan mata sembab yang masih menyisakan raut manis. “Ibuku meninggal lima bulan lalu—ya tepat saat aku pindah ke samping rumahmu dan kau jatuhi dengan Mangga. Penyakit jantung telah merenggutnya dari hidupku.” Canisa merapatkan jaket. “Aku tidak tahu sejak kapan fobia ini menghinggapi alam bawah sadar, tapi setiap kali mengingat tentang Ayah, aku takut. Aku berada tepat di samping Ayah ketika gedung itu runtuh, perabotan jatuh, bahkan beton di atas kepala kami yang saat itu berada di lantai satu gedung WTC, berhamburan layaknya hujan. Ayah bersusah payah menyelamatkan aku dan Ibu di tengah kepanikan dan teriakan itu. Masih terasa olehku pelukan Ayah yang hangat sebelum akhirnya reruntuhan itu menimbun Ayah yang lebih mengutamakan keselamatan kami—aku dan ibu,”

Telinga Adit terasa panas. Panas mendengar tangis Canisa dan cerita tragis itu. Ia bisa mengerti sekarang asal ketakutan itu. Bukan tak beralasan, fobia Canisa benar-benar berasal dari pengalaman hidup paling mengerikan yang pernah ia tahu. Adit takkan pernah bisa membayangkan berada di posisi Canisa. Mendengar dentuman pesawat yang menabrak gedung, merenggut jutaan nyawa, serta segala histeria mengiba. Meminta hidupnya diselamatkan.
***

Menjelang malam, Adit menuntun Canisa ke tepi telaga. Di sekeliling mereka, banyak wisatawan yang menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan, seperti nyala lilin kecil di kejauhan. Lilin kecil yang entah bagaimana terasa hangat. Adit membuka penutup mata Canisa.

“Aku ingin menunjukkan padamu keindahan langit malam.” Adit berjongkok, menuruti arah mata Canisa yang tak pernah mau terangkat.

“Adit, aku tahu kau ingin membantuku, tapi—“

“Tidak.” Adit menjaring mata teh Canisa yang berkilau karena pantulan sinar bulan di atas telaga. “Jangan melihat ke atas. Lihatlah telaga ini seperti biasa.”

Meski sedikit, Adit bis melihat mata Canisa bergerak, meski bukan ke atas, mata itu memandang telaga yang tebentang. Canisa terperangah melihat pantulan bulan dan bintang di atas telaga. Matanya berbinar meski hanya pantulan dari langit yang berombak. Mata Canisa mengembun. Ia tak pernah berpikir bahwa langit bisa dilihat tanpa harus memandang ke atas.

“Pertama kali aku mendengar namamu, kau mengingatkanku pada bintang yang miliaran kali lebih besar dari matahari, bintang VY Canis Majoris.” Canisa tak melepaskan pandangan dari telaga.

“Oya, kau pernah mengatakan padaku kau sangat suka angkasa, kan?” Canisa mengalihkan pandangan pada Adit yang disambut anggukan sebagai jawaban.

“Aku sangat menyukainya, langit begitu indah terutama di malam hari. Dan aku ingin berbagi keindahan itu denganmu.” Canisa mengerutkan kening, memandang Adit. “Apa kau pernah melihat tiang langit?” Adit mencoba mengalihkan pembicaraan. Canisa tidak menyadari wajah Adit yang bersemu ketika ia memandangnya.

 “Maksudmu? Mana mungkin langit memiliki tiang?”

“Menurutmu, bagaimana Tuhan menciptakan langit tanpa tiang? Menurutmu apakah langit digantung? Mengapa ia tidak runtuh?” Canisa terdiam. Mulai mengerti arah pembicaraan Adit. Canisa memutuskan untuk tak menjawab. Mereka dicekam keheningan beberapa saat. Canisa menunduk, menggosokkan kedua telapak tangannya. “Aku takkan mengatakan kau meremehkan Tuhan dengan merasa takut bahwa langit akan runtuh. Dia ada di sana sejak dahulu kala, sejak dinosaurus atau Homo Sapiens, tapi ia tak pernah menunjukkan bahwa ia akan retak atau runtuh—”

“Adit, ini tak sesederhana itu—“

“Jika bukan aku, biarlah alam yang memaksamu mendongak suatu hari. Kau akan begitu menikmati dan merindukan langit. Di atas langit tak ada bangunan yang akan runtuh, Canisa. Percayalah pada Tuhan bahwa Ia tak menciptakan langit untuk ditakuti.” Mata mereka bertautan. Canisa tak habis pikir, Adit selalu bisa membuatnya bungkam.

Canisa tak pernah tahu. Jauh sebelum mereka datang ke telaga, sejak Adit menjatuhkan mangga ke kepalanya, Adit jatuh cinta padanya. Dorongan paling kuat untuknya ingin membantu Canisa menikmati langit dan menghilangkan fobianya.

Dan Adit tak pernah tahu, ada sesuatu yang bergejolak dalam hati Canisa sejak saat itu. Canisa juga tak menyadarinya, yang ia mengerti adalah ia dibuat kagum oleh kata-kata dan sikap Adit padanya. Tak pernah lebih. Mungkin, suatu saat ia akan benar-benar kehilangan ketakutannya untuk melihat ke atas. Walaupun semua itu masih mungkin, ia percaya, Adit atau alam sendiri yang akan menuntun matanya ke angkasa. Suatu saat. Ia tidak tahu kapan, ia akan merindu pada telaga yang penuh gemintang itu. Pasti.
***
Yogyakarta, 1 Juni 2016

Yak, dulu aku memang suka banget menulis cerita romance karena memang itu adalah genre favoritku dulu. Biasalah, ABG labil gitu. Ya, walaupun menye-menye, bagaimanapun juga ini adalah hasil karyaku. Aku yakin cerpen ini juga masuk ke kumpulan cerpen dari hasil lomba, namun sekali lagi aku tidak ingat penerbit apa. Buku catatanku tentang itu hilang atau di rumah. Sekarang, aku sedang kos. Jadi, aku hanya post cerita lama sekalian mengisi kekosongan dalam hatiku eh maksudnya blog baruku ini.


Bagi yang mau melihat-lihat blog lamaku bisa banget kunjungi akihabaranime.blogspot.com. Blog yang kubuat ketika masih labil-labilnya masalah jejepangan hehe.
What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com