Thursday, December 13, 2018

[Cerita Pendek Romantis] Bias Cahaya Phoenix

Ratna Juwita

Srak!

Aku tertegun. Baru saja aku melihat sesuatu melintas dengan cepat dari pantulan kaca. Sinar matahari berhasil membiaskan pandangan, tak mengizinkanku menelaahnya baik-baik.

Kucoba mengais sisa-sisa pergerakannya, tapi nihil. Burung? Aku menyangsikannya. Benda itu jauh lebih besar dari seekor burung. Aku mencoba menyerah terhadap segala dugaan, tapi netra tak bisa lepas dari posisi lenyapnya. Ketika tersadar, kutemukan diri mematung di depan sebuah ruangan di ujung lorong, ruangan terakhir untuk menemukan ‘burung’ itu.

“Murid pindahan?”

Aku tersentak mendapati suara yang terdengar halus dan bergetar. Tak butuh waktu lama untukku menemukan seorang wanita paruh baya dengan uban hampir menyelubungi seluruh kepalanya. Mulutku terbuka, tapi tak mampu bicara. Akhirnya, hanya anggukan kepala yang mewakili jawabanku.
***

Esoknya, aku tak bisa menahan diri untuk tidak pergi ke ruangan ini lagi. Ruangan dengan tulisan ‘Perpustakaan’ di atas kayu lapuk, menggantung di pintunya.

Aku tidak menemukan wanita paruh baya yang kemarin menyapaku. Kakiku melangkah masuk, menjejali mata dengan rak-rak kayu yang terlihat tua dengan buku-buku yang berjejer rapi. Sebuah pemandangan yang sedikit aneh mengingat betapa tuanya perpustakaan ini, namun hanya sedikit debu yang menghuni.

Ruangan ini sepi. Seakan hanya ada aku di sini. Mataku menangkap sebuah judul buku yang menarik, ‘Phoenix’. Aku terkejut ketika sebuah tangan lain juga mencoba meraih buku itu. Aku menoleh, beradu pandang dengannya. Seorang laki-laki yang cukup jangkung dengan mata hitam legam, mengingatkanku pada mata boneka panda di kamar. Aku menahan napas ketika tatapan tajamnya membuat jantungku berdebar. Kukira hanya ada aku di sini.

“Kau mau membaca buku ini?” Ia mengambil buku berjudul ‘Phoenix’ itu dan menyerahkannya padaku. Aku menerimanya dengan gagu. “Baguslah, kalau begitu aku akan membaca ini dulu.” Ia mengatakannya sambil mengambil buku ‘Sejarah Perpustakaan’.

“Lagi-lagi buku itu? Sudah berapa kali kau membacanya, Arka?”

Aku dibuat tersentak untuk kesekian kali, wanita paruh baya yang kemarin, kini telah berada di sampingku. Wanita itu kemudian mengalihkan pandangan dari cowok yang dipanggilnya Arka, padaku. Ia tersenyum, membuatku gugup.

“Aku ingin menjadi pustakawan, jadi aku harus sering membacanya, Bu,” Arka mengedikkan bahu, “ Zenodotus dari Ephesus sudah merebut gelar pustakawan pertama di dunia, dariku, jadi aku harus bisa lebih hebat darinya.” Arka tersenyum kali ini. Aku hanya memandangi keduanya, mereka berbicara seperti dua orang teman lama.

Wanita itu terkekeh, tak mempedulikan ucapan Arka. “Nah, jadi siapa namamu, Nak?”

 “Saya?” Aku memastikan diri. “Nama saya Irine.”

“Wah, namamu sama dengan tokoh wanita dalam serial Sherlock Holmes, wanita yang mampu mengimbangi kecerdasan Sherlock Holmes, Irine Adler.” Arka terlihat antusias. Jelas sekali ia memiliki pengetahuan yang luas, membuatku diam-diam mengaguminya.
***

Aku jadi lebih sering bertemu dengan Arka. Dimanapun, ia seolah selalu tertangkap dalam mataku. Meski dalam kerumunan, aku selalu bisa menemukannya. Ia selalu menyapa ketika berpapasan denganku, menjadikannya teman pertamaku di sekolah ini. Aku bukan murid pindahan baru, sudah sekitar lima bulan aku di sini, tapi aku tak merasa benar-benar memiliki seorang teman. Apakah semua karena kemampuan bersosialisasiku yang buruk?

“Kau menyukainya?” Pertanyaan itu tiba-tiba menusuk gendang telinga, membuatku kalang kabut dalam diam. Aku memandang wanita paruh baya penjaga perpustakaan sekolah, yang baru-baru ini kuketahui bernama Bu Rhea. Aku gelagapan tanpa alasan, mengayuh otak sesegera mungkin untuk menjabarkan kata. Pertanyaan itu berhasil membuatku merasa kacau.

“Bu-bukan begi—“

“Perpustakaan memang mengagumkan, kau bisa menemukan banyak ilmu di sini,” Bu Rhea melanjutkan, membuatku merasa konyol karena salah menangkap maksud pertanyaannya. “Seolah kau sedang mengelilingi dunia hanya dengan duduk, merengkuh cakrawala hanya dengan melihat, dan mengetuk empati hanya dengan membaca.” Bu Rhea menerawang, membuatku dapat melihat jelas kerutan di bawah mata, tanda betapa waktu telah menuakannya.

Aku masih terdiam, menunggu Bu Rhea melanjutkan kata-katanya. Mendengarkan selalu membuatku lebih nyaman dibandingkan berbicara. Aku memang tak pandai bicara. Pun, pepatah selalu mengatakan bahwa lidah adalah benda paling tajam di dunia, membuatku ngeri. Berapa banyak orang yang telah tersakiti oleh kata-kataku? Lalu pertanyaan itu membuatku bungkam.

“Seperti pengetahuan mengenai burung ini,” Bu Rhea tiba-tiba menunjuk buku yang kupinjam, ‘Phoenix’.  “Phoenix dipercaya hidup di daratan Persia, hidup dengan membakar dirinya, kemudian dari abunya muncul Phoenix muda, seperti reinkarnasi, seakan Phoenix adalah burung yang abadi, dan memang begitulah mitosnya.”

 Kata-kata Bu Rhea mengingatkanku pada sesuatu yang kuanggap ‘burung’ beberapa waktu lalu. Aku masih belum mendapatkan titik terang dalam hal itu. Ataukah itu hanya ilusi?

“Kurasa, ini satu-satunya buku yang belum dibacanya.”

Aku mengerutkan kening mendengar perkataan Bu Rhea. “Maksud Ibu?”

“Arka. Coba kau periksa semua kertas peminjaman di balik setiap buku di perpustakaan ini. Di sana akan selalu ada namanya, kecuali di buku ini.”

Aku melongo. Bu Rhea tidak terlihat kaget dengan reaksiku. Arka telah membaca hampir semua buku di perpustakaan ini? Segigih itukah ia ingin menjadi seorang pustakawan? Apakah menjadi seorang pustakawan berarti harus membaca seluruh buku yang ada? Dia gila.

“Dia selalu bisa mengejutkanku.” Aku tersenyum, begitu juga Bu Rhea. “Dia teman pertamaku di sini, maksudku selama lebih dari lima bulan di sini, aku sulit bersosialisasi, ataukah aku yang membatasi diri?” Aku tergelak sendiri.

“Kalau begitu mari kita bersahabat. Jika Arka adalah teman pertamamu, jadikan aku sahabat pertamamu.” Bu Rhea mengulurkan jari kelingkingnya. Aku menatap jari kelingking itu dengan ragu. Dalam benakku, terjuntai banyak pertanyaan yang tak dapat kusebutkan. “Apakah anak muda sekarang hanya bersahabat dengan anak seusianya? Umurku memang telah beranjak 53 tahun, tapi jiwaku belum setua itu. Arka sudah menjadi sahabatku, mengapa kamu tidak?”

Ah, Arka lagi. Ia selalu selangkah di depanku. Aku mengulurkan tangan, mengaitkan kelingkingku dan kelingking Bu Rhea. “Tapi, saya rasa ini persahabatan yang singkat. Dua hari lagi, saya akan pindah.”
***

Dua hari, waktu yang begitu singkat. Tak cukup untuk membuatku menemukan Arka. Aku tak lagi berpapasan atau menangkap sosoknya dalam kerumunan. Ia seakan hilang begitu saja. Ah, apakah aku harus pergi tanpa bisa melihat sosoknya untuk terakhir kali? Sampai saat terakhir aku mengais bayangnya, tak kutemu. Aku menyerah. Kugenggam erat buku ‘Phoenix’, lalu melangkah menuju perpustakaan untuk mengembalikannya. Selamat tinggal, Arka.
***

Aku duduk di dalam mobil dengan perasaan yang tak dapat diterjemahkan. Bahkan, ketika mobil mulai melaju, hatiku masih terasa berat meninggalkan sekolah ini. Mungkin aku hanya berteman dengan Arka dan bersahabat dengan Bu Rhea, tapi mereka mengajarkanku banyak hal. Belum jauh, tapi aku sudah merindui perpustakaan tua itu. Tempatku pertama kali bertemu dengan Arka dan Bu Rhea, memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru dari mereka. Pun, sampai akhir aku tak pernah tahu ‘burung’ yang kulihat saat itu.

Ah, mungkin di sekolahku yang baru, tempat pertama yang akan kukunjungi adalah perpustakaan. Mungkin di sana tidak ada Arka dan Bu Rhea, tapi dari sana aku bisa menjelajah dunia tanpa bergeming. Arka, akankah suatu saat ia benar-benar akan menjadi seorang pustakawan? Aku harap, ia takkan pernah menyerah pada mimpi dan segala kegilaannya, aku pun merinduinnya.

Tanpa sadar, air mataku menetes. Sungguh, untuk pertama kali aku merasa sangat berat meninggalkan sekolah. Meski sudah berulangkali aku berpindah sekolah, tapi kali ini terasa paling menyesakkan. Aku meremas rok abu-abuku, menahan rasa yang membuncah dalam dada. Memang benar, takkan pernah ada orang yang terbiasa dengan kehilangan.

Srak!

Aku terperangah, seakan sesuatu  terbang membelah udara. Sayap, tangannya serupa sayap yang mengepak membelakangi matahari, nampak seperti Phoenix yang bercahaya. Persis seperti saat kulihat dari kaca waktu itu, sesuatu yang seolah terbang.

Ayah mengerem mobil dengan sigap, membuatku hampir terjungkal. ‘Burung’ itu mendarat di depan mobil, bergulingan. Buru-buru aku menghambur keluar.

“Arka?” Aku memandangnya tak percaya. Ia tersenyum sambil mengusap kepala, meski luka jelas menempel di sekujur tubuh. Kulihat papan skateboard tergeletak di sampingnya. “Apa yang kau lakukan? Kau melompat dengan papan skateboard dari atas? Kau sudah gila?”

“Ya, aku sudah gila.” Ia berdiri, sedikit kepayahan. “Dan pengecut, malah menghilang dari pandanganmu setelah tahu kau akan segera pindah. Aku juga bodoh, menuruti egoku untuk tak bertemu denganmu, tapi aku tak bisa.” Ia mengangkat secarik kertas yang terlihat lusuh. Jantungku berdegup kencang. Itu surat yang kuselipkan di buku ‘Phoenix’, sebelum kukembalikan.

“Ah, itu...” Kulirik ayah yang masih diam di balik kemudi, memberi ruang untuk kami.

“Kita tidak tahu apakah suatu saat, kita bisa bertemu lagi atau tidak, tapi...” Ia memungut papan skateboard-nya, ”selama kita tak menyerah pada keyakinan bahwa suatu hari kita akan betemu, kita pasti bertemu. Aku pun percaya pada hal yang kuyakini bahwa aku tidak akan pernah melepaskan hal yang berharga bagiku; menjadi pustakawan dan kamu, Irine.” Ia mengatakannya dengan mata yang tulus, membuat air mataku mengalir.

“Jadilah pustakawan hebat dan biarkan takdir menuntun kita. Aku takkan pernah menyerah pada hal yang kuyakini.” Aku mengulang kata-kata yang kutulis dalam surat itu. Ia mengangguk puas.

 Sebelum pergi, aku menatapnya untuk terakhir kali. Aku menemukanmu, Burung Phoenix. ***

Wah, ini adalah salah satu cerpen favoritku sebenarnya. Tidak ada yang istimewa sih selain ada unsur mitosnya. Mengenai Burung Phoenix. Aku selalu suka hal-hal berbau mitos, sejarah yang kemudian dijadikan certa fiktif. Jadi, greget gitu entah mengapa.
Ini juga cerpen lomba kok, kalau tidak salah juga dibukukan, tapi aku tidak punya catatanya aku lupa mencatatnya di mana. Aku hanya ingin posting saja sih, semoga para pembaca menyukainya!

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com