Thursday, December 13, 2018

[Book Review] Fantasi Lokal Ala Dharitri Karya Nellaneva


Judul : Dharitri
Penulis : Nellaneva
Penerbit : Histeria
Tebal : 364 hlm.
Cetakan : I, November 2017
ISBN : 978-602-5469-22-0

Rate : 3.5/5





Pada tahun 2279, serratus lima puluh tahun setelah Perang Dunia III meletus, sisa umat manusia dikumpulkan dalam naungan Dunia Baru berbasis Persatuan Unit. Dunia Baru tersebut diyakini sebagai dunia yang lebih baik bagi sisa umat manusia di bumi. Pernyataan itu rupanya tidak berlaku bagi Ranala Kalindra.

Ranala yang berusaha kabur dari Persatuan Unit mengalami kecelakaan hingga terdampar di sebuah negeri asing bernama Dharitri dan bertemu dengan makhluk hibrida yang diberi nama Lal. Ranala merasa menemukan rumah baru, yang membuatnya harus menyembunyikan identitasnya sebagai penduduk Persatuan Unit. Ranala mengubah namanya menjadi Aran lalu bergabung dengan Adhyasta Hibrida, pasukan elit Bala Karta yang menangani makhluk hibrida.

Namun, ada seseorang yang mengetahui identitas asli Aran. Seseorang yang selalu mengawasi Aran dan menunggu saat yang tepat untuk menyingkirkannya.




Semua orang punya kesempatan untuk berubah, Abisatya. Kau tinggal menentukan mau mengambil kesempatan itu atau tidak.” [Noui, hlm. 349]

Ada yang belum kenal dengan “Dharitri”? Apa? Buku terjemahan? Bukan. Dharitri adalah novel asli penulis Indonesia: Nellaneva. Di bagian belakang buku, tertulis bahwa Nellaneva adalah peracau yang terlalu sering berkhayal dan menulis untuk melegakan diri. Dalam kesehariannya, ia mendalami bidang mikrobiologi.

Sudah ketahuan ‘kan kalau novel ini berbau fantasi? Eits, sudah ketahuan dari judul review ini juga, ya.

Aku jatuh cinta pada novel ini pertama kali ketika membaca judulnya: “Dharitri”. Seperti ada kesan yang misterius dan garang, serta membawa-bawa unsur sejarah. Ketika mendengar kata “Dharitri”, otomatis otakku memprosesnya sebagai cerita yang kemungkinan besar bercerita tentang sejarah lama, tapi kemudian cover terbarunya yang berwarna biru dongker, warna kesukaanku, menyajikan gambar naga!

Cerita berkutat dengan alur campuran mengenai Ranala Kalindra atau selanjutnya dipanggil Aran, perempuan yang berniat bunuh diri karena tiga kali gagal lolos seleksi “PNS”. Tiga adalah angka maksimal dan ia tidak bisa memenuhi harapan orang tuanya. Latar cerita dalam novel adalah sebuah tempat yang disebut “Dunia Baru”. Dunia Baru terbentuk setelah berakhirnya era “Dunia Lama” yang sebagian besar luluh lantah akibat Perang Dunia III. Setelah perang berakhir, manusia tersisa di muka bumi membentuk Persatuan Unit. Namun, tanpa penduduk Persatuan Unit sadari, ada “dunia lain” di luar dunia mereka yang disebut “Dharitri”.

Keinginannya untuk bunuh diri kemudian membawanya pada berbagai masalah pelik dan perjalanan hidup yang berbeda dari hidup “normal”-nya. Takdir kemudian menuntunnya bertemu Lal, naga terluka yang tak sengaja ia temui di dalam hutan. Bersama-sama, ia dan Lal menapaki kehidupan baru yang menegangkan. Berbagai kenaasan dialami oleh Aran, alih-alih kebahagiaan. Ternyata, ada dalang dari semua kekacauan hidupnya itu. Tidak lain adalah Shreyas, lelaki misterius yang mukanya selalu ramah, tapi licik dan Cakra, anak presiden sekaligus kapten Adhyasta Hibrida, pasukan elit Dharitri.

Berlatar waktu tahun 2279, pembaca dibawa berkelana ke alam imajinasi penulis yang menggambarkan dengan rinci keadaan dunia secara “futuristik”. Bukan. Bukan dunia penuh teknologi yang canggih, melainkan dunia yang lebih sederhana, tapi juga kompleks di beberapa bagian.

Kita tidak akan merasa asing dengan penggambaran tempatnya karena masih bisa dibayangkan dengan analogi keadaan bumi yang sekarang. Contohnya, Dharitri digambarkan terletak di tempat yang di “Dunia Lama” disebut Borneo. Tentu mudah dibayangkan, bukan?

Imajinasi penulis benar-benar dituangkan tanpa tedeng aling-aling. Seolah, dunia dalam novel ini memang benar-benar ada dan nyata. Keberadaan naga yang dalam cerita merupakan hewan yang diciptakan dari mutasi genetik pada Perang Dunia III ini pun sukses membuatku bersorak kegirangan.

Kejadian demi kejadian yang dialami Aran tidak pernah alpa memicu adrenalinku. Jantungku dibuat kebat-kebit membaca kata demi kata, pertarungan demi pertarungan, dan serentetan kejadian yang terus menggiringku membalik halaman demi halaman. Sangat seru “menyaksikan” pertarungan naga dengan para hibrida lainnya.

Kelebihan dari novel ini adalah fantasi lokal yang cukup menjanjikan. Walaupun ada beberapa hal yang terasa “miss” dan aku pertanyakan, novel ini sangat asyik untuk dibaca saat santai. Aku sampai terus terngiang dengan cerita novel ini yang tidak mudah ditebak, bertanya-tanya akan dibawa kemana ceritanya setelah ini.

Kekurangan

Kekurangan novel ini yaitu lebih banyak porsi narasi ketimbang dialognya. Selain itu, karakter tokoh-tokohnya terasa kurang kuat dan kurang membekas. Aku masih sukar membayangkan bentuk fisik Aran, Cakra, dan Shreyas, padahal mereka adalah tiga tokoh utama dalam novel ini. Apalagi, karakteristik tokoh figuran lain seperti Malakar, Brenda, Dylan, dan sebagainya.

Di samping itu peran Lal, si naga, tidak terlihat begitu menonjol dalam novel. Padahal, mungkin akan lebih seru lagi apabila ia memiliki peranan yang signifikan dalam konflik-konfliknya. Kurasa, cerita ini butuh ditulis lebih panjang supaya penulis lebih bisa mengeksplorasi para tokoh atau mengurangi porsi ceritanya agar bisa lebih mendetil.

Lalu, jika ada penambahan gambar karakter maupun naga, denah lokasi maupun “bentuk” dari Persatuan Unit dan Dharitri bisa diselipkan apabila novel ini mendapatkan cetak ulang nantinya tentu akan semakin baik. Aku juga sedikit menyayangkan kata-kata ilmiah yang ada dalam novel. Beberapa mungkin pembaca akan tahu, namun beberapa tidak. Akan lebih baik jika kata-kata ilmiah dalam novel dibubuhi dengan catatan kaki. Selain itu, cerita dalam novel ini bergerak cenderung cepat, sehingga aku tidak begitu bisa meresapi dan mencerna kejadian lebih lama.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, novel fantasi lokal ini sangat menarik untuk dibaca, terlebih pecinta naga. Banyak pesan moral yang bisa didapatkan dari novel yang bernuansa pemberontakan, pembalasan dendam, dan perjuangan ini. Sisi romansa yang diselipkan pun sesuai porsi walaupun aku tidak setuju dengan hubungan kedua tokoh *eh. Selain deg-deg-an karena pertarungan, Kak Nellaneva juga membuatku deg-deg-an karena romantisnya.

Meskipun porsi narasinya lebih banyak, kabar baiknya adalah ceritanya tetap tidak membosankan. Hampir tidak ada celah untuk bernapas ketika membaca ketegangan demi ketegangan yang tersaji apik di dalamnya. Novel ini cocok dibaca usia 17+ ya!

Coba deh baca, hati-hati ketagihan karena ceritanya yang seru!

Kadang lebih mudah membenci daripada menyukai, karena yang kedua selalu berujung pada pengharapan, meski tidak semua harapan mewujud nyata. Seperti mengharap seorang ibu kembali atau seorang ayah melunak.” [Shreyas, hlm. 360]
Salam literasi!
What do you think? :

2 comments:

  1. PNS masih laku ya setelah perang dunia ketiga, 🤣🤣🤣 pingin ketawa sekaligus salut. Aku penasaran sama novel ini daripada Palagan Nusantara karena premisnya. Berharap novel ini dipinang penerbit besar, jadi ada revisi di bagian yg miss. Biar aku makin nggak nyesel klo nanti beli. Hehehe. Mksih reviewnya. | @x4bidden.books

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwk biar relate sama kehidupan yang sekarang kayaknya. Aku juga kaget masih ada PNS x'D

      Delete

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com