Thursday, December 13, 2018

[Book Review] Hitam dan Putih dalam Novel Pulang Karya Tere Liye


Ratna Juwita 

Judul  : Pulang
Penulis  : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tebal : 400 hlm.
Cetakan : II, Oktober 2015
ISBN : 978-602-0822-12-9

Rate : 4/5






Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku disbanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak disbanding di matanya.

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Pulang, apa definisi yang paling tepat untuk kata itu? Lupakan KBBI, sebab definisi pulang untuk setiap orang berbeda.

Namun, akan selalu ada satu tempat yang sama di mana kita akan bermuara. Satu tempat yang tidak bisa tidak kita singgahi untuk “pulang”.






Ingat, Bujang. Jika kau tidak membunuh mereka lebih dulu, maka mereka akan membunuhmu lebih awal. Pertempuran adalah pertempuran. Tidak ada ampun. Jangan ragu walau sehelai benang.” [Guru Bushi, hlm. 153]

Bujang adalah seorang anak berusia 15 tahun yang hidup di rimba Sumatera bersama Mamak dan Bapaknya. Bapaknya mantan tukang pukul Keluarga Tong, keluarga keturunan Tiongkok yang melebarkan sayap bisnisnya ke berbagai sektor. Sayangnya, bisnis Keluarga Tong berkecambah di pasar gelap. Kakek Bujang adalah jagal paling ditakuti di Asia: bisikkan namanya maka orang-orang akan berlarian masuk ke rumah dengan ketakutan.

Di desa, Bujang tak diizinkan menyentuh segala hal berbau agama, atau dia akan dihajar habis-habisan oleh Bapaknya. Sebab itu dengan senang hati ia pergi dari rumahnya ketika Tauke Besar, pimpinan Keluarga Tong, membawanya sesuai janji bapaknya ketika pergi meninggalkan Keluarga Tong beberapa tahun lalu.

Judul yang sesederhana “Pulang” bisa menjadi sebuah rangkaian cerita yang rumit. Mengenai masa lalu, masa kini, dan masa depan si Bujang. Bukan, tokoh utamanya bukan orang baik, bahkan acap kali terlibat dalam kasus suap, pembunuhan, pertikaian, intimidasi, dan berbagai kasus kriminal lainnya.

Tidak hanya cerita, banyak budaya yang turut disajikan dari berbagai negara untuk menghiasi isi novel. Jika kalian tidak tahu Samurai, Katana, sangat mudah mencerna semua istilah itu dengan pengertian yang benar dalam novel ini. Jika kalian tidak tahu cara pasar gelap dunia menjalankan berbagai aksinya dan memengaruhi sebagian besar ekonomi dunia, novel ini bisa dengan mudah menuntun kalian melihat dari sisi yang berbeda dengan bahasa paling sederhana.

Novel ini dipenuhi dengan aksi-aksi seru pertarungan memperebutkan kehormatan dan kekuasaan Keluarga Tong. Dilihat dari sisi peranan, Keluarga Tong adalah tokoh “protagonis” cerita yang memerankan berbagai tindak kejahatan dan kelicikan demi mengembangkan bisnisnya.

Novel-novel Tere Liye selalu menggunakan Bahasa yang ringan dan mudah dicerna. Dari segi riset, tentu tidak ada cacat dalam novel ini di setiap segi pembahasan dan alurnya yang campuran. Tokoh-tokohnya memiliki karakter yang sangat kuat dan mudah diingat, serta masih terngiang-ngiang di kepala walaupun buku telah lama ditutup.

Kekurangan

Ada sisi agama yang sentimental dalam novel ini sehingga pembaca yang bukan muslim, mungkin sebagian akan kebingungan memaknai ceritanya. Meskipun begitu, pembahasan agama bukanlah inti dari cerita ini. Jadi, tidak akan terlalu bermasalah sekalipun dibaca oleh non muslim.

Kesimpulan

Tulisan-tulisan Tere Liye selalu memiliki kelebihan yang membuatku terlena, selalu mengasyikkan dan mendebarkan di setiap pertarungan yang disajikan. Rincian kata demi kata bisa membuat pembaca seolah-olah sedang menyaksikan film action dengan mata kepala sendiri. Ditambah lagi, tidak hanya sekedar cerita, pesan moral yang ingin disampaikan penulis pun diutarakan dengan lugas. Membuat novel ini cocok dibaca oleh semua umur. Dan bagi pembaca yang haus dengan novel berbau aksi, novel ini akan sangat pas dan memenuhi ekspektasi itu.

Seperti yang kubilang tadi, hidup ini adalah perjalanan panjang, Agam. Kumpulan dari hari-hari. Di salah satu hari itu, di hari yang sangat special, kita dilahirkan. Kita menangis kencang saat menghidup udara pertama kali. Di salah satu hari lainnya, kita belajar tengkurap, belajar merangkak, untuk kemudian berjalan.

Di salah satu hari berikutnya kita bisa mengendarai sepeda, masuk sekolah pertama kali, semua serba pertama kali. Dan kini kita penuh dengan kenangan masa kecil yang indah, seperti matahari terbit.

Lantas hari-hari melesat cepat. Siang beranjak datang dan kita tumbuh menjadi dewasa, besar. Mulai menemui pahit kehidupan. Maka, di salah satu hari itu, kita tiba-tiba tergugu sedih karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu hari berikutnya, kita tertikam sesak, tersungkur terluka, berharap hari segera berlalu.

Hari-hari buruk mulai datang. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan dia akan tiba mengetuk pintu. Kemarin kita masih tertawa, untuk besok lusa tergugu menangis. Kemarin kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan. Hari-hari menyakitkan.” [Tuanku Imam, hlm. 337]

Salam Thinker Blue!


What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com