Saturday, May 04, 2019

[Cerpen Horor Misteri] A Beautiful Ghost


Ratna Juwita

“Hei kau!”

Aku berusaha tak menggubris suara itu. Berjalan secepat yang kubisa tanpa terlihat berlari menghindarinya. Mendengar suaranya saja, aku sudah merinding. Lebih membuatku bulu kuduk meremang dibandingkan suara-suara hantu yang acap kali mampir ke telinga.

“Hei, Jackson si anak hantu!”

Kali ini suara yang lain memanggil, terdengar lebih dekat. Aku masih tak menggubris.

“Kau tuli?”

Tepat setelah mendengar suara itu, tubuhku dihantam oleh benda keras dan limbung. Lutut dan telapak tanganku bersinggungan dengan aspal yang keras dan panas. Sedetik kemudian, roda sepeda terasa melindas kakiku. Sekali lagi, tubuhku merinding karena menahan sakit.

“Nah, apa kubilang?” Firman, cowok paling menyebalkan di sekolah, memutar-mutar sepedanya mengelilingi tubuhku. Teman-temannya yang lain tertawa. Menertawaiku. Aku menarik napas dan mengembuskannya perlahan, mencoba sekali lagi tak terpancing dengan semua tindakan yang mereka lakukan. “Kau terlalu sering mendengar suara hantu sampai tak mendengar suara kami?” tambahnya.

Vano, Dito, dan Diki segera menaburiku dengan dedaunan yang telah mereka remas-remas menjadi serpihan sebelumnya. Rupanya mereka telah menyiapkan itu di sebuah kantong plastik. Aku bisa menebak, mereka akan menggunakan benda lain esok hari.

“Eh, jangan begitu, kasihan dia. Lihat, bajunya kotor! Astaga, itu tidak hanya daun biasa, tapi daun bercampur lumpur?” Seperti biasa, Firman mendramatisir suasana. Benar saja, seragam putih abu-abuku ber-topping lumpur sekarang.

Beberapa anak yang lewat, seolah tak melihat. Mereka meneruskan langkah seolah tak terjadi apa-apa. Aku mengembuskan napas tertahan. Menahan amarah.

“Kenapa kau diam saja, Jackson? Lawan mereka! Atau aku saja?” Sebuah suara yang terdengar manis, sedikit meredakan amarahku.

Sonjack, hantu perempuan yang cantik itu mencoba memukul Firman dengan buku yang selalu dibawanya. Tentu saja tidak terjadi apa-apa. Buku itu hanya melewati kepala Firman begitu saja. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga memukul, menendang, dan mengumpat pada angin. Kenapa di antara banyak manusia yang melihatku seperti ini justru hantu yang berusaha membantuku?

Sonjack masih berupaya, ia kini terlihat lelah. Tidak berhasil dengan Firman, ia berbalik dan mencoba mengambil batu di sekitarnya, tapi tidak satu pun dapat digenggam. Ia melakukannya berkali-kali, mencoba berkonsentrasi, mengambil batu, dan berakhir menggenggam angin.

“Kenapa? Kau tidak mau membantuku? Dasar batu tidak tahu diri! Cepat sini, biarkan aku menggenggammu!” Sonjack mengumpat lagi dan terus berusaha tanpa hasil.

Tanpa bisa dicegah, tawaku menyembur. Oh tidak, Sonjack selalu bisa membuatku terhibur. Tawaku tak bisa berhenti. Firman melihatku dengan tatapan aneh setengah takut. Ia memandang berkeliling.

“Dia sudah gila! Ayo, pergi!” Tanpa menunggu Vano, Dito, dan Diki, ia sudah melesat dengan sepedanya meninggalkanku yang masih berkutat dengan tawa.
***

“Kenapa kau tidak melawan mereka? Kau tidak bosan terus-terusan di-bully?” Sonjack berusaha membersihkan seragamku, tapi nihil. Ia hanya mengelus angin.

Kami sedang duduk di bawah pohon tak jauh dari sekolah. Aku tidak membawa seragam olahraga hari ini karena masih dijemur. Hujan yang sering turun belakangan ini, menghambat proses pengeringannya. Aku datang ke sekolah dengan harapan mereka akan meloloskanku hari ini. Hari ini saja, tapi harapan itu tak pernah terjawab.

Firman dan teman-temannya mulai mem-bully-ku begitu tahu aku bisa melihat ‘mereka’. Makhluk tak kasat mata yang entah bagaimana bisa tertangkap oleh indra penglihatanku sejak masih kecil. Terkadang, aku berpikir bahwa ini adalah kutukan atau aku memang anak hantu seperti yang sering mereka katakan, tapi aku menganggap kemampuan ini istimewa sejak bertemu dengan Sonjack. Hantu yang cantik ini.

Mata hazel Sonjack masih tak lepas memandangku. Ia berjongkok sambil tetap memeluk buku bersampul biru lusuh yang selalu dibawanya.

“Aku tidak mengerti, apa salahnya bisa melihat hantu? Toh, kami tidak jahat!” Sonjack memanyunkan bibirnya. “Mereka sok-sok mengatakan hantu jahat, hantu jelek, dan lain-lain, padahal mereka sendiri belum pernah melihat hantu. Mereka hanya termakan oleh tayangan-tayangan tak bermutu yang isinya hanya menakut-nakuti. Apa bagusnya film seperti itu? Manusia memang aneh!” Sonjack melirikku. “Selain kau,” imbuhnya.

Ah, bagaimana bisa hantu semanis ini?

“Jackson, berhenti memandangku seperti prasasti. Oke, aku memang suka dipandang. Tidak ada manusia lain yang pernah memandangku selainmu, tapi aku tidak suka dengan tatapanmu yang seolah menusuk.” Sonjack bergidik. “Lihat, aku merinding. Kau pasti tidak akan pernah menemukan hantu yang merinding karena dilihat manusia.”

Mau tak mau, senyumku tersungging. Sonjack sangat cerewet. Mungkin karena ia tak pernah berbicara dengan manusia lain selain aku.

Sonjack memutar bola matanya, “Kau tahu, aku sangat kesal dengan ‘teman-teman’, jika kau menyebutnya begitu, yang hanya diam saja melihat bagaimana anak-anak nakal itu memperlakukanmu dengan tidak adil. Apa salahmu? Bukankah manusia adalah makhluk yang baik? Yah, aku ‘mantan manusia’ dan kurasa aku baik.” Sonjack mengibaskan rambut ikalnya yang pirang.

Aku tersenyum dan mengalihkan pandangan. Kaki kananku masih terasa berdenyut dan sakit. Segera kubersihkan noda-noda yang menempel di baju dan celana.

“Jackson?” Sonjack memanggil namaku seolah aku tak pernah mendengarkan.

Aku mengembalikan pandangan lagi padanya. “Baik saja tidak cukup, Sonjack. Dunia bukan hancur karena tidak ada orang baik, tapi karena banyak orang baik yang diam.” Sonjack hanya terpaku memandangku. Kuanggap itu pertanda darinya agar melanjutkan. “Ketika terjadi perang, mereka diam melihat. Ketika orang-orang di belahan dunia lain mengerang kelaparan setiap waktu, mereka diam dan hanya mengasihani ... atau juga berdoa. Ketika seseorang menderita, mereka diam tak peduli. Kata pengarang favoritku, orang yang mengasihani adalah orang yang lemah. Ia harus juga bertindak.”

“Apa dunia saat ini separah itu, Jackson?” tanya Sonjack setelah diam beberapa saat.
Senyumku terkembang, “Kau mengatakannya seolah sudah meninggal ribuan tahun yang lalu saja. Bahkan, mungkin kau baru meninggal kemarin.”

“Jackson! Aku serius! Mana mungkin aku meninggal kemarin? Aku sudah berwujud ‘seperti ini’ sejak bertemu denganmu setahun yang lalu!” Sonjack menyilangkan kedua tangan, membuat baju birunya terlipat di beberapa bagian.

Aku tertawa dalam hati. Sonjack tak pernah suka aku menyebutnya ‘meninggal kemarin’. Ia bahkan tidak tahu waktu, tempat, dan alasannya meninggal. Di dunia manusia, itu disebut amnesia. Aku sempat tidak percaya ada hantu yang juga mengalaminya. ‘Sonjack’ adalah nama pemberianku. Tentu saja ia juga tak mengingat namanya, Jangan katakan bahwa aku buruk dalam memberi nama karena memang aku hanya membalik nama ‘Jackson’.

Ketika bertemu dengan Sonjack pada Desember 2016 lalu, aku berusaha menghindarinya. Ia terlihat selalu berdiri di tempat yang sama; di tengah hutan dekat gedung sekolah dengan baju, jeans, dan buku biru. Ia mematung dengan pandangan linglung. Kukira, ia selamanya akan sepert itu. 

Namun satu waktu, Firman membawaku ke sana dan mengerjaiku seperti biasa. Tanpa diduga, Sonjack yang kukira akan terus berdiam diri seperti patung justru berusaha membelaku seperti yang baru saja ia lakukan. Ia terus berusaha menolong walaupun tak pernah berhasil melakukannya.

Saat itu, aku tak bisa menahan tawa yang langsung meledak melihat betapa kerasnya ia berusaha. Itulah saat ia menyadari aku bisa melihatnya dan sejak saat itu ia tak pernah lagi berdiri seperti patung di tengah hutan. Sebagai gantinya, ia mengikuti kemanapun aku pergi.

            Awalnya, aku sangat risih. Ia mengikuti kemanapun. Catat, kemanapun. Bahkan, ketika aku berada di kamar mandi. Tanpa malu, ia berdiri di sebelahku dengan senyuman khas dan tanpa rasa bersalah sama sekali. Berulang kali aku mengatakan bahwa ia boleh mengikuti kemanapun asal jangan di kamar mandi. Ia menurut, tapi aku lupa satu hal. Ia mengikutiku ke ruang ganti cowok di sekolah. Akhirnya, aku mengatakan bahwa ia juga tak boleh ke ruang ganti, tapi ia tak mau menurut.

Sonjack sangat bebal. Ia marah karena aku ‘plin-plan’ dan tidak pernah mau menurutiku lagi setelah itu, tapi setelah aku berjanji akan menemukan waktu, tempat, dan alasan kematiannya, ia menuruti semua kata-kataku.

Ya, aku masih punya misi. Menguak kematian hantu bule yang sering terlihat kesepian ini.
***

“Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku tidak mati ratusan atau ribuan tahun yang lalu?” Sonjack bertanya dengan wajah penasaran. Ia menopang dagu dengan salah satu sudut buku birunya.

Aku membalik halaman demi halaman buku yang berisi klipping beberapa kejadian besar selama beberapa tahun terakhir. Buku ini kupinjam dari perpustakaan sekolah dengan sembunyi-sembunyi. Buku seperti ini tak boleh dibawa keluar, tapi aku takkan bisa membacanya dengan tenang di dalam perpustakaan, apalagi kalau ketahuan Firman. Ia pasti akan mengganggu. Aku beralih menerima tatapan Sonjack yang seperti sedang menghujaniku dengan paku karena meminta jawaban.

“Karena bajumu,” bisikku pelan. Takut bila siswa lain melihatku berbicara sendiri, meskipun aku sering melakukannya. Aku kembali menekuri buku seolah sedang menggumamkan bacaannya. “Bajumu bukan model baju ratusan atau ribuan tahun lalu. Itu baju modern. Jika kau memang meninggal ketika mengenakan baju itu, berarti kau meninggal di abad ini, setidaknya sepuluh tahun terakhir.”

Sonjack mengangguk seperti murid yang mendengarkan penjelasan gurunya. “Lalu, bagaimana kau tahu aku kemungkinan meninggal di Indonesia? Seperti katamu, aku bule.”

Tanganku merunut deretan kalimat dalam artikel tentang kebakaran besar yang terjadi tiga tahun terakhir di beberapa wilayah Indonesia. “Kau bisa menggunakan bahasa Indonesia. Aku hanya menebak, kau sudah lama tinggal, juga kemungkinan bahwa kau meninggal saat berada di negara ini.”

Sonjack mengangguk lagi. “Masuk akal,” katanya sambil memutar-mutar buku biru. Sekilas, terbersit sebuah hal yang selama ini ternyata tak pernah kusadari.

“Sonjack, mengapa kau selalu membawa dan memainkan buku itu? Buku apa itu? Mengapa tak ada judulnya?” tanyaku penasaran.

Beberapa siswa yang berseliweran mulai melirik begitu menyadari bahwa aku berbicara sendiri. Beberapa dari mereka tak segan untuk langsung pergi dan menghujamku dengan tatapan menghujat. Aku menunduk canggung tiap kali mereka menatapku seperti itu. Aku memang sering mendapatkan tatapan itu, tapi tak pernah terbiasa karenanya.

Kami sedang berada di taman sekolah yang langsung bersebelahan dengan hutan. Ada pagar-pagar tinggi yang mengelilingi taman dan kawat-kawat berduri untuk mencegah masuknya hewan buas. Namun, sebenarnya aku menemukan sebuah jalan rahasia yang bisa digunakan sebagai jalan pintas untuk bisa pergi ke hutan.

Sonjack mengedikkan bahu. “Entahlah, aku selalu membawanya sejak awal dan tak pernah bisa membukanya. Tapi entah mengapa aku merasa, buku ini sangat penting untukku. Mungkinkah ... aku meninggal dalam keadaan memegang buku ini?” tanyanya antusias.

Aku menelengkan kepala. Baru saja aku berniat menjawab, kerahku ditarik dari belakang.

“Hei, Jackson! Kau sedang berbicara sendiri lagi dengan temanmu?” Bulu kudukku meremang ketika napas Firman menyentuh tengkuk. Aku sempat merasa lega karena tadi pagi ia tak mengerjai, tapi lagi-lagi harapanku mengkhianati.

Tidak berapa lama kemudian, kami sudah berada di dalam hutan lewat jalan pintas. Firman mendorong tubuhku hingga jatuh ke tanah. Vano dan Diki segera menyulut rokok. Mereka memang biasa sembunyi di dalam hutan untuk merokok supaya tidak ketahuan guru-guru di sekolah.

Aku memandang Vano dan Diki. “Kalian akan diskors jika ketahuan merokok.”

“Diam, Jackson! Kami tidak akan tertangkap jika kau tidak melaporkannya,” kata Vano dengan senyum tersungging mengejek. Vano kemudian menarik rokoknya dari dalam mulut dan membuangnya begitu saja. ”Lihat, aku sudah membuangnya.”

“Jackson, matikan rokok itu!” Sonjack berteriak tiba-tiba. Raut wajahnya berubah marah dan menunjuk ke arah puntung rokok yang dibuang Vano. Aku bingung. Tidak mengerti dengan perilakunya. “Jackson!” teriaknya lebih kencang saat aku tak juga beranjak. Tubuhku bergidik. Baru pertama kali ini aku melihat matanya melotot seperti itu.

“Te-tenanglah! Mengapa kau berteriak?” Aku berdiri, mencoba menengkannya. Diki yang masih memegang puntung rokok, mengerutkan kening.

“Hei, jangan coba-coba menakuti kami!” bentaknya. Aku tak menggubris. Mataku lekat memandangan Sonjack yang ketakutan.

Sonjack mulai menangis. Aku gelagapan. Mengapa ia tiba-tiba menangis? Air mata bercucuran dari kedua bola matanya.

Tiba-tiba tubuh Sonjack seperti meredup. Antara hilang dan muncul, tubuhnya terlihat bergetar. Aku mengerjap, mengira bahwa itu adalah efek dari mata.

“Matikan rokoknya ...,” ucapnya lirih dan terdengar putus asa. Sonjack terduduk sambil memegangi kepala. Ia belum berhenti terisak.

Kukucek kedua mata berkali-kali, tapi tak berhasil. Sonjack justru terlihat semakin menghilang. Perlahan, terlihat kobaran api yang mengelilingi tubuhnya.

“Sonjack!” teriakku panik.
***

Jiwaku mengembara. Beberapa kali aku dibawa berputar seperti mengelilingi tahun demi tahun dalam waktu singkat. Putaran itu berhenti ketika tubuhku berada di sebuah hutan. Aku tidak mengenal hutan ini tapi entah mengapa aku juga tidak merasa asing. Mengapa aku tiba-tiba ada di sini?

Aku memandang berkeliling. Sedetik yang lalu aku berada di dalam hutan bersama Firman dan kawan-kawannya, serta Sonjack yang terlihat kesakitan. Sonjack, di mana Sonjack? Aku memandang berkeliling dengan panik. Namun, mataku justru menangkap sosok beberapa orang yang sedang berbicara.

Satu orang memakai jas dan setelan mewah, dua orang lain terlihat sangat lusuh dengan kaos dan celana pendek yang apa adanya seperti seorang buruh, satu lagi seorang petugas berseragam lengkap. Aku menajamkan penglihatan.

“Aku akan memberi kalian baju dan rokok, tapi lakukan seperti yang kukatakan, mengerti?” kata orang yang memakai jas sembari menghisap rokoknya.

Dua orang berbaju lusuh mengangguk sambil tertawa. “Itu mudah, Pak Bos! Serahkan saja pada kami.”

Orang yang dipanggil Pak Bos ikut tertawa. “Kau, Kir, katakan pada atasanmu bahwa ini hanya kebakaran biasa akibat lahan kering. Jangan sampai aku tertangkap karena memerintahkan kalian membakar hutan ini. Aku akan segera membangun resort bernuansa alam di sini. Kalian bisa menikmati hasilnya juga ‘kan kalau tempat ini menjadi destinasi wisata?”

Kir, polisi berseragam lengkap itu mengangguk. “Siap, Pak. Kita memang tidak membutuhkan hutan ini. Untuk apa kayu-kayu yang tak bisa dijual ini?”

Pak Bos menjentikkan jari. “Nah, buat apa?” ucapnya menyetujui. “Pemerintah malah tidak membuat hutan ini jadi lebih berfungsi. Hanya didiamkan saja. Paru-paru dunia katanya?” Pak Bos tertawa mengejek sambil mengibaskan tangannya di udara.

Apa? Siapa mereka ini? Aku mencoba berpikir, tapi tak menemukan jawaban. Kebakaran hutan tiga tahun belakangan ini ... ulah mereka? Jadi, kebakaran-kebakaran itu bukan karena kekeringan?

Kepalaku berdenyut, masih mencoba mencerna informasi yang baru kudapatkan. Aku bahkan tidak tahu sedang berada di mana dan kapan, yang jelas aku harus segera melaporkan mereka ke polisi. Tunggu, salah satu dari mereka ‘kan polisi.

Bruk!

Aku menoleh, begitu juga dengan empat orang itu. Raut wajah mereka terlihat kaget. Dari balik sebuah pohon, seseorang terjatuh. Seorang perempuan berambut ikal berkuncir kuda yang mengenakan pakaian serba biru dan ... sebuah buku biru?

Jantungku berdegup kencang. Sonjack? Itu Sonjack?

Tepat saat aku ingin mendekati, Sonjack berlari membabi buta.

“Kejar dia! Jangan sampai dia melapor!” perintah Pak Bos dengan suara yang membahana. Tak butuh waktu lama untuk dua buruh dan polisi itu untuk mengejar Sonjack.

Napasku tercekat. Aku berusaha berteriak, tapi tak ada satu huruf pun yang berhasil keluar dari kerongkongan. Aku masih berusaha berteriak meminta tolong, tapi sia-sia. Aku hanya bisa memandang Sonjack yang berusaha lepas dari cengkraman polisi dan dua orang buruh.

Air mata mengalir tanpa bisa kubendung lagi. Tubuhku menggigil dan tak bisa bergerak sesenti pun dari tempatku berdiri. Kakiku melemas ketika Pak Bos meneriakkan hal yang membuat otot kakiku tak bisa lagi menopang berat tubuh.

“Ikat dia! Biar dia rasakan bermalam di hutan ini sebagai pelajaran agar tak lagi mencampuri urusan kita!”

Semuanya berlalu begitu cepat. Begitu sadar, Sonjack sudah terikat di sebuah batang pohon sambil terisak. Pak Bos membuang puntung rokoknya yang telah memendek begitu saja dan menyuruh mereka pergi bersamanya meninggalkan Sonjack.

Sonjack berusaha berteriak ketika puntung rokok itu mulai menyulut dedaunan dan membuat kobaran kecil, tapi mulutnya juga dibungkam dengan kain. Matanya berkilat memandang api yang mulai menyebar. Pak Bos dan orang-orang itu tak lagi menoleh ke belakang.

Aku menjerit dalam kebisuan. Air mataku tak bisa berhenti mengalir melihat api itu perlahan menjilat pohon demi pohon.
***

Mataku terbuka. Hal pertama yang kulihat adalah kedua orang tuaku yang memandang dengan ekspresi khawatir. Mataku mengerjap pelan, terasa sembab dan berat.

“Jackson?” Ibu menggenggam tanganku. Aku langsung mengenali bahwa kami sedang berada di ruang UKS sekolah.

Air mataku tak bisa terbendung begitu melihat Ibu. Aku Menangis karena menyaksikan Sonjack meninggal. Menangis karena tak bisa melakukan apapun selain melihatnya.

“Kepala sekolah menelepon kami karena kau ditemukan pingsan di dalam hutan,” kata Ibu tanpa kuminta. “Jackson? Sudah jangan menangis.” Ibu memeluk dan mengelus punggungku. “Sudah, tenang. Kenapa kau tidak bilang kalau di-bully? Mereka sedang mendapatkan hukumannya sekarang. Sudah jangan menangis, Ibu di sini.”

Aku menggeleng. Tak bisa mengatakan apapun walaupun ingin. Aku bukan menangis karena itu. Ingin mulutku meneriakkan alasannya, tapi sekali lagi lidah ini kelu.

Ayah mengembuskan napas. “Maafkan Ayah dan Ibu yang tak pernah memerhatikan bajumu yang selalu kotor, Jackson. Maafkan Ayah karena tak pernah menyadarinya.” Ayah menunduk, mengusap kepalaku dengan seraut wajah bersalah.

Lagi-lagi, aku hanya menggeleng pelan. Bukan itu alasanku menangis seperti ini. Bukan. Air mataku mengalir lebih deras.
***

Setelah kejadian itu, aku tak lagi bisa menemukan Sonjack di mana pun. Ia tak pernah muncul. Tak juga bisa melihatnya. Bukan karena aku kehilangan kemampuan itu, tidak. Aku masih bisa melihat ‘mereka’, tapi tidak dengan Sonjack.

Aku memandang buku bersampul biru polos lusuh yang diberikan Ibu padaku saat aku terbangun di UKS beberapa hari lalu. Kata guru yang menemukanku, aku menggenggam buku itu  saat pingsan dengan erat.

Tanganku meraba sampulnya yang terlihat tua. Tidak salah lagi, ini buku yang selalu dibawa Sonjack. Bagaimana mungkin buku ini ada di tanganku?

Aku menarik napas dan mengembuskannya perlahan, mengumpulkan keberanian untuk membuka buku itu. Jemariku membalik halaman pertama hingga ke halaman-halaman berikutnya yang menceritakan betapa Sonjack sangat mencintai hutan dan alam.

Ia seorang yatim piatu dan tak memiliki sanak keluarga. Ia pergi ke Indonesia karena mendengar bahwa Indonesia masih sangatlah rimbun dan alami dibandingkan negara asalnya. Ia tak menyebutkan nama negaranya. Sonjack ingin menjaga keasrian hutan-hutan di Indonesia. Tanpa sadar, air mata menyebrangi pipi. Ketika orang-orang Indonesia sendiri mengabaikannya, mengapa justru orang asing yang lebih peduli?

Memang, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Sonjack ingin menjaga hutan Indonesia, sedangkan beberapa dari orang Indonesia justru menggemari bentang alam negara lain.

Di halaman terakhir, tanganku gemetar menyentuh tulisan yang seperti baru. Kubaca lamat-lamat kata demi kata.

Mengapa kau mau menolongku? Sejak bertemu denganmu, semuanya berubah. Aku tak lagi hantu yang kesepian. Terima kasih untuk semuanya.
Aku memejamkan mata. Membiarkan butir-butir bening meresap sampai ke hati.

“Tokoh detektif favoritku pernah berkata, ada banyak alasan orang untuk saling membunuh, tapi tak ada alasan logis untuk saling menolong,” jawabku meskipun tahu Sonjack takkan pernah bisa mendengarnya.

Pada akhirnya, aku tak pernah benar-benar tahu nama asli Sonjack. Namun, aku menemukan sebuah kalimat di belakang buku.

‘P.s. My name is Sonjack, I love this name.’
***



What do you think? :

3 comments:

  1. Replies
    1. Etapi nggak menakutkan... Malah aku jadi pengen berkenalan sama hantu baik lain yg diliat Jackson.. :3

      Delete
    2. Iya engga menakutkan lha wong ini engga tema horor wkwk cuma tokohnya aja yang hantu ^0^

      Coba aja Ka Ten dibuka indera keenamnya xD mungkin bisa kenalan sama Sonjack :p

      Delete

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com