Thursday, May 09, 2019

[Me Time] Uninstall Instagram


Ratna Juwita

Sudah berapa kali kita mendengar teman-teman kita berbondong-bondong meng-uninstall aplikasi berbasis post foto ini? Ketika ditanya alasannya, beberapa dari mereka menjawab bahwa Instagram menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk memandangi foto-foto orang lain yang mungkin tengah berlibur di sebuah tempat wisata keren, foto kebersamaan mereka dengan pacarnya, atau foto bukti prestasi-prestasi mereka. Tanpa sadar, mungkin akan terselip rasa iri atau bahkan minder melihat semua itu.

Aku sendiri pernah hampir meng-uninstall Instagram karena masalah yang sama. Foto-foto yang diunggah oleh orang lain biasanya membuat kita iri, jenuh, jengah dengan kehidupan kita yang begini-begini saja. Tanpa disadari juga, aku jadi membanding-bandingkan diriku dengan orang lain yang seolah selalu tampak sempurna dalam bidikan-bidikan lensa itu.

Namun aku mengurungkan niatanku. Alasannya, hidupku sebagian besar ada di media sosial. Ketika mulai beranjak SMA, aku mulai mengenal berbagai perlombaan menulis seperti membuat puisi, cerita pendek, esai, dan sebagainya dari jejaring sosial bernama Facebook. Karya yang berhasil lolos seleksi, akan dibukukan dalam sebuah buku antologi dan pengarangnya akan mendapatkan sertifikat elektronik dari penerbit. Saat itu, sebagian besar lomba yang marak dan kuikuti di Facebook diselenggarakan oleh penerbit indie.

Secara sederhana, penerbit indie adalah penerbit berskala kecil yang mencetak dan memasarkan buku-buku para penulis secara online dan dengan uang yang dirogoh dari kantong pribadi penulis. Berbeda dengan penerbit mayor sekelas Gramedia yang biaya penerbitan buku-bukunya ditanggung oleh penerbit itu sendiri, bukan penulis.

Ketika berniat mengikuti berbagai lomba menulis yang bertebaran di Facebook, aku berpikir bahwa nantinya sertifikat elektronik yang kudapatkan bisa dimanfaatkan untuk mendaftar ke universitas yang aku inginkan lewat jalur SNMPTN. Namun ternyata aku tidak hanya mendapatkan itu. Karena berhasil mendapatkan juara pertama dalam salah satu lomba menulis cerita pendek yang kuikuti, sekolah memberiku penghargaan atas prestasi berskala nasional itu dengan uang yang nominalnya bagiku tergolong besar. Aku bahkan tidak mendapatkan uang sepeser pun dari penyelenggara lomba karena memang lomba tersebut tidak menjanjikan hadiah berupa uang. Tentu saja aku senang bukan kepalang.

Aku beralih ke Instagram begitu memasuki dunia perkuliahan karena kecanggihan gawai dan internet yang mulai melesat. Sama seperti ketika bermain di Facebook, aku juga memanfaatkan Instagram untuk mengikuti berbagai macam lomba kepenulisan, hingga akhirnya aku menemukan hal yang sama sekali tak kusangka sebelumnya: bookstagram. Bookstagram adalah sebutan untuk kegiatan di Instagram yang lebih banyak post tentang buku-buku dan kegiatan literasi lainnya.

Sejak mengenal istilah itu, pelan-pelan aku mengganti post feed Instagram yang semula foto-foto diri sendiri dan teman-teman, menjadi foto-foto buku. Aku menjadi bookstagrammer! Meskipun sempat bimbang, menimbang untuk membuat akun baru khusus buku yang terpisah dari akun pribadi, aku memutuskan tetap menggunakan akun yang sama tanpa mengganti username yang aku pakai sejak awal: @ra.juwita.

Perlahan-lahan, aku mulai mengenal banyak orang yang juga memiliki hobi yang sama denganku. Orang-orang yang memutuskan menjadi bookstagrammer biasanya memiliki tampilan feed Instagram yang bagus dan keren. Meskipun sudah sekitar dua tahun memutuskan menjadi bookstagrammer, aku merasa tampilan feed-ku masih kalah bagus dengan teman-teman lainnya. Terkadang hal ini membuatku sedih, tapi akhir-akhir ini aku justru jadi terpacu untuk menampilkan konten feed Instagram yang sama kerennya dengan bookstagrammer lain.

Sejak itu, aku menemukan banyak hal baru mengenai dunia perbukuan dan literasi yang sangat kusuka. Aku memang tidak seintens dulu mengikuti lomba, tapi beberapa kali masih mengikutinya. Beberapa perlombaan aku menangkan, tapi lebih banyak yang tidak. Hehe.

Selain itu, aku memanfaatkan Instagram untuk mengikuti akun-akun belajar bahasa Inggris, bahasa Jepang, akun penerbit, motivasi, informasi lomba, informasi beasiswa, dan masih banyak lainnya. Aku memanfaatkan aplikasi ini semaksimal mungkin untuk mendukungku terus berkembang. Ada kalanya aku merasa jenuh dan mengalami demotivasi, memang. Ada kalanya aku malas sekali membaca buku dan memotret mereka, sehingga selama beberapa bulan aku vakum dari dunia bookstagram. Akan tetapi, buku pula yang menjadi alasanku bersemangat dan kembali mendapatkan motivasi.

Aku mengenal banyak orang yang menginspirasi di Instagram. Termasuk baru-baru ini, aku mengenal seorang teman yang sangat menginspirasiku untuk menjalani kehdupan lebih baik lagi. Berkat dia, aku mulai melakukan olahraga secara rutin (walaupun hanya sekedar sit up, push up, flank, dsb) dan mulai menyadari pentingnya menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Darinya aku belajar bersabar, mengendalikan emosi, dan menghargai orang lain lebih daripada sebelumnya. Ia mengingatkanku untuk kembali pada Tuhan yang selama dua tahun ini terasa jauh akibat pemikiran-pemikiran sekuler. Ia juga yang membuatku lebih banyak bersyukur dan untuk pertama kalinya, menangisi orang lain begitu sering. Intinya, ia benar-benar memberiku motivasi untuk menjadi lebih baik lagi dan berusaha jauh lebih keras lagi. Dia memotivasiku.

Banyak hal baik yang aku dapatkan dari Instagram, karena itulah aku mengurungkan niat untuk meng-uninstall-nya. Aku tidak tahu akan berapa banyak lagi hal baik yang bisa kudapatkan dari aplikasi ini, asal memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Mungkin bagi beberapa orang yang hidupnya tidak berkutat pada Instagram, Instagram dapat menjelma menjadi toxic yang alih-alih membuat kita berkembang, justru membuat frustrasi.

Ya, setiap orang punya pilihan dan jalan hidup. Namun bagiku, Instagram sudah menjadi bagian dari hidup. Jadi, aku akan terus mencoba memanfaatkannya sebaik mungkin dan melakukan hal-hal yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Lewat hal-hal kecil seperti memberi manfaat dari buku yang kubaca.

What do you think? :

4 comments:

  1. What??? Impossible for meeeh!!!

    ReplyDelete
  2. Aldila prasetyaniThursday, August 01, 2019

    Sebenarnya instagram banyak manfaatnya , kalau dimanfaatkan dengan baik . Dan jangan cuma dipakai untuk ngestalking mantan :D

    ReplyDelete

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com