Friday, May 03, 2019

[Book Review] Novel Bulan Terbelah di Langit Amerika


sumber gambar: goodreads.com

Usaha “Menyembuhkan” Islamophobia Dunia Barat dalam Bulan Terbelah di Langit Amerika Karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Ratna Juwita

Judul : Bulan Terbelah di Langit Amerika
Penulis : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2014
Tebal : 355 hlm.
ISBN : 9786020305455

Rate : 4/5



... semua orang adalah teroris di muka bumi ini jika tangan mereka menggenggam kekayaan tanpa menyedekahkannya untuk umat yang terseok-seok kehidupannya. Semua adalah teroris ketika ketamakan terhadap kekuasaan, kekayaan, harta, dan rupa-rupa mengungguli empati dan simpati terhadap mereka yang kekurangan. Karena pada dasarnya, seseorang yang semakin kaya tanpa disadari dia akan semakin kikir. Semakin kikir dan semena-mena. [hlm. 234]

Hanum Salsabiela Rais adalah putri politikus Amien Rais, lahir pada 12 April 1982. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Suaminya, yaitu Rangga Almahendra mendapat gelar sarjana dari Institut Teknologi Bandung dan melanjutkan S2 di UGM. Ia mendapat beasiswa dari pemerintah Austria untuk melanjutkan studi S3 di Vienna University of Economics and Business dan saat ini menjadi dosen di Johannes Kepler University dan UGM.

Bulan Terbelah di Langit Amerika merupakan novel ketiga mereka dari trilogi bertema perjalanan spiritual di luar negeri. Dua novel sebelumnya berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di Atas Cahaya. Novel pertamanya, yaitu 99 Cahaya Langit di Eropa berhasil menjadi novel best seller dan telah dicetak ulang lebih dari 23 kali, bahkan novel tersebut telah diangkat ke layar lebar pada tahun 2013 dan sekuelnya pada tahun 2014. Mengikuti jejak novel pertama, Bulan Terbelah di Langit Amerika juga telah diangkat ke layar lebar pada tahun 2015 dan sekuelnya pada tahun 2016.

Saya membaca novel ini sudah sekitar empat tahun yang lalu, tapi detail ceritanya masih membekas di ingatan sampai saat ini. Ini merupakan bukti keberhasilan penulis meramu sebuah cerita yang terus melekat di ingatan pembaca dalam waktu yang lama. Meninggalkan kesan mendalam yang membuat saya menelusuri lebih jauh terkait tragedi yang disebut Black Tuesday.

Bulan Terbelah di Langit Amerika bercerita mengenai Hanum dan Rangga, sepasang suami istri muslim yang menjalani kehidupan di Eropa. Cerita diawali dari reka ulang beberapa jam sebelum Pesawat American Airlines menabrak World Trade Center pada 11 September 2001 di New York. Dua orang berkebangsaan Arab membajak pesawat tersebut hingga menyebabkan World Trade Center runtuh dalam kurun waktu dua jam setelah ditabrak. Ribuan orang tewas dalam insiden itu.

Hanum bekerja pada sebuah perusahaan surat kabar harian Austria bernama Heute ist Wunderbar. Ia kemudian ditugaskan untuk meliput peristiwa dan mewawancarai keluarga korban Tragedi 9/11 WTC dengan topik “Would the world be better without Islam?”. Meskipun awalnya menolak, ia akhirnya memutuskan untuk menerima “tantangan” yang membawanya pada sebuah kenyataan tragis, tapi menyentuh di balik tragedi mengerikan tersebut.

Suaminya, Rangga, melanjutkan pendidikan dan tengah membuat paper yang mengharuskannya mengejar seseorang yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis, sekaligus menjadi benang merah masalah mereka berdua. Tidak hanya diuji dengan kebencian masyarakat Amerika terhadap Islam, kekuatan cinta mereka juga diuji dengan hadirnya pihak ketiga.

Nuansa Amerika yang khas dengan Patung Liberty langsung menyambut para pembaca di bagian kover. Ilustrasi bulan terbelah pun menambah kesan mistik yang menyinari bangunan-bangunan di bawahnya. Perpaduan hijau, abu-abu dan font judul oranye memberi kesan yang misterius. Saya sangat tertarik membaca buku ini setelah membaca judul dan melihat kovernya.

Saya bukan pembaca yang mengikuti mereka sejak buku pertama, 99 Cahaya Langit di Eropa. Novel ini adalah buku pertama karangan mereka yang saya baca dan membuat saya ingin membaca buku-buku karangan mereka yang lainnya. Bahasa yang cair dan mengalir membuat saya tidak kesulitan mengikuti cerita meskipun bahasan dalam buku ini tergolong berat. Menuntut perenungan dan pemikiran mendalam mengenai Islam di mata non muslim dan orang-orang yang bahkan terjangkit Islamophobia.

Dikutip dari republika.co.id, Islamophobia adalah istilah yang menunjukkan sikap takut sekaligus benci terhadap Islam dan umat Islam. Istilah ini mungemuka pada pertengahan 90-an setelah muncul dalam tulisan yang dirilis sebuah lembaga sipil Inggris yang dipimpin seorang muslim sekaligus wakil rektor Universitas Sussex, Inggris. Lebih lanjut, dalam artikel berjudul “Islamophobia dan Kerukunan Umat Beragama” tersebut disebutkan bahwa Islamophobia semakin meningkat ketika terjadi serangan 11 September 2001. Dijelaskan pula bahwa dalam istilah Islamophobia, Islam dipersepsikan tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain. Lebih rendah dibanding budaya Barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama.

Membaca penjelasan tersebut, didapatkan gambaran bahwa Islamophobia merupakan sesuatu yang sama sekali tidak menyenangkan, terutama bagi orang Islam. Akibat beberapa orang yang mengaku Islam dan melakukan tindakan kriminal cenderung brutal, umat Islam seluruhnya mendapatkan stigma sedemikian rupa dari orang-orang non muslim, terutama di Amerika. Kepedihan yang diciptakan oleh tragedi 9/11 bukanlah sesuatu yang remeh, hingga kini kata “teroris” juga ikut disematkan bersanding dengan kata “Islam”.

Topik inilah yang coba diangkat oleh Hanum dan Rangga selaku penulis dalam Bulan Terbelah di Langit Amerika. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama bergantian antara tokoh Hanum dan Rangga, penulis memberikan gambaran bahwa menjadi orang Islam di tengah orang-orang yang membenci Islam bukanlah hal yang mudah meskipun tidak seluruhnya benar-benar membenci Islam. Perjalanan yang ditulis dalam bentuk karya fiksi ini benar-benar meyakinkan pembaca, seolah-olah cerita yang dituangkan menjadi novel terebut benar-benar ada dan terjadi. Bumbu kisah cinta Rangga dan Hanum yang manis juga menambah pemahaman saya terhadap kehidupan pernikahan. Bahwa, pernikahan tidak selamanya diisi oleh kabahagiaan, melainkan juga duka, cemburu, dan hal-hal lainnya.

Mungkin karena mereka menyasar pembaca dewasa, sehingga beberapa kalimat berbahasa asing muncul tanpa diberikan catatan kaki mengenai artinya. Namun, akan lebih baik lagi apabila kalimat-kalimat berbahasa asing, terutama yang bukan Inggris diberi catatan kaki agar pembaca yang awam, bahkan yang masih berusia remaja dapat ikut menikmati perjalanan Hanum dan Rangga di tanah Amerika. Kesan Amerika dan luar negeri tidak akan hilang meskipun tidak menggunakan bahasa asing karena penggambaran setting tempat benar-benar detail. Hanum dan Rangga berhasil menyajikan Amerika di depan mata pembaca dengan penggambaran tempat yang deskriptif ditambah lagi suasana yang dibangun dengan apik sehingga saya turut merasakan gejolak emosi tokoh-tokohnya.

Tidak hanya itu, pada beberapa bagian juga terdapat peta sederhana yang tidak membingungkan. Memberikan gambaran pada pembaca mengenai letak tempat-tempat ikonis dalam cerita serta jarak dari satu tempat ke tempat lainnya. Transportasi yang mereka gunakan juga sangat membantu. Kesan luar negeri benar-benar sangat terasa, ikut berperan membangun jalannya cerita. Tidak hanya sebagai “tempelan” saja. Alur campuran yang digunakan oleh penulis juga sama sekali tidak membingungkan. Setiap setting waktu dan lokasinya dibubuhkan di bagian atas ketika pergantian sudut pandang tokoh dari Hanum ke Rangga maupun sebaliknya.

Saya menyukai sosok Hanum yang tegas, mandiri, dan berani, tanpa kehilangan karakternya sebagai seorang perempuan yang terkadang juga butuh dilindungi dan ketakutan. Penggambaran karakter tokoh-tokohnya dibuat sangat manusiawi. Walaupun tokoh Stefan terasa menyebalkan, saya menyukai pemikirannya yang kritis terhadap beberapa hukum Islam yang dianggapnya tidak logis. Beberapa hal yang merupakan hasil dari pemikiran kritisnya, membuat saya merenung. Karakternya yang terkesan urakan dan seenaknya sendiri berhasil membuat cerita semakin terasa hidup.

Adegan yang paling saya sukai dalam novel adalah ketika beberapa kali kebencian orang non muslim terhadap Islam, dibalas kebaikan oleh para tokohnya. Seperti ketika Khan dan Stefan akhirnya bisa saling memahami setelah lama saling adu argumentasi, bahkan hampir bermusuhan. Perbuatan baik Khan telah menyadarkan Stefan dari kesalahannya selama ini. Prolog yang memukau dengan runtutan peristiwa dalam tragedi 9/11 berhasil diakhiri dengan ending yang memuaskan. Walaupun buku ini berbentuk trilogi, setiap bukunya memiliki cerita tersendiri. Tidak membaca kedua buku sebelumnya tidak akan membuat pembaca kebingungan membaca Bulan Terbelah di Langit Amerika.

Empat tahun lalu saya berpikir, apakah tokoh-tokoh dan semua kejadian di dalam novel ini benar-benar nyata? Sekarang saya tahu, Hanum dan Rangga hanya berhasil membuat saya percaya bahwa karangan rekaan mereka ini benar-benar nyata.


Referensi:
Mashuri, Ikhwanul Kiram. 201. Islamophobia dan Kerukunan Umat Beragama. https://www.google.com/amp/s/m/m/republika.co.id/amp/opxtnc319 diakses pada 3 Mei 2019 pukul 11.00 WIB.
Widjaja, Munady. Fakta Tentang Hanum & Rangga. https://x.detik.com/detail/metropop/20160523/Fakta-tentang-Hanum-dan-Rangga/ diakses pada 3 Mei 2019 pukul 10.00 WIB.

What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com