Read More

5 CM: Buku yang Menyelamatkanku

Ratna Juwita
Read More

Ary Nilandari - Penulis Wattpad yang Tidak Menye-Menye

Ratna Juwita
Read More

Know Your Limits

Ratna Juwita
Read More

PETRIKOR

Ratna Juwita
Read More

Into The Unknown

Ratna Juwita

Monday, July 29, 2019

[Book Review] Novel The Aleasah Heroes Karya Lius A.



Ratna Juwita

Readers, apakah kalian penggemar novel bergenre fantasi? Kalau iya, apa novel fantasi favorit kalian? Harry Potter karya JK. Rowling? Hmm, kalau ini mah kesayangan semua umat ya hehe. Aroma Karsa atau Supernova karya Dee Lestari? Atau Palagan Nusantara dan Dharitri-nya Nellaneva? Yang manapun pasti seru banget kalau fantasi, iya nggak?

Kali ini aku bawain kalian sebuah novel bergenre fantasi dan yang terpenting adalah novel ini ditulis oleh orang Indonesia alias fantasi lokal! Yey! Ketika bukunya berada dalam genggaman, aku nggak sabar banget pengin cepat-cepat membacanya. Kenapa? Novel ini merupakan salah satu bukti bahwa geliat literasi Indonesia sudah mulai berkembang sedikit demi sedikit. Aku berharap, akan ada semakin banyak novel karangan penulis Indonesia yang tidak melulu bergenre romansa, tapi memang pembaca di Indonesia kebanyakan anak remaja sih. Hehe.

Oke deh, mari simak review-ku tentang novel ini!

Judul : The Aleasah Heroes
Penulis : Lius A.
Penerbit : Indie Book Corner
Tahun Terbit : Cetakan Kedua, 2019
Tebal : 274 hlm.
ISBN : 978-602-309-413-4

Rate           : 3.5/5




Lima tokoh, lima petualangan, dalam satu kisah.

Ranor, pemuda yang memburu Azmot untuk membalaskan kematian keluarganya.

Yohana, penyihir Chadavis yang bertualang menjaga kedamaian di Aleasah.

Sa Mair, pemimpin kaum raksasa yang menjelajah untuk menyatukan kembali para raksasa.

Tagir, kurcaci dari negeri timur yang berkelana di Aleasah demi menyelamatkan istrinya yang diculik.

Oscar, putra kerajaan Girandir yang bertekad menaklukkan daratan Aleasah, apapun bayarannya.

Sebuah kisah berskala besar dalam upaya setiap tokoh mencapai tujuan dan mengubah nasib seluruh daratan Aleasah.




  • ·       Sekilas Tentang Penulis
Lius A. atau memiliki nama lengkap Lius Apriyanto. Ia saat ini berdomisili di Bekasi. Selain sibuk menulis, Lius juga bekerja sebagai wiraswasta. Penulis bisa dihubungi melalui surel: liusapriyanto90@gmail.com.

  • ·        Judul
“The Aleasah Heroes” sepertinya diambil oleh Lius sebagai judul buku karena melihat geliat para super hero mancanegara di Indonesia. Sebut saja film Avengers: Endgame, Spiderman: Far From Home, dan sebagainya yang ditayangkan di bioskop baru-baru ini. Memang sepertinya Indonesia butuh kemunculan banyak “hero” agar tidak tergerus begitu saja oleh hero mancanegara dan novel ini adalah salah satu jawabannya.

Novel ini adalah buku pertama dari serial The Aleasah Heroes nantinya. Judulnya cukup menarik akarena melibatkan nama yang asing di telinga: Aleasah. Tidak familiar, tapi mudah diingat dan remarkable. Aku sendiri langsung mengingat nama itu sepanjang waktu begitu membaca judulnya itu. Membuatku gemas ingin segera membacanya, tapi banyak bentrok dengan kegiatan lain. Hehe.

  • ·        Cover
Cover adalah bagian yang paling aku suka dari novel ini. Penampakan luarnya sangat meyakinkan. Pedang-pedang dari yang berukuran kecil hingga besar, menancap di tanah. Pedang yang paling depan, terbalut bendera yang koyak berwarna dasar biru dan lambang merah. Kobaran api memenuhi sekelilingnya seolah mengatakan ada hal yang sangat mendesak terjadi di Aleasah!

  • ·        Isi Buku
Isi dari novel ini sama seperti yang tertuang pada bagian sinopsis. Hanya saja, versi yang sangat panjang. Hehe. Para tokoh utama, yaitu Ranor, Yohana, Sa Mair, Tagir, dan Oscar berjuang demi tujuan mereka masing-masing. Tentu saja tidak ada hal yang mudah. Ranor kehilangan desa, keluarga, teman, dan tempat tinggal, habis dihancurkan oleh Azmot, si raksasa yang kejam dan merupakan salah satu perusuh kedamaian di Aleasah.

Yohana, sang penyihir yang selalu setia ditemani oleh Albert, seekor burung hantu. Mereka berjuang demi kedamaian di Aleasah. Yohana jugalah orang yang menyelamatkan adik Ranor, satu-satunya yang selamat dari kehancuran di desa. Sa Mair, pemimpin raksasa yang ambisius. Ia mengobarkan perang dengan kerajaan Girandir.

Tagir, kurcaci buruk rupa yang mempertaruhkan segalanya demi menyelamatkan istrinya yang dibawa oleh para penculik. Ia menyeberangi lautan, daratan, mendaki gunung, dan menuruni lembah (hmm kayak pernah dengar lagunya hehe), tak gentar melawan para penculik yang tubuhnya berkali-kali lipat besarnya dari tubuhnya.

Juga Oscar, yang mempertahankan kerajaan Girandir, berperang dengan para pasukan raksasa Sa Mair.

  • ·        Kesan
Perlu aku akui, Readers, bahwa sebenarnya aku tidak terlalu banyak berharap pada novel fantasi lokal. Namun, novel ini menepis keraguanku itu.

Sejak membaca halaman pertama, aku takjub dengan kalimat-kalimat yang sederhana, kata demi kata yang disusun dengan baik, serta paragraf yang pendek-pendek. Bahasanya sangat ringan dan deskripsinya sangat mudah diikuti. Sebelumnya, aku pernah membaca novel fantasi lokal yang menggunakan bahasa yang lumayan njelimet. Bahkan, satu paragraf bisa terlihat sangat panjang dan satu kalimat berisi lebih dari 15 kata. Wow. Tentu aku lumayan jenuh ketika membacanya.

Namun, isi novel ini benar-benar tertata dengan sangat baik. Kalimat demi kalimat, paragraph demi paragraph, dan hebatnya: MINIM TYPO. Untuk ukuran novel sepanjang ini, aku hampir tidak menemukan typo yang bertebaran seperti yang sering aku lihat dalam novel-novel lain. Bahkan, pada novel yang jauh lebih singkat dari ini.

Mungkin, hal itulah yang membuatku betah berlama-lama dengan novel ini. Walaupun tergolong panjang, susunan bukunya membuat novel ini jadi terlihat lebih tipis daripada seharusnya dengan memaksimalkan jumlah kalimat dalam satu halaman. Bisa dibilang, mungkin novel ini menggunakan margin narrow.

Lius berusaha melakukan pendekatan yang berbeda melalui novelnya ini. Jujur saja, baru kali ini aku membaca novel dengan gaya tulisan yang seperti ini. Setiap tokohnya memliki chapter tersendiri yang dibagi ke dalam beberapa judul, misalnya, “Chapter 1: Ranor”, “Chapter 2: Yohana”, dan sebagainya. Intinya, pemisahan chapter tersebut berfungsi menandakan penggalan cerita tokoh mana yang sedang dikisahkan oleh Lius.

Selain itu, chapter dalam novel ini juga menandakan lompatan peristiwa dari satu tokoh ke tokoh yang lain. Misalkan di chapter pertama, penulis menceritakan mengenai Ranor yang sedang memburu Azmot dan berhenti di sebuah adegan, kemudian ceritanya akan bersambung lagi di chapter enam, begitu seterusnya. Namun, tidak ada penanda yang pasti kapan sambungan cerita si tokoh yang sama akan muncul. Entah dua chapter berikutnya, lima chapter berikutnya, atau beberapa chapter berikutnya. Tidak pasti.

Pendekatan yang digunakan oleh penulis ini mengingatkanku pada lompatan cerita ketika kita sedang menonton film. Dalam film, biasanya juga akan terjadi lompatan penggalan cerita dari sudut pandang satu tokoh, dengan tokoh lainnya. Nah, mungkin bisa dibayangkan seperti itulah novel ini.

Ini adalah sebuah gaya bercerita yang baru dan inilah yang membuat novel ini berbeda dari novel-novel lainnya!

Cerita para tokohnya dituturkan dengan sangat halus, adegan demi adegan, kegagalan demi kegagalan, serta deskripsi gerakan yang imajinatif! Benar-benar seperti sedang menonton film aksi! Eh ini tadi aksi atau fantasi ya? Dua-duanya deh! Hehe.

  • ·        Bagian Favorit
Bagian favoritku dari buku ini adalah ketika Tagir dicium oleh seorang penjaga. Benar-benar mengocok perut. Yaks. Aku sampai jijik membayangkannya, tapi justru adegan itu yang terus terpatri di ingatanku. Aku sampai kaget karena mengira ada adegan dewasa dalam novel ini, ternyata hanya karena penjaga itu sedang mabuk dan tengah berhalusinasi, terbangun dari mimpirnya dengan tidak sadar. Hahaha.

Seperti ini nih adegannya:

Perlahan si kurcaci mendekati penjaga pertama yang tertidur. Dengan hati-hati, Tagir mencuil-cuil pinggang pria itu menggunakan gagang kapaknya. “Oslum di mana?” tanya si kurcaci dengan suara parau. 
Setelah beberapa saat, akhirnya penjaga pertama terbangun. “Maria, kemarilah,” rayu penjaga mabuk itu. Penjaga itu menjambak rambut ikal Tagir dan menarik kepala Tagir mendekati mulutnya. Si kurcaci terperangah dan mencoba melepaskan cengkraman penjaga. Namun Tagir tak cukup cepat. Mata penjaga terbuka lebar saat ia mencium kurcaci itu dengan penuh gairah. 
Sejenak penjaga pertama memandangi wajah buruk rupa dengan kumis oranye tebal di hadapannya. Penjaga itu terkejut dan menjerit seperti perempuan. Tagir bahkan menjerit lebih kencang. (hlm. 17)

Aku langsung tertawa membacanya. Sepertinya, penulis perlu menyelipkan banyak humor seperti ini supaya perhatian pembaca semakin tak teralihkan dari novel ini.

  • ·        Kutipan Favorit
“Pergilah, Tagir, temukan dia, dia yang kau cintai jauh melebihi apa pun.” (Pak Tua, hlm. 123)

Duh, kutipannya bikin baper! Kentara sekali Tagir berusaha mati-matian menyelamatkan istrinya, Parla, dari para penculik. Sebuah perjuangan yang menggugah hati.

  • ·        Kekurangan
Novel ini sebenarnya sudah memenuhi semua persyaratan yang dibutuhkan untuk membangun sebuah cerita. Sejarah, tokoh yang beragam, intinya world building-nya sudah pas. Namun, hal yang mengganjal adalah sejarah itu dituliskan di bagian akhir buku. Sebaiknya, bagian yang penting seperti sejarah Aleasah, macam-macam kerajaan di Aleasah, para makhluk yang tinggal di Aleasah, semua diceritakan di awal novel. Dengan begitu, pembaca akan lebih dulu memahami Aleasah sebelum membaca cerita para tokohnya.

Tokoh pembantunya sangat banyak! Aku sebenarnya tidak masalah dengan banyaknya tokoh di dalam sebuah cerita. Seperti di film animasi “Shingeki no Kyoujin” yang bahkan, tokohnya mati satu per satu sejak awal episode. Hanya saja, penulis kurang memberi detail dan history background pada semua tokohnya, serta ciri fisik dan karakter yang membedakan antara satu tokoh pembantu dengan tokoh pembantu lainnya.

Aku memang tidak terlalu mengerti mengenai pembangunan karakter dalam sebuah cerita, tepatnya aku juga belum menguasai. Akan tetapi, sejauh ini yang aku baca dari banyak novel lainnya, hal yang membuat seorang tokoh itu diingat adalah karakternya, sekalipun hanya tokoh pembantu.

Kemudian, akan lebih baik lagi kalau dilampirkan peta Aleasah dan diberi penjelasan mengenai sejarah Aleasah. Bukan hanya makhluk-makhluk yang mendiaminya, melainkan juga sejarah adanya Aleasah itu sendiri. Misalnya, letak Aleasah, apakah Aleasah ini berada di sebuah planet, atau bumi ini, atau Aleasah ini justru merupakan daratan yang menyatu setelah ribuan tahun lalu terjadi kiamat besar di bumi, dan sebagainya. Intinya, hal ini akan sangat membantu pembaca masuk ke dalam cerita.

Ketiadaan peta membuatku bingung ketika penulis hanya menyebutkan “Pegunungan Zeot” misalnya. Aku tidak tahu letak tepatnya Pegunungan Zeot. Apakah di sebelah Oslum, ataukah di tempat lain? Penulis perlu memberikan hal special yang akan diingat pembaca mengenai sebuah tempat, misalnya Pegunungan Zeot adalah sumber mineral di bagian paling barat Aleasah, sebuah pegunungan yang penuh jurang yang di dasarnya hidup ular dengan panjang mencapai 20 meter, konon katanya Pegunungan Zeot dulunya adalah daratan bernama Afrika, dan sebagainya. History background, baik untuk tempat maupun tokoh, adalah hal yang menurutku sangat krusial dalam cerita fantasi.

Selain itu, aku juga merasa novel ini kurang memberikan quote-quote yang menggugah hati pembaca. Mungkin ini terlihat sepele, tapi quote memengaruhi kedalaman cerita dan kedalaman rasa suka pembaca pada sebuah buku. Mungkin akan lebih baik lagi kalau disajikan banyak kalimat-kalimat yang mengena, baik mengenai kehidupan, cinta, dan lainnya.

  • ·        Kesimpulan
Aku sangat menyukai novel ini karena gaya bercerita penulis yang menurutku sangat luwes. Gaya bahasanya mudah diikuti oleh siapapun, baik remaja maupun orang dewasa. Tidak banyak menggunakan bahasa yang sulit dan MINIM TYPO. Ide ceritanya terasa sangat orisinal dan aku senang sekali membaca novel ini. Sudah lama aku tidak membaca cerita fantasi lokal. Novel ini terasa seperti angin sejuk! Aku harap, beberapa tahun lagi buku di Indonesia tidak didominasi oleh genre romansa lagi. Hehe. Harapannya, sih ya, buku seperti ini yang mulai banyak dipajang di rak-rak toko buku.

Meskipun masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, tapi secara keseluruhan novel ini sangat layak untuk dibaca dan dinikmati oleh kalian! Novel ini akan melengkapi koleksi novel fantasi lokal favorit kalian di rumah!

Read More

Sunday, July 28, 2019

[Book Review] Asasin Karya Nuim. M. Khaiyath: Perjalanan Historis Seorang Calon Pembunuh yang Penuh Humor


Ratna Juwita

Halo, Readers. Kali ini saya akan meresensi sebuah buku karya seorang wartawan kondang yang sering “lompat” dari satu negara ke negara lain dan satu benua ke benua lain. Sepertinya, belum ada benua yang belum pernah terinjak oleh kakinya. Namanya adalah Nuim “I love You Mr. Mahmud” Khaiyath, begitu nama perkenalannya di bagian akhir buku. Hehe.


Sebenarnya, ini adalah pertama kalinya aku membaca buku memoar atau biografi seseorang dan harus kuakui bahwa buku ini benar-benar menarik! Di pikiranku, aku sudah berpikir buku ini mungkin akan monoton dan membosankan, tapi tentu saja aku sangat keliru sejak pertama kali menuntaskan halaman pertamanya.


Mari simak resensiku secara keseluruhan mengenai buku ini.

Judul : Sebuah Memoar ASASIN
Sub Judul : Sepenggal Kisah Seorang Wartawan yang Dipersiapkan Menjadi Pembunuh
Penulis : Nuim M. Khaiyath
Penerbit : Republika
Tahun Terbit : Cetakan I, Mei 2019
Tebal : 237 hlm.
ISBN : 978-602-5734-86-1


Rate   : 3.5/5





“Semoga kisah perjalanan sebagian dari hidupku ini laksana ‘sekali membuka uncang, dua tiga utang terbayar’, sekali membacanya dari awal hingga akhir banyak cerita yang diperoleh.”


Seringkali takdir membawa rencana dan usaha yang sedang diupayakan kepada keadaan yang tak terduga. Campur tangan Allah akan selalu ada dalam setiap langkah manusia. Manusia yang merencanakan, Allah yang memutuskan. Tapi, yakinlah keputusan Allah pasti mendatangkan kebaikan, meskipun awalnya terasa menyakitkan.


Dunia seakan runtuh ketika tugas menjadi “pembunuh” diterima Nuim M. Khaiyath. Menolak jelas tidak mungkin dilakukannya. Tugas datang dari negara yang sedang gencar mengganyang Malaysia.


Kini, takdir membawa Nuim menjadi seorang penyiar radio Australia setelah sebelumnya bekerja di BBC London. Dari seorang “pembunuh” jadi penyiar? Apakah itu didapatkannya karena ia berhasil melaksanakan tugasnya?


  • ·   Sekilas Tentang Penulis
Penulis bernama asli Nuim Mahmud Kaiyath ini akrab disapa Nuim. Ia mendapatkan panggilan “I Love You Mr. Mahmud” ketika membawakan acara musik “Samba” (Sabtu Gembira). Panggilan itu diambil dari petikan lirik lagu kocak oleh anak Jatinegara Munif yang menggubah lagu itu untuk menyaingi lagu Libanon yang pernah kondang di mancanegara, termasuk Indonesia, “Ya Mustapha”. Penulis lahir di Medan, Sumatera Utara di penghujung tahun 1938 sebagai putra bungsu dari delapan bersaudara, anak pasangan suami istri Mahmud Muhammad Khaiyath dan Thaibah Ilyas.


Ia sempat menjadi wakil pemimpin redaksi, sekaligus redaktur pelaksana koran berbahasa Inggris di Medan, The Deli Times sebelum akhirnya menjadi satu-satunya pelamar yang diterima bekerja di BBC (British Broadcasting Corporation) London. Setelahnya, ia menerima tawaran bekerja di siaran bahasa Indonesia Radio Australia yang merupakan bagian dari siaran luar negeri Australia Broadcasting Corporation (ABC) di Melbourne.


Beberapa kali, Nuim mendapatkan penghargaan baik dari pemerintah Indonesia, maupun dari mancanegara atas siaran, tulisan, serta berbagai ceramahnya. Ia digemari banyak pendengar di Indonesia bukan aja karena acara-acara hiburan/music yang dibawakannya, melainkan juga acara kupasan/ulasan politik. Sebagian dari ulasan politiknya tersebut dibukukan oleh Penerbit Cakrawala dengan judul “Dunia di Mata Nuim Khaiyath”. Selain itu, ia juga menulis buku “Membongkar Kesaktian Israel” yang diterbitkan oleh penerbit yang sama, serta buku “Paling Besar—Petinju Muhammad Ali” dan “Ini Medan, Bung!”.


Beberapa dasawarsa belakangan, Nuim secara tetap digilir menjadi khatib dalam salat Jumat di Universitas Melbourne, Universitas Monash, KJRI Melbourne, Masjid Indonesia Westall), dan masjid-masjid lainnya denga nisi khutbah yang selalu selaras dengan isu yang sedang hangat.

  • ·    Judul
Judul buku ini bisa dibilang sangat “menjual”. Buktinya, saya langsung tertarik untuk memiliki buku ini begitu membaca judulnya. Siapa yang tidak akan tertarik membaca kisah seorang wartawan yang dipersiapkan menjadi pembunuh? Pertanyaan yang langsung muncul dalam benak saya adalah, “Bagaimana bisa?”, “Memangnya selain memegang pena dan kertas, wartawan juga lihai memegang senapan?”, “Apakah wartawan adalah pekerjaan sampingan dari anggota badan intelijen?”, dan sebagainya. Kemudian yang terbayang di kepala saya adalah sosok seperti James Bond yang sedang memegang kamera. Hey, why not?


  • ·    Cover
Dari judul yang sudah memberikan saya berbagai macam pertanyaan yang akhirnya terjawab setelah saya membaca bukunya, cover buku ini semakin mendesak imajinasi saya untuk benar-benar membayangkan James Bond yang sedang berdiri membelakangi, sembari menenteng kamera. Setelan sosok laki-laki yang terpampang di bagian cover justru memberikan saya nuansa London zaman old. Mungkin malah pada sekitar era yang sama dengan “hidupnya” Sherlock Holmes? Yang jelas, saya mendapatkan “kesan misterius” yang langsung menarik mata ketika melihatnya.

Tidak hanya si laki-laki yang berdiri membelakangi, orang-orang di sekitarnya yang berjalan dengan wajah di-blur, bangunan-bangunan di sekitarnya, serta gradasi warna oranye, abu-abu, dan hitam benar-benar terasa seperti kapsul waktu. Seolah dalam sebuah bidikan lensa, seorang laki-laki muncul secara misterius di tengah hiduk-pikuk orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Sebuah padu padan yang pas antara judul dan penggambaran cover.


  • ·    Isi Buku
Dilihat dari perawakannya, Nuim memang terlihat sebagai pribadi yang menyenangkan. Pribadinya yang humoris itu nampaknya sangat menonjol dalam biografinya ini. Kisah dalam buku ini dimulai dari permintaan seorang kolonel bernama Arifin pada Nuim untuk membunuh Perdana Menteri Malaya waktu itu, Tunku Abdurrahman. Jelas sekali Nuim terkejut dengan keputusan yang sama sekali tak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya itu.


Keputusan itu diambil karena Nuim tidak terlalu tampak seperti orang Indonesia, tubuh yang bisa dikatakan bagus, menguasai beberapa bahasa, yaitu Inggris, Melayu, Hokien, Arab, dan—tentu saja—Indonesia. Selain itu, Nuim juga pernah mengikuti latihan Resimen Mahasiswa REWA), serta punya prestasi bagus ketika latihan menembak. Semua alasan tersebut nampaknya menjadi pertimbangan yang cukup mumpuni untuk menetapkan Nuim sebagai eksekutor Tunku Abdurrahman.


Peristiwa penetapan tersebut terjadi sekitar pertengahan tahun 1963 di kantor Panglima Komando Antar Daerah (KOANDA) Jenderal Kosasih di Medan. Pada saat itu, kalimat “ganyang Malaysia” yang diucapkan oleh Presiden Soekarno tengah berkobar dengan ganasnya. Kalimat itu sebenarnya merupakan bentuk perlawanan pada kaum neo-kolonialisme/neo-imperialisme Barat, terutama Inggris dan Amerika, yang berencana membentuk Malaysia (penggabungan Malaya, Singapura, Serawak, dan Sabah). Rencana itu merupakan salah satu upaya untuk mengekalkan penjajahan Inggris dalam bentuk lain, sekaligus mengepung Indonesia yang terngah gigih memperjuangkan kemerdekaan untuk seluruh bangsa di dunia.


Ketika Kolonel Arifin memerintahkan Nuim untuk membunuh Tunku Abdurrahman, Nuim masih menjabat sebagai redaktur pelaksana koran bahasa Inggris The Deli Times di Medan. Sebagai bagian dari upaya menjatuhkan Tunku Abdurrahman dan mendiskreditkan Malaysia, Nuim juga ikut andil dalam siaran dalam berbagai bahasa yang disiarkan di Semenanjung Tanah Melayu. Siaran tersebut selanjutnya diberi nama KEMAM (Kesatuan Malaya Merdeka di Hutan-Hutan Semenanjung Tanah Melayu).


Dari situ, kisah Nuim kemudian mengalir ke awal mula kata “Asasin” yang dimulai dari latar belakang terbentuknya Sunni dan Syi’ah, sampai ke Perang Salib. Nuim juga mengisahkan kejuaraan renang yang “menyelamatkannya” dari keharusan membunuh Tunku Abdurrahman, sampai pada pengalaman-pengalamannya melompat dari satu daerah ke daerah lain, satu negara ke negara lain, serta satu benua ke benua lainnya yang lucu, penuh hikmah, dan dituturkan dengan bahasa yang luwes ala wartawan dan penyiar radio berpengalaman.


  • ·        Kesan
Membaca buku ini membuat saya “kewalahan”. Kewalahan karena menahan humor-humor yang diselipkan secara tidak terduga oleh Nuim. Sejarah biasanya menjadi hal yang menjemukan, berkutat dengan tanggal-tanggal yang sudah kadaluarsa mengenai berbagai macam peristiwa sering dianggap hal yang sia-sia. Kalau anak remaja zaman now mungkin akan nyeletuk, “Buat apa sih mengingat masa lalu? Move on dong!”. Bahkan, penulis tidak menggunakan kata “saya” agar terkesan formal, melainkan kata ganti “aku” yang berarti semua kisah dituturkan dari sudut pandang pertama Nuim. Inilah bagian keseruannya. Tidak dibuat-buat, apa adanya, lugu, cerdas, dan mengundang tawa.


Buku ini bukan saja menjadi rekreasi sejarah yang menyenangkan, tapi juga penuh dengan hikmah. Bahasa yang digunakan sangat apa adanya, bahkan terselip kata yang tidak baku di sana-sini, walaupun jumlah keseluruhannya tidak lebih dari 25 kata. Cerita banyak diisi oleh narasi dari penulis, tapi dengan gaya tutur yang sama sekali tidak membosankan. Saya sendiri bukan merupakan penggemar cerita biografi seperti yang saya ungkit di awal resensi, tapi membaca buku ini serasa sedang membaca novel remaja.


Nuim, lengkap dengan perilakunya yang badung, cerdas, membawa saya ke berbagai petualangan yang bahkan tidak pernah sekalipun saya bayangkan. Biasanya, imajinasi saya berkutat pada hal-hal di luar nalar dan masa depan, tapi petualangan dalam buku ini dialami secara nyata oleh seseorang yang bisa dibilang sangat nekat. Saya membayangkan kapal-kapal zaman dahulu yang tentu saja belum semewah dan sebesar kapal Titanic, tidur di bawah susuran tangga, sampai di negara-negara dengan budaya dan bahasa yang sama sekali berbeda. Wah, bisa dibilang, buku ini sekaligus juga mirip dengan buku travelling.


Saya jadi lebih mengerti mengenai awal mula terbentuknya Sunni dan Syi’ah karena buku ini sekaligus mengisahkan sejarah singkat beberapa tahun sebelum wafatnya Nabi Muhammad SAW, perseteruan antara para umat yang saat itu terpecah menjadi golongan yang mendukung Ali. sebagai penerus tonggak kepemimpinan nabi dan golongan yang tidak setuju hingga terpilihlah Abu Bakar, Umar, serta Ustman secara berturut-turut. Perseteruan tersebut kemudian berlarut-larut hingga menjadi salah satu penyebab ketidakberdayaan umat Islam dalam Perang Salib.


Beberapa kutipan tokoh yang diambil Nuim dengan sangat akurat di saat yang tepat, semakin menambah kesan mendalam terhadap buku ini, seperti pada kutipan kalimat yang diucapkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dalam pidatonya ketika dilantik (diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq):

 “Aku tidaklah lebih baik dari kalian. Patuhilah aku apabila aku melakukan hal yang benar. Kalau tidak, lawanlah aku. Kesetiaan berarti mengucapkan yang sebenarnya. Memuji-muji tanpa dasar adalah pengkhianatan. Hanya Allah yang wajib disembah, bukan manusia.” (Hlm. 21) 

Pengalaman-pengalaman Nuim sungguh-sungguh tak terduga. Bukan saja ia pernah bermain jalangkung untuk memanggil roh Abraham Lincoln, tetapi juga sempat menanyakan kejadian penembakan terhadap Presiden Amerika Serikat tersebut dalam bahasa Inggris dan semuanya dijawab dengan tepat. Padahal, teman yang saat itu memegangi si Jalangkung jangankan mengetahui sejarah, ia bahkan tidak bisa berbahasa Inggris. Untuk hal-hal aneh bin ajaib yang pernah dilakukannya ini, Nuim selalu mengakhiri dengan kata “Wallahua’lam”.


Nuim juga selalu menyelipkan pepatah-pepatah baik dari Bahasa Inggris, maupun pepatah daerah di Indonesia. Beberapa penuh hikmah dan beberapa yang lain berhasil mengocok perut, seperti kutipan berikut ini.

Ketika aku masuk ke dalam pesawat, kulihat hampir semua penumpang sedang tidur. 
Aku duduk di sebelah seorang perempuan bule yang sudah cukup berumur dan agak gemuk. Terasa udara dalam pesawat sangat dingin, mungkin karena aku belum terbiasa dengan AC. Begitu pesawat Qantas itu mengudara dan penumpang dibolehkan merokok, aku langsung menyalakan sebatang kretek untuk menghangatkan tubuh yang mulai kedinginan. Aku tidak nyana bahwa pesawat sebenarnya menyediakan selimut bagi para penumpangnya. 
Baru dua atau tiga kali rokok kretek itu aku sedot dan asapnya kukepulkan, banyak penumpang yang langsung terjaga dari tidur mereka. Seorang pramugari bergegas menghampiri tempat dudukku dan memerintahkan agar aku segera mematikan rokok yang asapnya telah mengganggu penumpang lain yang sedang enak-enak tidur di kursi masing-masing. Bak kata orang Tapanuli “Sakitna tidak seberapa, maluna itu…” (hlm. 74—75)

  • ·        Bagian Favorit
Bagian yang paling saya suka dari buku ini adalah pada bab berjudul “Ayahku…” Pada bab ini, Nuim menceritakan sosok ayahnya secara sekilas. Singkat, tapi entah mengapa mengena di hati dan lekat sekali di pikiran saya. Sosok ayah yang digambarkan oleh Nuim adalah orang yang penuh kasih, tidak bersikap angkuh, serta pembaharu pemikiran islami yang pada saat itu masih sering dipertentangkan, seperti perdebatan antara para kiai yang menyebut bahwa beribadah di Masjid Gang Bengkok/Lama adalah haram hukumnya karena dibangun dengan uang “majusi” (orang non-muslim). Penyelesaian yang ditawarkan oleh sang Ayah sangat sederhana, tidak bertele-tele, bahkan hanya dengan satu pertanyaan dan dua kalimat saja. Saya langsung mengagumi sosok Ayah Nuim tersebut.


  • ·        Kutipan Favorit
“Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, namun tidak cukup untuk memenuhi keserakahan manusia.” (Mahatma Gandhi, hlm. 223)

  • ·        Kekurangan
Karena jatuh cinta pada buku ini, saya sampai bingung untuk menuliskan kekurangannya. Mungkin yang perlu diperbaiki adalah beberapa typo yang bertebaran di sepanjang buku. Tidak banyak, tapi alangkah baiknya diperbaiki agar kegiatan membaca lebih nyaman.

  • ·      Kesimpulan
Buku ini sangat ringan dibaca oleh semua kalangan, apalagi oleh para remaja. Setelah membaca buku ini, kalian akan menemukan cara baru menikmati sejarah dengan cara yang tidak membosankan, penuh humor, dan Bahasa yang mengalir. Seperti sedang melakukan perjalanan dengan menaiki perahu yang di dalamnya berisi cerita-cerita yang kemudian bersambung ke perahu-perahu selanjutnya hingga sampai di pelabuhan. Pengetahuan sejarah, agama, dan pengetahuan mengenai kebudayaan luar negeri kalian akan langsung berkembang usai menuntaskan buku ini.

Akhir kata, selamat membaca!

Read More

Monday, July 22, 2019

[Me Time] Berkenalan dengan Tokoh Komik: Linlin!


Ratna Juwita

Aku masih berada dalam historia karena memenangkan giveaway yang diadakan oleh akun Instagram @bukune, platform komik digital @ciayocomic dan juga penulisnya langsung, yaitu @azurabiru. Syaratnya gampang dan menyenangkan: mengisi balon kata-kata yang kosong. Mudah, ‘kan? Aku selalu suka mengisi balon kata-kata yang kosong.

Lalu, apa hubungannya dengan judul tulisan ini? Sebentar, sabar. Hehe. Selang satu hari setelah pengumuman pemenang yang berhak mendapatkan komik “Blue Serenade”, aku mendapatkan DM (direct message) dari seseorang yang memasang avatar bergambar gadis dengan warna utama ungu. Saat itu aku berpikir, ah mungkin hanya salah seorang wibu (sebutan untuk pecinta anime dan komik Jepang).

(punyaku yang menang hehe)

(punyanya Linlin)

Ia mengaku sebagai pemenang kedua giveaway tersebut dan mengatakan bahwa DM-nya belum dibaca oleh pihak @Bukune. Jadilah aku membantunya menghubungi admin karena DM-ku sehari sebelumnya sudah dibalas. Sudah, selesai sampai di situ. Ia mengucapkan terima kasih karena sudah mau membantunya. Awalnya, aku pikir hubungan kami akan berhenti sampai situ seperti kenalanku sebelum-sebelumnya lewat dunia maya.

Namun, aku langsung tertarik ketika ia mengatakan bahwa saat ini ia tinggal di Jepang. Wah, kebetulan. Kebetulan karena beberapa waktu lalu aku mencoba melamar beasiswa ke Jepang sebanyak dua kali dan semuanya gagal. Hehe.

Dari situ kami pun saling bertukar cerita dari hal yang tidak penting sampai hal-hal yang entah bagaimana aku tanyakan padanya seperti, “Cita-citamu apa?”. Karena ia jauh lebih muda dariku, jadi aku mencoba bersikap seperti seorang “kakak” yang menanyakan tujuan hidup adiknya.

Saat itu, ia menjawab ingin menjadi penyanyi, tapi ia tidak bisa bernyanyi. Hmm, sama denganku. Aku bahkan tidak bisa bernyanyi dengan benar dan sering ditertawakan teman-teman saat karaoke. Ibaratnya, ngomong aja aku udah fals.

Aku sempat terhenyak ketika ia mengatakan bahwa ia deaf. Aku menimang-nimang sejenak untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa ia berkata yang sebenarnya. Bertanya-tanya dalam hati apakah aku sedang berada di dalam sebuah cerita komik? Aku hanya pernah mengenal tokoh dengan ciri-ciri fisik sepertinya di dalam komik, seperti "Koe no Katachi" dan ia cukup cantik untuk bisa menjadi salah satu tokohnya. Ketika kamu membaca ini, kamu tidak perlu ge-er, mengerti?

Ayahnya seringkali pulang larut pagi (karena sudah tidak termasuk malam lagi), sedangkan ia sendirian di dalam apartemennya selama ayahnya bekerja. Jadilah aku memutuskan menemaninya agar setidaknya ada “suara” berisik di handphone-nya yang berasal dariku. 

Jujur saja, aku tidak pernah memiliki teman sepertinya. Aku sempat dibuat khawatir ketika hari berikutnya ia mengirimkan DM bahwa ia sedang berada di luar, jalan-jalan katanya. Bagaimana jika ia tidak tahu jalan karena tidak mengerti tulisan di petunjuk arahnya? Ia baru saja pindah ke Jepang dan tentu saja ia belum tahu banyak kanji beserta kunyomi onyomi-nya.  Aku saja yang sudah berkecimpung empat tahun dengan bahasa Jepang masih suka kagok kalau melihat kanji. hehe. Itu yang kupikirkan saat itu. Namun, aku akhirnya bisa bernapas lega ketika papanya menjemput karena memergokinya sedang berada di luar apartemen ketika melakukan video call.

Semakin lama aku mengenalnya, aku berkesimpulan bahwa ia adalah anak yang cerdas. Bagaimana tidak? Ia masuk SMA di umur 13 tahun dan di umurnya yang masih 15 tahun ia sudah membaca buku “Kebijakan Publik” yang tak sengaja kulihat di salah satu foto di feed Instagram miliknya, which is dulu ketika aku seumuran dengannya aku masih membaca novel romance menye-menye dan komik Detective Conan. Buku nonfiksi yang kubaca saat itu hanyalah buku paket pelajaran yang cukup. Cukup. Silakan diartikan sendiri. Hehe.

Aku senang ia tumbuh “dengan baik”. Ia bisa membaca buku berbahasa Inggris sedangkan aku sama sekali belum pernah. Masih berada dalam tahap ingin mencoba demi meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisku. Aku suka dengan orang cerdas dan pintar karena dari mereka aku bisa belajar banyak hal, bisa mendiskusikan sesuatu, bertukar pikiran, dan sebagainya.

Selain itu, ia biasa melontarkan jokes-jokes yang receh, tapi cukup menghibur. Tidak berbau SARA maupun seksual yang biasa dijadikan lelucon di sekitarku. Menambah kesan bahwa ia memang pintar.

Seringkali, ia akan berpura-pura ngambek ketika aku mengatakan bahwa ia terbilang cukup muda untuk membaca buku “Kebijakan Publik”. Ia mengancam akan membuang bukunya, tapi aku menyarankan agar ia membakarnya. Haha.

Ia seperti alarm pengingat agar aku jauh lebih mensyukuri hidup. Bahwa, manusia memang tidak dilahirkan sempurna. Justru karena ketidaksempurnaan itu, manusia bisa menjadi manusia “sempurna”. Allah seperti sedang berusaha terus memberiku tamparan dan pembelajaran hidup yang semakin lama terasa membuatku dewasa. Aku yang dulu di-bully karena wajahku dianggap jelek, aku menyadarinya bahwa yang mereka katakan tidak benar. Aku akan mulai menghargai diriku sendiri mulai sekarang karena dengan itulah aku juga bisa menghargai orang lain.

Dan, hei. Selamat datang di kehidupanku, Linlin! Aku menulis ini untukmu karena aku sangat senang berkenalan denganmu. Aku tidak tahu perkenalan kita bisa bertahan berapa lama, tapi aku pastikan aku akan belajar bahasa isyarat hingga ketika kita bertemu nanti, aku akan bisa mengerti apa yang ingin kamu katakan. Semoga hari itu akan benar-benar terjadi.

Yogyakarta, 26 Februari 2019


                                           

Read More

Friday, July 19, 2019

[Cerpen Remaja Tema Sejarah] GR 10152

(sumber gambar di sini)

Ratna Juwita

            “Anak-anak, kita sudah sampai!” Bu Yasmin, guru sejarah kami yang memiliki suara bak lagu nina bobo setiap kali mengajar di kelas, berseru gembira. Kami semua berjajar rapi di depan museum setelah melewati gapura pintu masuk khas militer. Di sana, tulisan “Museum Brawijaya” yang sangat besar di bagian atap, langsung menyambut kami.

Mataku memandang sekeliling. Tepat di depan kami, terdapat tugu persegi panjang dengan patung setengah badan seorang laki-laki berpeci, menempel di atasnya. Samar-samar, aku membaca tulisan yang tertera di tugu hitam itu: Jenderal Soedirman. Dadaku langsung bergejolak. Mati aku!

“Berjuanglah Sudirman, pahlawan kita!” Suara nyanyian sumbang yang mengutip dari lagu pembuka animasi Captain Tsubasa itu langsung disambut gelak tawa di sekelilingku. Salah satu teman—paling menyebalkan—di kelas, Nando, menyanyikan liriknya sambil mengulurkan tangan kiri ke arahku dan tangan kanan menempel di dada, seolah sedang membacakan puisi cinta.

Aku menyunggingkan senyum terpaksa. Pura-pura ikut menikmati ejekan mereka. Sial!

Inilah alasanku tidak pernah suka mengunjungi museum bersama teman-teman. Namaku yang sama dengan nama salah satu jenderal TNI itu sering kali menjadi bahan olok-olokan mereka. Tak henti-hentinya aku merutuki orangtua yang tidak bisa memilih nama keren dan bagus untuk anak semata wayangnya ini. Kalau boleh, aku bakal lebih senang kalau diberi nama Lautan, Gemintang, Cakrawala, atau apa pun selain nama pahlawan yang sering digunakan sebagai nama jalan.

“Ssst! Diam, Anak-anak! Jangan menghina nama pahlawan kita! Kalian tahu Jenderal Soedirman adalah ….”

Bola mataku berputar. Bu Yasmin selalu mengulang hal yang sama tentang Jenderal Soedirman dengan harapan teman-temanku akan lebih menghargai pahlawan itu. Kenyataannya, mereka justru akan semakin gencar mengejekku dan tak pernah sedikit pun terlihat menghargai Jenderal Soedirman. Apalagi “Sudirman” yang ada di depan mereka ini.

***

Mataku menjelajah ke tiap benda yang terpajang di dalam museum ini. Sebelum masuk ke museum, aku sangat tertarik dengan tank amfibi bernama AM-TRACK yang terletak di halaman. Tank itu terlihat nyata dan keren. Maksudku, itu adalah tank sungguhan yang digunakan dalam Agresi Militer Belanda I tahun 1947! Beruntung aku masih bisa melihatnya.

Aku memang tidak terlalu menyukai pelajaran sejarah, tapi aku selalu suka cerita-cerita peperangan, aksi, mafia, atau apa pun yang melibatkan tokoh-tokoh keren. Adegan tembak-menembak adalah salah satu favoritku.

Kali ini, kami sedang melihat-lihat ruang lobi yang berisi relief wilayah kekuasaan Majapahit, daerah tugas pasukan Brawijaya, dan sebagainya. Jujur saja, berkeliling di bagian ini membuatku menguap lebih lebar. Untungnya, di sini tidak terdapat segala hal yang berhubungan dengan Jenderal Soedirman sehingga teman-teman berhenti mengolokku untuk sesaat.

Nando terlihat beringsut ke arahku. Aku sedikit menjauhkan kepala ketika wajahnya mendekat, tetapi ia menarik lenganku. “Man, museum ini katanya salah satu yang angker!” bisik Nando.

Segera saja bulu kudukku meremang. Kami sedang berada di Ruang Koleksi I yang banyak terdapat foto dan lukisan-lukisan pertempuran. Jujur saja, berada di sana sudah membuat perasaanku tidak enak. Aku melirik ke arah Nando yang kemudian cekikikan sambil berteriak lumayan keras, “Man, Man, ada fotomu!”

Sontak, teriakannya itu lagi-lagi disambut gelak tawa. Desisan Bu Yasmin menyahut kemudian. Foto yang dimaksud Nando adalah lukisan Jenderal Soedirman yang mengadakan inspeksi pasukan di Malang dalam rangka persiapan pemulangan tawanan perang Jepang, tertulis keterangan di bawah lukisan itu.

Aku mulai jengkel dengan kunjungan museum ini. Seharusnya, aku memohon pada ibu untuk memberiku izin membolos satu kali saja, tapi setelah kupikir-pikir, aku mungkin melewatkan Hawaii Waterpark Malang. Rencananya, kami akan pergi ke sana begitu kunjungan museum selesai untuk me-refresh otak. Tidak ada wahana air seperti itu di kota kami, Banyuwangi.

Kami bersiap meninggalkan ruangan ketika mataku sekali lagi terjerat pada lukisan Jenderal Soedirman tadi. Dalam lukisan besar yang kira-kira berukuran empat kali dua meter itu, terlihat tiga orang berpakaian serba hijau dengan kemeja putih dan dasi hitam di baliknya, serta mengenakan penutup kepala hitam. Orang yang paling depan adalah Jenderal Soedirman yang berjalan sambil memberi hormat, kemudian di belakangnya terdapat dua orang yang mengikutinya. Beberapa orang tentara Indonesia berbaris di bagian tepi sambil memegangi senapan, kemudian diikuti orang-orang yang sepertinya adalah jenderal atau panglima, dan yang paling belakang berderet orang-orang yang berpakaian seperti pasukan Jepang.

Tanpa sadar, aku dibuat merinding. Seakan-akan aku juga berada di sana, merasakan kewibawaan orang yang sebenarnya tidak tampan, tapi memiliki pandangan mata yang tajam. Ia terlihat kurus dengan bibir penuh yang sedikit menonjol, tapi ia terlihat gagah dalam balutan pakaian hijau tua itu.

“Man …”

Aku seperti bisa melihat langkah tegap, tegas, dan tak kenal takut dalam lukisan tak bergerak itu. Meskipun begitu, entah mengapa, ada perasaan tidak enak yang menyergapku.

“Dirman …”

Seperti …

“Sudirman!”

Aku terkesiap. Menoleh. Mendapati Bu Yasmin telah berada di sebelahku dengan raut muka cemas.

“Yaampun! Ibu kira kamu kesurupan! Jangan bikin Ibu takut, dong! Kamu ngeliatin lukisan itu nggak kedip. Tegang.” Bu Yasmin mengguncang lenganku.

Mataku berkedip, baru benar-benar merasa berpijak lagi di atas lantai museum. Sesaat kemudian, aku mencoba mengulas senyuman yang kuharap sedikit memberikan efek tenang pada Bu Yasmin.

“Ah, iya maaf, Bu. Saya cuma ngerasa … lukisan ini keren, terus … lho mana teman-teman?” Aku memandang ke sekeliling dan hanya menemukanku berdua dengan Bu Yasmin.

“Mereka sudah ke Gerbong Maut sana. Ibu tadi baru sadar kalau kamu tidak ada. Ibu sudah takut saja kamu hilang tiba-tiba!” ujar Bu Yasmin menjelaskan. Aku manggut-manggut.

Eh, apa?

“Gerbong Maut, Bu?” tanyaku antusias. Bu Yasmin mengangguk, terlihat kebingungan dengan perubahan reaksiku. Aku hampir melewatkan yang satu itu! Padahal, itu benda di museum ini yang paling ingin kulihat! “Di mana, Bu?” lanjutku tidak sabar.

Bu Yasmin mengangkat tangan, menunjuk pintu keluar, “Di sana … lho, Man! Sudirman! Aduh, anak ini! Jangan tinggalin Ibu!”

Aku tak tagi menggubris panggilan Bu Yasmin dan langsung melesat ke luar ruangan.

***
 Mataku tertuju pada sebuah gerbong berukuran kecil yang berwarna perpaduan putih dan hitam. Di salah satu bagian, terdapat lubang persegi yang merupakan satu-satunya pintu masuk gerbong. Tidak ada lagi lubang, jendela, atau pintu lainnya. Di bawah lubang yang berbentuk persegi itu terdapat lempengan besi persegi panjang dengan tulisan “GR 10152”. Nama gerbong tersebut adalah “Gerbong Maut”.

Kami mengitari gerbong sembari mendengar penjelasan seorang pemandu yang penjelasannya tidak kudengarkan dari awal masuk museum. Namun, kali ini berbeda. Aku sangat penasaran dengan gerbong yang bahkan sempat viral di internet karena menangkap sesosok perempuan yang terlihat dari lubang pintu masuk saat seorang anak laki-laki sedang dibidik kamera. Teman-temanku bahkan sudah mencari banyak fakta mengenai gerbong ini di internet dan terus menyebarkan desas-desus bahwa gerbong ini berhantu.

“Karena kepanasan, kondisi juga mengenaskan, seratus tawanan yang dibawa oleh tiga gerbong tercatat dalam dokumen di perpustakaan, semua namanya, baik yang selamat dan yang meninggal,” ucap pemandu berperawakan sedang dan kulit kecoklatan karena terbakar sinar matahari itu.

Aku bergidik membayangkan berada di dalam gerbong sempit bersama tiga puluh tujuh orang lain dan melakukan perjalanan selama enam belas jam, seperti kata pemandu itu selanjutnya. Ditambah lagi, para pejuang kita tidak diberi makan dan minum, tidak ada udara yang masuk, dan terpanggang di siang hari karena bahan seng gerbong merupakan konduktor panas.

Aku memisahkan diri dari rombongan yang berada di sisi seberang pintu masuk dan berjalan kembali ke bagian depan gerbong. Mataku menangkap sebuah papan yang ditempel di samping lubang masuk yang terdapat tulisan dalam huruf balok:

Salah satu diantara 3 gerbong maut yg. pernah digunakan oleh mil. Belanda untuk mengangkut 100 orang tawanan pedjoeang Indonesia dari penjara Bondowoso pindah ke tempat tahanan Bubutan Surabaya tgl. 23-11-1947 karena diperjalanan pintu ditutup/kunci mengakibatkan meninggal 46 orang, sakit payah 11 orang, sakit 31 orang, sehat 12 orang.”

Usai membaca tulisan itu, mataku berkunang-kunang. Kakiku serasa melayang di udara, Aku melihat Nando tertawa bersama teman-teman segengnya, Bu Yasmin datang tergopoh-gopoh, dan … sebuah gerbong yang diam, tapi terasa mencekam. Tenggorokanku tercekat dan napasku mulai terasa pendek-pendek.

***
Mataku mengerjap, samar-samar kulihat beberapa orang laki-laki berseragam seperti tentara dengan sesuatu yang berbentuk seperti senapan tergantung di bahunya, sedang berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti. Karena keterbatasan cahaya, aku bahkan tidak mengenali warna pakaiannya.

Jantungku berdentum hebat. Di mana ini? Seingatku, aku masih berada bersama teman-teman, Bu Yasmin, dan seorang pemandu berwajah ramah di Museum Brawijaya. Aku mencoba mengingat lebih jelas, tapi sebuah bentakan membuyarkan semuanya.

Orang-orang berseragam dan membawa senapan itu, membentak-bentak dengan Bahasa yang sama sekali asing. Keningku terlipat dan alisku bertautan. Siapa mereka? Tentara?

Mau tak mau, tubuhku mulai gemetaran mendengar bentakan-bentakan yang mereka lontarkan. Meskipun aku tidak mengerti hal yang mereka katakan, bukan berarti aku tidak bisa menangkap nada kemarahan dalam suara mereka. Ini seperti … sedang menonton film kemerdekaan live di atas panggung. Adegan ketika para penjajah menyiksa para pejuang.

Bulu kudukku berdiri. Aku bahkan tak berani mengedarkan pandangan. Dadaku bergemuruh. Ributnya sangat keras hingga aku takut semua orang mendengarnya, terutama para tentara yang sedang mengamuk itu. Beberapa kali, terdengar suara pukulan, hentakan, hingga tubuh yang limbung disertai suara mengaduh dan mengerang. Kondisi yang sangat gelap benar-benar membuatku fungsi otakku seolah berhenti. Aku tidak bisa mengobservasi keadaan di sekelilingku dengan lebih jelas dan akurat.

Semua orang seolah tengah dihukum seperti yang biasa ibu guru lakukan jika kami nakal atau membuat gaduh kelas saat jam pelajaran. Bedanya, di depan mukaku kini, senapan ditodongkan, dihantamkan, diikuti kaki yang melayang ke muka. Beruntungnya, aku berada di barisan tengah sehingga tidak merasakan ciuman sepatu mereka. Mataku mulai terbiasa dengan keremangan, menyaksikan beberapa orang yang berjongkok di depanku tumbang, untuk kemudian berusaha berjongkok lagi.

Aku baru memahami situasi dengan lebih jelas ketika satu per satu, orang-orang yang tadinya berjongkok dan disiksa, kini dipaksa masuk ke dalam sebuah gerbong yang terlihat kecil … aku menelan ludah. Gerbong itu terlihat samar memiliki dua warna satu gelap dan satu lebih terang dengan satu pintu kecil di salah satu sisinya. Jangan bilang …

Begitu tersadar, kakiku melangkah dan berjalan ke arah pintu gerbong ketiga dengan bergetar. Salah seorang tentara, mendorong tubuhku dengan keras. Aku hampir terjerembab, tapi berhasil menguasai tubuhku kembali. Langkah kaki semakin terasa berat. Degup jantungku membuat seluruh tubuh melemas, tidak ada bagian tubuhku yang tidak bergetar, jalanku sempoyongan, tapi di sisi lain ada sepercik semangat untuk melawan yang datang entah dari mana. Bahwa, aku tidak ingin tunduk dan dikalahkan begitu saja oleh para tentara berhidung mancung ini. Semacam … semangat perjuangan.

Kakiku melangkah dengan berat ke dalam gerbong yang telah penuh. Aku menjadi orang terakhir yang masuk. Tubuh ringkih yang tidak bertenaga ini dipaksa berdesakan ketika akhirnya pintu ditutup dengan keras. Keadaan seketika menjadi gelap dan menyesakkan. Aku lebih memilih keremangan yang tadi dibandingkan kegelapan total saat ini. Hanya suara embusan napas yang mampir di gendang telingaku. Suara embusan napas yang tidak normal. Tersengal, bau, dan penuh dengan ketidaknyamanan.

Saat kurasakan gerbong mulai bergerak, seseorang bergoyang, menabrak dadaku dan membuatku terbatuk. Aku bahkan lupa bernapas, takut kalau satu embusan napasku saja bisa membuat gerbong ini menjadi semakin sesak dan pengap. Seolah, satu embusan napas menjelma satu tubuh manusia yang semakin membuat gerbong terasa sempit. Entah hanya perasaanku atau semakin lama, dinding gerbong seolah bergerak menghimpit kami.

Semua orang terbatuk, saling berusaha berebut oksigen. Pening menyerang. Aku berusaha sekuat tenaga menjaga tubuh agar tidak merosot ke bawah karena pasti aku akan terhimpit dan terinjak, lalu mungkin … mati begitu saja. Tubuhku bergidik membayangkannya. Sekarang, paru-paruku terasa terbakar.

Meskipun kupaksa untuk tetap terjaga, mataku berangsur terpejam. Satu suara yang terdengar sekarat, mampir di telingaku seolah-olah itu adalah tenaga terakhirnya yang disalurkan untuk berseru dengan bahasa yang lagi-lagi tak kupahami, tapi membuat perasaanku bergejolak di detik-detik terakhir. Di telingaku, teriakannya terdengar seperti, “Berjuang hingga titik darah penghabisan!”.

***
“Dirman … Sudirman … Sudirman …”

Sayup-sayup, aku mendengar sebuah suara yang taka sing di telinga karena begitu sering memanggil namaku itu. Mataku terbuka perlahan dan cahaya yang terang langsung menyergap retinaku. Membuatku memejamkan mata berkali-kali sebelum akhirnya terbiasa.

“Sudirman! Syukurlah!”

Mataku menangkap wajah Bu Yasmin dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ia terlihat benar-benar lega. Aku bingung.

“Bu Yasmin?” tanyaku lebih seperti mencoba memastikan. “Apa … aku kenapa?” Mataku menatap wajah teman-teman yang mengerubungi. Mereka juga memasang wajah lega, bahkan Nando yang jail sekalipun.

“Kamu pingsan tadi di dekat Gerbong Maut,” jawab Bu Yasmin lamat-lamat, menekankan setiap kata-katanya.

Dadaku kembali bergemuruh. Ingatanku terbang ke kejadian yang mengerikan dalam mimpiku. Hanya mimpi? Aku kira, aku benar-benar sudah mati. Sial, bulu kudukku langsung berdiri. Bahkan, napasku masih tersengal, takut oksigen lari dari paru-paruku. Keadaan di dalam gerbong begitu menakutkan. Gelap dan sesak. Mungkin desas-desus aneh tentang Gerbong Maut itu memengaruhi otakku sampai seperti ini.

“Uh, um, saya tadi mimpi berada di Gerbong Maut, Bu.” Aku bisa mendengar suara terkejut di sekelilingku.

Bu Yasmin terlihat bingung, tapi kemudian berkata, “Tenang, itu cuma mimpi, Man.”

“Man, jangan-jangan kamu dimasukin hantu! Aku nggak lagi ngejek kamu Jenderal Sudirman sang pahlawan pembela kebenaran, tapi jangan bilangin hantunya kalau aku suka jailin kamu, ya? Plis!” Nando menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

Beberapa temanku tertawa, beberapa lagi tidak. Terlihat rona ketakutan di wajah mereka.

“Hush! Jangan ngomong gitu, Nando!” Bu Yasmin menengahi.

“Tapi kata—”

“Sudah, kalau kalian tidak menurut, kita batal ke Hawaii Waterpark!”

Suara Bu Yasmin langsung disambut suara protes dari teman-teman, termasuk aku. Yang benar saja! Aku bahkan rela mengorbankan diri diejek di sini hanya untuk menikmati Hawaii Waterpark!

“Jangan, Bu! Saya mohon! Kami pengin banget ke Hawaii Waterpark! Justru di situ sajian utamanya!” pintaku.

“Oh, jadi kalian nggak benar-benar mendengarkan penjelasan bapak pemandu? Pikiran kalian pasti dipenuhi Hawaii Waterpark! Kalau begitu, tugasnya Ibu tambahin. Kalian harus buat cerpen tentang perjalanan ini, terserah cerpennya seperti apa!

“Yaaahhh …” Suara-suara kekecewaan yang keluar bersamaan dari mulut kami, menggema di langit-langit museum.

Aku memandang teman-temanku yang langsung lesu. Nando bahkan langsung pura-pura pingsan di lantai untuk mendramatisir suasana. Mau tidak mau, aku dibuat tertawa melihatnya.

Aku tidak tahu apakah itu hanya sekadar mimpi atau ilham, yang jelas, aku sudah mendapatkan ide untuk cerpen perjalanan ini: GR 10152!
***


Yogyakarta, 2 Juni 2019
Read More

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com