Friday, July 19, 2019

[Cerpen Remaja Tema Sejarah] GR 10152

(sumber gambar di sini)

Ratna Juwita

            “Anak-anak, kita sudah sampai!” Bu Yasmin, guru sejarah kami yang memiliki suara bak lagu nina bobo setiap kali mengajar di kelas, berseru gembira. Kami semua berjajar rapi di depan museum setelah melewati gapura pintu masuk khas militer. Di sana, tulisan “Museum Brawijaya” yang sangat besar di bagian atap, langsung menyambut kami.

Mataku memandang sekeliling. Tepat di depan kami, terdapat tugu persegi panjang dengan patung setengah badan seorang laki-laki berpeci, menempel di atasnya. Samar-samar, aku membaca tulisan yang tertera di tugu hitam itu: Jenderal Soedirman. Dadaku langsung bergejolak. Mati aku!

“Berjuanglah Sudirman, pahlawan kita!” Suara nyanyian sumbang yang mengutip dari lagu pembuka animasi Captain Tsubasa itu langsung disambut gelak tawa di sekelilingku. Salah satu teman—paling menyebalkan—di kelas, Nando, menyanyikan liriknya sambil mengulurkan tangan kiri ke arahku dan tangan kanan menempel di dada, seolah sedang membacakan puisi cinta.

Aku menyunggingkan senyum terpaksa. Pura-pura ikut menikmati ejekan mereka. Sial!

Inilah alasanku tidak pernah suka mengunjungi museum bersama teman-teman. Namaku yang sama dengan nama salah satu jenderal TNI itu sering kali menjadi bahan olok-olokan mereka. Tak henti-hentinya aku merutuki orangtua yang tidak bisa memilih nama keren dan bagus untuk anak semata wayangnya ini. Kalau boleh, aku bakal lebih senang kalau diberi nama Lautan, Gemintang, Cakrawala, atau apa pun selain nama pahlawan yang sering digunakan sebagai nama jalan.

“Ssst! Diam, Anak-anak! Jangan menghina nama pahlawan kita! Kalian tahu Jenderal Soedirman adalah ….”

Bola mataku berputar. Bu Yasmin selalu mengulang hal yang sama tentang Jenderal Soedirman dengan harapan teman-temanku akan lebih menghargai pahlawan itu. Kenyataannya, mereka justru akan semakin gencar mengejekku dan tak pernah sedikit pun terlihat menghargai Jenderal Soedirman. Apalagi “Sudirman” yang ada di depan mereka ini.

***

Mataku menjelajah ke tiap benda yang terpajang di dalam museum ini. Sebelum masuk ke museum, aku sangat tertarik dengan tank amfibi bernama AM-TRACK yang terletak di halaman. Tank itu terlihat nyata dan keren. Maksudku, itu adalah tank sungguhan yang digunakan dalam Agresi Militer Belanda I tahun 1947! Beruntung aku masih bisa melihatnya.

Aku memang tidak terlalu menyukai pelajaran sejarah, tapi aku selalu suka cerita-cerita peperangan, aksi, mafia, atau apa pun yang melibatkan tokoh-tokoh keren. Adegan tembak-menembak adalah salah satu favoritku.

Kali ini, kami sedang melihat-lihat ruang lobi yang berisi relief wilayah kekuasaan Majapahit, daerah tugas pasukan Brawijaya, dan sebagainya. Jujur saja, berkeliling di bagian ini membuatku menguap lebih lebar. Untungnya, di sini tidak terdapat segala hal yang berhubungan dengan Jenderal Soedirman sehingga teman-teman berhenti mengolokku untuk sesaat.

Nando terlihat beringsut ke arahku. Aku sedikit menjauhkan kepala ketika wajahnya mendekat, tetapi ia menarik lenganku. “Man, museum ini katanya salah satu yang angker!” bisik Nando.

Segera saja bulu kudukku meremang. Kami sedang berada di Ruang Koleksi I yang banyak terdapat foto dan lukisan-lukisan pertempuran. Jujur saja, berada di sana sudah membuat perasaanku tidak enak. Aku melirik ke arah Nando yang kemudian cekikikan sambil berteriak lumayan keras, “Man, Man, ada fotomu!”

Sontak, teriakannya itu lagi-lagi disambut gelak tawa. Desisan Bu Yasmin menyahut kemudian. Foto yang dimaksud Nando adalah lukisan Jenderal Soedirman yang mengadakan inspeksi pasukan di Malang dalam rangka persiapan pemulangan tawanan perang Jepang, tertulis keterangan di bawah lukisan itu.

Aku mulai jengkel dengan kunjungan museum ini. Seharusnya, aku memohon pada ibu untuk memberiku izin membolos satu kali saja, tapi setelah kupikir-pikir, aku mungkin melewatkan Hawaii Waterpark Malang. Rencananya, kami akan pergi ke sana begitu kunjungan museum selesai untuk me-refresh otak. Tidak ada wahana air seperti itu di kota kami, Banyuwangi.

Kami bersiap meninggalkan ruangan ketika mataku sekali lagi terjerat pada lukisan Jenderal Soedirman tadi. Dalam lukisan besar yang kira-kira berukuran empat kali dua meter itu, terlihat tiga orang berpakaian serba hijau dengan kemeja putih dan dasi hitam di baliknya, serta mengenakan penutup kepala hitam. Orang yang paling depan adalah Jenderal Soedirman yang berjalan sambil memberi hormat, kemudian di belakangnya terdapat dua orang yang mengikutinya. Beberapa orang tentara Indonesia berbaris di bagian tepi sambil memegangi senapan, kemudian diikuti orang-orang yang sepertinya adalah jenderal atau panglima, dan yang paling belakang berderet orang-orang yang berpakaian seperti pasukan Jepang.

Tanpa sadar, aku dibuat merinding. Seakan-akan aku juga berada di sana, merasakan kewibawaan orang yang sebenarnya tidak tampan, tapi memiliki pandangan mata yang tajam. Ia terlihat kurus dengan bibir penuh yang sedikit menonjol, tapi ia terlihat gagah dalam balutan pakaian hijau tua itu.

“Man …”

Aku seperti bisa melihat langkah tegap, tegas, dan tak kenal takut dalam lukisan tak bergerak itu. Meskipun begitu, entah mengapa, ada perasaan tidak enak yang menyergapku.

“Dirman …”

Seperti …

“Sudirman!”

Aku terkesiap. Menoleh. Mendapati Bu Yasmin telah berada di sebelahku dengan raut muka cemas.

“Yaampun! Ibu kira kamu kesurupan! Jangan bikin Ibu takut, dong! Kamu ngeliatin lukisan itu nggak kedip. Tegang.” Bu Yasmin mengguncang lenganku.

Mataku berkedip, baru benar-benar merasa berpijak lagi di atas lantai museum. Sesaat kemudian, aku mencoba mengulas senyuman yang kuharap sedikit memberikan efek tenang pada Bu Yasmin.

“Ah, iya maaf, Bu. Saya cuma ngerasa … lukisan ini keren, terus … lho mana teman-teman?” Aku memandang ke sekeliling dan hanya menemukanku berdua dengan Bu Yasmin.

“Mereka sudah ke Gerbong Maut sana. Ibu tadi baru sadar kalau kamu tidak ada. Ibu sudah takut saja kamu hilang tiba-tiba!” ujar Bu Yasmin menjelaskan. Aku manggut-manggut.

Eh, apa?

“Gerbong Maut, Bu?” tanyaku antusias. Bu Yasmin mengangguk, terlihat kebingungan dengan perubahan reaksiku. Aku hampir melewatkan yang satu itu! Padahal, itu benda di museum ini yang paling ingin kulihat! “Di mana, Bu?” lanjutku tidak sabar.

Bu Yasmin mengangkat tangan, menunjuk pintu keluar, “Di sana … lho, Man! Sudirman! Aduh, anak ini! Jangan tinggalin Ibu!”

Aku tak tagi menggubris panggilan Bu Yasmin dan langsung melesat ke luar ruangan.

***
 Mataku tertuju pada sebuah gerbong berukuran kecil yang berwarna perpaduan putih dan hitam. Di salah satu bagian, terdapat lubang persegi yang merupakan satu-satunya pintu masuk gerbong. Tidak ada lagi lubang, jendela, atau pintu lainnya. Di bawah lubang yang berbentuk persegi itu terdapat lempengan besi persegi panjang dengan tulisan “GR 10152”. Nama gerbong tersebut adalah “Gerbong Maut”.

Kami mengitari gerbong sembari mendengar penjelasan seorang pemandu yang penjelasannya tidak kudengarkan dari awal masuk museum. Namun, kali ini berbeda. Aku sangat penasaran dengan gerbong yang bahkan sempat viral di internet karena menangkap sesosok perempuan yang terlihat dari lubang pintu masuk saat seorang anak laki-laki sedang dibidik kamera. Teman-temanku bahkan sudah mencari banyak fakta mengenai gerbong ini di internet dan terus menyebarkan desas-desus bahwa gerbong ini berhantu.

“Karena kepanasan, kondisi juga mengenaskan, seratus tawanan yang dibawa oleh tiga gerbong tercatat dalam dokumen di perpustakaan, semua namanya, baik yang selamat dan yang meninggal,” ucap pemandu berperawakan sedang dan kulit kecoklatan karena terbakar sinar matahari itu.

Aku bergidik membayangkan berada di dalam gerbong sempit bersama tiga puluh tujuh orang lain dan melakukan perjalanan selama enam belas jam, seperti kata pemandu itu selanjutnya. Ditambah lagi, para pejuang kita tidak diberi makan dan minum, tidak ada udara yang masuk, dan terpanggang di siang hari karena bahan seng gerbong merupakan konduktor panas.

Aku memisahkan diri dari rombongan yang berada di sisi seberang pintu masuk dan berjalan kembali ke bagian depan gerbong. Mataku menangkap sebuah papan yang ditempel di samping lubang masuk yang terdapat tulisan dalam huruf balok:

Salah satu diantara 3 gerbong maut yg. pernah digunakan oleh mil. Belanda untuk mengangkut 100 orang tawanan pedjoeang Indonesia dari penjara Bondowoso pindah ke tempat tahanan Bubutan Surabaya tgl. 23-11-1947 karena diperjalanan pintu ditutup/kunci mengakibatkan meninggal 46 orang, sakit payah 11 orang, sakit 31 orang, sehat 12 orang.”

Usai membaca tulisan itu, mataku berkunang-kunang. Kakiku serasa melayang di udara, Aku melihat Nando tertawa bersama teman-teman segengnya, Bu Yasmin datang tergopoh-gopoh, dan … sebuah gerbong yang diam, tapi terasa mencekam. Tenggorokanku tercekat dan napasku mulai terasa pendek-pendek.

***
Mataku mengerjap, samar-samar kulihat beberapa orang laki-laki berseragam seperti tentara dengan sesuatu yang berbentuk seperti senapan tergantung di bahunya, sedang berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti. Karena keterbatasan cahaya, aku bahkan tidak mengenali warna pakaiannya.

Jantungku berdentum hebat. Di mana ini? Seingatku, aku masih berada bersama teman-teman, Bu Yasmin, dan seorang pemandu berwajah ramah di Museum Brawijaya. Aku mencoba mengingat lebih jelas, tapi sebuah bentakan membuyarkan semuanya.

Orang-orang berseragam dan membawa senapan itu, membentak-bentak dengan Bahasa yang sama sekali asing. Keningku terlipat dan alisku bertautan. Siapa mereka? Tentara?

Mau tak mau, tubuhku mulai gemetaran mendengar bentakan-bentakan yang mereka lontarkan. Meskipun aku tidak mengerti hal yang mereka katakan, bukan berarti aku tidak bisa menangkap nada kemarahan dalam suara mereka. Ini seperti … sedang menonton film kemerdekaan live di atas panggung. Adegan ketika para penjajah menyiksa para pejuang.

Bulu kudukku berdiri. Aku bahkan tak berani mengedarkan pandangan. Dadaku bergemuruh. Ributnya sangat keras hingga aku takut semua orang mendengarnya, terutama para tentara yang sedang mengamuk itu. Beberapa kali, terdengar suara pukulan, hentakan, hingga tubuh yang limbung disertai suara mengaduh dan mengerang. Kondisi yang sangat gelap benar-benar membuatku fungsi otakku seolah berhenti. Aku tidak bisa mengobservasi keadaan di sekelilingku dengan lebih jelas dan akurat.

Semua orang seolah tengah dihukum seperti yang biasa ibu guru lakukan jika kami nakal atau membuat gaduh kelas saat jam pelajaran. Bedanya, di depan mukaku kini, senapan ditodongkan, dihantamkan, diikuti kaki yang melayang ke muka. Beruntungnya, aku berada di barisan tengah sehingga tidak merasakan ciuman sepatu mereka. Mataku mulai terbiasa dengan keremangan, menyaksikan beberapa orang yang berjongkok di depanku tumbang, untuk kemudian berusaha berjongkok lagi.

Aku baru memahami situasi dengan lebih jelas ketika satu per satu, orang-orang yang tadinya berjongkok dan disiksa, kini dipaksa masuk ke dalam sebuah gerbong yang terlihat kecil … aku menelan ludah. Gerbong itu terlihat samar memiliki dua warna satu gelap dan satu lebih terang dengan satu pintu kecil di salah satu sisinya. Jangan bilang …

Begitu tersadar, kakiku melangkah dan berjalan ke arah pintu gerbong ketiga dengan bergetar. Salah seorang tentara, mendorong tubuhku dengan keras. Aku hampir terjerembab, tapi berhasil menguasai tubuhku kembali. Langkah kaki semakin terasa berat. Degup jantungku membuat seluruh tubuh melemas, tidak ada bagian tubuhku yang tidak bergetar, jalanku sempoyongan, tapi di sisi lain ada sepercik semangat untuk melawan yang datang entah dari mana. Bahwa, aku tidak ingin tunduk dan dikalahkan begitu saja oleh para tentara berhidung mancung ini. Semacam … semangat perjuangan.

Kakiku melangkah dengan berat ke dalam gerbong yang telah penuh. Aku menjadi orang terakhir yang masuk. Tubuh ringkih yang tidak bertenaga ini dipaksa berdesakan ketika akhirnya pintu ditutup dengan keras. Keadaan seketika menjadi gelap dan menyesakkan. Aku lebih memilih keremangan yang tadi dibandingkan kegelapan total saat ini. Hanya suara embusan napas yang mampir di gendang telingaku. Suara embusan napas yang tidak normal. Tersengal, bau, dan penuh dengan ketidaknyamanan.

Saat kurasakan gerbong mulai bergerak, seseorang bergoyang, menabrak dadaku dan membuatku terbatuk. Aku bahkan lupa bernapas, takut kalau satu embusan napasku saja bisa membuat gerbong ini menjadi semakin sesak dan pengap. Seolah, satu embusan napas menjelma satu tubuh manusia yang semakin membuat gerbong terasa sempit. Entah hanya perasaanku atau semakin lama, dinding gerbong seolah bergerak menghimpit kami.

Semua orang terbatuk, saling berusaha berebut oksigen. Pening menyerang. Aku berusaha sekuat tenaga menjaga tubuh agar tidak merosot ke bawah karena pasti aku akan terhimpit dan terinjak, lalu mungkin … mati begitu saja. Tubuhku bergidik membayangkannya. Sekarang, paru-paruku terasa terbakar.

Meskipun kupaksa untuk tetap terjaga, mataku berangsur terpejam. Satu suara yang terdengar sekarat, mampir di telingaku seolah-olah itu adalah tenaga terakhirnya yang disalurkan untuk berseru dengan bahasa yang lagi-lagi tak kupahami, tapi membuat perasaanku bergejolak di detik-detik terakhir. Di telingaku, teriakannya terdengar seperti, “Berjuang hingga titik darah penghabisan!”.

***
“Dirman … Sudirman … Sudirman …”

Sayup-sayup, aku mendengar sebuah suara yang taka sing di telinga karena begitu sering memanggil namaku itu. Mataku terbuka perlahan dan cahaya yang terang langsung menyergap retinaku. Membuatku memejamkan mata berkali-kali sebelum akhirnya terbiasa.

“Sudirman! Syukurlah!”

Mataku menangkap wajah Bu Yasmin dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ia terlihat benar-benar lega. Aku bingung.

“Bu Yasmin?” tanyaku lebih seperti mencoba memastikan. “Apa … aku kenapa?” Mataku menatap wajah teman-teman yang mengerubungi. Mereka juga memasang wajah lega, bahkan Nando yang jail sekalipun.

“Kamu pingsan tadi di dekat Gerbong Maut,” jawab Bu Yasmin lamat-lamat, menekankan setiap kata-katanya.

Dadaku kembali bergemuruh. Ingatanku terbang ke kejadian yang mengerikan dalam mimpiku. Hanya mimpi? Aku kira, aku benar-benar sudah mati. Sial, bulu kudukku langsung berdiri. Bahkan, napasku masih tersengal, takut oksigen lari dari paru-paruku. Keadaan di dalam gerbong begitu menakutkan. Gelap dan sesak. Mungkin desas-desus aneh tentang Gerbong Maut itu memengaruhi otakku sampai seperti ini.

“Uh, um, saya tadi mimpi berada di Gerbong Maut, Bu.” Aku bisa mendengar suara terkejut di sekelilingku.

Bu Yasmin terlihat bingung, tapi kemudian berkata, “Tenang, itu cuma mimpi, Man.”

“Man, jangan-jangan kamu dimasukin hantu! Aku nggak lagi ngejek kamu Jenderal Sudirman sang pahlawan pembela kebenaran, tapi jangan bilangin hantunya kalau aku suka jailin kamu, ya? Plis!” Nando menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

Beberapa temanku tertawa, beberapa lagi tidak. Terlihat rona ketakutan di wajah mereka.

“Hush! Jangan ngomong gitu, Nando!” Bu Yasmin menengahi.

“Tapi kata—”

“Sudah, kalau kalian tidak menurut, kita batal ke Hawaii Waterpark!”

Suara Bu Yasmin langsung disambut suara protes dari teman-teman, termasuk aku. Yang benar saja! Aku bahkan rela mengorbankan diri diejek di sini hanya untuk menikmati Hawaii Waterpark!

“Jangan, Bu! Saya mohon! Kami pengin banget ke Hawaii Waterpark! Justru di situ sajian utamanya!” pintaku.

“Oh, jadi kalian nggak benar-benar mendengarkan penjelasan bapak pemandu? Pikiran kalian pasti dipenuhi Hawaii Waterpark! Kalau begitu, tugasnya Ibu tambahin. Kalian harus buat cerpen tentang perjalanan ini, terserah cerpennya seperti apa!

“Yaaahhh …” Suara-suara kekecewaan yang keluar bersamaan dari mulut kami, menggema di langit-langit museum.

Aku memandang teman-temanku yang langsung lesu. Nando bahkan langsung pura-pura pingsan di lantai untuk mendramatisir suasana. Mau tidak mau, aku dibuat tertawa melihatnya.

Aku tidak tahu apakah itu hanya sekadar mimpi atau ilham, yang jelas, aku sudah mendapatkan ide untuk cerpen perjalanan ini: GR 10152!
***


Yogyakarta, 2 Juni 2019
What do you think? :

7 comments:

  1. Aaaaaa sukakkkk😇😇 krn aku suka Sejarah jd gak pernah bosen deh kalo baca yg beginian😍😍
    Ig : @tanttim_20

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, makasih banyak ya udah baca dan komen :D Suka sejarah? Mantap tuh, aku juga agak suka wkwk walaupun engga hafal tahun tahunnya xD

      Delete
  2. keren kak,apa yang di sampaikan nggak bertele-tele, bahasanya gampang banget di pahami,keseluruhan isi baguss, good job kak :)
    IG : @tnoviani.15

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, makasih banyak komentarnya :D bahasanya agak puitis gitu sih ini >< syukurlah kalo gampang dipahami

      Delete
  3. keren kak,apa yang di sampaikan nggak bertele-tele, bahasanya gampang banget di pahami,keseluruhan isi baguss, good job kak :)
    IG : @tnoviani.15

    ReplyDelete
  4. Uwooooo, ini kereeenn... 😍😍
    Mumpung 17an, nggak nyoba bikin lagi, Ra? X3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwk waduuu ada banyak hal lain yang harus kukerjakan xD

      Delete

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com