Sunday, July 28, 2019

[Book Review] Asasin Karya Nuim. M. Khaiyath: Perjalanan Historis Seorang Calon Pembunuh yang Penuh Humor


Ratna Juwita

Halo, Readers. Kali ini saya akan meresensi sebuah buku karya seorang wartawan kondang yang sering “lompat” dari satu negara ke negara lain dan satu benua ke benua lain. Sepertinya, belum ada benua yang belum pernah terinjak oleh kakinya. Namanya adalah Nuim “I love You Mr. Mahmud” Khaiyath, begitu nama perkenalannya di bagian akhir buku. Hehe.


Sebenarnya, ini adalah pertama kalinya aku membaca buku memoar atau biografi seseorang dan harus kuakui bahwa buku ini benar-benar menarik! Di pikiranku, aku sudah berpikir buku ini mungkin akan monoton dan membosankan, tapi tentu saja aku sangat keliru sejak pertama kali menuntaskan halaman pertamanya.


Mari simak resensiku secara keseluruhan mengenai buku ini.

Judul : Sebuah Memoar ASASIN
Sub Judul : Sepenggal Kisah Seorang Wartawan yang Dipersiapkan Menjadi Pembunuh
Penulis : Nuim M. Khaiyath
Penerbit : Republika
Tahun Terbit : Cetakan I, Mei 2019
Tebal : 237 hlm.
ISBN : 978-602-5734-86-1


Rate   : 3.5/5





“Semoga kisah perjalanan sebagian dari hidupku ini laksana ‘sekali membuka uncang, dua tiga utang terbayar’, sekali membacanya dari awal hingga akhir banyak cerita yang diperoleh.”


Seringkali takdir membawa rencana dan usaha yang sedang diupayakan kepada keadaan yang tak terduga. Campur tangan Allah akan selalu ada dalam setiap langkah manusia. Manusia yang merencanakan, Allah yang memutuskan. Tapi, yakinlah keputusan Allah pasti mendatangkan kebaikan, meskipun awalnya terasa menyakitkan.


Dunia seakan runtuh ketika tugas menjadi “pembunuh” diterima Nuim M. Khaiyath. Menolak jelas tidak mungkin dilakukannya. Tugas datang dari negara yang sedang gencar mengganyang Malaysia.


Kini, takdir membawa Nuim menjadi seorang penyiar radio Australia setelah sebelumnya bekerja di BBC London. Dari seorang “pembunuh” jadi penyiar? Apakah itu didapatkannya karena ia berhasil melaksanakan tugasnya?


  • ·   Sekilas Tentang Penulis
Penulis bernama asli Nuim Mahmud Kaiyath ini akrab disapa Nuim. Ia mendapatkan panggilan “I Love You Mr. Mahmud” ketika membawakan acara musik “Samba” (Sabtu Gembira). Panggilan itu diambil dari petikan lirik lagu kocak oleh anak Jatinegara Munif yang menggubah lagu itu untuk menyaingi lagu Libanon yang pernah kondang di mancanegara, termasuk Indonesia, “Ya Mustapha”. Penulis lahir di Medan, Sumatera Utara di penghujung tahun 1938 sebagai putra bungsu dari delapan bersaudara, anak pasangan suami istri Mahmud Muhammad Khaiyath dan Thaibah Ilyas.


Ia sempat menjadi wakil pemimpin redaksi, sekaligus redaktur pelaksana koran berbahasa Inggris di Medan, The Deli Times sebelum akhirnya menjadi satu-satunya pelamar yang diterima bekerja di BBC (British Broadcasting Corporation) London. Setelahnya, ia menerima tawaran bekerja di siaran bahasa Indonesia Radio Australia yang merupakan bagian dari siaran luar negeri Australia Broadcasting Corporation (ABC) di Melbourne.


Beberapa kali, Nuim mendapatkan penghargaan baik dari pemerintah Indonesia, maupun dari mancanegara atas siaran, tulisan, serta berbagai ceramahnya. Ia digemari banyak pendengar di Indonesia bukan aja karena acara-acara hiburan/music yang dibawakannya, melainkan juga acara kupasan/ulasan politik. Sebagian dari ulasan politiknya tersebut dibukukan oleh Penerbit Cakrawala dengan judul “Dunia di Mata Nuim Khaiyath”. Selain itu, ia juga menulis buku “Membongkar Kesaktian Israel” yang diterbitkan oleh penerbit yang sama, serta buku “Paling Besar—Petinju Muhammad Ali” dan “Ini Medan, Bung!”.


Beberapa dasawarsa belakangan, Nuim secara tetap digilir menjadi khatib dalam salat Jumat di Universitas Melbourne, Universitas Monash, KJRI Melbourne, Masjid Indonesia Westall), dan masjid-masjid lainnya denga nisi khutbah yang selalu selaras dengan isu yang sedang hangat.

  • ·    Judul
Judul buku ini bisa dibilang sangat “menjual”. Buktinya, saya langsung tertarik untuk memiliki buku ini begitu membaca judulnya. Siapa yang tidak akan tertarik membaca kisah seorang wartawan yang dipersiapkan menjadi pembunuh? Pertanyaan yang langsung muncul dalam benak saya adalah, “Bagaimana bisa?”, “Memangnya selain memegang pena dan kertas, wartawan juga lihai memegang senapan?”, “Apakah wartawan adalah pekerjaan sampingan dari anggota badan intelijen?”, dan sebagainya. Kemudian yang terbayang di kepala saya adalah sosok seperti James Bond yang sedang memegang kamera. Hey, why not?


  • ·    Cover
Dari judul yang sudah memberikan saya berbagai macam pertanyaan yang akhirnya terjawab setelah saya membaca bukunya, cover buku ini semakin mendesak imajinasi saya untuk benar-benar membayangkan James Bond yang sedang berdiri membelakangi, sembari menenteng kamera. Setelan sosok laki-laki yang terpampang di bagian cover justru memberikan saya nuansa London zaman old. Mungkin malah pada sekitar era yang sama dengan “hidupnya” Sherlock Holmes? Yang jelas, saya mendapatkan “kesan misterius” yang langsung menarik mata ketika melihatnya.

Tidak hanya si laki-laki yang berdiri membelakangi, orang-orang di sekitarnya yang berjalan dengan wajah di-blur, bangunan-bangunan di sekitarnya, serta gradasi warna oranye, abu-abu, dan hitam benar-benar terasa seperti kapsul waktu. Seolah dalam sebuah bidikan lensa, seorang laki-laki muncul secara misterius di tengah hiduk-pikuk orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Sebuah padu padan yang pas antara judul dan penggambaran cover.


  • ·    Isi Buku
Dilihat dari perawakannya, Nuim memang terlihat sebagai pribadi yang menyenangkan. Pribadinya yang humoris itu nampaknya sangat menonjol dalam biografinya ini. Kisah dalam buku ini dimulai dari permintaan seorang kolonel bernama Arifin pada Nuim untuk membunuh Perdana Menteri Malaya waktu itu, Tunku Abdurrahman. Jelas sekali Nuim terkejut dengan keputusan yang sama sekali tak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya itu.


Keputusan itu diambil karena Nuim tidak terlalu tampak seperti orang Indonesia, tubuh yang bisa dikatakan bagus, menguasai beberapa bahasa, yaitu Inggris, Melayu, Hokien, Arab, dan—tentu saja—Indonesia. Selain itu, Nuim juga pernah mengikuti latihan Resimen Mahasiswa REWA), serta punya prestasi bagus ketika latihan menembak. Semua alasan tersebut nampaknya menjadi pertimbangan yang cukup mumpuni untuk menetapkan Nuim sebagai eksekutor Tunku Abdurrahman.


Peristiwa penetapan tersebut terjadi sekitar pertengahan tahun 1963 di kantor Panglima Komando Antar Daerah (KOANDA) Jenderal Kosasih di Medan. Pada saat itu, kalimat “ganyang Malaysia” yang diucapkan oleh Presiden Soekarno tengah berkobar dengan ganasnya. Kalimat itu sebenarnya merupakan bentuk perlawanan pada kaum neo-kolonialisme/neo-imperialisme Barat, terutama Inggris dan Amerika, yang berencana membentuk Malaysia (penggabungan Malaya, Singapura, Serawak, dan Sabah). Rencana itu merupakan salah satu upaya untuk mengekalkan penjajahan Inggris dalam bentuk lain, sekaligus mengepung Indonesia yang terngah gigih memperjuangkan kemerdekaan untuk seluruh bangsa di dunia.


Ketika Kolonel Arifin memerintahkan Nuim untuk membunuh Tunku Abdurrahman, Nuim masih menjabat sebagai redaktur pelaksana koran bahasa Inggris The Deli Times di Medan. Sebagai bagian dari upaya menjatuhkan Tunku Abdurrahman dan mendiskreditkan Malaysia, Nuim juga ikut andil dalam siaran dalam berbagai bahasa yang disiarkan di Semenanjung Tanah Melayu. Siaran tersebut selanjutnya diberi nama KEMAM (Kesatuan Malaya Merdeka di Hutan-Hutan Semenanjung Tanah Melayu).


Dari situ, kisah Nuim kemudian mengalir ke awal mula kata “Asasin” yang dimulai dari latar belakang terbentuknya Sunni dan Syi’ah, sampai ke Perang Salib. Nuim juga mengisahkan kejuaraan renang yang “menyelamatkannya” dari keharusan membunuh Tunku Abdurrahman, sampai pada pengalaman-pengalamannya melompat dari satu daerah ke daerah lain, satu negara ke negara lain, serta satu benua ke benua lainnya yang lucu, penuh hikmah, dan dituturkan dengan bahasa yang luwes ala wartawan dan penyiar radio berpengalaman.


  • ·        Kesan
Membaca buku ini membuat saya “kewalahan”. Kewalahan karena menahan humor-humor yang diselipkan secara tidak terduga oleh Nuim. Sejarah biasanya menjadi hal yang menjemukan, berkutat dengan tanggal-tanggal yang sudah kadaluarsa mengenai berbagai macam peristiwa sering dianggap hal yang sia-sia. Kalau anak remaja zaman now mungkin akan nyeletuk, “Buat apa sih mengingat masa lalu? Move on dong!”. Bahkan, penulis tidak menggunakan kata “saya” agar terkesan formal, melainkan kata ganti “aku” yang berarti semua kisah dituturkan dari sudut pandang pertama Nuim. Inilah bagian keseruannya. Tidak dibuat-buat, apa adanya, lugu, cerdas, dan mengundang tawa.


Buku ini bukan saja menjadi rekreasi sejarah yang menyenangkan, tapi juga penuh dengan hikmah. Bahasa yang digunakan sangat apa adanya, bahkan terselip kata yang tidak baku di sana-sini, walaupun jumlah keseluruhannya tidak lebih dari 25 kata. Cerita banyak diisi oleh narasi dari penulis, tapi dengan gaya tutur yang sama sekali tidak membosankan. Saya sendiri bukan merupakan penggemar cerita biografi seperti yang saya ungkit di awal resensi, tapi membaca buku ini serasa sedang membaca novel remaja.


Nuim, lengkap dengan perilakunya yang badung, cerdas, membawa saya ke berbagai petualangan yang bahkan tidak pernah sekalipun saya bayangkan. Biasanya, imajinasi saya berkutat pada hal-hal di luar nalar dan masa depan, tapi petualangan dalam buku ini dialami secara nyata oleh seseorang yang bisa dibilang sangat nekat. Saya membayangkan kapal-kapal zaman dahulu yang tentu saja belum semewah dan sebesar kapal Titanic, tidur di bawah susuran tangga, sampai di negara-negara dengan budaya dan bahasa yang sama sekali berbeda. Wah, bisa dibilang, buku ini sekaligus juga mirip dengan buku travelling.


Saya jadi lebih mengerti mengenai awal mula terbentuknya Sunni dan Syi’ah karena buku ini sekaligus mengisahkan sejarah singkat beberapa tahun sebelum wafatnya Nabi Muhammad SAW, perseteruan antara para umat yang saat itu terpecah menjadi golongan yang mendukung Ali. sebagai penerus tonggak kepemimpinan nabi dan golongan yang tidak setuju hingga terpilihlah Abu Bakar, Umar, serta Ustman secara berturut-turut. Perseteruan tersebut kemudian berlarut-larut hingga menjadi salah satu penyebab ketidakberdayaan umat Islam dalam Perang Salib.


Beberapa kutipan tokoh yang diambil Nuim dengan sangat akurat di saat yang tepat, semakin menambah kesan mendalam terhadap buku ini, seperti pada kutipan kalimat yang diucapkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dalam pidatonya ketika dilantik (diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq):

 “Aku tidaklah lebih baik dari kalian. Patuhilah aku apabila aku melakukan hal yang benar. Kalau tidak, lawanlah aku. Kesetiaan berarti mengucapkan yang sebenarnya. Memuji-muji tanpa dasar adalah pengkhianatan. Hanya Allah yang wajib disembah, bukan manusia.” (Hlm. 21) 

Pengalaman-pengalaman Nuim sungguh-sungguh tak terduga. Bukan saja ia pernah bermain jalangkung untuk memanggil roh Abraham Lincoln, tetapi juga sempat menanyakan kejadian penembakan terhadap Presiden Amerika Serikat tersebut dalam bahasa Inggris dan semuanya dijawab dengan tepat. Padahal, teman yang saat itu memegangi si Jalangkung jangankan mengetahui sejarah, ia bahkan tidak bisa berbahasa Inggris. Untuk hal-hal aneh bin ajaib yang pernah dilakukannya ini, Nuim selalu mengakhiri dengan kata “Wallahua’lam”.


Nuim juga selalu menyelipkan pepatah-pepatah baik dari Bahasa Inggris, maupun pepatah daerah di Indonesia. Beberapa penuh hikmah dan beberapa yang lain berhasil mengocok perut, seperti kutipan berikut ini.

Ketika aku masuk ke dalam pesawat, kulihat hampir semua penumpang sedang tidur. 
Aku duduk di sebelah seorang perempuan bule yang sudah cukup berumur dan agak gemuk. Terasa udara dalam pesawat sangat dingin, mungkin karena aku belum terbiasa dengan AC. Begitu pesawat Qantas itu mengudara dan penumpang dibolehkan merokok, aku langsung menyalakan sebatang kretek untuk menghangatkan tubuh yang mulai kedinginan. Aku tidak nyana bahwa pesawat sebenarnya menyediakan selimut bagi para penumpangnya. 
Baru dua atau tiga kali rokok kretek itu aku sedot dan asapnya kukepulkan, banyak penumpang yang langsung terjaga dari tidur mereka. Seorang pramugari bergegas menghampiri tempat dudukku dan memerintahkan agar aku segera mematikan rokok yang asapnya telah mengganggu penumpang lain yang sedang enak-enak tidur di kursi masing-masing. Bak kata orang Tapanuli “Sakitna tidak seberapa, maluna itu…” (hlm. 74—75)

  • ·        Bagian Favorit
Bagian yang paling saya suka dari buku ini adalah pada bab berjudul “Ayahku…” Pada bab ini, Nuim menceritakan sosok ayahnya secara sekilas. Singkat, tapi entah mengapa mengena di hati dan lekat sekali di pikiran saya. Sosok ayah yang digambarkan oleh Nuim adalah orang yang penuh kasih, tidak bersikap angkuh, serta pembaharu pemikiran islami yang pada saat itu masih sering dipertentangkan, seperti perdebatan antara para kiai yang menyebut bahwa beribadah di Masjid Gang Bengkok/Lama adalah haram hukumnya karena dibangun dengan uang “majusi” (orang non-muslim). Penyelesaian yang ditawarkan oleh sang Ayah sangat sederhana, tidak bertele-tele, bahkan hanya dengan satu pertanyaan dan dua kalimat saja. Saya langsung mengagumi sosok Ayah Nuim tersebut.


  • ·        Kutipan Favorit
“Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, namun tidak cukup untuk memenuhi keserakahan manusia.” (Mahatma Gandhi, hlm. 223)

  • ·        Kekurangan
Karena jatuh cinta pada buku ini, saya sampai bingung untuk menuliskan kekurangannya. Mungkin yang perlu diperbaiki adalah beberapa typo yang bertebaran di sepanjang buku. Tidak banyak, tapi alangkah baiknya diperbaiki agar kegiatan membaca lebih nyaman.

  • ·      Kesimpulan
Buku ini sangat ringan dibaca oleh semua kalangan, apalagi oleh para remaja. Setelah membaca buku ini, kalian akan menemukan cara baru menikmati sejarah dengan cara yang tidak membosankan, penuh humor, dan Bahasa yang mengalir. Seperti sedang melakukan perjalanan dengan menaiki perahu yang di dalamnya berisi cerita-cerita yang kemudian bersambung ke perahu-perahu selanjutnya hingga sampai di pelabuhan. Pengetahuan sejarah, agama, dan pengetahuan mengenai kebudayaan luar negeri kalian akan langsung berkembang usai menuntaskan buku ini.

Akhir kata, selamat membaca!

8 comments:

  1. Aku fikir ini karya penulis jepang ehhhh ternyata indonesia tercintahhhh. Keren banget ya... Reviewnya oke bikin penasaran ingin kenal karya penulis ini lebih dekat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan kok, yang nulis orang Indonesia tulen! Yaa, keturunan orang Arab juga sih :D

      Delete
  2. @katharinadeline
    Wah aku suka banget nih kak sama buku-buku tipe biografi atau autobiografi. Krn stlh memabcanya aku merasa mendapat banyak energi untuk menjadi lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwk bener banget! Mesti ada aja yang bikin termotivasi :D

      Delete
  3. Best quotes😍
    “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, namun tidak cukup untuk memenuhi keserakahan manusia.” (Mahatma Gandhi, hlm. 223)
    Karena manusia selalu lupa untuk bersyukur, jadi merasa kurang terus didalam hidupnya:))
    Ig : tantrim_20

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh quote kesukaanku banget itu >< terngiang terus di telinga

      Delete
  4. Padahal judulna kek berat gitu yakk, tapi pas baca reviewmu, Ra, malah ga berasa berat gt.. Ahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha malah ini bikin aku ketawa terus Ka xD

      Delete

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com