Monday, July 29, 2019

[Book Review] Novel The Aleasah Heroes Karya Lius A.



Ratna Juwita

Readers, apakah kalian penggemar novel bergenre fantasi? Kalau iya, apa novel fantasi favorit kalian? Harry Potter karya JK. Rowling? Hmm, kalau ini mah kesayangan semua umat ya hehe. Aroma Karsa atau Supernova karya Dee Lestari? Atau Palagan Nusantara dan Dharitri-nya Nellaneva? Yang manapun pasti seru banget kalau fantasi, iya nggak?

Kali ini aku bawain kalian sebuah novel bergenre fantasi dan yang terpenting adalah novel ini ditulis oleh orang Indonesia alias fantasi lokal! Yey! Ketika bukunya berada dalam genggaman, aku nggak sabar banget pengin cepat-cepat membacanya. Kenapa? Novel ini merupakan salah satu bukti bahwa geliat literasi Indonesia sudah mulai berkembang sedikit demi sedikit. Aku berharap, akan ada semakin banyak novel karangan penulis Indonesia yang tidak melulu bergenre romansa, tapi memang pembaca di Indonesia kebanyakan anak remaja sih. Hehe.

Oke deh, mari simak review-ku tentang novel ini!

Judul : The Aleasah Heroes
Penulis : Lius A.
Penerbit : Indie Book Corner
Tahun Terbit : Cetakan Kedua, 2019
Tebal : 274 hlm.
ISBN : 978-602-309-413-4

Rate           : 3.5/5




Lima tokoh, lima petualangan, dalam satu kisah.

Ranor, pemuda yang memburu Azmot untuk membalaskan kematian keluarganya.

Yohana, penyihir Chadavis yang bertualang menjaga kedamaian di Aleasah.

Sa Mair, pemimpin kaum raksasa yang menjelajah untuk menyatukan kembali para raksasa.

Tagir, kurcaci dari negeri timur yang berkelana di Aleasah demi menyelamatkan istrinya yang diculik.

Oscar, putra kerajaan Girandir yang bertekad menaklukkan daratan Aleasah, apapun bayarannya.

Sebuah kisah berskala besar dalam upaya setiap tokoh mencapai tujuan dan mengubah nasib seluruh daratan Aleasah.




  • ·       Sekilas Tentang Penulis
Lius A. atau memiliki nama lengkap Lius Apriyanto. Ia saat ini berdomisili di Bekasi. Selain sibuk menulis, Lius juga bekerja sebagai wiraswasta. Penulis bisa dihubungi melalui surel: liusapriyanto90@gmail.com.

  • ·        Judul
“The Aleasah Heroes” sepertinya diambil oleh Lius sebagai judul buku karena melihat geliat para super hero mancanegara di Indonesia. Sebut saja film Avengers: Endgame, Spiderman: Far From Home, dan sebagainya yang ditayangkan di bioskop baru-baru ini. Memang sepertinya Indonesia butuh kemunculan banyak “hero” agar tidak tergerus begitu saja oleh hero mancanegara dan novel ini adalah salah satu jawabannya.

Novel ini adalah buku pertama dari serial The Aleasah Heroes nantinya. Judulnya cukup menarik akarena melibatkan nama yang asing di telinga: Aleasah. Tidak familiar, tapi mudah diingat dan remarkable. Aku sendiri langsung mengingat nama itu sepanjang waktu begitu membaca judulnya itu. Membuatku gemas ingin segera membacanya, tapi banyak bentrok dengan kegiatan lain. Hehe.

  • ·        Cover
Cover adalah bagian yang paling aku suka dari novel ini. Penampakan luarnya sangat meyakinkan. Pedang-pedang dari yang berukuran kecil hingga besar, menancap di tanah. Pedang yang paling depan, terbalut bendera yang koyak berwarna dasar biru dan lambang merah. Kobaran api memenuhi sekelilingnya seolah mengatakan ada hal yang sangat mendesak terjadi di Aleasah!

  • ·        Isi Buku
Isi dari novel ini sama seperti yang tertuang pada bagian sinopsis. Hanya saja, versi yang sangat panjang. Hehe. Para tokoh utama, yaitu Ranor, Yohana, Sa Mair, Tagir, dan Oscar berjuang demi tujuan mereka masing-masing. Tentu saja tidak ada hal yang mudah. Ranor kehilangan desa, keluarga, teman, dan tempat tinggal, habis dihancurkan oleh Azmot, si raksasa yang kejam dan merupakan salah satu perusuh kedamaian di Aleasah.

Yohana, sang penyihir yang selalu setia ditemani oleh Albert, seekor burung hantu. Mereka berjuang demi kedamaian di Aleasah. Yohana jugalah orang yang menyelamatkan adik Ranor, satu-satunya yang selamat dari kehancuran di desa. Sa Mair, pemimpin raksasa yang ambisius. Ia mengobarkan perang dengan kerajaan Girandir.

Tagir, kurcaci buruk rupa yang mempertaruhkan segalanya demi menyelamatkan istrinya yang dibawa oleh para penculik. Ia menyeberangi lautan, daratan, mendaki gunung, dan menuruni lembah (hmm kayak pernah dengar lagunya hehe), tak gentar melawan para penculik yang tubuhnya berkali-kali lipat besarnya dari tubuhnya.

Juga Oscar, yang mempertahankan kerajaan Girandir, berperang dengan para pasukan raksasa Sa Mair.

  • ·        Kesan
Perlu aku akui, Readers, bahwa sebenarnya aku tidak terlalu banyak berharap pada novel fantasi lokal. Namun, novel ini menepis keraguanku itu.

Sejak membaca halaman pertama, aku takjub dengan kalimat-kalimat yang sederhana, kata demi kata yang disusun dengan baik, serta paragraf yang pendek-pendek. Bahasanya sangat ringan dan deskripsinya sangat mudah diikuti. Sebelumnya, aku pernah membaca novel fantasi lokal yang menggunakan bahasa yang lumayan njelimet. Bahkan, satu paragraf bisa terlihat sangat panjang dan satu kalimat berisi lebih dari 15 kata. Wow. Tentu aku lumayan jenuh ketika membacanya.

Namun, isi novel ini benar-benar tertata dengan sangat baik. Kalimat demi kalimat, paragraph demi paragraph, dan hebatnya: MINIM TYPO. Untuk ukuran novel sepanjang ini, aku hampir tidak menemukan typo yang bertebaran seperti yang sering aku lihat dalam novel-novel lain. Bahkan, pada novel yang jauh lebih singkat dari ini.

Mungkin, hal itulah yang membuatku betah berlama-lama dengan novel ini. Walaupun tergolong panjang, susunan bukunya membuat novel ini jadi terlihat lebih tipis daripada seharusnya dengan memaksimalkan jumlah kalimat dalam satu halaman. Bisa dibilang, mungkin novel ini menggunakan margin narrow.

Lius berusaha melakukan pendekatan yang berbeda melalui novelnya ini. Jujur saja, baru kali ini aku membaca novel dengan gaya tulisan yang seperti ini. Setiap tokohnya memliki chapter tersendiri yang dibagi ke dalam beberapa judul, misalnya, “Chapter 1: Ranor”, “Chapter 2: Yohana”, dan sebagainya. Intinya, pemisahan chapter tersebut berfungsi menandakan penggalan cerita tokoh mana yang sedang dikisahkan oleh Lius.

Selain itu, chapter dalam novel ini juga menandakan lompatan peristiwa dari satu tokoh ke tokoh yang lain. Misalkan di chapter pertama, penulis menceritakan mengenai Ranor yang sedang memburu Azmot dan berhenti di sebuah adegan, kemudian ceritanya akan bersambung lagi di chapter enam, begitu seterusnya. Namun, tidak ada penanda yang pasti kapan sambungan cerita si tokoh yang sama akan muncul. Entah dua chapter berikutnya, lima chapter berikutnya, atau beberapa chapter berikutnya. Tidak pasti.

Pendekatan yang digunakan oleh penulis ini mengingatkanku pada lompatan cerita ketika kita sedang menonton film. Dalam film, biasanya juga akan terjadi lompatan penggalan cerita dari sudut pandang satu tokoh, dengan tokoh lainnya. Nah, mungkin bisa dibayangkan seperti itulah novel ini.

Ini adalah sebuah gaya bercerita yang baru dan inilah yang membuat novel ini berbeda dari novel-novel lainnya!

Cerita para tokohnya dituturkan dengan sangat halus, adegan demi adegan, kegagalan demi kegagalan, serta deskripsi gerakan yang imajinatif! Benar-benar seperti sedang menonton film aksi! Eh ini tadi aksi atau fantasi ya? Dua-duanya deh! Hehe.

  • ·        Bagian Favorit
Bagian favoritku dari buku ini adalah ketika Tagir dicium oleh seorang penjaga. Benar-benar mengocok perut. Yaks. Aku sampai jijik membayangkannya, tapi justru adegan itu yang terus terpatri di ingatanku. Aku sampai kaget karena mengira ada adegan dewasa dalam novel ini, ternyata hanya karena penjaga itu sedang mabuk dan tengah berhalusinasi, terbangun dari mimpirnya dengan tidak sadar. Hahaha.

Seperti ini nih adegannya:

Perlahan si kurcaci mendekati penjaga pertama yang tertidur. Dengan hati-hati, Tagir mencuil-cuil pinggang pria itu menggunakan gagang kapaknya. “Oslum di mana?” tanya si kurcaci dengan suara parau. 
Setelah beberapa saat, akhirnya penjaga pertama terbangun. “Maria, kemarilah,” rayu penjaga mabuk itu. Penjaga itu menjambak rambut ikal Tagir dan menarik kepala Tagir mendekati mulutnya. Si kurcaci terperangah dan mencoba melepaskan cengkraman penjaga. Namun Tagir tak cukup cepat. Mata penjaga terbuka lebar saat ia mencium kurcaci itu dengan penuh gairah. 
Sejenak penjaga pertama memandangi wajah buruk rupa dengan kumis oranye tebal di hadapannya. Penjaga itu terkejut dan menjerit seperti perempuan. Tagir bahkan menjerit lebih kencang. (hlm. 17)

Aku langsung tertawa membacanya. Sepertinya, penulis perlu menyelipkan banyak humor seperti ini supaya perhatian pembaca semakin tak teralihkan dari novel ini.

  • ·        Kutipan Favorit
“Pergilah, Tagir, temukan dia, dia yang kau cintai jauh melebihi apa pun.” (Pak Tua, hlm. 123)

Duh, kutipannya bikin baper! Kentara sekali Tagir berusaha mati-matian menyelamatkan istrinya, Parla, dari para penculik. Sebuah perjuangan yang menggugah hati.

  • ·        Kekurangan
Novel ini sebenarnya sudah memenuhi semua persyaratan yang dibutuhkan untuk membangun sebuah cerita. Sejarah, tokoh yang beragam, intinya world building-nya sudah pas. Namun, hal yang mengganjal adalah sejarah itu dituliskan di bagian akhir buku. Sebaiknya, bagian yang penting seperti sejarah Aleasah, macam-macam kerajaan di Aleasah, para makhluk yang tinggal di Aleasah, semua diceritakan di awal novel. Dengan begitu, pembaca akan lebih dulu memahami Aleasah sebelum membaca cerita para tokohnya.

Tokoh pembantunya sangat banyak! Aku sebenarnya tidak masalah dengan banyaknya tokoh di dalam sebuah cerita. Seperti di film animasi “Shingeki no Kyoujin” yang bahkan, tokohnya mati satu per satu sejak awal episode. Hanya saja, penulis kurang memberi detail dan history background pada semua tokohnya, serta ciri fisik dan karakter yang membedakan antara satu tokoh pembantu dengan tokoh pembantu lainnya.

Aku memang tidak terlalu mengerti mengenai pembangunan karakter dalam sebuah cerita, tepatnya aku juga belum menguasai. Akan tetapi, sejauh ini yang aku baca dari banyak novel lainnya, hal yang membuat seorang tokoh itu diingat adalah karakternya, sekalipun hanya tokoh pembantu.

Kemudian, akan lebih baik lagi kalau dilampirkan peta Aleasah dan diberi penjelasan mengenai sejarah Aleasah. Bukan hanya makhluk-makhluk yang mendiaminya, melainkan juga sejarah adanya Aleasah itu sendiri. Misalnya, letak Aleasah, apakah Aleasah ini berada di sebuah planet, atau bumi ini, atau Aleasah ini justru merupakan daratan yang menyatu setelah ribuan tahun lalu terjadi kiamat besar di bumi, dan sebagainya. Intinya, hal ini akan sangat membantu pembaca masuk ke dalam cerita.

Ketiadaan peta membuatku bingung ketika penulis hanya menyebutkan “Pegunungan Zeot” misalnya. Aku tidak tahu letak tepatnya Pegunungan Zeot. Apakah di sebelah Oslum, ataukah di tempat lain? Penulis perlu memberikan hal special yang akan diingat pembaca mengenai sebuah tempat, misalnya Pegunungan Zeot adalah sumber mineral di bagian paling barat Aleasah, sebuah pegunungan yang penuh jurang yang di dasarnya hidup ular dengan panjang mencapai 20 meter, konon katanya Pegunungan Zeot dulunya adalah daratan bernama Afrika, dan sebagainya. History background, baik untuk tempat maupun tokoh, adalah hal yang menurutku sangat krusial dalam cerita fantasi.

Selain itu, aku juga merasa novel ini kurang memberikan quote-quote yang menggugah hati pembaca. Mungkin ini terlihat sepele, tapi quote memengaruhi kedalaman cerita dan kedalaman rasa suka pembaca pada sebuah buku. Mungkin akan lebih baik lagi kalau disajikan banyak kalimat-kalimat yang mengena, baik mengenai kehidupan, cinta, dan lainnya.

  • ·        Kesimpulan
Aku sangat menyukai novel ini karena gaya bercerita penulis yang menurutku sangat luwes. Gaya bahasanya mudah diikuti oleh siapapun, baik remaja maupun orang dewasa. Tidak banyak menggunakan bahasa yang sulit dan MINIM TYPO. Ide ceritanya terasa sangat orisinal dan aku senang sekali membaca novel ini. Sudah lama aku tidak membaca cerita fantasi lokal. Novel ini terasa seperti angin sejuk! Aku harap, beberapa tahun lagi buku di Indonesia tidak didominasi oleh genre romansa lagi. Hehe. Harapannya, sih ya, buku seperti ini yang mulai banyak dipajang di rak-rak toko buku.

Meskipun masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, tapi secara keseluruhan novel ini sangat layak untuk dibaca dan dinikmati oleh kalian! Novel ini akan melengkapi koleksi novel fantasi lokal favorit kalian di rumah!

What do you think? :

23 comments:

  1. Halo kak. Makasi untuk review ny. XD
    Segala kekurangan akan saya perbaiki untuk menambah kepuasan pembaca.
    Jujur saja, saya juga baru kepikiran buat quote2 setelah selesai submit. Wkwkwk..
    Untuk peta sebenarnya sudah ada di halaman setelah daftar isi. Namun, karena dari percetakan burem. Jadi mungkin luput dari penglihatan pembaca. TT
    Sekali lagi, terima kasih kak untuk review nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Ka Lius <3
      Terima kasih banyak sudah mampir ke blog saya wkwk

      Ceritanya bagus banget Ka dan untuk seorang penulis baru tuh novel ini termasuk wow. Apalagi genrenya fantasi. Keren gitu hehe bosen sama romance melulu.

      Semoga review saya bisa jadi masukan supaya lebih berkembang lagi dan makin bagus lagi. Semangat dan sukses selalu ya Ka ><

      Delete
    2. Siap kak. Saya catat masukan2nya. Untuk novel berikutnya. Makasi banyak ya.

      Delete
  2. Aldila prasetyaniThursday, August 01, 2019

    Wahh pas banget aku lagi cari buku genre fantasy . Kayaknya Novel ini wajib banget buat jadi koleksi baru nihh :D

    ReplyDelete
  3. Wah keren banget kak novelnya. Pengen deh punya buku itu... Bisa buat tambahan koleksi novel fantasi ku nih.. hehe

    ReplyDelete
  4. Makasihh review nya kak, kerennn kebetulan suka banget sama novel fantasy, bisa jadi wishlist nihh�� (@Refinbl)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Okee sama sama yaa ๐Ÿ˜‰ makasih juga udah mampir di blogku ๐Ÿ˜Š

      Delete
  5. Terima kasih reviewnya kak. Keren bgt ulasannya. Sebelumnya aku blm prnah baca buku bergenre fantasi sih, tapi setelah baca ini jd tertarik mau baca juga. Hehe (@k.yuraa_)

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba deh, fantasi itu seru banget ๐Ÿ˜

      makasih juga udah mampir ya ☺️

      Delete
  6. Ini yg aku suka baca review di blog. Lebih lengkap dan teliti. Dari cover sanpai kesimpulan, dibahas disini. Huaaa jadi pegen kaaan. Fantasi favoritku.

    ReplyDelete
  7. Dari sekian review yg pernah aku baca di instagram, review versi blog ternyata lebih panjang, akan dengan otomatis aku bisa membaca setiap satu novel dengan rinci untuk setiap bagian-bagian mana yang memang harus dibahas. Memang, kak Ra ini salah satu reviewer yg cukup bisa menguasai setiap novel dengan gaya bahasa yg luwes dan menarik untuk diikuti sampai akhir kata, aku sebagai pembaca setia versi instagram cukup tidak asing dengan tulisan kak Ra. Sampai detik ini, aku masih banyak belajar untuk cara me-review yg benar dan enak dibaca sebagaimana tulisan kak Ra, meski dengan genre yg tak sama, sebagaimana kak Ra yg menyukai fantasi atau bahkan seluruh dari genre pun mampu dia babat dengan cukup handal, sedang aku yg hanya mampu menguasai islami dan romansa-romansa puisi ini bisa apa? Wkwk terlepas dari itu, untuk suatu kebiasaan membaca, aku akan belajar tidak pandang genre sekalipun genre awam yg bahkan belum aku baca sekalipun. Karena buku adalah jendela dunia, maka membaca adalah ladang dari setiap apa yg dikatakan perjalanan panjang demi mencapai masa depan. Terima telah mempengaruhiku untuk selalu membaca tanpa berpikir perihal suka atau tidak suka, kak :)
    (@ambarayd_)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh bener banget xD lebih baik sih lahap aja semua genre, baru menentukan genre kesukaan xD Biar wawasannya lebih luas aja gitu :D

      Delete
  8. Terima kasih kak review nyaa๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ Ulasannya sangat membantu. Aku pernah baca novel fantasi, tapi lupa judulnya. Soalnya punya teman dan judulnya pake bahasa inggris.
    Ig : @tantrim_20

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadawww, buku apakah itu... kan aku jadi penasaran :d

      Delete
  9. Aku sendiri sedang suka baca cerita fantasi, tapi premis novel ini terdengar terlalu rumit dan tidak begitu kuat. Wkwkwk. Tapi suka sama reviewnya yg lumayan detail| @x4bidden.books

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh bener, mungkin akan lebih baik lagi kalau tokoh utamanya engga terlalu banyak sih hehe,

      Delete
  10. Aku dulu juga sempat meragukan cerita fantasi loka, sampai pas SMP aku nemu Ledgard (ini susah nyarinya, dan seingatku endingna agak nggantung dan dulu aku berharap ada lanjutanna). Ternyata cerita fantasi lokal tuh patut dipertimbangkan.. Lumayan banyak yang keren soalnya. ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, ini niat ngeracuni orang di lapak orang yang juga lagi ngeracun ya ceritanya? :D

      Delete

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

ๅˆใ‚ใพใ—ใฆ

ๆ—ฅๆœฌ่ชžๆ—ฅๆœฌๆ–‡ๅญฆ็”ŸใฎใƒฉใƒˆใƒŠ・ใ‚ธใƒฅใ‚ฆใ‚ฃใ‚ฟใงใ™、ใฉใ†ใžใ‚ˆใ‚ใ—ใใŠ้ก˜ใ„ใ—ใพใ™! ใ“ใฎใƒ–ใƒญใ‚ฏใ‚’ๆฐ—ใซๅ…ฅใฃใฆใ„ใŸใ ใ‘ใŸใ‚‰ๅฌ‰ใ—ใ„ใงใ™。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com