Thursday, September 26, 2019

[Me Time] LDR Beda Negara? Engga Apa-Apa, yang Penting Engga Beda Dunia


Ratna Juwita

Kira-kira, berapa jarak terjauh yang pernah memberi “spasi” antara kamu dengan pasanganmu? Seratus kilometer? Seribu kilo meter? Tanpa pernah berniat membandingkan, aku pernah berada 8.457 kilometer jauhnya dari si doi.

Terus, berapa lama kira-kira kamu biasa mengumpulkan rindu, satu per satu, hingga akhirnya bisa meluapkan semuanya saat bertemu? Satu bulan? Enam bulan? Satu tahun? Hahahaha, sama. Dalam kasusku, kami bertemu paling cepat setahun sekali. Itu pun hanya bertemu selama paling lama tiga hari. Selebihnya? Chat dan telepon. Untung udah engga pakek surat lagi hehe.

Ah, siapa sih yang masih asing dengan hubungan yang diberi nama Long Distance Relationship atau disingkat LDR ini? Hubungan jarak jauh? Bagi sebagian orang ini merupakan jenis hubungan yang menguras banyak tenaga dan terutama emosi, sedangkan sebagian lainnya engga demen nih hubungan model begini. Wkwk.

Stigma LDR sih biasanya “Capek. Capek hati dan pikiran” atau “Engga bisa percaya sama doi yang di sana, entah kepincut orang lain apa engga” atau “Engga enak, engga bisa jalan-jalan berdua sering-sering” atau “Malam minggu berasa jomlo”. Hayoloh. Hahaha.

Memang sih, menjalin hubungan jarak jauh itu sama sekali engga mudah, apalagi kalau banyak godaan di depan mata *ups. Ada yang bikin nyaman, misalnya. Susahnya, kita engga bisa selalu merasakan kehadiran tubuhnya di depan mata di saat kita ingin atau rindu sudah engga bisa ditunda-tunda lagi. Pokoknya harus ketemu, titik. Tapi gimana Ongkos beda kota mah masih mending, nah ongkos beda negara? Adubo, orang kaya aja kadang masih mikir-mikir buat ngabisin duit melenggang ke tempat doi berpijak *ceilah. Apalagi yang engga ada duit. Hahahhaa. Gigit jari doang.

Oke, ada fitur namanya video call juga sih, tapi karena aku juga bukan tipe orang yang suka video call-an, telepon aja jarang (banget), aku jarang memanfaatkan kecanggihan fitur itu. Ya, repot sih ya kalau orangnya kayak akum ah. Terus gimana buat ngatasin rindu misalnya sama si doi yang nun jauh di sana itu? Hmm, ya udah, dipendem aja. Hahahah. Kuat ya? Engga kok aku engga setegar itu :p

Asyiknya nih ya, kalau LDR tuh kan setelah lamaaaaa banget engga bertemu, pas bertemu tuh rasanya lega luar biasaaaaa. Akhirnya dong engga hanya sekadar lihat lewat foto atau mimpi belaka, akhirnya fisiknya nampak di depan mata. Senengnya jduaar jduaar kayak kembang api tahun baru. Hehe.

Karena aku lagi kuliah di Jogja, biasanya doi nyamperin aku ke Jogja. Nah, di Jogja kami biasanya pergi ke tempat-tempat hiburan gitu buat senang-senang, intinya menghabiskan waktu berdua. Eits, tidak lupa juga menabung dari jauh-jauh hari sebelum doi datang biar puas mau kemana pun, kuy. Kemarin sih, sudah tahun ketiga kami menjalani hubungan jarak jauh gitu dan itu adalah kali ketiga juga dia mengunjungiku. Ya sebenarnya sih pengin-pengin aja gentian mengunjunginya di sana, hmm… duit mana duit :’D

Daaaann, dari beberapa tempat yang kami kunjungi, aku paling suka jalan-jalan malam hari di Sindu Kusuma Edu Park, sebuah taman hiburan di Jogja. Sebenarnya, kami sempta bingung harus kemana lagi kami jalan-jalan karena biasanya lokasi tempat hiburan di Jogja tuh jauh-jauh bisa sampai satu jam lebih perjalanan dari pusat kota. Karena tidak ada kendaraan dan keterbatasan segala sesuatunya, kami Cuma bisa memilih tempat-tempat di dalam kota Jogja saja dan kami menjatuhkan pilihan ke Sindu Kusuma Edupark ini.

Tempatnya di Jl. Jambon kecamatan Mlati, kota Sleman. Tidak jauhlah kalau dari kampus tertjintah. Sesampainya di sana tuh waaaahhhh, aku langsung terpikat sama Bianglala atau aku sendiri seenaknya nyebut bianglala itu sebagai “Jogja Eye” hahahaha. Iya, copas dari London Eye-nya Inggris. Katanya sih bianglala di SKE ini tertinggi se Indonesia! Tentu saja aku langsung cuss ke sana :D 

Engga banyak tempat hiburan di Jogja yang ada bianglalanya. Paling biasanya kalau ada acara Sekaten (acara tahunan untuk memperingati ulang tahun Nabi Muhammad) di Alun-Alun Utara atau Selatan Jogja. Itu pun bianglala yang “seadanya”. Ya kecil dan terkadang kebat-kebit juga mikirin keselamatan diri sendiri. Ingat peristiwa yang sempat menggegerkan beberapa waktu lalu? Waktu ada sebuah wahana bianglala yang salah satu sangkarnya saling tersangkut sampai terbalik? Ho oh, serem banget!

Jogja Eye (Sebenarnya namanya sih Cakra Manggiling)



Nah, kalau di Sindu Kusuma Edupark (SKE) ini beda. Entah kenapa aku yakin sama keselamatan nyawaku. Aku sebenarnya takut banget sama ketinggian, tapi karena aku suka banget sama bianglala, yaudah deh aku jabanin naik bianglala setinggi lima puluh meter. Bakal jadi rekor tertinggiku naik bianglala!

Ehem, ditambah lagi naiknya bareng doi kan. Suasananya mungkin bakal romantic gimana gitu kan kayak di film-film atau drama-drama Korea. Hahahaha.

Waktu udah bayar tiket yang harganya murah (banget), kami berdua pun naik Bianglala yang ternyata engga berhenti, alias kalau mau naik yauda naik aja wkwkkw. Bianglalanya engga bakal berhenti buat kamu. Cukup doi yang rela berhenti buat kamu. Hiyahiyahiya.

Aku bisa bilang, itu salah satu pengalaman yang aku paling suka ketika menikmati waktu bersama doi! Kami tertawa, bercanda, ketakutan karena tingginya bianglala, apalagi pas sampai paling puncak.

Sayup-sayup, aku bisa dengar doi mulai ngomong, “Aku sayang kamu. Semoga kita terus bersama till death do us part (sampai maut memisahkan kita).” Dalam mimpi. Wwkwkwkwk.

Sebenarnya pas lagi di paling puncak tuh aku berharap doi ngomong sesuatu yang romantis kayak gitu kek, atau apa kek yang menggugah selera (?), tapi doi Cuma ketawa-ketawa doang wkwkwkwk. Dia jarang nonton drama Korea sih, atau aku yang kebanyakan nonton? Hahahaha.

Kalau di drama-drama nih ya, kayaknya cowoknya bakal nembak atau bilang kalau dia sayang banget sama si tokoh protagonisnya. Hahaha. Sejenis itu deh, tapi yasudahlah doi bungkam seratus bahasa *eh.

Pemandangan kota Jogja dari Jogja Eye :D


Pemandangan yang bisa aku nikmatin dari ketinggian tuh, lampu kota Jogja di malam hari yang menurutku keren banget! Memang sih bukit bintang mungkin rajanya kalau soal menyajikan pemandangan spektakuler lampu-lampu kota ya, tapi suasana bianglala itu beda! Pokoknya beda. Kalau di Bukit Bintang, kita bisa menikmati sepuasnya, tapi kalau di Jogja Eye, pemandangan itu perlahan-lahan muncul, mencapai puncaknya (sayang engga ada kembang api sebagai bumbu baper suasana), lalu menghilang perlahan. Kayak, momen yang engga akan kembali lagi sekali kamu melewatkannya. Hiyahiyahiya.

Filosofinya mungkin sejenis, “Kamu hanya hidup sekali, tapi sekali saja sudah cukup jika kamu memanfaatkannya sebaik-baiknya.” Uhuk!

Benar banget sih, sama kayak aku sama doi. Ketemu sehari aja cukup, asalkan kami memanfaatkan momen pertemuan itu sebaik-baiknya. Ahaaaayyy.

Tapi beneran, LDR beda negara masih mending daripada LDR beda dunia. Cuma doa yang bisa menjangkaunya :”) Buat kamu yang juga lagi LDR, semangat ya! Semoga langgeng sampai tujuan (?). Dan semoga, rindu tidak buru-buru bertamu ketika waktu kembali memberi jarak untuk bertemu.


Bonus pict:
Ini foto doi yang ambil dari kamera hapenya. Padahal dia juga lagi naik boom boom car. Abis dia ambil foto tanpa sepengetahuanku, tanpa rasa bersalah aku “ngehajar” boom-boom car-nya habis-habisan. Hahahahha *ketawa jahat*.





What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com