Tuesday, December 31, 2019

[Cerita Pendek] PETRIKOR



Ratna Juwita

Hujan pun pernah sesekali ragu; menimang-nimang kesiapannya sendiri untuk terhempas ke sekian kali di atas bumi. Meninggalkan awan ... dengan perasaan yang selamanya diputuskan mati. Agaknya, awan tak pernah bertanya lebih dulu, acuh pada nafsu hujan untuk bertahan. Hujan jatuh dengan suara debam yang paling hening ... sering tak terdengar, tapi telah sangat menyakitkan. Namun, kehilangan awan ternyata lebih menghancurkan.”
***

Dua bulan yang lalu ...

Rama meremas bunga yang dibawanya, Suara plastik pembungkus bunga yang seolah menjerit kesakitan, tak dihiraukannya sama sekali. Rama menatap lurus ke arah Mega, sahabat sejak kecil yang ingin dijadikannya istri itu. Mega terlihat bahagia, wajahnya tersenyum cerah. Di tengah taman, dikerumuni banyak orang, seorang laki-laki yang dikenal Rama sebagai teman sekantor Mega tengah berjongkok. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Perlahan, laki-laki itu membuka kotak dan menyembulkan sebuah cincin dengan berlian berwarna biru. Rama tercekat.

“Maukah kau ... menjadi wanita yang setiap pagi, kulihat pertama kali ketika mataku terbuka?” Gilang, kalau Rama tidak salah ingat nama laki-laki itu.

Bisik-bisik di sekitar mereka terdengar. Sebagian wanita berjingkat dan menjerit tertahan. Tidak ada yang terlihat menyumpahi adegan itu selain Rama. Jantung Rama berdegup. Terlalu keras hingga ia yakin orang-orang di sebelahnya bisa mendengar dengan jelas. Matanya berkunang-kunang. Bunga yang ia remas, tidak begitu saja menjadi debu seperti yang ia harapkan saat itu.

Rama mengenang. Sepertinya baru kemarin ia pergi berdua dengan Mega. Gadis bermata teh itu. Baru kemarin mereka bercanda berdua, menikmati seluk beluk kota yang riuh menyambut tahun baru. Harapan baru. Memori kemarin masih terekam jelas di benak Rama, bahkan ia yakin bisa menyebutkan aktivitasnya dan Mega tiap detik. Kemarin. Beberapa jam yang lalu.

Ulu hati Rama berdenyut. Nyeri. Rasa kehilangan Mega mendadak menyergap begitu dekat dan cepat.

“Apa kau ... mau menjadi istriku?” Suara Gilang kembali mengisi keributan. Sontak, semua mata yang tertuju pada mereka, terdiam.

Mega terlihat malu-malu. Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Rama mengumpat dalam hati, berharap—walau ia tahu sia-sia—Mega tidak akan menerima lamaran Gilang.

Tiba-tiba, hujan turun. Rerintik yang kemudian menjadi hujan. Orang-orang berlarian mencari tempat berlindung, sebagian lainnya langsung menggunakan payung yang sempat disiapkan. Bau air hujan yang pertama kali mencumbu tanah, tercium lekat di hidung Rama. Bau yang orang sebut petrikor.

Harapannya mengkhianati. Rama tahu. Detik ketika Mega mengangguk adalah waktu yang paling ingin ia bunuh.
***

“Pada akhirnya, ia hanya teresap, teralir, teruap, dan bertemu tempat singgah yang baru; awan yang lain. Jatuh cinta, lalu tersakiti lagi tanpa mampu seutuhnya ... bersama awan yang dimau. Yang diingini. Kadang rindu hadir begitu menyiksa ketika aliran juga resapan terasa berabad lamanya. Kadang teresap itu ... menghilangkan, hingga di suatu tempat, ia muncul lagi; mengalir dan memuara. Mengikuti kelok tanah di bumi yang tak pernah baik mengombang-ambingkannya.”
***

Sebulan yang lalu ...

“Rama!”

Rama bergegas mengemasi lembar-lembar ujian. Pura-pura tak mendengar panggilan gadis yang sampai saat ini masih ia cintai itu. Sinta menerobos masuk ruang kelas.

“Rama!” Mega menghentakkan tangan Rama ketika lelaki itu melewatinya begitu saja, tapi tak cukup membuat Rama berbalik menghadapnya. Rama berhenti. Membelakanginya. “Kamu kenapa, sih? Aku merasa ... sebulan ini kamu menghindariku. Telepon nggak diangkat, kirim pesan nggak dibales, aku panggil nggak nengok—“

“Aku ada urusan.” Rama berlalu sambil menenteng tas dan kertas-kertas hasil ujian murid-muridnya. Ia tidak menoleh, tidak mengizinkan tubuhnya berbalik dan memeluk Mega dan tak pernah melepaskannya lagi. Selamanya. Namun, ia tidak bisa. Tidak bisa menghadapi kenyataan dan menimang-nimang perasaannya sendiri. Padahal, ia telah mencoba jatuh cinta pada gadis lain. Sebagai pelarian. Tapi perasaannya tidak ingin menjadi pembangkang. Tidak juga ingin berkompromi.

“Rama, berhenti egois!” teriak Mega. Teriakan itu menggema di kelas yang telah sepi. Anak didik Rama telah membubarkan diri beberapa saat yang lalu tepat setelah bel berbunyi. Kaki Rama terhenti tepat di pintu kelas.

Mega sudah meluangkan waktu. Mencoba meninggalkan kantornya lebih cepat begitu pekerjaannya selesai untuk menemui Rama di sekolah. Begitu ada kesempatan, Mega menerjang masuk ruang kelas Rama yang telah sepi. Saat itu, Rama tengah menata lembar-lembar ujian yang baru saja dikumpulkan murid-muridnya sembari mengecek kelengkapan nama dan nomor presensi mereka. Rama tidak menyangka Mega nekat datang ke ruang kelasnya. Ia sudah berusaha menghindar, tapi Mega tak juga mau mengalah.

“Sudah, cukup! Ada apa sebenarnya denganmu? Kau bertingkah seperti anak kecil yang kehilangan balon. Kau ....” Mega tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia menyibakkan rambut ke belakang kepala dengan tangan kanan. Tanda bahwa ia tengah marah.

Rama meremas kertas ujian yang berada di tangannya. Ingin sekali ia meneriakkan pada Mega bahwa ia begitu mencintai gadis itu hingga tak lagi bisa melihatnya karena takut rasa kehilangan membutakan mata. Hari itu. Di hari Gilang melamarnya adalah hari yang juga dipilih Rama untuk meminang Mega. Bagaimana takdir bisa begitu kejam?

“Kau masih tak mau bicara?” Mega mengembuskan napas berat. Frustasi. Mega mengambil napas lalu mengembuskannya perlahan. Rama masih memunggunginya. “Sejak kecil, kita selalu saja begini, Kau marah dan aku selalu menjadi pihak yang meminta maaf.” Suara Mega terdengar lebih tenang. Ia menempelkan diri ke atas kursi guru di ruang kelas itu. “Aku tak mempermasalahkannya. Tak apa jika aku yang selalu meminta maaf terlebih dahulu, asalkan kau mengatakan padaku kesalahanku atau hal yang membuatmu marah. Aku bukan cenayang yang selalu bisa mengerti isi hati maupun pikiranmu. Aku ... hanya seorang sahabat yang ingin membahagiakan sahabatnya.”

Rama merasakan duri bermunculan dalam dada. Menggores hatinya sedikit demi sedikit. Kata ‘sahabat’ yang dulu begitu disukainya, entah mengapa menjadi begitu pahit untuk sekadar didengar.

Mega terkekeh. “Entah sejak kapan aku merasa ... aku selalu menjadi pihak yang serba salah. Seharusnya wanita selalu benar, tapi jika berhadapan denganmu sepertinya hanya akulah wanita yang selalu salah. Apakah di dunia ini ada wanita yang seperti aku atau laki-laki yang sepertimu?”Mega merunut papan kayu di sampingnya. Merasakan debu halus dari kapur yang berjatuhan di tepian papan tulis.

Rama menggigit bibir bawahnya. Mega benar. Ia selalu kekanakan. Ia selalu menyalahkan Mega atas segala hal yang menimpa dirinya. Namun, tak ada wanita yang lebih sabar dari Mega dalam menghadapinya. Gadis itu tak pernah mengeluh, sampai hari ini. Rama sudah akan mengatakan sesuatu, tapi suara Mega membuatnya menelan kembali ucapannya.

“Sekarang, terserah padamu. Aku ... lelah. Datanglah ke pesta pernikahanku bulan depan. Aku akan sangat senang melihatmu di sana.”

Mega berdiri, melangkah perlahan hingga ia melewati Rama yang masih mematung di pintu kelas. Rama tak bergeming dan itu membuat Mega semakin tegas melangkahkan kaki. Meninggalkan Rama dan sejuta pertanyaan tak terjawab di benaknya.
***

“Ia pernah ... menjadi begitu kotor, mengalir bersama benda-benda padat yang tak jarang berbau amis, busuk, dan ... menjengahkan. Namun, ia juga pernah menjadi sangat bersih, diteguk, melewati lorong-lorong yang tak panjang, mengendap beberapa saat, lalu terkucur pesing.”
***
           
Sehari sebelumnya ...

“Rama! Ada berita gawat, Mega—“

“Ah, sudahlah!” Rama berteriak frustasi. Mega. Mega. Mega. Nama itu tak sedikit pun keluar dari otaknya dua bulan belakangan. Bahkan, di hari istimewa bagi Mega ini, hari pernikahan Mega dengan Gilang ini, Rama masih belum bisa berdamai dengan perasaannya sendiri.

Rama berdiri dari tempat tidurnya yang berwarna hitam. Akibat kekacauan hatinya, ia juga mengubah semua dekorasi kamarnya menjadi warna hitam. Meja, dinding, kursi, semua ia cat menjadi warna hitam dalam waktu seminggu saja untuk memperingati rasa dukanya. Walaupun sedikit, warna hitam itu bisa membuatnya merasa lebih baik.

Sudah sebulan sebelum pernikahan Mega dengan Gilang, Rama terus mengurung diri. Ia sempat berpikir mengacaukan pesta pernikahan sahabatnya itu, tapi ia urungkan. Ia tidak bisa berlaku sekeji itu. Ia sudah merasa bodoh karena tidak mengacaukan lamaran Gilang di taman kota dua bulan lalu. Setidaknya, kalau saat itu ia mengacaukannya, ia takkan merasa semenyedihkan ini.

“Rama, dengarkan aku dulu!” Kakak Rama, Sinta, masih bersikeras. Wanita yang telah melahirkan seorang anak laki-laki itu mengerti benar kekacauan hati Rama saat ini. Ia tidak menyalahkan, juga tidak mendukung. Bagaimanapun, sedih berkepanjangan bukanlah pilihan.

 Rama tidak ingin mendengar. Ia menangkupkan dua tangan ke telinga. Sudah cukup. Ia tak lagi ingin mendengar seseorang menyebut nama Mega. Kakinya berjalan mondar-mandir menghindari Sinta.

“Rama!” Sinta melepas paksa kedua tangan Rama. Usahanya berhasil tanpa perlu mengeluarkan tenaga besar karena Rama tidak memiliki tenaga yang cukup akibat tidak makan selama dua hari.

Rama terkesiap. Kaget dengan tubuhnya sendiri yang baru terasa selemas itu. Tangannya gemetar. Matanya beradu pandang dengan Sinta.

Sinta menarik napas dalam-dala, sambil memejamkan mata sejenak. Ia tak kuasa menyampaikan berita yang begitu menyedihkan itu, apalagi dengan keadaan Rama yang begitu terpuruk. Akan tetapi, ia tak bisa menyembunyikannya. Cepat atau lambat, Rama pasti segera mengetahuinya.

“Rama, dengar ...,” Sinta memulai. Lamat-lamat. “Mega ... Mega ... Mega meninggal karena kecelakaan ... saat pergi ke salon rias ....” Bibir Sinta bungkam seketika begitu melihat air mata turun perlahan dari manik mata Rama. Sinta seperti bisa mendengar tangis Rama yang tak terdengar.

Mulut Rama megap-megap. Membuka seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi menutup kembali beberapa saat kemudian. Begitu terus hingga Sinta memutuskan memeluk Rama. Tubuh Rama terguncang, merosot ke lantai walaupun Sinta sempat menopangnya. Sinta ikut terduduk. Ia juga tak kuasa melihat adiknya sehancur itu. Tepatnya, ia tidak pernah melihat Rama seperti itu, bahkan di hari kematian orang tua mereka tiga tahun lalu. Sinta mempererat pelukannya. Takdir sepertinya tengah asyik bermain-main dengan perasaan Rama, mencoba membuat Rama akrab dengan kehilangan.
***

“Bukan alam namanya jika tak mempermainkannya. Pernah. Ia begitu dalam mencintai untuk kemudian dikhianati oleh nasib. Berulang kali hingga ia sadar ... hidupnya tak diciptakan untuk memilih.

Rama membacakan sebuah cerita yang ia tulis sendiri dengan menganalogikan kehidupannya dengan hujan. Sesekali, ia berhenti karena nyala lilin bergoyang-goyang ditiup angin yang merangsak masuk dari celah-celah ventilasi. Ia mengembuskan napas tertahan, seolah ingin menangis.

Suara guntur dan hujan lebat yang terdengar dari luar rumah tak merisaukannya. Ia merasa sangat tenang berada di rumah kosong peninggalan orang tuanya itu. Tak ia hiraukan keramaian di luar sana dan suara kentongan yang dipukul dengan sangat berisik. Membangunkan tiap-tiap mata yang seharusnya terlelap malam itu. Rama terkekeh. Dalam hati, ia bertanya sangsi, untuk apa semua keributan itu di saat ia, di dalam rumah kosong itu ia justru merasa begitu mengawang-awang.

Rasa perih di hatinya hilang. Tak ada lagi nama Mega yang menghiasi kepala. Ia tak lagi merasa bahwa kehidupan tak adil. Tidak lagi. Sekalipun takdir mencoba kembali bermain-main dengan hatinya, ia akan memikirkan ribuan cara untuk membalikkan kemalangan menjadi kesenangan yang diciptakannya sendiri. Jika takdir begitu membencinya, maka adalah tugasnya mencari sendiri letak kebahagiaan. Di ujung dunia sekalipun, ia akan mencari.

Suara keributan semakin menjadi-jadi. Hujan deras tak membuat orang-orang mengurungkan niat untuk saling membangunkan satu sama lain. Pukul dua dini hari itu, kampung mereka berlompatan dari tempat tidur karena suara kentongan yang dipukul begitu keras. Sebagian dari mereka saling bertanya perihal yang terjadi.

“Ada apa?”

“Siapa yang memukul kentongan seribut ini?”

“Ada kebakaran?”

“Ayo kita berkumpul di sana, bawa payungmu!”

Suara-suara terdengar bersahutan. Rama mengenali sebagian suara, tapi tidak lainnya. Bulu kuduk Rama sedikit berjingkat ketika terdengar suara yang sangat akrab di telinganya terdengar dari luar.

“Ada apa ini? Mengapa ribut-ribut?” Itu suara Sinta yang bertanya pada para tetangga yang berlarian.

“Mayat!” Seorang ibu berhenti karena Sinta memegangi tangannya.

Sinta kebingungan. “Mayat apa?”

“Mayat berjalan!”

“Apa?” Sinta bertanya frustasi karena tak mengerti. Ibu-ibu yang biasanya berjualan sayur itu juga terlihat kebingungan menjelaskan. Dasternya basah kuyup karena ia tak mengenakan payung.

“Ada mayat hilang!” Akhirnya, ibu itu menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan keadaan. Sinta mengerutkan kening. Ia menggoncangkan tangan ibu yang berusia setengah baya itu.

“Mayat hilang? Mayat siapa?”

“Mayat Mega hilang!”

Bersamaan dengan sambaran kilat, suara guntur menyahut, mewakili guntur yang bergema dalam hati Sinta. Tubuh Sinta bergetar. Ia biarkan ibu itu pergi berkumpul dengan ibu-ibu lain di pos ronda di ujung kampung. Beberapa laki-laki melewatinya begitu saja, terlihat terburu-buru sambil membawa peralatan yang bisa dibawanya; cangkul, payung, tongkat, dan sebagainya.

Jantung Sinta berdebar. Hal yang ditakutkannya menjadi kenyataan. Ia menepis bayangan satu-satunya orang yang mungkin melakukannya. Tidak. Ia tidak bisa menuduh tanpa bukti yang jelas. Tepatnya, ia berharap bayangannya salah. Ia berharap kejadiannya tidak seperti yang dipikirkannya.

Suami Sinta, Ridho, menyusul beberapa saat kemudian. Ia menggendong anak mereka yang terbangun karena keributan itu. Setelah menenangkan anaknya, Ridho memutuskan membawanya serta.

“Sinta? Ada apa ini?” Ridho memayungi Sinta yang sudah terlihat sangat basah. Ia biarkan hujan menyesap ke baju, asal tidak pada anak dan istrinya. Sinta tidak segera menjawab pertanyaan Ridho. Sinta memandang kosong dan penuh ketakutan ke arah orang-orang yang kini berkumpul di pos ronda. Ia bahkan tak bisa lagi merasakan dingin yang menusuk telapak kaki telanjangnya.

Rama terkekeh tanpa suara mendengar suara-suara di luar rumah kosong itu, termasuk suara Sinta dan kakak iparnya, Ridho. Rama mengelus rambut Mega yang telah tertutupi kain kafan kotor dan lusuh. Susah payah ia menggali kuburan Mega beberapa waktu lalu. Rerintik hujan tak dibiarkannya menyurutkan usaha demi bisa bersua kembali dengan gadis yang dicintainya. Ia menemukan dunianya dan tak membutuhkan apapun lagi. Selamanya, ia bisa bersama dengan Mega.

“Mega, aku mencintaimu. Tetaplah di sini bersamaku.”

Rama meletakkan tubuh kaku Mega yang terbungkus kain kafan di pangkuan, lalu memeluknya erat-erat. Bau petrikor menyusupi indra penciumannya.
***

What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
The books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com