Read More

5 CM: Buku yang Menyelamatkanku

Ratna Juwita
Read More

Ary Nilandari - Penulis Wattpad yang Tidak Menye-Menye

Ratna Juwita
Read More

Know Your Limits

Ratna Juwita
Read More

PETRIKOR

Ratna Juwita
Read More

Into The Unknown

Ratna Juwita

Saturday, April 13, 2013

[Contoh Cerpen Singkat] Yang Terbuang

Ratna Juwita

             PLAKK !! Orang itu menamparku begitu aku memaksa agar dia memberikan aku sebagian kecil dari uang yang dimilikinya. Tubuhku limbung dan mendarat di atas tanah becek dengan telak. Seakan setiap tulang dalam tubuhku langsung rontok begitu saja. Hancur menerpa aspal. Tak puas, laki-laki yang mengendarai sepeda motor itu kembali membuatku seakan mau mati saat dia melayangkan kakinya ke tubuhku dengan kuat dan kasar.

            Aku menatapnya dengan nanar. Merasakan betapa sakitnya tulang rusukku ditendang olehnya. Dia mengumpat sesaat sebelum akhirnya dia menyalakan kembali mesin motornya dan melaju tanpa menghiraukan tatapan ngeri dari pengendara sepeda motor lain. Kebanyakan dari mereka menatapku kasihan, tapi sebagian lagi menatapku tak acuh atau bahkan setuju dengan perlakuan laki-laki jahat tadi padaku. Aku masih menggeletak diatas tanah becek itu dengan nafas terengah-engah. Sakit. Haus. Lapar. Aku mengerjapkan mata dengan lemas, berharap apa yang kurasakan segera hilang dari tubuhku.

           Aku menghembuskan nafas untuk kesekian kalinya dan segera berdiri dengan tubuh letih karena tiada tenaga. Sedangkan gelas aqua yang tergenggam di tanganku masih kosong tanpa uang sesenpun.  Bagaimana aku bisa membeli sesuap nasi hari ini apabila uang saja aku tak punya ? hanya gelas kosong ini yang selalu menemaniku menjalani hari demi hari dalam kehidupan yang penuh dengan kekejaman ini. Aku sekarang mulai menyesali  kenapa dulu aku pindah ke Ibukota ini dengan harapan akan mendapatkan pekerjaan dengan mudah dan layak ? dimana keadilan yang selalu di umbar para pemimpin negara ? tiada keadilan bagi orang miskin sepertiku. Tidak ada.

            “Ini.” Sebuah tangan kecil tiba-tiba terjulur ke arahku sedetik setelah aku berhasil duduk dengan susah payah di tepi jalan. Aku mendongak dan melihat seorang anak kecil dengan malu-malu memasukkan uang  10.000-an ke dalam gelas usangku. Dia tersenyum polos sambil memeluk kaki ibunya yang ikut tersenyum bangga. Kemudian, mereka berdua melanjutkan perjalanan entah kemana. Anak kecil manis itu sempat menoleh dan melambaikan tangan padaku dengan lucu. Aku tersenyum sedih.

            “Terima kasih ...,” ucapku tanpa suara. Menyedihkan memang terlihat tak berguna di depan seorang anak kecil yang belum mengetahui kejamnya hidup. Tapi aku bersyukur karena aku masih bisa makan hari ini. Ternyata, menjadi pengemis adalah hal yang menyusahkan dan hina.

Tiba-tiba perutku terasa sangat nyeri. Aku mendekap erat perutku sambil meringis kesakitan. Tak kusangka perutku akan menjadi seperih ini saat tak kuisi dengan apapun selama 5 hari ini. Tubuhku yang kurus kering ini jadi terasa hampa tak berisi saat aku meraba perutku yang kempes.

            Kepalaku mulai terasa pusing sekarang. Aku tidak tau apa yang sedang terjadi dengan tubuhku. Yang jelas seakan aku sudah tidak mampu duduk lagi. Setiap persendianku seakan hilang terhapus sakit di perutku yang melilit. Aku menggigit bibir saat tubuhku terjatuh ke tanah untuk kesekian kalinya. Kepalaku ikut terbentur aspal saat tubuhku terbanting keras. Aku rasakan, mataku berkunang-kunang dan tubuhku seperti melayang. Sedangkan sakit di perutku ini membuatku semakin tak berdaya. Aku menatap pandangan aneh beberapa pejalan kaki dengan mata yang meredup perlahan. Sesaat kemudian, semuanya menjadi gelap dan aku tak merasakan sakit lagi di sekujur tubuhku.
Read More

[Contoh Cerpen Cinta] Pelangi di Mata Senja

Ratna Juwita

                 ‘Senja itu apa sih,kak?’

          ‘Senja itu lembayung.. langit indah dikala sore, yang berarti tatanan surya saat akan memasuki belahan lain bumi. Senja itu indah.. seperti dirimu...’

            “Senja.. Seenjaaa!!”  Aku tersentak kaget  mendengar teriakan itu. Tepat ditelingaku. Aku menoleh dan melotot kearah Ridwan yang menatapku jengkel.

            “Apa sih?! Jangan teriak-teriak kenapa?!” Kataku kesal. Temanku yang satu ini memang sangat menyebalkan! Selalu saja berteriak-teriak di telinga orang seperti macan yang kelaparan. Ditambah lagi, Ia telah mengusik lamunanku. Aku jadi bertambah kesal padanya.

            Yang dibentak malah nyengir kuda. Kemudian, dia duduk disebelahku. ”Maaf-maaf! Jangan marah gitu,dong! Mukamu kusut tuh,jadinya! Aku kan hanya mau membicarakan sebuah berita terhangat! Lagipula, kamu juga, sih kerjaannya ngelamun mulu!” Katanya dengan mata berbinar, seolah penuh dengan penyesalan yang diapit kemunafikan!

            Tapi, padanya aku tak bisa marah berlama-lama, karena bagaimanapun juga dia adalah teman terbaik yang kupunya. Dia memang sedikit menyebalkan dan tidak begitu populer di sekolah tetapi, bagiku dialah yang paling populer dalam kehidupanku setelah ibu dan kakakku.

            “Berita apa?” Aku bertanya dengan malas. Ya,tentu saja! Bagaimana aku tidak merasa malas apabila dia mengatakan itu hampir setiap hari! Baginya, semua hal adalah berita hangat! Sampai anak yang terjatuh pun dianggap berita hangat untuknya.

            “Ada anak baru! Masuk kelas ini!” Matanya bersinar menatapku.

            Aku menghembuskan nafas,”Dia cewek?” Tebakku tanpa memandangnya.

            “He-em!” Dia mengangguk cepat.

            “Cantik?” Tebakku lagi

            “Ya!”

            “Putih?”

            “Siipp!”

            “Rambutnya panjang?”

            “Oke!”

            “Matanya indah?”

            “Banget!”

            “Bodinya ...” Kata-kataku menggantung. Tidak mau meneruskanya.

            “Keren dan ... mm!”

            Aku membekap mulutnya dengan cepat, sebelum dia mengatakan kata-kata yang tidak ingin kudengar.

            “Kalau itu,mah.. tipe cewek idamanmu!” Aku meliriknya lalu mengambil buku dari dalam tasku dengan menggunakan tangan kananku. Sedangkan tangan kiriku masih sibuk membekap mulut Ridwan yang sudah ingin melanjutkan kata-katanya.

            Sudah kuduga, bicaranya pasti ke arah Singapura apabila terus dibiarkan. Pikiran dan otaknya memang terkadang tidak jauh-jauh dari hal tersebut diatas. Apalagi, kalau menyangkut masalah cewek, dia bahkan bisa mengatakan hal yang lebih dari pada itu. Berbeda sekali denganku, yang justru tidak menyukai cewek manapun, secantik apapun, dan sekaya apapun selain kakak kandungku sendiri. Pelangi.

            Jangan salah paham. Aku bukanlah tipe cowok yang menyukai saudara sendiri. Aku menyukai kakakku sebagai dewa pangganti ibuku yang sudah meninggal sejak aku masih kecil. Namun, sekarang sama saja dengan tidak memiliki keduanya, karena kakakku sedah menjemput ibukku 1 tahun yang lalu. Dan aku, telah kehilangan keduanya.

            “Anak-anak! Ayo diam!” Tiba-tiba, guru Agamaku telah berdiri di depan kelas. Disampingnya, berdiri seorang cewek putih, berambut panjang dan entah aku bisa mengatakan bahwa matanya itu indah atau tidak.

            “Mmff..mmff!” Aku baru menyadari bahwa tanganku masih berada dimulut Ridwan. Dia melotot kearahku dengan muka merah.

            “Oh..sorry! gak nyadar!”Aku langsung melepas tanganku dari mulutnya.

            “Lo! Hah..hah.. mau ngebunuh gue ya?!” Dia membentakku sambil sesekali melirik guru dan cewek baru itu. ”Eh.. dia cantik,kan?” Dia mengedipkan matanya beberapa kali dengan genit kearahku.

               “Jangan memandangku seperti itu! Jijik tau!” Aku tersenyum mengejek padanya.

            “Anak-anak! Ini ada teman baru untuk kalian! Ayo,silahkan perkenalkan dirimu!” Kata Bu Erni kepada cewek itu. Yang disuruh, melangkah malu-malu kedepan.

         “Nama saya..” Dia berhenti sejenak dan memandang berleliling. Dan entah ini hanya perasaanku atau dia memang melihatku lebih lama daripada yang lainnya?, “Nama saya Pelangi!”
            
            DEG!! Jantungku bersikap tidak normal. Berdetak jauh lebih cepat dari batas kewajaran. Bergerak lebih cepat dari kereta express sekalipun. Aku melotot dan menunduk tak percaya. Aku tau dia mengatakan hal lain lagi, tapi aku tidak mendengarnya setelah itu. Antara sadar dan tidak. Telingaku seperti dibuat tuli olehnya. Sesak. Aku punya masalah sekarang, dadaku terasa sangat sesak!

            Memori otakku mulai menghubungkan antar jembatan yang terhubung dengan cepat! Pusing. Bayangan masa lalu tentang kakak  mulai merangkak masuk lewat kilasan hitam di depan mataku. Kepalaku pening. Seakan diguncang gempa yang maha dahsyat. Semakin lama, tergambar jelas sosok kakak yang sangat kusayangi. Kakakku Pelangi. Lalu, sedetik kemudian semuanya menjadi gelap dan aku tak bisa mengendalikan cerebellum-ku.

------PDS------
            
           ‘Kakak,akan baik-baik saja..’ Kata kakak tersendat-sendat dan menatapku lewat matanya yang teduh.

            ‘Kakak berjanji?’ Tanyaku diantara tangisanku. Aku memegangi tangannya.

            ‘Lebih dari itu..’ Dia tersenyum lemah.
           
           ‘Kakak ... boleh aku tanya sesuatu?’Aku menatap matanya.

            ‘Apa?’ balasnya.

            ‘Senja itu apa sih,kak?’Dia tersenyum mendengarnya.

         ‘Senja itu lembayung, langit indah dikala sore.. yang berarti tatanan surya saat akan memasuki belahan lain bumi! Senja itu indah, seperti dirimu..’Setelah itu,matanya tertutup. Jantungku berdetak cepat. Aku mengguncangkan tubuhnya semampuku. Aku tercekat! Tidak ada suara yang berhasil keluar dari tenggorokanku. Aku menangis.
            
           ‘Sudah Senja!Sudah!Senja!’
            
            “Senja!! Senjaa!!”

            “Ngh..” Aku mendesah pelan. Dan kemudian mencoba untuk membuka mataku yang terasa berat. Aku menatap lurus kearah Ridwan yang memandangku dengan cemas.

-----PDS-----

            Seminggu sudah sejak kejadian itu. Aku duduk termenung di sudut taman. Malas. Benar-benar malas. Aku tidak mau berada dikelas bersama dengan cewek itu. Bersama cewek yang namanya mirip kakakku itu. Jujur saja, sejak kejadian itu aku trauma bertemu dengannya. Aku juga tidak tau apa yang telah terjadi padaku yang kurasa begitu membencinya. Walau terlihat tanpa alasan yang jelas, tetap saja aku tidak menyukainya lebih dari siapa pun.

        Semakin lama, semakin banyak saja hal darinya yang mirip dengan kakakku. Sungguh menyebalkan! Dan lagi, sekarang hampir seluruh cowok di sekolah ini menyukainya! Termasuk Ridwan! Ah! Aku mengacak-acak rambutku dan menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Anak baru itu kini benar-benar telah menguasai sekolah ini.

            Tap-tap-tap

           Aku mendongak. Menyadari ada orang datang mendekat dan bersiap untuk meninggalkan tempat renunganku ini. Tetapi, aku tak jadi melakukanya. Aku diam. Melihat sosok yang berdiri tegak di hadapanku. Sosok yang menatapku dengan tatapan yang lembut sebenarnya, tetapi berhubung aku yang melihatnya, bagiku itu menyebalkan!

          “Hai,Senja!” Sapanya sok ramah. Aku memutar bola mataku dan bersiap untuk pergi dari tempat itu. Aku sama sekali tak berniat berada disini bersamanya.

            “Eh, tunggu! jangan pergi! Aku mengganggumu,ya?”

            “Sangat!” jawabku cepat.

            “Maaf,ya! Kenapa sih, kau sepertinya tidak menyukaiku?”

            “Aku bukan laki-laki di sekolah ini yang kebanyakan memujamu!” jawabku ketus.

            “Oh ya? Aku tidak merasa seperti itu!” Dia tersenyum dan masih berdiri didepanku.

            “Hah ...” Aku menghembuskan napas,”Memangnya ...”

            “Senja ...” potongnya. Aku semakin kesal. ”Aku tau kau tidak menyukaiku karena namaku, kan?” Dia menatapku sedih.

            “Jangan sok sedih! Pasti Ridwan yang telah memberitahukanmu,iya kan? Sudahlah! Malas aku disini bersamamu!” Aku berjalan menjauh darinya dengan langkah cepat. Aku benar-benar tidak suka bersamanya disini. Tidak suka.

-----PDS-----

            Bel pulang sekolah berdentang dengan keras. Aku berjalan keluar kelas setelah merapikan buku dan membawa tasku. Aku sedang marahan dengan Ridwan. Sehingga, dia tidak duduk di sebelahku sekarang. Tentu saja semua ini karena gadis itu. Dia yang telah membuat aku dan Ridwan bertengkar setelah dari taman tadi.

            Aku berjalan keluar kelas. Namun,lagi-lagi langkahku terhenti. Memang, ini karena gadis itu. Tapi, kali ini lain perkaranya, karena kulihat dia sedang diseret oleh 3 orang siswi yang selalu menyebut diri mereka itu cantik dan selalu membuatku muntah dengan gaya mereka yang menurutku norak sekali! Dan sekarang, apa yang sedang mereka rencanakan dengan membawa gadis itu bersama mereka? Kelihatanya, gadis itu juga tidak suka berada diantara mereka.

            Ah,sejak kapan aku menjadi begitu peduli pada gadis itu? Itu bukan urusanku! Namun, kakiku sama sekali tidak bisa kuajak untuk menjauh dari sini. Jangankan hanya untuk selangkah, sesenti-pun aku tidak mampu berpindah dari tempatku berdiri. Sedangkan mataku, terus mengikuti setiap gerakan yang mereka lakukan.

-----PDS-----

            “Ehm.”Aku berdehem keras begitu aku sampai didepan pintu gudang. Tentu saja aku melakukannya dengan sengaja.

            “Se-Senja??”Mereka bertiga dengan kompak membelalakkan mata dan berkoar.

            “Ngh ... para gadis yang imut namun menjijikkan! Mau tidak apabila perbuatan yang kalian lakukan ini diketahui oleh kepala sekolah? Hukuman apa ya, yang pantas diberikan kepada siswi yang suka melakukan kekerasan?” Aku menatap mereka dengan senyum menyindir. Tanganku bergerak perlahan kedalam saku celanaku. Mereka kini menatapku ketakutan, ”Mmm.. satu lagi! Aku punya bukti rekaman soal perbuatan kalian barusan, akan kutunjukkan dengan senang hati apabila kalian menginginkannya!”

            “Ti-tidak!” jawab salah seorang dari mereka dengan tubuh gemetar. Wajahnya mulai terlihat memucat sedikit demi sedikit.

            “Atau,kalian mau meninggalkan tempat ini dengan cara damai?”Aku menatap mereka tenang, dan hanya membiarkan mereka lewat saat mereka berlari keluar gudang dengan buru-buru dan penuh rasa ketakutan. Aku tersenyum lega. Entah kenapa aku bisa berada disini tapi, kakiku terkadang memang bergerak semaunya.

            Begitu melihat mereka menuju kearah gudang, tanpa sadar aku mengikuti mereka. Ya,tapi aku juga tidak mau mengatakan bahwa aku mengkhawatirkan gadis itu. Sama sekali tidak! Aku mulai melangkah lagi meninggalkan gudang.

            “Senja,terimakasih!”Aku mendengar suaranya yang lemah.

            “Bukan untuk menolongmu!” Aku menjawab ucapannya tanpa menoleh kearahnya dan terus melanjutkan langkahku.

-----PDS-----

            Aku duduk ditepi tempat tidurku. Gelisah. Aku tidak tau apa yang telah membuatku segelisah ini. Tapi, perasaan ini benar-benar membuatku jengkel. Tidak enak. Perasaan yang pernah kurasakan sebelumnya disaat kakak dan ibuku meninggal dunia. Aku berdiri, dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Arah langkahku tak menentu, berjalan sekehendak urat dan saraf  kakiku.

            Dibenakku, terlukis wajah gadis itu. Aku tidak khawatir. Bukan, kurasa bukan. Aku bingung. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Tapi, yang pasti aku yakin bahwa aku sama sekali tidak mengkhawatirkannya.

            Tok-tok-tok

         Aku terlonjak kaget mendengar pintu kamarku diketuk. Aku melangkah mundur karena terkejut, namun sedetik kemudian aku telah bisa mengendalikan diriku lagi.

            “Si-siapa?” Tanyaku sambil memandang kearah pintu.

           “Anu, Den! Ini saya Mbok Nah!” Suara itu membuatku lega sesaat, ”Ada Den Ridwan diluar!” Aku mengerutkan kening.

          “Oh, suruh dia masuk, Mbok! Aku akan segera keluar!”Setelah itu,terdengar langkah menuruni tangga dari luar kamar. Aku diam sejenak. Berpikir.

            Ridwan? Mau apa dia kesini? Bukankah aku dan dia sedang marahan? Ataukah dia ingin minta maaf padaku? Mungkin saja! Aku tersenyum senang dan membuka pintu kamar lalu, menuruni tangga dengan cepat .Aku melihat Ridwan duduk di sofa dengan posisi menghadap kearah yang berlawanan denganku. Aku semakin senang karenanya.

“Ridwan?” Sapaku. Dia menoleh dengan seulas senyum tipis dibibirnya.

“Hai,Nja!” Balasnya singkat. Aku langsung duduk didepannya. Kulihat, dia memegang sebuah surat ber-amplop putih ditangannya.

“Mau apa? Kalau minta maaf aku juga..”

“Nja ...” Dia memotong ucapanku. Lalu, dia menatapku dengan sedih. Aku bingung karenanya, ”Pelangi..”

“Jangan sebut nama itu!”Aku ganti memotong ucapannya. Dadaku berdebar-debar.

“Yah,..dia..” Kata-katanya menggantung. Aku semakin gelisah melihat gelagatnya yang tidak biasa itu. Dan lagi, dia menyebut-nyebut nama Pelangi.

            “Kau menemukannya di gudang?” Aku mencoba untuk menebak inti pembicaraanya.

            “Ya! Dia sebenarnya tidak apa-apa, hanya..”Lagi-lagi dia tidak meneruskan kata-katanya.

            “Ada apa?”Tanyakun  gugup. Sebenarnya,aku lega tetapi karena imbuhan ‘hanya’-nya aku jadi menaruh rasa curiga.

            “Ini!”Dia menyerahkan amplop yang sedari tadi digenggamnya padaku. Aku mengerutkan kening, lalu tanpa banyak bicara membuka dan membaca surat yang ada didalamnya.

            ‘Untuk Senja,
Maaf telah membuatmu kembali teringat akan masa lalumu. Tapi,bukankah itu juga bukan kehendakku? Ngh.. aku akan pergi! Orang tuaku ingin agar aku sekolah di Singapura. Aku juga yang memintanya. Maaf juga untuk seminggu yang mengganggumu. Kukira,kita akan bisa berteman baik saat pertama kali aku melihatmu. Tapi,kau membenciku.

Tidak apa-apa! Aku tidak menyalahkanmu. Dan untuk kakakkmu,aku turut berduka.
Pelangi’

            Aku menatap surat singkat itu dengan tangan gemetar. Bingung. Aku tidak bisa menahan kegelisahanku setelah membaca isi surat itu.

            “Dia pergi,kan? Aku rasa kau tidak mendengarnya tadi pagi! Kau terlalu cuek padanya! Sekarang dia pergi, bagaimana? kau puas?” Aku hanya menunduk mendengar ucapannya, ”Sebenarnya,kupikir kau akan senang dengan kedatanganya! Karena dengan begitu kau masih punya kesempatan untuk menjaga 1 pelangi lagi!”

            Aku masih menunduk tak percaya. Tubuhku semakin gemetar. Kau akan punya  kesempatan untuk menjaga 1 pelangi lagi!. Kata-kata Ridwan itu terus terngiang di telingaku. Panas rasanya aku mendengarnya.

            “Tapi, sekarang kau membuang kesempatan itu percuma! Apa yang seharusnya bisa kau lindungi malah kau campakkan! Kau telah kehilangan semuanya sekarang!” Ridwan mengatakannya dengan penuh penekanan pada setiap kata-katanya. Aku menutup mukaku dan kurasakan, butiran keringat telah memenuhi seluruh dahiku. Keringat yang terasa dingin ditanganku.

            “Tapi,” Dia melanjutkan. Aku sudah tidak sanggup mendengar kalimat selanjutnya. Aku benar-benar kehilangan kendali sekarang. Rasa apa ini? Rasa yang perlahan-lahan menyusup kedalam hatiku. ”Dia baru berangkat! Apa kau masih ingin meraih pelangimu?” Setelah itu dia menyebutkan bandara dan juga jadwal keberangkatan pesawatnya. Perlahan, aku membuka kedua tanganku dan menatap wajahnya yang menyunggingkan senyum. ”Kejarlah langitmu!” imbuhnya.

----PDS-----

            Aku berlari,berlari secepat yang kubisa! Kurang 15 menit lagi sampai pesawatnya berangkat. Ayo! Berlari lebih cepat lagi! Aku tidak tau apa yang sedang terjadi padaku saat ini! Wajah gadis itu terus-menerus memenuhi otakku akhir-akhir ini! Aku gelisah setiap saat! Aku merasa begitu membencinya setiap kali kutatap matanya! Tapi, ternyata sekarang aku sadar bahwa segala kegelisahanku terhadapnya adalah rasa suka yang tak dapat kupungkiri lagi!

            Ya, aku menyukainya! Sejak pertama kali aku menatap matanya. Akan tetapi, mengapa selama ini aku sama sekali tak menyadarinya? Pikiran dan hatiku telah tertutup oleh kebencian yang tak beralasan hanya karena namanya yang mengingatkanku pada kakakku. Aku bodoh! Benar-benar bodoh! Dan sekarang, aku akan kehilanganya apabila aku tidak cepat-cepat sampai di bandara untuk mencegahnya.

            Akhirnya aku sampai. Tepat didepan bandara itu aku berdiri. Langit yang seakan menggambarkan suasana hatiku segera menumpahkan air dengan derasnya. Aku berlari masuk. Aku baru sadar. Harus kemanakah aku mencarinya? Aku melihat jam ditanganku. Kurang 2 menit lagi. Oh,Tuhan! Dimana dia? Aku celingukan mencarinya.

            “Pelangi..” Desahku disela-sela nafasku yang memburu. Keringatku menetes perlahan demi perlahan. Aku khawatir dan cemas. Aku takut. Aku tak menemukanya ditengah kerumunan orang yang membawa kopor-kopor besar ini. Kakiku mulai melemas. Apa yang harus kuperbuat sekarang?

            Jantungku semakin berdebar. Bodohnya diriku! Mengapa aku tadi berlari seakan aku masih memiliki harapan? Tidakkah aku berpikir bahwa ia takkan kembali? Mataku mulai basah. Dan aku benar-benar menyesal telah menyia-nyiakannya. Pandangku buram dan otot kakiku sepertinya sudah tak mampu lagi menopang berat tubuhku.

            Aku terduduk. Tak kupedulikan pandangan orang-orang yang menatapku aneh. Air mataku mulai menetes dengan perlahan. Aku menatap lantai dengan tatapan kosong. Tiba-tiba, kudengar bunyi pesawat yang lepas landas. Jantungku berdebar semakin keras. Sedang air mataku tak henti-hentinya mengalir. Payah! Aku memukul lantai dengan kepalan tanganku. Tubuhku berguncang menahan tangis.

            “Pelangi,.” Panggilku lirih. Aku menyesal sekaligus marah! Marah pada diriku sendiri yang begitu tolol! Seandainya ini adalah sebuah drama pasti, masih ada harapan! Pasti masih bisa dikejar! Tapi, sayangnya ini adalah kenyataan!

            Semakin deras air mataku mengalir. Aku tak kuasa menahanya, dan dadaku mulai terasa sesak. Aku kehilangan semuanya sekarang! Disaat aku bisa mendapatkanya aku membuangnya! Dan disaat aku membutuhkanya, dia berbalik pergi! Selamanya! Selamanya dari kehidupanku!

            Aku berdiri dengan langkah gontai. Dia masih tetap tidak ada. Aku berbalik, dan melangkah keluar bandara. Aku menatap sayu pada hujan. Walau terasa berat, aku tetap melangkah. Selesai sudah! Semua telah selesai disaat aku baru menyadarinya!

Sebuah taksi menghalangi jalanku dengan tiba-tiba. Berhenti tepat didepanku. Aku teralu linglung untuk menghindarinya. Ah,aku benar-benar bodoh! Seseorang keluar dari dalam taksi tepat saat aku mulai melangkah lagi. Tetapi, kakiku segera terhenti.

            “Senja?” Panggil seseorang yang baru keluar dari dalam taksi itu heran, ”Mengapa kau ada disini?”Dia menatapku bingung dan dengan kening berkerut. Aku menatapnya tak percaya. Aku sama sekali tak percaya pada mataku sendiri.

              “Pelangi?” Aku ganti memanggilnya tak percaya.

            “Hei! Ada apa denganmu?” Dia bertanya dengan nada cemas melihat keadaanku. Di dalam hatiku terjadi pergulatan sengit. Aku merasa bingung menghadapi kejadian yang begitu tiba-tiba ini. Padahal, aku baru saja menangis karenanya. Tapi, sekarang dia sedang berdiri menatapku.

            Kepalaku benar-benar pusing! Tapi, aku tak mau menundanya lagi! Aku ingin mengatakan semua kepadanya. Air mataku yang belum kering kembali turun dengan derasnya. Dia terlihat gugup menyadarinya.

            “Pelangi ...” Kali ini, suaraku terdengar bergetar. Dia menatapku kaget. “Jangan,.Kumohon jangan..” Aku menggigit bibirku.

            “Apa? Oh, iya! Aku tak akan mengganggumu lagi! Kau tak perlu khawatir!” Dia tersenyum sedih dan melewatiku begitu saja. Bukan! Ini tidak benar!

            “Jangan pergi! Kumohon jangan pergi!”Kudengar langkahnya berhenti. Aku dan dia berbalik bersama-sama. ”Ya, aku pikir aku membencimu! Tapi, ternyata aku salah! Ternyata, ... aku ... aku ... menyukaimu!”


              Dia terbelalak mendengarnya. Dia menatapku tak percaya.”Tapi, tapi aku ...”

            Bagiku itu adalah sebuah jawaban. ‘tapi’-nya itu telah membuatku sadar sekaligus membuat hatiku hancur berkeping-keping. Aku tak memandang matanya untuk sesaat. Aku mencoba untuk menguatkan diriku bahwa dunia ini memang tak seindah harapan.

            “Hm ...”Aku memaksakan untuk tersenyum,”Ya! Itu pantas untukku! Aku benar-benar orang yang bodoh! Pergilah! Aku tidak berhak untuk memintamu kembali setelah aku mencampakkanmu!” Aku menangis lagi. Aku memandang kelangit. Berharap, air mataku masuk lagi kedalam mataku. ”Maaf..” Bibirku semakin bergetar, ”Aku, benar-benar menyesal!”

            Aku berbalik. Dan melangkah lagi dengan langkah pelan. Meninggalkanya. Dan mengubur semua harapanku. Hujan berhenti turun. Pipiku masih berlinang air mata. Harapanku telah runtuh,luluh dalam darah. Aku merasakan sakit yang luar biasa pedih. Hal ini memang pantas untukku. Bagus. Aku kehilangan semuanya sekarang.

            Kenapa begini? Inikah rasanya sakit hati yang sebenarnya? Pahit sekali! Aku tak mau mengalaminya lagi! Cukup sekali saja! Kakak,ibu tenangkah kalian disana? Lihatlah kebodohanku ini. Lihatlah ketololanku ini. Aku terus mengumpat diriku sendiri. Setidaknya, memang begitulah aku. Penuh dengan takdir yang malang dan pribadi yang tak berguna.

            “Kau mau pergi?” Tiba-tiba seseorang berkata dari belakang. Aku menoleh dengan pelan. Dia berdiri,memandangku. “Kau! Mau meninggalkanku? Mencampakkanku lagi?”  Air matanya mulai turun perlahan. Aku tak bisa berkata apa-apa. “Aku kan belum selesai bicara,bodoh!” Katanya di sela-sela isak tangisnya.

            Jantungku berdebar keras, ”Pelangi?” Aku memanggilnya tak percaya.

            “Jangan campakkan aku lagi!”Dia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Aku kaget. Mataku tiba-tiba beralih menatap pemandangan dibelakangnya. Disana, tampak pelangi yang turun perlahan dari langit. Dan dibelakangnya, matahari hampir bersembunyi di balik gunung. Aku menatap pemandangan itu dengan takjub. Itu benar-benar pemandangan yang indah!.”A..aku..aku juga..aku juga..” Aku menoleh padanya lagi. Dia menunduk dan wajahnya perlahan berubah warna menjadi merah. Dia tersipu.

              Aku tercengang. Apa yang terjadi ini? Apakah dia..? aku tidak mengerti, tapi..
           “Kau mau pulang,Pelangi? Bersamaku?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari dalam mulutku. Tetapi, aku hanya mengulurkan tanganku padanya. Sekarang, entah kenapa aku jadi merasa sangat lega. Sejuk sekali rasanya. Secepat inikah suasana hatiku berubah?

            “Mmm!” Dia mengangguk, “Senja, boleh aku tanya sesuatu?”

            “Apa?” Balasku cepat. Dalam hati aku sangat bersyukur.
            
        “Menurutmu,pelangi itu apa?” Aku menatapnya kaget. Wajah yang cantik itu tampak tersenyum.
            
         “Pelangi,ya? Mm ...” Aku sengaja menggantungkan kalimatku, “Dimataku...,” lanjutku, ”Pelangi itu biasan cahaya yang sangat indah! Bahkan, ciptaan terindah yang pernah kulihat! Tapi, ..pelangi itu akan terlihat lebih indah lagi apabila ia bersama dengan senja.”

            Dia memandangku. Aku tak mengerti apa arti tatapanya itu. Tetapi, sedetik kemudian, dia menyambut uluran tanganku.
           
-----------------------PDS-----------------------

Read More

[Contoh Cerpen Cinta] Karena Kau Rajawaliku

Ratna Juwita

Cewek itu memandangnya. Memandang cowok berbadan tegap yang berdiri tepat dihadapannya. Cowok itu masih memegang daun pintu rumahnya yang baru saja ia buka untuk seorang cewek yang terlihat asing di matanya. Cewek yang dibukakan pintu terlihat terengah-engah dibawah guyuran hujan yang begitu derasnya.

“Richi ...,” panggil cewek itu dengan senyuman lebar di matanya dan seberkas kelegaan di matanya. Yang dipanggil ‘Richi’ hanya terdiam menatap lekat cewek itu dengan bingung bercampur heran. Ia tidak mengenali cewek yang memanggil namanya seakan ia mengenal dirinya. Ia mengerutkan kening.

Who are you?”, tanya Richi akhirnya. Cewek itu hanya bisa tertegun, senyuman yang mengembang, kini hilang ditelan derasnya hujan. Nafasnya yang semula terengah-engah, mulai kembali menjadi hembusan normal, tapi sinar di matanya meredup pasti. Tak tau apa yang harus diperbuat, ia mencoba meyakinkan diri bahwa cowok yang selama ini dirindunya disetiap hembusan nafasnya itu hanya berusaha bergurau layaknya ketika mereka masih bermain bersama.

Cewek itu menagakkan tubuhnya, membiarkan hujan yang semakin deras membuatnya menggigil karena dingin air yang membasahi setiap jengkl kulitnya. “Kau bercanda?”, pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirnya yang bergetar,”A..Aku Arya.. Sahabat masa kecilmu!”, lanjut cewek yang mengaku bernama Arya itu dengan suara parau. Richi mengangkat alis tidak mengerti.
“Aku tidak pernah punya teman bernama Arya ...”

Arya memandang Richi dari tepi lapangan basket. Memandang sahabat masa kecilnya yang kini telah tumbuh menjadi cowok yang tampan dan keren. Arya berjalan dan berhenti tepat di garis terluar lapangan basket saat Richi dengan tangkas memasukkan bola basket ke dalam ring. ‘Bagaimana bisa lupa?’, tanyanya dalam hati.’Apakah berada di Inggris selama 5 tahun telah membuatmu lupa padaku?’, lanjutnya. Ia terus memandang Richi dengan tatapan kosong, hingga tiba-tiba sebuah bola basket melambung kearahnya.

DUAKK!

“Aww!!” Arya mengerang. Terhuyung ke belakang dan terhempas ke tanah tepat sesaat setelah sebuah bola basket berhasil mendarat di kepalanya. Richi yang merasa melempar bola itu, langsung berlari dengan kening berkerut ke tempat Arya terjatuh karena bola lemparannya.

Are you okay?” tanya Richi singkat dan segera memungut bola basket yang tergeletak di samping Arya. Arya menyipitkan mata saat mendongak dan menatap wajah Richi yang silau karena sinar matahari dari belakang tubuhnya.

Ia melihat mata itu dengan sangat jelas. Mata dengan sorotan tajam Burung Rajawali yang selalu menatapnya jenaka disertai tawa manja dulu ketika mereka masih bermain bersama. Ia tak dapat melupakan sorotan yang selalu menemani masa kecilnya itu. Takkan pernah mampu. Namun, mata yang kini ia tatap bukanlah mata yang selalu berbinar menatapnya setiap waktu itu. Kini, mata itu tak ubahnya sorotan tajam biasa yang sama sekali bukan Richi sahabatnya dulu.

“Hei!” Richi melambaikan telapak tangannya di depan mata Arya yang hanya tetap diam memandangnya. Ia sama sekali tak tau mengapa gadis yang kemarin pagi datang ke rumahnya dengan nafas memburu dan basah kuyub karena hujan itu memandangnya dengan tatapan seperti itu. Jujur, ia tidak mengenal cewek itu sama sekal, tapi melihat wajahnya yang sedih saat itu membuat Richi merasa bersalah juga.

Karena tak mendapat jawaban dari Arya, Richi hanya mengangkat alis dan mengedikkan bahunya. Ia berdiri tegak dan langsung berlari kembali ke arah lapangan basket tanpa mempedulikan Arya. Ia kembali bermain basket bersama teman-teman barunya diiringi decak kagum dari setiap anak yang melihat permainan basketnya. Ia bahkan lupa untuk membantu Arya berdiri dan Arya hanya merespon itu dnegan senyuman kecil yang hampir tak nampak dari wajahnya.

“Kau memang sudah berubah ... benar-benar berbeda ...,” ucapnya pelan.
***

Kenapa kau selalu bisa menemukanku?

Richi terhenyak saat sebuah suara muncul tiba-tiba dalam benaknya. Ia tidak jadi melakukan lay up-nya dan hampir tersungkur apabila ia tidak menumpunya dengan kaki kirinya. Bola basket yang baru saja ia drible, segera menggelinding tak tentu arah setelah lepas dari tangannya. Richi memegang bagian belakang kepalanya yang berdenyut dengan rasa sakit yang membuatnya pusing.

Melihat keadaan Richi, teman-temannya segera menghampirinya, namun tak satupun dari suara mereka yang berhasil terdengar oleh Richi. Richi sendiri menjadi bingung melihat mulut teman-temannya yang seakan mengucapkan sesuatu, tapi tak satupun dari suara mereka yang tertangkap oleh telinganya. Richi seakan berada dalam keheningan aneh yang menyesakkan dadanya. ‘Ada apa?’, tanyanya dalam hati pada dirinya sendiri. Ditengah kesadarannya yang mulai menipis, Richi sempat menangkap bayangan Arya yang mencoba menerobos kerumunan.

Ketika tangan Arya berhasil menyentuhnya, Richi hanya bisa melihat bayangan hitam yang perlahan mengepunya hingga kegelapan benar-benar menenggelamkannya dalam kesunyian.

Karena aku adalah Rajawali..’
***

Arya terdiam. Ia tak mampu mengatakan sepatah katapun usai Mama Richi dengan gamblang menceritakan kejadian yang menimpa Richi setelah kecelakaan saat bermain bersama Arya dulu. Mama Richi mengungkap semua yang ingin diketahui oleh Arya diiringi air matanya yang tak mampu berhenti mengalir disetiap kata yang ia ucapkan.

          Ia sama sekali tak tau apa yang harus dilakukannya saat ini, ia mendekat dan memeluk Mama Richi dengan lembut walaupun tubuhnya bergetar. Ia menatap kosong dinding ruang UKS dengan perasaan yang sangat kacau. Ia juga ingin sekali menangis mengetahui kenyataan bahwa dirinya telah hilang dari memori Richi karena Amnesianya, tapi ia tak mampu dan ia tak berani. Hatinya hancur menjadi bagian yang saling terpisah tanpa tau bagaimana cara menyatukannya kembali. Harus bagaimana?

‘Kenapa kau selalu bisa menemukanku?’ tanya Arya pada Richi yang dengan tersenyum sombong menatapnya geli. Ia tersenyum nakal menyadari kebingungan Arya.

‘Karena aku adalah Rajawali..’ jawabnya dengan wajah polos,’Aku adalah Rajawali yang hebat dan kuat! Mataku setajam Rajawali.. aku bisa menemukanmu dimanapun kau berada!’ ia tergelak mendapati wajah Arya yang langsung kusut begitu ia menyelesaikan kalimatnya.

‘Kau ini bodoh,ya? Kau bukan Rajawali!’ Arya menatap kesombongan Richi dengan kesal.

Aku Rajawali! Kau harus mengakui!’ setelah itu Richi tertawa kembali dan segera berlari sambil merentangkan kedua tangannya seperti sayap burung dan mulai mengepakkannya. Ia tertawa dengan gembira dan mengacuhkan Arya yang memandangnya dengan kening berkerut. Namun, Arya segera mengikuti gerakan Richi. Ia merentangkan kedua tangannya dan mengepakkannya layaknya seekor burung. Ia tertawa.

Tiba-tiba, Richi membelokkan arah larinya. Ia merasa bahwa Burung Rajawali pasti akan terbang lebih jauh lagi dari tempatnya berputar-putar.  Ia berlari tanpa menyadari bahwa ia tengah mengarah ke sebuah jalan raya yang tepat pada saat itu, lewat sebuah motor dengan kecepatan tinggi.

Pengendara itu tak sempat mengerem laju kendaraan motornya hingga tanpa bisa dicegah lagi, ia menabrak Richi.

‘Brukkk!’ Tubuh Richi terlempar, menghempas, dan bergulingan di tanah dengan tubuh bersimbah darah. Arya berhenti berlari dan menyaksikan tubuh Richi yang diam. Pengendara itu segera memacu motornya kembali sesaat setelah ia menyadari bahwa ia baru saja menabrak tubuh seorang anak kecil. Arya tak bisa apa-apa. Ia tercekat dan hanya bisa memandang dengan jantung berdegup.

          ‘Richiiiiiiiiiii!!’
***

Arya terdiam di kamarnya. Tidak tau lagi harus bagaimana setelah Mama Richi mengungkapkan bahwa saat itu Richi menderita gegar otak yang cukup parah dan memutuskan untuk membawa Richi ke Inggris agar ia bsa mendapatkan perawatan yang maksimal serta peralatan canggih yang dapat memulihkannya dengan cepat. Namun rupanya takdir berkata lain, Richi terpaksa harus kehilangan memorinya entah untuk jangka waktu berapa lama.

Arya menyadari bahwa saat itu, ia memang tidak mau mengakui bahwa Richi memiliki penglihatan seperti Rajawali dan tidak hanya memiliki sorotan yang seperti Rajawali, tapi kini ia sadar dan ia tau bahwa Richi memang memilikinya. Mata yang selama ini selalu dirindunya dan ditunggunya. Keadaan sekarang ini sangatlah berbeda dengan saat dulu ia selalu bermain bersama Richi. Kini Richi bahkan tak mengingat satu kenanganpun tentang dirinya.
Jujur, rasanya sangat sakit. Sakit sekali rasanya mengetahui dirinya telah dilupakan oleh orang yang membuatnya merasakan cinta pertama.

             Harus bagaimana?’

 Arya baru saja keluar dari perpustakaan sekolah dengan membawa beberapa buah buku ditangannya. Ia sangat bingung dengan apa yang harus diperbuatnya untuk mengalihkan perhatiannya agar ia tidak harus merasakan sakit tiap kali memikirkan soal Richi. Ia menyukai buku dan ia yakin untuk sementara waktu, ia bisa mengalihkan perhatiannya pada Richi dengan buku-buku yang baru saja dipinjamnya.

Sudah 2 minggu sejak ia mengetahui kebenaran mengenai amnesia Richi dan ia sangat kesal karena tak mampu menemukan pengalih perhatian dari masalahnya itu. Sekarang, ia tak lagi menatap Richi dengan marah atau bahkan menuduhnya telah begitu saja melupakan dirinya hanya karena berada di Inggris selama 5 tahun seperti apa yang ia duga pada awalnya. Kini, semuanya telah menjadi sangat jelas di matanya. Ia pun tak pernah lagi mencoba untuk berbicara pada Richi seperti tak pernah mengenalnya sama sekali.

Sesungguhnya, ini adalah hal yang berat baginya tapi harus ia lakukan. Ia merindu tanpa tau, menjauh tanpa pernah menyentuh, padahal orang yang sangat ingin ditemuinya telah berada di depan mata. Ia sendiri masih tak habis pikir, mengapa teman yang selalu dinantinya kini kehilangan semua memori tentang dirinya. Ia mengerti ini semua kehendak Tuhan, tapi tetap saja ia tak bisa menerimanya. Kepada siapa ia akan meluapkan segalanya dan untuk siapa semua rasa rindunya, jika bukan untuk orang yang selama ini ditunggunya itu.

Arya terus berperang melawan pemikirannya sendiri dan sama sekali tidak memperhatikan jalan yang dilaluinya.

“Bruk!”

“Ah!” buku di tangan Arya langsung berjatuhan. Ia mengerang menyadari kelalaiannya. Segera ia selipkan rambut panjangnya di belakang telinga dan mulai berjongkok lalu memunguti buku-bukunya.

I am sorry. Are you okay?” tanya seseorang yang langsung ikut berjongkok dan memunguti buku-buku Arya tanpa diminta. Arya tertegun. Perlahan, ia mendongakkan kepala dan mendapati Richi tengah membantunya memunguti buku-bukunya. ‘Ah, dunia ini memang sempit!’ keluhnya dalam hati.

“Richi ...,” panggil Arya tanpa sadar. Richi mendongak dan menangkap tatapan Arya dengan alis terangkat.

Richi menghembuskan nafas pendek.”Aku tak mengenalmu, tapi mengapa sikapmu menyatakan seolah-olah kau telah mengenalku sejak lama?” ia berhenti memungut buku.

‘Karena aku memang mengenalmu..’ jawab Arya dalam hati. Ia masih diam. Menatap lekat wajah teman masa kecil yang selalu sirindunya itu. Hanya perubahan kecil yang tampak pada fisik Richi. Rambutnya masih tetap hitam dan sorotan Rajawali yang seakan tak pernah pudar dari matanya.

Richi mengalihkan pandangan sesaat untuk menghindari tatapan Arya,”Sebentar lagi, aku akan kembali lagi ke Inggris.. jadi, maaf jika aku tak mengingatmu ...”

“Kenapa kembali?” sahut Arya cepat. Richi terdiam sejenak.

        “Karena aku harus check up lagi luka di kepalaku yang akhir-akhir ini sering sakit lagi.. mungkin aku akan kembali kesini 3 tahun kedepan saat aku benar-benar telah sembuh..” Richi berdiri, meletakkan buku-buku yang ia pungut dari lantai ke dalam pelukan Arya dan segera melangkah pergi. Arya tak mampu berkata apa-apa lagi selain diam. Mengunci seribu kata yang sebenarnya ingin ia ungkapkan kepada Richi. Ia hanya membiarkan air matanya lewat di pipi tanpa berusaha untuk menahannya lagi.

Hari yang dikatakan Richi segera tiba. 2 minggu yang terasa berlalu dengan sangat cepat bagi Arya. Ia menjadi gadis yang pemurung akhir-akhir ini, sama sekali tak mau bercanda tawa bersama teman-temannya di sekolah dan hanya diam saat ditanya mengapa ia begitu. Hari ini juga, ia dan orangtuanya akan segera pergi mengantar Richi ke bandara. Ia menghela nafas sambil memandang langit yang mendung.

Ia mengamati Richi dari jendela kamarnya yang langsung menghadap tepat di depan rumah Richi. Richi sedang sibuk keluar masuk rumah untuk menyiapkan barang yang akan ia butuhkan dalam keberangkatannya menuju Inggris nanti. Arya sangat bimbang. Ia tak mau kehilangan Richi untuk kedua kalinya karena Richi rahjawalinya, tapi ia juga tak tau apa yang harus diperbuatnya untuk mencegah Richi untuk kembali ke Inggris.

Ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan rasa malas yang luar biasa. Ia sudah tak mau lagi membaca buku atau sibuk mengotak-atik komputer untuk mengalihkan perhatiannya dari Richi setelah ia mendengar sendiri dari Richi bahwa ia akan kembali ke Inggris dalam jangka waktu dekat. Ia bahkan sama sekali tak menyentuh buku-buku yang ia pinjam selama 2 minggu dari perpustakaan sekolah itu dan membiarkannya terbengkalai di atas meja belajarnya.

Bagaimana ia bisa dengan tenang membaca buku sedangkan orang yang selama ini ditunggunya akan berangkat lagi ke Inggris dan meninggalkannya? Walaupun Richi juga bilang bahwa ia kemungkinan akan kembali dalam 3 tahun kedepan, tapi tetap saja masih sulit baginya untuk dengan mudah melepaskan Richi begitu saja. Apa yang harus dilakukannya?

Arya mengacak rambut dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia tidak lagi mampu berpikir dengan jernih di sela waktu yang tinggal sedikit ini.

          “Arya! Ayo kita segera berangkat juga mengantar Richi!” teriak Mama Arya dari depan pintu kamarnya. Ia menggelengkan kepala dan segera bangkit dari tempat tidurnya dengan pikiran jenuh.

‘Kenapa kau selalu bisa menemukanku?’

 Richi mengernyit kesakitan saat kepalanya yang terluka berdenyut nyeri. Lagi. Suara yang akhir-akhir ini selalu berputar diotaknya terngiang lagi di telinganya. ‘Suara siapa itu?’ ia terus bertanya entah kepada siapa tanpa mampu menemukan jawaban yang diinginkannya. Ia mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang kesakitan dari orangtuanya dengan mengalihkan wajahnya  pada sisi lain mobil ketika mobil terus berjalan menuju bandara.

Bayangan Arya juga perlahan mulai memenuhi otaknya, wajah sedih Arya sama sekali tak mampu ditepisnya tiap kali ia mendapati Arya tengah memandangnya dari jauh. Ia tidak ingat. Ia tidak ingat kapan ia pernah bertemu dengan Arya sehingga Arya bisa begitu mengenalnya sedangkan ia tidak. Bagaimana mengatakannya? Richi memegang kepalanya yang semakin terasa pusing jika ia berusaha memaksakan diri untuk mengingat Arya. Ia masih tidak berhasil mengorek apapun tentang Arya dari ingatannya. Yang ia tau, saat masih kecil ia sudah terbangun di sebuah rumah sakit dan mendapati 2 orang yang mengaku sebagai mama dan papanya.

Setelah itu, ia mulai berlajar memanggil kedua orang yang tak dikenalnya itu dengan sebutan mama dan papa. Satu hal yang ia masih mengingat dengan sangat jelas. Bahasa Indonesia. Ia sendiri tak tau bagaimana bisa ia berbicara menggunakan Bahasa Indonesia dengan sangat lancar padahal ia tinggal di Inggris. Oleh sebab itulah, ia juga tak mampu menganggap Arya penipu karena ia sendiri sepertinya pernah tinggal di Indonesia.

Richi melamun sepanjang perjalanan hingga sebuah suara membuyarkan lamunannya.

“Arya! Arya! Arya!” Mama Arya terlihat sangat bingung mencari keberadaan Arya yang langsung menghilang begitu mereka sampai di tempat pengecekan paspor dan koper oleh petugas bandara. “Aduh, Arya kan tidak hafal jalan di bandara ini! Dia kemana sih?” tanya Mama Arya pada dirinya sendiri sambil terus melihat lalu lalang di sekitarnya.

“Ada apa, tante?” tanya Richi segera setelah menangkap hal yang tidak beres.

“Arya.. ia tidak ada dimanapun padahal ia masih terus bersama tante hingga sampai disini! Begitu tante memandang ke arah lain, ia sudah tidak ada di dekat tante!” jawab Mama Richi dengan wajah bingung bercampur khawatir.

Richi mengerutkan kening dan berpikir sejenak,”Biar saya cari, tante!” usul Richi yang tanpa disuruh, segera pergi meninggalkan orang tuanya dan orang tua Arya yang hanya memandangnya dengan wajah penuh harap. Richi berjalan tak tentu arah, ia sendiri juga bingung harus mencari Arya kemana. Ia mulai berhenti berjalan di tengah kerumunan orang yang melewatinya dan sesekali menabraknya secara tidak sengaja.

“Aku harus mencari kemana?” tanyanya pada diri sendiri. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap dapat menemukan sosok Arya ditengah kerumunan itu. Tapi, ia tak jua menemukan Arya. Ia mulai gelisah. Ia melangkah lagi dan melihat ke depan tepat saat ia melihat Arya tengah berdiri menghadap kaca jendela bandara yang mengarah ke landasan pesawat. Richi segera berlari menerobos kerumunan dan berdiri tepat di belakang Arya.

Arya tersentak saat ia merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya. Ia menoleh dan lebih terkejut lagi saat mendapati Richilah yang baru saja menyentuh bahunya. Arya tersenyum kecil sambil menggeleng.

“Mamamu mencarimu,” kata Richi melihat reaksi Arya yang hanya diam saja melihatnya.

“Kenapa kau selalu bisa menemukanku?” Richi tersentak. Ia mundur dengan perlahan dan menatap Arya tak percaya. Kalimat yang selama ini selalu terngiang di telinganya baru saja ia dengar dari bibir Arya. Richi memegang kembali kepalanya yang terasa sangat sakit. Ia mengerutkan kening semampunya untuk mengurangi rasa sakit yang kini membuatnya merasa pusing.

Arya yang melihat itu hanya mampu memandang Richi dengan wajah heran. Tapi, Arya tau bahwa itu adalah efek dari kalimat yang baru saja ia ucapkan pada Richi. Kalimat yang pernah ia ucapkan dulu padanya.”Ternyata ...,” kata Arya lagi dan berbalik menghadap Richi,”Tidak semuanya benar-benar hilang dari ingatanmu.”

Samar-samar, Richi melihat bayangan seorang gadis kecil yang menatapnya dengan wajah heran sambil mengucapkan sesuatu yang tidak ia tahu. Ia mengigit bibir karena merasakan nyeri yang semakin menjalar ke seluruh otaknya, terutama luka di kepalanya dulu. Arya mulai khawatir dan memutuskan untuk menyudahi pembicaraan yang mungkin bisa membuat Richi semakin merasa tersiksa dengan rasa sakit yang menyelubungi kepalanya.

“Ayo kita kembali ...,” ajak Arya. Ia berjalan ke arah Richi dan menggandeng tangan Richi tanpa meminta persetujuan dari Richi. Tangan Richi menegang. Tubuhnya tak begitu saja menurut saat Arya dengan lembut menariknya pergi. Ia tetap diam di tempatnya semula berdiri. Arya yang menyadari itu segera menoleh dan mendapati Richi yang memandangnya dengan sorotan tajamnya. “Kenapa?” tanya Arya pelan.

Richi hanya terdiam sambil meredam sakit di kepalanya dengan perlahan menghapus apa yang ingin ia paksakan untuk mengingatnya. Karena tak mendapat jawaban, Arya hanya menelengkan kepala dan mulai menarik tangan Richi lagi dengan agak keras agar Richi mau beranjak dari tempatnya sebelum ia ketinggalan pesawat, tapi Richi sama sekali tak bergerak dan malah membiarkan Arya menariknya tanpa arti.

“Ayolah ... kau kan Rajawali ... kau bilang kau Rajawali ... dan kau memang Rajawali ... Rajawaliku ...” Arya mengucapkan kata terakhirnya dengan agak pelan agar Richi tak mendengarnya.

“Jika ...” Richi tiba-tiba bersuara dan membuat Arya berhenti menariknya. Ia memandang Richi.”Jika kau memang bagian dari masa laluku,” lanjutnya,”Maukah kau menungguku? Hingga aku dapatkan kembali semua memori tentang dirimu yang tersembunyi dalam otakku? Hingga tiba waktuku untuk kembali padamu, bisakah aku bersamamu? Mampukah kau menantiku hingga kudapatkan kembali kenangan tentang diriku bersamamu? Jika aku Rajawalimu ... bisakah kau bersabar untuk itu?” Arya termenung beberapa saat merasakan arti dari barisan pertanyaan yang dilontarkan oleh Richi. Ia kaget ketika menyadari sinar di mata Richi yang dulu selalu menemaninya kini kembali mengusiknya.

          Jantung Arya berdetak dengan cepat. Ia menutup matanya dan menggenggam erat tangan Richi.

Arya melambai kearah pesawat Richi yang baru saja lepas landas dari bandara. Air matanya mengalir dengan deras, tapi sebuah senyuman terkembang dengan indah di wajahnya. Ia sama sekali tak tau apa yang harus ia katakan untuk menjawab rentetan pertanyaan Richi dan memutuskan untuk membawa Richi berlari sebelum ia benar-benar tertinggal oleh pesawat dan membuat orang tua mereka berdua cemas.

Ia tau ini yang terbaik bagi Richi. Ia mengerti saat ia menggenggam erat tangan Richi. Richi membutuhkan perawatan agar ia kembali mengingatnya. Mengingat kenangan mereka. Di saat ia berlari dan menarik Richi, ia memutuskan untuk menjawab sebelum Richi pergi darinya untuk kedua kali.

          ‘Ya, aku akan menunggumu.. jika itu akan menghabiskan waktuku, aku akan tetap menantimu.. aku telah menunggumu selama 5 tahun dan kurasa aku masih bisa menunggumu selama 3 tahun lagi, atau selama apapun yang kau minta.. hingga tiba saatnya kau mengingatku, mengingat masa lalumu bersamaku.. aku akan menantimu dan takkan pernah ragu, karena kau Rajawaliku..’



Read More

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com