Read More

5 CM: Buku yang Menyelamatkanku

Ratna Juwita
Read More

Ary Nilandari - Penulis Wattpad yang Tidak Menye-Menye

Ratna Juwita
Read More

Know Your Limits

Ratna Juwita
Read More

PETRIKOR

Ratna Juwita
Read More

Into The Unknown

Ratna Juwita

Wednesday, February 11, 2015

[Contoh Ulasan Puisi Terjemahan] Hsu Chih-Mo "Datang Dara, Hilang Dara"


Ratna Juwita

PENDAHULUAN

Minat baca di Indonesia yang tergolong rendah membuat sumber daya manusia kita pun menjadi rendah. Masalah utama dari berbagai masalah yang menghadang bertubi-tubi di negara Indonesia kita yang tercinta ini adalah kurangnya pengetahuan masyarakat akan kondisi di lingkungan sekitarnya akibat minimnya budaya membaca. Masyarakat cenderung masih mengabaikan pendidikan dan enggan melestarikan budaya membaca yang terbukti menjadikan Jepang, yang merupakan negara dengan minat membaca terbesar di dunia, sebagai negara yang maju ditinjau dari kualitas sumber daya manusia serta teknologinya. Apalagi jika mendengar kata ‘karya sastra’, mungkin sebagian kecil akan tertarik, tapi akan ada lebih banyak lagi orang yang langsung memilih untuk ‘melarikan diri’ daripada mencoba membacanya barang sebentar. Salah satu hal yang akan langsung terpikirkan oleh kebanyakan orang begitu mendengar ‘karya sastra’ adalah sebuah puisi.

Ya, sebuah puisi akan cukup untuk mewakili ‘kesan fisik’ dari sebuah karya sastra, tampilannya yang terkesan sedikit dan lebih ringkas akan lebih banyak menarik minat baca bahkan terhadap orang yang tidak suka membaca sekalipun. Mereka kebanyakan akan memilih untuk membaca sebuah puisi dibandingkan membaca cerpen, apalagi novel. Setidaknya, ‘karya sastra’ dalam bentuk puisi akan lebih cepat selesai dibaca dibandingkan cerpen dan novel. Tapi hal ini tidak akan begitu saja mempengaruhi ‘pengaturan pikiran’ yang telah tertanam pada pemikiran orang Indonesia untuk menelaah makna, mungkin banyak orang yang lebih memilih untuk ‘melarikan diri’ lagi daripada susah payah mencoba menemukan arti yang tersembunyi dari goresan demi goresan yang tertera dalam puisi. Meski sesedikit itu.

Berbicara mengenai sebuah puisi, kita diingatkan kembali pada Chairil Anwar yang namanya sudah tidak akan asing lagi di telinga kita. Bahkan, di buku pelajaran siswa sekolah dasar pun namanya pernah—dan tidak tahu apakah sekarang masih—singgah. Di antara puisi-puisinya yang mungkin paling banyak dikenal adalah puisi berjudul ‘Aku’. Ia merupakan salah satu sastrawan muda yang dikenal menghasilkan karya-karya yang sangat bagus pada era perjuangan, yaitu angkatan tahun 1945-an. Puisi-puisinya pun memang banyak mengambil setting mengenai perjuangan dan pergolakan kemerdekaan pada masa itu. Menengok sastrawan lain yang puisinya tidak kalah digandrungi, kita mengenal sosol Sapardi Djoko Damono dengan puisinya yang berjudul ‘Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana’ ataupun ‘Hujan Bulan Juni’. Ia digolongkan sebagai sastrawan pada angkatan 66-an, puisi-puisinya banyak disukai karena ‘terlihat’ sederhana, tapi memiliki makna yang mendalam bagi pembacanya, bahasa yang biasa ia gunakan pun tak terlalu ruwet untuk dipahami oleh orang awam sekalipun, itulah salah satu sebabnya banyak orang yang menyukai puisi-puisinya.

Melompat dari sastrawan-sastrawan di Indonesia, kita mencoba mengintip sastrawan-sastrawan terkenal dari mancanegara, khusunya negara bagian barat. Kita mengenal nama William Shakespeare dari Inggris dengan karyanya yang terkenal adalah Romeo and Juliet, Mark Twain dari Amerika dengan karyanya Tom Sawyer, Hemingway yang juga berasal dari Amerik dengan hasil karyanya The Old Mand and The Sea, dan lain sebagainya. Dan penyair yang menarik minat saya untuk mengulas salah satu puisi karyanya adalah Hsu Chih-Mo atau lebih dikenal dengan Xu Zhimo yang berasal dari Negeri Tirai Bambu, Cina.

Hsu Chih-Mo lahir di Haining, Zhejiang pada tanggal 15 Januari 1897 dan meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat pada tanggal 19 November 1931 di usianya yang baru menginjak 34 tahun. Ia dikenal sebagai penyair modern yang hebat di Cina, karya-karyanya yang kebanyakan bergenre cinta banyak digandrungi sastrawan terlebih muda-mudi di Cina. Menurut pengamatan saya mengenai biografi studi-studi yang pernah ia tekuni, saya menyimpulkan bahwa ia menggemari dunia politik, terbukti dari jurusan hukum yang diambilnya di beberapa universitas baik di Cina maupun di Inggris. Sekalipun ia juga mengambil jurusan ekonomi, tapi ia terlihat paling banyak terjun di jurusan perpolitikan.

Hsu Chih-Mo adalah anak yang dibesarkan di bawah didikan ekstrem keluarganya yang kental dengan budaya Cina tradisional. Hsu Chih-Mo juga dikenal sebagai salah satu penyair Cina pertama yang dengan sukses merubah kealamian bentuk keromantisan budaya barat menjadi puisi Cina modern. Dia juga bekerja sebagai editor dan profesor di beberapa universitas di Cina sebelum akhirnya ia maninggal saat kecelakaan pesawat 1931. Ia pernah menikah dengan seorang wanita bernama Zhang Youyi yang ternyata tidak berjalan dengan mulus yang kemudian menyebabkannya menikah lagi dengan seorang wanita bernama Lu Xiaoman.

Seperti yang kita ketahui, Hsu Chih-Mo lahir di Cina, namun ia juga pernah singgah di Inggris untuk berkuliah di sana. Sedikit banyak, lingkungan Cina dan Inggris yang pasti memiliki banyak perbedaan baik dari segi geografi sampai pada kebudayaannya, memiliki peranan tersendiri dalam penciptaan puisinya. Tidak ada data yang terperinci mengenai kapan ia menulis puisi yang akan saya ulas pada kali ini yang berjudul ‘Datang Dara, Hilang Dara’, tapi dapat kita angankan ia menulisnya antara rentang tahun 1909 sampai dengan 1931.

Saya menyimpulkan hal itu karena ia lahir di tahun 1897 dan saya perkirakan butuh waktu 13 tahun kemungkinan hingga ia benar-benar dapat menciptakan sebuah puisi, terlebih karya sastra bernilai tinggi seperti ini. Mungkin di Indonesia, usia 13 tahun merupakan usia yang masih tergolong labil dan tidak memungkinkan seorang anak sekecil itu menciptakan sebuah puisi yang bernilai seperti itu, tapi ada perbedaan dari segi tahun dan tempat di sini, pada tahun-tahun seperti itu, umur 13 tahun telah dianggap cukup ‘besar’ hingga di Indonesia sendiri pun pada tahun-tahun itu banyak anak yang bahkan telah memiliki seorang anak. Kemudian saya berpikir mengenai Cina yang berbeda kebudayaan dengan kita, bahkan anak berusia 12 tahun telah dianggap dewasa di sana dari segi fisik pada tahun-tahun sekarang ini, apalagi pada rentang tahun 1897 hingga 1931. Itulah sebabnya mengapa saya menyimpulkan bahwa ia menulis puisinya ini dalam rentang tahun tersebut.

PEMBAHASAN

A.    Bahasa dalam Puisi Hsu Chih-Mo
DATANG DARA, HILANG DARA

“Dara, dara yang sendiri

Berani mengembara
Mencari di pantai senja,
Dara, ayo pulang saja, dara!”


“Tidak, aku tidak mau!

Biar angin malam menderu
Menyapu pasir, menyapu gelombang
Dan sejenak pula halus menyisir rambutku
Aku mengembara sampai menemu.”


“Dara, rambutku lepas terurai

Apa yang kaucari.
Di laut dingin di asing pantai
Dara, Pulang! Pulang!”


“Tidak, aku tidak mau!

Biar aku berlagu, laut dingin juga berlagu
Padaku sampai ke kalbu
Turut serta bintang-bintang, turut serta bayu,
Bernyanyi dara dengan kebebasan lagu.”


“Dara, dara, anak berani

Awan hitam mendung mau datang menutup
Nanti semua gelap, kau hilang jalan
Ayo pulang, pulang, pulang.”


“Heeyaa! Lihat aku menari di muka laut

Aku jadi elang sekarang, membelah-belah gelombang
Ketika senja pasang, ketika pantai hilang
Aku melenggang, ke kiri ke kanan
Ke kiri, ke kanan, aku melenggang.”


“Dengarkanlah, laut mau mengamuk

Ayo pulang! Pulang dara,
Lihat, gelombang membuas berkejaran
Ayo pulang! Ayo pulang.”


“Gelombang tidak mau menelan aku

Aku sendiri getaran yang jadikan gelombang,
Kedahsyatan air pasang, ketenangan air tenang
Atap kepalaku hilang di bawah busah & lumut.”


“Dara, di mana kau, dara

Mana, mana lagumu?
Mana, mana kekaburan ramping tubuhmu?
Mana, mana daraku berani?”


Malam kelam mencat hitam bintang-bintang

Tidak ada sinar, laut tidak ada cahaya
Di pantai, di senja tidak ada dara
Tidak ada dara, tidak ada, tidak –
(diterjemahkan dari puisi Hsu Chih-Mo, A Song of the Sea)
Berkenaan dengan puisi tersebut, saya menangkap makna ‘dara’ dalam kalimat-kalimat dalam bait puisi itu merujuk pada ‘dara seekor burung’. Mengapa bisa begitu? Awalnya memang terlihat percakapan biasa antar manusia, tapi dilihat dari segi penulisan kata-katanya yaitu ‘dara’ bukan ‘Dara’, saya menyimpulkan bahwa itu adalah nama spesies salah satu burung. Kita sendiri tahu dan mengenal dengan baik bahwa penulisan untuk nama orang harus diawali dengan huruf kapital, sedangkan huruf kapital untuk ‘dara’ hanya kita temukan di awal kalimat atau awal bait saja. Hal ini juga disebabkan oleh penulisan EYD kita yang mengharuskan huruf kapital untuk sebuah awalan kalimat, paragraf, dan terutama yang ada dalam puisi tersebut adalah tanda petikan langsung. Karena setelahnya, huruf-huruf untuk ‘dara’ kembali menjadi huruf-huruf kecil biasa yang telah jelas memaparkan pada kita bahwa itu adalah nama spesies burung yang tidak harus memakai huruf besar untuk beberapa sebab penulisan. Kemudian pengulangan pada kata ‘dara’ pada baris pertama bait pertama puisi ini menunjukkan ‘penekanan’ siapa dara sebenarnya dan ada apa dengannya.

‘Dara, dara yang sendiri
Berani mengembara’

Saya menemukan kejanggalan pada 2 baris pada bait pertama tersebut yang mungkin berujung pada makna yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca. Dara, dara yang dimaksud dalam puisi ini adalah burung dara yang ternyata memang banyak tinggal di pesisir pantai Cina, tepatnya di pantai timur Cina Zhejiang dan Provinsi Fujian. Dan daerah Zhejiang merupakan tempat kelahiran dari Hsu Chih-Mo, jadi dapat kita simpulkan di sini bahwa Hsu Chih-Mo membuat puisi ini berdasarkan pengamatannya di lingkungan sekitar ia tumbuh yaitu daerah Zhejiang yang merupakan tempat berkembang biaknya populasi dari Burung Dara-Laut Cina. Kemudian, kejanggalan yang saya maksudkan di atas adalah pada kata ‘dara yang sendiri berani mengembara’ karena pada kenyataannya dan hasil penelitiannya, Burung Dara-Laut Cina tidak suka hidup sendiri-sendiri. Burung Dara-Laut Cina merupakan tipe burung yang hidup secara bergerombol dan sering tampak di pesisir pantai timur Laut Cina seperti yang saya katakan tadi. Apakah kemudian yang menyebabkan penyair menyebutkannya ‘sendiri mengembara’?

Saya berpikir kembali mengenai riwayat penyair, Hsu Chih-Mo pernah tinggal di Inggris dan tentu saja dapat dikatakan bahwa ia merupakan minoritas di sana. Ia tidak datang ke Inggris bersama sanak saudaranya, melainkan seorang diri. Mungkin yang dimaksudkan oleh Hsu Chih-Mo di sini adalah penggambaran mengenai dirinya sendiri yang sendiri pergi ke Negara Inggris untuk kuliah. Orang Cina lekat dengan pencitraan bahwa mereka suka ‘bergerombol’, meskipun tengah berada di negeri orang pun mereka akan membentuk lokasi sendiri atau kalaupun tidak, mereka akan berkumpul di suatu tempat tertentu dan pada waktu tertentu pula, yang kemudian ia gambarkan seperti burung dara-laut Cina. Sedangkan ia sendiri sebagai burung dara yang terbang sendiri dengan berani mengembara meninggalkan gerombolannya, seperti burung yang menantang maut dengan hidup sendiri padahal ia adalah tipe burung yang hidup secara bersama-sama.

‘Mencari di pantai senja,
Dara, ayo pulang saja, Dara!’

Pada bait pertama ini dan baris ketiga serta keempat di atas, menunjukkan bahwa seseorang tengah berbicara kepada dara, seseorang yang lain, satu tokoh lagi selain dara. Dari dialognya yang berbentuk puisi itu, terlihat jelas bahwa seseorang yang mengatakan ‘dialog’ ini jelas sekali peduli kepada dara, ia meminta dara untuk pulang, sangat khawatir apabila dara yang seharusnya hidup bersama-sama dengan kelompoknya justru terbang sendiri ingin mengembara. Saya tafsirkan bahwa dialog ini adalah orang yang sangat dekat dengan dara, apabila dara itu adalah Hsu Chih-Mo sendiri, maka kemungkinan besar orang yang paling dekat dengannya dan sangat khawatir padanya yang ingin merantau menempuh pendidikan di Inggris adalah orang tuanya. Pilihan kata ‘pulang’ pada baris di atas menunjukkan bahwa sebenarnya mereka telah berjalan jauh dari rumah, di pesisir pantai, saya berpikir mengenai transportasi laut, yaitu sebuah kapal. ‘pulang’ merupakan kata yang menandakan berpindahnya seseorang ke tempat asalnya, ke rumah, ke kampung halaman, dan sebagainya. Jelas sekali penyair ingin menyampaikan bahwa ia telah berada—yang saya tafsirkan di sini sebagai—pelabuhan untuk berlayar ke Inggris, tapi orang tuanya berusaha untuk mencegahnya pergi dengan menyuruhnya ‘pulang’. Kata ‘pulang’ ini tidak mungkin dikatakan apabila saat itu dara atau Hsu Chih-Mo masih berada di rumah, karena tidak mungkin kata ‘pulang’ akan digunakan oleh seseorang ketika ia telah berada di tempat asalnya, sebaliknya apabila penyair memaksudkan dengan ‘menetap’, penyair akan menggunakan pilihan kata ‘tinggal’ yang akan menjadi ‘Dara, tinggallah saja, dara!’.

Lalu, ‘mencari di pantai senja’, apa yang dimaksudkan penyair dengan ini? Apa yang coba penyair cari di sebuah pantai? Dan mengapa senja? Pantai. Pantai adalah batasan antara darat dan laut, yang dicari oleh penyair di pantai adalah mimpi, mimpi menuju harapan yang baru di Inggris, negeri dimana ia akan mengembara. Pantai adalah tempat dimana ia menaiki transportasi untuk menyebrang ke Inggris, meninggalkan tanah airnya, menjemput mimpi baru. Lalu senja? Sedangkan senja adalah batasan antara pagi dan malam, antara sinar dan kelam, antara aktivitas dan tidur. ‘di pantai senja’ mengisyaratkan batasan antara 2 kehidupan yang berbeda, berbeda antara Inggris dan Cina, berbeda geografi, berbeda kebudayaan, berbeda ras, dan sebagainya. Apa yang ia cari dari segala perbedaan itu? Ia mencari kehidupan baru yang belum pernah ia temui sebelumnya, mencari ilmu dan kata-kata baru yang mungkin bisa mempertajam insting politik dan naluri sastranya terhadap puisi. Ia dengan berani, hijrah dari Cina ke Inggris, sendiri.

Tidak, aku tidak mau!
Biar angin malam menderu
Menyapu pasir, menyapu gelombang

Bait ini menunjukkan ‘dialog’ dalam bentuk puisi dari dara yang menentang ajakan seseorang untuk pulang. Pada baris kedua dari bait kedua tersebut tertulis ‘biar angin malam menderu’, telah tertera jelas bahwa setting yang diambil penyair adalah malam hari, dan ‘angin malam menderu’ yang terdapat dalam baris tersebut berarti tengah terjadi badai yang besar sehingga membuat angin yang seharusnya tak memiliki suara, menjadi begitu terdengar geraknya dengan penggambaran diksi ‘menderu’. ‘menderu’ seperti yang kita kenal pada kata-kata di keseharian kita berarti bunyi bergetar disertai suara bising seperti suara kendaraan bermotor yang baru saja dinyalakan, saking kerasnya sampai angin terdengar ‘menderu’ hanyalah bisa didengar apabila terjadi sebuah badai. ‘menyapu pasir, menyapu gelombang’ bermakna menggerakkan segala sesuatu yang ada dengan kekuatannya, angin sejenis badai pasti bisa dengan mudah menerbangkan butir-butir pasir dan memang anginlah yang menyebabkan gelombang-gelombang di laut, selain gerakan dalam laut itu sendiri.

Kemudian, pertanyaan selanjutnya yang terlontar adalah mengapa angin malam menderu hingga menyapu pasir dan menyapu gelombang? Saya coba berpikir, apa kira-kira yang penyair ingin sampaikan dari pilihan katanya ini. ‘angin malam’ adalah angin yang dingin dan tidak baik bagi kesehatan tubuh manusia, maka dari itu malam hari dipergunakan oleh manusia untuk beristirahat dengan tidur. Saya menangkap makna ‘angin perusak yang dahsyat’, pada penggalan baris puisi tersebut, apa yang dimaksudkan dari perusak? Yaitu kegamangan yang mungkin menghambatnya untuk pergi ke Ingris, meruntuhkan kebulatan tekadnya untuk ‘mengembara’, penyair tidak peduli pada pada segala hal yang akan menghadangnya ketika berada jauh dari kampung halamannya, ia ingin menjemput mimpinya di Inggris. Meski, mungkin ‘angin’ itu meruntuhkan semangat orang lain, ia tidak ingin membiarkan ‘angin’ itu mengendurkan semangatnya.

Dan sejenak pula halus menyisir rambutku
Aku mengembara sampai menemu

Penyair ingin ‘menemu’, saya pikir ia ingin mencapai tujuannya. Entah untuk menjadi seorang penyair Cina modern dengan menerjemahkan beberapa puisi romantis gaya barat, ataukah untuk menjadi seorang sarjana hukum seperti yang ditekuninya.


Dara, rambutku lepas terurai

Apa yang kaucari.
Di laut dingin di asing pantai
Dara, Pulang! Pulang!

Ini bait yang merupakan ‘dialog’ berikutnya yang diperankan oleh tokoh selain dara. Saya berpendapat, untuk sebuah dialog untuk apa seseorang mengatakan ‘rambutku lepas terurai’ yang apabila dihubungkan dengan dialog berikutnya seakan hal itu tidak ada artinya, tapi coba kita lihat ini secara puisi. Makna dari kata ‘terurai’ adalah bercerai berai, tidak lagi menjadi satu, terurai karena sesuatu tak lagi bisa menyatukannya. Apabila kita hubungkan dengan ‘peristiwa’ dalam puisi, maka kemungkinan yang dimaksud di sini adalah tidak lagi bersatunya mereka, tidak bersatunya lagi keinginan mereka untuk bersama, sesuatu yaitu keyakinan sang penyair telah ‘menguraikan’ mereka, dsb. Kesimpulannya, makna baris puisi itu adalah bahwa seseorang yang penting bagi tokoh selain dara yaitu dara itu sendiri akan pergi mengejar impiannya, menguraikan diri.


 Tidak, aku tidak mau!

Biar aku berlagu, laut dingin juga berlagu
Padaku sampai ke kalbu
Turut serta bintang-bintang, turut serta bayu,
Bernyanyi dara dengan kebebasan lagu.

Di sini, dara bersikeras untuk tidak kembali dan memantapkan keputusannya pergi. Ia ingin ‘berlagu’ bersama bintang dan bayu. ‘berlagu’ dapat kita maknai dengan ‘menimbulkan suara’, ‘menimbulkan bunyi yang merdu’. Mungkin penyair ingin menciptakan ‘kemerduan’ dengan merantau ke Inggris. Untuk hal ini, kita simpulkan saja ‘kemerduan’ mengenai menciptakan sebuah puisi yang bagus sekaligus menuntaskan pendidikan hukum di sana. Bintang dan bayu berlagu maksudnya adalah bahwa segala di alam ini bisa dijadikan sebuah puisi, memiliki ‘suara’nya sendiri, memiliki lagu yaitu sebuah kehidupannya sendiri, ia juga ingin memperoleh kehidupannya sendiri yang dapat ia rasakan bahwa ia menikmati karena ia senang melakukannya. Ini penyair katakan dari ‘sampai ke kalbu’ yang tertera pada baris ke tiga. ‘kebebasan lagu’ berarti tidak terikat, ia membuat lagunya sendiri tanpa diatur oleh siapapun, tidak juga orang tuanya. Ia ingin menjadi orang yang bebas dimanapun ia berada sekalipun di negeri asing, menulis puisi dengan cirinya sendiri, seperti pada contoh puisi ini yang berbentuk seperti sebuah dialog drama. Pada bait ini pun kita ditunjukkan pada fonologi kata di setiap akhir barisnya, semua berakhiran dengan huruf ‘u’, sehingga apabila dibaca akan menimbulkan suara yang bersinambungan dan memiliki rima yang tepat. Berarti, dengan kata lain dapat kita simpulkan apabila Hsu Chih-Mo memakai diksi yang disesuaikan dengan baris-baris sebelumnya yang berakhiran dengan bunyi vokal ‘u’.


Dara, dara, anak berani

Awan hitam mendung mau datang menutup
Nanti semua gelap, kau hilang jalan
Ayo pulang, pulang, pulang.

Sekali lagi, nampak jelas latar suasana dalam puisi adalah ketika datangnya badai, pada malam hari yang langsung ditunjukkan dari baris kedua bait di atas. Awan hitam mendung yang akan datang menutup adalah masalah-masalah yang akan datang menghadang sesampainya maupun dalam proses perjalanan dara. Kita imajikan kembali kepada penyair yang dikhawatirkan akan menemui kesulitan hidup hingga menutup cahaya, menjadikannya mendung dengan awan kegelisahan dan kesenduan, membuat hidup tak lagi berwarna melainkan hanya gelap yang menghiasi hidupnya. Menutup pula jalannya menuju impiannya, yaitu menjadi seorang penyair dan seorang sarjana hukum. ‘nanti semua hilang, kau hilang jalan’, berarti bahwa tokoh atau orang tua Hsu Chih-Mo tidak ingin semangat anaknya itu akan luntur apabila ia tinggal di sana dan masalah memenuhi rongga tekadnya, memenuhi tiap relungnya dengan kegelapan yang tak berkesudahan, tapi penyair tahu dalam rongga dan relung itu ia akan selalu menyediakan api dan lilin kecil yang akan memberikannya sedikit cahaya untuk sekedar menghirup nafas dan menemukan secangkir kebahagiaan dan sesendok kepuasan. Masih tak gentar, ia melanjutkan perjalanannya meski semua perkiraan orang tuanya akan kehidupannya di sana tidak akan semulus yang diinginkannya.


Dengarkanlah, laut mau mengamuk

Ayo pulang! Pulang dara,
Lihat, gelombang membuas berkejaran
Ayo pulang! Ayo pulang

Terdapat pilihan kata ‘mengamuk’ pada bait ini. ‘mengamuk’ dapat diartikan sebagai sebuah’kemarahan’ yang besar, suatu kegiatan yang bisa merusak sesuatu, kemarahan yang sangat, dsb. Siapa kira-kira yang dimaksud penyair dengan mengimajinya dengan kata ‘laut’ ini? ‘laut’ saya artikan sebagai kesulitan hidup, apabila si dara atau penyair mengembara ke negeri asing, berapa banyak kesulitan yang dapat muncul kapan saja? Perbedaan geografi, ras, dan budaya jelas menjadi mkesulitan paling utama. Makanan pokok pun setiap negara bisa saja berbeda. Bisa saja hidup membuat kemarahan yang besar apabila si burung dara atau penyair sedang berada di sana, jauh dari orang tua dan sanak keluarga. Lalu, pilihan kata yang menarik selanjutnya adalah ‘gelombang membuas berkejaran’. Dalam hidup, tidak ada kata mulus, segala hal akan dipenuhi oleh segala rintangan, tantangan, hambatan, serta gangguan. Tokoh selain dara khawatir, gelombang itu akan memakan dara, menghabiskannya hingga membuatnya hilang entah kemana. Jelas sekali tokoh selain dara berusaha sekuat tenaga untuk membawa dara kembali pulang pada ‘gerombolannya’.


Gelombang tidak mau menelan aku

Aku sendiri getaran yang jadikan gelombang,
Kedahsyatan air pasang, ketenangan air tenang
Atap kepalaku hilang di bawah busah & lumut.

Pada bait ini, dara masih saja bersikukuh enggan pulang. Ia beralasan bahwa ‘gelombang tidak mau menelan aku’, ini dapat dimaknai sebagai kehidupan yang tidak akan ‘menghancurkannya’ takkan membuatnya ‘hilang’, seperti biasanya gelombang terkadang membuas, menelan apa saja yang tersapu olehnya. Selanjutnya, dara mengatakan bahwa ia sendirilah getaran yang menjadikan gelombang-gelombang itu, artinya penyair sendirilah yang pasti akan menyebabkan ‘gelombang’ kehidupannya sendiri kelak. Hal ini sesuai dengan asas sebab-akibat yang pasti terjadi di dalam hidup, tidak akan ada akibat apabila tidak ada sebab, begitujuga dengan semua masalah dalam hidup ini adalah buah dari apa yang kita lakukan sebelumnya, menyangkut pilihan-pilihan yang selalu terjadi dalam hidup sesuai dengan pepatah bahwa hidup adalah pilihan. Setiap pilihan yang kita ambil pasti akan membawa resiko tersendiri tergantung bagaimana kita menyikapinya, apakah dengan sikap yang bijaksana, ataukah malah membuat semuanya bertambah menjadi semakin rumit. Karena itulah dara meyakinkan kepada tokoh selainnya, bahwa dia sendirilah yang menyebabkan getaran hingga menimbulkan gelombang.

Saya sedikit penasaran juga dengan baris keempat bait tersebut yang menyatakan ‘atap kepalaku hilang ditelan busah dan lumut’. Atap kepala? Menurut informasi yang saya dapatkan, umumnya atap kepala dari Burung Dara-Laut Cina berwarna putih. Lalu ada apa dengan atap kepalanya? Atap kepala adalah puncak dari tubuh kita, bagian tertinggi dari seluruh organ tubuh kita di bawah helai rambut ataupun bulu. Pertanyaan berikutnya adalah mengapa atap kepalanya ditelan busah dan lumut? Busah adalah buih-buih air laut saat gelombang datang dan menyentuh bibir pantai, buih-buih berwarna putih itu akan terlihat seperti busah, dan lumut? Lumut biasanya terletak di tepian batu-batuan di tepi pantai, di bagian yang sudah pasti membelakangi cahaya matahari.

Sebelumnya, terdapat kosakata ‘kedahsyatan air pasang’, maka dapat kita tebak bahwa pasang turut menenggelambakn bebatuan di pantai dan menenggelamkan dara disapu gelombang dan menghantam bebatuan. Mungkin Hsu Chih-Mo memaksudkan ini dengan kehidupan yang memang kadang menjerumuskan siapa saja ke dalam lubang paling gelap dan dasar, hingga menyebabkan keputusasaan, tapi dara mengatakannya tanpa takut. Berarti, penyair pun menyikapinya dengan cara yang sama. Tidak ada yang perlu ditakutkan dari kehidupan yang terkadang memang tidak bersahabat, malah memusuhi, tapi tanpa itu manusia takkan berkembang, takkan belajar apapun dari hidup padahal hidup adalah belajar. Belajar memahami, memaknai, dan sebagainya yang dapat dipelajari oleh manusia. Jadi, untuk apa mengkhawatirkan kemana hidup akan membawa kita berlayar? Karena kitalah yang akan menentukan sendiri dimana kita ingin berlabuh.


Dara, di mana kau, dara

Mana, mana lagumu?
Mana, mana kekaburan ramping tubuhmu?
Mana, mana daraku berani?

      Pada bait ini, tokoh selain dara kehilangan ‘pandangannya’ dari dara yang bisa kita simpulkan bahwa ia menghilang. Menghilang di sini dalam artian ia telah terbang jauh, menuju tempat perantauannya, sama dengan Hsu Chih-Mo yang tak gentar tetap memutuskan untuk pergi ke Inggris, entah apa yang akan menghadangnya di sana. Tokoh ini menyebutkan mengenai ‘lagu’ sekali lagi, menanyakan ‘mana lagumu?’, ‘mana kekaburan tubuhmu?’, apa yang coba ditanyakannya? Menurut pendapat saya, seperti yang sudah saya bahas sebelumnya bahwa ‘lagu’ yang dimaksudkan penyair dalam puisi ini adalah ‘syair’ dari puisinya dan lika-liku kehidupannya sendiri. Jadi, dapat kita tuliskan sebagai ‘mana kau? Dan syairmu?’. Kekaburan tubuh, sebuah pilihan kata mengenai ‘samar-samar’, remang-remang’, ‘tidak jelas’, jadi awalnya hanya bayang-bayang samar dari dara yang sempat tertangkap oleh tokoh karena awan gelap dan mendung seperti yang tertera dalam puisi, lalu setelah itu lenyap tak berbekas karena dara telah terbang menjauh, semakin jauh hingga ia ditelan oleh kegelapan pekat malam dan badai.


Malam kelam mencat hitam bintang-bintang

Tidak ada sinar, laut tidak ada cahaya
Di pantai, di senja tidak ada dara
Tidak ada dara, tidak ada, tidak –
      Dari sini, dialog telah berakhir, dan hanya ada bait puisi biasa yang menggambarkan kesedihan dari tokoh yang kehilangan dara entah kemana. Membuat hari-harinya sendirilah yang dipenuhi kegelapan karena tidak ada dara, dara pergi mengembara meninggalkannya meski seharusnya ia tahu dara-nya mencoba untuk mencari sendiri kehidupan dengan sisa-sisa keberanian yang dikumpulkannya susah payah untuk menopang tekadnya yang begitu besar untuk mengenyam pendidikan di negeri Tirai Besi tersebut. ‘di pantai, di senja tidak ada dara’, mengapa penyair masih membicarakan mengenai ‘senja’? Padahal telah jelas bahwa latar suasana dalam puisi tersebut seperti yang digambarkan dalam dialog tokoh itu sendiri bahwa saat itu adalah malam dan sedang terjadi badai, serta laut pasang. ‘senja’ yang dikatakan di sini mungkin adalah usia senja yang ‘dikunyah’ oleh orang tuanya yang pasti tidaklah masih muda. Di masa-masa senjanya pun mereka tak mendapati anaknya berada di sekitar mereka untuk menemani, ia memutuskan pergi, meski tidak untuk selamanya. Setidaknya, orang tuanya yang entah saat itu masih hidup ataukah telah meninggal, tak menemukannya untuk beberapa waktu.

B.     Tema Puisi ‘Datang Dara, Hilang Dara’
Dari bait demi bait yang telah saya ulas di atas, kita dapat menyimpulkan dengan sangat jelas bahwa tema yang coba disampaikan oleh Hsu Chih-Mo dalam puisinya yang berjudul ’Datang Dara, Hilang Dara’ ini yaitu kisah pengembaraan seekor burung dara yang sendiri melenggang, jauh dari kawanannya yang menggambarkan hidup si penyair sendiri yang melenggang lepas dari Cina dan ‘gerombolannya’ yaitu orang-orang suku Tionghoa untuk menuntut ilmu dan meraih impiannya menjadi seorang penyair dan sarjana hukum. Hal ini berkaitan dengan sikap Burung Dara yang dengan berani meninggalkan kawanannya untuk pergi mengembara meski ia tahu saat itu laut tengah mengamuk karena pasang, terjadi badai, dan malam mendung hingga hanya cahaya samar yang berhasil menerobos masuk, menimbulkan bayangan dirinya yang hanya terlihat samar dari sudut pandang ‘tokoh selainnya’.

C.    Subject Matter pada Puisi ‘Datang Dara, Hilang Dara’

“Dara, dara yang sendiri

Berani mengembara
Mencari di pantai senja,
Dara, ayo pulang saja, dara!”

“Tidak, aku tidak mau!

Biar angin malam menderu
Menyapu pasir, menyapu gelombang
Dan sejenak pula halus menyisir rambutku
Aku mengembara sampai menemu.”
Pada 2 bait awal puisi ini, diceritakan 2 orang tokoh yaitu seekor dara dan tokoh selainnya sedang melakukan dialog mengenai keputusan dara untuk mengembara ke tempat lain seorang diri, padahal Burung Dara-Laut Cina yang diceritakan dalam puisi ini adalah jenis burung yang hidup berkelompok dan bermigrasi ketika musim dingin tiba. Tokoh selain dara ini melarangnya untuk pergi karena cuaca tak menentu, awan menudungi langit malam hingga menjadi semakin pekat, air laut tengah pasang hingga menenggelamkan bebatuan di pinggir pantai, dan badai yang besar disertai gelombang. Namun, dara tidak mau kembali, ia bersikukuh untuk tetap pergi dan meyakinkan kepada tokoh selainnya bahwa ia tak akan apa-apa. Ia sangat yakin dengan apa yang telah diputuskannya dan tidak akan menyerah.


“Heeyaa! Lihat aku menari di muka laut

Aku jadi elang sekarang, membelah-belah gelombang
Ketika senja pasang, ketika pantai hilang
Aku melenggang, ke kiri ke kanan
Ke kiri, ke kanan, aku melenggang.”

“Dengarkanlah, laut mau mengamuk

Ayo pulang! Pulang dara,
Lihat, gelombang membuas berkejaran
Ayo pulang! Ayo pulang.”
Bait di atas saya anggap sebagai konflik dalam puisi ini karena tokoh dara dan tokoh selainnya semakin sama-sama ngotot untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing bahwa dara tidak ingin kembali, tapi tokoh selainnya gencar menyuruhnya untuk pulang.


“Dara, di mana kau, dara

Mana, mana lagumu?
Mana, mana kekaburan ramping tubuhmu?
Mana, mana daraku berani?”


Malam kelam mencat hitam bintang-bintang

Tidak ada sinar, laut tidak ada cahaya
Di pantai, di senja tidak ada dara
Tidak ada dara, tidak ada, tidak –
      Dan pada bait ini merupakan ending puisi dimana tokoh selain dara tidak lagi melihat dimana dara berada. Dara menghilang dalam pekatnya malam, deru badai, dan gelombang berkejaran yang mengamuk. Dan tokoh selainnya mencarinya, hingga seperti kehilangan seseorang yang berharga, membuatnya begitu putus asa.
D.    Feeling Hsu Chih-Mo Menuang ‘Datang Dara, Hilang Dara’
Dalam puisi ini menggambarkan Hsu Chi-Mo yang mengungkapkan kronologi keputusannya untuk hidup terpisah dengan keluarga dan sanak saudaranya yang digambarkannya lewat Burung Dara-Laut Cina yang banyak dilihatnya di lingkugannya di daerah Zhejiang, kemudian ia ceritakan bahwa Burung Dara itu pergi sendiri meninggalkan kawanannya karena ingin mencari sesuatu yang entah apa, apakah sebuah tempat persinggahan ataukah hal lain yang dia inginkan seperti sebuah pulau karena naluri dari Burung Dara-Laut Cina suka mengunjungi pulau-pulau ketika mereka bermigrasi saat musim dingin tiba. Yang saya simpulkan di sini bahwa yang dicari oleh Hsu Chih-Mo adalah mimpinya yang ingin ia kejar ke Negeri Tirai Besi, Inggris.

E.     Tone Hsu Chih-Mo dalam Kehidupannya
Hsu Chih-Mo menurut saya dalam masalah Tone ini menginginkan pembaca untuk mengetahui riwayat hidupnya sendiri, disertai berbagai amanat yang disampaikannya dalam tiap baris puisinya. Puisi yang ia buat meyerupai sebuah dialog drama sehingga membuatnya terkesan menarik dan unik untuk lebih dipahami dan digali lagi makna yang terkandung di dalamnya. Pembaca diajak merenungi hidup dan memahami apa yang dilakukan oleh Burung Dara dalam puisi, mengenai semua kenekatannya, keberanian, dan ketidak peduliannya terhadap apa yang bisa menjatuhkannya, atau bahkan bisa sampai membunuhnya dalam perjalanannya mencapai apa yang diinginkann dan dicarinya.

PENUTUP

          Kesimpulan yang saya ambil dari kesuluruhan puisi tersebut adalah mengenai kehidupan yang tidak harus berkutat pada satu tempat yang kita tinggali. Kita harus berani mengambil langkah untuk memulai kehidupan baru yang mungkin bisa membawa kita menjadi orang yang lebih baik lagi, dan bahwa sekeras apapun kehidupan yang kita jalani, serta bagaimanapun kehidupan itu bisa menjatuhkan kita, ia takkan pernah bisa menghancurkan kita kecuali jika kita sendirilah yang menghancurkan diri kita sendiri. Hidup adalah pilihan, setiap langkah yang kita ambil adalah pilihan yang tersedia dan kita putuskan untuk memilihnya. Kehidupan memiliki banyak makna yang dapat mendewasakan diri kita dengan berbagai masalah yang datan, bukan bermaksud untuk memusuhi, tapi justru berkawan dengan kita. Tergantung bagaimana kita menyikapi semua yang kita lalui dan akan kita hadapi, tidak akan masalah selama kita percaya bahwa yang kita tengah jalani dan sedang kita kejar adalah hal yang benar-benar kita inginkan. 
Read More

[Contoh Cerpen Budaya] Doa Terakhir Sang Penari

Ratna Juwita

Lagi-lagi, oksigenku dirampas bebas alkohol, tontonanku tetap berkutat pada lampu yang berkedip-kedip manja, tapi beringas, benar-benar meluluhlantahkan logika manusia-manusia tak beretika ini. Pendengaranku masih dibungkam gaduh dan riuh yang kubenci. Ah, tempat yang kubenci tapi kucintai. Mengatakan bahwa aku tak menyukai tempat ini, ya aku tak menyukainya. Aku tak pernah menyukai laki-laki hidung belang yang selalu datang ke tempat ini dengan mata jalang, nyalang melihat dada-dada mulus kami. Kami para gadis yang dihias sedemikian rupa, ditakdirkan melenggak-lenggokkan tubuh kotor kami dan rela dipegang di sana sini.

Di belakang segala riuh ini kami saling duduk di belakang meja rias kami. Diam. Hanya melirik sesekali jika kecanggungan ini mulai terasa menyiksa. Kami bekerja, kami bertemu, tapi tak saling berkomunikasi. Apa yang harus kami bicarakan? Tak ada yang bisa dipertanyakan. 

Kebanyakan dari kami berasal dari panti asuhan dari berbagai kota, tak pernah saling bertatap muka, sebelum akhirnya kami memiliki nasib yang sama. Tergadaikan di tempat mengerikan ini. Tempat mengerikan tepat di haluan kotor ibukota yang memberi kami penghidupan.

“Hiks ... hiks ...” Suara sesenggukan itu meremas ibaku. Kulirik seorang gadis remaja yang duduk di sudut ruangan mungil ini dengan wajah sembab, sedang air mata terus membanjiri pipinya.

Jantungku berdegup keras kala kutatap mata sayu itu. Mirip dengan mataku kala pertama kali dibawa ke tempat laknat ini. Kepalaku pusing membayangkan kembali masa laluku, buru-buru kutarik paksa sudut mataku yang sedari tadi menjamah gadis itu. Gadis tak berdosa, sebentar lagi mungkin kau takkan lagi merasa ketakutan di sini. Di rumah barumu ini. Aku tersenyum kecut.

Seseorang berjalan cepat ke dalam ruangan, membuat kami serentak menaruh perhatian penuh padanya. Alex. Orang biadab yang telah membawa kami kemari, dengan pongahnya menatap dada dan paha kami yang dibalut kain dan selendang tipis, hampir-hampir telanjang.

“Khekhe... pertunjukan akan dimulai.” Ia mengarahkan ibu jarinya ke arah yang berlawanan, cukup untuk membuat aku dan ‘teman-teman’ senasibku berdiri, berjalan melewatinya menuju ke panggung maksiat. Geramku sempat memuncak, tapi kutahan mati-matian ketika tak sengaja menyorot gerakan tangannya yang meremas pantat wanita di depanku.

***

Kami penari, tapi tak menari untuk seni. Entah bagaimana, kami menari untuk memuaskan birahi laki-laki tak tahu diri yang selalu saja mengantri. Gamelan dan segala gendhing itu tak ubahnya penabuh nafsi, membuat laki-laki di setiap sudut tempat ini tak terkendali. Tak pernah terpikirkan barang sejenak bahwa aku bisa bekerja di tempat ini, mungkin akan lebih tepat jika aku menyebutnya ‘terdampar’. Terdampar seperti paus mati yang tak bisa lagi kembali.

“Aku mencintai pekerjaan ini semata-mata hanya karena di sini aku bisa menari.” Aku bersikukuh, tak ingin membuatnya mengerti bahwa tak ada alasan lain aku di sini. Aku hanya berpikir, bila memang aku tak menyukai pekerjaan ini, maka aku harus dan akan menyukai tarian yang selalu kugandrungi sedari kecil ini. Titik.

“Kau tahu pekerjaan ini kotor, tapi kenapa?” Khali menanyakan pertanyaan yang kesekian kali. Pertanyaan yang sama dengan inti yang sama serta maksud yang sama, membawaku pergi dari sini. Khali sama saja bagiku seperti kebanyakan lelaki di sini yang hidup untuk hiburan keji. Yang berbeda, ia adalah orang yang telah memilih para penari di sini, dia tangan kanan Alex.

Aku selalu berpikir, aku telah terjatuh terlalu dalam pada kemaksiatan ini. Tak akan ada lagi tempat yang kutuju jikapun aku bisa keluar dari tempat ini dengan bantuan Khali. Entah apa yang dia bicarakan mengenai cinta dan tetek-bengeknya, aku tak pernah mengerti. Aku belum pernah merasakannya dan aku tahu itu hanya sebuah dongeng semata.

Aku melengos ketika kami beradu pandang. Sedikit muak dengannya. Dia bukan lelaki rupawan yang menjadi idaman, hanya kekayaan yang bisa membuatnya digandrungi baberapa penari di sini yang menganggapnya ‘lumayan baik’. Setidaknya sekalipun sama bejatnya, ia tak memperlakukan wanita seperti laki-laki yang datang kemari, menyentuh penari tanpa permisi, atau sengaja menyicil rupiah untuk menyelipkan uang di antara dada kami. Tapi sama saja jika pada akhirnya ia pernah tidur dengan hampir semua penari di tempat ini.

Aku membalikkan badan, enggan menjawab pertanyaannya. Pertanyaan simpatik yang patut kucurigai. Sesaat, kulihat sekelebat bayangan yang kukenal melintas di depanku. Masih dengan suara sesenggukan yang sama, tapi pipinya memerah, darah mengalir hampir di setiap bagian wajahnya. Aku tahu itu akan terjadi cepat atau lambat padanya, sebagai hukuman karena tak mau menari untuk laki-laki tak tahu malu itu. Aku mengerutkan kening.

“Tapi, mungkin akan kupikirkan lagi jika kau bisa membantuku sesuatu.” Aku berbicara dengan angkuh tanpa menoleh. “Hanya jika kau mau.”

“Tentu saja aku mau, katakan padaku apa yang bisa kulakukan untukmu?” Khali menjawab cepat. Ya, aku sudah tahu bahwa kau akan berkata seperti itu.

“Bantu aku untuk mengeluarkan gadis itu dari sini.” Aku menggerakkan sedikit daguku ke arah gadis yang telah sedikit berada jauh dari kami. Aku tak tahu bagaimana ekspresinya, tapi aku tahu bagaimana reaksinya setelah ini.

“Kau gila?”

***

Aku mondar-mandir memikirkan rencana yang telah kususun dengan Khali tadi pagi. Ya, malam ini aku harus bisa mengeluarkan gadis itu dari sini. Bagaimanapun juga, aku tak mau melihatnya bernasib sama sepertiku, jikapun aku tak punya lagi jalan untuk kembali, aku hanya harus membuat gadis itu kembali sebelum ia sempat ternodai dan merasakan keganasan tempat ini.

Ah, apakah aku sedang berusaha menjadi seorang pahlawan sekarang? Pahlawan yang sama bejat dengan musuhnya? Aku terkekeh pelan. Orang yang kotor dari awal takkan merasa bersih meski dicuci berkali-kali. Dosa yang tak tertera di depan mata itu justru yang paling sering membayangi, membuat dadaku selalu sesak saat memikirkannya. Dosa yang kuyakin takkan pernah bisa kulupakan seumur hidupku, setidaknya aku masih bisa berkutat dengan kenyataan bahwa keberadaanku di sini bukanlah kesalahanku sendiri.

Aku selalu menyesali nasibku, mengapa aku di sini? Aku ingin pergi, tapi kutelan mentah-mentah semua harapan semu itu. Aku tak pernah tahu siapa ibuku, siapa sanak saudaraku, atau bahkan apakah mereka semua masih hidup? Jikalau iya, apakah mereka akan menerimaku yang seperti ini? Yang telah tak punya lagi harga diri? Aku tersenyum kecut.

Aku muak setiap kali melihat pantulan dari diriku sendiri pada gadis itu. Gadis baru yang selalu menyita perhatianku, biasanya aku tak pernah merasa segelisah ini terhadap apapun yang terjadi di sekelilingku. Nasibku sendiri telah mengurai segala nuraniku, tapi mengapa gadis itu bisa menyulamnya lagi walau hanya menjadi helai? Aku kelu melihat tangisnya, sakit melihat darahnya. Setidaknya sekali saja aku ingin seseorang pergi dari sini, keluar dari tempat biadab ini, dengan bantuanku, dengan bantuan yang dulu selalu kuharap tapi tak pernah kudapat.

Aku tersentak, seketika lamunanku buyar. Pemandangan yang ada di depanku bukan lagi tentang gadis itu, tapi untuk kesekian kali adalah laki-laki kurang ajar ini. Mereka semua. Aku melenggak-lenggokkan tubuhku dengan lincah, kuanggap ini sebagai terakhir kali untukku dan untuk mereka. Aku mencibir.

Kutatap sekilas meja penuh bir yang berada tak jauh  di depanku, pura-pura tak tahu ketika beberapa lelaki mencoba berebut menyisipkan lembaran lima puluh ribuan di dada. Alex mabuk, ditemani oleh Khali di sampingnya, memandangku gelisah. Rupanya ia berhasil membuat Alex sampai semabuk itu, dan aku sedikit memujinya meski ia melakukannya dengan ekspresi seperti itu. Cih, aku jijik melihat wajah itu. Wajah-wajah ini.

“Neng, tariannya bagus.” Celetuk seorang lelaki berjas lengkap yang menari bersamaku. Aku tersenyum, dalam hati kuartikan perkataan itu sebagai ‘Neng, dadamu mulus.’.

“Jaipong memang asyik, Kang. Sering ke sini?” Aku membalasnya dengan acuh meski senyum tetap kutopengkan di wajahku.

“Saya selalu ke sini malah dan yang selalu saya pilih selalu Eneng...” ia menyisipkan lembarannya lagi dengan mata berkedip. Uh, kuharap aku bisa menahan untuk tak memuntahkan isi perutku sekarang ke wajahnya.

“Kenapa, Kang?” suaraku meninggi, seiring dengan alunan gamelan yang semakin menggila. Sengaja kubuat nada suaraku mendayu-dayu, membuat wajahnya semakin terlihat genit.

“Urusan rakyat selalu bikin repot, di partai rumit berebut kuasa, stres, Neng!”

Aku hanya membuat mulutku berbentuk seperti huruf O sambil manggut-manggut seolah mengerti. Mereka semua ingin segera kulenyapkan. Bukan hal baru jika wakil rakyat datang kemari dengan alasan hiburan padahal mereka berselendang kuasa. Mereka dipilih untuk memperjuangkan nasib rakyat. Nasibku. Nasib kami. Tapi apa yang mereka lakukan? Gaji mereka ditelan mentah-mentah tanpa usaha, kursi jabatan ditinggalkan dan setiap hari datang kemari untuk menari dan menyentuh tubuh kami. Biadab.

Kulirik beberapa orang yang baru masuk ke tempat ini. Orang-orang berseragam aparat keamanan. Ah, lagi-lagi. Aku selalu yakin merekalah dalang dibalik berdirinya tempat ini, bagian dari tempat terkutuk ini. Mereka melindungi tempat ini dari mata aparat yang lain demi beberapa lembar uang, bahkan tak jarang kami disuruh melayani mereka sebagai upah. Bangsat! Mengapa aku merasa begitu malu tinggal di negara ini?

***

“Lanjut, Kang!” aku mencoba merebut beberapa lembar uang mereka. Hari sudah beranjak larut, tapi tak ada satu saja dari mereka yang mengangkat kaki dari sini. Sengaja aku menggila hanya untuk hari ini, melayani tatapan genit dan tangan-tangan nakal mereka. Hanya untuk hari ini.

Pyaaar!

Alunan gamelan mendadak berhenti setelah bunyi itu. Alex, lebih tepatnya Khali yang membuat Alex seolah menjadi orang yang memecahkan bir-bir itu. Sudah dimulai. Alex menggelepar di atas lantai dengan posisi tengkurap, seolah ia benar-benar mabuk padahal beberapa dari bir itu telah kami sisipi dengan obat tidur.

Suasana hening sejenak, tapi sesaat kemudian semua kembali seperti semula. Aku lirik Khali yang menyulut beberapa batang korek api dan melemparkannya ke lantai yang dipenuhi bir.

“Kebakaran! Kebakaran!!” Khali berteriak kesetanan, mengalahkan suara gendhing yang perlahan senyap.

“Kebakaran!” Beberapa lelaki lain dengan wajah kalut berlari menuju pintu, membuat gaduh riuh suasana di tempat ini. Ah, aku lebih suka gaduh riuh yang seperti ini. Aku tertawa pelan. Entah setan mana yang berhasil menyusup di pikiranku hingga aku merasa segembira ini, tak pernah terasa menyenangkan melihat wajah dan teriakan ketakutan mereka.

Beberapa penari juga panik, berebut keluar dari tempat ini. Dasar bodoh, tak ada dari orang-orang ini yang berusaha untuk memadamkan api. Mereka bergelut dengan ketakutan mereka dan keselamatan nyawa mereka sendiri. Khali menyeret tubuh Alex sedikit menjauh dari api, membuka paksa beberapa botol bir yang telah diganti dengan bensin, lalu menyiramkannya secara membabi buta ke seluruh ruangan. Tak ada yang melihatnya. Tentu saja karena mereka semua buta, telah buta pada upaya untuk mencari jalan keluar.

Aku mengangguk pada Khali yang bergidik memandang kobaran api yang semakin membesar, sudah tak bisa lagi dipadamkan. Aku mengangguk padanya, ia berlari ke ruangan dalam untuk merespon, tapi aku mengikutinya. Gadis itu juga panik, tapi hanya mampu berdiri di sudut ruangan dengan mata yang rapuh, tubuh yang demikian ringkih.

“Kau, keluarlah!” Ketika aku mengatakan hanya ‘kau’ aku memang benar-benar serius. Khali Membopong gadis itu paksa meski ia meronta di sisa tenaganya, suara-suara teriakan orang yang terkunci di ruangan luar terus menggigiti pendengaranku.

Kami bergegas, sebelum orang-orang itu sadar ada pintu di ruangan ini yang tidak terkunci. Beberapa penari rupanya menyadari dan segera beranjak mengikuti kami. Kini kami semua berada di luar, menghirup udara yang sebagian terantai alkohol dan bau-bauan lainnya. Khali menurunkan gadis yang gemetaran itu, segera beberapa penari memeluknya untuk menenangkannya. Kuambil kayu yang telah kusiapkan sedari awal di samping pintu, menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan berat.

“Terimakasih.” Kuayunkan pukulan bersamaan dengan kata-kata terakhir itu ke arah Khali yang masih membelakangiku. Para penari memekik keras, aku mengacuhkannya. Khali tergeletak tak berdaya di depanku dengan kepala bersimbah darah, “...dan maaf.” Aku tersenyum kecut, beberapa penari memandangku ngeri, aku hanya mengedikkan bahu seolah tak terjadi apapun.

“Kalian pergilah! Aku memang sama sekali tak mengenal kalian, tapi aku tahu kalian orang-orang baik. Terimakasih untuk kerja keras kalian selama ini...” aku menatap mereka satu persatu. Merangkai beberapa memori yang sempat terekam di benakku.”...maaf telah membuat keributan ini.”

“Ha?” seorang penari yang terlihat lebih tua dariku mengerutkan kening. “Kau...” ia tak meneruskan kalimatnya.

“Ya, aku yang membuat semua keributan ini, maafkan aku. Kita sama-sama ada di sini karena kita mencintai jaipong, tarian impian kita. Sedikit banyak, aku tahu bahwa kalian bertahan hanya untuk tarian ini, hanya karena di tempat lain hampir jarang ditemukan jaipongan lagi...,” ucapku panjang lebar. “... setidaknya tolong teruskan tarian ini, tidak di tempat seperti ini, aku serahkan nasib tarian ini pada kalian ....” Aku melirik gadis kecil yang memandangku iba itu, “dan padamu.”

Aku tersenyum sekilas, tak pernah aku bicara dengan mereka seperti ini. Kali ini entah mengapa aku merasa bahwa kami—aku dan mereka—sama-sama hidup, bukan seperti boneka mati yang diam saja diperlakukan tak senonoh oleh para lelaki bejat di dalam sana. Segera kuseret tubuh Khali ke dalam dengan susah payah. Aku juga tak bisa meninggalkannya hidup, ia dan semua laki-laki yang kini terkurung itu sama. Dan akan kulenyapkan bersama.

“Kau mau kemana?” Penari yang duduk paling dekat denganku di meja rias memandangku penuh tanya ketika pintu akan kututup dari dalam. “Kau tak ikut dengan kami?” aku menggeleng sebagai jawaban.

“Tempatku sudah bukan dunia.” Aku mengunci pintu.

***

Aku harus minta maaf pada Tuhan soal ini nanti. Aku terkekeh. Suara orang-orang yang masih menjerit itu tak kuhiraukan, terdengar pula beberapa bunyi dobrakan pada pintu, tapi sudah jelas takkan berhasil. Khali menaruh beberapa benda besar di pintu sebelum ia memecahkan bir-bir itu, atas perintahku. Barang-barang besar yang takkan mungkin berpindah dengan hanya sebuah dobrakan.

Tapi aku menyukai suara kepanikan dan kobaran api yang semakin ganas ini. Aku menyukai tempat ini, yang seperti ini, yang dipenuhi kobaran api yang menghancurkan segalanya, termasuk kami dan mereka semua.

Jikapun nanti aku tak bertemu dengan Tuhan, aku ingin minta maaf pada orang-orang ini di neraka. Aku tertawa, apa yang kupikirkan? Aku sungguh membenci orang-orang ini, sudah lama aku berniat melakukan ini dan gadis itu memberiku alasan terkuat untuk melakukannya.

Kubiarkan rasa sakit menjalari seluruh tubuhku yang dijamah api, panas, nyeri, sakit. Aku mendesah. Bisakah aku mengutuk-Mu untuk semua rasa sakit ini, Tuhan? Aku percaya padamu bahkan jikapun aku tak sembahyang dan terlalu berkubang dalam dosa, tapi aku menuntut-Mu untuk jaipong yang kucintai. Biarkan ia lestari, meski aku harus menjadi bahan bakar nerakamu karena ini, pintaku satu yang pasti, biarkan jaipongku tetap menari.

***

Malang, 10 Oktober 2014
Read More

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com