Read More

5 CM: Buku yang Menyelamatkanku

Ratna Juwita
Read More

Ary Nilandari - Penulis Wattpad yang Tidak Menye-Menye

Ratna Juwita
Read More

Know Your Limits

Ratna Juwita
Read More

PETRIKOR

Ratna Juwita
Read More

Into The Unknown

Ratna Juwita

Sunday, October 23, 2016

[Cerpen Fantasi] Terima Kasih ("VAMPIR" bagian 1)

Ratna Juwita



Dua kata yang mudah terucap itu, mengapa menjadi rumus yang rumit saat tertuju untukmu?

Cutter yang kugenggam erat mendadak terasa sangat dingin. Ujung jari-jemariku berubah menjadi putih karena kupaksa mengganggam dengan sangat erat. Jantungku berdegup sangat kencang, senada dengan embusan napas yang memburu. Aku tidak mau tahu berapa banyak oksigen yang berebut masuk ke dalam paru-paru yang sebentar lagi akan berhenti.
Sesak. Dadaku mendidih karena ketidakmampuanku menerima ketidakadilan di dunia ini. Adakah dunia lain di sana yang lebih bisa menerimaku dengann utuh? Adakah dunia lain di sana yang lebih bisa membuatku tertawa dan mengecap sedikit saja bahagia?
Setelah ayah dan ibuku bercerai, aku tak menginginkan apa-apa lagi di dunia ini selain melihat mereka kembali bersama. Kebahagiaan apalagi yang ingin direbut dariku? Kebahagiaan masa remaja yang kuimpikan seolah raib, direnggut waktu yang terus bergerak dengan dingin. Tak berperasaan. Adakah kutemu dunia lain yang lebih indah? Dimanapun, aku ingin ke sana.
Darah menetes perlahan dari pergelangan tangan. Bercampur dengan air asin yang keluar dari kelenjar lakrimal mataku. Membaur, menelanjangiku dengan kesedihan yang sudah menggerogoti jiwa. Mataku berkunang. Perih. Sangat sakit. Kutatap nanar cutter yang telah menancap di pergelangan tangan. Mendadak, ketakutan menyeruak ke dalam setiap inci tubuh. Takut. Sekelilingku menghitam, perlahan menyelubungi dan hendak menenggelamkanku.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Sebuah tangan menggenggam erat pergelanganku, entah darimana. Kabut hitam yang tadi menyelubungi, tiba-tiba pergi perlahan. Samar, kulihat seseorang berdiri di hadapanku, mengambil cutter yang menancap di pergelangan tangan dan menatapku dingin. Sangat dingin. Matanya merah dengan taring yang muncul di kedua sudut bibirnya. Sedetik kemudian, segalanya berangsur gelap.
***
“Kau tahu? Kudengar Rhean adalah seorang vampir!” Sebuah suara yang sangat kukenal, memaksa masuk gendang telinga. Mengusikku.
Vampir? Mitos mana yang sedang mereka bicarakan itu? Aku melirik ke arah Niela yang sedang bergerombol dengan sahabat-sahabatnya. Mereka adalah gerombolan tukang gosip yang kebetulan cantik. Aku menghela napas, menatap lekat lagi pergelangan tangan yang beberapa hari lalu kulukai dengan cutter. Sampai sekarang, aku tidak pernah tahu sosok yang saat itu datang dan menggagalkan rencanaku. Sekarang, luka itu terasa sangat perih sampai-sampai aku tidak ingin menggerakkannya untuk apapun.
“Ha? Masa?”
“Iya, katanya ada yang melihatnya beberapa hari lalu. Dia memiliki taring dan matanya berwarna merah!”
Aku menegakkan badan. Hampir terasa lebam dadaku karena debaran jantung yang terpacu. Rhean? Aku tidak berani memalingkan wajah ke belakang; tempat Rhean biasa duduk. Bulu kudukku mendadak berdiri, seseorang tengah memandangiku entah darimana. Tenggorokanku terasa kering dan ludahku surut.
“Pak Leon sudah datang!”
Teman-teman sekelasku langsung berhamburan masuk ke dalam kelas dan langsung menempati tempat duduknya masing-masing, tak terkecuali Niela dan gerombolannya. Sejenak, aku merasa bisa bernapas lega, meski masih tak nyaman dengan perasaan ini. Tiba-tiba mataku berkunang-kunang lagi, kusembunyikan muka segera di balik buku yang kuatur berdiri. Mungkin efek kehilangan banyak darah, ditambah tekanan dan debar jantung tak menentu tadi telah memengaruhi kondisiku.
Suasana berubah menjadi hening di dalam kepala, meski hatiku sedang berkecamuk. Aku tidak ingin membayangkan lagi rumah yang selalu sepi setiap pulang sekolah. Aku tidak ingin membayangkan teman-teman yang selalu berusaha membuatku seolah tidak pernah ada. Aku tidak ingin memikirkan dunia lain yang mungkin lebih bisa menerimaku yang seperti ini. Aku hanya ingin diam, sebentar saja.
“Fiola! Jangan tidur di dalam kelas!” Aku tersentak mendengar teriakan yang ditujukan kepadaku. Aku menegakkan tubuh dengan perlahan, mengintip wajah Pak Leon yang sudah berubah menjadi merah.
“Saya tidak tidur, Pak,” elakku. Memang aku tidak tidur.
“Jangan membantah! Sudah jelas-jelas kamu tidur!”
“Tidak, Pak—“
“Fiola!” Bibirku langsung mengatup. Bungkam. Teriakan Pak Leon bisa terdengar bahkan sampai ujung lorong sekalipun. “Kamu jangan seenaknya di kelas saya! Lihatlah nilai-nilaimu, tidak ada satupun yang memuaskan. Apa ibumu tidak mengajarkanmu di rumah, hah? Kemana ibumu?”
            Bahuku menegang. Mengapa Pak Leon jadi membawa-bawa ibuku? Aku paling tidak suka masalah keluargaku diungkit-diungkit di dalam kelas.
“Ibu saya pulang malam, jadi—“
“Kemana saja ibumu sampai pulang malam? Apa berangkatnya juga pagi-pagi? Ibumu bekerja apa?” Pak Leon terus menyerangku dengan berbagai pertanyaan yang tak mampu kujawab sepatah kata pun.
Dadaku terasa sesak. Air mataku menggenang di pelupuk, kugigit bibir bawah agar ia tidak terjun bebas melintasi pipi. Aku tidak ingin dicap sebagai anak yang cengeng. Sudah cukup mereka tak menganggapku, aku tak ingin mereka memberi embel-embel ejekan yang menyakitkan.
“Ibunya pergi sama laki-laki lain kali, Pak!” celetuk Niela. Hatiku sudah berada pada tahap nyeri, aku memandangnya nanar.
“Apa setelah bercerai dari ayahmu, ibumu bekerja sebagai—“
BRAK!
Spontan, semua kepala menoleh ke sumber suara yang berasal dari belakang. Rhean. Dia mendekapkan kedua tangan di depan dada, kaki kanannya setengah terangkat ke udara karena menendang meja yang kini telah tergeletak di atas lantai.
“Rhean, apa yang kamu—“
“Pak, apa sekolah ini mengajarkan bully sebagai salah satu materinya? Bapak belajar menjadi pem-bully sejak umur berapa? Ada murid yang sedang goncang karena keluarga yang kurang harmonis, tapi Bapak malah mencecarnya dengan banyak pertanyaan yang menyudutkan. Apa Bapak yakin, Bapak seorang guru?” Rhean kemudian melirik ke arah Niela, “Dan kamu tukang gosip, jagalah mulutmu dari berbicara yang tidak perlu!”
Kelas berubah hening. Hening yang suram dan tegang. Detik berikutnya, Pak Leon mengeluarkan Rhean dari kelas.
***
Aku mengambil kaleng minuman yang terjatuh dari mesin penjual otomatis. Otakku masih linglung karena kejadian di kelas tadi, sedangkan Rhean tak terlihat dimana pun. Aku merasa harus berterima kasih padanya karena telah berusaha membelaku, walaupun pada akhirnya dia dikeluarkan dari kelas. Rhean. Mengeja nama itu membuatku bergidik teringat akan perkataan Niela tentang dia yang sebenarnya seorang vampir. Aku tidak ingin mempercayai hal itu begitu saja, tapi di sisi lain aku juga tak mampu menyangkal. Bisa saja sosok bertaring dan bermata merah yang kulihat samar-samar saat aku sekarat saat itu benar-benar Rhean.
Aku menggelengkan kepala cepat, mencoba mengusir segala pemikiran rumit yang selalu bertumpuk. Sudah cukup masalah keluarga yang pelik dan teman-teman yang memuakkan, membuatku tak ingin lagi hidup di dunia ini. Tidak ditambah dengan Rhean seorang vampir. Kuteguk habis isi kaleng minuman itu hingga tak bersisa. Aku berniat melemparkan kaleng itu ke keranjang sampah di depan jendela, saat kulihat Rhean berjalan keluar sekolah. Entah naluri apa yang menggiringku untuk mengikutinya diam-diam.
***
Kaleng yang ternyata belum sempat kubuang, terjatuh. Suara dentingannya berhasil mengagetkanku dan mungkin juga Rhean. Tubuhku mematung di balik dinding tanpa berani mencoba menengok ke arah manapun. Keringat dingin menyelimuti tubuh, menetes deras dari dahi. Jantungku kebat-kebit untuk kesekian kali hari ini, membuat otot kakiku terasa lemas. Aku ingin lari, tapi tidak bisa. Pun pita suaraku raib, tenggorokanku mengering seketika.
Kudengar langkah kaki mendekat. Napasku tertahan tanpa sadar, seolah suara embusan napas pun bisa membuatnya menyadari keberadaanku. Namun, semua itu sia-sia saat beberapa detik kemudian Rhean telah berdiri di hadapanku. Aku terpaksa membekap mulut agar tak berteriak saat kutatap mata Rhean yang berwarna merah dengan taring di kedua sudut bibirnya.
Keheningan yang menyusup di antara kami seolah membuat degup jantungku terdengar sangat keras. Bahkan, lebih keras dari suara klakson kendaraan yang berlalu lalang di ujung gang. Sial. Aku mengumpat dalam hati. Aku menyesali kaki yang seenak jidat bergerak kesana kemari mengikuti langkah Rhean. Aku tidak bisa lupa cara Rhean menangkap kucing yang lewat, kemudian ... aku meneguk ludah yang berasa seperti pasir.
Rhean menatapku tajam. Dingin. Membuatku benar-benar yakin bahwa dialah yang berada di gudang sekolah waktu itu ketika aku sekarat. Mata dan taring itu. Kematian seolah sedang mengintaiku lewat tatapannya. Takut. Lebih takut daripada merasakan sakit di pergelangan tanganku saat ini. Air mataku mengalir, tak mampu lagi terbendung. Tubuhku gemetar. Namun tanpa diduga, Rhean memalingkan wajahnya. Dia berbalik membelakangiku, seolah bersiap pergi. Aku takut, bibirku bergetar, tapi ada nyeri yang lain di dada.
“Rhe—“
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Aku terdiam. Kosakata seolah berebut lari dari jeruji memori, menelanjangi otakku tanpa satu huruf pun tersisa. Kalimat tanya itu, strukturnya memang sama persis, tapi nada yang digunakannya sama sekali berbeda. Meskipun aku tidak tahu letak perbedaannya. Kemudian, pembicaraan singkat itu berakhir dengan pertanyaan mudah yang tak mampu kutemukan jawabannya.
***
Esoknya, aku kembali ke gang yang sama. Gang yang sepi dan buntu. Tak kupedulikan rasa takut yang selalu menuntut agar tak kulangkahkan kaki ke sana. Aku ingin bertemu Rhean. Hari ini dia tidak masuk sekolah karena skors. Mungkin Pak Leon melaporkan tindakannya waktu itu kepada kepala sekolah. Tak perlu waktu lama hingga surat skors keluar dari meja kepala sekolah, mengingat Rhean bukanlah murid yang teladan atau penurut.
Aku tak menyetujui sama sekali keputusan itu, tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa diam-diam kembali ke gang ini seperti orang linglung dan berharap dia ada di sini. Namun, nihil. Rhean tidak ada di sini, tidak juga bangkai kucing yang kemarin tergeletak. Bersih, seolah tak pernah terjadi apapun sebelumnya. Aku bersandar di dinding dan terduduk. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
***
Hari-hari berikutnya, aku tetap bersikukuh pergi ke gang itu dan lagi-lagi tak menemukan Rhean. Aku frustasi. Aku ingin mengatakan banyak hal padanya, tapi kosakataku seolah selalu raib tiap kali bertemu dengannya. Nada suaranya saat itu, aku baru menyadari bahwa nada itu adalah kekecewaan. Kekecewaan yang menyakitkan, tapi karena apa? Aku memejamkan mata. Erat. Kuputuskan untuk berdiam diri di sini hingga ia benar-benar muncul di hadapanku.
***
Apa yang sedang kau lakukan?”
Aku tersentak, ternyata aku tertidur. Kukerjapkan mata berkali-kali, hari telah beranjak malam. Gelap menyelubungiku di gang sempit ini Aku mencoba menggerakkan kaki yang kram, tapi usahaku terhenti saat kutemu jaket menutupi sebagian tubuh. Jaket siapa? Beberapa saat aku terdiam dengan pikiran macet. Rhean?!
Aku berdiri, menelisik ke sekeliling, tapi tak kutemu siapapun. Meski gelap, aku dapat dengan jelas memastikan ada tidaknya orang di sini. Aku menarik napas dan mengembuskannya pelan. Setidaknya bangunkan aku dan biarkan aku bicara meski hanya beberapa kata gagu.
Rhean ....” Aku menggumam sambil menatap lekat jaket hitam itu.
***
Esok harinya, aku berada di antara orang-orang yang melihat ke arahku sambil berbisik dan tatapan aneh. Aku tak bisa mendengar hal yang mereka bicarakan. Kuputuskan untuk segera beranjak ke dalam kelas dengan perasaan yang bercampur aduk. Mengapa teman-teman yang tak pernah menganggapku ada, tiba-tba jadi menaruh perhatian penuh padaku?
“Dia bersama Rhean saat itu di sebuah gang, apa yang mereka lakukan berdua di sana? Ngeri, kan?” Aku menahan napas ketika mendengar kalimat itu meluncur deras dari bibir Niela yang kini memandangku dengan tatapan sinis. Teman-teman yang lainnya pun melakukan hal yang sama kepadaku.
“Jangan-jangan mereka—“
Aku berdiri dari kursi. Saat itu pula ocehan mereka yang seperti dengungan lebah, berhenti. Aku menatap tajam ke arah Niela yang langsung bergidik. Lagi-lagi gosip ini, aku yakin pasti Niela biang dari segala bisikan dan pandangan aneh mereka.
“Apa lagi yang kau sebarkan, Niel?” tanyaku tajam. Aku tidak tahu keberanian dari mana yang mengasaiku saat itu.
“Apalagi? Fakta? Aku melihatmu berdua dengan Rhean di sebuah gang buntu di belakang sekolah. Orang normal pasti berpikir kalian melakukan sesuatu di sana.”
“Melakukan apa?” Aku mengerutkan kening.
“Yah, sejenis yang dilakukan ibumu dengan laki-laki—“
Aku menerjang ke arah Niela sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Air mataku membanjir. Aku menghantamkan tinju lemahku ke arah Niela. Tenagaku telah habis diserap rasa sakit yang terus menganga di dalam dada. Aku marah, aku kesal dengan segala hal yang tidak berpihak padaku di dunia ini. Mengapa? Mengapa semua ini terjadi padaku? Aku tidak menyadari hal yang kulakukan pada Niela, hingga seseorang menggenggam pergelangan tanganku. Saat itu, suara teriakan Niela yang memohon ampun, menusuk gendang telinga. Aku menganga melihat darah keluar dari sudut bibirnya. Teman-teman terlihat menjauh. Aku menatap Rhean yang menggenggam tanganku dengan mata merah dan taring di sudut bibirnya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Bibirku bergetar. Apa hanya kata-kata itu yang bisa diucapkannya?
***
“Apa kau ingin dikeluarkan dari sekolah?”
Aku hanya diam. Aku tak ingin mendengar apapun dari mulutnya saat ini. Insiden tadi sudah cukup membuat otakku terasa kram. Letih. Lagi-lagi, kami hanya terjebak dalam keheningan yang memuakkan. Aku mencari, tapi begitu menemukannya, aku hanya bisa terdiam seperti anak bayi yang belum bisa bicara. Aku lelah.
“Orang tua yang bercerai selalu memberi dampak psikologi yang besar pada anak-anaknya, ya,” ucap Rhean dengan tenang. Aku menatapnya kosong. “Kita sama. Tidak ada yang baik dari membunuh maupun bunuh diri. Keduanya sama-sama menentang takdir Tuhan.” Aku mengerutkan kening, tak mengerti arah pembicaraannya. “Jika hidup tak berjalan baik, mungkin ada yang salah dari cara kita menyikapi kehidupan itu karena kehidupan tak pernah salah.”
“Apa maksudmu?”
“Kau sudah lebih tenang?” Rhean tersenyum. Aku tak mengangguk maupun menggeleng, tapi dia tetap meneruskan, “Aku berbicara soal kita, Aku yang membunuh binatang untuk bertahan hidup dan kau yang mencoba bunuh diri karena hidup.” Rhean seolah sedang mengklarifikasi jati dirinya. “Aku seorang vampir. Ya, aku tahu kau sudah menyadarinya. Mataku akan berubah merah dan taringku akan nampak begitu aku mencium bau darah.”
“Mengapa kau menghentikanku?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.
“Niela memang bukan tipe orang yang bisa menjaga ucapannya, padahal ucapan itu bisa menjadi bumerang yang mematikan untuknya. Namun, menyerang orang lain dalam keadaan marah dan membabi buta, tak akan pernah berakhir baik.”
“Bukan itu yang kumaksud.” Rhean melirikku, “Kau menghentikanku padahal orang-orang sedang berkumpul di sana dan membiarkan jati dirimu terungkap. Mengapa kau malah mengorbankan diri? Kau tahu setelah ini kau pasti dicari dan diburu.” Air mataku menetes lagi tanpa sadar. Aku akui akhir-akhir ini aku terlalu mudah menangis.
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Rhean. Rhean membawaku lari sesaat setelah ia berhasil menghentikanku, diiringi tatapan takut orang-orang di sekeliling kami. Rhean menggendong dan membawaku melompat dari jendela sekolah, lalu berakhir di gang ini.
“Apakah menolong orang lain butuh alasan?” Rhean menatapku lugu. “Aku berasal dari Transylvania. Umurku sebagai seorang vampir sangat singkat. Aku tidak peduli dengan mereka yang memburuku karena pada akhirnya aku akan hidup kembali, meski tanpa ingatan yang sama. Ya, seperti “rewind”, mulai dari seorang bayi dari rahim manusia, hingga umur tertentu dan pada akhirnya kami tidak bisa menyembunyikan identitas, diburu. Lalu, kembali lagi seperti awal. Begitu seterusnya dan aku tidak tahu titik akhirnya.” Rhean tersenyum. Senyum sedih. “Terkadang aku ingin agar memoriku tetap tersimpan agar aku tak begitu saja melupakan orang-orang yang berharga bagiku. Meski hanya satu.”
Sayup-sayup, sirine polisi terdengar mendekat. Membawaku dalam kegugupan yang sangat. Aku menengok ke arah ujung gang yang tampak sanat terang karena sirine dan lampu-lampu mobil polisi. Aku tak menggubris teriakan para polisi itu yang terdengar seperti racauan bayi di telingaku saat ini. Aku hanya memandang gugup ke arah Rhean yang tak bergeming.
“Jangan pernah putus asa, apapun yang terjadi. Kehidupan tidak pernah salah.” Hanya kalimat itu yang berhasil masuk di telingaku karena detik berikutnya, polisi berhamburan, menutup pandanganku dari Rhean. Membungkam duniaku dalam sekejap.
***
Tiga puluh tahun berlalu sejak kejadian itu. Namun, ingatan tentangnya begitu segar di kepala, seolah baru kemarin aku mengalaminya. Seperti kata-katanya, aku tak lagi pernah menyerah pada kehidupanku, bahkan sekarang aku memiliki keluarga baru, lebih utuh dari keluargaku yang dulu. Bersama suami, anak, dan cucu, aku hidup dalam kebahagiaan yang kucari dan kuperjuangkan sendiri. Namun, entah mengapa ada sesuatu yang kurang.
Aku tak pernah bertemu lagi dengan Rhean sejak saat itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya setelah itu, tapi aku yakin dia masih hidup. Aku tidak tahu keyakinan mana yang sedang kupegang erat saat ini. Aku hanya yakin, keyakinan yang membawaku hidup hingga detik ini. Hanya karena pertemuan singkat dengan seorang vampir, hidupku berubah. Aku hidup dan memilih sendiri jalan hidupku. Kehidupan memang tak pernah salah, manusialah yang salah dalam menjalaninya.
Sampai saat ini, hanya satu hal yang terus kusesali. Aku tak pernah mengatakan terima kasih padanya. Padahal hanya dua kata itu. Aku ingin bertemu dengannya, meski haya satu menit atau satu detik. Menatap wajahnya sekali lagi dan mengucapkan dua kata itu. Selama tiga puluh tahun aku mencari, selama itu pula aku tak pernah bertemu lagi dengannya. “Rewind” yang pernah dikatakannya, apakah itu nyata?
Tidak, aku mulai mempertanyakan sendiri, apakah dia nyata? Apakah dari awal dia memang ada? Atau semua ini hanya bagian dari imajinasiku? Aku memegang kepalaku yang terasa pusing. Tiga puluh tahun ini, apa yang sebenarnya sedang kucari? Apakah aku akan benar-benar bisa menemukannya?
Tinn tinnn!
Aku terkesiap dan menoleh ke arah mobil yang melaju kencang ke arahku. Detik itu pula seseorang menarik pergelangan tanganku ke belakang. Mobil itu melintas di depanku dengan kecepatan tinggi, hampir menabrakku.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Aku tersentak, buru-buru kulihat orang yang menolongku barusan. Kutemu seorang lelaki remaja, wajahnya berbeda tapi terasa familiar. Ia tersenyum, kemudian berlalu begitu saja bersama pejalan kaki lainnya. Aku tertegun. Pikiranku berkecamuk. Segala rasa seolah tumpah ruah menjadi satu. Air mataku mengalir.
Siapapun dia, kuharap memang dia. Tubuhku bergetar menahan tangis. Tiga puluh tahun pencarian tak berujung ini, apakah kini telah berakhir? Kutatap punggung lelaki remaja SMA yang semakin menjauh itu. Aku menyentuh luka yang masih membekas di pergelangan tanganku. Luka itu berdenyut. Sesuatu yang kupercayai bahwa dia masih ada. Bahwa aku masih punya satu kesempatan lagi untuk mengucapkan terima kasih padanya.
Aku tidak ingin peduli dengan rewind atau apapun. Aku tidak ingin peduli dia vampir atau manusia. Aku tidak ingin peduli karena pada akhirnya, hal yang paling kusesali adalah kesempatan yang tak kuambil. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan apapun lagi, meski hanya dua kata yang tak pernah mengucur dari bibirku untuk sosok itu. Dua kata paling mudah untuk diucapkan, tapi hanya mampu kusimpan selama tiga puluh tahun untuk seseorang yang telah menyelamatkanku.
Kakiku bergerak, berlari. Tanganku mencoba menggapai lelaki itu di tengah kerumunan dan lalu lalang. Aku tidak ingin menyerah pada apapun lagi, tidak juga untuk hal ini. Sungguh aku tak ingin memedulikan apapun saat ini. Kata itu, untuknya.
“Terima kasih.”
***


Read More

Thursday, September 22, 2016

[Puisi Romantis] Bahasa Rindu

Ratna Juwita

Rinduku mengepak santun dalam kekata mega
Menjungkirbalikkan kenang di junjungan senja
Pada jelaga yang menjejak tapak, Kasih
Menepilah, sejenak bersandar di bahu tawa
Bersisian denganku

Lagi, tentangmu adalah abstrak dalam benak
dan sukma telanjur candu, mengekang
Membuiku di balik jeruji memori
Kau menyusup, menjadi sisipan bercabang
yang menanah dalam hati

Dan andai vektor-vektor berduri menghambat lajumu
Kau tahu kemana harus kembali;
Aku dan rindu bersinggungan di sini

Yogyakarta, 5 Agustus 2016
Read More

Saturday, April 02, 2016

Review Cerpen

Review Cerpenku “Selekas Gerimis, Setiba Hujan” Penerbit Gemamedia Wonosobo
Ratna Juwita



Yaa, kembali lagi dalam review cerpen kedua. Kali ini review tentang cerpen terbaruku yang berhasil juara satu di  event “Sahabat Istimewa” yang diselenggarakan oleh Penerbit Gemamedia Wonosobo, nih. Tentu saja akan ada yang setuju dan akan ada yang tidak setuju bahwa cerpenku layak untuk menduduki posisi itu. Aku tidak menghujat bagi yang mengatakan tidak layak, pun semoga tak sombong ketika dikatakan karyaku memang layak.


Semua penilaian kembali pada sudut pandang dan selera juri. Sama seperti ketika kita mengirimkan karya ke media cetak, lolos tidaknya bergantung pada selera editor. Kita hanya bisa komat-kamit berdoa setelah sebelumnya mengerahkan seluruh tenaga, perasaan, dan pikiran untuk membuat suatu karya. (Aciee bahasanya)
Tapi terlepas dari semua itu, ada harapan semoga akan ada sebagian besar orang yang merasa setuju bahwa karyaku memang layak. (hehe). Sudah, mari melanjutkan ke tujuan utama kita, yaitu review cerpenku yang masuk dalam buku setebal 300 halaman ini.
“Selekas Gerimis, Setiba Hujan” adalah kalimat yang kutemukan ketika sibuk memikirkan ide untuk lomba ini. Di tengah segara konsentrasi yang terpacu pada ide, di bawah guyuran gerimis hujan, muncul kalimat itu begitu saja. Ilham memang bisa datang dari mana saja, ya? Hehe.
Cerita bermula dari seorang anak yang cacat Polio sedari kecil. Ia tidak mau bersekolah di Sekolah Luar Biasa karena menurutnya hal itu hanya akan membuatnya mengingat bahwa ia memang orang yang cacat. Ia akhirnya memberanikan diri mendaftar di sekolah umu, meski dalam keadaan seperti itu. Tidak semua anak mau menerimanya apa adanya, tentu saja karena setiap orang memiliki sudut pandang dan kepentingannya masing-masing.
Namanya Sita, ia tidak disukai oleh tiga orang ‘sahabat’ yaitu Arya, Vina, dan Sarah, karena label ‘anak cacat’ yang disandangnya. Di situlah mereka mulai sering terjadi konflik. Cerpen ini juga berisikan masalah pembully-an yang acap kali terjadi di masyarakat sekitar serta minimnya perhatian berupa ‘bantuan’ secara moral terhadap pihak yang dibully.
Perilaku ini merupakan perbuatan ‘nyata’ yang dituangkan dalam bentuk cerita fiksi. Mengenai orang-orang yang seolah tidak mau tahu ketika di depan mata kepala mereka sendiri, sedang terjadi bullying. Sikap acuh tak acuh dari orang-orang inilah yang kemudian mendorong berkembangnya trauma dalam diri orang yang dibully.
Jujur saja cerpen ini sedikit banyak menguras perasaanku karena aku secara pribadi juga pernah dibully (ceilah curhat). Pengalaman yang kemudian membuatku trauma pada pelaku-pelaku pembullyan, menyebabkan turunnya tingkat kepercayaan diri, gangguan kenangan kelam masa lalu, dan janin (eh).
Yah, intinya seperti itulah isi cerpenku, untuk kelanjutan kisahnya, bisa dibaca sendiri di buku. Diorder gitu ceritanya ini lagi promosi. Setelah baca, kalian boleh mengkritikku atas segala kurang, atau justru memuji (hehe, pede banget bakal dipuji). Jujur saja, ini adalah cerpen pertama yang ketika kuselesaikan, hatiku bergumam: Ah, aku lega. Karena ini bukan cerpen pertama atau kesepuluhku, ini cerpenku yang ke lima puluh sekian, tapi ini pertama kalinya hatiku merasa seperti itu (Aceilah, udah ah).

Sampai bertemu di review selanjutnya! ^^
Read More

Friday, April 01, 2016

Lomba Cerpen Nasional Deadline 2 Mei 2016

EVENT CERPEN TEMA “WAKTU” DL 2 MEI 2016 PENERBIT ARIA MANDIRI




         Waktu tak pernah bisa menunggu. Pernahkah sedetik saja kita berpikir untuk bisa kembali ke masa lalu? Atau bermain dengan imajinasi tentang mesin waktu? Adakah waktu-waktu yang terasa sia-sia? Karena waktu terus melaju, kita juga harus bergerak di setiap detiknya agar kita tak tertinggal dan menyesalinya.
         Sudah menemukan ide ceritanya? Nah, sekarang saatnya mengobrak-abrik sang waktu dalam bentuk cerpen, eksekusikan ide liar kalian dalam event kali ini. Entah itu penyesalan di masa lalu, mesin waktu, akibat mengabaikan waktu, seseorang yang hilang karena waktu (eaaaa).

Yuk, simak syarat dan ketentuannya:
         1. Tema         : WAKTU
         2. Genre         : BEBAS!
         3. Event terbuka untuk umum.
         4. Naskah merupakan karya asli, bukan jiplakan, belum pernah dipublikasikan di media manapun, dan tidak sedang diikusertakan dalam lomba lain.
         5. Naskah tidak mengandung unsur SARA dan Pornografi.
         6. Naskah diketik rapi dalam MS Word 2003/2007, kertas A4, margin normal, spasi 1,5, justify, font Times New Roman 12pt.
         7. Panjang naskah cerpen 3-5 halaman.
         8. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan hindari penulisan seperti SMS.
         9. Di akhir naskah, sertakan biodata narasi maksimal 50 kata.
         10. Naskah yang telah memenuhi ketentuan dikirim ke email: event.cerpen@gmail.com dengan format naskah file dan subjek: EventWaktu_Nama Penulis_Judul Naskah. (File dikirim dalam bentuk attachment, bukan di badan email.)
         11. Setiap peserta hanya boleh mengikutsertakan satu karya terbaiknya.

Ketentuan lebih lanjut:
         1. Share info ke blog/teman facebook serta men-tag PJ Event atau akun Penerbit Aria Mandiri.
         2. Masuk ke Grup Penerbit Aria Mandiri.
         3. Pertanyaan lebih lanjut bisa inbox PJ.
         4. Naskah dikirim paling lambat 2 Mei 2016, pukul 23:59 WIB.
         5. Naskah yang lolos seleksi akan dibukukan dalam satu atau dua buku tergantung jumlah peserta.

Hadiah :
          1. Juara Utama mendapatkan gratis satu eks buku terbit dan sertifikat cetak
          2. Semua kontributor berhak mendapatkan e-sertifikat, serta mendapatkan sertifikat cetak yang akan dikirim bersama pesanan buku.

Selamat berkarya! Salam literasi!
PJ Event

Ratna Juwita
Read More

Thursday, March 31, 2016

Review Cerpen



Review Cerpenku dalam Buku “Permainan Shougi Terakhir”
Ratna Juwita

         Senangnya akhirnya ada karyaku yang diterbitkan, kalimat yang terlintas di benakku saat itu. Sudah cukup lama, sih, tapi belum terlalu usang juga hehe. Buku hasil event ‘Ketika Senja Mengukir Cinta’, berhasil menjadi buku pertama yang menggunakan judul cerpenku sebagai judul cover. Senang sekali rasanya ketika mengetahui karyaku menjadi juara satu dalam event itu, tentu saja tak menyangka karena sejauh itu aku selalu menjadi ‘kontributor’ saja, bukan pemenang. Hehe.

         Menjadi kontributor pun tak kalah membahagiakannya, hanya saja rasanya tetap beda dengan menjadi juara satu, kan? Cerpenku yang ada dalam buku kumpulan cerpen setebal 200 halaman ini berjudul ‘Permainan Shougi Terakhir’. Dalam buku ini, aku memakai nama penaku dulu, yaitu Yoira Nala, yang sekarang berganti menjadi Den Raana. (Gonta-ganti nama pena mulu kayak penulis udah terkenal aja :p hehe)

         Cerpenku dalam buku terbitan Raditeens Publisher ini mengambil latar di Jepang ketika berakhirnya Perang Dunia kedua. Mengenai seorang wanita paruh baya yang bernama Kumiko dan suaminya, seorang prajurit perang Jepang pada saat itu, Ouji.

         Ketika menulisnya, aku berusaha sebisa mungkin mencurahkan seluruh perasaanku (ceilah) karena cerpen ini memang benar-benar menguras sukma. Cerpen pertama yang kubuat dengan menempatkan diri sebagai orang yang telah berada di penghujung senja, menikmati sisa umur yang tak lagi lama.

         Kumiko adalah wanita buta, ia mencintai Ouji dan begitupula sebaliknya. Ouji yang seorang prajurit perang Jepang gagah berani, meminang Kumiko di masa belia meskipun dengan keterbatasannya. Adakah cinta seperti itu? Ada, kok jangan baper dulu, hehe.

         Suatu hari, Ouji terpaksa meninggalkan Kumiko seorang diri karena ia harus memacu nyawa di medan perang, sembilan tahun lamanya mereka tak bertukar sapa, bahkan senyum pun tidak. Mereka sama-sama menanti: Kumiko dalam permainan Shougi yang dikuasainya, menunggu Ouji pulang dengan utuh dan bukan sebagai mayat, serta Ouji yang menunggu dengan berkecimpung demi negeri yang ia cinta, pun istri yang paling dirindu.



         Dan ketika Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom, menandai berakhirnya perlawanan Jepang dalam perang dunia, Ouji kembali. Kumiko tersenyum meski ia tak mampu memagut wajah Ouji dengan netra yang buta.

         “Shouji?” Ouji menawarkan permainan yang telah dimainkannya 9973 kali bersama Kumiko, tanpa pernah menang. 

         “Apakah orang sepertiku boleh merasa bahagia?” Kumiko menangis dalam haru, benar-benar mendapati suami yang dicinta, berada dalam jarak rengkuhnya. Berjanji takkan pernah lagi membiarkannya pergi.

         Yak, hanya itu yang bisa kutulis pada kesempatan kali ini, hehe. Bagi yang penasaran, bisa memesannya di Penerbit Raditeens Publisher. Ini salah satu cerpen terbaik yang pernah kubuat. Kok, tidak perlu takut menyesal karena kalian takkan pernah menyesal pernah membacanya (ceilah kepedean dari mana ini datangnya :D).
Sampai jumpa direview buku berikutnya! ^^

Read More

Wednesday, March 30, 2016

[Esai] Andai Aku Punya 25 Jam Sehari

Ratna Juwita

         Waktu adalah hal yang paling mutlak dalam hidup manusia. Waktu bisa menenggelamkan masa lalu atau membawa kita menuju masa depan. Tidak sedetik pun waktu berkenan mundur untuk mengulang atau memperbaiki apapun di masa lalu. Waktu pula yang mengangkut kita, siap ataupun tidak, untuk menjemput masa depan yang pasti akan terjadi.

         Secara ilmiah, tidak ada yang dinamakan ‘sekarang’ karena ketika kita membicarakan peristiwa detik ini, secepat itu pula peristiwa tersebut telah menjadi masa lalu (Karla Farhana, 2015).  Jadi secara ilmiah, waktu hanya terbagi menjadi dua bagian saja, yaitu masa lalu dan masa depan.

         Fakta lain mengenai waktu adalah bahwa satu hari sebenarnya bukan 24 jam, melainkan 23 jam, 56 menit, 4,2 detik (Karla Farhana, 2015). Dalam sehari yang berisi sekitar 23 jam, 56 menit itu, apa saja yang kita lakukan? Sederhananya, jika kita bekerja selama 8 jam sesuai standar jam kerja, kita menyisakan kurang lebih 15 jam, 56 menit, kemudian waktu tidur kita kira-kira 6 jam, sisanya 9 jam 56 menit. Ditambah lagi aktivitas lainnya seperti berada di perjalanan, makan, mandi, dan aktivitas sehari-hari lainnya, kira-kira 3 jam. Sisa 6 jam 56 menit itu kita gunakan untuk apa?

         Jawabannya adalah melakukan hobi. Sebagian besar orang akan melakukan hal-hal yang disukainya di luar jam kerja dan keseharian, entah itu untuk tidur, membaca, belajar, dsb. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa 23 jam 56 menit itu adalah waktu yang singkat? Menurut saya, ya. Banyak sekali hal yang ingin dikerjakan, sedangkan waktu tak pernah berkompromi.

         Lalu, bagaimana jika satu hari itu 25 jam? Menurut penelitian, 200 juta tahun lagi, satu hari bukan 24 jam, melainkan 25 jam. Hal itu dikarenakan bulan mendekat dan menjauh ke bumi dan menyebabkan waktu melambat dua milidetik per abad (Mohamad Takdir, 2015). Walaupun hanya satu jam, akan ada banyak sekali hal-hal yang dapat kita lakukan.

         Misalnya untuk orang yang hobi belajar, satu jam tambahan itu cukup untuk mengulang beberapa materi dan mengerjakan tugas yang menumpuk. Ketika waktu 6 jam 56 menit, terhalang karena hal lain seperti menonton tv, bermain game, dsb. Satu jam sangatlah cukup untuk memburu tugas, selain tak meninggalkan kewajiban sebagai seorang pelajar, juga tak kehilangan kesempatan untuk menikmati kesenangan lainnya.

         Untuk orang yang hobi membaca, satu jam tambahan itu cukup untuk menuntaskan satu novel yang tak sempat terselesaikan karena urusan lain. Misalkan tugas-tugas menumpuk dari sekolah sangat menyita waktu hingga hanya memiliki 2 jam tersisa, dengan tambahan waktu satu jam, 3 jam adalah waktu yang cukup untuk menghabiskan satu novel.

         Untuk seorang penulis, misalkan  mampu menyelesaikan sebuah cerita pendek sepanjang 5 halaman dalam waktu 3 jam. Waktu yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari, hingga menyisakan dua jam dalam waktu normal, jika ditambah satu jam, cukup untuknya menghasilkan sebuah karya.

         Untuk orang yang hobi berpetualang, satu jam itu cukup untuk mendaki beberapa meter gunung atau menghabiskan waktu menikmati keindahan pantai, dsb. Jika dalam waktu sejam, seorang pendaki bisa naik ke gunung hingga 70 meter, atau lebih, dalam waktu 25 jam ia bisa mendaki setidaknya 1.750 meter. Lebih efisien, kan? Satu jam itu juga bisa dimanfaatkan untuk istirahat ketika lelah dalam pendakian tanpa mengurangi tinggi yang bisa didaki ketika waktu normal, yaitu 24 jam yang kira-kira bisa mendapatkan 1.680 meter.

         Banyak sekali hal yang dapat dilakukan dengan tambahan satu jam, selain contoh-contoh di atas. Waktu satu jam itu sangat berharga baik untuk orang dengan aktivitas yang padat maupun tidak. Tak jarang kita harus mengorbankan salah satu aktivitas, untuk melakukan aktivitas lainnya. Ketika berorganisasi, satu jam juga waktu yang cukup untuk menghasilkan keputusan dalam sebuah rapat.

         Akan tetapi, semua itu kembali pada diri kita sendiri. Tergantung bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu luang dan dapat memaksimalkan waktu yang kita punya dengan baik. Sekali lagi, waktu tidak akan pernah bisa diputar kembali, masa depan adalah hasil dari bagaimana kita memanfaatkan waktu saat ini. Kita yang hidup di masa ini, tak punya cukup umur untuk dapat hidup 200 juta tahun ke depan untuk bisa merasakan 25 jam dalam sehari. Karena itu, 23 jam, 56 menit, 4,2 detik setiap hari di masa ini, harus kita gunakan sebaik-baiknya.
Read More

Tuesday, March 22, 2016

Workshop Jurnalistik Clapeyron


Workshop Jurnalistik Clapeyron, Fakultas Teknik UGM
Ratna Juwita

         Pada tanggal 19 Maret 2016, Clapeyron (Jurnalistik Fakultas Teknik UGM) mengadakan workshop jurnalistik di Gedung Pusat Fakultas Teknik UGM, dalam rangka acara Claproyex (Clapeyron Proyek dan Expo). Claproyex dibuka untuk umum dan turut mengundang Pers Mahasiswa dari luar Yogyakarta. Pembicara yang diundang pada saat itu adalah Mbak Sekar Langit Nariswari, wartawan Harian Jogja yang juga merupakan lulusan Sastra Inggris UGM. Dan Mas Desi Suryanto, pewarta foto Harian Jogja.

         Acara dilaksanakan selama tiga hari, yaitu 18,19,20 Maret 2016. Selain workshop, talkshow, dan pameran, acara ini juga bertujuan untuk launching majalah Clapeyron edisi 61. Namun, saya hanya mengikuti workshop jurnalistiknya saja yang selain gratis, juga menyediakan sertifikat bagi peserta yang berjumlah sekitar 100 sampai 150 orang. Sayangnya, pada hari H yang datang hanya sekitar 50 orang saja.

         Acara dibuka pada jam sembilan oleh paduan suara Fakultas Teknik yang bernyanyi dengan sangat apik serta sambutan dari ketua Clapeyron. Workshop terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dibuka oleh Mbak Sekar yang menjelaskan mengenai dunia wartawan dengan sangat baik. Mbak Sekar juga menjelaskan proses penulisan berita yang baik, teknik menulis berita, tahap-tahap wawancara, dsb. Usai presentasi dan tanya jawab dengan peserta workshop, sesi pertama ditutup oleh pemberian piagam dan bingkisan kepada Mbak Sekar selaku pembicara.

         Workshop dilanjutkan ke sesi dua oleh Mas Desi Suryanto. Sedikit berbeda dengan Mbak Sekar, Mas Desi melakukan presentasi dengan diselingi guyonan yang cukup menghibur. Mas Desi menjelaskan dunia fotografi sebagai wartawan, seperti caption foto, cara mencari berita, membangun koneksi dengan berkenalan dan menyimpan nomor telepon orang-orang agar mudah mengakses informasi. Mas Desi juga menjelaskan bahwa tidak semua foto, halal dalam dunia jurnalistik, ada kode etik yang harus dipatuhi oleh setiap pewarta foto.

         Setelah berjalan kurang lebih dua jam, acara ditutup sekitar jam sebelas dengan membagikan majalan Clapeyron edisi 61 kepada Perwakilan Pers Mahasiswa yang hadir.
Read More

[Me Time] Apa yang Bisa Kulakukan untuk Indonesia?


Ratna Juwita

         Hari ini, di pelajaran PKN, aku ditampar dengan halus. Tidak oleh manusia, tapi oleh diskusi singkat antara mahasiswa dan dosen Arkeologi yang hari ini mendapat giliran mengajar di kelas PKN kelas B (kelasnya campur dari Sastra Jepang, Sastra Perancis, dan Arkeologi).

         Awalnya, seorang dosen wanita masuk seperti biasa, kemudian lanjut ke pengajaran. Beliau menyuruh kami membentuk kelompok untuk berdiskusi singkat mengenai pancasila. Tidak ada yang cukup menarik sampai saat itu, semuanya biasa saja, sampai akhirnya masuk ke pembahasan berikutnya yaitu tentang nasionalisme.

      Dosen itu kemudian mendekat ke tempat diskusi kami, beliau menanyakan, “Apa itu nasionalisme?”

         Saat itu entah keberanian darimana aku menjawab, “Nasionalisme itu cinta tanah air.”
Beliau kembali melanjutkan bertanya, “Bentuk nasionalisme yang bagaimana yang bisa dilakukan?”

         Detik setelahnya, aku sudah mengoceh mengenai membela tanah air sebagai warga Negara Indonesia. Mengenai bangsa ketika berada di bawah penjajahan, bahwa tidak mungkin kita sebagai warga negara yang baik yang mengaku mencintai tanah air ini untuk tidak membela negara, kita memiliki kewajiban untuk membela dan melindungi negara ini.

         Dosen itu tersenyum, kemudian bertanya lagi. “Itu zaman dulu, kalau sekarang? Pikirkan, ya!”

         Kami kembali ke diskusi. Apa yang bisa kita lakukan untuk Indonesia? Apakah benar kita masih memiliki nasionalisme itu?

         Beberapa saat kemudian, dosen tersebut memutarkan video, salah satunya adalah tentang Rio Harianto, pembalap F1 yang berulang kali membawa nama Indonesia di kancah balapan internasional dengan memenangkan pertandingan. Di situ bisa kulihat Rio berdiri sebagai nomor satu, ketika lagu Indonesia dikumandangkan, sebersit kenangan muncul.

         Aku melihat wajahnya saat itu, tersenyum simpul. Memandang penjuru sirkuit balapan seolah saat itu adalah miliknya. Tiba-tiba, gelora muncul dalam diri. Aku mengingat dengan jelas, saat wisuda kelulusan SMA, aku memiliki ekspresi yang sama dengannya ketika aku dinobatkan sebagai lulusan terbaik (ceilah). Aku yakin ekspresiku persis sepertinya, seakan menyiratkan mengenai: kebanggaan dan haru.

         Ada rasa bangga menjadi rakyat Indonesia ketika berdiri sebagai pemenang dunia. Dalam sudut pandangku juga ada rasa bangga ketika bisa kupersembahkan segala prestasi untuk ayah dan ibuku. Tapi saat ini yang ingin kusoroti bukan aku, melainkan Rio Harianto. Prestasi, perjuangan keras, dan masih menyandang nama Indonesia sebagai tanah airnya walaupun Indonesia tak memberi dukungan yang banyak untuknya.

         Dosen tersebut menambahkan bahwa di Indonesia saat ini pangsa pasar didominasi oleh perusahaan asing, seperti obat-obatan yang sekitar 80% adalah milik perusahaan asing, sebanyak 92% industri mesin didominasi perusahaan asing, dsb. Lalu, dimanakah peran warga Negara Indonesia sendiri? Hidup dalam negara sendiri yang dikuasai oleh orang asing.

         Kemudian, aku bertanya-tanya: Apa yang bisa kulakukan untuk Indonesia? Pertanyaan yang belum terjawab sampai saat ini.
Read More

Wednesday, March 16, 2016

[Puisi Cinta] Cinta dalam Diam


Ratna Juwita

Aku ingin mencintaimu
Sehening ketika bertahajud bersamamu
Dalam jarak batas ruang dan waktu
Aku ingin menyayangimu
Segetar hati kala kubaca Quran denganmu
Melebur malam dengan lantunan merdu
Aku ingin menyapamu
Sehalus saat kau bacakan Al Fatihah untukku
Memaknai ayat satu persatu
Tanpa jenuh, berdua menata kalbu
Agar nantinya takkan keliru
Menitih rahmat dan berlabuh
Seperti para pendahulu
Yang menyulam semua itu

Dalam diam, mereka beroleh cinta tak berkeluh


Malang, 14 Februari 2014
Read More

[Apresiasi Puisi] Sapardi Djoko Damono "Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari"

         

          Puisi menurut saya adalah rangkaian kata-kata yang terjalin indah dan memiliki makna yang menggambarkan apa yang tak sempat terucap oleh penyair. Tidak. Tentu salah apabila saya mengatakan bahwa puisi hanya diperuntukkan bagi para penyair terkemuka, atau orang-orang yang memiliki kandungan kata dan diksi yang luar biasa. Orang biasa tanpa pengetahuanpun asalkan ia dapat menggambarkan apa yang tengah dirasakannya menjadi sebuah puisi pun sudah jelas dapat membuat puisi. Namun, bedanya adalah apakah puisi itu bisa menjadi renungan dan diresapi banyak orang ataukah tidak.

Segala hal takkan pernah terlepas dari bagaimana hal itu berawal dan bagaimana hal itu bisa berkembang hingga sampai pada titik ini. Sama saja dengan puisi, puisi hingga bisa seperti sekarang ini telah mengalami banyak sekali perubahan terlampau era demi era. Dulu, puisi hanya berwujud mantra yang digunakan sebagai pemujaan untuk roh, dewa, ataupun kepercayaan lain yang dianut masyarakat jaman dahulu. Tapi, sekarang puisi berwujud bebas, indah, dan dapat dinikmati serta diapresiasi.

Pada era modern seperti sekarang ini, puisi dapat kita temukan dengan mudahnya di berbagai media cetak. Pada koran mingguan, maupun majalah, bahkan tabloid biasanya akan dengan mudah kita temukan puisi di dalamnya. Media-media percetakan saat ini sangat memudahkan para penyair-penyair muda yang ingin berkarya dan menerbitkan karyanya sehingga tidak hanya mendapatkan royalty, tapi juga membagi apa yang dirasakannya pada para pembaca.

Bahkan, kini lomba-lomba membuat karya sastra berbentuk puisi sudah sangat sering diadakan demi menggali bakat-bakat muda yang tak terjamah mata. Pada saat saya SMP, saya pernah mengikuti lomba puisi di sebuah universitas negeri di Malang dan saya menempatkan diri sebagai salah satu dari 10 orang penulis yang terpilih dari sekian ribu peserta untuk menempati predikat 10 besar pada lomba tersebut. Baru-baru ini saya juga mengikuti lomba menulis puisi yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan penerbitan untuk dimasukkan ke dalam antologi puisi bertajuk ‘Cinta Dalam Diam’.

Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa puisi di Indonesia kini sudah sangat dihargai, menulis puisi bukan hanya mudah, kita juga tak perlu menulis terlalu panjang untuk menciptakan sebuah puisi. Tapi, puisi terbaik yang takkan tertelan masa tentu memiliki kualitas diksi dan pendalaman makna yang sangat menawan dan menyita perasaan, apalagi pemikiran. Tidak sembarang orang bisa membuat puisi yang bagus, tapi semua orang memang bisa menciptakan puisinya sendiri, terlepas apakah puisi yang dihasilkan menjaring perhatian pembaca ataukah tidak.

Kemudian, mari kita tengok sejenak di internet sebagai media yang kini bisa dimanfaatkan siapa saja untuk mendapatkan apa saja. Apabila kita mencari di mesin pencari GOOGLE  pasti akan muncul banyak pilihan untuk kita memilah mana informasi yang paling tepat untuk kebutuhan kita. Pilihan-pilihan tersebut datang dari berbagai blog yang tersedia juga di internet, blog-blog itu dikelola oleh masing-masing orang yang ingin membagikan kepada banyak orang pengalaman, maupun informasi yang dimilikinya.

Dari blog-blog ini, bermunculanlah banyak karya-karya pribadi maupun karya para sastrawan terkenal yang dibagi, baik oleh orang-orang yang mungkin sudah dapat dikatakan sebagai ‘penyair’ yang telah banyak menerbitkan karyanya lewat berbagai media cetak, maupun para ‘penyair-penyair’ amatir yang ingin mempublikasikan karyanya lewat media elektronik, yang mungkin masih terlalu malu untuk dapat mengirimkannya ke media-media cetak.

Tidak hanya lewat berbagai media cetak maupun elektronik seperti yang telah saya sebutkan di atas, media pendukung lainnya dari bidang formal seperti sekolahpun sudah ikut andil banyak dalam menghasilkan bibit-bibit baru sebagai penyair. Prodi-prodi sastra telah ada di hampir semua universitas di Indonesia maupun dunia, yang berperan sangat penting dalam mengajarkan para penyair-penyair muda tentang cara untuk menghasilkan sebuah karya sastra yang bernilai.

Banyak sekali para sastrawan yang dapat dijadikan panutan dalam membuat karya sastra bernilai, dari era ke era, muncul satu persatu sastrawan-sastrawan terkemuka yang berperan penting dalam pembentukan karya sastra pada era sekarang ini. Mulai dari Amir Hamzah, sejak sebelum kemerdekaan, Chairil Anwar pada masa kemerdekaan, hingga sastrawan era 66 dengan puisi sedalam makna lautan dan sering dijuluki sebagai ‘sajak-sajak SDD’ yaitu Sapardi Djoko Darmono.

Sapardi Djoko Darmono dikenal sebagai sastrawan dan penyair yang memiliki kualitas puisi yang mengagumkan. Tiap baris puisi yang beliau tulis, masing-masing memiliki makna yang dalam tanpa celah, bahkan banyak puisi-puisinya yang ditangkup ke dalam bentuk lain yang disebut musikalisasi puisi. Diantara karya-karyanya adalah ‘Aku Ingin’, ‘Hujan Bulan Juni’, ‘Mata Pisau’, dan puisi yang akan saya ulas yaitu ‘Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari’ yang beliau tulis pada sekitar tahun 1987.

Dilihat dari judulnya saja, puisi ini menarik perhatian karena jujur saja, saya tidak tau makna dibalik judul yang beliau torehkan ke dalam puisinya ini. Biasanya, judul mengekspresikan isi dari sebuah karya sastra yang mewakili apa yang terkandung di dalamnya, dari mulai cerpen, puisi, sampai novel pasti memiliki pemilihan judul yang berperan apik dalam mewakili isi yang dikandungnya. Tapi, berbeda dengan puisi ini. Dari mulai judul, kita seakan dituntut oleh Sapardi untuk menggali lebih dalam apa yang terkandung dibalik rangkaian kata-kata ini.

‘Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari’. Saya berpikir ‘Berjalan ke barat’ berarti ‘menghadap ke arah kiblat’ dan mengapa beliau tak menggunakan kata ‘menghadap ke barat’ adalah karena ‘berjalan’ berarti mendekati tempat yang ingin kita tuju. Berbeda dengan hanya ‘menghadap’, kata ‘menghadap’ berarti meskipun kita menginginkan sesuatu, kita tak akan bisa mendapatkannya hanya dengan menghadapkan wajah kita padanya. Namun, ‘berjalan’ memiliki makna yang berbeda. Dengan ‘berjalan’ akan memungkikan kita untuk semakin mendekat dengan apa yang kita inginkan. ‘berjalan’ juga merupakan usaha dan untuk mendpatkan sesuatu yang kita inginkan, kita membutuhkan ‘usaha’ itu.

Sedangkan, mengapa saya menyimpulan ‘barat’ sebagai kiblat adalah kepribadian Sapardi Djoko Damono sendiri yang berlatar belakang sebagai orang yang religius. Beliau banyak menyebutkan mengenai firman Allah dan kata-kata lainnya yang memuja keagungan-Nya. Saya tidak menemukan arti lain ketika saya mencoba berpikir mengenai arti dari ‘barat’ kecuali ‘kiblat’, karena tak mungkin seorang Sapardi Djoko Damono menuliskan kata’barat’ tanpa kandungan makna yang tersisip di dalamnya.

Hal lain yang saya pertimbangkan dari judul yang beliau berikan pada puisinya ini adalah kata ‘Waktu Pagi Hari’. ‘Waktu Pagi Hari’ berarti ‘ketika matahari terbit’ dan sesuai teori ilmiah, matahari terbit sudah pasti dari sebelah timur. ‘Pagi Hari’ di sini juga tidak berarti ‘ketika matahari terbit’, bisa pula kita artikan ‘pagi hari’ di sini ketika benang putih di ufuk timur mulai merajut selendangnya, atau yang biasa kita sebut fajar. Fajar adalah waktu yang bisa kita sebut sebagai ‘pagi’ dan juga waktu ketika salah satu dari salat lima waktu dilaksanakan, yaitu ‘waktu subuh’.

Jadi, dapat kita simpulkan dari judul puisi yang saya ulas ini yaitu ‘Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari’ sebagai ‘Mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa ke arah kiblat sebelum matahari menyingsing’.

Pada bait pertama puisi ini setelah judul, terdapat rangkaian baris kata ‘Waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakang’. Saya berpendapat bahwa barisan kata ini bermakna ‘Kala ku bersujud di hadapan-Mu di waktu subuh, cahaya menyelemutiku dari belakang tubuhku, hangat menerpa raga dan ruhku’. Saya menyimpulkan demikian karena ‘waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi’, saya artikan sebagai ‘bersujud kepada Yang Maha Kuasa di waktu subuh’ dan kata selanjutnya yaitu ‘matahari mengikutiku di belakang’.

‘Matahari’ saya artikan sebagai pencahayaan terang yang hangat, yaitu bagian dari kerendahan hati seorang hamba yang bersujud di hadapan Tuhannya. Hal ini hanya terjadi apabila manusia telah begitu pasrah beribadah kepada Tuhan yang menciptakannya, memberikan kenikmatan dunia dan segala isinya. ‘Matahari’ di sini sebagai simbol terang usai kegelapan yang menyergap jiwa.

Kemudian kata ‘mengikutiku’ yang saya definisikan sebagai ‘menyelimuti ruhku’. Kata ‘mengikuti’ apabila kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari akan bermakna sesuatu yang ‘melakukan apa yang kita lakukan’, tapi saya mengambil kesimpulan lain bahwa ‘mengikuti’ di sini adalah ‘menemani’ yang apabila digabungkan dengan pemaknaan yang sebelumnya dapat pula menjadi kata ‘menyelimutiku’, ‘memberikan terang padaku’.

Dan kata ‘di belakang’ yang saya artikan ‘dari hal yang sebelumnya tak dapat kulihat’. Biasanya, orang normal takkan bisa melihat bagian belakang, kecuali dengan menoleh, itupun takkan menghasilkan penglihatan yang sempurna pada tubuh bagian belakang. Berarti, ‘cahaya itu datang dari tempat yang tak terlihat’. ‘Cahaya itu menyelimutiku, memberikan kehangatan pada jiwa dan ruhku dari tempat yang sebelumnya tak kujamah’. Mungkin, hal ini berarti Sapardi mendapatkan ilham dari ibadaha yang dilakukannya, yang dulu mungkin ia bukanlah orang yang cucukp religius, tapi segera setelah ia kembali pada Yang Maha Kuasa, ia diselimuti cahaya  yang sebelumnya ia tak pernah coba untuk meraihnya.

Bait selanjutnya berisi ‘Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang ke depan’, saya artikan bahwa Sapardi ingin mengungkapkan kalau ia tak memiliki tujuan lain selain mengikuti bayang-bayangnya. ‘Bayang-bayang’ ini dapat digambarkan sebagai ‘dirinya yang  lain’ entah itu sisi gelapnya ataukah sisi baiknya. Yang jelas, bayangan itu seperti cermin, walaupun tak setegas bagaimana cermin menggambarkan seseorang yang ‘sebenarnya’, ‘bayangan’ juga mewakili apa yang ‘diserupainya’.

‘Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri’. Mengapa ia tak mencari tujuannya sendiri? Dalam kalimat itu tak disebutkan bahwa ia akan pergi ke suatu tempat, karena ia bergerak berdasarkan gerak bayangannya. Namun, permasalahannya di sini adalah bahwa bayangan takkan bergerak apabila ‘yang dibayanginya’ tak bergerak. Otomatis, apabila Supardi menggambarkan dirinya berdiam diri saja, bayangannya pun tak dapat menunjukkan padanya apa-apa.

Pada kalimat ini, ia seakan seperti orang yang linglung. Bagaimana bisa secara logika, sumber dari bayangan bergerak mengikuti bayangannya? Saya menyimpulkan dari permasalahan yang saya sebutkan, bahwa Sapardi ‘memiliki tujuan’ sekalipun ia mengatakan ‘mengikuti bayang-bayangku sendiri’. Ia bergerak, menuju tempat ke arah barat, dimana matahari menyinarinya dari timur dan membuatnya bayang-bayangnya berada di depannya lalu menyimpulkan bahwa ia ‘seperti’ berjalan mengikuti bayangannya, karena bayangannyalah yang berada di depan.

‘Yang memanjang ke depan’ sudah jelas menandakan bahwa cahaya dari timur akan menyebabkan munculnya bayangan sesuatu yang terletak di sebelah barat. Sapardi tau, tujuannya adalah ‘mendekat’ pada Sang Ilahi, ia bergerak sesuai nurani dan jiwanya, bersujud dan ingin selalu lebih ‘dekat’, ia bergerak maju, lebih khusyu’, seolah dialah yang mengikuti bayangannya. ‘Bayangan’ pula, dapat diartikan sebagai rentetan kisah masa lalu yang kemungkinan besar berisi dosa, karena kodrat manusia yang tak akan pernah luput dari dosa.

Ia berjalan mengikuti bayang-bayangnya, mengungkap serentetan kisah masa lalunya, berharap memeohon ampunan dari Yang Maha Kuasa, seolah, memang jalinan kisah dosa itulah yang menuntunnya pada imannya sekarang. Ia menyesali apa yang luput dari sadarnya, apa yang khilaf dari lakunya.

Lalu pada baris ketiga tertulis ‘aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang’. Saya mengambil kesimpulan bahwa kalimat ini berarti, ia dan cahaya yang kini menyelimuti batinnya dengan iman, ‘tak bertengkar’ mengenai salah siapa kisah-kisah yang mungkin berupa rentetan dosa itu terjadi. Mereka tak berebut bayang, yang berarti mereka saling memiliki. Tanpa serentetan kisah itu, ia takkan berada pada jiwanya yang sekarang yang mungkin di rasa nyaman dilubuknya karena itulah apa yang telah terjadi adalah khilaf, yang selanjutnya adalah tobat untuk mencapai iman yang sebenarnya.

Kata ‘tak bertengkar’ yang tercantum dalam baris kalimat itu berarti ‘tidak menimbulkan masalah’, jelas bahwa tidak berarti ‘bayang-bayang’ itu meninggalkan penyesalan berlarut-larut yang dapat menyebabkan hilangnya logika orang yang ingin bertaubat. Ia menerima cahaya itu dan di waktu yang sama, ia bersyukur atas dosa yang diperbuatnya dulu.

Pada baris terakhir, ‘aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan’. Ini saya simpulkan sebagai ‘tak masalah siapa yang memulai untuk bertaubat antara aku dan kisah masa laluku’. Ia berdiri di belakang bayang-bayang, tak berarti bayang-bayang memimpin dan memerintah apa yang dilakukannya, sebaliknya dia sendirilah yang menentukan dan memutuskan apa yang ingin dan harus diperbuat oleh dirinya sendiri. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa bayang-bayang ada mengikuti apa yang dibayanginya, apabila sesuatu yang dibayanginya bergerak, bayang-bayang pun juga akan ikut bergerak dan berpindah tempat, kalaupun sesuatu yang dibayanginya diam, takkan ada kesempatan baginya untuk dapat merubah posisi kecuali sumber cahayanyalah yang merubah posisi bayang-bayang itu.

Jadi, kesimpulan pada bait terakhir ini adalah ‘Kau dan aku sama-sama berperan dalam perjalanan iman ini’.

Secara keseluruhan, puisi ini seperti puisi-puisi lainnya, sangat menguras pikiran pembaca untuk lebih memahami apa sebenarnya yang dirasakan oleh penulis dan ingin disampaikannya kepada pembaca. Puisi seperti ini memang sangat menarik untuk diapresiasi mengenai bagaimana menurut apresiator mengenai makna sebenarnya yang terkandung dalam puisi tersebut.

Kelemahannya, puisi seperti ini seringkali menimbulkan multi tafsir bagi pembaca dan apresiator, tentu saja tergantung bagaimana setiap orang memaknai puisi ini. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai pendapatnya tentang sebuah puisi, terlebih puisi semacam ini yang sangat terkenal karena penulisnya yang ‘memiliki makna dalam di setiap kata yang ditulisnya dalam puisi ciptaannya’. Sapardi Djoko Damono.

Dilihat dari sudut pandang diksi, puisi ini tergolong puisi dengan kata yang cukup padat, memang di dalam puisi ini terdapat banyak pengulangan kata, namun dengan intensitas makna yang berbeda, sehingga menghasilkan pemikiran yang berbeda pula walaupun dengan kata yang sama. Apabila dijadikan musikalisasi puisi, puisi ini tergolong puisi yang cocok untuk itu. Kata-kata yang terekam dalam puisi ini memiliki makna yang dalam dan bahasa yang pas untuk dijadikan sebuah lagu.


Read More

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com