Read More

5 CM: Buku yang Menyelamatkanku

Ratna Juwita
Read More

Ary Nilandari - Penulis Wattpad yang Tidak Menye-Menye

Ratna Juwita
Read More

Know Your Limits

Ratna Juwita
Read More

PETRIKOR

Ratna Juwita
Read More

Into The Unknown

Ratna Juwita

Thursday, March 31, 2016

Review Cerpen



Review Cerpenku dalam Buku “Permainan Shougi Terakhir”
Ratna Juwita

         Senangnya akhirnya ada karyaku yang diterbitkan, kalimat yang terlintas di benakku saat itu. Sudah cukup lama, sih, tapi belum terlalu usang juga hehe. Buku hasil event ‘Ketika Senja Mengukir Cinta’, berhasil menjadi buku pertama yang menggunakan judul cerpenku sebagai judul cover. Senang sekali rasanya ketika mengetahui karyaku menjadi juara satu dalam event itu, tentu saja tak menyangka karena sejauh itu aku selalu menjadi ‘kontributor’ saja, bukan pemenang. Hehe.

         Menjadi kontributor pun tak kalah membahagiakannya, hanya saja rasanya tetap beda dengan menjadi juara satu, kan? Cerpenku yang ada dalam buku kumpulan cerpen setebal 200 halaman ini berjudul ‘Permainan Shougi Terakhir’. Dalam buku ini, aku memakai nama penaku dulu, yaitu Yoira Nala, yang sekarang berganti menjadi Den Raana. (Gonta-ganti nama pena mulu kayak penulis udah terkenal aja :p hehe)

         Cerpenku dalam buku terbitan Raditeens Publisher ini mengambil latar di Jepang ketika berakhirnya Perang Dunia kedua. Mengenai seorang wanita paruh baya yang bernama Kumiko dan suaminya, seorang prajurit perang Jepang pada saat itu, Ouji.

         Ketika menulisnya, aku berusaha sebisa mungkin mencurahkan seluruh perasaanku (ceilah) karena cerpen ini memang benar-benar menguras sukma. Cerpen pertama yang kubuat dengan menempatkan diri sebagai orang yang telah berada di penghujung senja, menikmati sisa umur yang tak lagi lama.

         Kumiko adalah wanita buta, ia mencintai Ouji dan begitupula sebaliknya. Ouji yang seorang prajurit perang Jepang gagah berani, meminang Kumiko di masa belia meskipun dengan keterbatasannya. Adakah cinta seperti itu? Ada, kok jangan baper dulu, hehe.

         Suatu hari, Ouji terpaksa meninggalkan Kumiko seorang diri karena ia harus memacu nyawa di medan perang, sembilan tahun lamanya mereka tak bertukar sapa, bahkan senyum pun tidak. Mereka sama-sama menanti: Kumiko dalam permainan Shougi yang dikuasainya, menunggu Ouji pulang dengan utuh dan bukan sebagai mayat, serta Ouji yang menunggu dengan berkecimpung demi negeri yang ia cinta, pun istri yang paling dirindu.



         Dan ketika Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom, menandai berakhirnya perlawanan Jepang dalam perang dunia, Ouji kembali. Kumiko tersenyum meski ia tak mampu memagut wajah Ouji dengan netra yang buta.

         “Shouji?” Ouji menawarkan permainan yang telah dimainkannya 9973 kali bersama Kumiko, tanpa pernah menang. 

         “Apakah orang sepertiku boleh merasa bahagia?” Kumiko menangis dalam haru, benar-benar mendapati suami yang dicinta, berada dalam jarak rengkuhnya. Berjanji takkan pernah lagi membiarkannya pergi.

         Yak, hanya itu yang bisa kutulis pada kesempatan kali ini, hehe. Bagi yang penasaran, bisa memesannya di Penerbit Raditeens Publisher. Ini salah satu cerpen terbaik yang pernah kubuat. Kok, tidak perlu takut menyesal karena kalian takkan pernah menyesal pernah membacanya (ceilah kepedean dari mana ini datangnya :D).
Sampai jumpa direview buku berikutnya! ^^

Read More

Wednesday, March 30, 2016

[Esai] Andai Aku Punya 25 Jam Sehari

Ratna Juwita

         Waktu adalah hal yang paling mutlak dalam hidup manusia. Waktu bisa menenggelamkan masa lalu atau membawa kita menuju masa depan. Tidak sedetik pun waktu berkenan mundur untuk mengulang atau memperbaiki apapun di masa lalu. Waktu pula yang mengangkut kita, siap ataupun tidak, untuk menjemput masa depan yang pasti akan terjadi.

         Secara ilmiah, tidak ada yang dinamakan ‘sekarang’ karena ketika kita membicarakan peristiwa detik ini, secepat itu pula peristiwa tersebut telah menjadi masa lalu (Karla Farhana, 2015).  Jadi secara ilmiah, waktu hanya terbagi menjadi dua bagian saja, yaitu masa lalu dan masa depan.

         Fakta lain mengenai waktu adalah bahwa satu hari sebenarnya bukan 24 jam, melainkan 23 jam, 56 menit, 4,2 detik (Karla Farhana, 2015). Dalam sehari yang berisi sekitar 23 jam, 56 menit itu, apa saja yang kita lakukan? Sederhananya, jika kita bekerja selama 8 jam sesuai standar jam kerja, kita menyisakan kurang lebih 15 jam, 56 menit, kemudian waktu tidur kita kira-kira 6 jam, sisanya 9 jam 56 menit. Ditambah lagi aktivitas lainnya seperti berada di perjalanan, makan, mandi, dan aktivitas sehari-hari lainnya, kira-kira 3 jam. Sisa 6 jam 56 menit itu kita gunakan untuk apa?

         Jawabannya adalah melakukan hobi. Sebagian besar orang akan melakukan hal-hal yang disukainya di luar jam kerja dan keseharian, entah itu untuk tidur, membaca, belajar, dsb. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa 23 jam 56 menit itu adalah waktu yang singkat? Menurut saya, ya. Banyak sekali hal yang ingin dikerjakan, sedangkan waktu tak pernah berkompromi.

         Lalu, bagaimana jika satu hari itu 25 jam? Menurut penelitian, 200 juta tahun lagi, satu hari bukan 24 jam, melainkan 25 jam. Hal itu dikarenakan bulan mendekat dan menjauh ke bumi dan menyebabkan waktu melambat dua milidetik per abad (Mohamad Takdir, 2015). Walaupun hanya satu jam, akan ada banyak sekali hal-hal yang dapat kita lakukan.

         Misalnya untuk orang yang hobi belajar, satu jam tambahan itu cukup untuk mengulang beberapa materi dan mengerjakan tugas yang menumpuk. Ketika waktu 6 jam 56 menit, terhalang karena hal lain seperti menonton tv, bermain game, dsb. Satu jam sangatlah cukup untuk memburu tugas, selain tak meninggalkan kewajiban sebagai seorang pelajar, juga tak kehilangan kesempatan untuk menikmati kesenangan lainnya.

         Untuk orang yang hobi membaca, satu jam tambahan itu cukup untuk menuntaskan satu novel yang tak sempat terselesaikan karena urusan lain. Misalkan tugas-tugas menumpuk dari sekolah sangat menyita waktu hingga hanya memiliki 2 jam tersisa, dengan tambahan waktu satu jam, 3 jam adalah waktu yang cukup untuk menghabiskan satu novel.

         Untuk seorang penulis, misalkan  mampu menyelesaikan sebuah cerita pendek sepanjang 5 halaman dalam waktu 3 jam. Waktu yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari, hingga menyisakan dua jam dalam waktu normal, jika ditambah satu jam, cukup untuknya menghasilkan sebuah karya.

         Untuk orang yang hobi berpetualang, satu jam itu cukup untuk mendaki beberapa meter gunung atau menghabiskan waktu menikmati keindahan pantai, dsb. Jika dalam waktu sejam, seorang pendaki bisa naik ke gunung hingga 70 meter, atau lebih, dalam waktu 25 jam ia bisa mendaki setidaknya 1.750 meter. Lebih efisien, kan? Satu jam itu juga bisa dimanfaatkan untuk istirahat ketika lelah dalam pendakian tanpa mengurangi tinggi yang bisa didaki ketika waktu normal, yaitu 24 jam yang kira-kira bisa mendapatkan 1.680 meter.

         Banyak sekali hal yang dapat dilakukan dengan tambahan satu jam, selain contoh-contoh di atas. Waktu satu jam itu sangat berharga baik untuk orang dengan aktivitas yang padat maupun tidak. Tak jarang kita harus mengorbankan salah satu aktivitas, untuk melakukan aktivitas lainnya. Ketika berorganisasi, satu jam juga waktu yang cukup untuk menghasilkan keputusan dalam sebuah rapat.

         Akan tetapi, semua itu kembali pada diri kita sendiri. Tergantung bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu luang dan dapat memaksimalkan waktu yang kita punya dengan baik. Sekali lagi, waktu tidak akan pernah bisa diputar kembali, masa depan adalah hasil dari bagaimana kita memanfaatkan waktu saat ini. Kita yang hidup di masa ini, tak punya cukup umur untuk dapat hidup 200 juta tahun ke depan untuk bisa merasakan 25 jam dalam sehari. Karena itu, 23 jam, 56 menit, 4,2 detik setiap hari di masa ini, harus kita gunakan sebaik-baiknya.
Read More

Tuesday, March 22, 2016

Workshop Jurnalistik Clapeyron


Workshop Jurnalistik Clapeyron, Fakultas Teknik UGM
Ratna Juwita

         Pada tanggal 19 Maret 2016, Clapeyron (Jurnalistik Fakultas Teknik UGM) mengadakan workshop jurnalistik di Gedung Pusat Fakultas Teknik UGM, dalam rangka acara Claproyex (Clapeyron Proyek dan Expo). Claproyex dibuka untuk umum dan turut mengundang Pers Mahasiswa dari luar Yogyakarta. Pembicara yang diundang pada saat itu adalah Mbak Sekar Langit Nariswari, wartawan Harian Jogja yang juga merupakan lulusan Sastra Inggris UGM. Dan Mas Desi Suryanto, pewarta foto Harian Jogja.

         Acara dilaksanakan selama tiga hari, yaitu 18,19,20 Maret 2016. Selain workshop, talkshow, dan pameran, acara ini juga bertujuan untuk launching majalah Clapeyron edisi 61. Namun, saya hanya mengikuti workshop jurnalistiknya saja yang selain gratis, juga menyediakan sertifikat bagi peserta yang berjumlah sekitar 100 sampai 150 orang. Sayangnya, pada hari H yang datang hanya sekitar 50 orang saja.

         Acara dibuka pada jam sembilan oleh paduan suara Fakultas Teknik yang bernyanyi dengan sangat apik serta sambutan dari ketua Clapeyron. Workshop terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dibuka oleh Mbak Sekar yang menjelaskan mengenai dunia wartawan dengan sangat baik. Mbak Sekar juga menjelaskan proses penulisan berita yang baik, teknik menulis berita, tahap-tahap wawancara, dsb. Usai presentasi dan tanya jawab dengan peserta workshop, sesi pertama ditutup oleh pemberian piagam dan bingkisan kepada Mbak Sekar selaku pembicara.

         Workshop dilanjutkan ke sesi dua oleh Mas Desi Suryanto. Sedikit berbeda dengan Mbak Sekar, Mas Desi melakukan presentasi dengan diselingi guyonan yang cukup menghibur. Mas Desi menjelaskan dunia fotografi sebagai wartawan, seperti caption foto, cara mencari berita, membangun koneksi dengan berkenalan dan menyimpan nomor telepon orang-orang agar mudah mengakses informasi. Mas Desi juga menjelaskan bahwa tidak semua foto, halal dalam dunia jurnalistik, ada kode etik yang harus dipatuhi oleh setiap pewarta foto.

         Setelah berjalan kurang lebih dua jam, acara ditutup sekitar jam sebelas dengan membagikan majalan Clapeyron edisi 61 kepada Perwakilan Pers Mahasiswa yang hadir.
Read More

[Me Time] Apa yang Bisa Kulakukan untuk Indonesia?


Ratna Juwita

         Hari ini, di pelajaran PKN, aku ditampar dengan halus. Tidak oleh manusia, tapi oleh diskusi singkat antara mahasiswa dan dosen Arkeologi yang hari ini mendapat giliran mengajar di kelas PKN kelas B (kelasnya campur dari Sastra Jepang, Sastra Perancis, dan Arkeologi).

         Awalnya, seorang dosen wanita masuk seperti biasa, kemudian lanjut ke pengajaran. Beliau menyuruh kami membentuk kelompok untuk berdiskusi singkat mengenai pancasila. Tidak ada yang cukup menarik sampai saat itu, semuanya biasa saja, sampai akhirnya masuk ke pembahasan berikutnya yaitu tentang nasionalisme.

      Dosen itu kemudian mendekat ke tempat diskusi kami, beliau menanyakan, “Apa itu nasionalisme?”

         Saat itu entah keberanian darimana aku menjawab, “Nasionalisme itu cinta tanah air.”
Beliau kembali melanjutkan bertanya, “Bentuk nasionalisme yang bagaimana yang bisa dilakukan?”

         Detik setelahnya, aku sudah mengoceh mengenai membela tanah air sebagai warga Negara Indonesia. Mengenai bangsa ketika berada di bawah penjajahan, bahwa tidak mungkin kita sebagai warga negara yang baik yang mengaku mencintai tanah air ini untuk tidak membela negara, kita memiliki kewajiban untuk membela dan melindungi negara ini.

         Dosen itu tersenyum, kemudian bertanya lagi. “Itu zaman dulu, kalau sekarang? Pikirkan, ya!”

         Kami kembali ke diskusi. Apa yang bisa kita lakukan untuk Indonesia? Apakah benar kita masih memiliki nasionalisme itu?

         Beberapa saat kemudian, dosen tersebut memutarkan video, salah satunya adalah tentang Rio Harianto, pembalap F1 yang berulang kali membawa nama Indonesia di kancah balapan internasional dengan memenangkan pertandingan. Di situ bisa kulihat Rio berdiri sebagai nomor satu, ketika lagu Indonesia dikumandangkan, sebersit kenangan muncul.

         Aku melihat wajahnya saat itu, tersenyum simpul. Memandang penjuru sirkuit balapan seolah saat itu adalah miliknya. Tiba-tiba, gelora muncul dalam diri. Aku mengingat dengan jelas, saat wisuda kelulusan SMA, aku memiliki ekspresi yang sama dengannya ketika aku dinobatkan sebagai lulusan terbaik (ceilah). Aku yakin ekspresiku persis sepertinya, seakan menyiratkan mengenai: kebanggaan dan haru.

         Ada rasa bangga menjadi rakyat Indonesia ketika berdiri sebagai pemenang dunia. Dalam sudut pandangku juga ada rasa bangga ketika bisa kupersembahkan segala prestasi untuk ayah dan ibuku. Tapi saat ini yang ingin kusoroti bukan aku, melainkan Rio Harianto. Prestasi, perjuangan keras, dan masih menyandang nama Indonesia sebagai tanah airnya walaupun Indonesia tak memberi dukungan yang banyak untuknya.

         Dosen tersebut menambahkan bahwa di Indonesia saat ini pangsa pasar didominasi oleh perusahaan asing, seperti obat-obatan yang sekitar 80% adalah milik perusahaan asing, sebanyak 92% industri mesin didominasi perusahaan asing, dsb. Lalu, dimanakah peran warga Negara Indonesia sendiri? Hidup dalam negara sendiri yang dikuasai oleh orang asing.

         Kemudian, aku bertanya-tanya: Apa yang bisa kulakukan untuk Indonesia? Pertanyaan yang belum terjawab sampai saat ini.
Read More

Wednesday, March 16, 2016

[Puisi Cinta] Cinta dalam Diam


Ratna Juwita

Aku ingin mencintaimu
Sehening ketika bertahajud bersamamu
Dalam jarak batas ruang dan waktu
Aku ingin menyayangimu
Segetar hati kala kubaca Quran denganmu
Melebur malam dengan lantunan merdu
Aku ingin menyapamu
Sehalus saat kau bacakan Al Fatihah untukku
Memaknai ayat satu persatu
Tanpa jenuh, berdua menata kalbu
Agar nantinya takkan keliru
Menitih rahmat dan berlabuh
Seperti para pendahulu
Yang menyulam semua itu

Dalam diam, mereka beroleh cinta tak berkeluh


Malang, 14 Februari 2014
Read More

[Apresiasi Puisi] Sapardi Djoko Damono "Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari"

         

          Puisi menurut saya adalah rangkaian kata-kata yang terjalin indah dan memiliki makna yang menggambarkan apa yang tak sempat terucap oleh penyair. Tidak. Tentu salah apabila saya mengatakan bahwa puisi hanya diperuntukkan bagi para penyair terkemuka, atau orang-orang yang memiliki kandungan kata dan diksi yang luar biasa. Orang biasa tanpa pengetahuanpun asalkan ia dapat menggambarkan apa yang tengah dirasakannya menjadi sebuah puisi pun sudah jelas dapat membuat puisi. Namun, bedanya adalah apakah puisi itu bisa menjadi renungan dan diresapi banyak orang ataukah tidak.

Segala hal takkan pernah terlepas dari bagaimana hal itu berawal dan bagaimana hal itu bisa berkembang hingga sampai pada titik ini. Sama saja dengan puisi, puisi hingga bisa seperti sekarang ini telah mengalami banyak sekali perubahan terlampau era demi era. Dulu, puisi hanya berwujud mantra yang digunakan sebagai pemujaan untuk roh, dewa, ataupun kepercayaan lain yang dianut masyarakat jaman dahulu. Tapi, sekarang puisi berwujud bebas, indah, dan dapat dinikmati serta diapresiasi.

Pada era modern seperti sekarang ini, puisi dapat kita temukan dengan mudahnya di berbagai media cetak. Pada koran mingguan, maupun majalah, bahkan tabloid biasanya akan dengan mudah kita temukan puisi di dalamnya. Media-media percetakan saat ini sangat memudahkan para penyair-penyair muda yang ingin berkarya dan menerbitkan karyanya sehingga tidak hanya mendapatkan royalty, tapi juga membagi apa yang dirasakannya pada para pembaca.

Bahkan, kini lomba-lomba membuat karya sastra berbentuk puisi sudah sangat sering diadakan demi menggali bakat-bakat muda yang tak terjamah mata. Pada saat saya SMP, saya pernah mengikuti lomba puisi di sebuah universitas negeri di Malang dan saya menempatkan diri sebagai salah satu dari 10 orang penulis yang terpilih dari sekian ribu peserta untuk menempati predikat 10 besar pada lomba tersebut. Baru-baru ini saya juga mengikuti lomba menulis puisi yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan penerbitan untuk dimasukkan ke dalam antologi puisi bertajuk ‘Cinta Dalam Diam’.

Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa puisi di Indonesia kini sudah sangat dihargai, menulis puisi bukan hanya mudah, kita juga tak perlu menulis terlalu panjang untuk menciptakan sebuah puisi. Tapi, puisi terbaik yang takkan tertelan masa tentu memiliki kualitas diksi dan pendalaman makna yang sangat menawan dan menyita perasaan, apalagi pemikiran. Tidak sembarang orang bisa membuat puisi yang bagus, tapi semua orang memang bisa menciptakan puisinya sendiri, terlepas apakah puisi yang dihasilkan menjaring perhatian pembaca ataukah tidak.

Kemudian, mari kita tengok sejenak di internet sebagai media yang kini bisa dimanfaatkan siapa saja untuk mendapatkan apa saja. Apabila kita mencari di mesin pencari GOOGLE  pasti akan muncul banyak pilihan untuk kita memilah mana informasi yang paling tepat untuk kebutuhan kita. Pilihan-pilihan tersebut datang dari berbagai blog yang tersedia juga di internet, blog-blog itu dikelola oleh masing-masing orang yang ingin membagikan kepada banyak orang pengalaman, maupun informasi yang dimilikinya.

Dari blog-blog ini, bermunculanlah banyak karya-karya pribadi maupun karya para sastrawan terkenal yang dibagi, baik oleh orang-orang yang mungkin sudah dapat dikatakan sebagai ‘penyair’ yang telah banyak menerbitkan karyanya lewat berbagai media cetak, maupun para ‘penyair-penyair’ amatir yang ingin mempublikasikan karyanya lewat media elektronik, yang mungkin masih terlalu malu untuk dapat mengirimkannya ke media-media cetak.

Tidak hanya lewat berbagai media cetak maupun elektronik seperti yang telah saya sebutkan di atas, media pendukung lainnya dari bidang formal seperti sekolahpun sudah ikut andil banyak dalam menghasilkan bibit-bibit baru sebagai penyair. Prodi-prodi sastra telah ada di hampir semua universitas di Indonesia maupun dunia, yang berperan sangat penting dalam mengajarkan para penyair-penyair muda tentang cara untuk menghasilkan sebuah karya sastra yang bernilai.

Banyak sekali para sastrawan yang dapat dijadikan panutan dalam membuat karya sastra bernilai, dari era ke era, muncul satu persatu sastrawan-sastrawan terkemuka yang berperan penting dalam pembentukan karya sastra pada era sekarang ini. Mulai dari Amir Hamzah, sejak sebelum kemerdekaan, Chairil Anwar pada masa kemerdekaan, hingga sastrawan era 66 dengan puisi sedalam makna lautan dan sering dijuluki sebagai ‘sajak-sajak SDD’ yaitu Sapardi Djoko Darmono.

Sapardi Djoko Darmono dikenal sebagai sastrawan dan penyair yang memiliki kualitas puisi yang mengagumkan. Tiap baris puisi yang beliau tulis, masing-masing memiliki makna yang dalam tanpa celah, bahkan banyak puisi-puisinya yang ditangkup ke dalam bentuk lain yang disebut musikalisasi puisi. Diantara karya-karyanya adalah ‘Aku Ingin’, ‘Hujan Bulan Juni’, ‘Mata Pisau’, dan puisi yang akan saya ulas yaitu ‘Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari’ yang beliau tulis pada sekitar tahun 1987.

Dilihat dari judulnya saja, puisi ini menarik perhatian karena jujur saja, saya tidak tau makna dibalik judul yang beliau torehkan ke dalam puisinya ini. Biasanya, judul mengekspresikan isi dari sebuah karya sastra yang mewakili apa yang terkandung di dalamnya, dari mulai cerpen, puisi, sampai novel pasti memiliki pemilihan judul yang berperan apik dalam mewakili isi yang dikandungnya. Tapi, berbeda dengan puisi ini. Dari mulai judul, kita seakan dituntut oleh Sapardi untuk menggali lebih dalam apa yang terkandung dibalik rangkaian kata-kata ini.

‘Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari’. Saya berpikir ‘Berjalan ke barat’ berarti ‘menghadap ke arah kiblat’ dan mengapa beliau tak menggunakan kata ‘menghadap ke barat’ adalah karena ‘berjalan’ berarti mendekati tempat yang ingin kita tuju. Berbeda dengan hanya ‘menghadap’, kata ‘menghadap’ berarti meskipun kita menginginkan sesuatu, kita tak akan bisa mendapatkannya hanya dengan menghadapkan wajah kita padanya. Namun, ‘berjalan’ memiliki makna yang berbeda. Dengan ‘berjalan’ akan memungkikan kita untuk semakin mendekat dengan apa yang kita inginkan. ‘berjalan’ juga merupakan usaha dan untuk mendpatkan sesuatu yang kita inginkan, kita membutuhkan ‘usaha’ itu.

Sedangkan, mengapa saya menyimpulan ‘barat’ sebagai kiblat adalah kepribadian Sapardi Djoko Damono sendiri yang berlatar belakang sebagai orang yang religius. Beliau banyak menyebutkan mengenai firman Allah dan kata-kata lainnya yang memuja keagungan-Nya. Saya tidak menemukan arti lain ketika saya mencoba berpikir mengenai arti dari ‘barat’ kecuali ‘kiblat’, karena tak mungkin seorang Sapardi Djoko Damono menuliskan kata’barat’ tanpa kandungan makna yang tersisip di dalamnya.

Hal lain yang saya pertimbangkan dari judul yang beliau berikan pada puisinya ini adalah kata ‘Waktu Pagi Hari’. ‘Waktu Pagi Hari’ berarti ‘ketika matahari terbit’ dan sesuai teori ilmiah, matahari terbit sudah pasti dari sebelah timur. ‘Pagi Hari’ di sini juga tidak berarti ‘ketika matahari terbit’, bisa pula kita artikan ‘pagi hari’ di sini ketika benang putih di ufuk timur mulai merajut selendangnya, atau yang biasa kita sebut fajar. Fajar adalah waktu yang bisa kita sebut sebagai ‘pagi’ dan juga waktu ketika salah satu dari salat lima waktu dilaksanakan, yaitu ‘waktu subuh’.

Jadi, dapat kita simpulkan dari judul puisi yang saya ulas ini yaitu ‘Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari’ sebagai ‘Mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa ke arah kiblat sebelum matahari menyingsing’.

Pada bait pertama puisi ini setelah judul, terdapat rangkaian baris kata ‘Waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakang’. Saya berpendapat bahwa barisan kata ini bermakna ‘Kala ku bersujud di hadapan-Mu di waktu subuh, cahaya menyelemutiku dari belakang tubuhku, hangat menerpa raga dan ruhku’. Saya menyimpulkan demikian karena ‘waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi’, saya artikan sebagai ‘bersujud kepada Yang Maha Kuasa di waktu subuh’ dan kata selanjutnya yaitu ‘matahari mengikutiku di belakang’.

‘Matahari’ saya artikan sebagai pencahayaan terang yang hangat, yaitu bagian dari kerendahan hati seorang hamba yang bersujud di hadapan Tuhannya. Hal ini hanya terjadi apabila manusia telah begitu pasrah beribadah kepada Tuhan yang menciptakannya, memberikan kenikmatan dunia dan segala isinya. ‘Matahari’ di sini sebagai simbol terang usai kegelapan yang menyergap jiwa.

Kemudian kata ‘mengikutiku’ yang saya definisikan sebagai ‘menyelimuti ruhku’. Kata ‘mengikuti’ apabila kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari akan bermakna sesuatu yang ‘melakukan apa yang kita lakukan’, tapi saya mengambil kesimpulan lain bahwa ‘mengikuti’ di sini adalah ‘menemani’ yang apabila digabungkan dengan pemaknaan yang sebelumnya dapat pula menjadi kata ‘menyelimutiku’, ‘memberikan terang padaku’.

Dan kata ‘di belakang’ yang saya artikan ‘dari hal yang sebelumnya tak dapat kulihat’. Biasanya, orang normal takkan bisa melihat bagian belakang, kecuali dengan menoleh, itupun takkan menghasilkan penglihatan yang sempurna pada tubuh bagian belakang. Berarti, ‘cahaya itu datang dari tempat yang tak terlihat’. ‘Cahaya itu menyelimutiku, memberikan kehangatan pada jiwa dan ruhku dari tempat yang sebelumnya tak kujamah’. Mungkin, hal ini berarti Sapardi mendapatkan ilham dari ibadaha yang dilakukannya, yang dulu mungkin ia bukanlah orang yang cucukp religius, tapi segera setelah ia kembali pada Yang Maha Kuasa, ia diselimuti cahaya  yang sebelumnya ia tak pernah coba untuk meraihnya.

Bait selanjutnya berisi ‘Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang ke depan’, saya artikan bahwa Sapardi ingin mengungkapkan kalau ia tak memiliki tujuan lain selain mengikuti bayang-bayangnya. ‘Bayang-bayang’ ini dapat digambarkan sebagai ‘dirinya yang  lain’ entah itu sisi gelapnya ataukah sisi baiknya. Yang jelas, bayangan itu seperti cermin, walaupun tak setegas bagaimana cermin menggambarkan seseorang yang ‘sebenarnya’, ‘bayangan’ juga mewakili apa yang ‘diserupainya’.

‘Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri’. Mengapa ia tak mencari tujuannya sendiri? Dalam kalimat itu tak disebutkan bahwa ia akan pergi ke suatu tempat, karena ia bergerak berdasarkan gerak bayangannya. Namun, permasalahannya di sini adalah bahwa bayangan takkan bergerak apabila ‘yang dibayanginya’ tak bergerak. Otomatis, apabila Supardi menggambarkan dirinya berdiam diri saja, bayangannya pun tak dapat menunjukkan padanya apa-apa.

Pada kalimat ini, ia seakan seperti orang yang linglung. Bagaimana bisa secara logika, sumber dari bayangan bergerak mengikuti bayangannya? Saya menyimpulkan dari permasalahan yang saya sebutkan, bahwa Sapardi ‘memiliki tujuan’ sekalipun ia mengatakan ‘mengikuti bayang-bayangku sendiri’. Ia bergerak, menuju tempat ke arah barat, dimana matahari menyinarinya dari timur dan membuatnya bayang-bayangnya berada di depannya lalu menyimpulkan bahwa ia ‘seperti’ berjalan mengikuti bayangannya, karena bayangannyalah yang berada di depan.

‘Yang memanjang ke depan’ sudah jelas menandakan bahwa cahaya dari timur akan menyebabkan munculnya bayangan sesuatu yang terletak di sebelah barat. Sapardi tau, tujuannya adalah ‘mendekat’ pada Sang Ilahi, ia bergerak sesuai nurani dan jiwanya, bersujud dan ingin selalu lebih ‘dekat’, ia bergerak maju, lebih khusyu’, seolah dialah yang mengikuti bayangannya. ‘Bayangan’ pula, dapat diartikan sebagai rentetan kisah masa lalu yang kemungkinan besar berisi dosa, karena kodrat manusia yang tak akan pernah luput dari dosa.

Ia berjalan mengikuti bayang-bayangnya, mengungkap serentetan kisah masa lalunya, berharap memeohon ampunan dari Yang Maha Kuasa, seolah, memang jalinan kisah dosa itulah yang menuntunnya pada imannya sekarang. Ia menyesali apa yang luput dari sadarnya, apa yang khilaf dari lakunya.

Lalu pada baris ketiga tertulis ‘aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang’. Saya mengambil kesimpulan bahwa kalimat ini berarti, ia dan cahaya yang kini menyelimuti batinnya dengan iman, ‘tak bertengkar’ mengenai salah siapa kisah-kisah yang mungkin berupa rentetan dosa itu terjadi. Mereka tak berebut bayang, yang berarti mereka saling memiliki. Tanpa serentetan kisah itu, ia takkan berada pada jiwanya yang sekarang yang mungkin di rasa nyaman dilubuknya karena itulah apa yang telah terjadi adalah khilaf, yang selanjutnya adalah tobat untuk mencapai iman yang sebenarnya.

Kata ‘tak bertengkar’ yang tercantum dalam baris kalimat itu berarti ‘tidak menimbulkan masalah’, jelas bahwa tidak berarti ‘bayang-bayang’ itu meninggalkan penyesalan berlarut-larut yang dapat menyebabkan hilangnya logika orang yang ingin bertaubat. Ia menerima cahaya itu dan di waktu yang sama, ia bersyukur atas dosa yang diperbuatnya dulu.

Pada baris terakhir, ‘aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan’. Ini saya simpulkan sebagai ‘tak masalah siapa yang memulai untuk bertaubat antara aku dan kisah masa laluku’. Ia berdiri di belakang bayang-bayang, tak berarti bayang-bayang memimpin dan memerintah apa yang dilakukannya, sebaliknya dia sendirilah yang menentukan dan memutuskan apa yang ingin dan harus diperbuat oleh dirinya sendiri. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa bayang-bayang ada mengikuti apa yang dibayanginya, apabila sesuatu yang dibayanginya bergerak, bayang-bayang pun juga akan ikut bergerak dan berpindah tempat, kalaupun sesuatu yang dibayanginya diam, takkan ada kesempatan baginya untuk dapat merubah posisi kecuali sumber cahayanyalah yang merubah posisi bayang-bayang itu.

Jadi, kesimpulan pada bait terakhir ini adalah ‘Kau dan aku sama-sama berperan dalam perjalanan iman ini’.

Secara keseluruhan, puisi ini seperti puisi-puisi lainnya, sangat menguras pikiran pembaca untuk lebih memahami apa sebenarnya yang dirasakan oleh penulis dan ingin disampaikannya kepada pembaca. Puisi seperti ini memang sangat menarik untuk diapresiasi mengenai bagaimana menurut apresiator mengenai makna sebenarnya yang terkandung dalam puisi tersebut.

Kelemahannya, puisi seperti ini seringkali menimbulkan multi tafsir bagi pembaca dan apresiator, tentu saja tergantung bagaimana setiap orang memaknai puisi ini. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai pendapatnya tentang sebuah puisi, terlebih puisi semacam ini yang sangat terkenal karena penulisnya yang ‘memiliki makna dalam di setiap kata yang ditulisnya dalam puisi ciptaannya’. Sapardi Djoko Damono.

Dilihat dari sudut pandang diksi, puisi ini tergolong puisi dengan kata yang cukup padat, memang di dalam puisi ini terdapat banyak pengulangan kata, namun dengan intensitas makna yang berbeda, sehingga menghasilkan pemikiran yang berbeda pula walaupun dengan kata yang sama. Apabila dijadikan musikalisasi puisi, puisi ini tergolong puisi yang cocok untuk itu. Kata-kata yang terekam dalam puisi ini memiliki makna yang dalam dan bahasa yang pas untuk dijadikan sebuah lagu.


Read More

[Puisi Kehidupan] Para Perempuan Itu

Ratna Juwita

Sosok yang disebut dalam Quran-Nya,
para perempuan itu
Dalam kasih, bayi menangis mesra
Direngkuh tangan kekar sukma
Masih, senyum tersungging makna
Pupus segala durja sembilan bulannya
Para perempuan itu
Telapak kaki sarat surga
Madrasah pertama penerus bangsa
Dan dalam luh tangis dzikir tak berkesudah
Demi suami, orangtua, darah dagingnya
Bara batin menyala
kala suami dikurung duka
Resah, gundah menyapa
ketika orangtua dijamah petaka
Luruh, debu menjelma
saat anak digenggam nestapa
Para perempuan itu
Segala doa dirapal untuk yang dicinta
meski sakit, walau pelik
Mereka... kokoh di pijakan rapuh, tabah
Para perempuan itu
Yogyakarta, 14 Maret 2016



Read More

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com