Thursday, December 13, 2018

[Prosa Pendek] Berharap

Ratna Juwita

Dan biarkan "berharap" itu menjadi ucapan paling akhir dalam pengusahaan. Sebab, kadang ia menjadi kata yang tak pernah toleran membabibutakan, menjadi kata paling naif yang meluluhlantakkan. Pada sesiapa menyimpan, menganakpinakkan "berharap" pada yang selain Keesaan, maka binasalah dalam keniscayaan. Tapi, enyahlah pula penyamaan "berharap" dan "harapan", tersebab kedua itu saling bersisian. Bukan, bukan saling menggantikan, tapi memang berbeda jalan.

Apabila "berharap" itu tak disemayamkan di perbatasan akal dan batin, hilanglah sudah seluruh bahagia yang coba dikecap paksa. Tidak. Tak ada yang mampu mendiktekan sandiwara apapun di hadapan pemilik segala Maha. Secuil pun hampa.

Duhai kau pengejewantahan skenario tak bernama, pelaku segala nafsu yang dinaungi kuasa, selalu camkan bahwa dunia yang kau anggap surga adalah fana adanya. Sisihkan selamanya "berharap" pada yang tak nampak di pelupuk mata, namun berada di dasar samudera semua indra agar tak lari tangismu di pelukan nestapa.

Dan hanya pada Pelukis semesta jiwamu abadi dalam keterasingannya.



Yogyakarta, 16 Mei 2018

0 Creat Your Opinion:

Post a comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com