Thursday, December 13, 2018

[Book Review] Menampik Stigma Brondong dalam Novel Revan & Reina

(sumber gambar di sini)

Judul : Revan & Reina
Sub Judul : “Look, don’t leave”
Penulis : Christa Bella @Bellawrites
Penerbit : Penerbit Ikon
Tahun Terbit : Cetakan pertama, Juni 2016
Tebal : 286 hlm.
ISBN : 978-602-74653-0-5

Rate: 3/5





Christa Bella adalah penulis kelahiran 21 September 1996. Ia lebih dulu malang melintang dalam dunia kepenulisan di Wattpad. Karya-karyanya telah dibaca jutaan kali melalui akunnya @Bellawrites dan telah mengantongi sekitar 45 ribu follower. Selain menulis, ia juga mengikuti manga, anime, film, drama Korea, dan menggemari musik klasik. Karya-karyanya yang pernah diterbitkan diantaranya adalah Cherry Blossom, L’Éternité et Aprés, Flummoxed, dan Toxic.

Revan & Reina merupakan novel pertamanya yang kubaca. Sebelumnya, aku selalu menghindari novel dengan label ‘Wattpad’ karena aku tidak terlalu suka cerita remaja yang kekanakan dengan segala kelabilannya. Ditambah lagi, judul novel ini tidak membangkitkan daya tarik bagiku. Nama tokoh yang digunakan sebagai judul membuatku membangun benteng pribadi bahwa cerita Wattpad memiliki kesan yang picisan. Aku sudah banyak melihat novel jebolan Wattpad yang mengunakan nama tokoh sebagai judul dan membuatku semakin tidak ingin membacanya. Namun layaknya sudut pandang pemeran utama yang berubah seiring jalan cerita, membaca novel ini sedikit demi sedikit meruntuhkan stereotip yang kubangun sendiri itu. Meskipun judul juga menentukan minat baca, isi yang ‘unik’ dan ‘menarik’ juga mengambil peranan yang penting dalam cerita.

Novel yang memakai sudut pandang ketiga ini bercerita mengenai sepasang muda-mudi remaja yang berstatus pacaran; Revan dan Reina. Revan berumur empat tahun lebih muda dari Reina yang seorang mahasiswi. Mereka menjalani hubungan yang bisa dibilang sangat seru, asyik, tidak ada jaim alias jaga image, apa adanya, dan lucu. Cerita mereka mengalir dengan bumbu-bumbu rahasia yang ditebar sepanjang cerita. Rupanya, biang masalahnya adalah masa lalu Reina: Fabian. Reina ditinggalkan oleh Fabian tiga tahun lalu dengan alasan yang sama sekali bias. Reina memang tidak memiliki hubungan yang spesial dengan Fabian, tapi Reina telah ‘nembak’ Fabian lebih dulu dan berakhir dengan menghilangnya Fabian tanpa kabar. Setelah tiga tahun, Fabian kembali dengan kenyataan yang menyesakkan. Alur pun mulai bergerak maju dan mundur antara masa kini Reina dengan Revan dan masa lalu Reina dengan Fabian.

Seperti yang dapat diduga, jalan cerita novel remaja memang tidak akan jauh-jauh dari urusan percintaan yang njelimet. Sempat berhenti membaca karena di awal-awal, aku merasa jalan cerita terlalu bertele-tele dalam pengenalan tokoh-tokohnya. Akan lebih baik apabila awal cerita tidak disuguhkan terlalu muluk dengan kehidupan sehari-hari tokoh yang terkesan biasa dan tidak spesial. Aku juga sempat berhenti membaca karena bahasa yang digunakan terlalu kasar untukku. Banyak sekali kata-kata umpatan bertebaran di novel ini yang membuatku merasa tidak nyaman membacanya.

Tidak hanya tokoh laki-laki, tapi tokoh-tokoh perempuan juga berdialog dengan kata-kata umpatan. Berbekal penasaran akan akhir ceritanya, aku melanjutkan membaca dan ternyata cukup menikmati kelucuan interaksi antara Revan dengan teman-teman yang sama badungnya: Aldo, Angga, dan Bagas. Pembaca disuguhkan gambar handphone beserta pesan chat mereka yang mau tidak mau, membuatku tertawa ketika membacanya. Chatting mereka terasa begitu alami dengan guyonan dan ejekan mereka satu sama lain. Aku sampai penasaran, bagaimana Christa Bella bisa menciptakan suasana dan interaksi sealami itu? Sama sekali tidak terasa dibuat-buat. Itu adalah salah satu nilai plus dalam novel ini. Selain enak dinikmati karena pembaca disuguhkan dengan ilustrasi chat langsung dalam handphone, candaan mereka pun ngena semua. Aku malah keasyikan membaca chat mereka.

Hal menarik yang paling kusoroti dalam novel ini adalah tokoh utamanya, Revan dan Reina, yang memiliki jenis hubungan cinta antara laki-laki yang berusia lebih muda dari perempuan. Umumnya, perempuan lebih tertarik menjalin cinta dengan lelaki yang seumuran atau lebih tua darinya. Akan tetapi, sosok Reina justru tidak mempermasalahkannya. Revan pun tidak menggubris ejekan atau candaan teman-temannya yang acap kali mengolok hubungan “brondong”-nya dengan Reina. Mereka berdua melawan stigma masyarakat bahwa perempuan yang berhubungan dengan lelaki yang lebih muda darinya biasanya justru menjadi seorang ‘pengasuh’. Laki-laki yang lebih muda dianggap lebih kekanakan ketika menjalani hubungan, tapi tokoh Revan dan Reina menampik stigma tersebut dengan hubungan yang justru terlihat asyik dan seru.

Karakter Reina yang terkadang bisa menjadi lebih kekanakan dari Revan, tapi juga bisa berubah menjadi sosok yang dewasa dan bijaksana, merupakan tambahan nilai plus tokoh-tokoh novel ini. Karakter Revan yang badung, lucu, dan nyentrik pun sukses membuatku tak bisa menahan tertawa. Hanya saja, beberapa karakter tokoh seperti Dira tidak digambarkan secara spesifik, sehingga membuatku justru merasa Dira, adik tiri Fabian yang tidak diketahui latar belakang keluarganya, hanya sebagai sosok yang ‘numpang lewat’. Selain itu, beberapa typo juga terpindai dalam radar bacaku, seperti ‘nafas’ pada halaman 96 yang seharusnya ‘napas’. Meskipun begitu, beberapa typo tersebut tidak terlalu mempengaruhi bacaan.


Kesimpulan


Penggunaan gaya bahasa yang cair dan menggunakan kata sapaan “Gue-Lo” membuat novel ini mudah dibaca semua kalangan. Namun, perlu diperhatikan bahwa beberapa umpatan dalam novel ini sebaiknya tidak dibaca oleh anak-anak berusia di bawah 13 tahun. Secara keseluruhan, novel ini menyajikan konflik yang ringan, mudah dicerna, dan interaksi yang menarik antar tokoh-tokohnya. Hubungan Revan-Reina seolah memberikanku sudut pandang baru bahwa memiliki hubungan dengan “brondong” bukanlah suatu masalah selama bisa menerima dan mengatasi ego masing-masing. Novel ini memberikan gambaran hubungan yang asyik antara dua orang yang tidak terkekang oleh batasan usia dan stigma dari masyarakat pada umumnya.

***

Resensi ini mendapatkan juara 1 dalam lomba menulis resensi yang diadakan oleh Penerbit Ikon pada Januari 2018 lalu. 

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com