Read More

5 CM: Buku yang Menyelamatkanku

Ratna Juwita
Read More

Ary Nilandari - Penulis Wattpad yang Tidak Menye-Menye

Ratna Juwita
Read More

Know Your Limits

Ratna Juwita
Read More

PETRIKOR

Ratna Juwita
Read More

Into The Unknown

Ratna Juwita

Tuesday, December 31, 2019

[Cerita Pendek] PETRIKOR



Ratna Juwita

Hujan pun pernah sesekali ragu; menimang-nimang kesiapannya sendiri untuk terhempas ke sekian kali di atas bumi. Meninggalkan awan ... dengan perasaan yang selamanya diputuskan mati. Agaknya, awan tak pernah bertanya lebih dulu, acuh pada nafsu hujan untuk bertahan. Hujan jatuh dengan suara debam yang paling hening ... sering tak terdengar, tapi telah sangat menyakitkan. Namun, kehilangan awan ternyata lebih menghancurkan.”
***

Dua bulan yang lalu ...

Rama meremas bunga yang dibawanya, Suara plastik pembungkus bunga yang seolah menjerit kesakitan, tak dihiraukannya sama sekali. Rama menatap lurus ke arah Mega, sahabat sejak kecil yang ingin dijadikannya istri itu. Mega terlihat bahagia, wajahnya tersenyum cerah. Di tengah taman, dikerumuni banyak orang, seorang laki-laki yang dikenal Rama sebagai teman sekantor Mega tengah berjongkok. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Perlahan, laki-laki itu membuka kotak dan menyembulkan sebuah cincin dengan berlian berwarna biru. Rama tercekat.

“Maukah kau ... menjadi wanita yang setiap pagi, kulihat pertama kali ketika mataku terbuka?” Gilang, kalau Rama tidak salah ingat nama laki-laki itu.

Bisik-bisik di sekitar mereka terdengar. Sebagian wanita berjingkat dan menjerit tertahan. Tidak ada yang terlihat menyumpahi adegan itu selain Rama. Jantung Rama berdegup. Terlalu keras hingga ia yakin orang-orang di sebelahnya bisa mendengar dengan jelas. Matanya berkunang-kunang. Bunga yang ia remas, tidak begitu saja menjadi debu seperti yang ia harapkan saat itu.

Rama mengenang. Sepertinya baru kemarin ia pergi berdua dengan Mega. Gadis bermata teh itu. Baru kemarin mereka bercanda berdua, menikmati seluk beluk kota yang riuh menyambut tahun baru. Harapan baru. Memori kemarin masih terekam jelas di benak Rama, bahkan ia yakin bisa menyebutkan aktivitasnya dan Mega tiap detik. Kemarin. Beberapa jam yang lalu.

Ulu hati Rama berdenyut. Nyeri. Rasa kehilangan Mega mendadak menyergap begitu dekat dan cepat.

“Apa kau ... mau menjadi istriku?” Suara Gilang kembali mengisi keributan. Sontak, semua mata yang tertuju pada mereka, terdiam.

Mega terlihat malu-malu. Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Rama mengumpat dalam hati, berharap—walau ia tahu sia-sia—Mega tidak akan menerima lamaran Gilang.

Tiba-tiba, hujan turun. Rerintik yang kemudian menjadi hujan. Orang-orang berlarian mencari tempat berlindung, sebagian lainnya langsung menggunakan payung yang sempat disiapkan. Bau air hujan yang pertama kali mencumbu tanah, tercium lekat di hidung Rama. Bau yang orang sebut petrikor.

Harapannya mengkhianati. Rama tahu. Detik ketika Mega mengangguk adalah waktu yang paling ingin ia bunuh.
***

“Pada akhirnya, ia hanya teresap, teralir, teruap, dan bertemu tempat singgah yang baru; awan yang lain. Jatuh cinta, lalu tersakiti lagi tanpa mampu seutuhnya ... bersama awan yang dimau. Yang diingini. Kadang rindu hadir begitu menyiksa ketika aliran juga resapan terasa berabad lamanya. Kadang teresap itu ... menghilangkan, hingga di suatu tempat, ia muncul lagi; mengalir dan memuara. Mengikuti kelok tanah di bumi yang tak pernah baik mengombang-ambingkannya.”
***

Sebulan yang lalu ...

“Rama!”

Rama bergegas mengemasi lembar-lembar ujian. Pura-pura tak mendengar panggilan gadis yang sampai saat ini masih ia cintai itu. Sinta menerobos masuk ruang kelas.

“Rama!” Mega menghentakkan tangan Rama ketika lelaki itu melewatinya begitu saja, tapi tak cukup membuat Rama berbalik menghadapnya. Rama berhenti. Membelakanginya. “Kamu kenapa, sih? Aku merasa ... sebulan ini kamu menghindariku. Telepon nggak diangkat, kirim pesan nggak dibales, aku panggil nggak nengok—“

“Aku ada urusan.” Rama berlalu sambil menenteng tas dan kertas-kertas hasil ujian murid-muridnya. Ia tidak menoleh, tidak mengizinkan tubuhnya berbalik dan memeluk Mega dan tak pernah melepaskannya lagi. Selamanya. Namun, ia tidak bisa. Tidak bisa menghadapi kenyataan dan menimang-nimang perasaannya sendiri. Padahal, ia telah mencoba jatuh cinta pada gadis lain. Sebagai pelarian. Tapi perasaannya tidak ingin menjadi pembangkang. Tidak juga ingin berkompromi.

“Rama, berhenti egois!” teriak Mega. Teriakan itu menggema di kelas yang telah sepi. Anak didik Rama telah membubarkan diri beberapa saat yang lalu tepat setelah bel berbunyi. Kaki Rama terhenti tepat di pintu kelas.

Mega sudah meluangkan waktu. Mencoba meninggalkan kantornya lebih cepat begitu pekerjaannya selesai untuk menemui Rama di sekolah. Begitu ada kesempatan, Mega menerjang masuk ruang kelas Rama yang telah sepi. Saat itu, Rama tengah menata lembar-lembar ujian yang baru saja dikumpulkan murid-muridnya sembari mengecek kelengkapan nama dan nomor presensi mereka. Rama tidak menyangka Mega nekat datang ke ruang kelasnya. Ia sudah berusaha menghindar, tapi Mega tak juga mau mengalah.

“Sudah, cukup! Ada apa sebenarnya denganmu? Kau bertingkah seperti anak kecil yang kehilangan balon. Kau ....” Mega tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia menyibakkan rambut ke belakang kepala dengan tangan kanan. Tanda bahwa ia tengah marah.

Rama meremas kertas ujian yang berada di tangannya. Ingin sekali ia meneriakkan pada Mega bahwa ia begitu mencintai gadis itu hingga tak lagi bisa melihatnya karena takut rasa kehilangan membutakan mata. Hari itu. Di hari Gilang melamarnya adalah hari yang juga dipilih Rama untuk meminang Mega. Bagaimana takdir bisa begitu kejam?

“Kau masih tak mau bicara?” Mega mengembuskan napas berat. Frustasi. Mega mengambil napas lalu mengembuskannya perlahan. Rama masih memunggunginya. “Sejak kecil, kita selalu saja begini, Kau marah dan aku selalu menjadi pihak yang meminta maaf.” Suara Mega terdengar lebih tenang. Ia menempelkan diri ke atas kursi guru di ruang kelas itu. “Aku tak mempermasalahkannya. Tak apa jika aku yang selalu meminta maaf terlebih dahulu, asalkan kau mengatakan padaku kesalahanku atau hal yang membuatmu marah. Aku bukan cenayang yang selalu bisa mengerti isi hati maupun pikiranmu. Aku ... hanya seorang sahabat yang ingin membahagiakan sahabatnya.”

Rama merasakan duri bermunculan dalam dada. Menggores hatinya sedikit demi sedikit. Kata ‘sahabat’ yang dulu begitu disukainya, entah mengapa menjadi begitu pahit untuk sekadar didengar.

Mega terkekeh. “Entah sejak kapan aku merasa ... aku selalu menjadi pihak yang serba salah. Seharusnya wanita selalu benar, tapi jika berhadapan denganmu sepertinya hanya akulah wanita yang selalu salah. Apakah di dunia ini ada wanita yang seperti aku atau laki-laki yang sepertimu?”Mega merunut papan kayu di sampingnya. Merasakan debu halus dari kapur yang berjatuhan di tepian papan tulis.

Rama menggigit bibir bawahnya. Mega benar. Ia selalu kekanakan. Ia selalu menyalahkan Mega atas segala hal yang menimpa dirinya. Namun, tak ada wanita yang lebih sabar dari Mega dalam menghadapinya. Gadis itu tak pernah mengeluh, sampai hari ini. Rama sudah akan mengatakan sesuatu, tapi suara Mega membuatnya menelan kembali ucapannya.

“Sekarang, terserah padamu. Aku ... lelah. Datanglah ke pesta pernikahanku bulan depan. Aku akan sangat senang melihatmu di sana.”

Mega berdiri, melangkah perlahan hingga ia melewati Rama yang masih mematung di pintu kelas. Rama tak bergeming dan itu membuat Mega semakin tegas melangkahkan kaki. Meninggalkan Rama dan sejuta pertanyaan tak terjawab di benaknya.
***

“Ia pernah ... menjadi begitu kotor, mengalir bersama benda-benda padat yang tak jarang berbau amis, busuk, dan ... menjengahkan. Namun, ia juga pernah menjadi sangat bersih, diteguk, melewati lorong-lorong yang tak panjang, mengendap beberapa saat, lalu terkucur pesing.”
***
           
Sehari sebelumnya ...

“Rama! Ada berita gawat, Mega—“

“Ah, sudahlah!” Rama berteriak frustasi. Mega. Mega. Mega. Nama itu tak sedikit pun keluar dari otaknya dua bulan belakangan. Bahkan, di hari istimewa bagi Mega ini, hari pernikahan Mega dengan Gilang ini, Rama masih belum bisa berdamai dengan perasaannya sendiri.

Rama berdiri dari tempat tidurnya yang berwarna hitam. Akibat kekacauan hatinya, ia juga mengubah semua dekorasi kamarnya menjadi warna hitam. Meja, dinding, kursi, semua ia cat menjadi warna hitam dalam waktu seminggu saja untuk memperingati rasa dukanya. Walaupun sedikit, warna hitam itu bisa membuatnya merasa lebih baik.

Sudah sebulan sebelum pernikahan Mega dengan Gilang, Rama terus mengurung diri. Ia sempat berpikir mengacaukan pesta pernikahan sahabatnya itu, tapi ia urungkan. Ia tidak bisa berlaku sekeji itu. Ia sudah merasa bodoh karena tidak mengacaukan lamaran Gilang di taman kota dua bulan lalu. Setidaknya, kalau saat itu ia mengacaukannya, ia takkan merasa semenyedihkan ini.

“Rama, dengarkan aku dulu!” Kakak Rama, Sinta, masih bersikeras. Wanita yang telah melahirkan seorang anak laki-laki itu mengerti benar kekacauan hati Rama saat ini. Ia tidak menyalahkan, juga tidak mendukung. Bagaimanapun, sedih berkepanjangan bukanlah pilihan.

 Rama tidak ingin mendengar. Ia menangkupkan dua tangan ke telinga. Sudah cukup. Ia tak lagi ingin mendengar seseorang menyebut nama Mega. Kakinya berjalan mondar-mandir menghindari Sinta.

“Rama!” Sinta melepas paksa kedua tangan Rama. Usahanya berhasil tanpa perlu mengeluarkan tenaga besar karena Rama tidak memiliki tenaga yang cukup akibat tidak makan selama dua hari.

Rama terkesiap. Kaget dengan tubuhnya sendiri yang baru terasa selemas itu. Tangannya gemetar. Matanya beradu pandang dengan Sinta.

Sinta menarik napas dalam-dala, sambil memejamkan mata sejenak. Ia tak kuasa menyampaikan berita yang begitu menyedihkan itu, apalagi dengan keadaan Rama yang begitu terpuruk. Akan tetapi, ia tak bisa menyembunyikannya. Cepat atau lambat, Rama pasti segera mengetahuinya.

“Rama, dengar ...,” Sinta memulai. Lamat-lamat. “Mega ... Mega ... Mega meninggal karena kecelakaan ... saat pergi ke salon rias ....” Bibir Sinta bungkam seketika begitu melihat air mata turun perlahan dari manik mata Rama. Sinta seperti bisa mendengar tangis Rama yang tak terdengar.

Mulut Rama megap-megap. Membuka seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi menutup kembali beberapa saat kemudian. Begitu terus hingga Sinta memutuskan memeluk Rama. Tubuh Rama terguncang, merosot ke lantai walaupun Sinta sempat menopangnya. Sinta ikut terduduk. Ia juga tak kuasa melihat adiknya sehancur itu. Tepatnya, ia tidak pernah melihat Rama seperti itu, bahkan di hari kematian orang tua mereka tiga tahun lalu. Sinta mempererat pelukannya. Takdir sepertinya tengah asyik bermain-main dengan perasaan Rama, mencoba membuat Rama akrab dengan kehilangan.
***

“Bukan alam namanya jika tak mempermainkannya. Pernah. Ia begitu dalam mencintai untuk kemudian dikhianati oleh nasib. Berulang kali hingga ia sadar ... hidupnya tak diciptakan untuk memilih.

Rama membacakan sebuah cerita yang ia tulis sendiri dengan menganalogikan kehidupannya dengan hujan. Sesekali, ia berhenti karena nyala lilin bergoyang-goyang ditiup angin yang merangsak masuk dari celah-celah ventilasi. Ia mengembuskan napas tertahan, seolah ingin menangis.

Suara guntur dan hujan lebat yang terdengar dari luar rumah tak merisaukannya. Ia merasa sangat tenang berada di rumah kosong peninggalan orang tuanya itu. Tak ia hiraukan keramaian di luar sana dan suara kentongan yang dipukul dengan sangat berisik. Membangunkan tiap-tiap mata yang seharusnya terlelap malam itu. Rama terkekeh. Dalam hati, ia bertanya sangsi, untuk apa semua keributan itu di saat ia, di dalam rumah kosong itu ia justru merasa begitu mengawang-awang.

Rasa perih di hatinya hilang. Tak ada lagi nama Mega yang menghiasi kepala. Ia tak lagi merasa bahwa kehidupan tak adil. Tidak lagi. Sekalipun takdir mencoba kembali bermain-main dengan hatinya, ia akan memikirkan ribuan cara untuk membalikkan kemalangan menjadi kesenangan yang diciptakannya sendiri. Jika takdir begitu membencinya, maka adalah tugasnya mencari sendiri letak kebahagiaan. Di ujung dunia sekalipun, ia akan mencari.

Suara keributan semakin menjadi-jadi. Hujan deras tak membuat orang-orang mengurungkan niat untuk saling membangunkan satu sama lain. Pukul dua dini hari itu, kampung mereka berlompatan dari tempat tidur karena suara kentongan yang dipukul begitu keras. Sebagian dari mereka saling bertanya perihal yang terjadi.

“Ada apa?”

“Siapa yang memukul kentongan seribut ini?”

“Ada kebakaran?”

“Ayo kita berkumpul di sana, bawa payungmu!”

Suara-suara terdengar bersahutan. Rama mengenali sebagian suara, tapi tidak lainnya. Bulu kuduk Rama sedikit berjingkat ketika terdengar suara yang sangat akrab di telinganya terdengar dari luar.

“Ada apa ini? Mengapa ribut-ribut?” Itu suara Sinta yang bertanya pada para tetangga yang berlarian.

“Mayat!” Seorang ibu berhenti karena Sinta memegangi tangannya.

Sinta kebingungan. “Mayat apa?”

“Mayat berjalan!”

“Apa?” Sinta bertanya frustasi karena tak mengerti. Ibu-ibu yang biasanya berjualan sayur itu juga terlihat kebingungan menjelaskan. Dasternya basah kuyup karena ia tak mengenakan payung.

“Ada mayat hilang!” Akhirnya, ibu itu menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan keadaan. Sinta mengerutkan kening. Ia menggoncangkan tangan ibu yang berusia setengah baya itu.

“Mayat hilang? Mayat siapa?”

“Mayat Mega hilang!”

Bersamaan dengan sambaran kilat, suara guntur menyahut, mewakili guntur yang bergema dalam hati Sinta. Tubuh Sinta bergetar. Ia biarkan ibu itu pergi berkumpul dengan ibu-ibu lain di pos ronda di ujung kampung. Beberapa laki-laki melewatinya begitu saja, terlihat terburu-buru sambil membawa peralatan yang bisa dibawanya; cangkul, payung, tongkat, dan sebagainya.

Jantung Sinta berdebar. Hal yang ditakutkannya menjadi kenyataan. Ia menepis bayangan satu-satunya orang yang mungkin melakukannya. Tidak. Ia tidak bisa menuduh tanpa bukti yang jelas. Tepatnya, ia berharap bayangannya salah. Ia berharap kejadiannya tidak seperti yang dipikirkannya.

Suami Sinta, Ridho, menyusul beberapa saat kemudian. Ia menggendong anak mereka yang terbangun karena keributan itu. Setelah menenangkan anaknya, Ridho memutuskan membawanya serta.

“Sinta? Ada apa ini?” Ridho memayungi Sinta yang sudah terlihat sangat basah. Ia biarkan hujan menyesap ke baju, asal tidak pada anak dan istrinya. Sinta tidak segera menjawab pertanyaan Ridho. Sinta memandang kosong dan penuh ketakutan ke arah orang-orang yang kini berkumpul di pos ronda. Ia bahkan tak bisa lagi merasakan dingin yang menusuk telapak kaki telanjangnya.

Rama terkekeh tanpa suara mendengar suara-suara di luar rumah kosong itu, termasuk suara Sinta dan kakak iparnya, Ridho. Rama mengelus rambut Mega yang telah tertutupi kain kafan kotor dan lusuh. Susah payah ia menggali kuburan Mega beberapa waktu lalu. Rerintik hujan tak dibiarkannya menyurutkan usaha demi bisa bersua kembali dengan gadis yang dicintainya. Ia menemukan dunianya dan tak membutuhkan apapun lagi. Selamanya, ia bisa bersama dengan Mega.

“Mega, aku mencintaimu. Tetaplah di sini bersamaku.”

Rama meletakkan tubuh kaku Mega yang terbungkus kain kafan di pangkuan, lalu memeluknya erat-erat. Bau petrikor menyusupi indra penciumannya.
***

Read More

Sunday, December 29, 2019

[Cerita Pendek] Into the Unknown


(sumber gambar di sini)

Ratna Juwita



“Kamu percaya gak, kalau kamu bener-bener pengin sesuatu, terus kamu minta sungguh-sungguh dan yakin, semesta pasti bakal berkonspirasi buat ngewujudin permintaanmu?”


“Fal … Falo … Falo!”


Mataku terbuka, sedikit terasa berat dan panas. Aku tidak langsung menegakkan badan untuk melihat makhluk kurang ajar yang mengganggu tidurku. Aku tidak akan repot-repot menoleh karena sangat mengenal suara itu. Uh, mimpi itu lagi. Sialnya, lagi-lagi aku dibuat bangun dalam keadaan menangis.


“Woy, udah bangun kan, lo?”


Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa dia. Aksen Jakartanya yang khas sangat mudah dikenali.


Makhluk kurang ajar itu berusaha mengintip wajahku yang menghadap ke jendela. Buru-buru kuusap air mataku sebelum ia memergoki. Mataku lurus menatap wajahnya yang dihiasi sebuah cengiran lebar tanpa ada gurat rasa bersalah sama sekali. Aku mendengus, lalu menegakkan badan.


“Jam makan siang kantor malah tidur. Makan, Bro! Sakit lo ntar.” Mario menghempaskan pantatnya di kursi sebelah.


“Menurut penelitian, tidur siang selama sekitar 15 menit bisa ningkatin produktivitas kerja. So, itu nasi buatku?” Aku menyerangnya dengan pertanyaan langsung untuk menghemat tenaga bicara. Mataku melirik kantong plastik di tangan kanannya.  


Mario mengerutkan dahi, “Weh, lo serem ya, sering banget bener tebakannya. Lo beneran cuma asal nebak apa sebenernya bisa baca pikiran orang sih?” Dia mengatakannya sembari meletakkan bungkusan itu di atas meja kerjaku.


Aku hanya bisa memberikannya cengiran. “Thanks, Rio! Meskipun kelakuanmu kayak setan, tapi hatimu baik kayak setan yang udah tobat.”


“Yee, ngejek gue mulu lo, kucing! Sini!” Mario memasang muka pura-pura marah. Tangannya terulur untuk merebut kembali nasi bungkus yang sudah kudekap dengan kedua tangan, tapi segera kutepis. Sekilas ketika tangan kami bersentuhan, aku tahu dia ingin menceritakan tentang seseorang padaku.


Mario tidak salah saat mengatakan bahwa aku bisa membaca pikiran orang lain, tapi aku tidak akan pernah mengatakan rahasiaku itu pada siapa pun, termasuk dia. Aku pernah menyakiti seseorang  dengan kemampuanku ini dan itu menjadi hal yang paling kusesali sampai saat ini. Kalau bisa, aku ingin lupa bahwa aku punya kemampuan ini. Dan kalau bisa, aku ingin berjumpa kembali dengan orang itu.


Sambil cengengesan, aku membuka bungkus makanan yang ternyata berisi nasi rames. Perutku berbunyi, siap menerima makanan di depanku dengan sepenuh lambung.


“Lo kenapa sih, tiap diajak ke reuni SMA gak pernah mau? Lo pasti nyesel karena temen-temen cewek kita di SMA … beuhh … sekarang jadi pada cakep-cakep banget, Bro!”


Here he goes.


Mario mengatakannya sambil memainkan bolpoin karakter berwarna kuning yang selalu ada di meja kerjaku. Aku melirik sekilas ke arah bolpoin itu. Menahan mati-matian otakku untuk tidak membangkitkan kenangan tentang dia. Oke, aku tahu aku akan selalu gagal untuk urusan ini.


Kepalaku manggut-manggut. Pura-pura antusias. Sesendok penuh nasi dan lauk berhasil mendarat mulus di mulutku.


“Lo kan udah lama jomlo, sampe gue gak inget lagi kapan terakhir kali lo punya hubungan sama cewek. Lo beneran bukan gay, kan?” Mario memandangku dengan tatapan ngeri.


Aku memasang wajah mencibir. Enak saja, aku bahkan terlalu normal sampai-sampai melupakan satu cewek saja tidak bisa. Namun, aku hanya terus mengunyah. Tak menanggapi.


“Kemarin nih, ada cewek yang gak pernah keliatan di reuni sebelumnya. Katanya, dia baru balik dari Australia dan lagi buka praktik apa gitu … bimbingan konseling apa, ya?” Mario mencoba mengingat-ingat sesuatu meskipun aku yakin dia tidak akan ingat. Otaknya tidak didesain untuk mengingat hal selain cewek. “Ah, pokoknya itulah!”


Aku tertawa. Memangnya kami anak sekolahan pakai bimbingan konseling segala?


“Wah, lo rugi banget gak dateng soalnya itu cewek cantik banget! Beneran! Walopun gue gak inget pernah sekelas sama dia sih. Katanya, dia udah pindah duluan ke luar negeri beberapa bulan setelah masuk ke sekolah kita gitu.” Dia terlihat sangat antusias seolah baru bertemu langsung dengan artis Korea kesukaannya. Aku masih tidak tertarik.


Mungkin karena melihatku yang jauh lebih asyik melahap nasi rames daripada bertanya lebih lanjut tentang cewek itu, dia mengembuskan napas, meletakkan bolpoin karakter kuning ke tempat asalnya, lalu menepuk-nepuk pundakku. Aku menaikkan alis. 


“Untung gue udah punya tunangan, kalo gak, udah gue sambar dia.” Mario mengeluarkan sesuatu dari balik kantong bajunya, lalu menyodorkan padaku kertas persegi panjang kecil yang sepertinya adalah kartu nama. “Nih, barangkali lo bisa bimbingan konseling sama dia. Tempat praktiknya di dekat sini kok. Plis, Bro. Jangan nyiksa diri lo buat seseorang yang gak pernah ada.” Aku mengerutkan kening mendengar perkataannya. Dia hanya menganggukkan kepala seolah sangat paham dengan kondisi mentalku, lalu beranjak pergi sebelum aku sempat mengatakan apa pun.


Aku memang pernah menceritakan pada Mario soal dia, tapi sama seperti orang lain, Mario sama sekali tidak ingat tentang dia. Mataku beralih dari punggung Mario yang menjauh, ke kartu nama yang diletakkannya di depanku. Di sana tertulis: ‘Adriana E. Putri, B.S., M.S., Psikolog’ lengkap beserta alamat dan nomor teleponnya. Tiba-tiba dadaku terasa nyeri. Aku tidak butuh ke psikolog, sungguh. Aku hanya butuh bertemu dia. Sesederhana itu.

***


“Elisa?” Bu Berta, guru biologi kami sedang membacakan presensi.


Seseorang mengangkat tangan. Spontan, aku menoleh ke sebelah kiri. Terkejut.


“Hadir,” ucap seorang gadis asing yang duduk tepat di sebelah kiriku.

Aku langsung berdiri dari tempat duduk dan menimbulkan suara gaduh yang berasal dari gesekan antara kaki kursi dan lantai. Kegaduhan kecil yang kubuat sukses menarik perhatian Bu Berta dan teman-teman sekelas. Aku memandang gadis itu lamat-lamat. Mata kami bertemu. Wajahnya terlihat datar.

"Ada sesuatu, Falo?" Suara Bu Berta menyadarkanku dari keterkejutan. Aku menoleh ke arah Bu Berta, lalu mengedarkan pandangan pada teman-teman sekelas yang kini menjadikanku pusat perhatian.

Aku mencoba mengenyahkan keterkejutanku, "Bu, dia ...?" Tanganku menunjuk pada gadis itu. Mataku kembali bersinggungan dengan mata hitamnya.

"Ya? Ada apa dengan Elisa?" Bu Berta balik bertanya dengan nada suara yang sangat normal seolah-olah keberadaan gadis bernama 'Elisa' di sana adalah sesuatu yang wajar. What? Aku ganti memandang teman-teman sekelas. Tidak ada yang bereaksi.

Mulutku megap-megap tanpa berhasil mengeluarkan suara sama sekali. Sungguh demi Tuhan, selama ini aku duduk sendirian di bangku pojok kiri belakang. Di dekat jendela. Aku memang sengaja tidak duduk tepat di tepi jendela, melainkan di bangku sebelahnya lagi karena sinar matahari kadang begitu mengganggu. Sekarang, ada seseorang di sana! Aku mengucek kedua mataku.


"Falo, jangan membuat keributan. Pelajaran akan segera dimulai. Duduk lagi di bangkumu!"

Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti kata-kata Bu Berta meskipun aku masih sangat terkejut. Kutarik lagi kursiku ke tempat semula, lalu duduk dengan ragu-ragu. Begitu pantatku menempel ke kursi, gadis di sebelahku membuang muka.

Aku masih sibuk memerhatikan gadis itu dengan penuh tanda tanya. Gadis itu nyata. Rambut hitamnya tergerai sedikit di bawah bahu. Ia menopangkan dagunya di telapak tangan kanan dan terus mengarahkan pandangan ke jendela. Entah apa yang sedang dilihatnya. Mungkin ia sedang melihat anak kelas sebelah yang sedang mengikuti pelajaran olahraga, atau langit yang terlihat cerah dengan awan berarak, atau … hei! Bukan itu poinnya!


Aku tidak bisa berkonsentrasi selama pelajaran berlangsung. Jujur, bukan karena dia cantik atau apa, tapi siapa yang tidak akan bergidik ngeri jika bangku yang selama ini kosong tiba-tiba ditempati oleh seseorang?

***


“Rio, kamu kenal cewek yang duduk di sebelahku?” Aku berbisik ke telinga Mario saat jam istirahat tiba. Ketika bel berbunyi, aku langsung beranjak dari bangku dan menariknya menepi ke dinding.


Mario mengerutkan kening, lalu melihat ke arah bangkuku. Aku mengikuti arah pandangannya. Gadis itu masih duduk di sana sambil memandang ke luar jendela. “Siapa? Maksud lo Elisa? Lah, dia kan teman sekelas kita, selalu duduk di sebelah lo. Lo ngejek gue, ya? Meskipun gue bego, gue pasti ngenalin temen sekelas gue lah gila aja lo!” Mario terlihat tersinggung.


Napasku tertahan. Dia jujur. Aku tahu karena aku bisa membaca pikiran orang dengan menyentuhnya! Kulepaskan lengan Mario dan langsung menyentuh teman-teman yang masih ada di kelas. Aku melontarkan pertanyaan yang sama sambil menyentuh mereka dan semuanya menjawab serupa: itu Elisa, teman sekelas kita.


Ketika Mario mengajakku ke kantin, aku hanya menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan. Aku sedang tidak nafsu makan. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa hanya aku yang tidak mengenali gadis itu? Tunggu, apa aku amnesia? Atau mataku bermasalah sehingga selama ini tak pernah melihat ada ‘orang’ yang duduk di sebelahku?


Aku mengacak rambut, frustrasi.

***


Keesokan harinya, aku memutuskan untuk berangkat pagi-pagi buta ke sekolah. Jam di tanganku masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Sip, siapa yang akan datang ke sekolah sepagi ini? Bahkan, ini adalah rekor untukku. Semalaman aku hampir tidak bisa tidur memikirkannya. Aku bertekad akan menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri: Elisa datang dari pintu dan duduk di sebelahku. Kalau aku berani, aku juga akan coba mengajaknya bicara. Kalau aku berani, catat.


Aku menaiki tangga ke lantai tiga—setengah berlari. Namun, begitu sampai di pintu kelas, tubuhku menegang. Aku sampai lupa untuk bernapas. Oh, for God’s sake! She is there! Iya, di bangku paling ujung sebelah jendela!

Situasi masih sangat sepi. Hanya ada satu dua anak yang berpapasan denganku ketika aku menaiki tangga. Jantungku hampir berlarian pergi ketika Elisa melirik ke arahku. Tajam. Tanpa Ekspresi. Seolah ia memang tahu bahwa aku memerhatikannya dari tadi, kemudian menebarkan ancaman untuk tidak mengusiknya. Bulu kudukku berdiri. Tiba-tiba saja angin yang terasa dingin membelai tubuhku. Aku bergidik.
***


Sejak adegan horor pagi itu, aku tidak pernah lagi berangkat pagi ke sekolah. Lebih baik aku datang terlambat daripada harus mengulangi kejadian yang sama. Aku bukan orang yang penakut, sungguh, tapi gadis itu sukses membuatku merinding disko.


Seminggu sudah terlewati sejak pertama kali aku menyadari keberadaannya. Selama itu, aku terus memerhatikannya. Dia terlihat SANGAT normal. Maksudku, dia memang lebih sering memandang ke luar jendela daripada mengikuti pelajaran. Namun, ketika guru berkali-kali menegurnya sembari memberikan pertanyaan yang sulit, dia bahkan bisa menjawabnya dengan mudah. Oke, itu mungkin justru semakin membuatnya terlihat ‘tidak normal’.


Pernah suatu ketika, Bu Berta—yang terkenal galak—sedang tidak dalam mood yang baik, ia sengaja memberikan pertanyaan yang sulit pada Elisa. Mungkin ia pikir Elisa adalah sasaran empuk untuknya yang sedang emosi tingkat dewa.


Bu Berta memberikan pertanyaan sulit tentang otak dan dengan sadisnya ia menyuruh Elisa menyebutkan semua nama bagian-bagiannya. Tanpa diduga, Elisa bisa menyebutkan semuanya dengan kecepatan ekstra lengkap dengan fungsinya. Bu Berta dan kami semua cuma bisa melongo.


“…. Sistem Limbik bertanggungjawab atas emosi manusia. Yang termasuk dalam sistem ini adalah hipotalamus, bagian dari thalamus, amigdala yang aktif menghasilkan amarah dan rasa takut, hippocampus—”


“Stop!” Bu Berta memotong kalimatnya. Aku tidak tahu sampai mana Elisa akan menjelaskan semuanya kalau Bu Berta tidak menghentikannya saat itu. Setelah berhenti mengoceh soal otak, Elisa kembali menoleh ke arah jendela. Sejak itu, tidak pernah ada lagi guru yang berusaha untuk mengusiknya.

***


“Keluarkan alat tulis kalian dan letakkan hanya bolpoin, pensil, serta penghapus saja di atas meja. Selain alat tulis yang saya sebutkan, masukkan ke dalam tas kalian!”


Mataku melotot ketika aku tak menemukan kotak pensilku di mana pun. Aku membungkuk untuk melihat ke dalam laci. Nihil. Oh, tidak. Sepertinya aku meninggalkannya di atas meja belajar setelah belajar semalaman dan ketiduran. Aku lupa memasukkannya lagi ke dalam tas!


Aku menghela napas sejenak, sibuk mengedarkan pandangan sambil menimang-nimang siapa yang sekiranya mau meminjamkan bolpoinnya. Sistem pinjam-meminjam bolpoin di antara anak sekolah adalah sebuah perbuatan yang ‘tabu’ karena berisiko tidak akan kembali. Karena itu, di kelas seolah ada peraturan tidak tertulis mengenai larangan pinjam-meminjam alat tulis.


Tuk tuk tuk …


Di tengah kebingungan, aku mendengar suara sesuatu bergulir. Aku melongok ke bawah dan mendapati sebuah bolpoin bening dengan garis warna-warni yang khas. Hanya dengan melihatnya saja, aku tahu siapa pemiliknya.


Aku mengambil bolpoin itu ragu-ragu. Kuberanikan diri menoleh sedikit demi sedikit ke arah Elisa yang masih saja memunggungiku. Dia menatap jendela. Takut-takut, kusodorkan bolpoin itu ke mejanya.


“Mmm, bolpoinmu jatuh,” ucapku sesingkat mungkin.


Kukira, dia tidak akan mengatakan apapun seperti biasanya dan hanya akan membalas orang yang mengajaknya bicara, dengan tatapan yang intens dan tajam. Ternyata tebakanku salah.


Elisa sedikit menoleh. “Aku gak butuh. Pake aja kalo mau.” Untuk pertama kalinya, aku mendengar suaranya yang tidak sedang menjawab pertanyaan guru dan itu membuatku sangat terkejut.


Dan untuk pertama kalinya pula aku memandang mata hitamnya tanpa membuat bulu kudukku berdiri. Dari jarak super dekat. Entah kenapa, aku merasa seperti melihat tempat asing tak berujung yang gelap dan dalam di matanya. I feel like ... I step into the unknown.


Jadi, dia benar-benar manusia?

***


“Elisa, makasih bolpoinnya. Kamu sengaja jatuhin kan, karena tau aku gak bawa bolpoin?” Sejak hari itu, aku terus mengulang-ulang kalimat yang sama dan mendapat reaksi yang sama darinya: lirikan tajam. Malah aku merasa kian hari kian tajam.


Selama hampir dua minggu, aku selalu melakukannya. Lama-lama, kalimat itu seperti pengganti ucapan ‘selamat pagi’ untuk Elisa. Sepagi apapun aku datang, Elisa selalu sudah ada di sana lebih dulu. Aku tidak tahu apakah dia sebenarnya tidak pernah pulang atau apa, tapi kurasa itu mungkin karena rumahnya berada di sekitar sekolah, jadi dia cepat sampai … ah, sejak kapan aku jadi berpikir positif padanya?


Aku tahu dia tidak akan meresponsku seperti sebelum-sebelumnya, jadi aku hanya ingin memberinya sesuatu sebagai ucapan terima kasih karena sudah memberikanku bolpoinnya. Kuletakkan sebuah bolpoin karakter kuning yang aku beli dari toko buku kemarin sepulang sekolah. Karena biasanya para gadis menyukai benda seperti ini, kupikir Elisa juga mungkin akan menyukainya.


“Ini, sebagai ucapan makasih udah ngasih aku bolpoinmu. Anggep aja kayak kita tukeran.”


Elisa menoleh. Menatap ke arah bolpoin karakter yang kuulurkan padanya, lalu mendongak padaku sambil mengangkat kedua alisnya.


Tanpa dia perlu mengatakan apapun, aku seperti bisa mendengar pertanyaannya, 'apaan nih?'

“Bolpoin karakter. Aku pikir, kamu bakal suka,” jawabku.


Keraguan tampak singgah sebentar di wajahnya, tapi pada akhirnya bolpoin karakter itu berpindah ke tangannya. “Makasih,” ucapnya lirih. Hampir tidak terdengar.


Kepalaku mengangguk sebagai balasan. Aku menghempaskan diri di tempat duduk dan berniat membuka tas sebelum akhirnya gerakanku berhenti. Aku mematung.


Tunggu, apa dia baru saja mengucapkan ‘makasih’ padaku?


Aku menoleh padanya. Mataku langsung disambut oleh wajahnya yang telah lebih dulu menoleh ke arahku. Aku berusaha mati-matian untuk tidak salah tingkah, tapi tidak berhasil. Itu adalah kali pertama dia benar-benar menoleh sepenuhnya ke arahku! Refleks, mataku mencari-cari objek lain untuk dilihat. Apa pun asal bukan matanya.


Aku mendengar dia mendengus. Senyum—sangat—tipis menghiasi wajahnya. “Kelakuanmu kayak remaja lagi puber aja.”


Aku menatapnya tak percaya. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah dikatakannya pada seseorang—selain tentang pelajaran. Dan, hei … aku memang masih remaja … dan aku sedikit tidak nyaman dengan kata ‘puber’ itu.


 “O-oh ya?” Aku bingung bagaimana harus merespons ucapannya.


Kami dicekam keheningan yang cukup lama, sebelum akhirnya dia bertanya, “Kamu percaya  dunia paralel itu ada?”


Hah? Dari mana datangnya topik ini tiba-tiba? Elisa menopangkan dagu dengan telapak tangan kirinya dan menatapku. Aku berkutat dalam pikiran kosong untuk menjawab pertanyaannya.


Terdiam. Sangat lama.


Sial! Kemana perginya kosa kataku? Kenapa otakku sering tidak berfungsi ketika aku SANGAT membutuhkannya?


“Ah, mm, anu …” Astaga! Apakah bibirku tidak bisa mengucapkan sesuatu yang lebih keren dari sekedar ‘ah mm anu’? Apakah aku tidak bisa mengatakan kalimat semudah ‘ya aku percaya’ atau ‘apa itu’?


Elisa tersenyum. Senyum pertama yang kulihat terbit di wajahnya. Jantungku seolah memantul antara langit dan tanah. Aku sibuk menerka-nerka, apakah senyuman itu adalah hukuman yang dipersiapkan semesta untuk membuatku sejenak lupa cara mengerjapkan mata?


Buset, dari mana pula datangnya kata-kata puitis itu? Hei, otak! Dibandingkan mengarang puisi seperti itu, keluarkanlah kalimat yang sedikit berguna agar kami bisa berinteraksi dengan normal!


Obrolan kami kemudian berakhir dengan pertanyaannya yang tidak mampu dijawab oleh otak lambanku.

***


Selama berhari-hari, aku sibuk memikirkan jawaban untuk pertanyaannya, tapi terlalu membingungkan. Dunia paralel? What the hell is that? Aku memang pernah mendengarnya di suatu tempat, tapi tidak benar-benar tahu apa itu. Akhirnya, aku memutuskan untuk membuka internet untuk mencari segala sesuatu tentang dunia paralel.

Dari semua informasi yang berhasil kukumpulkan, aku hanya bisa menyimpulkan bahwa dunia paralel adalah dunia tempat diri kita yang lain juga menjalani kehidupan secara bersamaan, tapi dengan kondisi, situasi, dan latar belakang yang mungkin berbeda. Teori Dunia Paralel lahir karena interpretasi mengenai banyak dunia dalam mekanika kuantum. Oke, aku tidak terlalu paham dengan kalimat yang terakhir. Aku lupa bilang bahwa aku tidak begitu menyukai Fisika.


Apa Elisa menyukai fisika? Aku tidak menyadarinya karena ia menguasai semua bidang pelajaran. Pemahamannya jelas jauh melebihi aku dan teman-teman sekelas. Apa dia hanya sekadar basa-basi ketika menanyakannya karena tahu aku tidak akan mengerti maksudnya?

***


Aku meraih kertas ‘rencana masa depan’ dari teman di depanku, lalu memberikan satu kertas untuk Elisa. Ah, aku tidak suka ini. Mengapa kita harus memikirkan masa depan jika kita bisa hidup untuk hari ini? Aku tidak ingin memikirkan mau jadi apa nantinya, tidak bisakah selamanya kita menjadi remaja seperti sekarang?


“Kamu percaya gak, kalau kamu bener-bener pengin sesuatu, terus kamu minta sungguh-sungguh dan yakin, semesta pasti bakal berkonspirasi buat ngewujudin permintaanmu?”


Kepalaku menoleh ke arah Elisa. Dia mengatakannya sambil menulis sesuatu di atas kertas itu. Aku melirik bolpoin karakter pemberianku yang digunakannya, lalu beralih ke kata yang dituliskannya di kolom cita-cita.


“Ini bukan ujian, kamu gak perlu nyontek.” Elisa melirikku dengan tajam.


Bibirku membentuk cengiran lebih dulu. “Kamu percaya sesuatu kayak gitu?” Elisa hanya mengangguk sebagai jawaban, tanpa menoleh ke arahku. “Kalo dipikir-pikir, kamu kan pinter, nilaimu selalu bagus. Kamu pasti tipe orang kayak gak banyak masalah. Jadi kamu bisa percaya sesuatu kayak gitu. Menurutku, percaya aja gak cukup sih. Hidup gak segampang pengin, terus bakal terwujud.” Aku meletakkan kepala di atas meja. Wajahku mengarah padanya.


Raut wajah Elisa berubah. Ia terlihat … marah?


“Orang yang tampak ‘baik-baik’ aja, bukan berarti gak punya masalah. Cuma gak diungkapin aja.” Elisa mengalihkan pandangannya dariku. Kembali menekuri kertasnya.


Aku tidak menyangka dia akan bereaksi seperti itu. Apa dia punya masalah? Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benakku. Aku pura-pura tidak sengaja menggelindingkan bolpoinku ke mejanya, lalu mengambil bolpoin itu dengan cepat. Sengaja menyentuh tangannya.


Sekilas ketika tangan kami bersentuhan, aku bisa melihat seorang gadis kecil dengan darah di ujung bibirnya dan seorang laki-laki paruh baya yang sedang mengacungkan pisau padanya. Seorang perempuan yang terlihat sedikit lebih muda dari laki-laki itu, berusaha melerai mereka, hingga akhirnya pisau itu justru tertancap di tubuh ringkih perempuan itu.


Aku terkejut. Tanpa adar, tubuhku bergerak menjauh dari Elisa. Apa yang baru saja kulihat? Aku membeku cukup lama sampai tidak menyadari tatapan Elisa yang … tajam dengan mata memerah … seperti … mau menangis. Aku mengerjapkan mata, kebingungan.


“El-Elisa—“


“Kamu pikir dengan memiliki kemampuan itu, terus bikin kamu bisa seenaknya baca pikiran orang lain, gitu?”


Aku terkesiap. Pertama karena kata-katanya benar, kedua, dari mana dia bisa tahu kalau aku bisa membaca pikiran orang?


Aku tidak tahu apakah bunyi bel adalah pahlawan kesiangan di situasiku saat ini atau bukan, tapi aku sedikit merasa lega. Setelah menyuruh kami mengumpulkan kertas ‘rencana masa depan’ besok, guru meninggalkan ruang kelas. Elisa masih menatapku, dengan pandangan yang sudah tidak bisa lagi kutahu artinya. Walaupun masih bingung, pada akhirnya tubuhku bergerak meninggalkan ruang kelas. Meninggalkannya.

***


Astaga, aku pengecut sekali. Dibandingkan meminta maaf, aku malah lebih memilih untuk segera kabur darinya. Aku tak percaya ini! Katakanlah aku cowok yang brengsek, tapi seharusnya aku minta maaf ketika tahu orang lain tersakiti oleh kata-kata atau tindakanku, bukan malah menghindar dan bersikap seolah tak peduli.


Selama ini, ada kalanya aku berpikir bahwa kemampuan ini adalah sebuah kutukan. Bagaimana tidak? Aku bisa melihat masa lalu, bahkan hal-hal privasi orang lain dan itu membuatku sangat kelelahan. Seringkali, aku tahu alasan buruk di balik perbuatan baik orang lain padaku atau ketika mereka hanya datang saat membutuhkanku. Jujur saja, semua itu membuatku muak!

Namun harus kuakui, kemampuan ini juga membantuku untuk lebih memahami orang lain, sekalipun manusia tidak sesederhana itu. Manusia itu makhluk yang kompleks. Emosi yang tercipta dalam otak mereka sering bercampur baur satu sama lain. Ketika masuk ke dalam pikiran mereka, aku seperti melihat lorong tak berujung yang sering aku sebut '
unknown world'. Dan pikiran Elisa adalah salah satu unknown world yang seharusnya tak kumasuki tanpa izin!

Napasku memburu. Jarak antara rumah dan sekolah lumayan jauh jika ditempuh berjalan kaki, tapi tanpa sadar aku sudah berlari ke sekolah. Di kamar, aku sama sekali tak bisa tenang. Hal yang ada di pikiranku hanyalah kembali ke sekolah dan menemui Elisa. Titik. Aku harus meminta maaf padanya.


Harus kuakui bahwa yang dikatakannya hampir selalu benar. Pertama, seharusnya aku tidak berkata seolah orang lain tidak punya beban hidup. Setiap orang pasti punya, mereka hanya tidak menampakkan atau tidak mengungkapkannya saja. Seharusnya akulah orang yang paling tahu soal ini.


Kedua, aku benci mengakuinya tapi dia benar bahwa seharusnya aku tidak menggunakan kemampuan itu untuk kepentinganku sendiri. Apalagi jika menyangkut privasi orang lain. Setiap orang pasti punya sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain, termasuk dia. Wow, aku tidak menyangka aku begitu … bodoh.


Gerbang sekolah hanya tinggal beberapa meter di depanku. Aku berhenti berlari untuk mengatur napas sejenak. Aku baru menyadari sesuatu, memangnya siapa yang menjamin bahwa Elisa masih akan berada di kelas? Aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul enam sore. Ah, sudahlah. Ini sudah lebih dari terlambat untuk kembali. Tidak masalah apakah dia masih ada di kelas atau tidak, setidaknya aku mencoba daripada hanya berdiam diri di kamar dan dihantui perasaan bersalah.


Aku sudah bersiap untuk berlari lagi, tapi niatku terhenti ketika mataku menangkap sosok gadis yang sangat familiar keluar dari gerbang sekolah Aku memerhatikan lamat-lamat gadis itu. Dia berjalan ke arah zebracross di depan sekolah. Tidak butuh lama bagiku untuk menyadari bahwa itu Elisa!


“El—"


Suara decit ban yang memekakkan telinga, mengagetkanku. Sebuah truk melintas dari arah belakang dengan cepat. Truk itu terlihat oleng. Mataku langsung menyisir ke arah truk itu melaju. Di depan sana, seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang masih bayi, sedang menyebrang jalan.

Otakku belum sepenuhnya memproses semua kejadian ketika kulihat Elisa berlari ke tengah jalan. Napasku tercekat. Tubuhku berubah kaku saat melihat Elisa mendorong ibu itu ke trotoar, mengenyahkannya dari laju truk yang tak terkendali.


Detik berikutnya, tubuh Elisa terlempar dan mendarat dengan keras setelah memantul beberapa kali di atas aspal. Truk menabraknya dengan telak sebelum akhirnya menabrak pagar pembatas jalan. Aku merasa waktu sempat berdetak sepuluh kali lebih lambat dan tubuhku terasa seratus kali lebih berat. Begitu tersadar, aku sedang berlari menuju tubuh Elisa yang tergeletak lemas di tengah jalan. Kakiku kebas. Kepalaku mendadak terasa sangat pening. Elisa ... Elisa ...

Saat akhirnya berhasil meletakkan lututku di samping tubuhnya, aku hanya bisa menggumamkan namanya, “Elisa … Elisa ….” Suaraku terdengar bergetar.

Air mataku sudah meluncur deras, berbaur dengan darahnya. Aku ingin menyentuhnya, tapi tidak kuasa melihat tubuh itu berlumurah darah. Tubuhku gemetar hebat. Isakanku segera berubah menjadi tangis sedu sedan.


Aku menoleh ke sana ke mari, berusaha berteriak meminta tolong, tapi yang keluar dari mulutku justru hanya suara tangisan. Siapapun, tolong ...

Beberapa mobil dan motor berhenti. Beberapa pengendara terlihat langsung menelepon. Aku baru berhenti meracau ketika tanganku terasa hangat. Aku menunduk. Jemari Elisa sudah berada di sana. Aku beralih memandang wajahnya yang berlumuran darah. Dadaku terasa seperti terbakar.


'Kamu pasti bingung gimana aku bisa tahu kalo kamu bisa baca pikiran orang lain, ya kan?’
Mata hitamnya kini terlihat semakin gelap di bawah sorotan cahaya bulan. Ia sedikit membuka mulut, meski tidak ada satu suara pun keluar dari sana. Dia sedang berbicara menggunakan pikirannya.

 ‘Di duniaku yang asli ... ada kamu juga, tapi kamu versi nyebelin .... Kamu selalu cari gara-gara sama aku. Makanya sejak kita pertama ketemu, aku selalu anggep kamu ... kayak musuh. Di duniaku pun, kamu bisa baca pikiran orang, tapi kamu gak takut buat ngasih tau semua orang kalo kamu punya kemampuan itu ... beda banget sama kamu yang di sini ... makasih, kamu kasih warna di hidupku yang seringnya gelap. Aku ... sangat suka bolpoin yang kamu kasih.'

Elisa meletakkan bolpoin karakter kuning dalam genggamanku. Aku bisa melihat sedikit senyum tergurat di wajahnya yang justru membuat dadaku terasa semakin sesak.

Detik berikutnya, tubuhnya berangsur menghilang. Aku mengerjapkan mata, mengucek kedua mataku dengan tangan berlumuran darah. Tangisanku menjadi-jadi. Aku sudah tak mampu lagi menopang tubuhku tepat saat tubuhnya benar-benar hilang. Begitu juga darahnya.
***


Sejak kejadian itu, aku tak pernah melihatnya lagi. Tidak hanya itu, tidak ada guru dan teman-temanku yang menanyakan soal Elisa. Bahkan yang paling parah, tidak ada siapa pun yang mengingatnya, kecuali aku!


Kesedihan itu masih menempel lekat di hatiku. Sosoknya yang berlumuran darah, lalu menghilang entah ke mana, membuatku berulang kali harus menahan nyeri di dada. Sesak. Saat dia hilang, terasa ada sesuatu juga yang hilang bersamanya.


Setiap hari, aku selalu berharap akan menemukannya lagi duduk di bangku sebelah jendela. Di sampingku. Namun, setiap hari pula harapanku kandas ketika melihat bangku itu tak pernah lagi dihuni. Bahkan mungkin, seperti tidak pernah ada siapa pun sebelumnya di sana.


Seringkali, aku mendapati diriku sendiri menangis. Saat ia menyentuh tanganku untuk terakhir kali, aku mengetahui semuanya. Elisa datang dari dunia paralel yang entah di mana. Kilasan kejadian yang pernah kulihat saat aku sengaja menyentuh tangannya adalah sebagian kecil dari kisah hidupnya di dunia yang lain. Ia berusaha lari dari kenyataan tentang keluarganya yang tragis.


Sekarang aku tahu alasan Elisa percaya bahwa semesta pasti akan mengabulkan permintaan kita jika kita meminta dengan sungguh-sungguh. Karena dia mengalaminya sendiri. Semesta mengirimnya ke 'dunia yang lain', di mana dia bisa menjadi Elisa yang lain, tapi semesta jugalah yang membuatnya hilang dari dunia yang tak semestinya ditinggalinya. Di balik wajah yang dingin itu, mengapa tersimpan begitu banyak kehangatan dan kebaikan? Jika saat itu ia bersikap egois, ia tak perlu mengorbankan diri untuk orang lain dan masih hidup sampai saat ini!

Saat aku melihatnya keluar dari gerbang sekolah, ia baru saja mengambil bolpoin karakter pemberianku yang sempat tertinggal di kelas. Jika seandainya aku tidak memberikannya sebuah bolpoin karater, apakah hasilnya akan berbeda? Jika ia tak kembali ke sekolah untuk mengambil bolpoin karakter yang tertinggal itu, apakah saat ini aku masih bisa bertemu dengannya? Apakah dengan begitu ia takkan melihat seorang ibu yang hampir tertabrak truk, lalu berusaha menyelamatkannya?

Orang-orang menganggap itu keajaiban. Si ibu hanya merasa ada seseorang yang mendorongnya. Namun, mereka semua tidak tahu! Tidak akan pernah tahu bahwa Elisalah yang menciptakan semua keajaiban itu!

Teman-temanku menjalani hari seperti biasa, tapi aku tidak. Hari sejak aku bertemu dengannya adalah hari ketika semuanya berubah dan hari ketika dia menghilang juga adalah hari ketika hidupku tak lagi terasa sama. Aku belajar mati-matian setiap hari agar otakku tak pernah lagi memikirkan tentangnya. Namun, sekalipun di hari kelulusan ketika aku menjadi lulusan terbaik, senyum yang mengembang di wajahku sudah tak pernah lagi sepenuh hati.

Tuhan, aku tidak peduli dunia paralel atau apa, aku hanya ingin bertemu dengannya sekali lagi saja.
***

Aku terbangun. Mataku basah, segera kuusap kedua ujungnya. Lagi-lagi, aku memimpikannya. Aku menatap langit-langit kamar yang berwarna putih polos. Sudah delapan tahun lebih sejak dia menghilang, tapi senyumnya masih jelas di ingatanku seperti baru kemarin melihatnya. Aku berusaha menegakkan badan yang terasa lemas.


Kartu nama yang kemarin diberikan Mario padaku, tergeletak di atas meja di samping tempat tidur. Semalaman aku menimbang-nimbang apakah aku memang perlu ke psikolog? Aku mulai berpikir, aku tidak waras. Tidak ada orang yang mengenal Elisa. Aku jadi ragu, apakah aku benar-benar pernah bertemu dengannya ataukah dia hanya sosok yang dibuat sendiri oleh otakku? Aku sudah cukup aneh hanya dengan kemampuan membaca pikiran orang lain, apakah otakku juga berulah dengan halusinasi yang tidak-tidak?


Aku tersenyum getir. Mungkin semesta akan mewujudkan keinginanku bertemu dengannya, jika ia benar-benar pernah ada di dunia ini. Namun pertanyaannya, apakah dia memang benar-benar ada? Apakah dunia paralel itu benar-benar ada?
***

"Kerasukan setan beneran kamu?" tanyaku yang tak digubris oleh Mario.

Begitu jam dinding menunjuk angka 12, Mario langsung menyeretku keluar kantor. Aku membiarkan saja diriku diseret olehnya, menyeberang jalanan yang macet, melewati salah satu mall terbesar di kota ini, sampai aku merasa keringatku sudah mengucur deras. 

Aku berusaha menarik tanganku, tapi kalah kuat dengan cengkraman tangan Mario. Buset, apakah ini hasil dari dia pergi ke gym setiap hari demi menggaet cewek yang sekarang jadi tunangannya?

Mario berniat membawaku ke tempat praktik psikolog yang kemarin diceritakannya padaku. Astaga, aku benar-benar berterima kasih karena dia mencemaskanku yang jomlo bertahun-tahun, tapi sungguh aku tidak butuh psikolog atau apa pun itu. Aku belum gila. Oke, aku rasa hampir. Nah, aku punya rencana. Aku akan langsung kabur begitu dia melepaskan pergelangan tanganku. Dia takkan menggiringku masuk ke ruang psikolog atau apa pun itu kan? Pasti ada saatnya dia lengah dan aku akan menunggu hal itu.

"Baca aja semua pikiran gue. Lo pasti tau, kan kita mau ke mana?"

Tubuhku menegang. "Kamu ngomong ngaco apa sih?" Aku berusaha tertawa, tapi malah  mengeluarkan suara sumbang yang terdengar dibuat-buat.

Mario tidak menoleh. "Lo pikir berapa tahun kita temenan? Lo bisa bodohin orang lain, tapi gue gak."

Aku sudah tidak tahan. Kutarik tanganku dalam sekali hentakan ketika kami tinggal beberapa langkah lagi untuk masuk ke sebuah gedung. Mario membalikkan badan ke arahku. Kami hanya bertukar pandangan untuk beberapa lama.

"Gue bisa ngerti kalo lo gak mau bilang apa pun soal kemampuan lo itu, tapi lo juga berharap gue biarin lo kayak ikan mati gini gara-gara cewek yang gak tau ada apa gak?" Mario menatapku tajam. 

Aku tak percaya Mario akan mengatakan hal seperti itu. Aku belum menyiapkan kisi-kisi jawaban untuk semua ucapannya dan malah hanya berucap, "Jadi selama ini kamu tau tapi diem aja?"

"Iya, gak ada bedanya sama lo yang gak percaya sama gue dan lebih milih ngerahasiain kemampuan lo itu dari gue." Jawaban itu berhasil membuat mulutku bungkam.

Aku menimbang-nimbang, kemudian memutuskan untuk mengatakan, "Sorry."

Mario mengibaskan tangan kanannya ke depan, "Gue gak peduli soal itu, tapi kalo lo emang bener-bener tulus ngerasa bersalah sama gue, ..." Mario mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja. Dia mengotak-atik sebentar sebelum memberikannya padaku. Aku menatap dia dan ponselnya bergantian dengan bingung.

Ragu-ragu, kuambil ponsel itu darinya. Di layar, aku melihat sebuah kontak dengan nama 'Adriana E. P'.

"Hubungi dia sekarang. Janjian buat bimbingan konseling sama dia. Gue tau lo udah tau, tapi biar gue ingetin lagi kalo gue ngelakuin ini semua demi kebaikan lo."

Aku memandang layar ponsel itu dengan bimbang. Mario memang berbeda dari orang-orang yang pernah aku temui karena itulah aku betah berteman dengannya selama bertahun-tahun. Manusia memang rumit, tapi aku ragu Mario itu manusia atau bukan. Biasanya ketika aku memasuki pikiran orang lain, aku hanya akan berakhir pada 'unknown world', tapi Mario tidak. Pikirannya sangat sederhana sehingga membuatku merasa seperti tidak akan tersesat di sana.

"Ini gedung tempat ruang praktiknya. Di lantai lima." Mario menunjuk gedung yang hampir kami masuki tadi. Gedung itu bukan sebuah gedung mewah, tapi terlihat nyaman. Tidak terlalu tinggi, mungkin hanya sampai sembilan lantai.

Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan-pelan. Let's try.

"Sekali aja, oke?" Aku mencoba mengajukan penawaran dan langsung disambut dengan anggukan antusias Mario.

Kutekan tombol dial, lalu menempelkannya di telinga. Terdengar nada dering dari seberang. Tidak sampai dering kelima, seseorang mengangkat telepon.

"Halo?"

Jantungku berdegup kencang ketika mendengar suara itu. Aku memandang Mario yang terlihat bertanya-tanya. Tubuhku gemetar.

“Kamu percaya dunia paralel itu ada?”

Suara dari masa lalu itu kembali terngiang di telinga.

"Halo? Mario?

Begitu sadar, aku sudah berlari ke dalam gedung. Mario meneriakkan sesuatu padaku, tapi tak kugubris. Aku melihat antrean panjang di depan lift dan langsung memilih menaiki tangga. Kulompati dua-tiga anak tangga sekaligus. Kenangan demi kenangan di masa lalu, berkelebat di depan mataku seperti rekaman video yang diputar cepat.

"Ini Mario, kan?" Suara di seberang terdengar mulai ragu. Aku tidak bisa menahan napas yang memburu.

Tuhan, aku tidak peduli dunia paralel atau apa, aku hanya ingin bertemu dengannya sekali lagi saja.

Napasku hampir habis ketika sampai di lantai tiga, tapi aku tidak berhenti sedetik pun untuk mengatur napas. Aku masih menempelkan ponsel di telinga. Tidak ingin suara itu hilang.

'Kamu pasti bingung gimana aku bisa tahu kalo kamu bisa baca pikiran orang lain, ya kan? Di duniaku yang asli ... ada kamu juga, tapi kamu versi nyebelin .... Kamu selalu cari gara-gara sama aku.'

Aku mengerjapkan mata beberapa kali untuk mendinginkan mataku yang terasa panas.

'Makanya sejak kita pertama ketemu, aku selalu anggep kamu ... kayak musuh. Di duniaku pun, kamu bisa baca pikiran orang, tapi kamu gak takut buat ngasih tau semua orang kalo kamu punya kemampuan itu ... beda banget sama kamu yang di sini ... makasih, kamu kasih warna di hidupku yang seringnya gelap. Aku ... sangat suka bolpoin yang kamu kasih.'

Kakiku terasa kebas, tapi tak berhenti untuk terus naik dan menghindari orang-orang yang turun lewat tangga.

"Kalo kamu gak bicara apa-apa, aku tutup—"

"Elisa …" ucapku spontan. Suara di ujung sana terdengar terkejut.

Aku melompati anak tangga terakhir untuk ke lantai lima. Aku menoleh ke sana ke mari untuk mencari papan nama atau petunjuk apa pun. Mataku menangkap nama 'Adriana E. Putri' di sebuah petunjuk arah yang mengarah ke kanan. Kakiku bergerak lagi hingga sampai pada sebuah ruangan di ujung lorong dengan nama Adriana tercetak di depan pintu.

Aku mengatur napas. Kubuka pintu coklat itu pelan-pelan.

"Gimana—"

Seseorang dengan rambut hitam panjangnya menoleh begitu aku memasuki ruangan. Napasku masih terengah-engah. Kulepaskan ponsel dari telinga sembari masih tetap memandang gadis yang berdiri di hadapanku dengan raut wajah terkejut itu.

Aku kesulitan menelan ludah. Mataku sama sekali tidak berkedip melihatnya. Walaupun rambut hitam itu kini terlihat lebih panjang dari sejak terakhir kali aku melihatnya, wajahnya tetap tidak berubah. Ia justru … terlihat semakin cantik dan dewasa. Dan mata itu ... mata yang hitam dan dalam itu ... May I step into that unknown place once again?


 “Mmm, maaf. Apakah kita sudah ada janji?” Gadis itu menurunkan ponselnya dari telinga dan bertanya padaku.


Mataku mendidih. “Elisa …” Entah kekuatan dari mana yang mendorong otot mulutku untuk menyebutkan nama itu.


Sekali lagi, gadis itu tampak terkejut. Dia melihat ke arah ponsel di genggamannya, lalu beralih padaku dan ponsel di tanganku. Matanya perlahan naik dan pandangan kami bersinggungan.

“Sudah lama tidak ada orang yang memanggilku dengan nama tengah.” Dia tersenyum. Senyum yang selalu ada di mimpi-mimpiku. Senyum yang selama ini membuatku bertahan di antara kegilaan dan kewarasan. “Apa kita pernah kenal sebelumnya?”

Ya! Aku ingin meneriakkan kata itu, tapi tidak ada sepatah kata pun keluar dari sana. Seperti sebelumnya, berhadapan dengannya masih saja membuatku mati kutu dan tampak bodoh. Bahkan setelah delapan tahun, ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan padanya. Sangat banyak sampai aku tidak tahu harus memulainya dari mana.

Dadaku terasa nyeri, tapi juga lega di saat bersamaan. Aku tidak peduli apakah ini Elisa yang sama dengan yang kutemui delapan tahun lalu. Satu hal yang kutahu: aku menemukannya. I found you.

 “Kamu percaya gak, kalau kamu bener-bener pengin sesuatu, terus kamu minta sungguh-sungguh dan yakin, semesta pasti bakal berkonspirasi buat ngewujudin permintaanmu?”


Air mataku meleleh. Bagaimana menjawabnya? Sosok yang selama ini sangat ingin aku temui, kini benar-benar berdiri di depan mataku tepat saat aku merasa ingin menyerah untuk percaya. Bagaimana bisa aku berkata, aku tidak percaya?

Aku tersenyum meski dadaku terasa sesak. Sekarang aku sepenuhnya percaya bahwa dia benar-benar pernah ada dan hei ... mereka punya cita-cita yang sama.

Aku menoleh ke arah Elisa. Dia mengatakannya sambil menulis sesuatu di atas kertas itu. Aku melirik bolpoin karakter pemberianku yang digunakannya, lalu beralih ke kata yang dituliskannya di kolom cita-cita.


Di sana tertulis: Psikolog.

***




Read More

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com