Tuesday, April 30, 2019

[Book Review] Ceros dan Batozar, Komet, dan Komet Minor Karya Tere Liye




Remaja Versus Orang Dewasa dan Perlawanan terhadap Ambisi yang Membabi Buta dalam Ceros dan Batozar, Komet, dan Komet Minor Karya Tere Liye

Oleh: Ratna Juwita




“Einstein mungkin saja benar, imajinasi adalah segalanya, lebih penting dibandingkan ilmu pengetahuan.” [Ali dalam Bumi, hlm. 213—214]

Serial Bumi adalah salah satu karya Tere Liye yang selalu ditunggu-tunggu oleh penggemarnya hingga saat ini. Serial ini mengisahkan petualangan tiga tokoh utama, yaitu Raib, Seli, dan Ali dalam menjelajahi dunia paralel. Sampai saat ini, serial Bumi terdiri dari tujuh buku dan masih terus berlanjut. Judul buku-buku dari serial ini secara berurutan adalah Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceros dan Batozar, Komet, dan Komet Minor.

Tere Liye merupakan nama pena dari Darwis, salah satu penulis Indonesia yang telah menghasilkan banyak karya best seller. Ia termasuk penulis produktif yang hingga saat ini  berhasil menerbitkan lebih dari 30 judul buku, baik novel, kumpulan puisi, maupun kumpulan cerpen. Tidak banyak hal yang dapat diketahui dari pria kelahiran 21 Mei 1979 ini karena keterbatasan informasi mengenai biografinya. Namun, Tere Liye biasa dikenal lewat karya-karyanya yang ditulis dengan bahasa ringan, mudah dipahami, dan sarat makna.

Berbeda dengan karya-karya Tere Liye sebelumnya, serial Bumi ditulis dengan alur yang sangat kompleks, melibatkan riset dan pengetahuan mendalam mengenai berbagai hal, terutama konsep dunia paralel. Secara sederhana, konsep dunia paralel digambarkan sebagai adanya beberapa kehidupan di alam semesta—tidak hanya bumi—yang berjalan secara bersamaan, diibaratkan seperti empat atau lebih program komputer yang berjalan serentak. Kehidupan tersebut bisa jadi sama atau sangat berbeda.

Singkatnya, terdapat beberapa klan di serial ini, di antaranya adalah Klan Bumi, Klan Bulan, Klan Matahari, Klan Bintang, Klan Aldebaran, Klan Komet, Klan Proxima Centauri, dan Klan Komet Minor. Hal yang membuat buku ini sangat menarik adalah unsur fiksi ilmiah dan fantasi yang melebur menjadi satu, tapi sama sekali tidak membingungkan. Tere Liye berhasil menyajikan cerita rumit yang ditulis dengan bahasa yang empuk, mengalir, dan tidak membosankan. Pembaca seolah terus dipengaruhi untuk mengikuti petualangan trio anak SMA yang mengasyikkan dan memicu adrenalin ini.

Sebelumnya, mari berkenalan dengan ketiga tokoh utama dan cerita sekilas petualangan mereka pada seri sebelumnya!

Raib. Ia memiliki ciri fisik berambut panjang, lurus, hitam, dan memiliki poni. Raib merupakan keturunan dari Klan Bulan yang tinggal di bumi bersama kedua orang tua angkatnya. Tepatnya, ia adalah Putri Bulan, seorang anak dari garis keturunan murni Klan Bulan yang lahir dalam siklus dua ribu tahun sekali. Raib, seperti namanya, bisa menghilang. Ia juga memiliki kekuatan lain seperti menyembuhkan luka, memberikan sugesti, berbicara dengan alam, dan sebagainya. Kemampuan-kemampuan tersebut ia dapatkan dari hasil latihannya bertualang bersama Seli dan Ali ke berbagai klan.

Seli. Teman sebangku Raib. Sosoknya ceria, penyuka drama Korea, boyband, dan hal-hal lain yang biasa digemari anak seusianya. Seli adalah keturunan asli Klan Matahari. Ia bisa mengeluarkan cahaya, petir, dan menggerakkan benda-benda di sekelilingnya.

Ali. Teman sekelas Raib dan Seli. Ia merupakan tokoh yang paling genius di antara mereka bertiga. Meskipun di sekolah ia selalu berpenampilan acak-acakan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, pemalas, dan sering mendapat nilai jelek, tetapi sebenarnya ia hanya merasa bosan dengan pelajaran sekolah yang telah dikuasainya di luar kepala. Sejak menyaksikan kedua temannya—Raib dan Seli—memiliki kekuatan, ia menjadi antusias dan menciptakan benda-benda berteknologi tinggi yang ia pelajari dari klan lain. Tak jarang, benda-benda ciptaannya sangat membantu mereka ketika sedang bertualang. Satu lagi, ia bisa berubah menjadi beruang raksasa saat sedang marah.

Pada seri sebelumnya, yaitu Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang, ketiga tokoh utama tersebut menjelajahi dunia paralel demi menghentikan aksi orang-orang yang menginginkan lepasnya si Tanpa Mahkota dari Penjara Bayangan di Bawah Bayangan. Namun, usaha mereka gagal dan terpaksa berurusan dengan si Tanpa Mahkota yang super hebat. Si Tanpa Mahkota adalah tokoh antagonis dalam serial ini. Ia merupakan keturunan murni Klan Bulan yang telah terkunci di dalam Penjara Bayangan di Bawah Bayangan selama dua ribu tahun karena ambisinya untuk menjadi petarung paling hebat di dunia paralel. Sayangnya, ambisinya itu tidak dibarengi dengan niat baik.

Untuk mewujudkan keinginannya menjadi petarung terbaik dunia paralel, si Tanpa Mahkota mencari sebuah senjata pamungkas yang dibuat di Klan Komet Minor ribuan tahun lalu. Senjata pusaka tersebut memiliki kekuatan maha dahsyat. Tentu saja Raib, Seli, dan Ali tidak akan membiarkannya begitu saja. Mereka bertiga berusaha mendapatkan tombak Klan Komet Minor itu sebelum si Tanpa Mahkota berhasil menemukannya lebih dulu.


Ceros dan Batozar



Judul : Ceros dan Batozar
Penulis : Tere Liye
Co-author : Diena Yashinta
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Mei 2018
Tebal : 376 hlm; 20 cm
ISBN  : 9786020385914

Rate: 4/5






Raib, Seli, dan Ali melakukan karyawisata sekolah ke sebuah situs kuno. Tanpa disangka, alat sensor pendeteksi ciptaan Ali berbunyi, menandakan adanya aktivitas dunia paralel berkekuatan dahsyat di bawah situs kuno tersebut. Awalnya, Raib tidak ingin menyelidikinya karena berharap mereka hanya akan melakukan karyawisata biasa. Namun, akhirnya ia menyerah karena desakan Ali yang penasaran dengan pemilik kekuatan besar tersebut yang bisa jadi adalah si Tanpa Mahkota. Mulailah mereka menaiki ILY, benda terbang canggih ciptaan Ali, pergi menyelidiki lorong-lorong di bawah situs kuno.

Dalam buku ke 4,5 ini, Raib, Seli, dan Ali bertemu dengan Ngglanggeran dan Ngglanggeram, pemuda kembar dari Klan Aldebaran yang mengurung diri di sebuah ruangan besar jauh di perut bumi yang disebut Bor-O-Bdur. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang baik. Namun ketika matahari terbenam, wujud mereka akan langsung berubah menjadi monster badak bercula empat bernama Ceros yang menghancurkan apa pun di sekeliling mereka.

Kebenaran demi kebenaran terkuak satu per satu. Bukan termasuk jenis kebenaran masa lalu yang indah, melainkan penuh pengkhianatan, kekecewaan, dan pengorbanan. Persahabatan Raib, Seli, dan Ali pun diuji di sini ketika mereka terancam tidak bisa keluar dari Bor-O-Bdur. Ali tahu caranya, tapi Raib dan Seli jelas tidak akan pernah setuju dengan idenya.

Pada seri ini, Batozar akan muncul untuk pertama kalinya. Ia adalah pengintai terbaik di Klan Bulan. Batozar juga seorang kriminal berwajah mengerikan yang telah dikurung selama seratus tahun akibat membunuh seluruh keluarga salah satu anggota Komite Klan Bulan. Namun di balik itu semua, sebenarnya tersembunyi pula kebenaran-kebenaran pahit perihal keluarganya. Demi kenangannya, ia kabur dari penjara dan menjadi buronan. Sayangnya, kali ini pun Raib, Seli, dan Ali tidak bisa untuk tidak terlibat.

“Ketahuilah, bukan teknik bertarung, bukan menghancurkan gunung-gunung kekuatan terbaik di dunia paralel, melainkan persahabatan. Selalu berusaha menjadi orang yang baik dan berani.” [Ngglanggeram, hlm. 124]


Komet



Judul : Komet
Penulis : Tere Liye
Co-author : Diena Yashinta
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Mei 2018
Tebal : 376 hlm; 20 cm
ISBN : 9786020385938

Rate : 4/5





Setelah sempat "jeda" pada buku Ceros dan Batozar, Raib, Seli, dan Ali kembali melanjutkan petualangan untuk mencari tombak pusaka Klan Komet Minor. Mereka pergi ke Klan Matahari yang saat itu bertepatan dengan pembukaan Festival Bunga Matahari. Namun tidak hanya mereka yang datang, si Tanpa Mahkota juga muncul tanpa diundang tepat saat mekarnya bunga matahari pertama.

Si Tanpa Mahkota menang. Ia berhasil membuka portal menuju Klan Komet, tapi Ali tidak membiarkannya begitu saja. Ali nekat melompat ke dalam portal diikuti Raib dan Seli tepat sebelum tertutup. Mereka bertiga berhasil mendarat di sebuah pulau sepi yang disebut Pulau Hari Senin. Di sana, mereka bertemu dengan Paman Kay dan Bibi Nay yang baik hati. Paman Kay dan Bibi Nay akhirnya mengetahui maksud kedatangan Raib, Seli, dan Ali, yaitu untuk mencari portal menuju Klan Komet Minor.

Paman Kay yang tidak mengetahui letak portal tersebut menyarankan mereka untuk pergi ke Pulau Hari Selasa. Begitulah petualangan mereka dimulai dari satu pulau ke pulau yang lain, melewati rintangan demi rintangan yang tidak mudah. Di tambah lagi, si Tanpa Mahkota selalu muncul di saat-saat genting, membuat petualangan mereka semakin rumit dan menegangkan.

“Ada banyak sekali kekuatan di dunia paralel. Tapi ketahuilah, salah satu yang paling hebat adalah perbuatan baik.” [Hlm. 87]


Komet Minor



Judul : Komet Minor
Penulis : Tere Liye
Co-author : Diena Yashinta
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2019
Tebal : 376 hlm; 20 cm
ISBN : 9786020623405

Rate : 4/5





Sama seperti si Tanpa Mahkota, antagonis yang selalu muncul di saat-saat menyebalkan, pahlawan juga sering kali datang di saat-saat yang tepat. Ketika sebuah ikan raksasa meluncur dari kejauhan dan bersiap melahap Pulau Hari Minggu, Batozar muncul. Ia membawa Raib, Seli, dan Ali berteleportasi ke Pulau Hari Minggu tepat saat ikan raksasa melahapnya. Di dalam perut ikan tersebut, mereka tidak bisa menghindari pertarungan melawan si Tanpa Mahkota yang sangat marah melihat rombongan lain yang tak diharapkan, juga ikutI bersamanya menuju Klan Komet Minor.

Untungnya, Batozar, Raib, Seli, dan Ali berhasil lolos dari si Tanpa Mahkota. Mereka pun menyusuri hutan aneh yang dipenuhi tumbuhan, serangga, dan hewan raksasa yang beracun. Penduduk Klan Komet tidak pernah menetap, mereka berpindah-pindah sekaligus dengan kota mereka. Peradaban di Klan Komet lebih maju daripada peradaban klan-klan sebelumnya, memungkinkan dilakukannya teleportasi sebuah kota sekaligus dalam waktu singkat.

Rombongan mereka mendapat petunjuk mengenai keberadaan tombak pusaka yang ternyata telah dipecah menjadi tiga bagian demi menjaganya jatuh ke tangan orang yang salah. Mereka pun mencari tiga orang yang membawa potongan-potongan tombak tersebut, melewati hewan-hewan berbahaya dan menghadapi orang-orang hebat yang merupakan mantan Para Pemburu. Tidak ketinggalan, si Tanpa Mahkota yang menyebalkan juga selalu muncul dan mengacaukan rencana mereka.

“Dia bertemu dengan teman-teman terbaik, bertualang ke banyak tempat. Saat salah seorang dari mereka sakit, kesusahan, yang lain datang membantu. Saat salah seorang di antara mereka diserang, yang lain datang melindungi. Bersedia mengorbankan banyak hal demi yang lain. Ikut merasakan kesedihan, serta berbagi kebahagiaan. Saling mengingatkan dan saling menjaga. Mereka juga tidak sempurna. Mereka sering bertengkar, melakukan kesalahan, tapi mereka selalu punya pintu maaf.” [Ali, hlm. 283]





            Kover Ceros dan Batozar, Komet, dan Komet Minor sangatlah menarik dan membangkitkan imajinasi. Warna-warna pilihan yang berbeda di setiap judulnya juga memberikan kepuasan tersendiri ketika melihatnya berjejer di rak buku. Dari kovernya saja, kita bisa menebak banyak hal: hewan yang akan ditemui dalam petualangan Raib, Seli, dan Ali, benda yang akan muncul di dalam cerita, serta sedikit gambaran mengenai setting lokasinya. Dibuat sedemikian rupa dan padat, sehingga buku bergenre fantasi ini tidak perlu lagi melibatkan ilustrasi di dalamnya. Semua terangkum di sana dengan sangat memuaskan.

Namun, kover novel yang memuaskan itu jugalah yang membuat saya sedikit kurang nyaman karena saya merasa mendapatkan bocoran dari sana. Saya jadi tahu hewan apa saja yang akan ditemui Raib, Seli, dan Ali. Apabila ada hewan yang tampak di kover belum muncul di dalam cerita, bisa ditebak hewan tersebut akan menjadi penghambat petualangan mereka di halaman berikutnya. Bocoran seperti inilah yang saya maksud.

Seperti biasa, gaya penulisan khas Tere Liye sangat kental dengan atmosfer yang selalu bisa mengaduk-aduk emosi pembaca. Masih dengan menggunakan sudut pandang pertama dari Raib, baik Ceros dan Batozar, Komet, maupun Komet Minor ketiganya memiliki alur maju. Masa lalu diceritakan melalui sekelumit kejadian dengan teknik tertentu dan dituturkan langsung oleh para tokohnya. Hal ini sangat membantu pembaca memahami tanpa kebingungan dengan lompatan waktunya.

Biasanya sebuah novel fantasi akan lebih mudah jika ditulis menggunakan sudut pandang orang ketiga, tetapi Tere Liye memilih menggunakan sudut pandang orang pertama. Meskipun begitu, hal ini sama sekali tidak mengurangi keseruannya. Hanya saja, ada beberapa bagian yang seharusnya tidak diketahui oleh Raib, juga diceritakan oleh penulis, seperti pada salah satu adegan di Komet Minor. Ketika si Tanpa Mahkota berada di sisi lain lokasi keberadaan Raib, penulis melepas sudut pandang Raib dan menceritakan hal yang dilakukan si Tanpa Mahkota di luar ruangan. Mungkin penulis perlu memperbaiki beberapa inkonsistensi seperti ini.

Tere Liye mengemas buku dengan bahasa seringan mungkin, mudah dipahami dalam sekali baca, serta deskripsi yang mampu membangkitkan imajinasi. Bisa dikatakan, penulis berhasil dalam world building-nya. Bahkan, saya sampai membayangkan cara penulis memikirkan setting tempat yang menurut saya sangat imajinatif dan membutuhkan daya khayal yang tinggi. Tere Liye tidak membiarkan pembaca “telantar”, terseok-seok mengikuti plot cerita. Penulis justru berhasil mengajak saya memercayai bahwa cerita rekaannya ini benar-benar ada dengan detailnya yang sangat memukau.

Tidak seperti buku-buku sebelumnya yang memunculkan banyak tokoh di setiap buku, Raib, Seli, dan Ali bertemu lebih sedikit tokoh yang sangat mudah diingat dalam ketiga buku ini. Masing-masing tokoh memiliki karakter dan teknik tersendiri. Sekali lagi, sangat imajinatif. Teknik mereka memiliki nama-nama yang akrab di telinga, tapi tidak terpikirkan untuk dijadikan sebagai nama sebuah teknik. Contohnya, teknik manipulasi ruang dan waktu, teknik mengambil huruf, dan sebagainya. Biasanya, nama-nama sebuah teknik diambil dari bahasa Latin, Yunani, atau Inggris agar terlihat keren, tapi Tere Liye berbeda, penulis menggunakan bahasa se-‘pribumi’ mungkin tanpa kehilangan esensinya.

Berbicara mengenai tokoh, alih-alih seperti Raib yang selalu menganggap Ali sebagai si biang kerok, saya justru menganggap biang keroknya adalah si Tanpa Mahkota. Mulai dari buku pertama hingga ketujuh ini, semua terjadi karena si Tanpa Mahkota. Diawali dari rencana pembebasan si Tanpa Mahkota, sampai usaha mencegah si Tanpa Mahkota mendapatkan tombak pusaka demi menjaga kedamaian seluruh klan. Bisa dibilang, si Tanpa Mahkota adalah tokoh yang saya anggap paling menyebalkan. Terlebih lagi di buku Komet.

Saya sangat terkesan pada tokoh Paman Kay dan Bibi Nay yang muncul sejak buku Komet. Kebaikan dan kebijaksanaan mereka sepadan dengan masa lalu yang pahit. Selain itu, mereka juga disebut-sebut sebagai pemilik kekuatan yang hebat, melebihi kekuatan salah satu tokoh hebat di buku Komet Minor yang berhasil mendaratkan beberapa pukulan pada si Tanpa Mahkota. Selain ketiga tokoh utama, Paman Kay dan Bibi Nay adalah tokoh favorit saya. Ada harapan bahwa penulis akan memberikan porsi bertarung agar pembaca—khususnya saya—bisa ‘menyaksikan’ kekuatan hebat mereka.

Hal menarik yang saya temukan dalam buku Ceros dan Batozar adalah mengenai persahabatan dan pengorbanan. Ketiga tokoh utama mengingatkan pembaca dewasa pada keseruan masa remaja yang penuh tantangan. Masa remaja bagi sebagian besar orang adalah masa-masa indah yang penuh dengan pencarian jati diri, pengalaman baru, persahabatan, dan sebagainya. Menurut penelitian, semakin beranjak dewasa, seseorang akan semakin memiliki sedikit sahabat. Dikutip dari docplayer.info dalam “Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dan Kualitas Persahabatan pada Remaja Akhir” yang ditulis oleh Elza Diantika, hal ini disebabkan oleh pengalaman konflik dengan sahabat dalam suatu hubungan persahabatan, sehingga membuat kualitas persahabatan menjadi semakin rendah. Pengalaman tersebut memberikan efek jera apabila tidak dibarengi dengan kecerdasan emosional yang tinggi. Karena itulah beberapa orang menutup diri dari persahabatan yang baru.

Adegan ketika Ali mengutarakan idenya saat mereka terancam terjebak selama-lamanya di Bor-O-Bdur bersama Ngglanggeran dan Ngglanggeram dalam Ceros dan Batozar adalah favorit saya. Saat itu, keegoisan dibakar habis-habisan, kepentingan diri sendiri dikorbankan demi orang lain yang notabenenya bukanlah siapa-siapa, "hanya" sahabat. Tentu beberapa atau sebagian besar dari kita tidak akan ingin melakukan hal seperti Ali di saat-saat seperti itu. Bahkan, ada kemungkinan justru kita akan bersikap sangat egois.

Anak-anak remaja ini seperti memberikan "tamparan" pada para pembaca untuk tidak melupakan persahabatan. Manusia adalah makhluk sosial. Di dunia ini, kita tidak hidup seorang diri. Kita membutuhkan orang lain untuk membantu kita mengerjakan banyak hal. Persahabatan Raib, Seli, dan Ali mengingatkan saya bahwa segala sesuatu akan lebih mudah dilakukan bersama-sama. Sedikit menyinggung sifat individualis masyarakat kita dewasa ini.

Pertarungan antara ambisi melawan kejernihan hati juga ditunjukkan penulis lewat ketiga tokoh utama melawan si Tanpa Mahkota dalam Komet. Ambisi si Tanpa Mahkota untuk menguasai tombak pusaka dan menjadi petarung terhebat di dunia paralel telah membutakan hatinya. Nyatanya, umur sama sekali tidak menentukan kedewasaan seseorang. Si Tanpa Mahkota yang telah hidup lebih dari dua ribu tahun, kalah dalam hal kejernihan hati dengan anak-anak remaja seperti Raib, Seli, dan Ali. Si Tanpa Mahkota takkan pernah bisa mewujudkan ambisinya tanpa ‘bantuan’ kejernihan hati ketiga tokoh utama.

Adegan yang paling saya sukai di buku Komet adalah saat Raib mengenyahkan ambisinya untuk segera menemukan tombak pusaka, demi menolong seorang anak kecil. Sekali lagi, ambisi dikalahkan oleh kejernihan hati. Adegan itu sangat menyentuh dan berhasil membuat mata saya berkaca-kaca.

“Ali,” aku melotot marah, “kita sibuk sekali mengurus masalah si Tanpa Mahkota , mengurus nasib dunia paralel, si Tanpa Mahota begini, si Tanpa Mahkota begitu, bla-bla-bla. Tapi kita lupa, justru hidup ini datang  dari hal-hal kecil. Anak itu ingin menemukan bonekanya. Dia minta tolong kepada siapa saja yang bisa. Hanya karena masalahnya kecil, lalu kita abaikan, begitu? Semua orang hendak menyelamatkan dunia, tapi siapa yang bersedia mencari boneka itu? Jika memang begitu dunia ini bekerja, aku lebih baik berhenti mencari pulau dengan tumbuhan aneh itu. Petualangan kita tidak ada gunanya.” [Raib, hlm. 161]

Tidak hanya itu, penulis bahkan menyinggung permasalahan sosial yang terjadi belakangan ini sejak semakin berkembangnya teknologi gawai. Akhir-akhir ini banyak dari kita termasuk saya sendiri, lebih banyak disibukkan dengan gawai daripada berinteraksi dengan orang di depan kita. Benar adanya kalimat yang menyatakan bahwa gawai mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Hal ini sempat disinggung Ali dalam sebuah adegan di Komet Minor.

“Atau aku harus bertanya pada kalian, penonton di studio. Kalian tahu definisi keluarga, heh? Yang sibuk menghabiskan waktu di depan hologram canggih. Yang sibuk dengan kehidupan keseharian. Sibuk berkomentar banyak hal, sibuk membicarakan banyak hal, bahkan sibuk mengurusi keluarga artis, para pesohor, sibuk sekali menyimak berita-berita gosip seolah mereka keluarga kalian, padahal bukan. Bisa aku tanyakan kepada kalian apa definisi keluarga? Mana keluarga sejati kalian? Apakah layar-layar hologram semu itu?” [Ali, hlm. 282]

Ini merupakan sebuah tamparan keras bahwa hubungan dengan orang lain masih harus banyak diperhatikan, terutama oleh para remaja dan orang dewasa di era milenial sekarang ini. Bisa dilihat dari banyak segi bahwa tata krama dan etika semakin lama semakin terkikis. Setiap orang sibuk dengan gawainya, bahkan sampai "tidak mengenali" keluarganya sendiri. Banyak orang tua yang terkejut ketika melihat anaknya telah tumbuh dewasa dengan sangat cepat tanpa mereka sadari. Mereka menukar momen-momen berharga bersama keluarga dan teman-teman terdekat demi menghabiskan waktu bersama gawai. Penulis mencoba mengingatkan kita bahwa hal yang terpenting tetaplah keluarga, seperti apa pun definisi keluarga bagi setiap orang.

Kesimpulan


Ceros dan Batozar, Komet, dan Komet Minor adalah buku-buku yang sangat saya rekomendasikan untuk dibaca oleh semua kalangan, baik yang masih remaja maupun orang dewasa. Terutama para penggemar Tere Liye, baik yang mengikuti serial Bumi maupun tidak karena Tere Liye memberikan sentuhan fiksi ilmiah dan fantasi yang sangat apik dalam seri ini. Bahasa yang ringan, pengetahuan yang kaya, serta alur yang tidak membingungkan membuat buku-buku ini sangat cocok bagi remaja. Istilahnya, bersantai sambil belajar. Selain menyajikan petualangan imajinatif, mengesankan, dan mendebarkan, amanat-amanat yang terkandung dalam novel pun sangat relevan, bahkan untuk orang dewasa.

Saya sarankan untuk membaca seri buku ini dari buku pertama, yaitu Bumi, untuk menikmati perkembangan karakter tokoh mulai dari awal sampai saat ini. Meskipun begitu, membaca langsung ke buku Ceros dan Batozar pun takkan menyebabkan kebingungan karena petualangan Raib, Seli, dan Ali selesai setiap bukunya. Hanya saja, ada penggalan informasi yang ada di buku sebelumnya, sehingga akan membuat cerita terasa lebih runtut dan mudah dipahami jika dibaca dari buku pertama.

Untuk buku sebagus ini, saya sama sekali tidak keberatan dengan harga bukunya. Sebanding dengan pengalaman membaca yang saya rasa sangat mengesankan. Ide yang dibuat penulis benar-benar orisinal dan penuh khayalan yang tinggi, serta riset mendalam. Bahkan, sampai membuat saya benar-benar berpikir bahwa dunia paralel itu benar-benar ada dan memang semengasyikkan itu.

Referensi:

Calista, Fariza. 2017. Biografi dan Profil Lengkap Tere Liye – Penulis Novel Terkenal. https://infobiografi.com/biografi-dan-profil-lengkap-tere-liye-/, diakses pada 29 April 2019 pukul 19.00 WIB.

Diantika, Elza. Hubungan antara Kecerdasan Emosional dan Kualitas Persahabatan pada Remaja Akhir. https://www.google.com/amp/s/docplayer.info/amp/85710899-Hubungan-antara-kecerdasan-emosional-dan-kualitas-persahabatan-pada-remaja-akhir.html diakses pada 30 April 2019 pukul 10.00 WIB.


25 comments:

  1. Waahh, kayak anime anime gitu ad kekuatannya.. jadi pengen baca kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, coba baca aja. Gak kalah kok sama light novel ๐Ÿ˜

      Delete
  2. Jadi pengen baca bukunya. Sebenernya saya bukan penikmat novel fantasi, tapi ironisnya saya malah sedang menikmati novel fantasi yang berbuku-buku yang sejak bertahun-tahun lalu saya belum menamatkannya. Mungkin setelah ini saya mau mencari pinjaman novel untuk membaca novel tereliye ini. Untuk videonya, malah mirip trailer film eksyen wkwk. Well done!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagi menikmati buku buku fantasi apa? Barangkali bisa saling sharing berbagi cerita tentang buku favorit ๐Ÿ˜†

      Kalo aku, serial ini sih fantasi lokal favoritku banget. Belum nemu world building sedetail dan semeyakinkan ini di buku lainnya sampai bela-belain koleksi. ๐Ÿ’•

      Delete
    2. Karyanya Morgan Rice, judulnya Sorcerer's Ring. Itu bervolume-volume, jadi panjang ceritanya, seru lagi. Rasanya campuran antara dunia nyata dan dunia fantasi. Saya belum punya referensi fantasi lokal sama sekali

      Delete
    3. Wah, jadi pengin baca juga. Nanti coba aku cek di goodreads sama barangkali ada yang jual bekas. Hehehe. Makasih infonya ๐Ÿ˜

      Cobain dulu ini deh, awas ketagihan!

      Delete
  3. Tetep semangat buat bikin resensi buku-buku lainnya kak rat! Resensinya selalu bagus dan lengkap hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, makasih banyak ☺️☺️ Alhamdulillah hehehe. Terima kasih juga sudah mau mampir ๐Ÿ’•

      Jadi tambah semangat ini ๐Ÿ˜

      Delete
  4. awalnya kayak berat gitu ya ceritanya. tapi lama-lama baca resensimu jadi penasaran juga sama bukunya hehe. i'm gonna have them or find you to borrow xD sukses terus yaa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, makasih ๐Ÿ˜† Waduh, menemukanku di mana? hahaha

      Kalau kita dekat, pasti kupinjemin deh ๐Ÿ˜

      Delete
  5. Halo, Kak Juwita๐Ÿค—

    Kebetulan aku udah baca sebagian serial ini, kurang Komet dan Komet Minor, jadii sedikit banyak tahu ceritanya. Resensi yang kakak tulis di sini mewakili pemikiranku banget untuk kisah petualangan Ali, Seli, dan Raib. Menarik. Mantap sekali tulisannya kak, bisa ngasih gambaran cerita tanpa detail alurnya, tapi bikin aku penasaran dan pengen segera baca kisah mereka selanjutnya. Pasti bakal makin seru.

    Semangat membaca dan menulis lebih banyak resensi, Kak Ju. Semoga sukses selalu kak๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terima kasih banyak. Iya nih aku berusaha banget memberi gambaran cerita tanpa memberi setail alur, apalagi spoiler. Sebenarnya lebih pengin gak memberitahu apapun hehe. Syukurlah aku tidak spoiler ๐Ÿ˜Š

      Aamiin, terima kasih juga sudah mampir!

      Delete
  6. Sebenernya saya juga penikmat novel-novel fantasi, tapi waktu saya coba untuk membaca sedikit isi dari seri ini seperti agak kurang memikat minat untuk melanjutkan membaca. mungkin karena tidak terlalu tertarik dengan dunia paralel seperti itu. Tapi, resensi buku-buku ini menarik jadi bisa membayangkan garis besar ceritanya Tere Liye yang agak beda dengan novel-novelnya yang pernah saya baca. Penasaran sih sama ceritanya, tapi mungkin harus nunggu keinginan yang cukup besar untuk melanjutkan baca novel seri ini. Good Job resensinya!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, mungkin awalnya saja terasa tidak menarik, taoi coba tamatkan satu bukunya saja. Mungkin bisa yang judulnya "Bumi" dulu.

      Aku juga awalnya gitu. Bertanya-tanya apa ya ini ceritanya, bakalan bagus gak ya, karena aku sudah baca novel Tere Liye lainnya dan ini benar benar berbeda genre.

      Tapi setelah aku menamatkan buku pertama, aku justru jadi pengin baca lanjutannya sampai sekarang masih mengikuti. Dan, aku ngerasa ini buku emang keren banget!

      Jadi, coba tuntaskan satu buku dulu hehehe

      Awas ketagihan!

      Delete
  7. Sejujurnya, menurut aku karya tere liye yang ini susah aku pahami. Tapi, setelah baca resensi ini, aku jadi semakin berambisi untuk membacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, masa? Mungkin karena belum baca saja hehehe. Suer deh bikin ketagihan sama detail cerita dan petualangannya. Serasa nonton film ๐Ÿ˜†

      Delete
  8. Wah udah lama pengen baca novel series Tere Liye yang ini... Sampai saat ini belum kesampaian. Setelah baca resensinya jadi makin tertarik๐Ÿ˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayu, baca ๐Ÿ˜Š

      Keren banget lho, gak kalah deh sama serial Harry Potter. Sama sama punya plot menarik, bergenre fantasi ditambah unsur fiksi ilmiah. Detailnya juga keren banget!

      Delete
  9. Saya jadi tertarik untuk membaca serial ini lebih lebih lagiii... Terima kasih, Mbak, sudah menerbitkan ini di blog nya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sama sama. Terima kasih juga ya sudah mau berkunjung dan berkomentar ๐Ÿ˜Š

      Delete
  10. Saya baru baca sampai bintang, belum minat lanjut baca lagi. Karena kadang bosen pas baca dan bikin ngantuk hehe. Tapi setelah baca resensi ini, jadi penasaran dong yaa. Semoga ada yang berbaik hati mau meminjamkan novelnya untuk saya baca. Sukses terus ya, ditunggu resensi berikutnya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa? Aku malah belum pernah bosen pas baca. Asyik aja gitu. Apalagi selama membaca rasanya imajinasiku melanglang buana mengikuti penggambaran dan deskripsinya.

      Hehehe aamiin. Semangat membaca!

      Terima kasih banyak sudah berkunjung

      Delete
  11. Menarik sekali kakkkk๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

ๅˆใ‚ใพใ—ใฆ

ๆ—ฅๆœฌ่ชžๆ—ฅๆœฌๆ–‡ๅญฆ็”ŸใฎใƒฉใƒˆใƒŠ・ใ‚ธใƒฅใ‚ฆใ‚ฃใ‚ฟใงใ™、ใฉใ†ใžใ‚ˆใ‚ใ—ใใŠ้ก˜ใ„ใ—ใพใ™! ใ“ใฎใƒ–ใƒญใ‚ฏใ‚’ๆฐ—ใซๅ…ฅใฃใฆใ„ใŸใ ใ‘ใŸใ‚‰ๅฌ‰ใ—ใ„ใงใ™。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com