Wednesday, May 08, 2019

[Cerita Pendek Romantis] YOU ZONE

Ratna Juwita

Mengapa seseorang sering terjebak mencintai ‘people we can’t have?

Mungkin pepatah atau apalah itu memang benar, tidak ada hal yang murni dari pertemanan antara perempuan dan laki-laki. Akan selalu ada yang mencintai dalam diam. Secara sepihak. Aku selalu berdiri di sisinya, tapi ia selalu melihat ke arah lain. Ada seseorang yang disukainya, tanpa menyadari bahwa aku di sini bertaruh untuk tidak membabi-butakan perasaan konyolku padanya.

“Gimana ya, cara mendekati Yuan? Ditawari tumpangan, selalu nolak. Diajak makan, nolak juga. Bingung jadinya.” Curhatnya satu waktu di lorong kampus. Kami berjalan dari ruang dosen setelah menyetorkan tugas.

Yuan adalah teman satu kepanitiaan acara ulang tahun kampus di bulan Desember nanti. Akhir-akhir ini, aku sering mendengarnya bercerita mengenai Yuan. Aku sendiri hanya tahu Yuan sebatas perempuan cantik yang aktif di berbagai acara kampus. Bahkan, Yuan muncul di akun instagram kampus yang biasa mem-posting mahasiswi-mahasiswi yang masuk kategori cantik. Aku sama sekali tidak menyangka Gian tertarik pada Yuan hanya selang tiga bulan sejak sama-sama menjadi panitia. Oke, RALAT. Yuan memang cantik, populer, aktivis, lingkungan sosialnya juga aku yakin bagus, dan ... tidak mungkin Gian tidak menyukainya.

Aku nggak tau, mendapatkanmu yang sedekat ini aja, entah kenapa juga terasa sangat sulit.’ Aku tersenyum dengan kalimat konyol yang tiba-tiba menimpali dari dalam hati. “Mungkin dia unik. Dia nggak bisa didekati dengan cara biasa semacam ngasih tumpangan atau diajak makan aja.” Akhirnya aku memilih mengatakan hal yang seharusnya.

“Hmm,  jadi baiknya gimana?” Gian memandangku. Sorot matanya yang tajam, tapi jenaka itu seharusnya bisa menaklukkan siapa saja. Ditambah lagi, ia tipe yang mudah bergaul. Seharusnya ia bisa mendekati Yuan dengan mudah, tapi mengapa ia justru meminta saran padaku yang anti sosial ini?

Aku mencoba berpikir. Sejujurnya aku tidak ingin mengatakan apapun, tapi aku tahu itu bukan pilihan. Bagaimanapun juga, sahabatku meminta saran dan aku harus membantunya walau dengan hati tercabik. Hati memang terlalu rapuh untuk menyaksikan orang yang dicintai, berjuang mati-matian untuk orang lain.

“Mungkin pergi ... ke suatu tempat yang asyik bagi dia? Ajak dia ke gunung, mungkin dia suka mendaki atau ke bioskop, menonton film kesukaannya? Tanya aja dia suka apa.”

Detik berikutnya, Gian tersenyum sangat cerah. Setelah mengucapkan ‘sampai ketemu besok’, ia melenggang pergi. Pamit untuk menghadiri rapat kepanitiannya. Bertemu Yuan pastinya. Aku hanya mampu memandang punggungnya yang menjauh. Dia sedekat ini, tapi susah sekali mengatakan bahwa aku menyukainya.
***

Semua obrolan Gian tentang Yuan setiap hari selalu bisa menjadikanku remahan biskuit.  Jika Tuhan Maha Membolak-balikkan Hati, aku ingin hatiku dibalikkan saat ini juga kepada siapa pun selain dia. Aku tidak bisa begitu saja mengutarakan perasaan. Sekarang pun, apa yang bisa kudapat dari mengutarakan perasaan ini? Tidak ada, selain persahabatan yang runtuh.

Aku ingin menjadi sahabat yang baik. Di sisi lain, aku juga ingin menjadi orang terdekatnya. Walau hanya sehari, aku ingin hanya berdua, mengatakan semua perasaanku, menghabiskan waktuku bersamanya seperti sepasang kekasih yang bahagia, lalu kembali lagi seperti sedia kala. Menjadi sahabatnya.

Mengungkapkan perasaan padanya mungkin berada di urutan paling akhir dalam daftar hal yang ingin kulakukan. Namun, dadaku sesak tiap kali ia menyebut nama perempuan yang disukainya dan itu bukan namaku. Meski dalam waktu bersamaan, aku juga bahagia melihat senyumnya merekah setiap kali berbicara soal Yuan.

Ah, Gian memang You Zone-ku. Itu adalah istilah yang kuciptakan sendiri. Hidupku seolah berotasi dengan ia sebagai pusatnya. Siang dan malam tak kulalui tanpa kenangan dengan ia sebagai tokoh utamanya.

Namun mirisnya, Yuan adalah You Zone-nya.
***

Satu waktu, aku berhasil mengajak Gian benar-benar pergi berdua ke pegunungan di daerah Wonosobo. Baru pertama kali aku mengajaknya pergi ke tempat sejauh itu. Biasanya kami akan banyak menghabiskan waktu di tempat makan atau di pantai. Hanya untuk hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersamanya di tempat yang tak biasa. Dengan begitu, aku berharap bisa meloloskan perasaanku dengan lebih rileks.

Ketika jarum jam menunjuk angka sembilan, kami berangkat mengendarai mobil di malam hari. Berbekal nekat dan aplikasi peta di smartphone, aku membimbing arah perjalanan kami dari kursi penumpang. Tepat di sebelahnya. Sepanjang perjalanan, sebisa mungkin aku menahan kantuk yang menyerang mata tanpa ampun. Beberapa kali, kami menepi untuk menyesap kopi atau teh yang bisa menghangatkan tubuh untuk sementara.

“Tumben banget kamu ngajak aku ke daerah pegunungan begini, jauh lagi,” ucapnya sambil menyesap mochaccino. “Ada angin apa? Mau ngasih kejutan ulang tahun buatku, ya?”

Aku memutar bola mata. Padahal, ulang tahunnya sudah lewat lima bulan lalu. Kami sedang berada di sebuah tempat yang sering disebut bukit bintang, memutuskan beristirahat karena Gian mengeluh kelelahan setelah menyetir berjam-jam. Diam-diam, aku juga merasa bersalah padanya.

Dari tempat kami duduk, kami bisa melihat hamparan langit yang tertutup awan. Meskipun begitu, kami masih bisa menikmati lampu-lampu kendaraan yang seperti bintang bergerak.

Kutempelkan kedua telapak tangan dan menggosoknya perlahan. Mencoba menghangatkan suhu dengan meniupnya. “Bosan ‘kan pantai terus?” Baru selesai aku mengatakannya, tangan kiri Gian meraih telapak tangan kananku. Menggenggamnya. Aku mematung, memandangi jemariku yang seolah menemukan selimut paling hangat dan nyaman dalam genggaman tangannya. Aku merasa, ia tidak hanya menggenggam tangan, tapi sekaligus perasaanku.

“Dingin banget, ya? Kamu keseringan main ke neraka, sih.” Ia tertawa.

Aku memukul genggamannya dengan tangan kiriku yang bebas. “Enak aja. Rumah masa depanmu tuh.”

“Eh,” Dia terlihat tidak terima. “Bukannya rumah masa depan kita?” Lagi-lagi, ia menampilkan deretan gigi putihnya yang sukses membuat mataku kalang kabut mencari hal lain untuk dipandang. Apapun selain wajah manisnya. Kalau boleh jujur, sebenarnya kata "kita" bermakna lain untukku. Jantungku berdebar kencang dan aku mulai takut jangan-jangan debar itu terasa sampai ke nadi tanganku.

Kuputuskan untuk mengabaikan candaannya dan menarik tangan kananku dalam satu hentakan sebelum ia benar-benar bisa merasakan debaran jantungku lewat nadi. “Balik mobil, ah. Males di sini sama calon penghuni neraka.” Aku berdiri. Terlalu lama berdua dengannya di tempat seromantis ini juga tidak baik untuk kesehatan jantungku. Aku takut nantinya justru larut dan keceplosan mengutakan perasaan padanya.

“Ceilah, sesama calon penghuni mah gak usah saling ngejek. Tunggu bentar napa? Capek tau nyetir berjam-jam.” Ia memprotes, tapi aku tahu ia mengikutiku di belakang. Aku terkejut ketika tiba-tiba wajahnya sudah berada di depan wajahku, hampir bersinggungan. Refleks, kakiku melangkah mundur. “Cie, ngambekan. Kayak calon penghuni neraka beneran.”

Mulutku terbuka, siap memuntahkan sumpah serapah ketika tangannya sudah mencubit hidungku. Aku terpaku selama beberapa detik, lalu mengumpat dalam hati. Ia sangat pandai memporak-porandakan degup jantungku.
***

Napas kami memburu begitu tiba di puncak Sikunir. Walaupun sempat salah arah dan nyaris terjebak di jalan yang sempit, akhirnya kami tiba di tempat parkir sekitar pukul empat pagi. Buru-buru kami mendaki ke puncak sebelum melewatkan matahari terbit. Kami menyalakan senter sepanjang perjalanan karena kondisi yang gelap dan medan yang tidak bisa dibilang mudah. Malah sangat melelahkan. Beberapa jalan terlihat belum dibenahi, membuat kami sedikit kesulitan mendaki. 

Beberapa orang terlihat sudah lebih dulu berada di puncak bukit. Sebagian menghidupkan api unggun, sebagian lagi duduk di pondokan yang disediakan, dan sebagian lainnya menggelar tikar dan menyantap mie instan bersama-sama.

Tubuhku menggigil. Baru kali ini aku merasakan hawa sedingin itu. Dingin, tapi sangat menyegarkan. Tempat ini menguarkan kesejukan. Sejauh mata memandang, samar-samar terlihat lekuk perbukitan dengan lampu-lampu rumah di bawah sana. Semburat fajar perlahan-lahan mengintip dari balik bukit-bukit yang gelap itu.

“Nih!” Gian menyerahkan kaleng minuman bersoda yang kami beli di pertokoan di sekitar tempat parkir tadi. Aku memandangnya sejenak, lalu meraihnya.

“Aaaa!” Aku berteriak begitu air dalam kaleng minuman tersebut menyembur wajahku. Gian tertawa keras hingga beberapa orang menoleh ke arah kami. Aku memandangnya jengkel.

“Maaf, maaf!” Dia masih mengatakannya sambil tertawa. Aku menghela napas, mencoba menyeka wajah.

Aku terkejut ketika Gian mendekat. Ia mengeringkan wajah dan pakaianku yang basah dengan tisu. Aku terdiam, memandanginya yang sibuk membersihkan tanganku dengan senyum tersungging di wajah. Aku menelan wajahnya dengan mata, mengalihkan pandangan ketika ia menyadari tatapanku.

You Zone. Medan magnetku bergerak di sekelilingmu.
***

“Aku menyukaimu.”

Sinar matahari semakin nampak menyeruak langit. Seakan memberi kode bagiku untuk mengatakan segala perasaan yang tertanam dalam-dalam. Kami berdiri di salah satu bagian bukit, memandang indahnya langit yang memancarkan semburat putih. Tak menggubris beberapa orang yang sibuk mengabadikan momen mereka dengan ber-selfie atau wefie.

Dadaku berdebar dan membuatku sesak. Aku tak memandangnya, tak juga berusaha mencari tahu ekspresi di wajahnya.

“Entah sejak kapan, aku mengiyakan otak yang memasung wajahmu tiap kali mataku terpejam. Aku tau kau menyukai Yuan, aku nggak mengharap balasanmu. Tapi perasaan ini terlalu menyiksa untuk dipendam aja.” Kali ini aku memandang Gian. Jantungku kalang kabut menemukan ekspresi yang tak mampu kuterjemahkan di wajahnya.

“Lina ...,”

“Aku tau mungkin setelah ini kita tak bisa kembali seperti dulu lagi. Maafin aku.” Air mataku mulai menetes. Kugenggam erat kaleng minuman darinya, berharap rasa sakit di dada berpindah ke sana. “Aku berpikir, hanya untuk hari ini aku ingin berdua sama kamu. Besok, kita bisa kembali menjadi sahabat ... kalau kamu nggak keberatan.”

Aku mengembuskan napas yang tanpa sadar kutahan sejak kata pertama. Mencoba mengalirkan kata demi kata yang selama ini berputar terus di otak, sampai aku merasa menghafalnya di luar kepala. Aku bahkan tidak sadar bahwa mungkin, kata-kataku mengalir terlalu deras seperti burung yang baru dibebaskan dari sangkarnya.

“Lina, kamu …” Gian mengerutkan kening. Aku sudah bersiap dengan apa pun reaksinya, bahkan jika ia memutuskan meninggalkanku di puncak ini dan turun kembali ke  mobil. “Kamu … lagi baca puisi?”

Aku membuka mata, menatapnya dengan pandangan tak percaya. Mulutku terbuka, tapi tertutup kembali. Tunggu dulu, apa maksudnya? Membaca puisi? Siapa yang membaca puisi? Apa barusan ia meledekku?

“Sejak kapan aku menyukai Yuan?” Kerutan di dahi Gian semakin bertambah. Ia seolah sedang berusaha keras mencerna situasi. Begitu juga denganku.

Aku kembali memutar ulang ingatan, sejauh yang kubisa. Mengorek ingatan apakah ia benar-benar pernah mengatakan bahwa ia menyukai Yuan. Sayangnya, entah memoriku yang jangka pendek atau aku memang tidak ingat ia pernah mengatakannya. Ia selalu mengatakan Yuan begini, Yuan begitu, tapi Gian memang tidak pernah mengatakan tiga kata ajaib itu, bahwa ia menyukai Yuan.

Kami terdiam selama beberapa menit, jantungku seolah sedang berlompatan ingin keluar dari dada. Tanpa sadar, aku menggigit bibir. Menyadari kecerobohanku. Kami seolah sedang berbicara dengan perasaan serta bergulat dengan pikiran masing-masing. Jangankan Gian, aku sendiri seolah kehilangan semua kosa kata yang kupelajari sejak kecil. Mereka lari tunggang-langgang entah ke mana, meninggalkanku dengan situasi canggung ini.

“Jadi,” katanya merobek keheningan di antara kami, “kamu mengira aku menyukai Yuan hanya karena aku akhir-akhir ini selalu bercerita soal Yuan ke kamu?” Ia tersenyum. Pelan-pelan, senyumnya berubah menjadi tawa. Kaleng minumannya bergoyang-goyang sampai beberapa tetes soda berlompatan keluar.

Kini giliranku yang mengerutkan kening. “M-maksudmu?”

Gian masih belum berhenti tertawa. Air mataku sudah kering beberapa menit yang lalu tepat ketika ia mengira aku sedang membaca puisi. Suasana romantis sudah raib dari kami. Aku menghentakkan kaki dengan kesal dan bersiap turun, tapi tangan Gian meraih lengan kiriku.

“Jangan marah, dong!” Ia mengusap air di ujung matanya. “Seharusnya yang marah ‘kan aku? Aku sudah dituduh macam-macam, kamu bisa terkena pasal tentang perbuatan tidak menyenangkan.” Ia kembali tertawa. Sekarang aku bertanya-tanya, selera humorku yang terlalu tinggi atau selera humornya yang keterlaluan rendahnya. Menurutku, itu sama sekali tidak lucu. Setidaknya dalam situasi seperti saat ini.

Gian membetulkan letak topi rajut abu-abunya dengan tangan kanan yang juga masih menggenggam kaleng minuman. Ia terengah. “Aku curhat padamu soal Yuan itu karena teman satu kepanitiaanku curhat padaku tentang dia. Aku bingung harus memberi saran apa kalau soal cewek. Kamu ‘kan tau sendiri aku nggak peka soal beginian. Emangnya, udah berapa lama sih kita sahabatan sampai kamu nggak nyadar?”

Aku memikirkan kembali jawaban Gian. Kalau diingat-ingat, ia memang tidak peka. Buktinya, ia juga tidak peka bahwa aku menyukainya selama ini. Sebentar, suasananya kenapa jadi begini? Kami saling terdiam. Tangan Gian masih menggenggam lenganku. Aku menggigit bibir. Sial, aku sudah telanjur mengutarakan perasaan padanya dan ternyata selama ini aku hanya salah paham! Gosh!

“Ya, jadi soal perkataanmu tadi …,” Dadaku berdebar kencang. Sepertinya tiada hari tanpa debar kencang saat aku bersamanya. Aku ingin menutup telinga dan lari sejauh mungkin darinya. Tidak sanggup mendengarkan apa pun yang coba dikatakannya. Rasanya sudah malu bukan kepalang. Apalagi kalau ia sampai menolak perasaanku. Astaga! “Coba ulangi lagi. Kali ini nggak pakai salah paham. Masa kita pacaran diawali salah paham?" Ia melepaskan tanganya dari lenganku. Berdiri tegap, merapikan jaketnya dan bersikap seolah siap menerima pernyataan cinta dari seseorang. "Ehem, jadi, gimana Lina? Kamu suka aku?” Ia tersenyum jail.

Holy Crap!
***

Yogyakarta, 8 Mei 2019

2 comments:

  1. Ini bukan curcol kan? X'D sweeeettt bangeeeetttttt >w<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwk nama tokohnya sih aku ambil dari nama temen-temenku, pengalamanku ke Puncak Sikunir juga aku jadiin referensi. Sayangnya ini murni fiksi :D

      Delete

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com