Thursday, May 02, 2019

[Cerita Pendek] Under The Same Moon

Ratna Juwita

Feya menggosokkan kedua telapak tangan, berharap dingin segera hengkang dari tubuh mengigilnya. Suhu sore itu menyentuh angka 5 derajat celsius, angka yang cukup untuk membuatnya menggigil. Sekali lagi, ia rapatkan mantel musim dingin hijau tua sambil mengembuskan napas beruap.

Batu hitam yang tertutup salju di depan Feya terlihat seperti lorong cakrawala gelap yang indah dengan lampu-lampu bercahaya kuning di sekitar sebagai bintangnya. Beberapa pasangan terlihat bergandengan tangan, berjalan bersisian, dan saling menghangatkan dengan tawa. Di dalam lorong batu hitam yang disebut Stone Church itu, tampak siluet orang-orang yang berciuman layaknya adegan film.

Pipi Feya berdenyut risih sebagai tanggapan. Normalnya, pengunjung yang datang ke sini berpasang-pasangan. Lain halnya dia; datang dengan harapan tanpa keyakinan bahwa seseorang akan datang menepati janjinya. Napasnya berembus lagi, lebih dalam dan menyesakkan.

“Ini yang terakhir ...” suara bass di ujung telepon terdengar memohon. Feya menghela napas berat. Seketika itu pula pertahanan yang coba ia banguna selama berhari-hari, runtuh begitu saja. Ia tidak tahu ke mana pendiriannya berlarian tunggang langgang.

“Sungguh ini yang terakhir?”

Laki-laki di ujung telepon mengangguk mantap walaupun ia tahu, wanita itu takkan bisa melihatnya. Setelah itu, mereka terdiam cukup lama, hingga laki-laki itu memutuskan tempat pertemuan mereka.

“Sabtu sore jam empat di Stone Church Naka-Karuizawa. Bagaimana?”

Feya berpikir sejenak. Menimang apakah lelaki yang dicintainya selama tiga tahun belakangan itu bersungguh-sungguh mengatakannya. Namun pada akhirnya, ia kalah oleh perasaannya sendiri. Sambil memutar cincin bertatahkan berlian biru mungil di tangan kanannya, ia mengangguk. Mengambil keputusan. “Oke.”
***

“Kau selalu mengingkari janji!”

Suatu waktu, gadisnya berteriak di telepon. Teriakan yang menyembunyikan isak tertahan. Alfa menggigit bibir. Hal yang paling dibencinya di dunia ini adalah mendengar tangisan seorang wanita, meskipun Feya tidak benar-benar menampakkannya. Ia merasa bersalah. Sungguh, tapi ia tidak bisa melakukan apapun ketika bos di tempatnya bekerja paruh waktu memberikan kerja lembur padanya.

“Maafkan aku.” Hanya itu yang sempat diucapkan Alfa dengan penuh penyesalan. Gadisnya mulai tergugu.

“Kau tahu ini sudah yang keberapa kali?” Feya bertanya sarkastik.

“Maafkan aku, Feya,”

“Pertama,” Feya tak menggubris permintaan maaf Alfa yang sudah kadaluarsa di telinganya. “kau berjanji menemuiku di Tokyo tower di musim semi, tapi kau tidak datang. Kedua, kau berjanji pergi ke Disneyland bersamaku di musim yang sama, kau juga tidak datang. Musim gugur bulan lalu pun kau mengajakku ke Shirakawa, tapi lagi-lagi kau mengingkarinya. Sebenarnya ...” Feya berhenti sejenak, menyeka air mata dengan punggung tangan, “apa yang kau mau?”

Alfa mendengar suara Feya yang putus asa. Wanita yang telah membuatnya kalang kabut karena cinta itu, ia sakiti. Separah ini. Ia menyesal karena berulang kali mengingkari janji, tapi sekali lagi bukan itu yang dia mau.

“Feya—“

“Sudah, Fa. Jangan hubungi aku lagi. Kita ... tidak ada hubungan apapun lagi.”
Sambungan telepon terputus. Tubuh Alfa perlahan merosot ke lantai kayu indekosnya. Ia menggenggam gagang telepon dengan erat, berharap amarahnya bisa terkonduksi. Sayangnya, hatinya begitu sakit. Dari sekian makian yang mungkin ia dapatkan dari Feya atas kesalahannya, kalimat itulah yang paling tidak ingin didengarnya. Ia punya alasan untuk segala keingkarannya, tapi mulut itu hanya mengatup, kemudian bergetar tanpa mampu menjelaskan apapun. Ia memang salah, mungkin ia hanya terlalu mencintai wanita yang dua tahun lebih muda darinya itu.
***

Feya melirik jam tangan. Pukul empat lewat lima belas menit. Ia mendengus. Setelah setahun berada di Jepang untuk melanjutkan studi dengan beasiswa, ia masih tidak habis pikir Alfa masih tidak bisa menepati waktu. Feya memasukkan tangannya ke saku mantel. Tanpa sengaja, jemarinya menyentuh sebuah benda bulat kecil yang keras.

“Janji kau tidak akan marah?”

Feya menatap sahabat sekaligus tempat curahan hatinya itu dengan pandangan jenaka.

“Marah soal apa?” Tangan Feya sibuk memotret Kota Tokyo dari ketinggian. Yukio terlihat gelisah, memandang ke segala arah asal bukan pada mata Feya.

Sudah lama Yukio menantikan momen itu. Saat ia dan Feya hanya berdua di dalam Big O, sebuah bianglala di Kota Tokyo. Ia ingin setidaknya hal yang ingin dilakukannya akan menjadi kenangan untuk Feya. Ia tahu mungkin ini bukanlah waktu yang sangat tepat. Feya baru saja menumpahkan kekesalannya soal Alfa pada Yukio dan pernyataan bahwa mereka baru saja putus.

Bukan kesempatan dalam kesempitan yang coba ia ambil di situasi itu, tapi perasaan yang dipendamnya selama beberapa bulan belakangan. Ia menyadari bahwa Feya lebih dari sekedar sahabat untuknya dan ia ingin Feya tahu itu. Sebentar lagi, kapsul mereka akan berada di titik puncak bianglala. Yukio mempersiapkan perasaannya, ia meraih tangan kiri Feya yang bebas dari kamera dan mendekapnya dalam genggaman.

Dada Yukio bergejolak. Ia berasa ingin muntah, tapi ia tahan. Ia tidak mau kenangan itu menjadi kenangan yang menjijikkan bagi Feya.

“Eh, ada apa? Kau takut? Sejak tadi sepertinya kau sangat gugup.” Feya memandangi telapak tangannya yang seolah tersembunyi di balik jemari besar Yukio. Feya usil. Ia arahkan bidikan lensanya tepat ke muka Yukio yang terlihat seperti orang menahan kentut. “Cheese!”

“Apa kamu mau membuatkan sup miso setiap hari untukku?” Yukio bertanya cepat. Hampir-hampir Feya tidak menangkap bahasa Jepangnya.

Ckrik.

Tangan Feya tidak sengaja memencet tombol kamera karena kaget. Tepat setelah Yukio menyelesaikan kalimat tanyanya. Perlahan, Feya menurunkan kamera dari bingkai mata. Ia tercekat, tidak menyangka Yukio akan melamarnya dengan kalimat lama seperti itu. Di saat itu.
***

Alfa bergegas. Ia berlarian demi mengejar shuttle bus di Stasiun Karuizawa. Ia sudah terlambat lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Alfa terengah ketika ia berhasil duduk di dalam bus yang akan membawanya ke Stone Church. Uap napasnya mengepul seperti asap rokok.

Ia terpaksa kembali ke indekosnya ketika menyadari bahwa ia meninggalkan barang paling penting yang harus ia bawa untuk pergi ‘berperang’. Benda yang sudah susah payah ia dapatkan dengan mengorbankan seluruh waktunya hanya untuk belajar dan bekerja. Alfa memasukkan tangan ke saku kanan mantel hitam berbulu coklatnya untuk memastikan bahwa benda itu masih ada di sana. Ia mengibaskan beberapa salju yang menempel di sepatunya.

Sebentar lagi, ia pasti bisa menepati janjinya. Ia takkan mengingkari lagi. Tak ada kerja paruh waktu yang membuatnya lembur atau bos yang sering berteriak padanya setiap kali ia melakukan kesalahan. Dan Feya, ... Alfa tersenyum tipis. Menyembunyikan rasa malunya dengan menggaruk kepala.
***

Feya tidak bisa begitu saja menerima lamaran Yukio. Ia tahu benar perasaannya pada Yukio adalah perasaan sayang pada sosok sahabat. Tapi hatinya jutsru tertambat pada orang seperti Alfa. Feya menundukkan wajahnya. Menyusuri salju putih yang mulai menimbun kedua kakinya yang berbalut sepatu hitam. Feya mengangkat kaki, mengenyahkan tumpukan salju yang membebani.

Ini yang terakhir. Ini yang terakhir.

Feya terus menerus mengulang kalimat itu di dalam hati. Ia sudah bertekad, kalau sampai Alfa mengingkari janjinya lagi, tidak ada alasan baginya kembali pada lelaki itu. Apapun keadaannya. Jika selama ini ia bersikap terlalu lunak, itu karena cinta yang membutakannya. Tapi cinta tidak bisa dipermainkan. Perasaannya bukan padam karena marah, melainkan karena kecewa. Sedangkan Yukio datang dan menjanjikan sebuah pernikahan!

Ia lupa sudah berapa lama sejak ia mendengar lelaki muda yang ingin menikah di Jepang, khususnya di kota besar seperti Tokyo. Dan bukankah adegan lamaran seperti itu yang diimpikan oleh setiap wanita sebelum tidur, termasuk dirinya? Bahwa suatu saat akan ada seorang lelaki, dengan tatapan penuh keyakinan, mengatakan kalau ia ingin menghabiskan hidupnya denganmu?

Puh, Feya terkekeh dalam senyap. Satu hal mudah yang belum pernah ia dapatkan dari Alfa. Dulu, ia mengenal Alfa di negara asal mereka, Indonesia. Mereka mengejar mimpi yang sama yaitu bisa mendapatkan beasiswa ke Jepang. Mimpi yang membawa mereka pada jurang bernama jarak. Membiaskan kekhawatiran mengenai sosok lain di seberang sana yang mungkin membelokkan perasaan salah satu dari mereka atau justru keduanya.

Ia tidak pernah merasa bersahabat dengan jarak, tapi kian hari kata itu kian akrab. Membawakannya janji-janji penuh ingkar dari Alfa.

Feya mendongak lagi, berusaha tak terganggu dengan pasangan-pasangan yang hilir mudik di depannya. Tak jarang ia mendapatkan tatapan aneh karena hanya berdiri mematung, bersandar di sebuah pohon sambil memandang warna hitam Stone Church yang kontras dengan salju.
***

Sial! Alfa mengumpat. Kakinya bergerak-gerak tidak sabar. Stone Church sudah tidak seberapa jauh, tapi mengapa di saat seperti ini, di antara ribuan hari lainnya, shuttle bus yang ditumpangi Alfa mengalami mogok? Mengapa di antara shuttle bus yang bisa ditumpangi, ia menaiki bus yang mogok di tengah jalan?

Alfa bergegas turun dari shuttle bus. Sudah tidak dapat menahan diri. Ia sudah telat lebih dari setengah jam! Jika ia tidak buru-buru, Feya bisa saja meninggalkannya untuk selamanya. Alfa menengok kiri dan kanan begitu keluar dari pintu Bus. Ia berlari sekuat tenaga tanpa mempedulikan teriakan sopir bus yang memintanya kembali ke dalam karena suhu di luar sangat dingin.

Berkali-kali, Alfa melirik jam hitam di pergelangan tangan kirinya. Tampak nama Alfa terukir tepat di tengah. Jam itu adalah hadiah ulang tahun dari Feya untuknya. Alfa tidak bisa tidak berlari walaupun gerakannya semakin melambat karena dingin dan lelah, serta medan yang cukup sulit dengan salju setebal tujuh sentimeter.

“Ini yang terakhir?”

Suara Feya terngingang di kepalanya. Membuatnya menggertakkan gigi untuk melawan dingin.

Kalau Feya pergi, habis sudah riwayatnya. Sia-sia perjuangannya mengumpulkan uang dari paruh waktu selama ini. Alfa merogoh saku kiri mantelnya dan mengeluarkan handphone dengan layar gelap. Berulang kali Alfa memencet tombol pada layar. Nihil. Layar itu masih memantulkan bayangannya sendiri. Sial! Alfa mengumpat lagi.

Alfa sibuk memperhatikan handphone-nya hingga ia tidak fokus pada jalan yang dilaluinya. Ia terpeleset, tepat saat sepatunya menginjak bagian yang licin. Tubuhnya menabrak pagar pembatas jalan dan terjungkal ke jalan raya.

Tiiin Tiiinn!

Alfa sempat menangkap suara yang memekakkan telinga itu. Sebuah mobil tanpa kendali melaju kencang ke arahnya.
***

Feya menggigil. Hari sudah beranjak semakin sore. Feya mendongak, memandang bula yang seolah menertawakannya. Pukul enam sore. Dua jam lamanya Feya menunggu. Ia sudah berusaha menelpon Alfa, tapi handphone lelaki itu sepertinya dimatikan.

“Maaf, Nona. Tempat ini akan segera ditutup.” Seorang petugas tempat itu menghampiri dan berkata dengan nada menyesal.

Feya tersenyum kecut. “Baiklah. Terima kasih.” Begitu Feya mengucapkan itu, petugas itu pergi. Tanpa disuruh dua kali, Feya melangkahkan kaki dengan gontai. Meninggalkan jejak-jejaknya di salju. Bahkan, tumpukan salju di tempat sedari tadi ia berdiri, terlihat lebih tipis daripada yang lain. Mengisyaratkan keteguhan wanita itu menunggu dua jam di tempat yang sama demi seseorang yang tidak akan pernah datang.

Ini yang terakhir.

Air mata telah menggenang di pelupuk mata Feya. Di bawah bulan yang sama, Alfa mengingkari janji. Tidak ada lain kali setelah ini.

Ini yang terakhir.

Air mata itu menganak sungai. Semakin deras ketika dengan pelan, Feya memasukkan cincin bertatahkan berlian biru kecil dari Yukio, ke jari manis tangan kirinya.
***

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com