Read More

5 CM: Buku yang Menyelamatkanku

Ratna Juwita
Read More

Ary Nilandari - Penulis Wattpad yang Tidak Menye-Menye

Ratna Juwita
Read More

Know Your Limits

Ratna Juwita
Read More

PETRIKOR

Ratna Juwita
Read More

Into The Unknown

Ratna Juwita

Saturday, February 29, 2020

[BookTalks] 3 Rekomendasi Novel Misteri dengan Ending Tak Terduga



Ratna Juwita

Readers, karena kalian membaca ini, apakah aku bisa menyimpulkan bahwa kalian adalah pencinta misteri? Kalau iya, tos dulu! *tos.

Aku suka sekali cerita misteri sejak SD. Cerita misteri yang pertama kali kubaca adalah komik Detectif Conan. Aku sampai berkhayal ingin menjadi detektif juga. Hehe. Sejak membaca komik Conan, aku pun membaca serial Sherlock Holmes karena namanya seringkali disebut di dalam komik itu.

Sejak itu aku menjadi begitu ketagihan dengan cerita misteri, apalagi yang bertema detektif. Aku juga sempat membabat buku-buku anak karangan Enid Blyton yang menurutku sangat seru saat SMP. Jadilah kini aku menjadi pencinta misteri.

Salah satu hal yang menarik dari novel misteri adalah ending-nya yang sering tidak terduga. Karena itu, berikut ini adalah tiga buku bertema misteri dengan ending tak terduga yang aku rekomendasikan untuk kalian:

Tokyo Zodiac Murders Karya Soji Shimada
 Image result for tokyo zodiac murders gramedia
(sumber gambar di sini)

Pada suatu malam bersalju tahun 1936, seorang seniman dipukuli hingga tewas di balik pintu studionya yang terkunci di Tokyo. Polisi menemukan surat wasiat aneh yang memaparkan rencananya untuk menciptakan Azoth—sang wanita sempurna—dari potongan-potongan tubuh para wanita muda kerabatnya. Tak lama setelah itu, putri tertuanya dibunuh. Lalu putri-putrinya yang lain serta keponakan-keponakan perempuannya tiba-tiba menghilang. Satu per satu mayat mereka yang termutilasi ditemukan, semua dikubur sesuai dengan prinsip astrologis sang seniman.

Review: 4.5/5

Cerita berawal dari kematian seorang seniman di sebuah ruangan tertutup, setelah itu selama lebih dari 40 tahun orang-orang berlomba-lomba memecahkan kasus ini, tetapi taka da satu pun dari mereka yang berhasil memecahkan misteri pembunuhan tersebut. Media-media menerbitkan berbagai macam artikel dan penerbit-penerbit mempublikasikan buku-buku mengenai spekulasi-spekulasi mengenai misteri ini, tetapi tetap saja pada akhirnya misteri ini tetap tak terpecahkan hingga kemudian isunya mereda.

Novel yang pertama kali diterbitkan di Jepang pada tahun 1981 ini menggunakan sudut pandang orang pertama seorang tokoh bernama Kazumi Ishioka yang menemani sahabatnya yang merupakan seorang astrolog sekaligus detektif bernama Kiyoshi Mitarai. Kalau kalian pernah membaca serial Sherlock Holmes, maka Kazumi Ishioka diibaratkan seperti Dr. Watson dan Kiyoshi Mitarai adalah Sherlock Holmes.

Meskipun alurnya bergerak sangat lambat, kasusnya sangat menarik, unik, tidak biasa, dan membuatku berpikir keras. Setting waktu tahun 1979 benar-benar terasa dan dideskripsikan dengan sangat baik. Semua spekulasi seolah dengan mudahnya ditampik begitu saja berdasarkan fakta-fakta lama maupun yang baru saja ditemukan. Namun, kalian mungkin akan sedikit dibuat bingung dengan penjelasan mengenai zodiak dan astrologi di bagian awal bab.

Terlepas dari kebingungan yang aku rasakan ketika membaca di bab-bab awal, bab-bab selanjutnya benar-benar membuatku terbenam dalam buku. Aku dibuat sangat penasaran dengan jalannya kasus dan sosok pembunuh yang sama sekali tidak nampak sekalipun hanya bayangannya saja.

Aku biasa menebak-nebak pelaku ketika membaca Detektif Conan, Sherlock Holmes, dan cerita misteri lainnya. Kebanyakan benar, tapi tak jarang juga salah dan novel ini malah semakin mengukuhkan rekor “salah tebak”-ku. Benar-benar tak terduga. Termasuk trik pembunuhannya.

Membaca novel ini seperti sedang menunggu bom waktu untuk meledak!

Walaupun aku sudah membaca buku ini sejak tahun 2017, aku masih bisa merasakan sensasi keterkejutan dan rasa menyenangkan yang selalu hadir ketika membaca buku misteri yang mengasyikkan!

Aku bahkan sempat mengira kasus ini benar-benar pernah terjadi di Jepang, lalu memutuskan untuk pergi mencarinya di internet dan berakhir dengan fakta bahwa buku ini murni hanyalah fiksi. Selama berhari-hari bahkan bertahun-tahun setelahnya, aku masih ingin mengulang membaca novel ini, barangkali aku akan menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak kusadari.

Buku yang sangat apik! Aku sangat merekomendasikannya untuk kalian terutama yang sangat menyukai cerita misteri. Mungkin, buku ini bisa menjadi “angin segar” untuk kalian yang jenuh dengan cerita-cerita misteri lainnya.

The Good Son Karya You-Jeong Jeong

Image result for the good son gramedia
(sumber gambar di sini)

Yu-jin terbangun karena bau darah dan menemukan dirinya berbaring di ranjangnya sendiri dalam keadaan berlumuran darah. Tetapi itu bukan darahnya. Lalu darah siapa? Jawaban untuk pertanyaan itu baru diketahuinya setelah ia menemukan ibunya tergeletak tak bernyawa dengan leher tergorok di tengah genangan darah di kaki tangga apartemen dupleks mereka.

Sebagai penderita epilepsi, ingatan Yu-jin sering bermasalah dan ia tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi kemarin malam. Hanya suara ibunya yang selalu terngiang-ngiang di telinga. Suara ibunya yang memanggil namanya. Apakah sang ibu memanggilnya untuk meminta tolong? Atau untuk memohon agar Yu-jin tidak membunuhnya?

Yu-jin pun berusaha mencari tahu apa yang terjadi, menggali ingatannya dan menguak rahasia gelap tentang keluarganya … dan tentang dirinya sendiri.

Sementara itu, di dermaga tidak jauh dari sana, ditemukan juga mayat seorang wanita muda dengan luka menganga di leher.

Review: 4.2/5

Ini adalah buku paling menyebalkan yang pernah kubaca. Lho?

Tidak, bukan karena buku ini buruk, justru karena berhasil membuatku sebal, buku ini sangat menarik untuk dibaca!

Dari sinopsisnya saja kalian sudah merasa penasaran belum? Mungkin sebagian dari kalian yang sudah pernah membaca cerita dengan premis serupa, kalian merasa biasa saja saat membaca sinopsisnya.

Novel yang menggunakan sudut pandang orang pertama ini sangat rinci dan deskriptif dalam menggambarkan pemikiran tokoh utamanya. Aku bahkan sampai terheran-heran dan bertanya-tanya, apakah penulisnya merupakan orang yang menderita epilepsi juga? Pendeskripsiannya benar-benar terasa nyata seolah aku benar-benar sedang masuk dalam pikiran Yu-jin.

Otakku berusaha membangun berbagai macam spekulasi mengenai tokoh, tapi tanpa sadar aku justru terseret oleh berbagai pemikiran tokoh itu sendiri. Penggiringan asumsi inilah yang menjadi hal paling menarik dari novel yang diterbitkan di Korea pertama kali pada tahun 2016 ini.

Karena aku biasa membaca novel detektif dengan sudut pandang orang pertama yang menceritakan orang lain—contohnya seperti Sherlock Holmes—novel ini memberikan nuansa lain. Tokoh utama yang mencoba memecahkan sendiri kasusnya, lengkap dengan narasi jalan pikirannya, merupakan cerita dengan level kesulitan yang berbeda.

Aku dibuat bertanya-tanya cara penulis menjabarkan alur cerita tanpa memberikan “spoiler” sama sekali. Spekulasi-spekulasi baru bermunculan seiring dengan fakta-fakta baru yang ditemukan oleh sang tokoh utama.

Ending-nya tidak terduga dan menyebalkan (ngotot). Secara keseluruhan, novel ini ditulis dengan sangat baik. Terjemahannya juga ringan dan tidak kaku sehingga tidak membuatku bingung atau jengah. Aku sama sekali tidak bisa lepas membaca novel ini. Alhasil, seharian aku membaca novel setebal 360 halaman ini tanpa jeda—kecuali makan dan mandi.

Novel ini cocok banget buat para pencinta misteri yang tidak biasa!

The Da Vinci Code Karya Dan Brown

Image result for the da vinci code gramedia
(sumber gambar di sini)

           Review: 4.9/5

Siapa yang tidak mengenal Dan Brown? Namanya sudah melanglang buana di jagat perbukuan. Kalau kalian pencinta misteri, biasanya kalian sudah tidak asing lagi dengan nama ini.

The Da Vinci Code adalah karya pertama Dan Brown yang langsung menggegerkan dunia. Mengapa bisa begitu?

Pertama, ceritanya super tidak biasa.

Kedua, alur ceritanya benar-benar rapi, memukau, asyik, dan sama sekali tidak menjenuhkan.

Ketiga, novel ini memasukkan fakta-fakta yang memang ada di dunia ini seperti Lukisan Monalisa yang sangat terkenal itu, organisasi Biarawan Sion yang kontroversional dan didirikan tahun 1099, sekte Opus Dei, konspirasi-konspirasi lukisan Da Vinci, dan lain-lainnya. Beberapa nama yang tercantum dalam sebuah perkamen yang ditemukan di Perpustakaan Nasional di Paris adalah nama-nama terkenal seperti Sir Isaac Newton, Botdcelli, Victor Hugo, dan Leonardo Da Vinci.

Keempat, ending yang bisa membuat pembaca terpana dan hanya bisa geleng-geleng kepala.

Untuk para pencinta misteri, ending adalah salah satu penentu suatu karya dikategorikan bagus atau tidak. Seringnya, ending yang tak terduga adalah favorit para pembaca. Siapa yang tidak?

Novel ini berawal dari pembunuhan Jacques Sauniere, seorang curator Museum Louvre dan Grand Master Biarawan Sion. Ia ditembak mati pada suatu malam di museum tersebut oleh seorang rahib Katolik albino bernama Silas yang melakukannya atas perinta seseorang misterius yang dijuluki “Guru”. Polisi kemudian memanggil Robert Langdon yang merupakan seorang profesr seni dan simbol dari Universitas Harvard untuk memecahkan kode rahasia yang ditinggalkan oleh Sauniere menjelang kematiannya.
Bersama dengan Sophie Neveu, kriptogafer kepolisian yang sekaligus merupakan cucu Sauniere, Langdon berusaha memecahkan kode deret Fibonacci tak beraturan yang ditinggalkan Sauniere. Perjalanan mereka tersebut satu per satu mengungkap banyak sekali misteri dunia.

Dan Brown memulai karyanya ini dengan penggambaran karakter-karakter yang kuat. Pasti akan langsung melekat di kepala walaupun sudah berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan bertahun-tahun. Seperti yang terjadi padaku. Deskripsi waktu dan tempat tidak mubazir, pas sesuai porsi, dan penuh dengan hal-hal baru yang membuatku tidak bisa lepas membacanya.

Aku bahkan masih ingat debaran jantung dan adrenalin yang meningkat seiring dengan cerita berjalan. Otakku dibuat berpikir keras untuk mencerna berbagai macam informasi baru yang disajikan dalam novel apik ini.

Setelah dipublikasikan untuk pertama kali pada sekitar tahun 2003, novel ini langsung menarik perhatian banyak orang dari seluruh dunia. Berbagai dialog terkait novel ini bermunculan di mana-mana. Intinya novel ini berhasil mengguncang dunia! Sampai saat ini, aku menjadi penggemar Dan Brown karena karya-karyanya yang selalu tak biasa.

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Kalian harus membaca novel ini dan selamat jatuh cinta dengan Dan Brown!



---------------


Adakah di antara ketiga buku tersebut yang sudah kalian baca?
Read More

Friday, February 28, 2020

[Book Review] "The Tokyo Zodiac Murders" Karya Soji Shimada



Ratna Juwita

Halo, Readers! Sudah lama nih aku tidak mempublikasikan hasil review-ku. Sepertinya ketajamanku mulai menurun (Kayak dari awal emang pernah tajam aja). Hehe. Kali ini aku akan me-review buku bergenre misteri! Apakah kalian pencinta misteri? Kalau iya, kalian membaca review yang tepat!

Yaudah yuk simak review-ku tentang buku yang membuat jantungku berdegup ini!

Judul: The Tokyo Zodiac Murders
Penulis: Soji Shimada
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 360 hlm.
ISBN: 978-979-22-8591-8

Rate: 4.5/5


Pada suatu malam bersalju tahun 1936, seorang seniman dipukuli hingga tewas di balik pintu studionya yang terkunci di Tokyo. Polisi menemukan surat wasiat aneh yang memaparkan rencananya untuk menciptakan Azoth—sang wanita sempurna—dari potongan-potongan tubuh para wanita muda kerabatnya. Tak lama setelah itu, putri tertuanya dibunuh. Lalu putri-putrinya yang lain serta keponakan-keponakan perempuannya tiba-tiba menghilang. Satu per satu mayat mereka yang termutilasi ditemukan, semua dikubur sesuai dengan prinsip astrologis sang seniman.



Sekilas Tentang Penulis

Soji Shimada mendapatkan julukan sebagai "Sang Dewa Misteri". Ia merupakan lulusan seni di sebuah universitas dan bekerja sebagai seorang sopir truk sekaligus musisi sebelum akhirnya mempublikasikan karyanya ini yang pernah dinominasikan dalam Edogawa Ranpo Award.

Ia menulis beberapa karya seri dengan tokoh Detektif Mitarai dan seri Detektif Yoshiki, serta menulis beberapa karya bergenre komedi misteri. Penulis perempuan ini lahir di perfektur Hiroshima dan saat ini telah berusia sekitar 71 tahun. Rupanya, ia adalah penggemar Sherlock Holmes dan band The Beatles.

Isi

"Semakin dalam rasa sakit yang kamu miliki, maka akan semakin kamu tutup-tutupi. Aku yakin tidak hanya aku yang menderita. Kenyataan yang pahit seringkali dibalut dengan senyuman-senyuman palsu."

Ini adalah novel terjemahan dari bahasa Jepang dan sudah cukup langka di Indonesia. Aku bukan berniat jahat dengan merekomendasikan buku yang susah dicari, tapi buku ini menurutku bagus dan ending-nya sama sekali tidak terduga. Bahkan meskipun telah bertahun-tahun sejak pertama kali dipublikasikan, buku ini masih tetap populer.

Cerita berawal dari kematian seorang seniman di sebuah ruangan tertutup, setelah itu selama lebih dari 40 tahun orang-orang berlomba-lomba memecahkan kasus ini, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang berhasil memecahkan misteri pembunuhan tersebut. Media-media menerbitkan berbagai macam artikel dan penerbit-penerbit mempublikasikan buku-buku mengenai spekulasi-spekulasi terkait misteri ini, tetapi tetap saja pada akhirnya misteri ini tetap tak terpecahkan hingga lama-kelamaan isunya mereda.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama seorang tokoh bernama Kazumi Ishioka yang menemani sahabatnya yang merupakan seorang astrolog sekaligus detektif bernama Kiyoshi Mitarai. Kalau kalian pernah membaca serial Sherlock Holmes, maka Kazumi Ishioka diibaratkan seperti Dr. Watson dan Kiyoshi Mitarai adalah Sherlock Holmes.

Karakter tokoh-tokoh utamanya sangat kuat meskipun karena banyaknya tokoh, aku sampai lupa dengan sebagian besar nama-namanya. Seperti cerita misteri pada umumnya, novel ini melibatkan banyak tokoh dari berbagai macam profesi. Akan tetapi, hal ini pulalah yang menjadikan novel ini sangat menarik karena identitas pelaku benar-benar tersimpan dengan rapi di antara para tokoh-tokoh unik tersebut.

Meskipun alurnya bergerak sangat lambat, kasusnya sangat menarik, unik, tidak biasa, dan membuatku berpikir keras. Setting waktu tahun 1979 benar-benar terasa dan dideskripsikan dengan sangat baik. Semua spekulasi seolah dengan mudahnya ditampik begitu saja berdasarkan fakta-fakta lama maupun yang baru saja ditemukan. Namun, kalian mungkin akan sedikit dibuat bingung dengan penjelasan mengenai zodiak dan astrologi di bagian awal bab.

Terlepas dari kebingungan yang aku rasakan ketika membaca di bab-bab awal, bab-bab selanjutnya benar-benar membuatku terbenam dalam buku. Aku dibuat sangat penasaran dengan jalannya kasus dan sosok pembunuh yang sama sekali tidak nampak sekalipun hanya bayangannya saja.

Aku biasa menebak-nebak pelaku ketika membaca Detektif Conan, Sherlock Holmes, dan cerita misteri lainnya. Kebanyakan benar, tapi tak jarang juga salah dan novel ini malah semakin mengukuhkan rekor “salah tebak”-ku. Benar-benar tak terduga. Termasuk trik pembunuhannya.

Membaca novel ini seperti sedang menunggu bom waktu untuk meledak!

Walaupun aku sudah membaca buku ini sejak tahun 2017, aku masih bisa merasakan sensasi keterkejutan dan rasa menyenangkan yang selalu hadir ketika membaca buku misteri yang mengasyikkan!

Aku bahkan sempat mengira kasus ini benar-benar pernah terjadi di Jepang, lalu memutuskan untuk pergi mencarinya di internet dan berakhir dengan fakta bahwa buku ini murni hanyalah fiksi. Selama berhari-hari bahkan bertahun-tahun setelahnya, aku masih ingin mengulang membaca novel ini. Barangkali aku akan menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak kusadari.

Buku yang sangat apik! Aku sangat merekomendasikannya untuk kalian terutama yang sangat menyukai cerita misteri. Mungkin, buku ini bisa menjadi “angin segar” untuk kalian yang jenuh dengan cerita-cerita misteri lainnya.

Oh iya, satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Novel ini bisa dibilang sadis, setidaknya menurutku. Jadi, kalian yang mungkin tidak tahan dengan deskripsinya bisa mempertimbangkan lagi untuk membaca novel ini.

Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian tertarik membaca buku ini?

"Saya mungkin berbeda dari orang lain, tetapi itulah yang menjadikan saya seorang seniman. Seni bukanlah meniru hasil karya orang lain; seni sejati hanya ada dalam perbedaan. Meskipun akan lebih mudah, saya tidak pernah mau mengikuti jejak orang lain."

Read More

[BookTalks] 3 Buku yang Harus Kamu Baca Sebelum Umur 30 Tahun



Ratna Juwita

Sebenarnya semua buku oke untuk dibaca pada umur berapa pun, tapi mungkin kalian juga ingin membaca buku yang sebaiknya kalian baca sebelum umur 30 tahun, Readers?

Kalau iya, aku bakal kasih beberapa rekomendasi buku yang bagus untuk kalian! Mengapa sebelum umur 30 tahun? Karena untuk sebagian orang, menginjak umur 30 tahun adalah hal yang spesial. Kita berada pada usia dewasa yang bisa dibilang sudah matang.

Beranjak ke umur 30 tahun bisa menjadi akhir sekaligus awal: akhir dari masa muda dan awal dari menjadi dewasa. Untuk itu, kamu mungkin perlu membaca ketiga buku ini:

“Atomic Habits” Karya James Clear

Image result for atomic habits gramedia
(sumber gambar di sini)

Anda sebaiknya jauh lebih memperhatikan lintasan yang Anda lalui dibandingkan dengan hasil-hasil sementara yang Anda dapatkan saat ini.”

Ada banyak buku mengenai kebiasaan atau habits yang bisa kalian temukan di toko-toko buku dan ini adalah salah satu buku yang kurekomendasikan. Mengapa buku ini?

Sesuai dengan judulnya, buku ini membahas mengenai kebiasaan-kebiasaan kecil yang sebenarnya justru berdampak sangat besar dalam kehidupan kita. Apakah kalian pernah mendengar tentang snowball effect?

Alleydog mendefinisikan snowball effect (efek bola salju) sebagai sesuatu yang tumbuh atau berkembang dimulai dari hal kecil, lalu semakin lama menjadi semakin besar dan cepat. Seperti halnya bola salju yang digelundungkan dari ketinggian tertentu. Awalnya, bola tersebut hanyalah bola kecil, tapi semakin turun dan semakin lama ia menggelinding, ukurannya akan menjadi semakin besar.

Sudah mendapatkan sedikit gambaran tentang ini?

Seperti itu pulalah kebiasaan. Mungkin beberapa dari kita tidak sadar bahwa diri kita saat ini adalah hasil kumpulan dari berbagai macam hal-hal kecil. Kita tidak begitu saja menjadi seperti sekarang. Kita adalah kumpulan kebiasaan kita. Kalau sedari kecil kita memang sering berolahraga setidaknya seminggu dua sampai tiga kali, maka tidak heran jika kita tumbuh menjadi orang yang sehat, tidak mudah sakit, dan memiliki tubuh yang bugar.

Begitu pula jika kita terbiasa meminum minuman tidak sehat dan terlalu banyak mengandung gula, maka mungkin saja ketika tua nanti berbagai macam penyakit akan datang menghampiri. Penyakit-penyakit tersebut bukan tiba-tiba datang, melainkan kumpulan dari kebiasaan yang kita lakukan selama ini.

Buku ini menjelaskan dengan sangat rinci, lengkap dengan data dan ilustrasi mengenai pembentukan kebiasaan. Jika kita membiasakan hal-hal baik, seberapa pun kecilnya kebiasaan itu, maka suatu saat pasti akan menimbulkan dampak besar yang baik pula dan sebaliknya.

Penulis mencantumkan banyak hal yang berasal dari pengalaman pribadinya sendiri selama ini dalam mengontrol kebiasaan-kebiasaannya. Ada berbagai macam prestasi yang dicatatkannya selama ini yang berawal dari hal-hal kecil yang terus diulang setiap hari.

Aku rasa, buku ini akan sangat kalian butuhkan agar kalian dapat mengontrol kebiasaan-kebiasaan kalian mulai dari sekarang sebelum beranjak semakin dewasa dan semakin kesulitan mengontrolnya.

 “Semua hal besar datang dari hal-hal kecil. Bibit dari setiap kebiasaan adalah sebuah pilihan yang sangat kecil. Namun seiring dengan pilihan yang dilakukan secara berulang-ulang, maka hal tersebut akan memunculkan kebiasaan yang kemudian berkembang menjadi semakin kuat. Akarnya menancap lalu tumbuhlah cabang-cabangnya. Berusaha menghancurkan kebiasaan buruk itu seperti mencoba mencabut sebuah pohon oak di dalam diri kita. Dan membangun kebiasaan baik itu seperti menanam sebuah bunga yang suatu hari akan tumbuh dengan indah.”


“Filosofi Teras” Karya Henry Manampiring

 Image result for filosofi teras gramedia
(sumber gambar di sini)

Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apa pun yang dia mau, tetapi dia memiliki kuasa untuk tidak mengingini apa yang dia belum miliki, dan dengan gembisa memaksimalkan apa yang dia terima.”

Aku akan menyelipkan buku lokal yang bisa kalian cari di semua toko buku di Indonesia tanpa kesulitan ini. Filosofi Teras adalah buku tentang stoisisme. Dalam bukunya, penulis mendefinisikan stoisisme sebagai filosofi yang sangat pragmatis dengan orientasi manajemen emosi melalui kendali nalar, persepsi, dan pertimbangan.
Waduh, jangan pusing dulu ya! Yuk, kita intip dulu sedikit blurb-nya.

Apakah kamu sering … merasa khawatir akan banyak hal? … baperan? … susah move-on? … mudah tersinggung dan marah-marah di social-media maupun dunia nyata?

Kalau iya, kalian perlu baca buku ini. Hehe.

Buku ini bukan salah satu buku yang berat untuk dibaca, kok! Karena ditulis oleh orang Indonesia tulen, bahasa yang digunakan dalam buku ini pun tergolong ringan dan komunikatif. Aku pribadi adalah salah satu pembaca yang menjauhi karya-karya terjemahan (kalau tidak kepepet banget) karena seringkali sukar memahami terjemahan yang kaku. Jadi untuk kalian yang cari buku bagus, sesuai kantong, dan enak dibaca, buku ini jawabannya.

Oh iya, balik lagi. Kalian akan menemukan banyak pelajaran berharga mengenai filosofi teras yang masih sangat jarang dibahas di Indonesia. Sebenarnya, isinya hampir sama seperti “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat”-nya Mark Manson, tapi aku lihat-lihat banyak yang lebih menyukai “Filosofi Teras” ini.

Pembahasan dalam buku ini adalah seputar kiat-kiat menjalani hidup yang memang seringkali memberi kejutan yang tidak menyenangkan. Namanya juga hidup.

Ada banyak hal yang berada di luar ekspektasi kita, lalu kita jatuh, terpuruk, dan tidak tahu cara untuk bangkit dari masalah-masalah kehidupan yang datang bertubi-tubi. Iya, kan? Filsafat Yunani-Romawi yang telah ada sejak lebih dari 2000 tahun lalu ini bisa memberikan pandangan baru untuk kalian.

Sebelum beranjak ke umur 30 tahun, ada baiknya membaca buku ini atau malah menjadikannya sebagai salah satu pedoman hidup. Semakin kita dewasa, masalah akan terasa semakin berat, tapi apabila kita tahu cara terbaik untuk menyikapinya, itu bukanlah hal yang perlu kita khawatirkan secara berlebihan.

Aku pribadi mendapatkan banyak pandangan yang menenangkan setelah membaca buku ini, jadi aku sangat merekomendasikannya.

Artikel ‘The Problem With Positive Thinking’ menyebutkan bahwa positive thinking justru sering menghambat kita. Beberapa eksperimen menunjukkan mereka yang menerapkan positive thinking dalam berusaha mencapai tujuannya sering kali memperoleh hasil yang lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang tidak. Positive thinking menipu pikiran kita. Sekadar menyuruh orang berpikir realistissaja juga tidak memberikan hasil yang baik.”


“Mitos dan Fakta Kesehatan” Karya Erikar Lebang

Image result for mitos dan fakta kesehatan erikar lebang gramedia Image result for mitos dan fakta kesehatan erikar lebang gramedia
(sumber gambar di sini dan di sini)

Sudah bukan zamannya lagi mengulang kalimat penyangkalan yang sering kita dengar dari ahli kesehatan ketinggalan ilmu kesehatan modern: ‘Penyakit ini tidak ada hubungannya dengan makanan’

Ini juga buku yang ditulis oleh penulis lokal. Sebenarnya, kalian bisa membaca buku apa pun yang bertema kesehatan, hanya saja aku menyaankan buku ini karena aku langsung berubah banyak setelah membaca buku ini.

Mengapa kalian perlu buku bertema kesehatan?

Umur 30 tahun adalah “awal” dari kehidupan kalian yang sebenarnya, apabila kalian tidak mempersiapkannya sedari awal, jangan-jangan nanti kalian akan terlambat menyadarinya. Sudah sangat umum slogan-slogan bertema kesehatan yang malang-melintang di mana-mana, apakah kalian sudah mempraktikkannya?

Contohnya saja makan makanan yang banyak mengandung serat seperti sayur, buah-buahan, bahkan nasi merah. Mungkin kalian memang belum merasakannya, tetapi penyakit-penyakit mungkin sedang berkambang biak dalam tubuh kalian apabila kalian tidak segera mengubah pola hidup kalian.

Buku ini memiliki dua jilid dan keduanya tentu saja ditulis dengan gaya bahasa yang asyik karena buku ini merupakan kumpulan cuitan di akun twitter penulis tentang kesehatan. Apakah kalian tahu bahwa kalian membutuhkan empat gelas air putih untuk “menebus” secangkir kopi yang telah kalian minum? Itu hanya “menebus” tidak termasuk hitungan kebutuhan 7-8 gelas air putih setiap harinya.

Penulis berasal dari keluarga dokter dan dalam bukunya ini, ia menganjurkan kita untuk mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan minum air putih yang cukup setiap harinya. Kalian tidak mau kan apabila kesuksesan kalian jadi terhambat gara-gara kalian sakit?

Memperbaiki pola hidup sedini mungkin adalah pilihan yang harus kalian pertimbangkan jika masih ingin sehat di umur kalian yang sudah menua nantinya. Memang hidup dan mati telah digariskan, tapi kita juga harus tetap berusaha sebaik-baiknya.

Read More

[BookTalks] 7 Kebiasaanku ketika Membaca Buku yang Jarang Dilakukan Orang Lain

 

Ratna Juwita

Readers, kalian punya kebiasaan yang jarang orang lain lakukan ketika membaca buku?

Entah kita sadari atau tidak, pasti masing-masing dari kita memiliki sebuah (atau beberapa) kebiasaan ketika membaca sebuah buku, terutama buku-buku yang menurut kita sangat menarik. Kebiasaan itu bisa jadi sama atau benar-benar berbeda dengan orang lain.

Kali ini, aku ingin berbagi mengenai beberapa kebiasaanku ketika membaca buku yang (mungkin) jarang orang lain lakukan:

1 Menyimpan Quotes yang Menurutku Bagus di Ms. Excel

Aku punya kumpulan quotes di Ms. Excel dari buku-buku yang sudah pernah aku baca. Supaya tidak mengganggu bacaan, biasanya aku siapkan notes kecil dan bolpoin saat membaca untuk mencatat nomor-nomor halaman berisi quotes, itu akan jadi lebih mudah dan cepat. Baru setelah aku selesai baca, aku akan mengetik kembali quotes-nya di Ms. Excel.

Hal ini aku lakukan supaya aku bisa melihat-lihat kembali isi bukunya tanpa perlu membaca bukunya lagi atau untuk mengingat kembali kalimat-kalimat yang biasanya mengubah sudut pandang dan menambah pengetahuanku. Ini juga memudahkanku saat menulis review. Hehe.

2. Menyelipkan bacaan fiksi ketika pikiran terlalu melanglang buana saat membaca non fiksi

Kalian tipe pembaca yang harus menyelesaikan satu buku dulu, baru membaca buku lainnya atau tipe yang suka membaca banyak buku sekalipun tidak ada di antaranya yang sudah kalian selesaikan?

Aku tipe yang semena-mena. Hehe. Biasanya aku akan bergantian loncat dari buku fiksi ke buku non fiksi saat membaca. Misalnya, aku merasa otakku terlalu lelah untuk mencerna informasi berat, maka aku akan langsung loncat ke buku fiksi yang ingin kubaca (biasanya bertema romansa anak remaja). Kalau sudah bosan dengan buku fiksi dan aku sudah merasa bugar kembali (kayak habis olahraga saja), aku akan lanjut membaca buku non fiksi yang sempat kutinggalkan.

Cara ini sangat ampuh untukku yang dulunya adalah penikmat fiksi, tapi sekarang mulai belajar membaca banyak buku non fiksi. Bahkan, non fiksi kini menjadi salah satu genre bacaan favoritku selain misteri dan romansa.

3. Membaca kapan pun aku mau, bahkan saat makan

Untuk satu ini yang aku baca via e-book, ya. Kadang aku benar-benar tidak ingin lepas dari bacaanku. Jadi, aku akan membaca sambil makan. Pasti kalian berpikir, berarti aku tidak menikmati makananku? Hmm, aku pribadi merasa makananku jadi lebih nikmat kalau sambil membaca buku. Hehe. Apalagi kalau lagi seru-serunya.

4. Menggunakan pensil, bolpoin, atau bahkan buku lain sebagai pembatas buku

Kalau tidak ada pembatas bukunya (biasanya buku non fiksi), biasanya aku akan menggunakan apa pun untuk menjadikannya pembatas, baik itu uang, tag label pakaian (kalau kebetulan habis beli pakaian baru), postcard, atau benda pipih lainnya. Namun, seringkali aku kehabisan pembatas buku karena aku suka loncat dari satu buku ke buku lain dan benda terdekat yang paling sering kutemukan adalah pensil, bolpoin, atau malah buku lain. Daripada pusing mencari benda lain, aku akan menggunakan salah satu di antara ketiga benda itu.

Lalu kalau bolpoin atau pensilnya habis?

Biasanya sih tidak karena entah kenapa aku suka sekali membeli pensil dan bolpoin dalam jumlah yang cukup, jadinya tidak pernah kehabisan. Hehe.

Apa jilid bukunya tidak rusak?

Selama ini sih tidak (atau belum?)

5. Memilih buku yang kurang terkenal

Nah, ini yang biasanya jadi dilema. Aku akan menaruh buku-buku yang sedang hype  di wishlist, tapi tidak akan aku beli atau baca dalam waktu dekat. Malah bukunya seringkali tertumpuk oleh bacaan-bacaan lain. Padahal ketika aku membaca bukunya ketika antusiasme sudah menurun, ternyata bukunya memang bagus!

Meskipun begitu, aku tipe pembaca yang akan membaca buku yang ingin aku baca di waktu-waktu yang juga aku inginkan. Aku jarang membaca buku yang direkomendasikan teman-teman sesama pembaca. Aku memang tertarik melihat review-review mereka dan berakhir memasukkan buku-buku itu ke deretan wishlist, tapi biasanya aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk benar-benar berkeinginan membacanya.

Mungkin satu dua kali aku akan membaca buku yang mereka rekomendasikan asalkan aku memang sedang dalam mood yang tepat dan ada keinginan dari dalam diri sendiri untuk baca. Ribet banget, ya?

6. Meletakkan buku yang belum selesai kubaca di atas meja

Aku tipe orang yang malas mengembalikan buku ke rak kalau belum selesai membacanya. Alhasil, mejaku akan penuh dengan buku-buku dan hal ini bisa berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Aku baru akan meletakkannya kembali ke rak buku jika aku sudah cukup yakin aku tidak akan membacanya lagi dalam waktu dekat atau urusanku dengan mereka sudah selesai (jiah, jadi kayak hubungan sama doi *eh). Biasanya buku-buku jurnal, referensi, buku pelajaran, dan sebagainya.

7.  Tidak Menjadikan Rating Goodreads Sebagai Acuan

Mungkin ada beberapa orang yang menjadikan platform favorit para pembaca buku itu sebagai acuan sebelum membeli atau membaca buku, tapi aku tidak. Sudah kubilang di awal kan kalau aku akan membaca buku yang ingin aku baca? Hehe.

Meskipun rating di Goodreads 0 sekalipun, kalau aku memang ingin baca, aku akan tetap baca.

---------------

Kalau kalian, apa kebiasaan kalian saat baca buku yang jarang dilakukan orang lain?

Read More

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com