Tuesday, February 18, 2020

[Book Review] Praktik Feodalisme Jawa dalam Novel "Gadis Pantai" Karya Pramoedya Ananta Toer


Image result for novel gadis pantai
(sumber gambar di sini)
Ratna Juwita



Gadis pantai lahir dan tumbuh di sebuah kampung nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang. Seorang gadis yang manis. Cukup manis untuk memikat hati seorang pembesar santri setempat; seorang Jawa yang bekerja pada (administrasi) Belanda. Dia diambil menjadi gundik pembesar tersebut dan menjadi Mas Nganten: perempuan yang melayani “kebutuhan” seks pembesar sampai kemudian pembesar memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sekelas atau sederajat dengannya.

Mulanya, perkawinan itu memberikan prestise baginya di kampung halamannya karena dia diandang telah dinaikkan derajatnya, menjadi Bendoro Putri. Tapi itu tidak berlangsung lama. Ia terperosok kembali ke tanah. Orang Jawa yang telah memilikinya, tega membuangnya setelah dia melahirkan seorang bayi perempuan.

Roman ini menusuk feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan tepat langsung di jantungnya yang paling dalam.


Judul : Gadis Pantai
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Juli 2003
Tebal : 272 hlm.
ISBN : 979-97312-8-5

Rate            : 4,8 / 5


Feodalisme menurut KBBI adalah sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan yang besar kepada golongan bangsawan. Disebut praktik feodalisme karena dalam novel Gadis Pantai karya Parmoedya Ananta Toer, tokoh utama terjebak dalam sistem yang mengharuskannya menurut pada penguasa pada saat itu. Dalam kasus ini, ia dipaksa menjadi istri dari seorang penguasa.

Pramoedya Ananta Toer atau akrab disapa Pak Pram adalah seorang sastrawan dan tokoh pers. Ia lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925. Pramoedya adalah anak sulung dari seorang kepala sekolah Institut Budi Oetomo bernama M. Toer. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan dalam penjara—sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru tanpa proses pengadilan. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ni, diantaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa. Jejak Langkah, Rumah Kaca).

Sampai saat ini, Pramoedya Ananta Toer telah menghasilkan 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai pernghargaan internasional, diantaranya: The PEN Freedom-to-write Award pada 1988,  Ramon Magsaysay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price Jepang pada tahun 2000, Norwegian Authors Union pada tahun 2004, dan sebagainya.

Penjara tak membuatnya sejengkal pun berhenti menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi maupun nasional. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dilarang beredar, ataupun dibakar. Salah satunya adalah novel Gadis Pantai ini. Sebenarnya, Gadis Pantai adalah sebuah trilogi yang menceritakan mengenai kehidupan nyata nenek moyang dari Pak Pram. Namun, sekuel kedua dan ketiganya dimusnahkan karena dianggap berbahaya untuk pemerintah Indonesia pada masa itu.

Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, novel Gadis Pantai membeberkan dengan gamblang praktik feodalisme Jawa pada masa itu yang dianggap biadab. Novel ini bercerita tentang seorang gadis yang tinggal di pesisir pantai. Karena kecantikannya, seorang Bendoro—sebutan bangsawan Rembang pada masa itu—meminangnya. Dari situlah segala konflik batin Gadis Pantai dimulai. Ia baru berusia sekitar 15 tahun ketika menikah dengan Bendoro. Ia merasakan kehidupan yang sangat berbeda di rumah megah kejawen dengan segala pelayanan dan fasilitasnya.

Setting waktu novel Gadis Pantai adalah sekitar awal abad ke 20 di sebuah tempat di Rembang. Bendoro, orang yang menikahi Gadis Pantai, adalah bangsawan Rembang pada saat itu.  Bahasanya khas bahasa Indonesia di masa itu dengan alur maju. Memang tidak lugas, namun telah cukup dapat dipahami. Saya sendiri membacanya saat duduk di bangku SMA dan cukup jelas memahami novel ini karena memang bahasanya tidak terlalu kaku. Satu ciri yang paling lekat dari ingatan saya hingga saat ini adalah seringnya terdapat kata-kata “Lain tidak” (bukan yang lain). Gaya bercerita Pak Pram sangat mengalir dan detail, membuat pembaca dapat memiliki gambaran yang jelas mengenai bentuk rumah, perabotan, bahkan kondisi sosial politik pada masa itu. Sehingga, walaupun telah berbeda zaman, pembaca dapat mengimajinasikan sendiri situasi pada saat itu.

Novel ini memberikan pengetahuan sekaligus mengungkapkan pemikiran mengenai sistem feodalisme Jawa dengan penggambaran yang rinci. Pembaca dipancing untuk menyetujui pemikiran Pak Pram yang ia sisipkan dan menyatu begitu saja sebagai bagian dari narasi novel. Meskipun begitu, kekurangan dari novel ini adalah tidak adanya sekuel yang bisa membuat pembaca seperti saya, penasaran dengan cerita lanjutan nasib Gadis Pantai. Meskipun begitu. ending cerita novel ini tidak dibuat menggantung, melainkan telah sangat mewakili keutuhan sebuah cerita. Kekurangan lain yang saya temukan adalah lebih banyaknya dialog dibandingkan narasi cerita. Dialog dalam novel pun banyak yang tidak diikuti nama tokoh yang sedang berdialog tersebut. Hal ini mungkin bisa membuat pembaca bingung memahami identitas tokoh yang sedang berdialog.

Terlepas dari kekurangan itu, cerita Gadis Pantai sedikit banyak memberikan pemaknaan pada sebuah kisah, bahwa tidak semua cerita diawali dan diakhiri dengan hal yang indah. Membaca novel ini seolah membuat pembaca kembali dari dunia awang-awang mengenai kebahagiaan dalam sebuah cerita romansa, untuk berpijak kembali pada kenyataan.

Ada sebuah ungkapan bahwa karya sastra adalah cerminan dari keadaan masyarakat pada saat ditulisnya novel tersebut. Seperti itu jugalah novel ini membuat saya menyadari beringasnya kehidupan penjajahan pada masa itu yang dapat dinikmati dengan cara yang lain. Lebih mengalir, lebih mengibakan, dan dapat menjadi bahan perenungan dalam kehidupan. Pembaca disuguhi situasi-situasi zaman penjajahan yang tentunya tidak kita rasakan saat ini dalam bentuk novel yang menarik untuk dinikmati diwaktu-waktu senggang. Saya rekomendasikan buku ini untuk pembaca usia 17 tahun ke atas karena novel ini sarat akan intrik dan polemik dalam sistem paling kecil dalam kehidupan, yaitu keluarga, hingga politik dan pemerintahan. Selain itu, Gadis Pantai adalah novel yang di masa lalu ditentang peredarannya, karena itu pembaca 17 tahun ke atas dianggap telah mampu memilih dan memilah informasi yang didapatkan dari novel ini nantinya.


Referensi:
Ananta Toer, P. (2003). Gadis Pantai. Jakarta: Lentera Dipantara.
Anonim. “Pramoedya Ananta Toer”. Tersedia: https://m.merdeka.com/pramoedya-ananta-toer/profil/ [18 Desember 2017]


0 Creat Your Opinion:

Post a comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com