Monday, February 17, 2020

[BookTalks] 5 CM: Buku yang Menyelamatkanku



“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”


Apa kabar, Readers?

Kalian pasti sudah tahu novel yang booming sekitar tahun 2005 ini. Sayangnya, aku tipe orang yang semakin film atau buku itu booming, semakin aku kehilangan minat nonton atau baca. Bisa dibilang, aku tipe pembaca sok jual mahal. Hehe. Baru setelah antusiasme masyarakat mereda (bahkan mungkin sudah lupa), aku mulai beraksi.

Buku ini kubaca tahun 2019. Iya, baru tahun lalu. Empat belas tahun setelah buku ini pertama kali diterbitkan!

Awalnya, aku masih tidak tertarik dengan buku bersampul hitam ini, tapi mungkin takdir memang menuntunku untuk membelinya di salah satu obralan. Oh, aku jadi ingat alasan aku tidak membelinya yaitu karena pada tahun itu aku masih SD dan uang jajanku jelas tidak mencukupi. Ditambah lagi, sepertinya saat itu aku belum jatuh cinta dengan buku-buku.

Begitu buku ini mendarat di kosan, langsung kurobek pembungkusnya dan kubaca. Kebetulan saat itu juga sedang ada challenge membaca di sebuah akun Instagram bookstagrammer untuk menyambut bulan Ramadhan. Biar puasanya lebih berfaedah gitu dengan baca banyak buku.

Sebenarnya selama dua tahun belakangan aku kehilangan motivasi. Aku meninggalkan hal yang aku suka: menulis, membaca, dan belajar. Dulu, perpaduan ketiga hal itu adalah yang paling bisa membuatku berkutat seharian di kamar. Aku mulai mengalami quarter-life crisis.

Quarter-life crisis? Makanan apa itu?

Buat kalian yang belum akrab dengan istilah itu, izinkan aku memberikan gambaran singkatnya. The Muse mengartikan quarter-life crisis sebagai sebuah periode kehidupan pencarian jati diri dan kemunculan stres di usia 20an hingga 30an. Lebih lanjut lagi, data dari The Guardian menyebutkan bahwa 86% milenial mengalami kecemasan (insecurities), kekecewaan (disappointments), kesepian (loneliness) dan depresi (depression).

Nah, sudah mendapatkan sedikit gambaran soal istilah ini? Atau kalian justru pernah atau sedang mengalaminya?

Intinya, aku sedang berada di titik itu. Bertanya-tanya mengenai tujuan hidupku, menoleh kembali ke masa lalu dan semua hal yang telah kulalui, lalu kebingungan menatap masa depan. Kegagalan demi kegagalan mulai menyentilku jatuh dan aku tidak tahu cara untuk berdiri lagi. Halah. Versi lebaynya begitu.

Aku jarang membaca buku fiksi yang memotivasi sejenis 5 CM ini—dan berakhir menyesal karena kurang baca buku bagus sejenis. Untungnya, aku setidaknya pernah membaca buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata walaupun selain itu, nihil. Kenyataannya, buku-buku bertema romansa remaja lebih menarik perhatianku (nangis).

“Ini semua bukan tentang selera, tentang usik, tentang bola atau apa pun. Itu semua kecil banget disbanding kalo kita bisa menjadi orang yang membuat orang lain bisa bernapas lebih lega karena keberadaan kita di situ.” [hlm. 51]

5 CM sukses merebut perhatianku sepenuhnya sejak di lembar pertama. Bahasanya super ringan dan sangat komunikatif. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk segera menyelam ke dalam cerita. Aku dibuat terkagum-kagum dengan pengetahuan tokoh-tokohnya terhadap banyak hal: dari Bill Gates sampai Socrates. Ada banyak sekali hal yang sebelumnya tidak kuketahui, aku dapatkan dari buku ini.

Mengetahui pengetahuan tokoh-tokohnya yang luas, aku jadi bertekad untuk banyak membaca buku-buku yang disebutkan di sana, serta mencari tahu lebih dalam mengenai tokoh-tokoh sejarah yang disebutkan di buku ini. Aku merasa otakku seperti tanpa ilmu; kosong. Pemikiran kritis yang disajikan dengan ringan di buku ini benar-benar membuka mataku bahwa aku masih tidak tahu apa-apa tentang dunia ini.

Cerita beranjak ke rencana lima sekawan; Arial, Riani, Zafran, Genta, dan Ian, untuk tidak saling berkomunikasi selama beberapa waktu. Genta yang dianggap sebagai sosok teman dengan jiwa kepemimpinan yang kuat memutuskan bahwa mereka akan berkumpul kembali pada tanggal 14 Agustus, lengkap dengan berbagai macam barang bawaan untuk pergi naik gunung.

Wah!

Dari sini, dadaku sudah mulai berdebar dan semangatku menggebu. Naik gunung. Aku sama sekali belum pernah terpikirkan untuk melakukannya. Duniaku sebelum ini terasa terlalu sempit dan kau kurang bereksplorasi dengan sekitarku. Quote-quote yang bertebaran di buku ini sukses membuatku merinding, sekaligus menanamkan keyakinan kuat tentang persahabatan dan impian. Beberapa kali, mataku dibuat berkaca-kaca membaca kalimat demi kalimat.

Tepat pada tanggal 14 Agustus itu mereka ditambah Dinda, adik Arial, bertemu di Pasar Senen. Mereka selanjutnya melakukan perjalanan ke Malang dari Jakarta dengan menggunakan kereta. Sepanjang perjalanan, banyak diskusi dan tukar pikiran antar tokoh. Mereka sangat peka dengan sekelilingnya. Jadi, ada banyak hikmah yang bisa diambil di banyak kejadian, tak terkecuali ketika mereka menyewa sebuah angkot untuk langsung ke Semeru.

Aku sendiri sebenarnya orang Malang, tapi hidupku dulu berkutat dengan rumah dan sekolah. Hal yang aku lakukan adalah menulis, membaca, dan belajar. Pergi ke tempat wisata? Boro-boro. Ya, kadang juga pergi bersama teman-teman, sih. Hehe. Namun, apakah aku pernah kepikiran untuk pergi ke Semeru? Sama sekali tidak.

Perjalanan penuh makna mereka masih berlanjut dan mereka berjuang keras untuk bisa melewati semua rintangan dan kesulitan selama mendaki Semeru. Membaca semua itu membuat ada sesuatu yang bangkit dalam diriku, iya semangat, motivasi, impian, semua menyeruak dan menggempur mentalku yang sedang dalam keadaan terjerembab.

Adegan yang paling membuat bulu kudukku berdiri adalah ketika mereka akhirnya berhasil tiba di puncak Semeru, mengibarkan bendera merah putih tepat di tanggal 17 Agustus. Air mataku lolos begitu saja sampai ke tempat tidur. Nasionalisme mereka menjalar hingga ke hati.

Oh, Tuhan. Aku sempat kehilangan pegangan, kehilangan impian, bahkan tidak percaya aku akan bisa meraihnya, tapi hanya dengan membaca cerita ini aku seperti punya kekuatan untuk bangkit sekali lagi. Bahwa, hidup memang butuh perjuangan ekstra. Apabila kakiku tersandung dan tubuhku menggelepar dalam ketidakberdayaan pun, aku masih ingin berdiri sekali lagi. Setidaknya, aku akan memastikan diriku untuk tidak pernah lagi mengumandangkan kata menyerah. Aku tidak bohong, efeknya memang sedahsyat itu.

Impian … sesuatu yang sebelumnya kutatap dengan sinis, kini justru menjadi hal yang membuatku tak mudah roboh dan putus asa.

Dan, sekali saja. Walaupun sekali seumur hidup, aku ingin sekali naik gunung! Aku ingin merasakan sensasi ketika kelelahan dengan keringat mengucur deras, membasahi seluruh tubuhku, demi mencapai sesuatu; puncak tinggi itu. Untuk meyakinkanku sekali lagi bahwa tidak ada hal yang mustahil di dunia ini jika kita berusaha keras dan pantang menyerah.

Terdengar klise memang, tapi menurutku tidak ada pernyataan yang lebih tepat dari itu.

Jadi, begitulah buku ini mengubah sudut pandangku; memberikanku impian dan semangat baru untuk meraihnya. Buat kalian yang belum baca buku ini, coba deh baca dan sadari kalau ada hal magis yang kalian rasakan setelah menutup halaman terakhir.

Buku ini memang sekeren itu!

Ngomong-ngomong, buku apa yang pernah membuka pandangan mata atau mengubah hidup kalian? Mind to tell me on the comment below? Thank you!

“… Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan … sehabis itu yang kamu perlu … suma … kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Serta mulut yang akan selalu berdoa.” [hlm. 362-363]

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com