Thursday, February 20, 2020

[BookTalks] Rekomendasi Buku untuk Pengidap Depresi


Ratna Juwita

Sebenarnya, Readers, aku agak kurang enak menggunakan kata “pengidap”. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman ketika menuliskannya. Mungkin lebih enak kalau diganti “orang yang mengalami depresi” kali, ya?

Akhir-akhir ini sepertinya kasus depresi semakin mencuat di mana-mana. Setidaknya, itu yang aku rasakan. Ketika berselancar di dunia maya, aku sering sekali melihat kasus bunuh diri karena depresi, self-harm, status-status yang bertemakan kecemasan, ketidaknyamanan, dan sebagainya.

Beberapa kali aku menemukan mereka yang terlihat sangat “hopeless” lewat kata-kata mereka. Bahkan, aku menyaksikan sendiri teman-temanku juga banyak yang mengalami hal serupa. Sebisa mungkin, aku mencoba untuk mengirimkan pesan penyemangat pada mereka sekalipun aku tidak mengenal mereka di media sosial. Ketika aku melakukannya, mereka menunjukkan rasa terima kasih yang besar dan aku senang bisa melakukan hal kecil itu. Beberapa dari mereka malah kemudian menceritakan masalah mereka padaku dan aku akan membaca semua tulisan mereka dengan kepala dingin. Sebisa mungkin tidak menjustifikasi apa pun.

Aku tidak pernah mempelajari psikologi walaupun aku sebenarnya punya ketertarikan dengan itu. Meskipun aku tidak pernah pergi ke psikolog atau pun didiagnosa mengidap depresi, aku pernah berada di posisi ketika “semua kata-kata motivasi tidak mempan”.

Sedari kecil, aku adalah tipe orang yang bisa dikatakan self-motivated. Acara kesukaanku adalah acara-acara pengetahuan seperti Animal Planet dan acara motivasi yang pernah dibawakan oleh salah satu motivator kondang di sebuah stasiun televisi swasta. Iya, yang ada “Golden Ways”-nya itu. Itu adalah acara TV favorit yang selalu aku tonton setiap minggu.

Tidak pernah sekali pun terpikirkan olehku bahwa aku akan berada di titik yang sangat rendah (sudah pernah kubahas di sini). Kata-kata motivasi mengalir lewat begitu saja bahkan aku sampai berpikir bahwa semua kata’kata itu adalah omong kosong belaka. Padahal, aku adalah pencinta buku bertema pengembangan diri.

Setelah mengalaminya, aku baru menyadari bahwa ternyata cara berpikir orang yang tengah “terpuruk”, sama sekali berbeda dengan orang yang tidak. Dulu ketika aku belum pernah merasa seterpuruk beberapa waktu lalu, aku selalu bertanya-tanya: “Mengapa cara berpikir mereka begitu rumit? Padahal, masalah mereka akan selesai jika mereka berpikir seperti ini”.

Stigma yang terbentuk di masyarakat mengenai orang-orang yang depresi ini memang sangat mendiskreditkan mereka. Mereka sering diberi label “jauh dari agama”, “tidak bersyukur”, dan sebagainya. Padahal, pola pikirnya benar-benar berbeda. Mereka yang tidak atau tidak pernah merasa depresi tidak akan pernah tahu cara berpikir mereka yang mengidap depresi.

WHO mencatat sekitar 264 juta orang di seluruh dunia mengidap depresi. Lebih lanjut, WHO menerangkan bahwa depresi berbeda dengan perubahan mood biasa dan berbeda juga dari emosi sementara yang timbul sebagai respons dari berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, aku mencoba untuk mencari buku-buku yang sekiranya dapat membantu kalian yang mungkin sedang mengalami kecemasan, ketakutan, dan sebagainya. Aku tidak akan merekomendasikan buku dengan kata-kata mutiara dan motivasi bertebaran dari awal hingga akhir karena aku tahu hal itu tidak akan membantu.

Berikut ini adalah buku yang aku rekomendasikan untuk kalian:


Reasons to Stay Alive Karya Matt Haig

Image result for buku reasons to stay alive indonesia
(sumber gambar di sini)
Image result for buku reasons to stay alive indonesia
(sumber gambar di sini)

Matt Haig adalah seorang penulis buku untuk anak-anak dan orang dewasa. Bukunya yang berjudul “Reasons to Stay Alive” menjadi buku bestseller dan bertengger di sepuluh besar selama 46 minggu. Ia adalah mantan pengidap depresi dan ia menuliskan pengalamannya hingga bisa lepas dari depresinya lewat buku ini.

Dalam buku ini, ada banyak hal yang mungkin baru bagi orang yang “awam” dengan depresi dan sangat bagus dijadikan referensi untuk mengubur stigma-stigma mengenai pengidap depresi. Gaya bahasanya ringan dan tidak berat. Versi terjemahannya juga tidak kaku dan bisa dipahami. Selain mengenai depresi, dalam buku ini juga dibahas secara singkat mengenai kesehatan secara umum.

Hal yang paling penting adalah fakta bahwa buku ini adalah “bukti” bahwa seorang pengidap depresi dapat sembuh. Memang depresi bukanlah hal yang akan dapat diatasi hanya dalam waktu beberapa hari. Seringkali membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Seperti itu pulalah yang terjadi pada Matt Haig.

Penulis yang juga bisa kalian ikuti di akun twitter-nya @matthaig1 ini memberikan poin-poin alasan kalian harus hidup. Tidak peduli seberapa besar penderitaan dan kekecewaan yang kalian alami, akan selalu ada alasan-alasan kecil yang bisa kalian temukan untuk bertahan hidup. Hal yang harus kalian lakukan adalah menemukan alasan “kecil” itu.

Gaya bahasa penulis sama sekali tidak menggurui, melainkan merangkul karena penulis sendiri pernah berada di posisi yang mungkin sedang kalian alami saat ini. Buku ini akan mengubah sudut pandang kalian meskipun mungkin hanya sedikit, tapi tidak ada salahnya mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang yang tahu benar hal yang kalian rasakan.

Beberapa quote di buku ini yang paling aku suka:

“Pada akhirnya, dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk hidup dibandingkan untuk bunuh diri.” [Albert Camus – A Happy Death]

“Setelah badai berlalu, kau tidakakan ingat bagaimana caramu melewatinya, caramu bertahan. Kau bahkan tidak bisa sepenuhnya yakin bahwa badai itu sudah benar-benar berlalu. Tapi yang jelas saat kau selamat dari badai, kau bukan orag yang sama lagi. Memang itulah tujuan badai.” [Haruki Murakami, hlm. 78]

What doesn’t kill you, makes you stronger.”

---------------

   Man’s Search for Meaning Karya Viktor E. Frankl

Image result for buku mans search for meaning indonesia gramedia
(sumber gambar di sini)


Image result for buku mans search for meaning indonesia gramedia
(sumber gambar di sini)

Ini adalah sebuah buku semi biografi pengarang yang merupakan salah satu prang yang berhasil selamat dari holocaust Nazi pada Perang Dunia I hingga kini menjadi seorang psikiater. Tidak hanya akan mendapatkan ketenangan, tetapi juga pengetahuan dalam waktu yang bersamaan jika kalian membaca buku ini.

Sama seperti buku pertama, buku ini juga merupakan pengalaman nyata penulis dalam mempertahankan kewarasannya di tengah krisis kemanusiaan yang dialaminya selama Perang Dunia I di sebuah kamp pengasingan. Setiap hari, penulis harus berhadapan dengan mayat teman-temannya serta kekerasan yang terjadi siang dan malam. Tentunya, pengalaman seperti ini tidaklah “sekadar pengalaman biasa”.

Buku ini menunjukkan perubahan pandangan penulis terhadap hidup. Alih-alih kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya akibat segala macam penderitaan yang dirasakannya di kamp pengasingan, ia justru menjadi jauh lebih “kuat” dan lebih “hidup” daripada sebelumnya. Kalian tidak akan merasa seperti seseorang tengah berusaha memberitahumu ini dan itu untuk dilakukan melainkan memberikan contoh nyata implementasi pemikiran penulis di masa-masa paling sulit dalam hidupnya.

Lewat pengalamannya itu, penulis juga akhirnya justru menemukan sebuah metode terapi yang disebut psikoterapi untuk pasien-pasien penderita depresi. Pengalaman-pengalaman menyakitkan penulis ditambah fakta bahwa penulis kini menjadi seorang psikiater tentunya menjadi nilai tambah untuk buku ini.

Buku ini tidak tebal, hanya sekitar seratus sekian halaman. Tentunya sangat cocok buat kalian yang mungkin memiliki short attention span atau yang belum pernah membaca buku sejenis sekalipun.

Beberapa quote yang aku suka dalam buku ini:

Apa pun bisa dirampas dari manusia, kecuali satu; kebebasan terakhir seorang manusia—kebebasan menentukan sikap dalam setiap keadaan kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.”

“Tidak perlu merasa malu karena menangis. Menangis adalah bukti bahwa seorang manusia memiliki keberanian yang besar, yaitu keberanian untuk bertahan melewati penderitaan.”

 ----------------

Oh iya, aku akan meng-update lagi postingan ini jika aku sudah membaca buku-buku lainnya yang dirasa cocok. Kalian juga boleh banget menambahkan di kolom komentar buku-buku bertema serupa yang sudah kalian baca ^^ Aku tunggu, ya!

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com