Monday, February 17, 2020

[BookTalks] Tiga Buku Terbaik yang Pernah Kubaca





Halo, Readers! How has your day been?

Kali ini aku ingin berbagi soal tiga buku terbaik yang pernah kubaca. Sebelumnya, aku ingin menginformasikan pada kamu bahwa aku adalah tipe pembaca yang tidak pilih-pilih genre, alias aku membaca semua buku yang ingin kubaca dan menurutku menarik, mulai dari politik, ekonomi, sastra, sampai novel romansa teen lit sekalipun. Boleh dibilang, aku pembaca yang tidak rewel. Mau itu buku pelajaran juga oke akan kuterima dengan senang hati. Hehe.

Kalau ditanya mengenai jumlah buku yang sudah pernah kubaca, sebenarnya tidak begitu banyak. Di akun goodreads-ku, sejauh ini aku sudah membaca sebanyak 344 buku. Itu belum termasuk buku-buku yang tidak ada di goodreads, jadi tidak ikut tercantum.

Anggap saja aku mulai membaca buku saat umur 13 tahun, maka selama sembilan tahun sampai saat ini, rata-rata per tahun aku membaca sebanyak 38 buku. Rata-rata bacaanku adalah komik dan novel remaja, tentu saja. Namun, baru-baru ini aku semakin memiliki ketertarikan yang kuat dengan buku nonfiksi (terutama buku pengembangan diri).

Sebenarnya memilih hanya tiga buku ketika ada puluhan buku yang menarik adalah hal yang sulit. Aku berniat mencantumkan satu novel di sini, tapi sejauh yang aku ingat tidak banyak novel inspiratif yang pernah kubaca (oke, maaf untuk hal ini). Jadi, aku memutuskan untuk memilih buku-bukunya dari genre nonfiksi. Mungkin di masa depan bisa berubah, hehe. Tunggu saja.

Baiklah, jadi inilah ketiga buku terbaik versiku:


1. Factfulness: 10 Alasan Kita Keliru Tentang Dunia

 
(sumber gambar di sini)


Jika pada tahun 1970an penduduk dunia telah mencapai sekitar 4 miliar dan pada tahun 2020 telah menyentuh angka lebih dari 7 miliar, berapa kira-kira banyaknya penduduk dunia pada tahun 2050?

Mungkin kebanyakan dari kita akan menjawab lebih atau sekitar 10 miliar! Buku ini, dengan jelas menampik jawaban tersebut. Pada tahun 2050, kemungkinan jumlah manusia yang ada di bumi adalah sekitar 8 miliar.

Hal pertama yang aku rasakan saat berada di halaman terakhir buku ini adalah takjub. Aku sama sekali tidak bisa berhenti membaca sejak halaman pertama, sangat tertarik dengan berbagai macam informasi yang disajikan penulis.

Buku ini adalah karya Hans Rosling, seorang ilmuwan berkebangsaan Swedia. Ia membuat statistik untuk berbagai macam penelitian. Bukunya ini adalah fakta-fakta yang dikumpulkannya selama berdekade-dekade dan sebagai bukti tak terbantahkan bahwa hal yang selama ini kita kira mungkin saja salah.

Terdapat 13 pertanyaan dalam buku ini tentang pengetahuan umum dunia. Hans Rosling kemudian menyebarkan pertanyaan pilihan ganda tersebut pada banyak profesor, guru, dan orang-orang dari berbagai profesi lainnya dan meminta mereka menjawabnya. Tentunya, orang-orang yang diminta untuk menjawab tidak hanya berpusat pada satu dua negara, melainkan puluhan negara sekaligus.

Selain itu, ia juga memberi tes yang sama kepada beberapa ekor simpanse yang tentu saja menjawabnya dengan acak.

Bagaimana hasilnya?

Secara mengejutkan, presentase orang-orang yang ‘berpengetahuan’ tersebut menjawab benar ketiga belas pertanyaan tersebut kurang dari 10 persen! Simpanse yang (tentu saja) menjawab secara acak memiliki presentase benar 30 persen.

Mengapa bisa begitu?

Alasan utamanya karena pertama, pengetahuan kita dari bertahun-tahun lalu sudah tidak update. Kedua, peran media yang sangat besar dalam menunjukkan pada kita berita-berita buruk. Faktanya, dunia tidak seburuk yang kita pikirkan. Fakta lainnya, kita tengah tinggal di zaman paling aman sepanjang sejarah!

Fakta-fakta yang dibeberkan oleh Hans Rosling benar-benar membuka mataku. Tiap pertanyaan akan dibahas dengan cara yang tak kalah seru dan menakjubkan. Menunjukkan bagaimana selama ini pikiran-pikiran kita sendirilah yang membuat dunia jadi tampak sangat buruk.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi tentang buku favoritku ini. Di bawah ini adalah quote dari bukunya yang paling sering ia tuliskan:
The world cannot be understood without numbers. But the world cannot be understood with numbers alone.”


2. Rich Dad, Poor Dad


(sumber gambar di sini)

“The love of money is the root of all evil. The lack of money is the root of all evil.”
Mungkin kamu sudah pernah mendengar atau bahkan membaca buku ini. Ini adalah buku karangan Robert T. Kiyosaki. Ia adalah penulis buku bestseller bertema finansial nomor satu menurut New York Times selama bertahun-tahun. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1997. Penulis juga adalah seorang pebisnis, pendidik, dan inverstor.

Sudah telihat dengan jelas bahwa buku ini adalah buku bertema keuangan pribadi. Pertama kali membacanya beberapa bulan lalu dan aku langsung bisa merasakan perbedaan pemikiran dari sebelum aku membacanya.

Ada banyak hal yang aku dapatkan dari buku ini tentang cara berpikir orang-orang kaya, cara memanfaatkan uang untuk menghasilkan lebih banyak uang, dan cara untuk mengontrol pengeluaran.

Ia tidak menceritakannya dengan gaya menggurui, melainkan dengan jalan mereka ulang pengalaman masa kecilnya bersama dua orang ayah, yaitu ayah kaya dan ayah miskin. Ayahnya yang kaya adalah seorang pebisnis (bukan ayah kandung) sedangkan ayah kandungnya adalah seorang profesor di sebuah universitas.

Sebenarnya, ayah kandungnya bukanlah orang yang benar-benar “miskin”, hanya saja karena ketidaktahuannya mengenai cara mengelola keuangan dengan benarlah yang membuat kekayaannya tidak berkembang. Sebaliknya, ayahnya yang kaya (yang sebenarnya merupakan ayah teman kecilnya) adalah seorang pebisnis yang mampu mengelola keuangannya sehingga tidak membuatnya terjerat oleh utang, pengluaran tidak terduga yang terus menguras tabungan, dan sebagainya.

Walaupun penulis sendiri telah mengalami beberapa kali kebangkrutan dalam bisnisnya sejak tahun 2012. Aku menyukai buku ini karena telah mengubah cara pandangku terhadap uang. Bukan berarti buku ini langsung membuat kita mata duitan. Ilmu yang kuambil adalah tentang cara agar tidak dikontrol oleh uang, justru kitalah yang harus mengambil kontrol terhadap uang.

Selama ini mungkin tanpa sadar kita terus terjerat dengan aliran pemasukan dan pengeluaran yang tidak sehat. Tentu saja buku ini tidak akan bermanfaat apabila metode-metode dan ilmu yang diajarkan tidak dipraktikkan.



3.      Love For Imperfect Things

(sumber gambar di sini


Even products labeled ‘limited edition’ are made on a production line with hundreds that are exactly the same. But there is only one you in the world.”

Kali ini, aku akan beranjak ke buku pengembangan diri. Buku ber-cover biru ini ditulis oleh Haemin Sunim, seorang biarawan Buddha asal Korea yang juga merupakan seorang dosen di sebuah universitas di Massachussets.

Ini adalah buku keduanya yang berhasil merebut hati pembaca menyusul keberhasilannnya menerbitkan buku pertamanya berjudul “The Things You Can See Only When You Slow Down”. Mengapa aku lebih memilih memasukkan buku keduanya ini ke dalam daftar buku terbaik yang pernah kubaca dan bukan buku pertamanya? Karena “Love For Imperfect Things” adalah bukunya yang kubaca lebih dulu dan berhasil membuatku jatuh cinta dengan kata-katanya yang lembut, hingga kuputuskan untuk membeli buku pertamanya juga.

Ini adalah buku tentang cara berdamai dengan konflik-konflik internal manusia yang sudah umum kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, lengkap beserta ikiran-pikiran negatif yang menggelayut di pikiran siang dan malam.

Sejak halaman pertama, hatiku dibuat berbunga-bunga dengan kata-katanya yang jauh dari menggurui, apalagi menjustifikasi. Penulis menekankan “Self-love” dengan kata-kata penuh kasih sayang yang pernah kubaca. Benar-benar tidak menuntut kita untuk melakukan ini dan itu, melainkan pelan-pelan membimbing kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang lain.

Mungkin itu terdengar mainstream, tapi kenyataannya memang begitulah yang aku rasakan ketika membacanya.

Kertas yang tebal tidak seperti kertas buku-buku pada umumnya, ditambah ilustrasi-ilustrasi yang menenangkan adalah kelebihan lain dari buku ini. Kamu tidak akan menemukan tulisan berderet-deret dengan jarak yang sangat rapat, tetapi lebih seperti kumpulan paragraf dengan kata-kata manis bertebaran di mana-mana.

Ada juga bab yang menyajikan tulisan panjang, tetapi sama sekali tidak membosankan.

Kalau bisa, aku akan mengutip semua isi bukunya jika ditanya mengenai quote favorit. Aku tidak bisa memilih hanya satu, tapi aku akan berikan beberapa contohnya di sini.


“How would you feel if you were told you were wrong just for being different?” 
“Don’t judge people based on how they appear, as they may have difficulties that nobody can see.”   
“Do not think of yourself as a crescent moon, waiting for someone else to fill in the missing part of you. When you stand alone like a full moon, already complete in yourself, you will meet another person who is whole and complete just like you, and between you two, a healthy relationship can grow. Do not try and fit yourselves to each other to make one whole moon. Instead, be more like two full moons. You’ll respect each other’s individuality and interests while creating a relationship in which each of you shines brightly on the other.”


Nah, aku sudah tulis tiga buku terbaik yang pernah kubaca. Kalau kamu, apa tiga buku terbaik yang pernah kamu baca, Readers? Kamu bisa komentar di bawah ya ^^

0 Creat Your Opinion:

Post a comment

Social Profiles

Twitter Instagram Wattpad Quora RSS Feed Email Pinterest

My Profile

My photo
Books' better half who's been taking small steps each day towards her dreams. She's very interested in reading literacy, education, language, culture, and philosophy. You can find her on Twitter @psybooklogy and Instagram @ra.juwita

初めまして

日本語日本文学生のラトナ・ジュウィタです、どうぞよろしくお願いします! このブロクを気に入っていただけたら嬉しいです。

Recent Post

[Traveling] Keindahan Alami Pantai Soryar, Biak, Papua

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda
Powered by Blogger.

Copyright © Ratna Juwita | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com